BAB.1 PETAKA
Masih terpatri dalam tempurung otakku bagaimana tubuh itu limbung dan tangan kananku terasa lembab oleh darah yang merembes dari baju suamiku. Perut itu menjadi sasaran amarah perempuan yang telah lama terbungkus kedengkian pada diriku. Sebuah pisau tertancap di perut sebelah kanan suamiku.
Entah alasan apa yang pantas menurutnya dijadikan ganjaran bagiku untuk menerima kebencian darinya. Orang yang telah lama ku panggil dengan sebutan teman nyatanya menikamku dari belakang. Aku yang hidup dengan seorang ayah yang gila judi hingga menelantarkanku dan ibu. Hidup dalam kemiskinan yang membuat kami bergonta-ganti kontrakan karena tak mampu membayar uang sewa.
Setelahnya, rasa bersalah itu memenjarakan ku. Gagah bertahan dalam palung jiwaku. Hingga bertahun-tahun setelah kepergian suamiku, aku masih menitikan air mata untuknya. Kata seandainya berkobar-kobar di pikiranku tak berjeda. Seandainya aku saja yang tertusuk pisau itu maka aku tak harus menanggung rasa sedih dan bersalah seumur hidup.
Hanya seratus lima puluh dua hari waktu yang Tuhan berikan untuk kami meneguk manis cinta dalam mahligai pernikahan. Setelahnya dia pergi untuk selamanya.
Tujuh tahun yang lalu
Senja itu dalam guyuran air hujan, aku tengah berdiri di tepi jembatan yang airnya mengalir deras di bawahnya. Tangis berbaur dengan butiran air hujan yang menerpa wajahku. Tanganku merentang, mataku menutup dalam derai air mata. Kedua kakiku berdiri diatas besi pembatas jembatan yang telah ku naiki hingga deret ke dua. Besi itu hanya setinggi pusarku kini. Aku siap menjatuhkan diri. Inilah jalan terbaik bagiku. Jika dunia tak lagi ramah dan hanya menghadirkan banyak luka, lalu, apa gunanya aku terus bertahan hidup.
Kematian akan mengakhiri penderitaanku. Ibu tak perlu menanggung rasa malu akan aib putrinya. Dan Ayah yang semestinya jadi pelindungku kini justru mendekam dalam jeruji besi oleh barang terkutuk itu.
Mobil, motor, rumah raib oleh hobinya main judi. Kami harus tinggal di sebuah kontrakan sempit setelah terusir dari rumah. Ibu sakit-sakitan setelahnya. Hingga aku yang baru lulus kuliah harus segera mencari kerja untuk melanjutkan hidup. Selama ini ibu yang menjadi tukang punggung keluarga. Ayah sudah dibutakan oleh judi hingga lupa akan tanggung jawabnya kepada kami.
Di suatu petang, beberapa polisi bertamu dan menunjukkan surat perintah penangkapan ayah. Kami sekeluarga terhenyak dan kebingungan menghadapi keadaan yang tak terduga. Teman yang ia kenal baik selama ini melapor pada polisi tentang kasus penipuan. Dengan iming-iming keuntungan yang memukau ayah mampu menjerat korbannya dengan berinvestasi pada bisnis yang ia tawarkan ke pada para korban. Setelahnya ayah justru membawa kabur uang tersebut dan menghabiskannya di meja judi.
Pandangan ayah terjatuh saat sebuah borgol mengikat tangannya. Lelaki itu pasrah digiring ke kantor polisi.
Hakim memutuskan kurungan penjara lima belas tahun, setelah bukti-bukti dan saksi dihadirkan dalam beberapa kali persidangan. Sejak saat itu ibu mulai sering sakit hingga harus mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Bermodalkan ijazah sarjana ekonomi, aku mulai mencari pekerjaan. Seorang teman menawariku untuk bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Aku yang membutuhkan uang untuk pengobatan ibu tak berpikir panjang dan langsung menyetujuinya. Perusahaan tersebut menerimaku bekerja sebagai agen asuransi.
"Hari ini kau ada janji dengan klien? " ujar Sisil padaku di dalam lift saat kami menuju ke lantai 5 tempat kami bekerja.
"Hm, dan aku merasa gugup." Tangan ku masih meraba dada yang ritmenya tak beraturan.
"Siapa klienmu?" tanya Sisil dengan sorot mata yang tak terbaca.
"Tuan Dany."
"Tuan Dany___ dari perusahaan Big Komunikasi?" Sisil bertanya dengan tatapan yang berubah tajam.
"Benar. Kau mengenalnya? " Sisil hanya diam dengan tatapan yang masih sama.
"Tidak. Hanya saja, siapapun kliennya kau harus jaga diri."
"Jaga diri? Maksudmu? "
"Kau cantik, jadi kau__" Pintu lift membuka dan ia tak melanjutkan ucapannya karena kami sama-sama keluar dari sana. Panggilan seseorang membuat Sisil meninggalkanku segera, sepertinya ada urusan yang penting.
***
Setelah berkas polis selesai ku siapkan, aku bergegas menuju ke sebuah hotel untuk menemui Tuan Dany sesuai perjanjian kami sebelumnya. Di sebuah restoran hotel aku bertemu dengannya. Laki-laki asing bermata perak dengan penampilan bossi telah duduk dihadapanku. Ia mampu berbicara bahasa Indonesia meski tak fasih. Aku sempat melihat mobil Alphard yang mengantarnya.
Berkas polis telah aku siapkan diatas meja dan aku siap mempresentasikannya. Namun, justru dia meminta padaku untuk memesan makanan.
"Kita makan dulu Nona, setelahnya kau bisa menjelaskannya kepadaku." Ia menatapku dengan teliti. Entah apa yang ada di pikirannya.
"Baik Tuan." Aku hanya mengiyakan. Sejauh ini tak sedikitpun menaruh curiga.
Setelah hidangan kami habis, Tuan Dany membimbingku untuk mengikutinya. Kami tiba di depan sebuah pintu kamar hotel, aku mengedarkan pandangan dan merasa ada hal yang ganjal.
"Ayo masuk !" Mataku membulat mendengar ajakan Tuan Dany.
"Maaf Tuan, tapi kenapa saya harus masuk?"
"Bukankah kau ingin menjelaskan tentang produk asuransimu? Akan lebih nyaman jika kita bicara di dalam."
"Tapi __"
"Ayo !" Dalam sekejap aku sudah berada di dalam kamar karena tarikan tangan Tuan Dany. Setelahnya laki-laki berwajah asing dengan sepasang kaki yang jenjang mengunci pintunya. Pikiran tidak enak mulai menguasaiku.
"Bukankah kau ingin aku menandatangani surat polis asuransi itu? Tentu semua tak gratis begitu saja Nona. Ayo kita bersenang-senang dulu."
Laki-laki itu mulai mendekat dan hendak meraih tubuhku. Namun dengan gesit aku mampu menghindarinya. Aku berlari ke pintu dan mencoba membukanya namun gagal. Tuan Dany semakin memangkas jarak denganku. Aku terus mundur untuk menghindar.Naas, tubuhku menabrak tepian tempat tidur dan aku terkunci oleh tubuh lekaki yang kini berdiri di hadapanku.
Matanya melihatku dengan liar seakan ingin menelanjangiku.
"Kumohon Tuan biarkan aku pergi" Aku menangkupkan tangan di depan dada, mengemis belas kasihan.
" Kau tak perlu setakut itu, aku akan membuatmu senang."
"Tidak. Kumohon lepaskan, lepaskan aku!" Aku mulai berteriak.
Berkas-berkas polis asuransi dan tas bercecer dilantai oleh tarikan kasar pria asing itu. Aku didorong kasar hingga tubuhku jatuh ke kasur berukuran besar. Setelahnya aku dimangsa dengan brutal oleh lelaki bej*at itu. Teriakan dan tangisku tak dihiraukannya.
***
Beberapa kancing bajuku lepas dan kain di lenganku sobek. Ada rasa sakit yang sangat di pangkal pahaku. Aku duduk terkulai di lantai meratapi semua yang terjadi. Setelah cukup lama menangis dengan tangan yang gemetar aku memunguti uang yang tadi dilempar padaku sebelum akhirnya lelaki bej*t itu mencampakkanku seperti sampah di kamar hotel yang berantakan. Aku jijik pada uang yang kini berpindah ke tanganku. Namun, aku membutuhkannya untuk ongkos pulang.
Duniaku runtuh saat itu juga. Aku menyusuri jalan tanpa arah dengan langkah gontai. Gigil yang mendera tubuh oleh air hujan tak lagi kurasa karena kecewa yang mendalam. Hingga langkahku berhenti pada jembatan yang menderukan suara air dibawahnya. Air berwarna coklat yang mengalir deras lebih menarik bagiku untuk menghadirkan solusi.
" Tunggu !" Teriakan seorang lelaki menunda niatanku. Dia berjalan pelan mendekatiku. Aku masih terisak.
"Jangan lakukan ! Dengar, aku tidak tahu masalahmu, tapi kita bicara.Mungkin aku bisa membantumu." tawar seorang lelaki yang tak ku kenal.
" Tidak. Aku lelah. Tuhan begitu tak adil padaku." Suaraku nyaris tak terdengar karena teredam isak.
"Lihat! Lihatlah itu! Bukankah cukup deras. Ia akan menyeretmu dan akan menenggelamkanmu. Bahkan setelahnya kau bisa saja tidak langsung mati tapi justru merasakan sakit di sekujur tubuhmu. Atau kepalamu bisa saja terbentur batu. Bukankah itu sangat mengerikan?"
Aku mulai mencerna ucapannya.' Benar, bagaimana jika aku tak langsung mati dan justru terluka parah?' Nyaliku mulai menciut. Kedua tanganku mencengkram kuat besi jembatan.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk membantuku menjauh dari pagar besi jembatan. Dan aku masih bergeming tak menyambutnya.
Dia terus meyakinkanku untuk meraih tangannya dan membatalkan niatku untuk bunuh diri. Saat aku mulai lengah, buru ia menarik tubuhku hingga aku terjatuh. Kondisiku lebih aman karena aku tersungkur di tepi jembatan tak lagi naik di besi pinggir jembatan. Tangisku pecah. Laki-laki itu membisu tanpa memindahkan pandangan dari ku.
Sesaat kemudian sebuah jaket melingkar di tubuhku. Ia berusaha menutup dadaku yang terbuka karena kancing yang lepas, serta baju di lenganku yang sobek. Sepertinya ia paham peristiwa apa yang menimpaku.
"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang ?" Aku menggeleng dengan cepat tanpa berani bersitatap dengannya. Keheningan tercipta beberapa saat lamanya.
"Ikutlah dengan ku. Kau aman bersamaku." Aku beranikan diri untuk menatapnya. Baju koko yang melekat padanya membuatku percaya jika dia laki-laki yang baik.
Dengan motor matic, dia membawaku pergi. Aku pasrah karena pikiran kalut tengah menguasaiku.
Kami berhenti di sebuah rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar. Rumput hijau nampak menutupi halaman rumah. Beberapa bunga bougenvil berwarna merah muda dan putih serta bunga mawar meramaikan halaman rumah yang tidak terlalu luas itu. Aku masih bergeming di tempatku saat laki laki itu mengajakku masuk ke dalam rumah.
Dia meninggalkanku di luar. Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya datang menghampiriku.
"Ayo masuklah Nak ! Jangan takut." Wanita dihadapanku mengulum senyum tulus padaku.
Ia memegang lenganku dan membimbingku masuk ke dalam rumah. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling hingga tanpa sadar mataku berhenti pada sesosok laki-laki yang berdiri di dekat jendela. Dia menatapku dengan pandangan tak terbaca. Berlalu pergi dan menghilang dibalik pintu kamar mandi. Ujung bajunya meneteskan sisa-sisa air hujan hingga membasahi lantai tempatnya berdiri. Hal yang sama terjadi padaku.
"Minumlah Nak. Teh hangat ini akan mengurangi dingin di tubuhmu." Wanita yang meminjamiku baju tengah duduk di tepi tempat tidur dengan menyodorkan secangkir teh yang masih mengepulkan asapnya. Aku tetap abai, tak menyentuh piring yang berisi nasi dan lauk, ataupun teh yang disajikan untukku. Aku terus duduk meringkuk di atas kasur dengan airmata yang masih setia menetes.
"Setidaknya hubungilah keluargamu agar tak khawatir. Besok, Putraku akan mengantarmu pulang. Istirahatlah!"
Wanita itu hendak melangkah keluar kamar namun kutahan dengan sebuah pertanyaan.
"Bu, bolehkah aku meminjam hp?" Aku memberanikan diri bicara.
Benar, aku harus mengabari ibuku. Beliau pasti mengkhawatirkanku yang belum pulang hingga malam. Sedangkan Hpku mati, mungkin karena batrerainya habis atau karena kehujanan. Aku tak tahu pasti.
Wanita itu mengulurkan Hp padaku dengan tersenyum. Buru ku tulis nomer Hp ibuku yang sudah ku hafal diluar kepala. Aku berpikir sejenak, akan lebih baik jika aku mengirimkan pesan saja. Jika aku telepon yang ada adalah tangisku yang tak terbendung akan didengar ibu. Wanita yang melahirkan ku itu akan khawatir dan sedih, lalu kesehatannya akan memburuk.
Bu, malam ini aku tidak bisa pulang karena menginap di rumah Sisil. Ada tugas kantor yang harus aku selesaikan bersamanya.
Ibu jangan khawatir, besok aku pulang.
Aku mengembalikan Hp itu kepada pemiliknya.
"Istirahatlah Nak, jangan lupa makan ya!"
Wanita itu mengusap lembut pungguku dengan tersenyum. Senyum yang menghadirkan perasaan hangat seperti senyum ibuku. Aku kembali tertunduk dengan tangis yang masih meleleh. Aku mengangkat wajah untuk menatap kembali wanita baik itu, namun aku juga menemukan laki-laki yang tadi menolongku tengah berdiri di balik pintu menatapku. Ia telah berganti pakaian dengan kaos putih dan sarung. Sesaat kemudian pintu kamar tertutup sempurna, aku kembali sendirian di sebuah kamar yang asing. Membaringkan tubuh diatas kasur, menikmati tangis yang tak mau berhenti.
Suara adzan subuh membangunkanku. Mataku terasa tak nyaman saat ku buka. Mungkin bengkak karena terlalu lama menangis. Saat kesadaranku pulih, aku ingat dimana aku sekarang.
Piring beserta isinya masih utuh, hanya teh di gelas yang kini tinggal setengahnya. Mataku kembali basah mengingat peristiwa yang menimpaku kemarin. Setelah ini, aku harus bagaimana? Masa depanku hancur. Ibuku, bagaimana aku harus bercerita padanya? Beliau menaruh harapan besar padaku, tapi kini, tak ada yang tersisa. Tak akan ada laki-laki yang mau menikahiku, dan___ jika aku sampai hamil maka aku akan mempermalukan ibuku. Kami akan dihina kembali. Sebelumnya kami jadi olonakan orang karena kelakuan ayah. Aku akan memiliki anak di luar nikah, lalu bagaimana aku harus merawatnya?
Kepalaku kembali berdenyut dan berat. Dada yang sesak belum berkurang sejak kemarin. Mataku tetap basah, meski aku lelah menangis. Aku memeluk lutut dan menenggelamkan wajahku disana. Bayangan masa depan begitu menakutkan bagiku. Aku ingin menyalahkan Tuhan yang telah menghadirkanku ke dunia ini. Untuk apa manusia dilahirkan dan di biarkan hidup jika hanya untuk menderita?
Terdengar decitan pintu, dan wanita baik itu duduk di sampingku. Aku masih enggan untuk merubah posisiku.
"Apa yang terjadi padamu Nak? Kau bisa bercerita padaku." Wanita baik itu mencoba mengajakku bicara.
Aku masih tetap abai. Keheningan tercipta diantara kami. Setelah cukup lama aku hanya membisu, dia melangkah pergi. Ketika tubuhnya hendak meninggalkan pintu aku memanggilnya.
"Aku ingin pulang ! " Ujarku lirih .
"Baiklah, tapi kau harus sarapan dulu! Setelahnya putraku akan mengantarmu."
Beberapa saat kemudian wanita baik itu masuk dengan membawa sepiring nasi dan lauknya serta segelas air putih.
"Makanlah dulu Nak! " Wanita itu duduk di tepi tempat tidur.
"Dulu, ada perempuan yang bernasib sama denganmu. Dia, kehilangan makhkotanya karena seseorang merenggut paksa." Kudengar suaranya berat .
"Dia putus asa dan takut memikirkan segala hal. Butuh waktu yang tak sebentar untuk sembuh dari luka batin trauma itu. Namun, perempuan itu mencoba menghadapi luka yang menderanya tak menghindarinya. Hingga pada waktunya luka itu sembuh dengan sendirinya." Dia bercerita dengan mata berembun.
"Coba memberi waktu bagi diri sendiri untuk menerima dan sembuh. "
Aku terpaku pada sorot mata wanita dihadapanku. Begitu teduh, hingga tanpa sadar aku terisak dalam pelukannya. Air mataku membasahi jilbabnya. Tanpa diperintah mulutku berkisah akan kejadian menyakitkan kemarin. Berkali-kali wanita itu mengusap punggung tanganku. Dia menatapku iba dibalik senyum yang ia berikan padaku.
Dengan sebuah taksi aku kembali ke rumah. Laki-laki yang menolongku ikut mengantar. Dia duduk di sebelah sopir dan aku di belakang. Sepanjang perjalanan kami hanya saling diam. Taksi berhenti di depan gang kecil sesuai alamat yang kuberikan, aku menapakkan kaki keluar dari taksi.
Kakiku terasa berat untuk mengayun. Memikirkan apa yang harus kujawab jika ibu bertanya tentang diriku. Tapi ibu adalah tempat pulang bagiku. Aku harus kuat dan menyimpannya seorang diri sampai waktu yang tepat untuk bercerita. Atau bila mugkin aku akan memendamnya seorang diri selamanya.
Aku menatap laki-laki yang mengantarku, tengah berdiri disamping taksi. Ingin mengucapkan terima kasih padanya. Namun kata-kata itu berhenti di tenggorokan saja. Ku ayunkan langkah meski kakiku terasa dibebani batu besar di sana.
Aku masih mengingat kata-kata wanita baik itu, wanita yang kuketahui bernama Diana setelah dia menyebutkannnya. Dialah perempuan yang diceritakannya padaku. Perempuan yang senasib denganku. Kehilangan makhkotanya oleh laki-laki biadap.
Setelahnya aku lebih sering mengurung diri di dalam kamar serta sedikit bicara. Menghabiskan waktu dengan melamun dan tiba-tiba menangis.
"Kita periksa ke dokter Hania jika memang belum sehat." Aku hanya bergeming. Rasanya aku ingin bercerita kepada ibu tentang petaka yang menimpaku serta tak lagi bekerja di perusahaan asuransi itu. Aku tak sudi kembali kesana.
"Hania." Ibu kembali memanggilku.
"Aku akan mencari pekerjaan lain Bu." Jawabku dengan hati-hati. Aku beranikan diri menatap ibu untuk melihat reaksinya. Ibu membalas tatapanku dalam diam. Seolah menungguku bercerita lebih banyak lagi.
"Aku tak nyaman bekerja di sana? " Dari tatapan ibu, tersirat rasa yang tak puas akan jawabanku. Aku menunduk dan membisu.
"Baiklah jika begitu. Hania, kau bisa bercerita apapun pada ibu." Aku mengerjapkan mata berulang untuk menahan tangis yang sudah terkumpul di sudut mata. Menghambur pada pelukan ibu. Punggungku diusap lembut. Tempat ternyaman bagiku adalah pelukan ibu, aroma tubuhnya yang terekam diotakku layaknya stimulus bagiku untuk segera menumpahkan segala rasa di sana. Pada akhirnya tangisku pecah. Ibu membiarkanku menangis dalam peluknya.
Aku memeriksa Hp yang beberapa hari ini ku abaikan. Puluhan pesan dan panggilan masuk coba ku baca. Dadaku kembali nyeri, tangis tak bisa lagi dibendung. Aku seolah gelap mata, menganggap semua orang di perusahaan asuransi itu jahat. Aku berpikir bahwa ada konspirasi dibalik musibah yang ku alami.
Jika aku melapor bahwa aku mengalami pelecehan seksual, siapa yang akan percaya? Uang memang lebih berkuasa dari keadilan. Selain nama baikku tercemar, aku bisa saja dituntut balik atas pencemaran nama baik. Tapi bagaimana jika hal ini terulang pada perempuan lain? Sedang laki-laki biadap itu bebas berkeliaran dan mencari mangsa baru. Pikiranku gundah.
***
Aku mulai berburu pekerjaan, beberapa perusahaan besar ku datangi . Bertanya pada resepsionis, adakah lowongan kerja. Namun saat matahari tinggi dan udara panas berhembus, usahaku masih saja nihil. Sejak pagi hingga sekarang sudah empat perusahaan yang ku datangi. Perutku terasa perih, sarapanku tadi sudah ku pakai untuk berjalan kaki.
Saat aku berteduh di bawah pohon ketapang yang berada di area parkir perusahaan yang ku sambangi, aku melihat laki-laki yang melecehkanku tengah berjalan dengan melingkarkan tangannya pada pinggang seorang wanita. Bahkan, di tempat seterbuka ini mereka saling menautkan bibir. Aku begitu jijik melihatnya.
Siapa wanita asing berambut pirang itu? Jika dia istrinya, apakah dia tahu kelakuan suaminya di belakang? Atau dia korban berikutnya? Yang akan di hisap madunya dan dicampakkan setelahnya.
Darahku mendidih, seluruh amarahku terkumpul dalam kepalan jari-jari tanganku. Aku ingin mengambil batu yang berada di sebelahku dan memukulkan ke kepalanya. Balasan yang tak seimbang dengan kebiadapannya. Saat batu di lantai itu telah berpindah ke tanganku, laki-laki itu telah memasukkan tubuhnya ke dalam mobil Alphard putih yang dulu mengantarnya menemuiku di hotel. Mobil itu melaju meninggalkan parkiran.
Lututku lemas, aku duduk tak berdaya di bawah pohon ketapang yang sama. Menyesali kebodohanku di hari naas itu. Andai aku lebih waspada dan tak begitu saja mengikuti ajakannya, tentu petaka itu tak perlu terjadi. Begitu lugunya aku tak menaruh curiga saat dia memintaku mengikutinya dan berakhir di sebuah kamar hotel.
Aku linglung. Semangatku menenguap, keroncong perut kuabaikan begitu saja. Sebuah botol air mineral terjulur padaku. Aku mendongak pada sesosok yang kini berdiri dihadapanku. Buru mengeringkan lelehan tangis di pipiku. Dia duduk di sebelahku dengan berjarak. Mengulang tawaran air mineral itu padaku. Pada akhirnya aku mengambilnya. Meneguk hingga setengah, perasaanku lebih ringan setelahnya.
" Mau temani aku makan?" Ajaknya tanpa basa-basi. Kami bersilang pandang. Kemudian ia membuang muka lebih dulu. Aku masih kerasan menatapnya.
" Jangan lama-lama lihatnya, nanti suka." Aku salah tingkah setelahnya. Aku sendiri tak paham, mengapa perasaan sedih yang tadi mencengkram erat seakan tiba-tiba terlepaskan. Dua lesung pipi itu membuatku terpesona sejak pertemuan pertama saat dia menolongku, menggagalkan rencana bunuh diriku.
Dia beranjak dari duduknya, menghampiri pedagang gado-gado di seberang jalan. Tanpa di komando, aku justru begitu patuh mengikutinya. Tetiba perutku keroncongan. Laki-laki yang duduk dihadapanku menatap dengan kening berkerut. Aku kembali malu dihadapannya. Yang bisa kulakukan hanyalah membuang muka sambil menggosok hidung yang tak gatal. Saat aku melirik padanya, ia tengah melengkungkan senyum tipis. Lesung pipi itu kembali tercetak.
***
Aku masih setia untuk mencari pekerjaan. Saat ini aku berada di sebuah cafe. Aku memasukinya karena aku istirahat sebentar dengan menikmati secangkir capucino late kesukaanku, memilih meja yang berada di tepi agar aku bisa menikmati pemandangan luar cafe di balik kaca. Memperhatikan orang hilir mudik yang melintas di trotoar. Sejak dulu aku lebih suka menyendiri di cafe sambil memikirkan banyak hal. Seperti saat ini, aku akan merancang beberapa rencana untuk beberapa waktu ke depan. Salah satunya adalah scroll di medsos untuk mencari lowongan pekerjaan yang bisa ku masuki.
Sebuah lonceng yang tergantung pada pintu cafe berdering saat seseorang memasuki cafe. Aku tersenyum, melihat seorang wanita seumuran dengan ku yang baru saja masuk. Aku nyaris berdiri dan ingin melambaikan tangan padanya agar bergabung denganku .Namun niatku urung karena dia menerima telepon sebelum sempat melihatku. Aku duduk kembali dan meperhatikannya. Dia telah mendudukkan dirinya, memilih tempat yang berjarak satu meja dari tempatku duduk. Suaranya saat menerima telepon terdengar jelas. Aku terus memperhatikannya, namun dia tak menyadari keberadaanku karena temanku itu duduk membelakangiku.
Lonceng di depan pintu kembali berbunyi saat seorang pengunjung datang. Matataku terbelalak. Kembali batinku bergejolak. Dadaku sesak, seperti ada bongkahan batu besar yang menindihnya, melihatnya berhenti di depan gadis yang tadi ingin ku sapa. Buru aku meraih berkas surat lamaranku untuk menyembunyikan wajah.
" Kau membuang waktuku saja. Cepat katakan, apa maumu?" Suara bariton itu terdengar jelas di telingaku.
"Aku ingin menagih janji Tuan. "
" Sudah kukatakan padamu, kau hanya butuh menunggu. Aku sedang mengaturnya. Setelah ini kau akan naik jabatan menjadi asisten Manager."
" Jangan mempermainkanku Tuan. Jika Anda ingkar aku tak segan untuk membongkar segalanya."
" Kau mengancamku? Beraninya kau."
"Aku memiliki cukup bukti atas kejahatanmu Tuan"
"Kau lupa ? Kau juga terlibat." Aku semakin menajamkan pendengaranku.
" Huh!" Temanku itu meghembuskan nafasnya kasar.
"Setelah ini, siapa lagi yang ingin kau mangsa Tuan? Aku bahkan tega mengorbankan temanku sendiri. Hania."
Dadaku kian sesak, wajahku memucat seakan tak dialiri darah mendengar namaku disebut oleh dua iblis itu. Mataku kembali hujan setelah beberapa hari ini mulai berkurang rintiknya. Sakit yang kurasakan saat ini melebihi hari naas itu. Aku gelap mata, meraih pisau cake yang tergelatak diatas meja di depanku, berlari pada laki-laki bejat itu.
"Aaa ...."
Jeritan pengunjung memenuhi cafe. Pisau itu tepat tertancap di dada Dany sang manusia iblis. Bau anyir darah yang mengenai tanganku menguak di penciuman.