"Mas, apakah kita sebaiknya bercerai saja?"
Riko bangun dari posisi tidurnya. Memandang tajam wanita di depannya. Naila pun menutupi wajahnya dengan selimut, takut dengan sorot mata suaminya.
"Astaghfirullah ... Siapa saja perempuan yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas perempuan tersebut.' Kamu tahu, bukan? Tolong, berhentilah bicara yang tidak-tidak."
Riko berdiri, berjalan keluar kamar menuju dapur dan membuka kulkas. Mengambil segelas air putih lalu meminumnya hingga tandas. Membuat dingin hati dan pikirannya yang sempat panas. Berjalan ke depan, keluar pagar dan melajukan motor sport meninggalkan teras.
Naila merasa bersalah, mendengar suara deru motor yang keluar rumah. Bahkan suaminya tak pamit padanya, semua karena dirinya. Naila pun berusaha memejamkan matanya, rasa pusing semakin mendera. Dipaksakan dirinya tidur, agar pikirannya dan hatinya tenang, tak memikirkan lagi perkataan orang. Pengaruh obat dan pikiran yang penat mulai membuat Naila terlelap.
♡ ♡ ♡
Riko masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah nampan. Dibangunkannya Naila dengan penuh kasih sayang.
"Bangun, Sayang. Makan dulu baru dilanjutkan tidurnya." Riko tersenyum sambil membelai pipi istrinya. Naila pun mencoba untuk duduk, dibantu suaminya. Semangkuk bubur ayam dan susu hangat telah disiapkan Riko untuk istri tercinta.
"Mas, aku minta ma--."
Cup!
Riko memotong ucapan maaf Naila dengan mengecup bibirnya. Naila terdiam dengan wajah merona.
"Sudah, nggak usah dibahas lagi. Setelah kamu makan, aku baru berangkat kerja. Aku tinggal nggak apa-apa 'kan?"
"Aku kira tadi Mas sudah berangkat dan nggak pamit aku karena marah. Aku nggak apa-apa kok Mas, sudah nggak panas lagi, tinggal sedikit pusing saja."
"Mana mungkin aku tega meninggalkan kamu dalam keadaan belum sarapan. Aku tadi beli bubur ayam di warung biasanya. Maaf kalau aku tadi langsung berangkat."
"Iya, Mas. Nggak apa-apa, aku yang minta maaf. Mas sudah sarapan?"
"Sudah, aku lihat kamu masih pulas tidurnya. Jadi Mas makan dulu baru bangunkan kamu. Habis ini Mas langsung berangkat, ya. Mas usahakan nanti minta ijin pulang lebih awal."
"Nggak usah, Mas. Pulang seperti biasa saja, aku nggak apa-apa kok. Aku mungkin hanya perlu istirahat."
"Ya, sudah. Kalau nanti ada apa-apa atau perlu sesuatu, telepon Mas, ya. Nggak usah nyiapin makanan buat nanti malam, biar Mas belikan saja kalau pulang."
"Iya, Mas. Terima kasih."
Riko menemani istrinya sampai bubur ayamnya habis tak tersisa. Naila pun memaksakan diri untuk menghabiskan makanannya agar tak mengecewakan suaminya. Riko sudah begitu baik dan perhatian dengan membelikannya bubur ayam favoritnya. Naila sangat bersyukur memiliki suami yang tampan dan sangat mencintainya.
"Aku berangkat dulu. Tidurlah, nggak usah mikirin hal-hal yang nggak penting apalagi omongan orang tak dikenal. I love you, Sayang."
Riko mencium kening istrinya, merebahkan kembali tubuh Naila yang terlihat lemah. Membawa nampan berisi mangkuk dan gelas yang sudah kosong ke dapur lalu mencucinya. Riko sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga. Apalagi Naila sedang sakit dan lemas, Riko tak membiarkan istrinya beraktivitas. Setelah menutup pintu dan mengunci pagar, Riko pun berangkat menuju tempat kerja.
Naila tak lagi bisa memejamkan mata. Sendirian di rumah, badannya terasa tak bertenaga. Mau membuka ponsel saja, Naila masih trauma. Sudah beberapa hari dirinya tak berani memegang apalagi sampai membuka benda pipih miliknya. Bahkan suara notifikasi yang tak ada hentinya tak pernah dihiraukannya. Bukannya Naila tak penasaran, hanya saja masih enggan dengan berita yang masih beredar mengenai dirinya.
Teringat kala itu, perkenalan Riko dengan dirinya di sebuah pesta. Tanpa sengaja, Riko menabraknya yang sedang membawa sebuah nampan berisi minuman untuk para tamu. Ruangan pesta pun terlihat berantakan akibat gelas yang pecah dan berserakan. Ditambah lagi dengan beberapa tamu yang bajunya terkena tumpahan. Sungguh, keadaannya waktu itu sangat menyedihkan.
Dulu Naila adalah seorang pelayan di sebuah rumah makan. Pesta ulang tahun perusahaan tempat Riko bekerja diadakan di rumah makan di mana dia bekerja. Pemilik rumah makan langsung memecat dirinya tanpa mau tahu alasannya. Riko pun sudah berusaha membantu memberi penjelasan pada bosnya. Namun, kesalahannya dianggap fatal dan tak pantas dimaafkan. Riko pun merasa bersalah, dan mengantarkan Naila pulang. Setelah kejadian itu, Riko sering berkunjung ke tempatnya. Bahkan dua bulan kemudian, Riko langsung melamar dan menikahinya.
Naila pernah bertanya pada Riko, apa alasan menikahinya. Dan Riko selalu menjawab bahwa laki-laki itu mencintai dirinya. Naila pun tak begitu saja percaya dengannya, namun Riko selalu meyakinkannya. Riko selalu berkata pada dirinya, cinta tak butuh alasan. Masih teringat jelas ucapannya, Riko berulang kali mengatakan padanya hal yang sama. 'Aku tak punya alasan kenapa aku mencintaimu. Hanya satu yang aku tahu, aku bahagia saat bersamamu, aku nyaman saat di dekatmu.'
Pernikahan mereka sangat sederhana, apalagi Naila adalah seorang yatim piatu dan tak punya saudara. Rumah orangtuanya di desa sudah djualnya, sebagai bekal dirinya hidup di kota. Demikian juga Riko, dia sudah tak memiliki ibu dan ayah. Hanya seorang kakak laki-laki yang tinggal di luar kota dan sudah berkeluarga. Mereka pun tak datang di acara pernikahannya, entah kenapa sampai sekarang Riko tak pernah mau memberikan alasannya.
Pernikahan mereka sudah berjalan enam bulan, dan belum ada tanda-tanda kehamilan. Naila tadi pagi bahkan sudah mengecek dengan test pack, berharap sakitnya karena ada janin di rahimnya. Ternyata harapannya masih belum dikabulkan dan Naila berani minum obat demam yang tersedia.
Ponsel di atas meja riasnya berdering berulang kali. Dengan malas Naila terpaksa mengambil dan menerima panggilan yang ternyata suaminya.
"Assalamu'alaikum, Sayang. Maaf kalau aku mengganggu, lagi tidur, ya?"
"Nggak kok, aku hanya rebahan saja. Mungkin setelah sholat dhuhur saja aku tidur lagi."
"Bagaimana keadaanmu? Aku di kantor nggak bisa tenang. Mikirin kamu terus, takut kenapa-kenapa."
"Alhamdulillah, pusingnya sudah mulai berkurang. Mas fokus kerja saja, insyaa Allah aku nggak kenapa-kenapa."
"Ya, sudah. Aku lupa memberitahu, di meja makan ada nasi padang. Nasi dan sayurnya dipisah, jadi aman buat makan siang. Jangan lupa dimakan terus minum obatnya. Langsung tidur, nggak usah ngerjakan apa-apa dulu."
"Iya, Mas. Terima kasih banyak, maaf merepotkan."
"Ngomong apaan sih, aku suamimu, kamu tanggung jawabku. Harusnya aku nggak kerja tadi, biar hatiku juga tenang."
"Aku nggak apa-apa kok, Mas. Nanti habis sholat dhuhur akan aku makan nasinya, minum obat terus tidur. Insyaa Allah besok sudah sehat lagi."
"Aamiin ... Mas lanjut kerja dulu, ya. I love you, Sayang. Assalamu'alaikum."
"I love you too, wa'alaikumussalaam."
Naila tersenyum bahagia, bahkan Riko menyiapkan makan siangnya. Dia pun berjanji, mulai saat ini tak lagi memusingkan omongan orang. Memiliki seorang suami yang sangat mencintainya sudah cukup baginya. Selain Riko, Naila tak punya siapa-siapa.
"Assalamu'alaikum ...."
Suara salam seorang wanita terdengar dari arah depan pagar rumahnya. Naila pun bergegas memakai gamis dan jilbab panjangnya. Dengan tubuh yang lemah, dia berjalan perlahan membukakan pintu untuk tamunya.
"Maaf, cari siapa, ya?"
"Riko ada? Kamu ini siapa? Pembantu baru, ya?"
"Riko ada? Kamu ini siapa? Pembantu baru, ya?"
Di hadapannya, berdiri seorang wanita cantik, bertubuh tinggi dan seksi. Kulit putih mulus dan terlihat sangat terawat. Memakai dress warna ungu muda selutut, kaca mata hitam, dan sepatu high heels yang menambah kesan elegan. Sedan mewah berwarna merah menyala terparkir di depan rumahnya.
"Hemm ... maaf, Mbak. Saya Naila, istrinya Mas Riko." Naila mencoba ramah pada tamunya yang menatapnya dengan pandangan yang merendahkan.
"Ternyata benar Riko sudah menikah. Berita yang sedang viral itu bukan hanya gosip. Dan sekarang aku benar-benar membuktikan kebenarannya."
Wanita itu berkata sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Naila terpaku melihat tingkahnya. Bahkan sebagai nyonya rumah, dia sama sekali belum mempersilakan. Namun, wanita itu dengan seenaknya langsung mendahuluinya duduk di sofa ruang tamunya. Naila pun berdiri di dekat pintu, menunggu seberapa jauh kelakuan tamu tak ada akhlak di depannya.
Kepala yang masih pening dan tubuh yang lemah, membuat Naila hanya diam memperhatikan. Dengan perlahan, Naila mengutak atik ponsel yang masih ada dalam genggaman. Berusaha melakukan video call pada suaminya tanpa suara. Berjalan melambat menuju meja yang ada di sudut ruangan. Meletakkan ponselnya dengan posisi yang diperkirakan tepat menghadap tamunya. Beruntung Riko langsung menerimanya. Sebelum Riko mengucap salam, dia terdiam mendengar suara seorang wanita selain istrinya.
Wanita yang duduk dengan angkuh sedang sibuk mengambil ponsel dari tas mewahnya. Dia pun tak menyadari apa yang dilakukan Naila. Melepas kaca mata hitam, membuat wajah cantiknya terlihat sempurna di mata Naila.
"Tahu nggak siapa aku? Jangan bangga dulu walaupun kamu sudah menjadi istrinya Riko. Dalam hitungan detik, aku bisa membuat Riko menceraikanmu. Benar kata mereka, kamu sangat tak pantas mendampingi Riko. Suami tampan, istrinya tak rupawan. Menyesal aku menjauhinya, kalau yang didapatnya wanita seperti kamu."
Naila hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah wanita cantik di depannya. Nggak ada hujan, nggak ada angin, mendadak banyak yang ikut campur dalam rumah tangganya. Seolah pernikahan bisa diputus seenaknya. Naila hanya memandang tanpa berniat berdebat dengan wanita yang dia sendiri tak tahu siapa namanya.
"Kamu tahu, aku dulu adalah salah satu kekasih Riko. Aku memang salah telah meninggalkannya demi karirku. Tapi aku berjanji padanya akan kembali jika aku siap menikah. Dan sekarang aku sudah siap, aku akan mengambil Riko darimu. Aku yakin semua ini akan mudah. Tak akan butuh waktu lama untuk menyingkirkan wanita sepertimu."
Salah satu kekasih Riko? Berapa kira-kira mantan kekasih suaminya? Naila akui jika dirinya tak tahu sama sekali tentang masa lalu Riko dan Naila pun tak berniat mempertanyakannya. Naila tersenyum, melangkahkan kakinya ke arah sofa. Dia tak ingin terpengaruh dengan ucapan wanita yang mengaku mantan kekasih suaminya. Naila pun duduk dengan tenang walaupun tubuhnya mulai gemetar karena demam dan rasa pusing di kepalanya.
"Lalu sekarang Mbak maunya bagaimana?" tanya Naila berusaha sopan.
"Mbak ... mbak ... dasar kampungan. Namaku Clara, nggak usah pakai mbak. Meskipun aku tahu usiamu pasti jauh di bawahku, tapi panggil saja namaku."
Naila menghela napas panjang mendengar ucapan wanita yang bernama Clara. Nama cantik, wajah menawan, namun tak punya etika. Teringat ucapan Riko waktu itu, 'Aku butuh seseorang yang baik untuk melahirkan anak-anakku. Bukan wanita yang tak punya adab yang hanya bisa berdandan, shopping dan memamerkan wajah dan tubuhnya dengan baju seksi dan tas mewah'. Mungkin yang dimaksud suaminya salah satunya adalah Clara.
"Iya, sekarang aku ulangi, kamu maunya apa dan bagaimana, Clara?" tanya Naila yang masih mencoba untuk bersabar.
"Aku akan menunggu sampai Riko pulang," ucap Clara dengan santainya.
"Maaf nggak bisa, aku harus tidur siang." Naila tak membiarkan Clara bertindak sesuka hatinya.
"Tidur aja kalau mau tidur, pokoknya aku akan tetap di sini sampai Riko pulang."
Naila mulai merasa sesak di dadanya, menahan emosi di tengah tubuhnya yang semakin lemah.
"Kamu ini cantik tapi kok nggak ada sopan-sopannya. Ini rumah suamiku, dan kewajibanku untuk menjaganya jika dia tak ada di rumah. Tak boleh ada orang lain yang masuk tanpa seiijinnya meskipun itu kekasih lamanya."
Naila berusaha berbicara dengan tegas meskipun tubuhnya semakin gemetaran. Bukan karena takut tapi karena tubuh yang sangat ingin diistirahatkan.
"Heii ... aku bukan orang lain. Aku dulu juga bebas keluar masuk di rumah ini." Clara tak terima ucapan Naila yang terus berusaha mengusirnya.
"Tapi itu kan dulu, saat aku belum menikah dengannya. Sekarang sudah beda dong, aku adalah Nyonya di rumah ini. Meskipun kamu tak menerimanya, itu urusanmu. Ingat! Aku adalah Nyonya ... N-Y-O-N-Y-A. Dan kamu tak berhak memaksa di sini jika aku tak mengijinkan."
Naila bukan wanita yang penakut. Meskipun dia berasal dari desa, tapi Naila bukan wanita yang lemah. Dia akan berusaha melawan jika ada orang yang akan menindasnya, apalagi dia sama sekali tak bersalah. Orangtuanya mendidiknya menjadi gadis yang berani walaupun dari luar Naila terlihat lemah lembut. Wajahnya yang lugu membuat orang menilai dirinya gadis desa yang tak berdaya.
Namun, untuk saat ini Naila merasa terancam. Naila merasa ini terakhir kalinya dia bisa berbicara keras pada wanita di depannya. Tubuhnya semakin tak bisa diajak kompromi. Bahkan kepalanya semakin terasa pusing dan mulai berputar.
Clara tak menyangka, wanita yang dianggap kampungan dan terlihat lemah berani melawannya. Walapun dirinya tak takut, namun yang dikatakan Naila memang benar adanya. Sekarang dia bukan siapa-siapanya Riko, mantan kekasihnya. Clara berdiri mendekati Naila yang masih duduk memandangnya. Dan Clara yakin saat ini Naila sedang tak enak badan, terlihat dari wajahnya yang semakin pucat. Senyum menyeringai membuat Clara berpikiran licik. Dia tak perlu bersusah payah menyakiti Naila secara fisik.
"Aku tahu kamu sedang sakit, makanya kamu ingin tidur siang, bukan? Aku akan membuatmu pingsan, dan akan aku buang tubuhmu ke jalanan. Tak akan ada orang yang tahu, dan suamimu akan kembali menjadi milikku."
Naila hanya diam tak lagi melawan. Bahkan untuk bersuara, rasanya dirinya sudah tak kuat. Dan wanita di hadapannya tahu sekarang dia sedang sakit. Naila pun hanya pasrah dengan tubuhnya yang tiba-tiba semakin lemah. 'Ya Allah, tolong hamba-Mu ini, lindungilah aku dari wanita ini. Aku tak kuat lagi, Ya Allah. Tubuhku sangat lemah dan gemetar dan kepalaku terasa berputar. Tolonglah aku, Ya Allah.' Naila terus berdo'a dalam hatinya berharap segera ada yang menolongnya entah siapa. Kompleks perumahan di sekitarnya sangat sepi di siang hari seperti ini.
"Lihatlah wajahmu yang semakin pucat. Aku akan menunggumu sampai kamu sekarat. Hahaha ... ternyata aku datang ke sini di saat yang sangat tepat."
Clara mencengkeram pundak Naila dan memaksanya berdiri. Naila yang sudah sangat lemah, kali ini tak bisa melawannya lagi. Kepala Naila semakin berputar dan Clara mendorong tubuhnya dengan kasar.
Bruukk!
Naila ambruk. Dia pun pingsan karena sakit yang tertahan.