"Siapa lagi yang mau pesan? Ini ada berlian murah, model terbaru!" suara Rita sebagai bendahara dalam arisan grup Rumpis dengan membuka kotak perhiasan berwarna merah beludru sebesar kotak kue. Ia memperlihatkan sebuah kalung bermata berlian.
Aku duduk diam, di sudut ruangan rumah Nora sebagai ketua arisan Rumpis. Aku hanya memandang teman-teman arisan yang berusaha mencoba perhiasan secara bergantian.
"Halo Jeng Neni, pengantin baru nggak ingin membeli perhiasan terbaru?" tanya Rita tersenyum memandang Neni.
Neni yang merasa terpanggil tersenyum segera mengarahkan pandangannya ke arah Rita. "Maaf Bu Rita, suami saya sudah membelikan hadiah," ucapnya dengan sopan dan melontarkan senyum khas.
Aku tersentak saat mendengar percakapan antara Rita dan Neni. Hatiku bertanya-tanya hingga berpikiran menanyakan pada Ratih yang duduk di sebelahku.
"Lho Bu, apa Mbak Neni menikah? Kapan? Kok saya nggak diundang?"
Ratih mengernyit kan dahinya menatapku dengan gugup.
"Ooo iya Jeng, tapi memang Jeng Neni tidak menyebar undangan, ia nikah diam- diam. Hanya ibu-ibu yang mengetahui saja yang datang."
Aku bingung, seribu pertanyaan singgah dalam pikiranku. Dengan tak taunya aku dalam pernikahan Neni yang merupakan teman dekatku.
Serta tak ada pemberitahuan ataupun undangan padaku.
Padahal ibu- ibu arisan tau, akulah orang yang paling dekat dengan Neni dibanding ibu- ibu arisan lainnya.
Apalagi setiap kali ada teman yang ingin mengadakan acara, pasti diposting di dalam grub whatsapp.
Mereka dengan antusias merundingkan pakaian apa yang harus mereka kenakan nanti? Warna yang sama atau tidak? Di mana harus berkumpul? Tapi kenapa di grub juga sepi tanpa ada pemberitaan.
Nita juga begitu, padahal berangkat dan pulang arisan selalu bersama naik mobilku. Tapi Nita tidak mengatakan apa-apa kepadaku.
Rasa penasaranku muncul. Aku segera berdiri, melangkah mendekati tempat duduk Neni.
Kebetulan di samping Neni ada kursi kosong.
"Ya Allah Mbak, aku nggak tau kalau Mbak Neni menikah. Kapan Mbak? Aku kok nggak di undang?"
Kuhempaskan tubuhku di atas kursi dan kugeser kursinya agak mendekat pada Neni.
Neni tampak gugup, ia berusaha tersenyum membalas pertanyaanku.
"Tidak apa-apa Mbak? Acaranya sederhana kok. Sebenarnya saya nggak mengundang siapa-siapa Mbak? Ibu-ibunya saja yang tiba-tiba datang!" ucap Neni yang usianya lebih muda dari usiaku. Dan masih dikaruniai anak satu perempuan yang baru berumur dua tahun. Ia menjanda satu tahun yang lalu sebab suaminya meninggal mendadak.
Aku pun berkali-kali mengucapkan maaf. Dan hari ini juga aku berencana hendak ke rumahnya sekedar ingin menebus kesalahan dengan tidak hadirnya dalam pernikahan Neni.
Namun Neni menolaknya secara halus dengan alasan ia hendak pergi bulan madu ke Bali.
Akupun menyadari hal itu. Yang menjadi ganjalan hatiku. Neni begitu baik sama aku.
Bahkan waktu aku punya hajatan khitanan Jenar anakku, ia merelakan utuk bermalam di rumahku selama dua hari untuk membantuku menyiapkan acara itu hingga selesai.
Akupun sering berbagi kebahagiaan menceritakan Mas Bram yang sangat memperhatikan aku. Dan Neni juga menyanjung kesetiaan Mas Bram.
Pikiranku tetap tak enak. Hingga perjalan pulang otakku terus berpikir soal tidak taunya aku tentang pernikahan Neni.
Nita yang duduk di sampingku saat di dalam mobilku, aku cerca dengan berbagai pertanyaan.
"Bu Nita, kenapa Mbak Neni menikah gak memberitahuku? Padahal Mbak Neni itu sudah kuanggap seperti saudara sendiri."
Nita menjawabnya dengan enteng.
"Ya kapan- kapan Jeng Kinan bisa datang sendiri ke rumah Jeng Neni. Waktu masih panjang, gak usah terlalu dipikirkan."
Aku mangut- manggut membenarkan ucapan Nita.
Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri, dalam benakku merasakan kekecewaan yang mendalam. Dan bertanya- tanya tak diundangnya aku dalam acara penting.
Padahal dua hari yang lalu Neni sempat chatingan sama aku. Tapi tak sedikitpun Neni menyinggung soal pernikahan. Bahkan Neni tak pernah menceritakan calon suaminya. Neni cenderung tertutup walau aku sama Neni sering ngobrol. Malahan aku sering mengajaknya ke restoran makan bersama dengan Mas Bram dan belanja bareng.
Neni sudah seperti adikku sendiri sebab aku merasa tak punya saudara.
Timbul rasa penasaranku dan ingin tau siapa suami Neni. Sebab selama ini Neni tak pernah membicarakan soal calon suaminya.
"Suaminya Mbak Neni itu orang mana sih Bu, aku kok gak pernah dengar dia punya calon suami? Dia juga gak pernah cerita sama saya?"
Nita yang hadir waktu acara pernikahan Neni dengan antusias menceritakan
kalau suami Neni itu pengusaha muda yang sukses, orang terpandang. Duda tanpa anak walau usianya terpaut delapan tahun lebih tua dibanding usia Neni.
"Tapi waktu ibu- ibu kesana, tidak bertemu suaminya. Suaminya kebetulan barusan keluar ada kepentingan keluarga," jelas Nita.
Mendengar cerita dari Nita aku ikut merasa bahagia, bagaimanapun juga Neni aku anggap adikku.
Aku tak mempunyai sedikitpun rasa kesal walau dalam pernikahannya aku tak diberitahu. Aku hanya bisa berpikir, Neni memang sengaja tak menyebar undangan atau memberitahu siapapun sesuai perkataannya tadi.
"Ya, mungkin itu sudah jodohnya Mbak Neni. Aku juga turut senang Bu Nita?" ucapku dengan fokus mengendarai mobil.
"Tapi dengar-dengar anak jeng Neni itu juga anak hasil dari suami yang sekarang lho, Jeng. Jadi sebelum suaminya meninggal Jeng Neni itu sudah selingkuh duluan!"
"Ooh ya, benarkah itu Bu?" ucapku agak terkejut dan hampir tak percaya,
Hingga sampai di rumah kata-kata Nita masih terngiang di telingaku.
Cepat-cepat aku turun dari mobilku setelah kunci mobil aku serahkan Dodi satpam rumahku untuk memasukkan ke garasi mobil. Itu sudah menjadi kebiasaan Dodi.
Langkah kakiku kupercepat masuk rumah, untuk menemui suamiku dan menceritakan tentang Neni.
Aku tarik gagang pintu kamarku. Aku tau kalau suamiku sudah pulang sebab pertama aku masuk halaman rumah kulihat mobil suamiku sudah bertengger di halaman.
"Lho sudah pulang, Sayang?" Tanya Bramasta suamiku yang mana aku memanggilnya mas Bram.
Aku bengong saat melihat suamiku memasukkan pakaian ke dalam koper. Belum juga aku menjawab pertanyaannya. Berbagai pertanyaan aku lontarkan pada Mas Bram.
"Mas mau kemana? Kenapa bawa pakaian banyak? Dan kenapa tidak memberitahu aku sebelumnya kalau Mas hendak ke luar kota?"
Mas Bram tersenyum mendekati aku. Sebuah kecupan hinggap di keningku.
"Aku harus ke Singapura Sayang? Ada acara mendadak, tentang perusahaan kita. Jadi aku tak sempat memberitahu kamu?"
"Kenapa mendadak Mas? Bukankah kemarin hampir seminggu Mas Bram sudah pergi ke Surabaya? Kok bukan asistennya saja yang berangkat!" protesku dengan menghempaskan tubuhku ke pinggiran ranjang, kutunjukkan rasa kesalku di depan Mas Bram.
"Nggak lama Say, cuma satu minggu. Kamu pesan apa?" rayu Mas Bram lembut, tangannya mengusap- usap rambutku.
Aku hanya menggelengkan kepala. Aku percaya penuh kalau Mas Bram laki-laki setia. Ia juga perhatian sama Jenar putra satu-satunya. Apalagi apapun yang aku minta Mas Bram selalu menurutinya.
"Mas, Mbak Neni menikah. Tapi kenapa gak memberitahu kita?" tanyaku memandang Mas Bram yang melangkah hendak ke kamar mandi dengan meraih handuk.
Mas Bram tampak kaget. Ia memandangku. "Mbak Neni teman arisan kamu? Yang sering kamu ajak jalan- jalan itu?"
"Iya?" jawabku singkat.
Mas Bram hanya manggut- manggut tampak cuek. Ia melangkah masuk ke kamar mandi, tanpa merespon ucapanku.
Pikiranku masih terbawa tentang Neni yang tidak mengundangku dalam pernikahan. Dalam hatiku sangat kecewa.
Seribu pertanyaan terus bergelayut dalam otakku dengan meraba- raba mungkin aku ada salah dengan Neni. Namun pikiranku tak menemukan titik temu.
Tiba-tiba terdengar dentingan ponsel chat masuk dari ponsel suamiku yang tergeletak di meja.
Aku malas untuk merespon, paling dari teman bisnisnya. Toh aku jarang membuka ponsel Mas Bram. Menurutku itu sebuah privasi. Apalagi aku percaya penuh siapa Mas Bram, tak mungkin Mas Bram berbuat aneh- aneh.
Namun tiba-tiba pikiranku berubah, rasa ingin tau dan penasaran untuk mengetahui siapa yang chat suamiku. Apalagi dengan keberangkatannya ke Singapura.
Aku berdiri, kuraih ponsel mas Bram dan kubuka layar berwarna biru. Beruntung aku mengetahui kunci ponsel mas Bram hingga dengan mudah aku membuka ponsel mas Bram.
"Andre?" gumamku, saat melihat nama yang tertera dalam ponsel itu. Aku mengenal Andre orang kepercayaan Mas Bram.
Aku hendak meletakkan kembali ponsel Mas Bram. Sebab selama menikah aku tak pernah membuka isi ponsel Mas Bram.
Namun baru saja ponsel hendak aku letakkan, sepintas aku melihat fto profil yang tertera pada nomor ponsel Andre. Seorang wanita menggendong
anaknya yang masih kecil.
Aku berpikir seperti nya aku pernah tau profil ini. Rasa penasaran untuk membuka profil itu kembali menguak.
Profil aku buka dan aku zoom hingga tampak jelas siapa pemilik nomor yang bernama Andre.
Mataku terbelalak. Jantungku berdetak kencang saat melihat
fto seorang wanita menggendong anak perempuan imut, lucu, cantik.
Fto itu tak asing buatku sebab aku juga mempunyai nomor whatsapp nya.
Bersambung.
"Neni ...!" gumamku dengan bibir dan tangan gemetar.
"Benarkah ini Neni?"
Aku meyakinkan diriku sendiri dengan mengamati fto itu.
Keyakinanku benar, fto yang ada di profil itu Neni.
Tanpa berpikir panjang chat segera aku buka.
MAS JAM BERAPA KITA BERANGKAT. AKU SUDAH PULANG DARI ARISAN.
Degg, jantungku seolah berhenti berdetak, tubuhku gemetar pandanganku berkunang- kunang. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku. Emosiku meluap bak ruap bir.
Ponsel Mas Bram aku letakkan kembali di atas meja. Aku diam sesaat menenangkan hati dan jiwaku.
Setelah menyatu kembali, emosiku kembali bereaksi.
Dengan cepat aku berdiri, melangkah mendekati pintu kamar mandi. Rasanya ingin mendobrak pintu kamar mandi untuk menghajar Mas Bram dan menanyakan ada hubungan apa dengan Neni.
Aku mengambil nafas panjang. Dan kuhempaskan perlahan.
"Ya Allah, kuatkan aku Ya Allah." Aku menyandarkan tubuhku ke dinding dekat pintu kamar mandi.
Mulutku terus menyebut nama Allah. Hingga aku tersadar dan mengurungkan niatku untuk mendobrak kamar mandi.
Aku tak mungkin melakukan itu. Aku berpikir perbuatanku tak akan menyelesaikan semuanya.
Aku kembali melangkah keluar kamar. Membiarkan ponsel Mas Bram terus berbunyi. Aku malas membuka ponsel itu, yang pasti membuat hatiku sakit.
Yang penting buatku, aku sudah tau ternyata Mas Bram sudah tak jujur padaku, ia sudah mengkhianati aku.
Dan hari ini juga kepercayaanku sama Mas Bram mulai luntur.
Aku melangkah menuju ruang tamu, kuhempaskan tubuhku di atas sofa panjang dan kusandarkan kepalaku di sandaran sofa.
Pikiranku kembali pada kalimat Neni yang ada di ponsel Mas Bram. Aku baru paham kenapa sampai Neni tidak mengundangku dalam acara pernikahan. Ternyata suamiku sendiri pengantin laki- lakinya.
Rasanya aku ingin menjerit, dan mengusir suamiku. Tapi lagi-lagi suara hatiku mengatakan, "sabar ... Sabar dulu Kinan, kamu harus rebut dulu aset yang sudah kamu berikan pada suamimu Bram, baru kau berbuat apa yang kau mau?"
Aku tersadar lagi dengan bisikan batinku. Namun air mataku yang tak bisa aku bohongi.
"Say ...!" Terdengar suara Mas Bram memanggilku dari ruang keluarga.
Aku dengan cepat mengusap air mataku.
"Ya, aku di sini, ada apa?" jawabku dingin tanpa beranjak dari sofa. Sepertinya aku malas untuk menemui Mas Bram yang hendak pergi sama Neni.
Aku berusaha untuk pura-pura tak tau tentang perselingkuhan itu. Dan aku harus bermain sandiwara di depan Mas Bram.
Mas Bram sudah berdiri di sampingku dengan pakaian rapi. Tercium aroma parfum yang sangat harum pada pakaian Mas Bram.
Aku mendongakkan kepalaku. Menatap Mas Bram yang sudah dua belas tahun menikahiku.
Rasa cemburu berkecamuk dalam hatiku. Rasanya aku ingin menarik pakaian Mas Bram dan mengatakan tentang tulisan yang aku baca barusan dari Neni.
Namun lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa- apa. Aku kembali meredam emosiku.
"Mas boleh aku menemanimu ke Singapura. Bukankah selama pernikahan kita kamu tak pernah mengajak aku ke Singapura?" sengaja aku memancing dengan menyebut pernikahan.
Mas Bram seperti kaget mendengar ucapanku. Namun bukan Mas Bram kalau tidak bisa membuat sejuta alasan.
"Sayang, ini bukan liburan! Ini urusan perusahaan. Kalau kamu ingin berlibur ke sana. Bulan depan insya Allah kamu aku ajak jalan-jalan ke sana." ucap Mas Bram lembut, selembut aroma parfum yang dipakainya.
Aku hanya diam tanpa bereaksi. Hingga Mas Bram membungkukkan tubuhnya dan mencium ke dua pipiku.
"Sudah ya, jaga diri baik-baik, dan jangan lupa jaga Jenar."
Aku tak merespon kata- kata Mas Bram. Aku berdiri dan melangkah pergi masuk ke dalam rumah tanpa mengikuti Mas Bram sampai ke mobil. Hingga terdengar deru mobil Mas Bram meninggalkan halaman rumah.
Entah rasa cemburu tak bisa aku kendalikan. Dengan cepat aku meraih kunci mobilku. Dan keluar rumah setelah pamit sama Bibi Nur pembantuku untuk menitipkan Jenar.
Perlahan mobil yang aku kendarai keluar halaman rumahku untuk membuntuti mobil Mas Bram.
Mobil aku pacu dengan kecepatan tinggi agar bisa mengejar mobil Mas Bram.
Tampak mobil Mas Bram di depanku berjalan pelan. Aku sedikit agak lega bisa di belakang mobil Mas Bram.
Dalam hatiku semoga Mas Bram tidak melihat mobilku. Tapi aku yakin Mas Bram tak melihat mobilku.
Rasa sakit sudah dikhianati bertahun-tahun. Terlintas kata-kata Nita yang mengatakan anak Neni itu bukan anak suaminya yang sudah meninggal. Itu anak hasil selingkuh sama suami yang ke dua. Berarti Neni sebelum suaminya meninggal sudah punya hubungan khusus dengan Mas Bram.
Sebelum pernikahan itu, Neni sering ke rumahku, ia sering curhat tentang suaminya yang tidak bisa mencukupi kebutuhan ekonominya semenjak ia di PHK dari perusahaannya.
Aku merasa kasihan dan sedikit banyak Neni sering aku beri uang sekedar untuk membeli susu dan pempers anaknya. Malahan ia aku tawari agar suaminya bekerja di perusahaanku. Namun Neni menolaknya dengan berbagai alasan hingga ajal menjemput suaminya.
Pernah suatu ketika Neni menghubungi aku dan mengatakan kalau dirinya tak punya uang untuk membayar arisan. Aku yang merasa Neni adalah teman juga aku anggap saudara, aku beri uang untuk membayarnya.
Tak tau dibalik semua itu ternyata Neni dan Mas Bram punya hubungan istimewa.
"Bodohnya aku ...!" keluhku.
Otakku mulai terbayang saat Mas Bram sudah berada di rumah Neni, dengan tiba-tiba aku muncul di rumahnya berpura-pura datang sebab waktu Neni nikah aku tak bisa hadir. Aku tersenyum perih saat membayangkan semua itu.
Pandanganku kembali fokus ke mobil Mas Bram. Aku tersentak kala melihat lampu rambu lalu lintas berwarna merah. Aku menghentikan mobilku. Namun mobil Mas Bram berjalan terus meninggalkan aku.
"Sialan ...! Aku terlambat." Aku gusar dan kupukul stir mobil berkali-kali.
Gara-gara lampu merah yang membuat mobilku tertinggal jauh dengan mobil Mas Bram. Aku kehilangan mobil Mas Bram.
Namun aku tak kehabisan akal. Aku berencana langsung ke rumah Neni, aku tak perduli apa yang bakal terjadi.
Lampu hijau mulai menyala. Mobil aku pacu menuju rumah Neni yang mana sebelumnya aku pernah ke sana waktu acara arisan.
Butuh waktu tiga puluh menit. Mobilku sudah memasuki kawasan perumahan dimana Neni tinggal.
Sengaja mobil kuparkir agak jauh dari rumah Neni, agar Neni dan suamiku tak melihatku
Aku mempercepat langkahku agar tak ketinggalan keberangkatan suamiku dan Neni.
Kuhentikan langkahku tepat didepan rumah Neni.
Daun-daun kering berserakan di halaman rumah.
Aku diam terpaku, menatap pintu pagar bercat hitam tergembok rapi.
"Sepi ...?!" gumamku dengan mata memandang ke setiap sudut rumah Neni.
"Ibu mencari siapa?"
Aku tersentak, dengan cepat aku menengok ke arah suara itu.
Berdiri seorang wanita paruh baya menatapku.
Aku gugup, mencoba tersenyum ramah pada Ibu yang ada di depanku.
"Saya mencari Bu Neni. Tapi rumahnya kok sepi?"
Wanita itu tersenyum dan menjelaskan kalau Bu Neni sudah tidak tinggal di sini setelah menikah.
Aku kaget, mendengar penjelasan dari wanita yang ternyata tetangga sebelah rumah Neni. Wanita itu memperkenalkan diri.
"Panggil saja saya Bu Darma saya ketua RW di kampung ini." Wanita itu menyodorkan tangannya ke arahku.
"Saya Kinanti Bu, panggil saja saya Kinan." ucapku dengan tersenyum.
Sengaja aku tidak segera pergi, kesempatanku ingin tau tentang Neni dari Bu Darma.
"Apakah ibu tau? Dimana Bu Neni tinggal sekarang?"
Bu Darma hanya menggelengkan kepala. "Yang saya ketahui Bu Neni sudah pindah di rumah barunya."
Degg ... Jantungku seolah berhenti berdetak. Tubuhku menjadi lemas. Aku menghela nafas dalam- dalam untuk menenangkan hati dan pikiranku. Tapi aku mencoba tenang mendengarkan cerita Bu Darma.
"Dua hari yang lalu bu Neni menikah. Setelah menikah ia langsung di boyong sama suaminya di rumah barunya?" lanjut bu Darma. "Apa Jeng Kinan masih saudara Jeng Neni?"
Dengan cepat aku menganggukkan kepala.
Agar Bu Darma tak curiga, aku membohongi dengan mengaku kalau aku kakaknya Neni. Beruntung Bu Darma percaya begitu saja.
"Boleh saya minta informasi tentang Neni, Bu?'
Bu Darma tampak senang, dan mempersilahkan aku untuk singgah sebentar di rumahnya.
Dengan sangat gembira aku menerima tawaran Bu Darma. Bu Darma menceritakan banyak tentang Neni.
"Sebenarnya saya sungkan hendak mengatakan sama Jeng Kinan. Tapi Jeng Kinan harus tau. Sebab Jeng Kinan kan kakak Jeng Neni.
"Ceritakan saja Bu, Nggak apa-apa kok," jawabku penasaran.
Bersambung.
Namun, tiba- tiba Bu Darma berheti bicara. Ia tampak ragu, lama ia menjawab. Namun aku mendesak terus, agar Bu Darma menceritakannya.
Bu Darma bercerita menurut pengakuan Neni sendiri sebelum suaminya yang dahulu meninggal mempunyai hutang pada Tuan Smith.
Aku kaget saat Bu Darma menyebut nama Tuan Smith. Dengan cepat aku memotong ucapan Bu Darma.
"Tuan Smith?" tanyaku agak bingung. "Siapa Tuan Smith?"
Bu Darma memandangku tajam. Dan ia langsung menjelaskan kalau Tuan Smith suami Neni. Ia seorang pengusaha muda yang kaya raya. Duda tanpa anak, ia menginginkan anak dari Neni. Dari Tuan Smith lah hutang suami Neni terlunasi.
Aku lebih kaget saat Bu Darma bicara soal hutang.
"Hutang ...?!" aku terperanjat kaget. Apalagi Bu Darma menyebut nama Smith.
Nama Smith itu nama Papaku yang sudah meninggal. Nama panjangnya Hans Smith. Berkebangsaan Swiss. Mamaku bernama Citra Lestari orang Jogjakarta. Orang kebanyakan memanggil Mamaku dengan sebutan Bu Citra.
Mamaku pengusaha batik yang sukses. Dan Papaku pengusaha properti serta mempunyai pabrik tekstil yang terkenal di negeri ini dengan berbagai cabang di luar negri.
Semenjak Papaku meninggal, aku anak satu-satunya yang harus menggantikan mengelola usaha Papaku. Untuk usaha Mamaku tetap dikelola Mamaku sendiri.
Aku yang merasa sendirian begitu kalang kabut mengelolanya. Mas Bramasta sebagai tangan kanan papaku waktu itu berusaha membantuku dengan mendorong agar usaha Papaku jangan sampai gulung tikar sebab ditinggal Papaku.
Dengan seringnya kami bertemu, aku jatuh cinta sama Mas Bram, begitu juga Mas Bram.
Akhirnya aku menikah dengan Mas Bram yang mana sebenarnya Mama tak begitu merestui.
Lama- lama Mama menyerah dengan tekatku, serta merestui pernikahanku hingga dikaruniai anak laki-laki satu yaitu Jenar Putra Bramasta.
"Lho, apa keluarga Jeng Kinan waktu pernikahan Jeng Neni tidak datang. Pernikahannya baru dua hari ini lho Jeng!"
Aku menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Sudah lama adik saya ada masalah sama keluarga Bu," aku membela diri dengan kebohongan.
Dalam hatiku sangat yakin laki-laki yang bernama Smith itu Mas Bram, ia menyamar memakai nama Papaku.
Ia menikahi Neni sebab hutang.
Dan yang lebih membuat hatiku hancur berkeping-keping. Mas Bram mengaku kalau dirinya Duda tanpa anak pada warga perumahan ini.
Aku berdiri dan mohon pamit dengan mengucap banyak terima kasih dengan informasinya. Dan aku meminta Bu Darma kalau ada informasi tentang Neni aku menyuruh agar Bu Darma berkenan memberitau aku.
Aku menyodorkan nomor ponselku. Bu Darma mengangguk pelan. Dengan mencatat nomor ponselku.
Aku keluar dari rumah Bu Darma menuju mobilku. Pikiranku semakin tak karu-karuan. Sejuta pertanyaan terus bergelayut dalam otakku.
"Jadi suami Neni sebelum meninggal punya hutang Mas Bram? Kenapa Mas Bram tidak memberi tahu aku?"
Aku tak bisa berpikir lagi. Kupacu mobilku menuju rumah Mamaku untuk berbagi kesedihan.
Rasanya aku ingin menangis meminta maaf pada Mamaku ternyata benar apa yang dikatakan Mama pilihanku salah.
Kebetulan Mamaku masih berada di Jakarta. Belum berangkat ke Jogjakarta untuk mengontrol perusahaannya.
Namun apa yang terjadi dengan Mamaku. Mamaku malah menyalahkan aku.
"Kamu nggak usah menyalahkan suamimu, Kinan? Bram sudah menjadi pilihan terbaik kamu. Salahkan dirimu sendiri, sebab kamu sudah terlalu percaya sama Bram dibanding Mama."
Sungguh aku kecewa dengan perkataan Mamaku. Memang aku merasa bersalah. Tapi tak seharusnya Mamaku berkata seperti itu.
"Ma, tolong beri aku solusi. bagaimana jalan keluarnya." Pintaku memohon dengan duduk seperti pesakitan di depan hakim sesekali kutatap wajah Mamaku.
"Kamu seharusnya tak memanjakan suamimu? Kenapa semua aset kau limpahkan pada suamimu? Bukankah kamu mempunyai Jenar?"
Degg ... Jantungku seolah berhenti berdetak. "Siapa yang melimpahkan pada Mas Bram? Aku tak sebodoh itu Ma?"
Tampak Mamaku memandangku tajam.
"Bram yang bilang. Malah dia bawa pengacara ke rumah Mama."
Aku tersentak. "Mama percaya dengan semua itu?"
Mamaku tampak diam. Ia terus menatapku tanpa berkata sepatah kata. Hingga aku mengulangi perkataanku untuk yang ke dua kalinya.
Mamaku menggelengkan kepalanya.
"Aku tak memberi izin tanda tangan itu. Sebab semua aset itu namaku juga tercantum, Kinan."
Aku merasa lega. Aku mendekati wanita yang tiga puluh empat tahun melahirkan aku. Aku memeluk pipi keriputnya yang sudah termakan usia. Aku cium berkali-kali dengan mengucap terima kasih.
Dan ia berpesan agar aku hati-hati terhadap Mas Bram. Sepertinya Mama menaruh curiga dengan Mas Bram tentang aset perusahaanku. Ia juga terus menanyakan tentang kepemilikan perusahaanku apakah sudah di atas namakan Mas Bram.
Aku menggelengkan kepala.
"Baru mengelolanya Ma, tapi untuk kepemilikan belum aku atas namakan Mas Bram."
Sepertinya Mama merasa lega mendengar ucapanku.
"Syukurlah," suara mama lirih.
Aku berdiri meraih tas kecilku yang tergeletak di meja depanku.
"Aku pulang dulu Ma, Jenar pasti mencariku, hampir sehari aku belum menemui Jenar."
Mama mengangguk, mengantarku sampai di depan pintu rumah.
"Kapan-kapan bawa Jenar ke sini. Aku kangen ingin mengajaknya jalan- jalan."
Kembali aku mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Mamaku.
***
Sampai di rumah sudah jam empat sore. Berati hampir satu hari aku disibukkan dengan urusan suamiku.
Aku melangkah ke kamar Jenar. Baru saja aku membuka pintu kamar, aku kaget melihat Jenar tidur dengan kening di kompres oleh Bibi Nur.
"Jenar ...!" panggilku dengan panik.
Aku melangkah menghampiri Jenar yang berbaring lemah dengan memanggil namaku.
"Mama ...!"
Aku tempelkan tanganku ke kening Jenar. Aku merasakan panas pada suhu tubuh Jenar.
"Tubuh Tuan kecil panas Nyonya, tadi sudah saya cek suhunya tiga puluh delapan derajat."
Aku segera menoleh ke arah Nur yang masih berdiri dengan menunduk.
"Kenapa kamu tak menghubungi aku Bik?" Nadaku kesal.
"Maaf Nyonya, sudah berkali-kali saya menghubungi Nyonya tapi tak ada jawaban dari Nyonya."
Aku tersentak, dan baru ingat kalau ponselku baterainya habis lupa untuk mengisi. Padahal sejak pulang dari arisan aku berniat untuk mengisi batrai, tapi aku tak ingat. Pikiranku sudah disibukkan dengan Mas Bram.
"Kamu sudah menghubungi Tuan Bram?"
"Sudah Nyonya, tapi juga tak diangkat, Tuan kecil juga sudah saya kasih obat turun panas,"
Aku segera membuka tasku dan mengambil ponselku dengan mengulurkan ponsel ke arah Bibi Nur agar mengisi baterai nya.
"Apa yang kamu rasakan, Sayang?" ucapku mengelus kepala Jenar.
Jenar hanya diam dengan mengerjap- ngerjapkan matanya.
Aku semakin panik, segera menyuruh bibi Nur menyuruh Arman sopirku untuk siap-siap mengantarku ke rumah sakit. Aku takut terjadi apa-apa dengan Jenar.
Sengaja aku tak menghubungi dokter pribadiku terlebih dahulu.
Sesampai di rumah sakit segera aku hubungi Mas Bram.
"Mas ...! Jenar sakit. Sekarang berada di rumah sakit." ucapku dalam ponsel singkat. Setelah dokter menyatakan Jenar harus rawat inap.
"Oh ya, aku akan secepatnya pulang, Tapi ...!"
Aku langsung menutup pembicaraan Mas Bram dalam ponsel. Hingga Mas Bram berkali-kali menghubungiku lagi. Namun aku enggan mengangkatnya.
Rasa sakit masih terasakan jika mengingat kata-kata Bu Darma. Dan apalagi bayangan demi bayangan terlintas di pelupuk mataku bagaimana Mas Bram bersenang-senang bergumul di atas ranjang dengan Neni.
"Mama menangis?" tanya Jenar yang tiba-tiba mengagetkan aku. "Aku nggak apa-apa Mama, besok Jenar pasti sudah sembuh." suara parau anakku yang berusia sepuluh tahun.
Aku mencoba tersenyum. Dengan mengusap air mataku yang terlanjur menetes di pipiku.
"Ya Sayang, kamu harus cepat sembuh," lirih ku dengan menelan salivaku sendiri.
"Papa kemana, Ma?"
"Ohh, Papa ada urusan perusahaan ke Singapura, Sayang. Tunggu besok pasti datang," ucapku menghibur Jenar.
Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang perawat berdiri di belakangku.
"Nyonya, ada panggilan dari dokter Frans."
Aku mengangguk.
"Sebentar Sayang, Jenar sama Bibi Nur dulu ya?"
Aku berdiri mencium kedua pipi Jenar. Dan mengikuti langkah suster keluar kamar inap Jenar untuk menemui dokter Frans.
Dokter Frans dokter pribadi keluargaku yang sudah bertahun tahun merupakan kepercayaan Papa dan mamaku.
"Kenapa Nyonya tidak menghubungi saya sebelumnya kalau putra Nyonya sakit?"
"Maaf Dok, mungkin saya panik."
Dokter Frans mengangguk dengan menatapku tak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang berat untuk disampaikan.
Tubuhku lemas, seperti seorang tahanan berhadapan dengan hakim yang akan menjatuhkan hukuman berat untukku.
"Sakit apa yang diderita anak saya, Dokter?" Saya bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Dokter Frans menarik napas panjang. Dia mengambil sebuah kertas dan menyodorkannya ke arahku.
Dengan hati berdebar-debar saya mengambil kertas itu dan membacanya.
Darahku tersirap, tubuhku gemetar saat membaca tulisan yang tertera dalam kertas itu.
Bersambung.