[Sayang, aku pulang agak malam, kamu dan Cheryl makan duluan aja, ya!]
Selena menghela nafas dengan berat. Pesan dari suaminya, Royano Budiman, menganggu suasana hatinya yang bersemangat merampungkan laporan kerja hariannya.
Diliriknya sudut kanan bawah laptopnya, pukul 17.15. Suaminya selalu memberi kabar menjelang jam pulang kantornya. Entah sengaja atau memang baru sempat memberi kabar.
Selena berniat acuh, tak ingin membalas pesan itu. Jarinya bergerak lincah pada keyboard laptop, melakukan pemeriksaan ulang pada setiap sheet dan file laporannya. Namun matanya tidak berhenti melirik ponsel.
[Iya, sayang. Jangan telat makan malam, ya! Oiya, kalau bisa hari ini bacain buku dongeng baru untuk Cheryl.]
Ditambahkannya emoticon kiss diakhir pesan. Berharap suaminya mengerti kerinduan hatinya membagi waktu bersama dengan Cheryl.
Ah. Tidak seharusnya aku takut meminta perhatian dari suami sendiri, bagaimanapun ini demi Cheryl, buah cinta kami. Bayi berumur 3 tahun yang sedang bersemangat mengeksplor dunianya.
Selena memijit batang hidungnya perlahan. Ia mulai jenuh bersikap seolah semua baik-baik saja. Ia enggan mengakui pernikahan mereka semakin dingin, meski baru akan genap 4 tahun bulan depan.
Dua menit berlalu sejak Selena membalas pesan Roy, tidak ada balasan lagi. Selalu begitu.
"Apa lagi yang kau harapkan, Selena? Jangan menunggunya pulang!"
Monolog yang membantunya melepaskan rasa sesak tertahan di dadanya. Ia bergegas untuk pulang. Tangannya membereskan laptop kerja dan merapikan meja. Ia terbiasa meninggalkan meja dan kubikel kerjanya dalam keadaan bersih dan rapi.
Sudah pukul 18.00, ia perlu ke toilet sebelum memesan taksi online.
"Lena, belum pulang?" Harris, managernya, menyapa dari ruangannya.
"Loh! Bapak masih ada?" Selena memundurkan langkahnya ke arah pintu ruangan.
"Baru selesai zoom meeting dengan direktur" seru Harris tanpa menoleh ke arah Selena berdiri.
"Semangat, pak! Ada kebijakan baru atau kerja tambahan, pak?" Ia masih berdiri di pintu.
"Nothing, masih sama dengan minggu lalu" jawaban pendek dari Harris membuat Selena kehabisan akal.
Ia berlalu setelah berpamitan. Mustahil membuat percakapan hangat dan panjang dengan managernya. Baik berdua maupun dalam tim, managernya konsisten pelit berbicara, bahkan menghindari kontak mata.
Selena mengingat lagi hari pertama Harris bergabung di kantor, itu dua tahun yang lalu. Saat itu Selena ditunjuk oleh direktur untuk membawa Harris berkenalan ke seluruh departemen. Candaan teman-teman ditanggapi Harris dengan senyum tipis dan 'oh' saja.
Meski sejauh ini belum pernah ada masalah yang berarti dalam pekerjaan dengan Harris, Selena sangat berhati-hati agar tetap nyaman dalam bekerja. Stigma bos laki-laki manipulatif dan suka melecehkan staff perempuan tidak ada dalam tampilan harian Harris.
Selena bergegas dari toilet setelah menerima panggilan dari supir taksi online pesanannya. Digenggamnya tas kerja di tangan kanan, shoulder bag kesayangan yang dihadiahkan Roy saat ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.
"Yaah! Lupa lagi!" Selena mendengus kesal, tas bekalnya masih tertinggal di meja kerja. Ia berlari kecil sambil menulis pesan singkat ke supir agar menunggu.
"Bugh!" Tubuhnya menabrak seseorang dan hampir kehilangan keseimbangan.
"Kamu bisa lebih hati-hati?" Harris membantunya berdiri tegak. Telapak tangannya yang besar menempel di punggung dan panggul Selena. Alih-alih menegakkan posisi berdiri, Selena malah memeluk Harris karena posisinya yang juga belum seimbang.
Terlalu asik dengan ponsel sambil berlari kecil membuatnya menabrak Harris di pintu masuk ruangan departemen mereka.
"Kamu gak papa? Ada yang sakit?" Harris membuat jarak sambil memasukkan tangan ke kantong celananya. Matanya lurus menatap Selena.
Belum hilang degub jantung karena panik, Selena malah semakin gugup karena tatapan mata Harris.
"E ... saya gak apa-apa, pak. Saya minta maaf" Sedikit nyeri di dahinya, sepertinya akibat benturan dengan dagu Harris.
Menyadari kecanggungan yang harus diakhiri, Selena mengangguk pamit, "Tas bekal saya ketinggalan, pak. Saya buru-buru karena taksi pesanan saya sudah di lobby"
Ia berlalu dari hadapan Harris tanpa menunggu sahutan pria itu. Rasa gugup makin menjadi saat ia lihat Harris masih berdiri memandanginya.
"Pak, saya duluan. Saya pamit kedua kali, nih!" erang Selena pelan dengan senyum. Harris melangkahkan kakinya mengikuti Selena.
Keduanya membisu saat mengantri lift dan turun ke lobby. Selena yang tak ingin lebih canggung lagi langsung menuju taksi pesanannya.
"Huft ... apes banget, sih! Untung pak Harris gak marah" Selena ingat Harris terdesak ke pintu kaca saat tabrakan tadi. Diusapnya dahi yang masih perih, tak hanya karena benturan juga karena janggut kasar Harris yang baru tumbuh menggesek dahinya.
'Kepalanya tadi nabrak kaca, dong!' Mulut Selena membulat. Ia ingat lagi, Harris tampak baik-baik saja tadi bahkan menatapnya lama. Tatapan yang membuat Selena gugup, rasa khawatir terpancar dari netra coklat tua itu.
Ada buncah hangat di dadanya, sudah lama ia tidak melihat hal itu di mata Roy. Sejak hamil dan melahirkan Cheryl ada jarak tercipta. Entah sejak kapan mereka saling acuh dan abai, tidak ada lagi pelukan hangat dan obrolan enak di rumah. Ia rindu tatapan sayang Roy.
Matanya mendadak memburam. Genangan air bersiap jatuh dari sudut matanya. Tidak, ia tidak boleh menyerah. Menangis tidak menyelesaikan masalah. Malah akan membuatnya tampak semakin konyol di depan Roy.
Diusapnya lengannya perlahan. Pelukan Harris terekam jelas dalam memorinya. Kedua telapak tangan yang menempel menopang punggung dan panggulnya, juga perut dan dada Harris di dadanya. Ia bahkan merasakan paha kokoh Harris berada diantara kedua pahanya saat akan terjatuh.
Selena memejamkan mata, menahan gejolak yang muncul karena ingatannya. Ia malu dengan dirinya, tak seharusnya tubuhnya merespon cepat hanya karena pelukan Harris. Tubuhnya berdenyut, ia butuh pengalihan.
Dipandanginya jalanan yang padat dengan kendaraan serupa. Jam pulang kantor memang tak ayal membuat macet. Semua orang ingin segera tiba di rumah bertemu dengan keluarga atau sekedar melepas penat dari sibuknya pekerjaan. Sama hal dengan dirinya, selalu ingin tiba lebih awal di rumah, memeluk Cheryl dan main berdua. Sambil menyiapkan makan malam untuknya dan Roy, andai Roy mau pulang lebih awal.
Jalanan kembali lancar saat memasuki area perumahan tempat tinggal mereka. Selena berusaha tetap optimis dan bersemangat. Ia tak ingin Cheryl bertemu dengan wajah muram atau lelahnya. Senyum nakal terbentuk di bibirnya, ia punya rencana dipenghujung malam.
Bunyi pesan masuk di ponselnya tepat saat taksi berhenti di depan pagar rumahnya. Selena merogoh tas dan memberikan sedikit tip untuk si supir.
Kak Ipah membukakan pagar dengan sigap dan menyapa dengan riang, seriang Cheryl yang sudah duduk manis di sofa teras.
"Halo, mama ...." teriak Cheryl yang tetap duduk menyaksikan Selena mencuci tangan di wastafel pojok teras.
"Haii ... Cheryl, anak mama ... tunggu, ya!"
Cheryl semakin girang melihat mamanya berjalan ke arahnya. Tangannya bertepuk lebih cepat dengan celotehan lucu dari bibirnya.
Selena memainkan gerakan cilukba sambil menirukan lompatan kecil Cheryl. Keduanya semakin ceria dengan berpelukan dan saling cium. Cheryl menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher mamanya. Posenya terlihat semakin manja dan manis saat tangannya memeluk erat leher mamanya.
"Cheryl rewel hari ini, kak? Makannya banyak, gak?"
Selena akhirnya duduk setelah Cheryl tenang dalam pangkuannya.
"Anak baik Cheryl-nya, mama!" Kak Ipah, baby sitter yang dipercaya Selena sejak Cheryl bayi menirukan gerakan cilukba saat menjawab pertanyaan majikannya.
"Kak Ipah sudah makan malam? Lauk tadi siang cukup, kan?"
"Aman, aku sudah kenyang, Lena!" ujarnya sambil meletakkan tas Selena ke atas meja.
"Seriusan? Masuk, yuk! Aku masakin mie goreng, kita makan bareng" Selena berdiri dan membawa Cheryl ke dalam rumah, Kak Ipah mengekor.
"Aku langsung pulang, ya, Lena! Mama nitip belanjaan tadi" Kak Ipah sibuk dengan tas dan jaketnya.
"Oh ... itu yang di kulkas, kalo butuh diambil aja, kak!" Selena meletakkan Cheryl dia karpet yang sudah dipenuhi mainan.
"Makasih, Lena. Mama nitip beli benang untuk rajutannya." Selena mengantar Kak Ipah sampai ke gerbang.
Seperti biasa Selena akan menunggui hingga sepeda motor Kak Ipah berlalu dari blok perumahan mereka dan menutup gerbang.
Dikuncinya pintu dan berlalu ke dapur setelah memastikan Cheryl nyaman dengan mainannya. Ia butuh sedikit waktu untuk membersihkan diri dan mengisi perut.
Urusannya harus selesai sebelum jam tidur Cheryl. Ia memilih memotong buah terlebih dahulu, mencicipinya dan menyiapkan bahan untuk tumisan sayurnya.
Baru saja tumisan sayurnya matang, Cheryl terdengar mendekat ke dapur sambil menangis. Selena berjongkok menunggu putrinya tiba di pelukannya.
"Cheryl bosan? Gak ada mama yang nemenin main, ya?" Digendongnya putri semata wayangnya menuju meja makan.
"Mau temani mama makan?" Cheryl menurut saat didudukkan di high chair di sebelah mamanya. Tangannya menggenggam potongan buah melon.
Ditariknya nafas lalu melepaskannya perlahan. Ia butuh suasana hati yang tenang saat makan. Hal yang sulit didapatkan oleh ibu-ibu yang memiliki batita. Seperti Cheryl yang selalu ingin dekat dengannya, membuatnya tidak leluasa mengerjakan urusan domestik rumah tangga.
Ia pernah menggunakan jasa asisten rumah tangga, sejak usia kandungannya lima bulan. Kesibukan di kantor dan adaptasi dengan kehamilan pertamanya membuatnya tidak sanggup mengerjakan urusan rumah.
Hingga usia Cheryl setahun, Roy meminta Selena berhenti menggunakan jasa ART. Roy beralasan kurang nyaman dengan ART yang tinggal bersama di rumah.
Sebenarnya Selena masih membutuhkan jasa asistennya, namun Roy kerap menuduhnya manja dan tidak mau belajar mandiri. Pertengkaran tak terelakkan dan selalu berakhir dengan aksi bisu Roy. Dengan berat hati Selena memberhentikan asisten yang usianya terpaut 5 tahun dengannya.
Mangkoknya bersih tak bersisa, Cheryl tampak menguap dengan potongan melon di mulutnya. Putrinya tidak mengunyah buah karena sudah mengantuk. Ia urung untuk mandi.
"Aduh, manisnya anak mama. Nungguin mama makan, ya!" Selena menggendong Cheryl ke kamar di lantai dua. Dengan telaten Selena membersihkan bekas buah dari tangan dan mulut putrinya, juga mengganti pakaian yang basah karena terkena liur.
"Waktunya membaca buku iniiii ..." pekik Selena pelan sambil mengayunkan buku tebal berisi cerita bergambar di hadapan Cheryl yang sudah rebahan di kasur.
Membacakan buku menjadi kegiatan rutin untuk Cheryl sejak lepas ASI setahun lalu. Selain memberi stimulus melalui gambar dan cerita, Cheryl lebih mudah tertidur tanpa drama rewel. Sehingga Selena masih memiliki cukup waktu untuk dirinya dan urusan rumah tangga.
Terdengar dengkuran halus, Selena meletakkan buku perlahan dan menutup tubuh putrinya dengan selimut. Ia beranjak perlahan dan mencari letak tasnya.
Bunyi pesan masuk di ponselnya. Dibukanya layar benda pipih itu.
[Aku gak janji, sayang. Kamu dengan Cheryl aja, ya!]
Balasan dari Roy pukul 18.45.
[Sayang, tidur duluan ya. Aku pulang larut. Nanti aku cerita, ya!]
Pesan dari Roy lagi, baru saja, pukul 20.30.
Selena terduduk lemas. Rencananya menggoda Roy gagal. Hatinya lagi-lagi kecewa, Roy bahkan tidak menanyakan keadaannya.
Sudut matanya melirik chat room Roy, terlihat tulisan online di status Roy. Jarinya mengetik sejumlah kata namun urung dikirimnya. Ia malas berdebat.
Ditutupnya chat room dengan Roy. Dahinya mengernyit melihat pesan masuk diurutan kedua.
[Selena, dahimu tidak apa-apa? Saya kirimkan salep untuk mengurangi memarnya?]
Pesan dari Harris pukul 18.45.
Ditatapnya ponsel dengan seksama. Nama pengirim pesan dan jam pengiriman. Selama bekerja, ini pertama kalinya Harris mengiriminya pesan. Pesan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan dan dikirimq diluar jam kerja.
Oh, No! Gerangan apakah ini?
Selena spontan menutup mulut dengan pekikan tertahan. Otaknya mulai mengurai dan menerka-nerka maksud pesan Harris.
"Tenang, Selena! Jangan bodoh! Pak Harris hanya khawatir saja, tidak lebih!" bisik Selena menghalau ketakutan akan bos pria yang manipulatif.
Oke, cepat berikan respon! Ingat sopan santun dengan atasan!
[Terimakasih, Pak Harris. Saya baik-baik saja. Maaf baru membalas pesan. Selamat malam]
Dibubuhkannya emoticon smile pada akhir pesan.
Send.
Centang dua abu-abu.
Centang dua biru.
Dalam hitungan detik dan selanjutnya Harris terlihat mengetik.
Selena menggigit bibir bawahnya.
Tuh, kan! Harusnya gak perlu dibalas!
Ia buru-buru kembali ke layar utama dan menonaktifkan ponselnya. Ditinggalkannya begitu saja di atas meja dan menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa gerah dan lengket.
****
Selena menggeliat, bibir basah yang menempel di daun telinganya seolah tengah membisikkan kata cinta. Nafas memburu terasa di kulitnya.
Dirapatkannya kedua pahanya menahan desiran halus di seluruh tubuhnya. Ia mendamba sentuhan yang lebih. Lagi.
Bibir itu masih terus mencecap telinganya, Selena semakin terbakar gairah. Tangannya mulai meremas payudaranya. Tak ayal desahan kecil terlepas dari bibirnya.
Kepalanya mendongak saat bibir basah menjelajah leher jenjangnya. Setiap inci disapu si lidah dengan perlahan seakan sangat menikmati manisnya kulit leher Selena. Gelombang hasrat meledak di dada dan perutnya. Desahan kecil silih berganti dengan lenguhan manja dari bibirnya.
Tubuhnya bergetar, ia mendamba dan menanti sentuhan yang lebih dalam.
"Roy ... disini ... aku mau disentuh disini" Selena mengarahkan tangan pria itu ke bawah perutnya. Matanya terus terpejam menikmati gairah yang meletup hingga ke kepalanya.
Usapan lembut di intinya yang sejak tadi sudah basah oleh cairan cinta. Tangan itu menuntut, membuka pahanya dengan lebar. Selena tak mau berdiam saja, ia mengangkat bokongnya sehingga membuat gerakan indah disana.
Pipinya memanas, ia semakin birahi. Ia ingin mengecap bibir Roy, ingin menikmati setiap inci lidahnya. Kepalanya memutar ke belakang, telapak kanannya menangkup rahang keras dengan bulu kasar di dagunya.
Ia ingin mengucap cinta dengan seluruh jiwa raga, dengan tatapan mata yang dalam. Perlahan kelopak matanya membuka saat tautan bibir itu semakin intens.
"Pak Harris!!"
Selena terbangun, nafasnya tersengal. Tangannya mengusap telinga dan lehernya. Barusan hanya mimpi? Ia seorang diri di ranjang, tapi dasternya tersibak hingga ke perut dan celana dalamnya basah.
Jam berapa ini? Kenapa Roy belum di rumah?
Selena merapikan diri dan beranjak keluar kamar. Pukul 11.30 pada jam dinding di ruang keluarga. Matanya tertuju pada ponsel di meja. Ia baru ingat ponsel ia nonaktifkan.
"Duh ..." Ia khawatir Roy menghubunginya sejak tadi. Tangannya menyugar rambutnya yang panjang sambil menekan tombol daya benda pipih itu.
Bunyi ponsel menyala, jarinya dengan cepat membuka aplikasi berkirim pesan online dan panggilan telepon. Nihil. Tidak ada pesan dan panggilan dari Roy.
Mau kamu apa, sih, Roy?
Ia berusaha menerima dan memahami kesibukan Roy di kantornya. Terutama sejak suaminya dipromosi menjadi Area Manager Marketing setahun yang lalu. Tentu saja Selena tidak menguasai teknis pekerjaan di perusahaan start up IT itu, tapi batas jam kerja setiap perusahaan tentu tidak jauh berbeda.
Sebenarnya jabatan baru tidak serta merta membuat komunikasi mereka hambar. Jauh sebelum itu mereka sudah jarang berbincang berdua atau sekedar pillow talk. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali bercumbu mesra. Ia mencoba mengurai urutan momen kebersamaan mereka sejak menikah, mengandung, melahirkan hingga sekarang.
Apakah aku yang salah?
Diusapnya layar ponsel sekali lagi. Ia harus mencari tahu keberadaan Roy. Rasa khawatir dan peduli itu masih ada. Ia juga tidak ingin hal buruk menimpa suaminya.
Terdengar nama sambung di ponselnya namun yang dituju tidak menjawab panggilan. Dicobanya lagi bergantian dengan panggilan di aplikasi pesan. Hasilnya sama.
Mungkin Roy dalam perjalanan pulang.
Jempolnya membuka room chat Roy. Tidak ada tanda online. Terakhir dilihat pukul 20.30. Sesibuk apa sampai tidak ingat anak dan istri. Selena tidak habis pikir.
Matanya tertuju pada pesan Harris. Syukurlah tidak ada pesan baru. Sejujurnya dia tidak ingin membuat masalah dengan atasannya. Ia membutuhkan pekerjaan ini, sangat menikmatinya. Bahkan hingga tahun kelimanya.
Selena menertawakan dirinya, terlalu khawatir dengan pesan bosnya. Takut dengan bos yang dengan gampang melecehkan bawahan wanitanya. Sampai terbawa mimpi, tapi tubuhnya merespon terlalu jujur. Cumbuan itu terasa nyata, bahkan ia menginginkan lebih.
Dasar perempuan bodoh! Bisa-bisanya bermimpi sampai basah begitu!
Selena meringis, membanting ponsel ke sofa. Ia mulai khawatir dengan dirinya. Kenapa tubuhnya mengkhianatinya, memberi respon pada pria yang bukan suaminya. Apakah karena tabrakan sore tadi dengan Harris atau karena dia sangat merindukan sentuhan Roy?
Jaga harga diri, dong!
Dia wanita normal dengan umur yang terbilang muda, 29 tahun. Dengan deretan rutinitas harian sejak bangun pagi sampai kembali istirahat malam, ia tentu tidak menolak berduaan dengan suami dipenghujung malam. Sekadar berbincang seputar hidup rumah tangga atau mengeksplor aktivitas seks mereka.
Selena mengingat lagi kebiasaan Roy kalau sedang menginginkan dirinya. Makan malam sengaja ditunda dengan alasan akan lapar lagi setelah olahraga di kasur. Ekspresi wajah Roy yang dibuat selugu mungkin supaya Selena mengikuti maunya.
Tentu saja Roy mendominasi foreplay dan Selena selalu menyukainya. Ia tersanjung setiap Roy menciumnya penuh hasrat. Tidak ada sepatah katapun, keduanya saling memahami bahasa mata dan tubuh pasangan. Saling memberi dan memuaskan.
Itu dulu, sebelum Cheryl ada.
Pipinya basah oleh air mata. Kenangan bahagia itu membuatnya semakin rindu Roy.
Apakah kau tidak merindukanku, Roy?
Diambilnya lagi ponsel di sofa. Tidak ada salahnya terus menghubungi dan mencari tahu. Dia berhak atas keberadaan suaminya. Saat nada dering pertama masuk, Roy menerima panggilannya.
"Halo, sayang" panggil Selena khawatir.
"Iya, sayang. Ini aku sudah di depan gerbang" Roy membunyikan klakson mobilnya.
Selena gegas memutuskan sambungan telepon dan menyusul suaminya ke gerbang. Roy sudah membuka pagar dan kembali ke mobil. Terdengar bunyi mesin mobil memasuki carport, Roy keluar membawa tas kerjanya.
"Sudah makan malam?" Selena enggan bertanya kenapa pulang larut. Ia mencoba metode lain untuk membuat perbincangan lebih lama.
"Sudah, dong. Aku mana bisa tahan lapar!" Roy masuk ke rumah melewati Selena begitu saja. Langsung menuju kamar, "Aku mandi ya, lengket banget sebadan-badan"
Selena tidak menyahut. Pagar belum dikunci, istrinya dilalui, pintu rumah belum tertutup, sang suami berlalu dengan cepat ke kamar. Kekhawatiran yang sia-sia.
Ku bilang juga apa, jangan menunggunya pulang?!
Ia menyusul suaminya setelah urusan per-kunci-an aman. Bunyi gemericik air terdengar dari kamar mandi.
"Sayang, aku bikinin coklat panas ya. Biar nyenyak tidurnya" Tidak salah mencoba lagi kan? Yang salah terlalu dini menyerah.
Yang ditawari tidak menyahut. Bunyi air sudah berhenti. Roy keluar dengan rambut basah dan handuk melingkar di pinggangnya. Selena yang menunggu di bibir ranjang menikmati dada telanjang suaminya. Dan bagian lain.
"Mau coklat panas, gak? Aku bikinin, ya!" Ia berdiri menghampiri suaminya yang sedang memakai kaos oblong longgar. Dipeluknya tubuh kekar itu, punggung bidang itu sangat dirindukannya.
Roy memutar badannya menghindar, "Aku masih kenyang, sayang. Tidur, yuk. Besok pagi aku harus on-time, ada meeting dengan klien besar, semacam group gitu"
"Oh ya? Semoga sukses, ya. Meeting jam brapa, sayang?" Selena akhirnya mengikuti Roy berbaring di ranjang dan menarik selimut sampai ke dada.
"Amin, sayang" Roy mengusap pucuk kepala Selena, "Katanya jam 09.00, yang datang CEO-nya langsung pula!"
Selena bisa merasakan antusiasme Roy dengan meeting besok. Ia bangga dengan suaminya itu. Selalu bersemangat dan optimis untuk urusan kerja. Tidak salah ia mendapat promosi dalam kurun 3 tahun kerja.
"Tidur, ya!" Roy menumpuk bantal dan membuat dirinya senyaman mungkin dan memejamkan mata. Selena lagi-lagi merasa tidak punya kesempatan 'menjebak' Roy.
"Boleh minta peluk, gak?" entah bagaimana mimik wajahnya, terlihat minta dikasihani atau manja. Selena menunggu Roy membuka mata.
"Sayang ..."
Roy bergeming.
Selena kecewa, dadanya penuh sesak.
Jangan menangis di depannya!
Roy mendengkur halus, Selena tetap pada posisinya, tidur menyamping menghadap Roy. Ia berharap Roy terbangun dan memeluknya. Meski itu tak mungkin.
***
Bunyi alarm membangunkan Selena. Jam 04.30, harinya dimulai. Dipandanginya Roy yang sudah memunggunginya dengan selimut menumpuk di kakinya.
Beranjak dari ranjang dan menyelimuti tubuh Roy hingga ke pundak. Udara subuh yang sejuk terasa hingga ke kamar. Roy biasanya kedinginan dan Selena selalu mematikan AC supaya lebih hangat.
Biasanya ia memulai pagi dengan segelas air putih hangat. Tapi ia perlu menyikat gigi sekalian membawa pakaian kerja Roy semalam.
Turun ke dapur dan mulai mencari keranjang pakaian kotor Cheryl. Mencuci jadi urutan pertama sebelum ia mulai sibuk dengan isi kulkas dan menu makan Cheryl.
Memasukkan pakaian kotor satu persatu, memisahkan pakaian yang berwarna putih. Tangannya terhenti saat memegang celana dalam suaminya. Ada bercak putih di bagian belakang, masih lengket. Hidungnya kenal bau bercak itu.
Pikirannya tak menentu. Banyak tanya di kepalanya. Ia sendiri tidak yakin apa perlu menyampaikannya ke Roy. Tangannya melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Lekas dinyalakannya mesin cuci setelah memasukkan detergen.
Dilanjutkannya memasak dengan pikiran yang terus tertuju pada bercak pada celana dalam. Tak ayal ada rasa perih di hatinya. Kepercayaan yang dia bangun seolah runtuh. Susah payah menjaga pikiran dan tidak mencurigai.
Ia tahu Roy tidak akan berkata jujur jika ditanyai langsung. Apalagi ada jadwal meeting pagi, ah dia tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya. Bahkan ia perlu berpikir jernih dan tetap positif untuk Cheryl.
Bunyi mesin cuci berhenti. Selena memasukkan semua bekas peralatan masak ke wastafel. Setengah berjinjit menuju kamar Cheryl, membuka pintu perlahan.
"Cheryl ... sudah bangun?"
Bayinya sudah duduk di kasur memeluk boneka panda. Senyuman manis dari Cheryl membuat Selena lega. Bayinya tidur nyenyak dan sehat. Mendadak itu saja sudah membuatnya tenang, alih-alih berpikir keras tentang ulah Roy.
Selena lebih tenang jika menitipkan Cheryl dengan perut yang kenyang dan sudah wangi. Pun begitu dengan urusan rumah, ia bereskan pagi hari, setidaknya Kak Ipah tidak kerepotan membagi waktu mengurus pekerjaan rumah dan menemani Cheryl sepanjang hari.
Roy sudah di meja makan saat ia membawa Cheryl turun.
"Selamat pagi, papa!" Cheryl menarik hidungnya saat melihat Roy.
"Pagi, Cheryl ...." Roy membawa Cheryl ke pangkuannya. Menciumi rambut bayinya, "Belum mandi, ya? Wangi keringat, hhmmm"
"Papa juga belum mandi, ya? Tumben langsung sarapan?" Selena sibuk menyiapkan MPASI untuk Cheryl juga mengambilkan sarapan untuk Roy.
"Kecarian kamu, trus ada wangi enak, jadi aku langsung turun" Roy meletakkan Cheryl ke high chair.
Detik selanjutnya Roy menyantap sarapannya sambil sesekali mengutak-atik ponselnya.
"Oiya, tadi pas masukin pakaian kamu ke mesin cuci, aku lihat ada bercak putih di celana dalam kamu" Ternyata ia tak bisa menahan diri.
"Kamu yakin itu celana dalam Roy?" Delia meletakkan sepiring salad buah di meja.
"Yakin, Del! Emang ada laki-laki di rumah selain Roy?" balas Selena sedikit kesal.
"Kali aja tertukar dengan orang lain" lagi Delia menggoda Selena yang terlihat semakin cemberut.
"Ya ampun, Del! Kamu ada-ada aja! Jelas-jelas aku yang beliin pakaian dalam itu, Roy gak pernah ikutan belanja pakaian, tiap hari aku yang cuci, gak mungkin punya orang lain" Ia tahu Delia sedang menghiburnya dengan caranya.
Iya, Selena merasa perlu teman bertukar pikiran setelah jawaban tidak masuk akal dari Roy di meja makan pagi tadi. Dia ingat Roy bersikap tenang, sedikit cuek, meski nada bicaranya sedikit meninggi.
"Bercak putih? Yang mana?"
"Yang ada di daleman kamu, Roy. Di bagian belakang!" sahut Selena dengan cepat.
"Oh ... yang itu ... itu lendir ingus. Kemarin, waktu mandi aku bersih-bersih" terang Roy santai. Kelewat santai dengan ponsel di tangan kiri dan mulut yang masih penuh.
"Ingus gimana? Sebanyak itu? Baunya beda, Roy!" Selena mulai berang.
Cheryl kebingungan karena suapan mamanya terhenti jauh dari mulutnya.
"Banyak? Bau beda? Maksud kamu apa, sih, sayang?" Suara Roy melunak. Akhirnya matanya menatap lurus ke Selena.
Selena tahu caranya tidak akan membuahkan hasil. Bodohnya dia sudah mencuci celana itu, barang bukti hilang. Ujaran berikutnya tentu akan membuat ia tampak konyol di depan Roy.
"Segitunya kamu rindu dengan punyaku, sayang" Senyum jahil di wajah Roy mendadak membuat perut Selena mual.
"Jadi ... tadi masih berangkat bareng ke kantor, kan?" Delia menyadarkan Selena dari lamunan.
"Masih! Gak ada gunanya juga ngambek, gak bakal dibujuk, yang ada aku telat ngantor" Selena memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.
Setelah tiba di kantor, Selena langsung mengabari teman dekatnya, Delia Wibowo, kalau ia ingin mampir makan siang. Tadinya mereka teman sekantor. Delia memilih resign karena kehamilan pertamanya lemah, beberapa kali mengalami flek dan rembes ketuban.
Suaminya, Richard Permadi, memberi ide untuk membuka usaha pastry, mengingat Delia rajin membuat kue. Awalnya Delia pesimis, tapi karena sudah hobi akhirnya betah dan bertahan sampai sekarang.
Maka disinilah Selena sekarang, menghabiskan jam istirahat dan makan siangnya sambil mencurahkan kegundahannya tentang Roy.
"Tuh, salad buahnya dihabisin juga. Aku yang buatin, loh!" Delia terus mengamati wajah sahabatnya. Tepatnya menunggui Selena menghabiskan bekal makan siangnya.
"Masih kenyang, Del. Aku bawa ke kantor aja nanti, yah! Sekalian promosi ke teman-teman" senyum tulus Selena yang menjadi favorit Delia.
"Bilang aja kamu takut gendut!" ejekan yang selalu berhasil mencairkan suasana di tiap curhat galau mereka.
"Eh ... emang iya? Aku gendutan? Aku kucel, Del? Makanya Roy sampai sedingin itu?" Mendadak ia tak nyaman dengan dirinya.
"Apaan, sih? Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri, sayang!" hardik Delia gemas.
"Jadi ... apa yang harus aku lakukan, Del?"
Tubuhnya bertumpu pada kedua siku di meja. Kepalanya menunduk dalam. Ia takut pada pikirannya sendiri. Bagaimanapun pernikahannya masih banyak, setidaknya untuknya.
"Saranku, jangan menunjukkan sikap curiga yang membuat Roy semakin tak nyaman, tapi mulai lah waspada" Delia sendiri tidak yakin dengan ini, "Lupain kejadian tadi pagi, tapi mulai buka mata lebar-lebar, lihat apa kebiasaan Roy yang baru"
Terdengar menakutkan dan membingungkan bagi Selena. Bukankah itu yang selama ini dia lakukan? Berpikir bahwa semua dalam kendali, bersikap seolah tidak ada masalah, dan sebisa mungkin menghindari pertengkaran.
"Aku perlu cari tahu ke kantornya, gak, Del?"
"Hah? Buat apa? Jangan mempermalukan dirimu sendiri, sayang!" Delia beranjak dari kursi mengambil kemasan salad. Mata Selena mengikuti kemana Delia bergerak.
"Selena, percayalah, jika cinta kalian kuat, maka akan selalu ada jalan untuk kembali"
"Kalau ternyata cinta itu tak lagi untukku?" suaranya terdengar parau.
"Lepaskan. Jangan terpaksa tinggal hanya untuk saling menyakiti"
***
"Bu Lena, salad buahnya enak! Beli dimana?" Rani, rekan kerjanya menghampiri kubikelnya.
Delia sengaja menambah salad buah beberapa kemasan lagi dan menolak untuk dibayar.
"Aku tahu gimana pusingnya berhadapan dengan tumpukan lembar invoice dan berjam-jam di depan monitor. Mengunyah mencegah kejang otak, betul gak?"
Keduanya tertawa lepas saat ingat kesibukan di kantor.
"Itu dari Delia, tadi aku main ke tokonya sebentar" jawab Selena menghentikan sejenak pekerjaannya. Ia selalu berusaha menatap lawan bicaranya meski sedang berbincang hal sederhana.
"Oiya? Apa kabar Bu Delia?" Rani antusias mendengar nama Delia. Beberapa rekan kerja yang lain ikut menimpali dari kubikel masing-masing. Delia yang ramah, cerewet dan selalu ingin hasil kerja yang maksimal.
Obrolan mereka berhenti saat pintu masuk utama terbuka, Harris memasuki ruangan. Pandangan bertubrukan mata dengan Selena.
"Selena ...." panggil Harris begitu menghempaskan bokongnya ke kursi kerjanya.
"Saya, pak" Sebentar saja yang dipanggil sudah berdiri di pintu masuk ruangan khusus manager.
"Ini apa?" jari panjangnya menunjuk kotak salad di mejanya.
"Oh, salad buah, pak. Saya yang taruh disitu. Dicoba ya, pak!" Selena menghampiri meja Harris. Masih dengan posisi berdiri menjelaskan salad buah pemberiannya.
Selena menutupi rasa canggung karena tubrukan kemarin. Ia harus tetap bekerja dengan profesional, toh dia tidak dirugikan malah bermimpi aneh. Aneh?
"Ada sendok yang bisa saya pakai?" Harris masih belum mengalihkan pandangannya dari wajah lawan bicaranya.
"Sebentar, pak"
Berjalan perlahan kembali ke kubikelnya dan mengambil sendok di laci meja.
"Ini, pak"
Sendok diletakkan persis di atas kotak salad. Harris sudah fokus dengan laptopnya.
***
Seisi ruangan berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Sesekali terdengar obrolan tentang update pembayaran pelanggan yang mereka handle. Saling berbagi informasi tentang kebiasaan sistem pembayaran si pelanggan.
Apalagi kalau sudah menjelang berakhirnya jam kerja, Selena fokus menarik laporan kerja timnya dari sistem database untuk dibuatkan update daily report. Itu salah satu tugasnya sebagai supervisor collection di perusahaan ini.
Umur kerjanya sudah terbilang lama, lima tahun. Namun untuk posisi supervisor baru dijalaninya dua tahun terakhir. Ia menikmati tugasnya yang bertambah dan berusaha meningkatkan performa kerja.
Awalnya Roy tidak setuju dengan promosi jabatan Selena. Khawatir Cheryl tidak terurus, alasan klise. Meski sempat terjadi pertengkaran kecil, Roy mengijinkan Selena menerima promosi itu.
Cheryl seolah mengerti isi hati mamanya. Ia bertumbuh dengan sehat dan jarang sakit. Jam tidurnya teratur, melahap habis setiap makanan yang sudah disediakan, dan aktif. Pertumbuhan yang sesuai dengan usianya membuat Selena semakin semangat bekerja.
Sejujurnya ia tidak menargetkan apapun dalam dunia kerjanya. Tidak pula berambisi mengejar jabatan. Memiliki kesibukan di rumah dan di kantor sama saja baginya. Yang terpenting ia bisa menjadi berguna di setiap perannya.
Pun begitu dengan besaran kompensasi dan benefit yang ia dapat. Sejauh lima tahun, ia dihargai sesuai performa kerja. Perusahan tempat ia bekerja sangat fair akan hal itu.
Rekan kerja dan atasannya menjadi support system yang solid. Terutama sejak Harris menjadi managernya, banyak kebijakan yang dibuat untuk mempermudah teknis kerja timnya. Meski jarang terlibat obrolan yang bersifat personal, semua bawahan Harris, termasuk dirinya nyaman dengan pekerjaan masing-masing.
"Kalian gak bosan pulang malam melulu?" tanya Harris saat meeting mingguan mereka, "Saya heran kerjaan kalian itu apa saja sampai harus pulang malam"
Selanjutnya setiap orang dimintai daftar tugas dan daftar nama pelanggan yang di-handle. Membuat timetable harian dan mingguan selama 3 bulan kehadiran Harris.
Akhirnya mereka menemukan teknis kerja yang lebih efektif dengan dibantu kebijakan oleh Harris. Target pekerjaan tercapai dan berusaha tidak pulang lewat malam. Sangat melegakan untuk ibu anak satu seperti Selena.
Kesibukannya terhenti sejenak saat layar ponselnya berkedip. Terlihat sebuah pesan masuk dan pukul 17.00 di layar. Mungkin Roy yang memberi kabar, pikir Selena.
[Dijemput seperti biasa kan, sayang? Mau makan malam diluar?]
Spontan bibirnya membentuk selarik senyum.
[Iya. Kabari kalau sudah sampai di lobby, ya! Makan malam bawa Cheryl, boleh?]
Seperti biasa, tak lupa menambahkan emoticon kiss diakhir pesan. Roy masih online dan terlihat mengetik.
[Oke, sayang]
Selena hampir memekik senang jika saja tak menyadari Harris yang bersiap pulang. Kali ini jangan ada drama ketinggalan lagi Selena!
Semoga makan malam kali ini menjadi awal yang baik untuk memperbaiki komunikasi mereka yang memburuk akhir-akhir ini. Benar kata Delia, ia harus melupakan tentang bercak putih di celana dalam Roy, tapi juga harus mulai waspada dengan kebiasaan baru suaminya.
Mungkin saja ajakan makan malam kali ini hanya pengalihan. Apapun itu, Selena harus menyiapkan diri.
Satu persatu rekan kerjanya pamit setelah Harris berlalu.
"Bu, dijemput? Saya duluan, ya!" Rani menjenguk kubikel kerja Selena.
"Oh ya ... hati-hati di jalan, sampai ketemu besok!" sahut Selena sambil merapikan meja kerjanya.
Roy sudah menunggu, Selena bergegas turun ke lobby. Sampai lupa touch up, disempatkannya mampir ke toilet lobby memulas lipstik dan merapikan rambut ikal sepunggungnya.
Lagi-lagi karena ingin segera bertemu Roy, langkah panjangnya yang terburu-buru membuatnya menubruk punggung seseorang yang baru keluar dari toilet pria.
"Aduh! Maaf ...." tubuhnya mengambil jarak dengan pria di hadapannya. Matanya membola saat melihat Harris lah pemilik punggung itu.
"Kamu buru-buru?" Harris yang tampak baik-baik saja mundur selangkah memberi ruang untuk Selena.
"Iya, pak. Maaf, ya" Selena segera berlalu dengan sedikit membungkuk di depan Harris. Ia merasa bodoh, terlalu tergesa-gesa, akhirnya berakhir konyol. Kenapa Pak Harris lagi, sih? Mati gue!
Roy menyambutnya dengan senyuman, sedikit belaian saat menyelipkan rambut halus Selena ke belakang telinga.
"Sudah reservasi tempat makannya, sayang? Minta disediain high chair untuk Cheryl, ya!" tanya Selena dengan semangat. Ia terlihat sangat antusias.
"Belum, sayang. Setelah ku pikir-pikir lagi, waktunya terlalu malam untuk bawa Cheryl keluar rumah. Gimana kalau Sabtu aja. Kan ngantor setengah hari, kita bisa bawa Cheryl main dulu. Gak lama lagi, kog! Dua hari lagi sudah Sabtu!" bujuk Roy santai.
Selena termangu, hatinya seperti dicubit. Perih. Ekspresinya spontan kembali ke mode awal. Datar. Lebih baik diam saja ketimbang semakin disakiti.
Mereka tiba di rumah tepat waktu. Cheryl dan Kak Ipah sudah menunggu di teras sambil bermain. Selena memilih duduk di teras, berbincang sebentar dengan Kak Ipah sebelum berpamitan pulang.
Memasuki rumah, tidak terlihat keberadaan Roy di ruang keluarga. Selena berusaha tidak peduli. Menyibukkan diri di dapur sambil sesekali bercanda dengan Cheryl. Mungkin masih ada kesempatan saat makan malam, harap Selena.
Cheryl menggosok-gosok matanya, mulai rewel karena mengantuk.
"Cheryl mama antar ke kamar, ya!"
Baru saja sampai di lantai 2, Roy muncul dari kamar. Berpakaian kasual dan sudah wangi. Ia kaget menyadari kehadiran Selena.
"Cheryl, papa ijin keluar sebentar, ya!" Roy mengambil Cheryl dari gendongan Selena, membawanya ke kamar.
Selena mematung, membiarkan Roy berdua dengan Cheryl, hatinya serasa hangat. Ini yang selalu ia tunggu, momen quality time Roy dengan bayi mereka.
"Mama, buku dogengnya yang mana?" panggil Roy setengah berteriak.
Meski mengantuk, Cheryl masih sanggup menepuk kedua tangannya melihat Selena membuka buku.
"Sayang, dogengnya dibacain sama mama, ya! Papa belum mahir" Roy menarik tubuh Selena duduk di ranjang dekat Cheryl.
Selena mendongak ke Roy, dahinya mengerut.
"Kamu mau kemana? Makan dulu, aku sudah siapin makan malam"
"Ini juga janji makan malam dengan calon klien yang meeting tadi pagi, sayang. Aku berangkat, ya!" Roy mengusap pucuk kepala Selena dan menjauh ke pintu.
"Roy, tunggu!" Selena tidak tahan lagi.
"Nanti, ya, ngobrolnya. Aku janji pulang cepat" suara Roy mengecil dari balik pintu.
Tangisan Cheryl menghentikan langkah Selena di tangga. Ah, dia lupa Cheryl belum tidur nyenyak. Cepat ia kembali ke kamar Cheryl. Usapan halus di punggung menjadi andalan Selena agar bayinya kembali tidur.
Saat Cheryl sudah tenang, samar terdengar dering ponsel dari kamar mereka. Bergerak perlahan dari ranjang, Selena mencari asal bunyi itu.
Dering ponsel milik Roy, seingatnya diatur untuk panggilan memalui aplikasi WA. Matanya menemukan ponsel terletak diatas tumpukan baju kerja Roy.
Panggilan berakhir sebelum Selena sempat menjawab. Sekilas terlihat pop up pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan di kontak.
[Sayang, jangan terlambat!]