Bab 1

Hana POV

***

Menyukai seseorang seharusnya berada pada konteks yang bisa dimengerti oleh manusia. Nyatanya cinta tidak punya logika. Cinta akan mendorong kita pada jalan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Aku mengikuti alur cintaku. Tanpa kusadari, aku telah jatuh ke dalam jurang yang menghancurkan diriku sendiri. Tidak, bukan hanya diriku tetapi juga orang-orang di sekelilingku.

Aku memegang kuat gelas berisi teh di atas meja kami. Gelas kaca itu mampu menahan kekuatanku. Aku terlalu bingung memikirkan masalahku sampai mengira mencengkeram gelas mampu menyelesaikan persoalan pribadiku. Teh adalah minuman favoritku, tetapi sekarang rasanya tidak spesial lagi buatku.

"Jadi bagaimana Mas? Apa yang harus kita lakukan?"

Aku bertanya pada Romeo, menantuku yang kini duduk berhadapan dengan diriku. Pria itu terlihat sangat frustrasi akan hubungan rumit kami.

Lagu Chrisye berjudul Kisah Cintaku menggema di udara. Suaranya khas, menambah kesedihan yang tengah mendera diriku dan menantuku. Kami adalah sebuah kesalahan. Entah bagaimana cara menyadikkan jalan kami yang berbelok ini. Seandainya menabak di tempat karaoke mampu mengubah keadaan, mungkin sudah kulakukan sejak tadi.

"Aku tidak tahu, Hana," bisik Romeo.

Suaranya serak, begitu merdu di kupingku. Aku selalu ingin dengarkan dia berbicara. Kalau saja aku bisa memilikinya secara utuh. Tentu aku akan jadi wanita paling bahagia. Khayalanku yang terselindung teralihkan saat Romeo menggenggam tanganku begitu kencang. Dia menyingkirkan jemariku yang menyentuh gelas kaca. Sama seperti menantuku, aku pun tidak tahu mesti melakukan apa. Aku merasa egois telah menjalin hubungan gelap dengan suami putriku, Olivia.

Aku memandang ke arah luar kafe, hendak mengingat-ingat bagaimana hubungan gelap kami dimulai. Ada banyak mobil berseliweran. Di dalam kendaraan itu tentu terdapat manusia. Aku membayangkan apakah kisah cinta orang lain bisa se-rumit kisah diriku. Aku mulai memutar semua kejadian yang ada di kepalaku.

Dulu aku menikah muda, berusia 17 tahun ketika ibuku menjodohkan aku dengan pria berumur 40 tahun bernama Wahyu. Kemudian lahirlah putri tunggal kami, Olivia.

Olivia mau mengikuti jejak diriku menikah muda. Pacarnya Romeo meminangnya beberapa hari setelah putriku dinyatakan lulus SMA. Aku tidak mendukung pernikahan mereka. Aku tidak mau putriku memiliki nasib sama seperti diriku.

Aku punya pengalaman pahit menikah dengan pria dewasa. Dulu, aku dinikahi Mas Wahyu yang lebih tua. Alhasil aku menunjukkan sikap kekanakanku pada suamiku. Pada akhirnya, Mas Wahyu berpaling pada wanita lain. Aku bersabar sampai Olivia masuk SMA. Kejadian tersebut terus berulang-ulang. Aku lelah hidup bersamanya. Lalu, aku memutuskan untuk bercerai dari Mas Wahyu saat Olivia naik kelas dua SMA. Sekarang kami sudah tidak punya masalah, tetapi aku cukup trauma dengan pernikahan dini.

Tadinya aku tidak merestui pernikahan Olivia dan Romeo karena merasa menikah muda tidaklah menyenangkan. Aku mau putriku menikmati masa gadisnya dulu, melepaskan semua sikap kekanakan yang dia punya. Olivia memohon agar aku mewujudkan keinginannya saat itu. Kerja kerasku menyabot hubungan mereka telah gagal. Aku tidak punya pilihan selain memberikan dukungan atas hubungannya bersama pria dewasa, yang 5 tahun lebih muda dariku. Romeo berusia 30 tahun waktu itu.

Aku bilang pada putriku untuk tidak buru-buru memprogramkan anak. Namun, semua yang aku perintahkan bagaikan angin lalu. Olivia dan Romeo dikarunia anak laki-laki setahun setelah mereka menikah. Di awal pernikahan mereka baik-baik saja. Lambat laun Olivia mengulang kesalahan sama seperti yang kulakukan dulu. Akhirnya ketakutan-ku selama ini terjadi.

Setiap kali aku mampir ke rumah mereka. Aku sering mendapati Olivia mencomeli suaminya dengan masalah-masalah sepele, misalnya lampu yang tiba-tiba mati dan Romeo belum mengganti lampu itu, atau masalah seperti Romeo menegur istrinya agar lebih hemat. Perempuan memiliki ego yang lebih besar, selalu merasa benar. Olivia dan suaminya bertengkar seperti anak kecil nyaris setiap hari.

Mereka mengabaikan anak mereka, Aryan. Aku menyarankan agar cucuku tinggal denganku. Olivia bilang kalau sebaiknya aku tinggal di rumah mereka. Sekali lagi, aku tidak punya pilihan karena kebetulan aku tinggal sendiri. Aku sering diganggu bapak-bapak kompleks. Mereka kira aku janda gampangan.

Baru sebulan tinggal di rumah putriku, aku merasa keadaan semakin tidak kondusif. Romeo sibuk bekerja sampai lupa istrinya sedang ulang tahun. Olivia merajuk, mengamuk ke Romeo. Aku tidak tahan dengan situasi mereka. Jadi kusarankan agar mereka introspeksi diri selama beberapa hari. Jika ada waktu, aku nasihati mereka. Aku bicara empat mata di kedua belah pihak.

Aku dekati putriku persuasif, begitu pun dengan Romeo. Aku berniat baik. Tetapi ada pihak yang menyalah-artikan perhatianku. Romeo haus akan perhatian. Ketika aku berikan itu, dia berpikir aku menyukainya. Aku tegaskan pada menantuku kalau hubungan kami hanya sekadar menantu dan mertua. Kendati selisih umur kami hanya berjarak 5 tahun.

Romeo tidak kehabisan akal. Suatu malam dia menjebak aku dengan minuman, memasukkan Viagra ke dalam sana. Dia memaksaku bercinta di dapur, melecehkan diriku. Aku menangis pada saat itu. Aku menjauhi Romeo, tetapi dia selalu datang padaku. Pria itu tidak menyerah. Aku merasa luluh. Aku membuka hatiku padanya sebab aku tahu seperti apa kehidupan rumah tangganya dengan putriku. Aku merasa lelaki itu butuh mainan, dan aku pertaruhkan diriku sebagai mainan barunya.

Ini sudah dua bulan hubungan gelap kami. Aku merasa ini salah. Aku tidak mau menyakiti putriku. Aku ajak Romeo bertemu di kafe ini, membicarakan kelanjutan hubungan kami.

"Ini terakhir kalinya kita bertemu, Mas. Aku tidak mau Olivia patah hati. Dia putriku. Takkan kubiarkan dia terluka," gumamku.

Aku menoleh ke arah Romeo. Ini saatnya bagiku mengakhiri hubungan terlarang kami. Lagu Kisah Cintaku milik Chrisye berakhir, persis sekali dengan momen kami yang mau menghentikan jalan kami yang salah.

"Apa kita tidak bisa teruskan saja, Han? Toh, Olivia tidak akan tahu. Aku sangat sayang sama kamu, Hana." Romeo mencium jari-jemariku. Cepat-cepat aku melepaskan jariku yang dipegang olehnya.

"Tidak! Sadarlah, Mas. Kau punya Aryan. Kau punya Olivia. Mereka adalah tanggung jawabmu bukan aku," kataku.

"Aku dan Olivia tidak bisa bersatu lagi. Kami sudah tidak pernah menghabiskan malam bersama."

Romeo menatapku serius. Aku tersentak. Apa maksud Romeo? Dia bilang dia dan Olivia sudah tidak melakukan itu? Apa itu artinya selama ini akulah yang menggantikan posisi putriku? Ini tidak mungkin terjadi.

"Kamu bohong 'kan, Mas? Kalian tidak mungkin seperti itu?"

Aku pikir aku hanya permainan menantuku, hanya fantasi Romeo semata. Akan tetapi ini lebih dari yang aku duga. Romeo tidak pernah main-main dengan aku. Dia serius dengan semua yang dia ucapkan kepadaku, bahkan semua perbuatannya padaku.

"Aku serius, Hana. Kita seharusnya bersama. Kalau kau setuju, mungkin kita seharusnya--."

"Seharusnya apa?"

Aku tidak cukup paham maksud Romeo. Dia memejamkan matanya. Menantuku tampak berat mengatakan kalimat yang akan keluar dari bibirnya, aku amati pria itu menghela napas panjang. Tak lama dia berkata, "Kita seharusnya menikah segera. Aku akan urus perceraianku dengan Olivia."

Aku menggeleng keras. Apa kata orang bila mengetahui perbuatan kami? Seorang mertua telah merebut menantunya, suami putri kandungnya sendiri. Aku tidak bisa melakukan itu. Walaupun kami beberapa kali berbuat intim di suatu tempat, itu tidak berarti kami bisa menikah di hadapan semua orang.

"Tidak. Kau pasti bercanda 'kan, Mas? Itu tidak mungkin terjadi."

Sebutir air mata membasahi pipiku. Aku menginginkan Romeo, tetapi dia bukan milikku. Dia punya putriku, Olivia. Kenyataan itu akan selalu begitu. Apa yang harus aku lakukan? Aku sama sekali tidak mengerti harus berbuat apa.

"Mengapa kau menangis? Kumohon, jangan menangis, Hana," bisik Romeo.

Dia mengusap air mataku lembut. Aku takut atas apa yang sudah aku lakukan. Ini berat untukku. Kami bertatapan seperti yang selalu kami lakukan diam-diam.

"Jangan sakiti putriku, Mas. Kita putus malam ini, Oke?"

Meskipun aku tidak mau melepas Romeo, aku akan mencoba melakukan itu. Aku tidak bisa jadi penghalang kisah cinta putriku. Cerita tentang teman merebut suami tentu menyedihkan. Apalagi jika seorang mertua merebut menantunya.

"Hubungan kau dan Olivia akan baik-baik saja," tegasku.

Aku tidak bisa menerima kenyataan. Aku mengutuk diriku yang telah mengikuti kata hatiku dahulu. Di seberang meja kami, seseorang menyadap ucapan kami. Aku tidak peduli lagi ketika dia berbisik kepada temannya mengenai aku dan menantuku.

"Apa kau tidak mencintaiku, Hana? Mengapa kau mempermasalahkan masalah yang sebenarnya bukanlah masalah besar? Kita hanya akan berkencan sembunyi-sembunyi. Itu tidak akan menyakiti siapa-siapa." Romeo sedang menghibur dirinya sendiri, berusaha mengklaim bahwa hubungan kami bukanlah sebuah kesalahan.

"Aku mencintaimu, Mas. Tetapi bukan berarti aku mau kau menyakiti putriku. Aku tidak bisa melakukan itu. Kita harus putus hari ini." Aku tegas pada Romeo. Aku tinggalkan dia sendirian di kafe kendatipun dia masih ingin bicara padaku. Ini salah, dan aku harus mengakhiri semua ini.

Aku pergi dari kafe tanpa mencicipi teh yang aku pesan. Biasanya teh akan menghangatkan pikiranku, sepertinya kali ini berbeda. Tak ada yang bisa membantu diriku menyelesaikan masalah yang tengah aku hadapi.

Bab 2

***

Setelah pertemuan kami terakhir kali, aku menjauhi Romeo. Aku tegaskan padanya kalau kami tidak boleh berhubungan lagi. Aku melakukan itu demi menjaga keutuhan rumah tangga putriku, Olivia. Setiap kali Romeo pulang kerja, aku sengaja tidak menampakkan diriku karena memang tidak mau menemuinya saat ini.

Aku menduga Romeo akan menyerah mempertahankan cinta kami, ternyata tidak. Saat tengah malam tiba, dia menggedor-gedor pintu kamarku. Ketukannya di pintu itu membuat aku takut. Aku tidak mau Olivia memergoki kami. Jadi kuputuskan untuk membukakan menantuku pintu kamar.

"Mau apa lagi Mas? Kita sudah berakhir," kataku.

Romeo sudah memakai baju tidur. Itu artinya dia datang ke kamarku setelah putriku terlelap. Aku menatap serius ke arah menantuku. Rambut pria itu berantakan tetapi masih begitu tampan di mataku. Aku terlalu terpukau pada pesonanya sehingga tidak menyadari dia telah masuk kamarku, mengunci pintu kamar tanpa persetujuan dariku.

Dia berusaha mendapatkan kesenangan yang dia harapkan padaku. Romeo semakin agresif. Dia memaksa aku menanggalkan bajuku. Aku mencoba menahan hasrat yang beringsut menguasai ragaku.

"Jangan, Mas. Pikirkan Aryan, pikirkan Olivia. Bagaimana perasaan mereka kalau tahu selama ini kita sering begini di belakang mereka." Waktu aku bicara begitu, Romeo berhenti sejenak. "Kita sudah terlanjur berdosa. Kita lakukan saja selagi tidak ketahuan."

Aku mendorong tubuh Romeo. Aku tidak bisa menyakiti putriku meski aku menyukai suaminya juga. Aku pernah menikah, disakiti pria tua. Kini gairahku pada pria muda amat besar. Aku mencoba mengusir perasaan itu. Namun aku tidak sanggup kalau Romeo terus memelas belaian. Aku tidak pernah mampu lolos dari jeratnya. "Kamu milikku," bisik Romeo waktu dia berhasil menguasai diriku. Kami berhubungan badan untuk kesekian kalinya.

"Kamu enggak boleh nyesel, Han. Inilah takdir kita," gumam Romeo. Aku cuma bisa menangis. Aku tidak bisa menghentikan perasaan ini. Aku benar-benar tidak sanggup menjalani kehidupan begini. Kalau ketahuan Olivia dan seluruh anggota keluarga lain, entah apa yang mereka pikirkan tentangku.

"Ini bukan takdir kita, Mas."

Aku menyela. Air mataku tak berhenti bercucuran, membasahi pipi putihku. Tetapi apa gunanya itu semua. Tidak ada! Rugi aku meneteskan air mata jikalau aku belum mampu menolak permintaan menantuku. Ibu macam apa aku? Begitu tega merusak rumah tangga putriku sendiri.

"Aku berusaha melupakan kamu, Mas. Tolong, jangan dekati aku lagi. Ini tidak benar. Kita tidak boleh seperti ini terus."

Romeo mendekap aku dari belakang. Aku mengusir tangan lembut miliknya yang membelenggu badanku. Aku menoleh sampai mataku menangkap bulu dada pria itu. Aku menghela napas meraih pakaian tidur menantuku supaya dia segera memakai baju.

"Mending kamu keluar, Mas. Aku enggak mau Olivia pergokin kita habis melakukan ini."

"Tapi, Han. Aku kangen kamu."

Tidak bisa. Aku tidak bisa berkompromi akan hal beginian. Ini tidak boleh terjadi 'kan? Ini sebuah kesalahan besar dalam hidupku. Biasanya Romeo kembali ke kamar Olivia saat subuh akan tiba. Kami tidak boleh seperti itu lagi. Semakin jarang kami bertemu maka semakin perasaan kami segera mati.

"Tolong, Mas. Kamu sudah dapatkan yang kamu mau. Sekarang kamu tinggalin aku sendiri." Aku berbicara tegas.

Perlahan aku mendengar gerakan Romeo menjauhi aku. Dia memakai pakaiannya kemudian keluar dari kamar milikku. Sebelum meninggalkanku, pria itu menegaskan kalau hubungan kami takkan pernah berakhir sampai kapanpun.

"Ini belum berakhir, Han. Kita akan terus begini. Kamu adalah takdirku. Kamu tidak akan jauh dari aku."

Romeo meninggalkan aku sendiri. Dia sangat egois, mungkin aku juga begitu. Bedanya aku masih punya sedikit hati. Kebalikan dari Romeo, dia sama sekali tak mau melepaskan aku. Dalam keadaan begini, aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku serba salah. Aku memejamkan mata, berusaha melupakan malam ini. Aku tidak akan membukakan pintu Romeo kendati dia memaksa seperti malam ini.

***

Aku bangun agak terlambat. Aku benar-benar mengantuk setelah Romeo berhasil mengganggu tidurku semalam. Aku melangkah keluar kamar ketika aku mendengar perdebatan putri dan menantuku. Aku menggeleng, mereka selalu seperti ini. Aku tidak tahu sampai kapan mereka akan berhenti bertengkar seperti anak kecil.

"Kenapa kamu selalu membandingkan aku dengan mamaku? Apa kamu suka dengan mama?"

Jantungku berdebar hebat ketika kudengar bentakan Olivia. Dia melibatkan aku dalam pertengkaran mereka. Aku punya firasat buruk akan hal ini. Aku berlari mendekati sumber suara, menjadi penengah di antara mereka.

"Ya, aku memang mendambakan ibumu. Dia jauh lebih baik jadi istriku ketimbang kamu. Aku bosan dimarahi terus sama kamu, Liv. Apa kamu enggak bisa melayani aku dengan baik seperti ibumu?"

Mataku membelalak, aku menyela, "Kamu itu bicara apa, Romeo!" Aku tidak mau kedokku terbongkar. Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Olivia diam sejenak. Dia memperhatikan aku dan Romeo secara bergiliran. "Ini enggak mungkin 'kan, Ma? Mama dan Romeo enggak mungkin selingkuh 'kan?"

Aku merasa jantungku seakan dicabut paksa. Bibirku keluh, aku membalas dengan pelan, "Mama enggak pernah punya hubungan sama suami kamu, Nak." Aku berusaha menghindari tatapan tajam Olivia. "Romeo adalah menantu mama. Enggak mungkin mama merebut dia dari kamu. Mama terlalu tua buat dia." Aku berusaha mencari kata-kata logis.

"Mama dan Romeo hanya berbeda 5 tahun. Mama bisa saja melakukan itu sama Mas Romeo. Kalau itu tidak benar maka tatap aku, Ma!"

Aku berusaha menatap Olivia tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaan bersalahku. Mataku tiba-tiba menggenang air mata. Aku mengalihkan pandangan ke jendela supaya tidak menangis di hadapan menantu dan putriku.

"Mama bohong!"

"Enggak, Liv. Mama jujur. Mama hanya tidak menyangka kamu menud--."

Ucapanku dipotong oleh ucapan Romeo. Dia berseru, "Aku dan mamamu memang punya hubungan serius, Liv. Aku terpaksa selingkuh dengan dia karena bosan bertengkar dengan kamu. Aku tidak bisa diomeli sepanjang hidupku. Aku bukan orang sabar yang kamu impikan. Aku punya batas kesabaran, Liv."

Olivia membuka mulutnya lebar-lebar. Perlahan dia menutup mulut itu, berusaha mencerna kata-kata suaminya. Dia terisak, aku mencoba menenangkannya tapi Olivia menepis tanganku. Dia tidak mau aku menyentuh kulitnya. Olivia benar-benar marah. "Aku enggak nyangka mama dan Mas Romeo bisa se-tega itu sama aku. Aku--."

Olivia menangis terluka. Aku ikut terbawa oleh isakan itu. Aku minta maaf berkali-kali. Sementara Romeo terus mencari pembenaran atas perbuatan kami. "Perselingkuhan antara aku dan mamamu bermula dari kamu, Liv. Kalau saja kamu memperlakukan aku dengan baik. Kalau saja kamu mau menghargai aku sebagai suamimu maka perselingkuhan ini tidak akan terjadi."

Tangisan Olivia semakin pecah. Aku mendengar suara Aryan menangis di dalam kamar. Namun aku tidak bisa meninggalkan Olivia dalam keadaan seburuk ini. Aku mau menyelesaikan masalah yang telah aku buat.

"Berhenti, Mas. Jangan teruskan lagi," pintaku.

Aku mau Romeo memahami istrinya tetapi dia tidak mendengarkan aku. "Tidak bisa, Han. Dia harus tahu di mana letak kesalahannya sampai semua ini terjadi. Bukan hanya dia yang terluka di sini."

Olivia tidak berhenti meneteskan air mata. Dia tidak bisa membalas satu pun kata-kata suaminya. Semua kata yang yang dia punya seakan telah habis mengetahui fakta perbuatan aku dan Romeo. "Seandainya kamu bisa lebih bersabar, Liv. Bisa menyambut aku dengan baik. Aku tidak akan begini. Hanya ibumu yang memberikan perhatian yang seharusnya kamu berikan padaku."

Olivia menatap aku dengan linangan air mata. "Ini 'kan yang mama harapkan terjadi padaku? Sudah puas bikin aku begini? Aku enggak percaya mama bisa kayak gini." Olivia sesenggukan waktu mengatakan itu. Hatiku teriris, aku tidak membalas karena aku tahu aku memang salah.

"Aku percaya mama tetapi kenapa mama kayak begini?"

Olivia kecewa. Dia sangat rapuh. Dia benar-benar tersakiti. "Ini bukan salah mamamu, Liv. Aku yang paksa dia."

Romeo masih menyempatkan diri membelaku. Olivia menoleh ke arah suaminya. Dia melangkah mendekati Romeo, memberikan satu tamparan setelah itu tangisannya kembali tumpah. Olivia meninggalkan kami kemudian masuk ke dalam kamar. Dia menangis bersama putranya Aryan di dalam kamar.

Bab 3

***

Rahasia merupakan bagian hidup yang harus kita tutupi rapat-rapat. Bagian itu ialah privasi bagi seseorang. Aku punya hal semacam itu, kedok yang tidak mau aku umbar ke publik. Layaknya sebuah bangkai, semakin lama tersembunyi maka aroma busuknya semakin tercium. Pada akhirnya perbuatan keji yang aku pendam terungkap dengan jelas.

Setelah rahasiaku dan Romeo terbongkar, Olivia sangat terpukul. Dia merasa hidupnya tidak berguna. Sore hari, putriku minum racun tikus—sisa racun yang aku pakai dua minggu lalu. Aku menemukan putriku saat busa keluar dari mulutnya. Aku panik, benar-benar hancur. Aku hubungi menantuku sampai dia muncul dengan tatapan pilu, menunjukkan perasaan cemas luar biasa.

Kami merasa bersalah pada Olivia. Aku tidak bisa berkomentar begitu pun dengan Romeo. Aku menggendong Aryan sampai di rumah sakit. Aryan sangat membutuhkan ibunya. Aku tidak percaya Olivia memilih keputusan keliru seperti ini. Mengapa dia mengesampingkan anaknya yang tak berdosa? Apakah dia tidak memikirkan perasaan putranya tanpa ibu? Semua anak tentu mengharapkan orang tua yang utuh.

"Olivia masuk rumah sakit, Mas."

Suaraku bergetar ketika mengabarkan berita buruk itu kepada mantan suamiku. Aku menghubungi Mas Wahyu sebagai ayah kandung Olivia. Dia punya hak untuk mengetahui apa pun yang menimpa putrinya.

Dokter masih memeriksa keadaan Olivia. Entah bagaimana kondisi putriku sekarang. Aku berharap semuanya baik-baik saja. Aku takut menjadi tersangka utama kematian putriku. Aku optimis, segalanya akan segera membaik.

"Memangnya Oliv sakit apa, Han?"

Mas Wahyu agak heran sebab belum lama ini dia sempat bertemu putrinya. Aku gugup, tidak mau mengakui kesalahanku. Aku menggeser ponsel di tanganku diiringi tangan bergetar. Tangan kananku basah karena terlalu tegang.

"Ada racun dalam botol air mineral, Mas. Olivia enggak sengaja minum racun itu."

Aku bohong. Kalau Mas Wahyu tahu apa yang sudah kulakukan pada Olivia. Dia akan siksa aku seperti yang sering dia lakukan saat kami masih bersama. Mas Wahyu sangat berbeda dengan Romeo yang penyayang. Wahyu lebih kasar.

"Kamu tuh gimana sih, Han. Ngapain kamu taruh racun dalam botol air mineral. Kamu memang niat bunuh anak kamu sendiri ya?"

Mas Wahyu berapi-api. Aku minta maaf. Aku bahkan belum jujur dan Mas Wahyu sudah menyerang aku habis-habisan. "Enggak, Mas. Aku sayang Olivia. Aku enggak tahu kalau keadaan akan bakalan begini."

"Kalau sampai Olivia kenapa-napa, habis riwayat kamu, Han. Aku akan hancurkan hidupmu. Ini salahmu," tegas Mas Wahyu.

Panggilan telepon kami berakhir. Aku duduk di ruang tunggu ditemani perasaan sedih. Aryan menyeka air mataku. Dia tidak tahu kalau aku baru saja membuat ibunya dalam masalah. Cucuku masih sangat polos, aku tidak mau melukai anak itu. Aku bergeming, mengingat situasi saat aku ketahuan berselingkuh dengan menantuku. Seketika aku merasa penuh dosa.

"Kamu pulang saja ya, Han. Biar aku yang urus Olivia. Biarkan Aryan istirahat," kata Romeo. Aku tidak bisa meninggalkan putriku segampang ini. Aku berkata, "Enggak, Mas. Aku bertanggung jawab atas Olivia. Aku harus di sini sampai dia sadar."

Romeo menggenggam tanganku. Dia mengusap lembut pipiku seraya berbisik, "Ini bukan salah kamu, oke? Jangan pernah salahkan diri kamu. Mending kamu pulang. Kasian Aryan enggak bisa menginap di tempat ini." Aku melihat Aryan. Anak itu menunjukkan reaksi tak suka berada di rumah sakit. Romeo benar.

"Kabari aku kalau keadaan Olivia sudah baikan." Romeo mengangguk.

Sebelum aku pulang, Romeo menyempatkan untuk berikan aku kecupan di ujung kepalaku. Aku cukup menghangat karena perbuatannya. Selain itu, aku terlalu lelah sehingga tidak sempat protes atas apa yang dia lakukan. "Kamu jaga kesehatan ya, Han. Olivia akan baik-baik saja." Romeo meyakinkan diriku, aku percaya kepadanya.

Sampai di rumah, aku membaringkan Aryan di tempat tidur. Aku benar-benar takut menghadapi takdir hidupku. Di satu sisi, aku tidak mau Olivia kenapa-napa namun di sisi lain, aku akan dibenci semua orang karena sudah membuat kehidupan rumah tangga putriku hancur. Aku pun tak menghendaki ini pada awalnya. Romeo memaksaku berhubungan intim. Aku korban tapi semakin lama. Romeo justru membuat aku nyaman. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku sangat bingung.

Aryan sudah tidur. Aku berbaring di sampingnya. Aku istirahat, mengharapkan esok hari lebih baik. Saat aku bangun pagi harinya, aku lihat Romeo ada di sampingku, memelukku dengan erat. Aku terkesiap atas apa yang dia lakukan? Dia seharusnya membangunkan aku saat sudah pulang. Aku bangkit dari tempat tidur.

"Jangan pergi dulu, Han. Aku masih mau peluk kamu."

"Jangan kayak gini Mas. Oliv ada di rumah sakit. Kita tidak seharusnya bersama di saat dia sedang sekarat."

Aku menangis. Aku bersalah dalam hal ini. Aku tidak tahu cara menebus kesalahanku. Hanya air mata yang bisa aku keluarkan. Bagaimana caranya agar Olivia bisa bahagia dengan Romeo? Bagaimana caranya membuat menantuku menyadari betapa besar cinta istrinya kepada dia.

Romeo datang padaku, menyeka air mataku. Dia masih memakai kemeja kerja dengan kancing bagian atas terbuka. Otot dada kekar miliknya tampak jelas bentuknya, beberapa helai bulu dadanya muncul. Setiap kali melihat tubuh Romeo, keinginanku untuk hidup bersamanya selalu timbul. Aku tidak paham cara membunuh perasaanku terhadap menentuku. Dia terlalu seksi untuk dilupakan.

"Kita tidak pernah memaksa Oliv minum racun itu. Kita tidak bisa bertanggung jawab atas perbuatannya." Aku membelalakkan mata. Baru kemarin aku lihat perasaan bersalahnya. Kini dia menunjukkan sisi egoisnya lagi. "Maksud kamu apa ngomong gitu, Mas? Kamu tega melihat Oliv sakit?"

"Olivia minum racun karena kesalahan kita. Kita berselingkuh dari Olivia, Mas. Apa kamu lupa?"

Aku berteriak, mengabaikan rasa kagumku pada karisma-nya. Romeo diam sejenak kemudian membalas, "Aku minta maaf, Han. Aku hanya tidak mau kau terus menyalahkan diri sendiri. Aku tidak mau kau jauhi aku gara-gara Olivia. Aku cinta kamu, Han." Romeo menggenggam tanganku.

"Kalau kamu sayang aku. Tolong, pertahankan Olivia. Aku bahagia kalau putriku bahagia. Kumohon, Mas. Kita akhiri saja hubungan ini." Aku sudah bosan beritahu Romeo. Namun kali ini aku serius mau mengakhiri perselingkuhan antara aku dan dirinya.

"Kalau kamu masih berusaha dekati aku. Aku bakal minum racun yang sama seperti racun yang diminum Oliv." Aku bersungguh-sungguh. Jika memang Olivia bisa merelakan nyawanya demi kebahagian aku. Mengapa tidak, aku relakan nyawaku juga demi kebahagiaan Olivia.

"Kamu enggak serius 'kan, Han?" Romeo tidak rela aku mati. Aku tegaskan padanya kalau aku tidak main-main. Romeo frustrasi. Dia meremas rambutnya kuat-kuat.

"Kenapa kamu beri aku pilihan yang sulit, Han? Aku udah enggak tertarik sama Oliv. Aku sayang kamu, Han?"

"Enggak bisa. Kamu harus kembali pada Olivia kalau kamu sayang sama aku." Romeo memaksa hatinya kembali pada Olivia. Dia memberikan aku satu syarat. Syarat itu cukup membuat aku bimbang namun aku menyetujinya. Aku melaksanakan persyaratan itu dengan Romeo. Sekarang aku bisa pastikan hubungan rumah tangga putriku akan baik-baik saja.

Olivia sudah sadar ketika aku datang menjenguknya. Dia belum bisa bicara. Dia terus melototi aku saat menjenguknya. Dia tidak mengamuk karena ada Mas Wahyu, ibuku, dan juga saudara perempuanku Meida di sana. "Wahyu bilang kamu taruh racun di botol air mineral. Kamu kok bisa sampai seceroboh itu sih, Han?" Ibuku bertanya saat aku menyiapkan makanan untuk Olivia.

"Tolong jangan bahas masalah itu lagi ya, Bu. Olivia akan jelaskan saat dia sudah sembuh."

Biarkan Olivia yang beritahu semua orang kalau aku berhasil merebut suaminya. Aku tidak bisa membicarakan kotoranku sendiri. Ibuku menghela napas panjang. Aku membujuk Olivia makan tetapi dia tidak mau kalau aku yang memberinya makanan. "Biar aku saja." Saudaraku, Meida yang mengambil alih tugasku.

Olivia tidak bisa makan normal untuk sementara. Makanan yang diberikan tidak melalui mulut melainkan dari hidung. Ada selang yang dipasang di hidungnya, yang menghubungkan langsung ke lambungnya. Aku tersiksa setiap kali melihat Olivia kesakitan. Aku tidak sanggup menyaksikannya. Seandainya waktu bisa terulang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED