Bab 1

“Anak saya ... mana, Suster?”

Seorang wanita paruh baya yang baru siuman setelah persalinan, bertanya lirih ketika melihat suster muncul di ruangannya.

“Sebentar ya, Bu?” sahut suster sambil tersenyum. “Saya cek dulu.”

Wanita bernama Virnie itu hanya mampu terbaring lemah dan nyaris tidak memperhatikan apa yang sedang dilakukan suster itu kepadanya.

Beberapa saat setelah menyelesaikan pekerjaannya, suster itu permisi keluar dan meninggalkan Virnie sendiri di ruangannya.

“Selamat pagi,” Tidak berapa lama kemudian, salah seorang suster masuk sambil menggendong seorang malaikat kecil yang tertidur pulas.

“Ini anak saya, Suster?” tanya Virnie dengan raut wajah seakan tidak sabar untuk segera menimang buah hatinya.

“Betul, Bu. Mari, saya bantu pelekatannya agar bisa menyusui dengan nyaman.” Suster itu meletakkan bayi Virnie dalam gendongannya dengan posisi senyaman mungkin.

“Saya tinggal dulu ya, Bu?” kata suster. “Kalau butuh apa-apa, silakan pencet belnya.”

“Terima kasih Suster,” angguk Virnie sambil memangku buah hatinya dengan bahagia.

Setelah beberapa saat menyusui anaknya, Virnie baru ingat bahwa dia belum menanyakan tentang jenis sang bayi.

“Perempuan apa laki-laki, Ma?” tanya Sony, suami Virnie begitu dia memasuki ruangan istrinya.

Saat awal kehamilan, mereka berdua memang sepakat untuk tidak menanyakan jenis anak mereka setiap kali pemeriksaan kehamilan.

“Biarlah ini jadi kejutan di hari kelahirannya nanti,” kata Virnie saat itu.

Namun, sekarang ini Virnie justru menyesal karena lupa menanyakannya. Ditambah lagi dia sempat pingsan setelah bayinya lahir.

“Maaf ya, papa terlambat datang?” ucap Sony yang sedang berada di luar kota saat mendapat telepon dari istrinya.

“Nggak apa-apa, ayo kita cek sendiri, Pa?” ajak Virnie yang mendadak jadi bersemangat untuk mengungkap jenis anaknya.

“Iya,” angguk Sony sambil membongkar selimut yang membungkus tubuh mungil buah hatinya. Dia hanya perlu melihat sekilas keseluruhan tubuh bayi itu untuk memastikan jenisnya.

“Anak kita perempuan,” kata Sony memberi tahu istrinya. “Lihat Ma, benar-benar bayi perempuan yang cantik.”

Virnie tersenyum begitu mendengar ucapan suaminya.

“Siapa namanya, Pa?” tanya Virnie ingin tahu.

Sony tersenyum sembari memandangi putri mungilnya yang sedang tertidur.

“Sebenarnya papa sudah siapkan nama cowok, Babyanz Avinskie.” Sony menjawab pelan. “Tapi karena ternyata lahir cewek, aku ganti jadi Babyolla Zavinska.”

Virnie tersenyum dengan mata berbinar-binar mendengar nama putri pertamanya.

“Babyolla ... nama yang cantik,” ucapnya sambil mengecup kening sang malaikat kecil.

Dua puluh lima tahun kemudian ....

Babyolla tumbuh dengan limpahan kasih sayang dan materi dari kedua orang tuanya, hingga menjadikannya orang yang manja dan semena-mena.

“Yolla?” panggil Virnie begitu dia tiba di rumah dan tidak melihat putrinya.

“Apa sih, Ma?” Yolla muncul dengan wajah malas. Dia baru saja membersihkan kuku-kuku di jemari tangannya saat sang ibu memanggil.

“Kamu nggak bantu papa di kantor?” tanya Virnie sambil menatap Yolla. “Papa belum dapat pegawai baru, setidaknya bantulah dulu.”

Yolla menarik napas, dia memang pernah diminta ayahnya untuk membantu pekerjaan di kantor. Namun, euforia setelah dia diwisuda masih terasa efeknya sampai sekarang.

“Malas ah Ma, kalau Cuma jadi pegawai.” Yolla berkomentar sambil duduk di sofa.

“Kan enak dapat gaji dari papa,” sahut Virnie. “Kamu juga masih dapat uang bulanan dari mama. Kurang apa lagi, coba?”

Yolla meniup-niup kukunya sebelum menjawab.

“Gaji karyawan paling berapa sih, Ma?” katanya. “Aku itu mau pegang posisi yang bergengsi dong, apa gunanya aku jadi anak pemilik perusahaan?”

“Yol, semua itu kan ada prosesnya.” Virnie menarik napas. “Semua jabatan tinggi pasti berawal dari bawah dulu ...”

“Ma, kalau begitu mendingan aku cari kerja di luar.” Yolla menukas. “Masa aku jadi karyawan di perusahaan papa aku sendiri. Malu aku, Ma.”

Virnie tidak menjawab, percuma. Yolla terkenal dengan sikap keras kepalanya, semakin dikerasi maka dia akan semakin membantah.

Awalnya, keinginan Sony sangatlah sederhana. Dia tidak mau melihat putrinya jadi pengangguran setelah lulus sarjana. Untuk itulah dia mengarahkan Yola untuk membantunya di kantor.

“Aku mau kerja di kantor papa,” kata Yolla setelah dibujuk berkali-kali oleh orang tuanya. “asalkan aku dikasih jabatan bagus.”

“Contohnya?” tanya Sony sambil lalu.

“Manajer atau apa,” jawab Yolla seenaknya. “CEO, apalah ... yang penting jangan pegawai bawah Pa, malu.”

Sony menarik napas, sementara Virnie mengusap bahunya sebagai isyarat agar dia memaklumi sikap putri semata wayang mereka.

Seminggu setelah itu, Yolla muncul di perusahaan ayahnya dengan rok sepan dan kemeja kerja serta riasan di wajahnya. Satu tas bermerek menggantung di lengannya dan sesekali berayun kala wanita muda itu melangkah anggun ke dalam ruangannya.

Seharian itu Yolla hanya sibuk bermain gawai sambil duduk di kursi kebesarannya karena dia akan mengusir siapa saja yang berani masuk untuk mengantar pekerjaan ke ruangannya.

Di bagian belakang, para petugas kebersihan terkadang membicarakan kelakuan putri bos mereka.

“... kamu saja yang membersihkan ruangannya ...”

“... aku aja malas, galak banget dia ...”

Seorang pria muda muncul dengan seragam office boy sambil menenteng ember dan sebuah alat pel di tangannya.

“Ada yang belum dibersihkan?” tanyanya dengan suara yang sangat santun.

“Ruangan CEO baru kita,” sahut salah seorang petugas kebersihan yang tadi ngobrol.

“Oke, aku akan ke sana.” Pria muda itu mengangguk dan berbalik.

Yolla menoleh ketika seorang pemuda memasuki ruangannya yang terbuka.

“Permisi Bu,” ucap pria itu sopan sambil mengangguk sungkan ke arah Yolla yang sedang asyik bermain gawai.

Yolla tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya.

Office boy itu lantas mulai menyapu dan mengepel lantai di ruangan Yolla.

“Bu, tolong jangan berdiri dulu ya?” kata office boy itu sopan sebelum berlalu. “Lantainya masih licin, takutnya nanti Ibu jatuh.”

“Ya,” sahut Yolla pendek.

Office boy itupun berlalu karena merasa tugasnya sudah selesai.

Tak lama kemudian, Yolla berdiri dengan ponsel di tangan. Dia baru melangkah sebentar ketika sepatunya tergelincir dan membuatnya jatuh seketika.

“Aduhh!” pekik Yolla. “Siapa sih office boy yang bersihin?”

Sambil menggerutu, Yolla berjalan hati-hati dan mencari office boy yang tadi membersihkan ruangannya.

Beberapa petugas kebersihan langsung berdiri saat Yolla mendatangi mereka.

“Siapa yang tadi bersihin ruangan saya?” hardik Yolla dengan mata melotot.

Beberapa pasang mata saling lirik sebentar.

“Baby ... kalau nggak salah tadi ...”

“Mana, panggil Baby cepet ...”

Mendengar mereka menyebut ‘baby,’ Yolla pikir dia adalah cewek.

“Nah, itu Baby!”

Yolla menoleh dan melihat office boy yang tadi membersihkan ruangannya, seketika dia tertawa meremehkan.

“Cowok kok namanya Baby,” ejeknya sambil memandang si office boy.

“Byanz, kamu kan yang tadi bersihin ruangan Bu Yolla?”

“Masih kotor tuh, Bu Yolla sampai ke sini ...”

Office boy itu memandang Yolla dengan tatapan sungkan sementara Yolla balas menatapnya dengan mata yang berapi-api.

Bersambung—

Bab 2

“Apa lihat-lihat?” hardik Yolla kembali dengan mulut meremehkan. “Kamu tahu nggak salah kamu apa?”

Office boy itu tetap bergeming sementara beberapa rekannya berdiri dengan wajah tegang.

“Siapa nama kamu tadi?” tanya Yolla tidak ramah. “Beneran ... Baby?”

Dia menambahkan dengan ekspresi jijik.

“Nama asli saya Babyanz, Bu.” Office boy itu menjawab sopan meskipun sikap Yolla tak sesopan sikapnya.

“Oke, mau Baby, Byanz, atau siapa kek ... hari ini kamu sudah bikin salah sama saya.” Yolla meneruskan. “Gara-gara kamu, saya jatuh di ruangan saya ...”

“Bukannya saya sudah bilang kalau lantainya masih basah dan minta Ibu nunggu sebentar?” sela Byanz tenang.

“Kamu jangan motong ucapan saya dong!” sahut Yolla dengan nada tinggi. “Kamu pegawai baru, ya?”

“Maaf, sepertinya Ibu yang pegawai baru.” Byanz menggeleng. “Karena sebelumnya saya nggak pernah lihat Ibu di ruangan itu.”

Wajah cantik Yolla berubah merah padam mendengar ucapan Byanz, sementara petugas kebersihan yang lain merepet menyaksikan kemarahan CEO mereka.

“Pintar jawab kamu, ya?” geram Yolla. “Kamu mau saya pecat?”

Byanz tetap berdiri dengan tenang.

“Cuma Pak Sony yang berhak memecat saya, Bu.” Dia menyahut.

Yolla semakin meradang mendengar ucapan office boy bernama Babyanz itu.

“Oh, jadi kamu belum tahu siapa saya?” kata Yolla sambil menaikkan sebelah bahunya. “Saya Babyolla Zavinska, CEO di perusahaan ini dan saya adalah putri tunggal Pak Sony.”

Byanz memasang ekspresi datar di wajahnya.

“Kalau begitu salam kenal,” komentar Byanz sambil tersenyum singkat.

Yolla justru semakin meradang saat Byanz tidak segera memohon-mohon padanya supaya jangan dipecat.

“Sekarang kamu sudah tahu kan siapa saya?” tanya Yolla menegaskan. “Saya bisa saja pecat kamu kapanpun saya mau.”

Byanz tidak segera menanggapi gertakan Yolla kepadanya.

“Kali ini kamu saya maafkan,” kata Yolla dengan nada angkuh. “Lain kali bersihkan betul-betul ruangan saya, kalau dipel ya harus sampai kering.”

Byanz hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucap sepatah katapun.

“Jangan sampai saya jatuh lagi gara-gara kamu,” dengus Yolla, sebelum akhirnya dia berlalu pergi meninggalkan mereka dengan langkah-langkah pongah.

Sepeninggal Yolla, rekan-rekan Byanz menarik napas lega berjamaah.

“Baby, beraninya kamu bikin masalah sama Bu Yolla?”

“Galak bener dia ...”

“Aku sih nggak mau cari masalah sama dia, Baby ...”

Byanz menarik napas.

“Tolong jangan manggil aku Baby,” pintanya serius. “Nggak enak didengar masalahnya.”

Rekan-rekan Byanz justru nyengir menanggapi pernyataannya.

“Kamu harus hati-hati sama Bu Yolla,” kata salah satu dari mereka.

“Dia supergalak, ratu tega pula ...” timpal yang lain.

Byanz hanya menganggukkan kepalanya dan memilih untuk beristirahat sejenak setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Saat jam makan siang, Byanz bersama seorang rekannya berjalan santai menuju kafetaria untuk mengisi perut di sana.

“Heh Baby, ingat pesan saya tadi ya?” Yolla melongok dari mobilnya ketika dia melewati mereka.

Byanz menoleh dan tidak berkata apa-apa.

“Sombong amat,” sahut rekan Byanz ketika mobil Yolla berlalu.

“Sudahlah, Fan. Namanya bos, wajar kalau sombong,” komentar Byanz sambil terus berjalan.

Ifan mendengus.

“Kamu sama Bu Yolla kebetulan banget namanya sama, ya?” kata Ifan. “Sama-sama baby ...”

“Yah, Cuma nasibnya aja yang beda.” Byanz menimpali sambil melangkahkan kakinya ke kafetaria.

Setelah makan siang, Byanz dan Ifan kembali bekerja sampai jam shift mereka berakhir.

“Trims tumpangannya, Fan!” seru Byanz ketika Ifan menurunkannya di depan rumah sederhana di pinggir jalan kampung.

“Aku langsung, ya?” pamit Ifan disambut anggukan kepala dari Byanz.

“Sudah pulang, Yanz?” Seorang wanita paruh baya muncul saat Byanz baru melangkahkan kakinya masuk rumah.

Refleks, Byanz meraih tangan wanita itu dan mengesunnya.

“Sudah Bu,” jawabnya. “Ramai warungnya?”

“Syukurlah, cukup buat kita makan. Mandi sana, setelah itu kamu cepat makan,” suruh Sari, nama ibunda Byanz.

Byanz mengangguk dan segera melakukan apa yang disuruh ibunya tanpa banyak bicara.

Setelah mandi dan makan, Byanz membantu membereskan warung sederhana yang dikelola ibunya untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Begitulah Byanz menjalani kehidupannya setiap waktu. Pria muda bernama lengkap Babyanz Avinskie itu terlahir dalam keluarga sangat sederhana dan berekonomi pas-pasan, berbanding terbalik dengan apa yang dialami Babyolla dengan segala kemewahan dari kedua orang tuanya.

“Bersihkan dengan benar,” perintah Yolla ketika Byanz baru saja melangkahkan kakinya ke dalam ruangan esok harinya.

“Baik, Bu.” Byanz menerima saja sikap sombong Yolla kepadanya, karena dia sadar diri bahwa dia hanyalah orang rendah di mata wanita itu.

Sementara Byanz mulai membersihkan lantai ruangannya, Yolla sibuk bermain dengan gawai di tangan. Tidak dipedulikannya sama sekali setumpuk dokumen yang berada di atas meja kerjanya sedari tadi.

Saat Byanz baru saja selesai mengepel dan lantai masih dalam kondisi basah, mendadak ada seorang perempuan muda muncul di depan ruangan Yolla.

“Hai Babyyy!” seru perempuan muda itu.

Yolla mendongakkan wajahnya dan langsung berdiri untuk menyambut sahabat baiknya yang sudah menunggu. Tidak dipedulikannya lantai ruangan yang belum kering sepenuhnya dan dia nekat melangkah di atas permukaannya yang licin.

“Bu Yolla, jangan ...” Byanz baru akan mengingatkan ketika tubuh Yolla oleng di depannya.

“Aduhh!”

Refleks Byanz mengulurkan tangannya dan menangkap punggung Yolla sebelum dia jatuh membentur lantai yang keras.

Waktu seakan melambat saat kedua Baby yang berbeda itu saling pandang selama beberapa detik lamanya.

“Kamu yang sopan ya?!” Detik berikutnya Yolla menegakkan diri dan mendorong tubuh Byanz agar menjauhinya. “Beraninya sentuh-sentuh saya!”

Byanz tentu saja tidak terima Yolla menuduhnya begitu, apalagi di depan sahabat Yolla yang kini terkejut melihat mereka berdua.

“Saya justru nolong Ibu,” katanya membela diri. “Kalau Ibu jatuh lagi, saya juga yang Ibu damprat.”

“Banyak alasan,” dengus Yolla yang celingukan ke sana kemari, berusaha mencari-cari sesuatu yang bisa digunakannya untuk membalas Byanz atas perbuatannya yang dianggap dosa besar.

Kening Byanz mengernyit saat Yolla mengambil alat pel dan membantingnya ke lantai sehingga cipratan airnya kembali menodai lantai yang sudah susah payah Byanz bersihkan.

“Bu Yolla, jangan Bu!” cegah Byanz sambil merebut kembali alat pelnya.

Yolla menoleh dan memandang Byanz dengan garang.

“Berani kamu sama saya?” gertaknya. “Berani?”

Byanz yang sadar akan posisinya hanya diam dan tidak menjawab.

“Baby, udah dong!” Sahabat Yolla menengahi. “Dia kan nggak salah apa-apa.”

Yolla hanya menoleh sekilas memandang sahabatnya.

“Bawahan kayak gini harus dikasih pelajaran Sis!” sahutnya, dia menyipitkan mata dan melihat ember yang berisi air bekas pel tadi.

Tanpa pikir panjang lagi, Yolla mengangkat ember itu dan menyiramkannya ke tubuh Byanz yang tidak pernah menduganya.

“Rasain kamu!” geram Yolla penuh dendam.

Byanz berdiri termangu, bahkan sahabat Yolla sampai menutup mulut saking terkejutnya.

“Ibu keterlaluan,” ucap Byanz dingin, sedingin air kotor bekas pel yang baru saja mengguyur tubuhnya.

Bersambung—

Bab 3

Yolla balas memandang Byanz dengan sorot mata menyala-nyala.

“Kenapa, kamu nggak terima?” tanya Yolla dengan nada menantang.

“Saya tahu kalau saya cuma pegawai bawahan, tapi nggak semestinya Ibu memperlakukan saya seperti ini.” Byanz menatap tajam Yolla.

“Kamu berhenti kerja aja kalau nggak suka sama perlakuan saya,” sahut Yolla congkak.

Byanz tersenyum dingin.

“Maaf saja, tapi saya kerja untuk Pak Sony. Bukan untuk Ibu,” katanya sembari membalikkan tubuhnya dan pergi dari hadapan Yolla.

Ifan terkejut ketika melihat Byanz kembali dengan seragam kotor dan basah.

“Keterlaluan, kamu demo aja!” suruh Ifan ketika mendengar cerita lengkapnya dari Byanz.

“Gampanglah, aku minta tolong gantikan tugas aku di ruangan Bu Yolla. Tadi aku tinggal ember sama alat pelnya di sana,” pinta Byanz sambil melepas seragamnya yang kotor. Untungnya dia selalu membawa baju ganti setiap pergi kerja.

Ifan sebenarnya tidak mau, tapi dia terpaksa melakukannya karena petugas kebersihan yang lain sedang sibuk di bagian gedung yang lain.

Sementara Ifan menggantikan tugasnya, Byanz mandi untuk membersihkan dirinya dari siraman air pel kotor yang membuat sekujur tubuhnya gatal-gatal.

Dia tidak akan lupa dengan apa yang baru saja Yolla lakukan terhadapnya.

“Kamu keterlaluan, Yol.” Sahabat Yolla jelas berpikir demikian.

“Sisty, ngapain sih kamu peduli sama office boy macam dia?” sentak Yolla angkuh. “Nggak penting, tahu.”

Sisty memandang sahabatnya dengan miris.

“Memangnya papa kamu akan diam aja kalau tahu kelakuan kamu kayak begini?” komentar Sisty sambil mengernyitkan dahinya.

“Asal office boy tadi nggak buka mulut,” sahut Yolla tenang. “Lagian aku nggak suka sama dia, orang kayak dia nggak pantes dikasih nama Baby ....”

“Apa?” Sisty hampir saja menyemburkan kopi yang baru saja diminumnya ketika mendengar ucapan Yolla. “Nggak salah? Cowok kok namanya Baby.”

Yolla mengangguk membenarkan.

“Makanya kamu jangan pernah manggil aku pakai nama itu lagi,” katanya mengingatkan. “Malas dengarnya, tahu nggak?”

Sisty melanjutkan menyesap kopinya dengan nikmat.

“Aku tetap nggak percaya kalau nama cowok itu beneran Baby kayak yang kamu bilang,” komentar Sisty sambil meletakkan cangkirnya ke atas meja.

“Kalau nggak salah namanya Babyanz,” sahut Yolla dengan nada tak peduli. “Cocoknya kan Babangs atau malah Bambang, ya nggak?”

Sisty tersenyum tipis.

“Jangan suka merendahkan nama orang,” katanya mengingatkan.

Di waktu yang bersamaan, pandangan mata Sisty menangkap sosok pria muda yang muncul di depan kafetaria.

“Eh Yol, ada mahasiswa yang baru magang ya di kantor kamu?” tanya Sisty antusias.

“Mana, nggak ada.” Yolla menggeleng.

“Terus itu siapa?” tunjuk Sisty dengan pandangan matanya.

Yolla mendengus dan mengikuti arah pandangan Sisty tepat ketika pemuda itu memasuki kafetaria.

“Kok kayak kenal?” gumamnya.

“Itu siapa?” desak Sisty bersemangat. “Ganteng banget!”

“Biasa aja, biasa!” desis Yolla, risi sekali dengan tingkah Sisty yang menurutnya konyol.

“Nggak, nggak, dia kelihatan terpelajar!” Sisty menyahut dengan antusias, dia berdiri dan memberanikan diri untuk mendekati pria muda itu.

Byanz mengerutkan keningnya ketika melihat sahabat Yolla berjalan mendatanginya.

“Hei, kamu mahasiswa yang lagi magang di perusahaan ini, ya?” sapa Sisty antusias.

“Maaf?” sahut Byanz bingung. “Saya kan office boy yang tadi dimaki-maki Bu Yolla di depan Anda.”

Sisty melongo sambil memandang pria muda yang ada di depannya ini. Matanya sesekali terpejam mengingat petugas kebersihan yang tadi dipermalukan Yolla dengan sosok pria berpenampilan bersih yang sedang berhadapan dengannya.

“Kamu ... baby? Baby?” tanya Sisty berulang. “Bener kamu Baby?”

“Tolong jangan panggil saya begitu,” geleng Byanz. “Panggil saya Byanz, permisi.”

Begitu Byanz berlalu, Sisty berjalan kembali ke mejanya.

“Kenapa kamu?” tanya Yolla sambil melirik Sisty sekilas sebelum akhirnya bergeser ke punggung Byanz yang sedang berdiri untuk membeli sesuatu.

“Itu ternyata office boy yang tadi kamu maki-maki, Yol!” pekik Sisty tertahan. “Ya ampun, bersih banget mukanya!”

Yolla melengos.

“Jelas aja bersih, tadi kan dia aku guyur pakai air pel.” Yolla berkomentar. “Kalaupun sekarang office boy itu bersih, itu pasti karena dia udah mandi.”

“Tapi beneran beda loh,” sahut Sisty dengan pandangan menerawang. “Apalagi sekarang dia lagi nggak pakai seragam cleaning service.”

Yolla menoleh tepat ketika Byanz berbalik dan tanpa sengaja menatapnya.

“Apa lihat-lihat?” Yolla melotot ke arah Byanz dengan ekspresi tak suka saat pria muda itu melewati mejanya.

“Permisi, Bu ...” sapanya sambil mengangguk singkat ke arah Sisty.

“Iya, iya!” angguk Sisty bersemangat, dan dia harus membayar mahal dengan sikutan yang diterimanya dari Yolla. “Aduhhh ....”

“Jangan bikin aku malu dong, Sis!” sembur Yolla sementara Byanz sudah berlalu meninggalkam kafetaria.

“Apa sih Yol, Byanz nyapa aku!” sahut Sisty heboh. “Masa aku nggak boleh balas? Nggak sopan itu namanya.”

Yolla hanya melengos dan tidak lagi membahasnya.

“Yanz, katanya kamu dapat tawaran kerja di perusahaan bagus. Kenapa nggak kamu terima?” tanya ibu ketika anaknya itu baru tiba di rumah.

“Ayah kan belum sembuh Bu,” jawab Byanz sambil meletakkan tasnya di kursi.

“Maaf ya, ayah sudah merepotkan kamu?” ucap ibu dengan wajah lelah. Sudah hampir sebulan ini Byanz menggantikan tugas ayahnya menjadi petugas kebersihan di perusahaan Sony, salah seorang pebisnis terpandang di kotanya.

“Enggak repot Bu,” geleng Byanz sambil tersenyum. “Nanti kalau ayah sudah sembuh, aku akan segera terima tawaran kerja itu. Bosnya mau nunggu kok, Ibu nggak usah khawatir.”

Ibunda Byanz hanya tersenyum menanggapi jawaban tulus anaknya.

“Semoga jalan kamu dikasih kelancaran, Yanz. Sama seperti kamu yang selalu berusaha melancarkan setiap urusan ayah sama ibu.”

“Amin,” sahu Byanz, dia sangat percaya bahwa doa seorang ibu pasti dikabulkan.

Keesokan harinya, Byanz melakukan pekerjaannya seperti biasa. Dia membersihkan setiap ruangan yang sudah dibagi merata oleh ketua petugas kebersihan di perusahaan Sony.

“Byanz, kamu aja deh yang bersihin ruangannya Bu Yolla!” pinta Ifan dengan wajah enggan. “Aku nggak tahan di sana, Bu Yolla selalu aja mengkritik pekerjaanku.”

Byanz menarik napas.

“Ya sudah, aku saja yang bersihkan ruangan Bu Yolla.” Dia menyanggupi. “Hitung-hitung bantu kamu karena dulu kamu juga gantiin aku.”

“Makasih ya, Byanz?” ucap Ifan lega.

“Sama-sama,” sahut Byanz sembari berlalu pergi dengan menenteng ember dan alat pel.

Setibanya di ruangan Yolla, Byanz tidak bertemu siapa-siapa di sana. Dia menarik napas lega dan buru-buru melakukan pekerjaannya sebelum Yolla tiba.

“Beres,” gumam Byanz sambil memandangi hasil kerjanya yang bersih dan mengilat. Dia berbalik dan langsung membentur Yolla yang baru saja muncul.

Sialnya, kopi yang sedang dipegang Yolla seketika jatuh membentur lantai hingga pecah berkeping-keping.

“Gimana sih kamu?!” bentak Yolla dengan suara nyaring melengking. “Lihat-lihat makanya!”

Byanz mundur menjauh dengan wajah tegang.

“Maaf Bu, saya bahkan belum sempat berjalan satu langkahpun pas Ibu muncul.” Dia menyahut datar sambil memandang wajah Yolla yang merah padam menahan amarah.

Bersambung—

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED