Sampul Novel Hanya Suami di Atas Kertas

Hanya Suami di Atas Kertas

8.0 / 10.0
Agnes Permatasari, wanita karier yang tangguh, terpaksa bercerai dari Rama Pratama akibat tekanan dari mertua dan ipar yang sangat toksik. Usai berpisah, Rama langsung menikahi wanita kaya pilihan ibunya, sementara Agnes harus menghadapi stigma janda di tengah gunjingan masyarakat. Di bawah bayang-bayang hinaan tersebut, Agnes harus berjuang keras menentukan arah hidupnya. Apakah kehancuran rumah tangga ini akan membuatnya terpuruk, atau justru menjadi momentum baginya untuk bangkit dan bersinar?
Ringkasan Hanya Suami di Atas Kertas
Agnes Permatasari, wanita karier yang tangguh, terpaksa bercerai dari Rama Pratama akibat tekanan dari mertua dan ipar yang sangat toksik. Usai berpisah, Rama langsung menikahi wanita kaya pilihan ibunya, sementara Agnes harus menghadapi stigma janda di tengah gunjingan masyarakat. Di bawah bayang-bayang hinaan tersebut, Agnes harus berjuang keras menentukan arah hidupnya. Apakah kehancuran rumah tangga ini akan membuatnya terpuruk, atau justru menjadi momentum baginya untuk bangkit dan bersinar?
Baca Selengkapnya

Hanya Suami di Atas Kertas Bab 1

"Mas, bapak sakit. Adek minta izin pulang, ya?" pintaku pada Mas Rama sambil berjalan menghampiri lelakiku di tempat duduknya. Mas Rama sedang duduk santai di teras rumah ditemani ibu mertua dan Sinta sang adik.

"Ya, gak bisalah. Gak lama lagi Sinta pesta. Siapa yang bantu Ibu jika bukan kalian berdua? Bapakmu, sih. Sakit aja kerjanya. Makanan itu dipantang. Ini gak, lihat makanan semua dimakannya. Apa bapakmu tidak pernah lihat makanan ya, Nes? Rakus sekali Ibu lihat," ucap ibu mertua sangat menyakitkan. Ingin rasanya aku sumpahin beliau dengan kata-kata kasar tapi ya sudahlah. Aku tidak ingin berucap buruk untuk orang lain karena keburukan itu pasti akan kembali kepada keluarga aku kelak.

'Semoga aja dia tidak pernah merasakan seperti yang bapak aku rasakan," batinku.

"Masak kamu minta pulang, sih. Aneh-aneh aja kamu, Dek. Tiga hari lagi di rumah akan diadakan pesta. Siapa nanti yang bantu-bantu? Kamu pikir kita ngadain pesta ini hanya main-main? Banyak orang-orang penting yang datang. Jangan sampai persiapan amburadul. Nanti keluarga kita juga yang malu." Mas Rama memberi pengertian kepadaku.

Bukan aku tidak mau mengerti kondisi di rumah mertua saat ini. Tetapi aku lebih mengutamakan orang sakit daripada orang yang berpesta. Karena pesta 'kan merayakan suatu hubungan. Nah, bapak aku sakit. Beliau butuh dukungan, bahkan anak-anak merupakan hiburan juga buat beliau dan jelas akan memberikan semangat hidup untuknya. Makanya beliau menginginkan kami berkumpul semua.

"Alah ... itu 'kan alasan Kakak ajanya biar terbebas dari tugas. Memang dasar Kakak aja yang pemalas. Sinta lihat, Kakak sering sekali menghindar dari kerjaan di rumah. Maunya makan saja," timpal Sinta menambah keruh keadaan. Akhirnya semua mata tertuju kepadaku. Tatapan Mas Rama seakan ingin menelan tubuh ini bulat-bulat.

"Jangan suka menuduh orang sembarangan, Sin. Kalau gak tau masalah bagus kamu itu diam saja." ujarku membela diri.

"Jangan-jangan benar juga apa yang dibilang Sinta. Kamu malas membantu keluarga Mas 'kan? Kamu lebih berpihak kepada keluarga kamu sendiri." hardik lelakiku.

"Bukan begitu maksud Adek, Mas. Kalo bukan karena bapak masuk rumah sakit, gak akan mungkin Adek mau meninggalkan hajatan besar sebesar ini." jawabku tertunduk.

"Aku heran dengan jalan pikiran kamu, Dek. Kamu lebih mementingkan keluargamu sendiri dibandingkan keluarga Mas. Aku kecewa dengan sikap kamu ... Egois." Bentak Mas Rama dengan suara delapan oktaf. Beliau nampaknya sangat marah.

Dan lebih menakutkan lagi tatapan mata ibu mertua yang seakan mau menelan aku hidup-hidup. Tapi aku usir perasaan itu. Yang penting aku harus pulang untuk menjenguk bapak sakit. Kutebalkan juga muka ini untuk memohon ijin untuk pulang kampung.

"Bukan egois. Ini masalahnya bapak sakit loh, Mas. Bukannya Adek mau main-main." Aku tetap terus saja berusaha untuk mendapat izin pulang kampung.

"Gak bisa," bentaknya lagi dengan suara tinggi.

"Mas, Adek mohon. Tolonglah. Sekali ini aja ijinin aku pulang menjenguk bapak." pintaku lagi sambil menahan air mata yang sudah menganak sungai disudut mataku.

"Emang bapakmu sakit apa, sih?" tanya lelaki tampan yang telah merajai hati ini dalam kurun waktu delapan tahun belakangan ini. Sedihnya hati ini. Aku menyayanginya sepenuh hati tapi tidak dengan dia. Jika menyangkut keluargaku, dia sangat dingin dan tidak ada sedikitpun senyum di wajahnya. Keluargaku bagaikan orang lain yang tidak pernah dikenalnya. Dengan wajah datar seakan tidak ada hal yang perlu dirisaukan  mengenai kedua orangtuaku.

"Mas ... bapak diopname. Berarti sakitnya parah. Kalau sakit ringan gak mungkin juga beliau akan bersedia diopname," ujarku lagi.

Aku sangat tau sifat bapak yang tidak pernah ingin menyusahkan anak-anaknya. Jika masih bisa ditahan keluhannya pasti bapak sudah minta pulang. Beliau tidak akan mau dirawat di rumah sakit.Bapakku mengidap penyakit jantung koroner, jadi wajarlah jika sering mengeluh sakit karena tidak bisa pantang makan.  

Terlalu dipantangpun, kasian juga aku lihat bapak jadi lemas dan tidak bersemangat begitu. Seperti tidak bergairah. 

Mungkin juga beliau kesepian karena anak-anak pada berjauhan semua. Mereka mempunyai kehidupannya masing-masing.

"Dipikirlah secara matang-matang. Apa mungkin kamu akan meninggalkan pesta yang tidak berapa lama lagi akan kita adakan? Apa mungkin kita melepaskan tanggung jawab sebagai anak? Mas ini anak laki-laki ibu dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada ibu dan adik-adikku. Jangan kau pikir mentang-mentang adikku yang pesta kamu bisa seenak hati."

"Aku tidak bermaksud begitu, Mas. Mas tahu sendiri 'kan, Bapakku itu udah tua dan sering sakit-sakitan. Wajarlah aku izin pulang. Bedalah Mas suasana hati kita jika menjenguk orang tua sakit dengan menghadiri pesta."

"Apa maksud, Kakak?" Tiba-tiba saja Sinta memotong pembicaraanku.

"Maksud Kakak gini. Pesta itu 'kan suasana hati kita penuh dengan kebahagiaan. Sementara menjenguk orang sakit, 'kan suasana hati sedih. Kalau Kakak disuruh memilih ya ... bagus memilih menjenguk orang sakit. Karena mereka itu yang butuh dukungan dan semangat dari kita," ucapku takut-takut dan hanya menunduk tanpa berani melihat kearah mereka bertiga.

"Nggak ... pokoknya kamu nggak boleh pulang hari ini. Kamu harus tetap disini membantu Ibu belanja dan lain sebagainya. Nanti sesudah siap pesta, baru boleh pulang. Nanti kita pulang sama-sama."

"Tapi Mas..."

"Nggak ada tapi-tapian. Sekali aku bilang nggak boleh ya nggak. Lagian bapakmu sudah biasa sakit. Pasti akan sembuh juga dia nanti." ujar Mas Rama. Mas Rama seakan terlalu menyepelekan kondisi bapak yang sedang tidak berdaya di rumah sakit.

"Mas, Aku tidak minta biaya ongkos atau apapun yang menyangkut uang sama kamu. Aku punya uangku sendiri, Mas. Aku hanya minta diantarkan. Atau Mas antar saja Adek ke terminal. Biar saja Adek naik bus antar propinsi saja, Mas. Yang penting Adek bisa menjenguk bapak," ujarku.

"Lucu kau, Nes. Di rumah mau ada hajatan, kamu malah mengajak anakku pergi mengantarkan kamu pulang kampung. Siapa yang akan menghandle semua pekerjaan di rumah. Kau jadi istri kenapa pembangkang begitu sih, Nes. Tidak bisa dibanggakan sedikitpun. Kau pikir mentang-mentang kau seorang Pegawai Negeri Sipil dan bergaji jadi bisa seenak hati mengatur-ngatur suamimu?" Sekarang giliran mertuaku yang ikut bersuara. Beliau selalu saja menyalahkan aku. Anak mana sih yang tidak akan kepikiran mendengarkan kabar orang tuanya masuk rumah sakit?

Coba sekali saja mereka berada di posisi aku saat ini. Mungkin mereka tidak tahan sedikitpun. Atau seandainya Sinta berada dalam posisi aku saat ini, mungkin saja ibunya tidak terima dan akan menggugat cerai suaminya. Siapa yang tahan punya suami selalu di atur oleh orang tuanya? Seakan tidak mempunyai wibawa sedikitpun. Udah tua tapi masih di bawah ketiak ibu.

"Bu, bapak saya masuk ruang ICCU. Beliau sedang berjuang melawan penyakitnya. Tidak ada niat sedikit pun dalam hati ini untuk lari dari tugas yang sudah keluarga ini berikan kepada saya. Malah saya sangat bahagia dan bangga karena diberi kepercayaan sama keluarga Mas Rama dalam mengurus segala kebutuhan pesta nantinya," ujar ku lagi.

"Ya udah. Kamu kerjakan saja tugasmu. Siap pesta  nanti kita pulang menjenguk bapak. Semoga saja beliau sudah sembuh." ujar Mas Rama lagi. Dan mereka seperti tidak pernah mau tau bagaimana perasaanku saat ini.

"Mas ... bapak sakit keras loh!" ujarku tergugu..

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Hanya Suami di Atas Kertas

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia menikah dengan Seno Bagaskara, seorang pria kaya raya. Di kediaman megah keluarga suaminya, ia harus beradaptasi tinggal bersama para ipar. Namun, di balik kemewahan itu, bahaya mengintai. Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno serta suami dari iparnya memendam hasrat terlarang padanya. Kini, ia terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi situasi rumit ini?
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Demi keselamatan buah hatinya, Neva rela bertahan melewati penderitaan batin dan tekanan konstan. Kisah perjuangan penuh pengorbanan ini memperlihatkan ketegaran seorang wanita dalam menghadapi peliknya dinamika hubungan yang menjerat hidupnya.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Dunia dokterku hancur saat merawat Evelyn Santoso, pasien VIP yang menangisi tunangannya. Pria di foto itu adalah Bima, suamiku, yang ternyata bernama asli Brama Wijaya, seorang taipan kejam. Saat Brama datang, ia sama sekali tidak mengenaliku. Ia justru memeluk Evelyn dan mengucap janji setia yang biasa ia katakan padaku. Lewat tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami saat ia amnesia hanyalah aib rahasia yang kini harus ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Demi melindungi kehormatan ibu angkatnya, seorang gadis rela menjadi pengantin pengganti. Sayangnya, kesalahpahaman fatal membuat Alex sangat membenci dan memperlakukannya dengan kasar. Meski mendapat perlakuan buruk, ia tidak tinggal diam dan terus berjuang keras menyembunyikan rahasia besar tentang identitas aslinya. Akankah Alex mampu membongkar misteri yang tersimpan rapat ini? Temukan kelanjutan kisah penuh ketegangan dan emosi mereka di Bakisah.
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika mengurus ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali bersama mentornya, Charli. Di sana, ia terpikat oleh Andini Wijaya, pemilik sekolah yang mandiri. Namun, hubungan mereka diuji saat mantan kekasih Andini, Junot, tiba-tiba kembali. Masalah kian rumit karena Lily, adik Andini, bertekad merebut Randika demi mendapat pengakuan dari ayah mereka, Sigit Wijaya. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan ambisi keluarga Wijaya, akankah cinta Randika dan Andini tetap bertahan?
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
Demi ambisinya, William yang merupakan putra bos mafia kejam rela melakukan segalanya. Namun, ayahnya yang bernama Ferdinand tewas secara tragis akibat sebuah pengkhianatan fatal. Kematian ini membuat sang istri, Rosemary, mulai menyadari sisi gelap suaminya yang selama ini tersembunyi. Kini, William bertekad membalas dendam sekaligus membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah. Meski jalannya dihalangi seorang polisi wanita, William takkan mundur hingga peluru terakhirnya habis.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED