"Mas, bapak sakit. Adek minta izin pulang, ya?" pintaku pada Mas Rama sambil berjalan menghampiri lelakiku di tempat duduknya. Mas Rama sedang duduk santai di teras rumah ditemani ibu mertua dan Sinta sang adik.
"Ya, gak bisalah. Gak lama lagi Sinta pesta. Siapa yang bantu Ibu jika bukan kalian berdua? Bapakmu, sih. Sakit aja kerjanya. Makanan itu dipantang. Ini gak, lihat makanan semua dimakannya. Apa bapakmu tidak pernah lihat makanan ya, Nes? Rakus sekali Ibu lihat," ucap ibu mertua sangat menyakitkan. Ingin rasanya aku sumpahin beliau dengan kata-kata kasar tapi ya sudahlah. Aku tidak ingin berucap buruk untuk orang lain karena keburukan itu pasti akan kembali kepada keluarga aku kelak.
'Semoga aja dia tidak pernah merasakan seperti yang bapak aku rasakan," batinku.
"Masak kamu minta pulang, sih. Aneh-aneh aja kamu, Dek. Tiga hari lagi di rumah akan diadakan pesta. Siapa nanti yang bantu-bantu? Kamu pikir kita ngadain pesta ini hanya main-main? Banyak orang-orang penting yang datang. Jangan sampai persiapan amburadul. Nanti keluarga kita juga yang malu." Mas Rama memberi pengertian kepadaku.
Bukan aku tidak mau mengerti kondisi di rumah mertua saat ini. Tetapi aku lebih mengutamakan orang sakit daripada orang yang berpesta. Karena pesta 'kan merayakan suatu hubungan. Nah, bapak aku sakit. Beliau butuh dukungan, bahkan anak-anak merupakan hiburan juga buat beliau dan jelas akan memberikan semangat hidup untuknya. Makanya beliau menginginkan kami berkumpul semua.
"Alah ... itu 'kan alasan Kakak ajanya biar terbebas dari tugas. Memang dasar Kakak aja yang pemalas. Sinta lihat, Kakak sering sekali menghindar dari kerjaan di rumah. Maunya makan saja," timpal Sinta menambah keruh keadaan. Akhirnya semua mata tertuju kepadaku. Tatapan Mas Rama seakan ingin menelan tubuh ini bulat-bulat.
"Jangan suka menuduh orang sembarangan, Sin. Kalau gak tau masalah bagus kamu itu diam saja." ujarku membela diri.
"Jangan-jangan benar juga apa yang dibilang Sinta. Kamu malas membantu keluarga Mas 'kan? Kamu lebih berpihak kepada keluarga kamu sendiri." hardik lelakiku.
"Bukan begitu maksud Adek, Mas. Kalo bukan karena bapak masuk rumah sakit, gak akan mungkin Adek mau meninggalkan hajatan besar sebesar ini." jawabku tertunduk.
"Aku heran dengan jalan pikiran kamu, Dek. Kamu lebih mementingkan keluargamu sendiri dibandingkan keluarga Mas. Aku kecewa dengan sikap kamu ... Egois." Bentak Mas Rama dengan suara delapan oktaf. Beliau nampaknya sangat marah.
Dan lebih menakutkan lagi tatapan mata ibu mertua yang seakan mau menelan aku hidup-hidup. Tapi aku usir perasaan itu. Yang penting aku harus pulang untuk menjenguk bapak sakit. Kutebalkan juga muka ini untuk memohon ijin untuk pulang kampung.
"Bukan egois. Ini masalahnya bapak sakit loh, Mas. Bukannya Adek mau main-main." Aku tetap terus saja berusaha untuk mendapat izin pulang kampung.
"Gak bisa," bentaknya lagi dengan suara tinggi.
"Mas, Adek mohon. Tolonglah. Sekali ini aja ijinin aku pulang menjenguk bapak." pintaku lagi sambil menahan air mata yang sudah menganak sungai disudut mataku.
"Emang bapakmu sakit apa, sih?" tanya lelaki tampan yang telah merajai hati ini dalam kurun waktu delapan tahun belakangan ini. Sedihnya hati ini. Aku menyayanginya sepenuh hati tapi tidak dengan dia. Jika menyangkut keluargaku, dia sangat dingin dan tidak ada sedikitpun senyum di wajahnya. Keluargaku bagaikan orang lain yang tidak pernah dikenalnya. Dengan wajah datar seakan tidak ada hal yang perlu dirisaukan mengenai kedua orangtuaku.
"Mas ... bapak diopname. Berarti sakitnya parah. Kalau sakit ringan gak mungkin juga beliau akan bersedia diopname," ujarku lagi.
Aku sangat tau sifat bapak yang tidak pernah ingin menyusahkan anak-anaknya. Jika masih bisa ditahan keluhannya pasti bapak sudah minta pulang. Beliau tidak akan mau dirawat di rumah sakit.Bapakku mengidap penyakit jantung koroner, jadi wajarlah jika sering mengeluh sakit karena tidak bisa pantang makan.
Terlalu dipantangpun, kasian juga aku lihat bapak jadi lemas dan tidak bersemangat begitu. Seperti tidak bergairah.
Mungkin juga beliau kesepian karena anak-anak pada berjauhan semua. Mereka mempunyai kehidupannya masing-masing.
"Dipikirlah secara matang-matang. Apa mungkin kamu akan meninggalkan pesta yang tidak berapa lama lagi akan kita adakan? Apa mungkin kita melepaskan tanggung jawab sebagai anak? Mas ini anak laki-laki ibu dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada ibu dan adik-adikku. Jangan kau pikir mentang-mentang adikku yang pesta kamu bisa seenak hati."
"Aku tidak bermaksud begitu, Mas. Mas tahu sendiri 'kan, Bapakku itu udah tua dan sering sakit-sakitan. Wajarlah aku izin pulang. Bedalah Mas suasana hati kita jika menjenguk orang tua sakit dengan menghadiri pesta."
"Apa maksud, Kakak?" Tiba-tiba saja Sinta memotong pembicaraanku.
"Maksud Kakak gini. Pesta itu 'kan suasana hati kita penuh dengan kebahagiaan. Sementara menjenguk orang sakit, 'kan suasana hati sedih. Kalau Kakak disuruh memilih ya ... bagus memilih menjenguk orang sakit. Karena mereka itu yang butuh dukungan dan semangat dari kita," ucapku takut-takut dan hanya menunduk tanpa berani melihat kearah mereka bertiga.
"Nggak ... pokoknya kamu nggak boleh pulang hari ini. Kamu harus tetap disini membantu Ibu belanja dan lain sebagainya. Nanti sesudah siap pesta, baru boleh pulang. Nanti kita pulang sama-sama."
"Tapi Mas..."
"Nggak ada tapi-tapian. Sekali aku bilang nggak boleh ya nggak. Lagian bapakmu sudah biasa sakit. Pasti akan sembuh juga dia nanti." ujar Mas Rama. Mas Rama seakan terlalu menyepelekan kondisi bapak yang sedang tidak berdaya di rumah sakit.
"Mas, Aku tidak minta biaya ongkos atau apapun yang menyangkut uang sama kamu. Aku punya uangku sendiri, Mas. Aku hanya minta diantarkan. Atau Mas antar saja Adek ke terminal. Biar saja Adek naik bus antar propinsi saja, Mas. Yang penting Adek bisa menjenguk bapak," ujarku.
"Lucu kau, Nes. Di rumah mau ada hajatan, kamu malah mengajak anakku pergi mengantarkan kamu pulang kampung. Siapa yang akan menghandle semua pekerjaan di rumah. Kau jadi istri kenapa pembangkang begitu sih, Nes. Tidak bisa dibanggakan sedikitpun. Kau pikir mentang-mentang kau seorang Pegawai Negeri Sipil dan bergaji jadi bisa seenak hati mengatur-ngatur suamimu?" Sekarang giliran mertuaku yang ikut bersuara. Beliau selalu saja menyalahkan aku. Anak mana sih yang tidak akan kepikiran mendengarkan kabar orang tuanya masuk rumah sakit?
Coba sekali saja mereka berada di posisi aku saat ini. Mungkin mereka tidak tahan sedikitpun. Atau seandainya Sinta berada dalam posisi aku saat ini, mungkin saja ibunya tidak terima dan akan menggugat cerai suaminya. Siapa yang tahan punya suami selalu di atur oleh orang tuanya? Seakan tidak mempunyai wibawa sedikitpun. Udah tua tapi masih di bawah ketiak ibu.
"Bu, bapak saya masuk ruang ICCU. Beliau sedang berjuang melawan penyakitnya. Tidak ada niat sedikit pun dalam hati ini untuk lari dari tugas yang sudah keluarga ini berikan kepada saya. Malah saya sangat bahagia dan bangga karena diberi kepercayaan sama keluarga Mas Rama dalam mengurus segala kebutuhan pesta nantinya," ujar ku lagi.
"Ya udah. Kamu kerjakan saja tugasmu. Siap pesta nanti kita pulang menjenguk bapak. Semoga saja beliau sudah sembuh." ujar Mas Rama lagi. Dan mereka seperti tidak pernah mau tau bagaimana perasaanku saat ini.
"Mas ... bapak sakit keras loh!" ujarku tergugu..
"Bapak sakit keras. Kasian Bapak gak ada yang menemani." ujarku mengiba mengharap mertua dan suamiku tersentuh dan mengijinkan aku untuk menjenguk bapak di rumah sakit. Rasanya air mata ini tidak sanggup lagi untuk aku tahan. Mereka hampir keluar dari sarangnya.
"Kan, ada kakakmu, buat apa dia tinggal sama orang tuamu, jika orang tua sakit dia gak mau mengurusnya. Masak harus menunggu kamu yang jauh?" timpal ibu mertua, lagi-lagi beliau ikut campur dalam rumah tanggaku.
"Kalau ada saya di sana, kami bisa gantian menjaga bapak, Bu." Aku berusaha menjelaskan pada mertuaku.
"Ibumu juga ada 'kan? Jadi kenapa harus kamu yang jauh malah disuruh pulang? Mereka mau leha-leha saja dan kamu yang menjaga bapak di rumah sakit? Begitu mau mereka? Kok gak adil begitu sih orang tuamu, Nes?" Mertuaku seakan memanas-manasi. Aku tidak bisa dikompori karena diri ini tau bagaimana ibu dan kak Ayu.
"Mereka gak begitu, Bu. Saya cukup tau bagaimana keluarga saya. Bagaimana ibu dan kak Ayu. Saya hanya ingin pulang untuk mengurus bapak sakit. Saya mau melihat kondisi beliau dengan mata kepala sendiri. Itu saja."
"Halah, emang bapak kamu itu anak kecil? Lagian ada perawat. Kamu aja yang terlalu banyak alasan. Pokoknya siap pesta aja kamu pulang. Ibu pun mau ikut, sekalian mau refreshing," tukas wanita yang telah melahirkan mas Rama ke dunia ini tanpa merasa berdosa. Mau refresing katanya sementara bapak aku sedang sakit disana. Bukannya ikut prihatin dan mendoakan kesembuhan malah beliau dengan santai mengatakan mau refreshing ke kampungku. Di mana hati nurani beliau?
"Mas ...." Aku mengalihkan pandangan ke arah mas Rama yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Semoga saja mas Rama mengijinkan untuk menjenguk bapak. Karena yang berhak melarang aku 'kan hanya suami yaitu mas Rama.
"Udahlah, Dek. Kamu jangan keras kepala. Kalau dibilang jangan ya jangan."
Jawaban mas Rama sangat menyakitkan hatiku. Sungguh, mereka sangat tega terhadap orang tuaku.
'Bapak, maafkan anakmu," batinku pilu.
Aku hanya bisa tercenung terpaku di tempat aku berdiri saat ini. Mas Rama seakan tidak memperdulikan bagaimana sedihnya sang istri. Dia tidak pernah mau tahu bagaimana kondisi keluargaku. Hanya keluarganya saja yang selalu di nomor satukan.
Aku dan anakku hanya sebagai angin lalu saja di mata lelaki yang berusia tiga puluh tahun itu.
Mas Rama tetap saja melanjutkan obrolan dengan adik dan ibunya. Sesekali aku melihat mas Rama tersenyum begitu bahagianya layaknya keluarga bahagia dan harmonis.
Dan dari raut wajahnya mereka begitu serius bercerita tentang persiapan pesta Sinta dan mereka tidak pernah mengajak aku untuk ikut nimbrung.
Aku ini orang lain di mata keluarga suamiku. Aku ini hanya istri, bukan siapa-siapa bagi mereka.
Pernah suatu hari aku menasihati Sinta karena berpacaran dan pulang larut malam. Malah aku yang dimarahin sama ibu mertua dan mas Rama.
"Jangan kau urusin Sinta. Dia itu sudah tau mana yang baik dan buruk terhadap hidupnya sendiri," ujar ibu mertua saat aku keberatan karena Sinta masih berduaan dan bergelap-gelapan di joglo halaman belakang rumah ibu, sementara jam sudah menunjukkan di angka 02.00.
"Bukan gitu, Bu. Kalau Sinta masih berduaan sama lelaki tengah malam begini, apa ibu gak malu dilihat tetangga?" sergah aku keberatan.
"Kenapa harus malu? Paling orang itu iri sama Sinta karena calon suaminya kaya raya. Tajir melintir ... hmmm ... atau jangan-jangan kamu iri sama Sinta ya?"
"Iri? Kenapa saya harus iri dengan adik saya sendiri. Ah ... ibu ini ada-ada saja," ujarku. Hanya ingin dinikahi lelaki kaya raya, harga diri pun mau digadaikan.
Malah aku yang dituduh iri terhadap anaknya. Padahal aku berusaha menjaga nama baik keluarga mertua. Ya sudahlah. Terserah mereka saja. Toh Sinta pun bukan adikku. Walaupun aku menganggap mereka seperti ibu dan adik sendiri tetapi mereka selalu saja menganggap aku ini orang lain yang keberadaan ku di sini hanya mengganggu mereka saja.
Ini memang bukan pertama kalinya sikap suami terhadap aku dan keluarga begitu. Tetapi kali ini sangatlah menyesakkan dada. Kalau dilarang ke pesta sanak keluarga, diri ini tidak pernah keberatan. Tetapi ini yang dilarang untuk menjenguk orang tua yang sedang tidak berdaya, dirawat di rumah sakit. Sungguh sangat menyedihkan. Keterlaluan sekali mas Rama. Tidak punya perasaan.
Apa mas Rama tidak berpikir Jika adik perempuan dia kelak diperlakukan seperti itu, bagaimana perasaannya?
Entah kenapa. Jika bapak masuk rumah sakit pikiranku selalu saja jauh melanglang buana entah ke mana-mana.
Aku sangat takut jika tidak akan berjumpa lagi dengan beliau.
Aku takut bapak akan pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Segala pikiran buruk terus saja berkecamuk dalam hati dan pikiranku.
Ingin berpikir yang positif tetapi entah kenapa hati ini tidak bisa. Aku merasakan kehadiran bapak sangat sulit untuk dijangkau. Aku merasakan akan kehilangan bapak.
Ya Allah semoga saja bapak segera sembuh dan bisa berkumpul dengan anak-anaknya seperti dahulu lagi. Apalagi sebulan lagi bulan Ramadhan akan datang menyapa umat muslim di seluruh penjuru dunia.
Aku ingin berkumpul kembali seperti Ramadhan-ramadhan sebelumnya.
Keinginan aku saat ini hanya satu. Ingin melihat bapak sehat kembali seperti sedia kala.
Dengan hati kesal aku tinggalkan ketiga manusia yang tidak mempunyai perasaan itu. Hatiku sedih tidak menentu sementara mereka bertiga mengobrol dan sekali-kali mereka tertawa bahagia seakan tidak ada beban sedikit pun di hatinya.
Sementara aku untuk tertawa saja saat ini tidak sanggup. Siapa yang sanggup tertawa di saat orang yang kita cintai terbaring lemah di rumah sakit?
Tidak sanggup mendengar celotehan mereka akhirnya aku melangkahkan kaki menuju ke kamar.
Sesampai di kamar aku merebahkan tubuh ini di ranjang sambil membenamkan muka ke dalam bantal.
'Bagaimana kondisi bapak sekarang? Aku harus mengetahui keadaan beliau. Hmmm ... Apa guna handphone jika tidak untuk menelpon orang tua yang jauh di sana? Segera saja diri ini bangun dari pembaringan dan mengambil ponsel yang masih tergeletak di atas nakas. Aku harus menelpon kak Ayu untuk menanyakan kabar ibu dan bapak di rumah.
Berulang kali aku menekan tombol hijau tetapi kak Ayu tidak juga mengangkatnya.
Hatiku semakin gundah gulana. Hati ini terus kepikiran bagaimana kondisi bapak saat ini.
'Ke mana sih kak Ayu? Kenapa tidak mengangkat juga teleponnya?' Batinku pilu.
Aku hempaskan kembali tubuh ini di atas ranjang. Pikiranku semakin kalut. Siapa lagi yang bisa aku hubungi untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi bapak?
Aku ambil kembali ponsel dan menelpon bik Rum. Beliau merupakan adik kandung bapak. Tetapi tidak juga diangkatnya. Pikiranku semakin kalut.
Kucoba lagi dengan menelpon kak Ayu. Semoga saja kak Ayu mengangkat teleponku.
Kring ... kring ... kring.
Sampai nada sering ketiga baru terdengar suara sahutan dari ujung sana.
"Assalamualaikum."
Ada apa sih dengan Kak Ayu. Kenapa dia tidak mengangkat telpon adiknya ini? Apa terlalu sibuk kah dia? Atau apakah sakit bapak parah sehingga tidak sempat mengangkat telpon dari adiknya ini?
Beribu pertanyaan menari-nari dalam otak ini. Ingin rasanya raga ini segera terbang untuk bisa menemui bapak yang sudah lama tidak berjumpa. Apalagi sekarang beliau sedang dalam keadaan sakit.
Ku coba sekali lagi menekan tombol yang tertera atas nama Kak Ayu. Untuk kesekian kali tetapi belum juga diangkat olehnya. Entah telpon yang keberapa barulah Kak Ayu mengangkat telponku.
"Assalamualaikum, Kak. Bagaimana dengan keadaan Bapak sekarang? Sudah mendingan atau bagaimana." ku berondong Kak Ayu dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Tadi Agnes telpon Kakak, tapi kenapa gak Kakak angkat, sih? Aku khawatir banget disini loh, Kak." tanpa terasa air mata ku jatuh berderai membasahi pipi ini dan semakin terisak mengingat betapa kangennya aku dengan cinta pertamaku.
Ya Bapak adalah cinta pertama aku yang tidak akan pernah bisa ku ingkari. Beliau begitu menyayangi kami anak-anaknya. Seluruh perhatiannya tercurahkan kepada aku dan Kak Ayu.
"Maaf ya, ponsel Kakak ketinggalan. Kakak tadi masih di rumah sakit."
"Bagaimana kondisi bapak sekarang, Kak. Apa sudah membaik?"
"Belum. Sekarang bapak masih dirawat dan beliau sangat lemas. Kamu gak pulang jenguk bapak, Dek? Kasian beliau sering pangil-panggil namamu! Mungkin Bapak kangen sama kamu, Nes." Perkataan Kak Ayu membuat dada ini semakin sesak.
"Agnes, belum bisa pulang, Kak. Ipar aku mau mengadakan pesta penikahan." Ujarku tercekat.
Rasanya diri ini anak yang betul-betul tidak tau diri. Di saat bapak masih sehat beliau selalu saja memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap kami. Sedikit pun beliau tidak mau melihat anak-anaknya menderita.
Tetapi disaat beliau butuh dukungan aku malah tidak pulang untuk sekedar menghiburnya.
Aku masih teringat dulu masa-masa sekolah, disaat aku diganggu sama Arif. Bapak langsung saja mendatangi rumah anak itu. Arif memang terkenal sangat bandel. Dia sangat sering membocorkan ban sepeda siapa saja yang dia sukai. Kemudian aku melaporkan masalah ini kepada bapak dan bapak bagaikan pahlawan dalam kehidupanku. Beliau menjumpai orang tua Arif dan menasehati Arif supaya tidak mengganggu aku lagi.
Semenjak saat itu dia tidak berani lagi mengganggu. Jangankan mengganggu melihat aku saja dia tidak berani. Setiap kami berpapasan dia akan mencari jalan alternatif sehingga tidak berjumpa dengan anak gadis kesayangan pak Ardi.
Jangan main-main dengan bapak. Walaupun hanya pegawai rendahan tapi tidak pernah patah semangat apalagi sampai ada orang yang menginjak harga diri dia atau anaknya.
Tetapi sekarang disaat bapak sedang tidak berdaya dan membutuhkan dukungan morel dan spirituil dari kami, malah aku tidak datang. Anak macam apa aku ini!
"Nes ... Nes..." terdengar suara kak Ayu berteriak dari seberang sana.
"I ... I ... ya kak," jawabku gelagepan. Dari tadi aku sibuk dengan pikiran sendiri tanpa menyadari jika aku sedang berbicara dengan kakak semata wayang.
"Kamu kenapa, sih? Kakak ajak bicara dari tadi kenapa diam saja? Capek Kakak berkoar-koar sendiri. Kamu ngapain aja? Kalau gak ada yang mau di bicarakan bagus kamu tutup aja lah telponnya." Terdengar suara kak Ayu marah-marah.
"Ma ... Maaf, kak. Tadi Agnes melamun. Agnes kepikiran terus bagaimana kondisi bapak saat ini. Aku takut kehilangan bapak, Kak." Dan lagi-lagi aku menangis untuk yang kesekian kalinya.
"Udahlah. Kamu doain saja semoga bapak segera sembuh dan kita bisa berkumpul lagi ramadhan dan idul fitri tahun ini." terdengar suara serak seakan kak Ayu sedang menahan tangisnya di ujung sana. Aku tidak bisa membayangkan wajah kakakku saat ini, yang jelas sekarang rasa khawatir dalam benak ini semakin menjadi-jadi.
Setelah aku tutup telponnya segera aku bersiap siap untuk menjenguk bapak. Aku gak mau tau. Siap pesta Sinta, mau diberi izin atau gak sama Mas Rama aku tetap pulang kampung. Ku buka lemari dan mengambil beberapa potong baju melipat dan memasukkan ke dalam koper.
Cukuplah beberapa potong saja karena aku dikampung hanya seminggu saja.
Mas Rama jangankan khawatir dengan kondisi bapak mertuanya bertanya saja dia gak mau. Terlalu sibuk mengurus pesta adik semata wayangnya. Begitu sayangnya dia terhadap adiknya sehingga kondisi aku dan anakku Niken tidak diperdulikan.
Aku sudah biasa diperlakukan seperti ini. Diri ini sudah kebal. Sambil terus melipat baju baru aku sadari ternyata aku belum meminta izin sama ibu Kepala Sekolah.
'Seharusnya aku meminta izin dulu kepada Kepala Sekolah.' batinku bermonolog.
Kuambil ponsel diatas ranjang dan menekan tombol dengan nama bu Mirna sang Kepala Sekolah.
Bunyi dering ketiga akhirnya telpon diangkat sama beliau.
"Hallo, Assalamualaikum." sapa bu Mirna di seberang sana.
"Wa alaikum salam, Bu."
"Iya. Ada apa bu Agnes? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, Bu. Saya mau ijin gak masuk kelas seminggu karena mau menjenguk orang tua di kampung."
"Lama banget kalau cutinya sampe seminggu , Bu Agnes." protes bu Mirna.
"Saya tau, Bu. Tapi bagaimana, ya? Bapak saya sakit keras dan sudah dua hari ini masuk rumah sakit. Tidak ada anaknya yang menjaga beliau dirumah sakit. Kami cuma dua bersaudara, Bu. Jadi saya mohon ibu memaklumi kondisi kami." aku berusaha menjelaskan sama bu Kepala Sekolah. Dan semoga saja beliau bisa memberikan ijinnya. Gak dapat seminggu beberapa hari saja pun boleh juga.
"Waduh ... bagaimana, ya?"
"Saya mohon, Bu. Sekali ini aja berikan saya ijin pulang menjenguk orang tua saya. Jangan sampai beliau sudah tidak ada saya baru pulang." Ujarku tergugu.
"Maafkan saya, Bu. Bukan maksud memaksa. Tetapi orang tua saya sangat membutuhkan kehadiran anak-anaknya. Beliau terus saja memanggil-manggil nama saya, Bu." ujarku terisak.
"Oh ... Ya udah, Bu Agnes. Saya kasih surat jalan nanti, ya. Kapan ibu akan berangkatnya?"
"Gak sekarang, Bu. Nanti setelah pesta adik ipar saya baru bisa kesana. Jadi saya gak nunggu beres-beres rumah. Soalnya 'kan masih ada orang lain yang bisa bantu ibu dan Sinta."
"Oh ya udah. Nanti saya buatkan surat ijin dan surat jalannya ya, Bu. Semoga bapaknya segera diberi kesembuhan. Aamiin."
"Aamiin. Terima kasih doanya, Bu." jawabku dan langsung mengakhiri telpon.
Kepala Sekolah sudah aku hubungi untuk meminta izin tidak masuk kelas selama seminggu. Sekarang aku mau melanjutkan menyiapkan segala perlengkapan pulang kampung.
"Dek, mau kemana?" aku sampai kaget ketika Mas Rama masuk kamar tanpa mengetuk pintu dulu.
"Mau menjenguk bapak nanti siap pesta Sinta."
"Tapi, Bapak sudah sehat apa masih dirawat sih,Dek? Mas kok jadi khawatir sama kesehatan beliau."
"Belum tau juga, Mas. 'Kan Adek masih disini. Belum sempat menjenguknya."
"Nanti Mas aja yang antar Adek, ya. Gak usah naik bus." entah ada apa gerangan tiba-tiba saja Mas Rama begitu baik dan perhatian kepada keluarga aku.
Bukan aku tidak bersyukur dengan perubahan suamiku. Tapi biasanya dia akan menjadi baik jika mau meminta sesuatu.
Ah ... Gak baik juga berprasangka terus pada suami.
'Mas Rama merupakan Imam dalam rumah tanggaku. Kenapa aku harus mencurigai tanpa alasan yang jelas. Suami begitu baik dan perhatian masih saja aku curigai.' batinku.
"Hmmm ... Dek, ngomong-ngomong uang di ATM Adek tinggal berapa?"
"Maksud Mas bagaimana?"
"Uang gaji Adek 'kan masih ada sisa di ATM. Kemaren gak jadi di tarik semua 'kan? Mas takut nanti saat menjenguk bapak malah gak cukup untuk ongkos dan biaya makan kita selama disana. Uang sama Mas masih ada sih. Tapi ya itulah ... masih dipegang ibu."
"Oh ... kalau masalah itu, gampang. Uang di Atm Adek masih cukup kok untuk keperluan kita sehari-hari disana. Malah keperluan untuk sebulanpun masih cukup, kok."
"Kalau gitu, Mas pinjam dulu, ya?"