Bab 1

Suasana tegang menghiasi ruangan itu. Seorang anak sedang berseteru dengan kedua orang tuanya. Mereka saling beradu pendapat, dan tidak ada mengalah di antara ketiganya. Wajahnya pun tampak memerah karena menahan amarah.

Adinda Salsha, seorang gadis yang baru saja menggapai gelar sarjana, dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya. Ia menentang, karena menurutnya perjalanan hidup masih panjang, dan Adinda belum puas untuk menikmati masa muda. Sementara Lukman – ayah Adinda, terus bersikeras agar anaknya segera menikah. Dengan alasan umurnya yang tidak akan lama lagi, mengingat dirinya sudah paruh baya dan ingin melihat puterinya ada yang membimbing.

“Ayah, Adinda tidak mau jika harus menikah sekarang,” ujar Adinda dengan penuh penekanan.

“Sampai kapan kamu akan sendiri seperti ini? Ayah sudah tua, dan tidak mungkin bisa mendampingimu lebih lama.”

“Ayah jangan berkata seperti itu. Adinda masih bisa jaga Ayah, tidak harus dengan menikah secepat ini.”

Lukman mendengus kesal, “Kalau kamu tidak mau menikah, maka tidak akan ada harta warisan untukmu.”

Lukman kemudian pergi meninggalkan mereka. Sementara Hana – Ibu Adinda, mengusap pundaknya agar anaknya sedikit lebih tenang. Adinda merasa kalau dirinya telah melakukan kesalahan. Sebab, telah membuat sang ayah terluka karena perkataannya.

“Sudah, biar nanti Bunda bicarakan hal ini kepada ayahmu.”

“Tapi, Bunda. Kenapa Ayah tega sekali dengan Adinda? Padahal Adinda ingin menikmati masa muda.”

Hana mengusap pundak anaknya itu, “Kamu tidak usah khawatir, mungkin Ayah itu sedang banyak pikiran. Yang membuat Ayah seperti itu.”

Adinda menghela nafas, karena tidak mau bertengkar lagi dengan ayahnya. Adinda memutuskan untuk pergi ke luar rumah, dan mencari udara segar yang mampu pikirannya kembali tenang. Adinda pergi mengendarai mobilnya, sepanjang perjalanan ia terus memikirkan permintaan ayahnya tersebut. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, Adinda tidak ingin mengecewakan ayahnya. Tetapi ia juga tidak mungkin menikah muda. Kepala Adinda terasa pusing dan berdenyut. Hal itu membuat ia tidak focus mengendarai mobil. Dan secara tiba-tiba, ada seorang pria yang melintas begitu saja. Membuat Adinda menghentikan laju mobilnya secara mendadak.

“Astaga! Siapa itu?” Kejadian itu membuat tubuhnya condong ke arah depan.

Ia melihat seorang pria tengah berdiri kaku tepat berada di depan mobilnya. Ia tidak kalah terkejut, bahkan sampai berteriak sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua lengannya. Adinda kemudian turun untuk menghampiri pria tersebut. Terlihat seorang pria yang berpenampilan biasa saja. Mengenakan kaos polos berwarna hitam, dan sandal jepit yang melindungi kakinya.

“Kalau jalan lihat-lihat, jangan asal menyebrang begitu saja,” oceh Adinda.

“Harusnya anda yang hati-hati. Kalau mengendarai mobil itu pelan saja.”

Adinda berdecak kesal, bukannya meminta maaf, pria itu malah memarahinya.

“Anda tidak sopan sekali. Sudah tahu anda yang salah, kenapa malah menyalahkan saya?” Nada bicara Adinda meninggi.

Pria itu menatap Adinda dengan intens, ia tidak mau mempermasalahkan lebih jauh. Dan memutuskan pergi begitu saja, meninggalkan Adinda yang masih dikuasai oleh rasa kesalnya.

“Awas saja kalau bertemu, aku tidak akan pernah mengampuni pria seperti itu.”

Adinda kembali berjalan masuk ke dalam mobil. Ia mengarahkan laju mobil pada sebuah café yang terletak di kota tersebut. Tetapi sebelum ke sana, Adinda lebih dulu menghubungi Chika – sahabatnya untuk menemani dirinya.

Sampainya di cafe, Chika sudah lebih dulu sampai ke sana. Bahkan ia sudah memesankan minuman untuk dirinya dan juga Adinda. Chika melihat kedatangan Adinda dan langsung menghempaskan tasnya ke atas meja. Menyebabkan suara bising.

“Kamu kenapa? Wajah ditekuk seperti itu,” oceh Chika.

“Hari ini membuat suasana hatiku hancur. Sudah Ayah yang terus memaksa untuk menikah. Dan tadi ada pria yang tidak sopan, sudah dia yang salah dan dia juga tidak mau meminta maaf.” Adinda menceritakan semua kejadian sialnya hari ini.

Chika yang mendengar cerita itu terkekeh geli, “Hahaha. Makanya patuh dengan nasihat orang tua. Jangan melawan.”

“Tapi aku masih mau menikmati masa muda. Masa mau nikah sekarang?”

Chika menaikkan bahunya tanda tidak tahu.

Adinda mengaduk minuman itu dan sesekali menyeruputnya. Hatinya benar-benar hancur, dan tidak tahu harus berbuat apa. Tak berapa lama, datang makanan yang sudah dipesankan oleh Chika. Tanpa aba-aba, Adinda langsung saja melahap semua makanan itu. Chika menelan ludahnya, memang sudah biasa melihat Adinda yang rakus dengan makanan. Tetapi Adinda tetap menjaga tubuhnya agar terlihat ramping dan menarik.

“Oiya, bagaimana jika kamu tinggal di rumahku saja?” Tawar Chika.

“Boleh juga, telingaku rasanya panas kalau harus terus menerus mendengarkan Ayah yang mendesak untuk menikah.”

“Oke, baiklah kalau begitu. Nanti kita langsung saja ke rumahku.”

Adinda setuju dengan itu semua. Chika memang sudah memiliki rumah sendiri, itu ia lakukan karena kampung halamannya yang jauh. Mengharuskan Chika membeli rumah agar tidak harus pulang pergi ke rumah kedua orang tuanya. Setelah makan selesai, Chika langsung mengajak Adinda untuk segera pulang. Kebetulan Chika datang ke café dengan menaiki taksi.

Sampainya di rumah Chika. Adinda langsung turun bersama dengan sahabatnya itu. Tampak sebuah rumah, yang bisa dibilang tidak terlalu mewah. Tetapi terkesan sederhana, dan cukup nyaman dengan taman kecil di samping rumah itu. Ini bukan kali pertama Adinda berkunjung ke rumah Chika. Ia sudah sering sekali mampir atau menginap sekalipun di rumah itu. Mereka memang bersahabat sejak pertama kali menjejakkan kaki di bangku perkuliahan.

Suasana rumah yang rapi, Chika itu tidak akan tinggal diam jika melihat rumahnya berantakan. Maka ia sering dijuluki gadis rajin oleh teman-temannya yang lain. Berbeda sekali dengan Adinda yang tidak terlalu perduli dengan sekitar. Bahkan barangnya saja Adinda jarang merapikan. Selalu saja Hana yang merapikan itu.

“Oiya, aku ‘kan tidak membawa pakaian? bagaimana?” Adinda baru ingat kalau ia tidak membawa apa-apa.

“Pakai saja ini. Bukannya pakaianku juga bisa dipakai sama kamu?” ujar Chika sambil melempar satu pakaian ke tangannya.

“Oiya aku lupa,” jawab Adinda singkat.

**

Malam tiba.

Adinda sudah disibukkan oleh pekerjaan kantor. Sejak lulus, ia langsung melamar pekerjaan. Dan langsung diterima sebagai staff marketing. Memang tidak tinggi, tetapi Adinda selalu mensyukuri apa yang sudah ia dapat dengan jerih payahnya sendiri. Bahkan Adinda sama sekali tidak mengemis pekerjaan kepada orang tuanya, padahal Ayahnya adalah direktur utama di PT. Abadi Jaya. Sedari tadi Adinda terus sibuk dengan layar laptopnya, sampai tidak memberi jeda kepada tubuhnya untuk beristirahat.

“Ini minum.” Chika meletakkan minuman di atas meja.

Adinda menoleh kemudian tersenyum, “Terima kasih, sahabat aku memang baik sekali.”

“Kamu ini kalau sudah kerja suka tidak ingat waktu. Jaga kesehatan, Din, kamu juga perlu istirahat.”

Adinda mengangguk faham, “Aku tahu. Tapi pekerjaan di kantor lagi banyak sekali, dan aku harus mengerjakan malam ini juga.”

Chika tidak menanyakan lebih, karena ia tahu kalau sahabatnya akan melakukan yang terbaik untuk membuat pekerjaannya menjadi sempurna. Chika dan Adinda tidak bekerja pada perusahaan yang sama. Walau begitu, mereka sering sekali menghabiskan waktu berdua.

Tidak terasa malam semakin larut, Adinda memutuskan untuk menyudahi semuanya. Rasa kantuk mulai menyerang, dan ingin rasanya Adinda meregangkan otot-otot yang tegang. Sementara Chika sudah lebih dulu tertidur di kamar. Sebelum pergi ke kamar, Adinda terlebih dulu memberikan pesan kepada sang bunda. Agar Hana tidak mencemaskan dirinya. Ia mengatakan kalau akan tinggal di rumah Chika untuk beberapa hari, sampai Lukman menghentikan permintaannya untuk Adinda segera menikah.

**

Bersambung.

Bab 2

Esok harinya.

Adinda bangun lebih awal, karena ia harus berangkat ke kantor pagi sekali. Sementara Chika sudah bersiap, mereka akan pergi bersama karena memang lokasi kantor yang satu arah. Seperti biasa Adinda akan mengenakan pakaian milik sahabatnya itu, sebab ia tidak membawa satu potong pakaian pun.

“Kamu sarapan di mana, Din?” tanya Chika sambil mengikat rambutnya yang terurai.

“Aku sarapan di kantor saja. Lagi pula tidak sempat jika pagi ini mampir ke warung makan.”

“Ya sudah kalau gitu. Kita berangkat sekarang saja.”

Adinda setuju dengan itu. Kemudian mereka berdua pergi bersama mengendarai mobil milik Adinda. Mereka berdua menembus dinginnya pagi, ternyata tadi malam telah turun hujan. Terlihat dari jalanan yang basah, dan ada genangan di sepanjang jalan.

**

Di sisi lain.

Seorang pria sedang membetulkan jasnya. Ia terlihat begitu tampan, tetapi sayang sampai saat ini belum menemukan tambatan hati. Bukan karena tidak laku atau tidak ada yang mau, tetapi memang ia belum memikirkan sampai sejauh itu.

Dia – Alan Danar. Seorang direktur muda, dan sukses. Tengah memimpin perusahaan milik keluarga, ia dipercaya untuk mengelolanya. Sebetulnya Alan tidak terlalu menyukai pekerjaannya saat ini. Sebab ia lebih suka kehidupan yang bebas, dan tidak banyak aturan. Karena terpaksa, Alan harus melaksanakan ini semua demi kedua orang tuanya.

“Alan,” panggil seorang pria paruh baya yang sering dipanggil Papa.

“Ada apa, Pa?”

“Kamu sudah tahu ‘kan kalau lusa ada pertemuan dengan klien?”

Alan menganggukkan kepalanya, “Sudah, Pa. Alan sudah mengatur jadwal untuk itu.”

“Bagus kalau begitu.” Toni kembali mengoleskan selai di atas roti yang berada di tangannya.

“Sarapan dulu, Sayang,” ujar Tiwi – mama Alan.

“Nanti saja, Ma. Alan bisa sarapan di kantor.” Alan pergi meninggalkan mereka.

Sebagai direktur utama, membuat dirinya harus tahu segala hal. Yang terkadang membuat kepalanya terasa berdenyut. Saat ini Alan hendak pergi ke kantor, sebab banyak sekali pekerjaan yang menunggunya. Apalagi lusa ia harus menemui klien di hotel, membuatnya harus tidur malam untuk menyiapkan presentasi.

Sampainya di kantor, Alan berjalan masuk. Para karyawan menyambutnya dengan senyuman. Sudah menjadi tradisi jika pagi hari, maka para karyawan wajib menyambut kedatangan Alan. Seperti biasa Alan tersenyum ramah, membuat semuanya merasakan senang memiliki pemimpin yang tidak sombong ataupun kejam.

“Selamat pagi, Pak Alan,” sapa Dino.

“Pagi. Tolong siapkan ruangan untuk pertemuan nanti siang.”

“Baik, Pak.”

Alan pergi berlalu menuju ruangannya. Terlihat ruangan yang rapi nan bersih, Alan tidak menyukai sesuatu yang kotor. Ia kemudian duduk di kursi putar miliknya dan mulai membuka laptop. Tidak lama kemudian, datanglah seorang wanita dengan tergesa-gesa. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, wanita itu masuk begitu saja. Alan yang sadar langsung menoleh, ia mendengus pelan.

“Alan, kamu ke mana saja? Semalam aku coba untuk menghubungi kamu tapi tidak bisa. Terus aku juga sudah kirim pesan tidak kamu balas,” ujar wanita itu.

“Aku sedang sibuk, sekarang lebih baik kamu keluar.”

Wanita itu adalah Abel, mantan kekasih Alan yang terus saja mengejarnya walau sudah mendapat banyak penolakan. Wanita mana yang akan rela jika kehilangan pria sempurna seperti Alan. Abel berjalan mendekati Alan, lalu ia menepuk pundak pria tersebut sambil tersenyum ke arahnya.

“Abel, aku sudah bilang kalau aku tidak bisa diganggu.”

“Tapi, aku rindu kebersamaan kita, Lan. Aku rindu tentang kita berdua.” Abel mengedipkan sebelah matanya.

Alan memijat pelipisnya dan menghela nafas sejenak, “Apa perlu aku panggilkan satpam agar menunjukkan jalan keluar?”

Abel kini mengerucutkan bibirnya kesal. Begitu kejam Alan mengusir dirinya. Padahal Abel hanya ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Alan. Semua ini memang salah Abel, karena ia telah mengkhianati Alan sehingga membuatnya susah untuk kembali kepelukan pria itu lagi.

“Kamu belum maafkan aku?” tanya Abel sambil memasang mata yang berkaca-kaca.

“Abel. Harus berapa kali aku bilang? Kalau aku tidak ingin menjalin hubungan lagi. Lebih baik sekarang kamu keluar dari ruangan aku, atau satpam yang akan menyeretmu.” Alan tersulut emosi karena jengah dengan perkataan Abel.

Abel tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena kemarin ia sempat dibuat malu oleh Alan di depan semua karyawannya. Kali ini Abel pergi begitu saja, walau dengan perasaan kesal. Alan kembali menatap layar laptopnya. Ia sudah penat dengan semua wanita yang mendekatinya hanya karena harta saja. Beberapa saat kemudian, ada yang mengetuk pintu ruangan. Kemudian Alan berteriak dan mempersilahkannya untuk masuk. Ternyata yang datang adalah Dino, ia membawa beberapa berkas yang berada di tangannya.

“Ini yang perlu anda tanda tangani, Pak,” ucap Dino sambil meletakkan berkas itu di atas meja.

“Baiklah. Oiya ruangan untuk pertemuan sudah selesai?”

“Sudah, Pak. Itu sudah selesai semuanya.”

“Oke, kamu memang bisa diandalkan.”

Dino membalas dengan senyuman.

Siang ini Alan akan bertemu dengan perusahaan lain. Lebih tepatnya PT. Abadi Jaya. Hari sudah siang, dan sekarang adalah waktunya Alan untuk meeting. Ia berjalan dengan ditemani oleh Dino, karena dia lah yang selama ini mengurus semua keperluan yanga Alan perlukan.

“Selamat siang, Pak Lukman.” Alan mengulurkan tangannya dan dibalas dengan hangat.

“Siang, Alan. Wah, masih muda sudah menjadi direktur utama,” puji Lukman.

“Terima kasih, Pak. Sekarang kita mulai saja meeting ini.”

Lukman mengangguk setuju. Kali ini mereka akan membicarakan soal perumahan yang akan dibangun di pinggir kota. Tidak terlalu mewah, karena perumahan itu akan dipergunakan oleh masyarakat menengah kebawah yang masih belum memiliki tempat tinggal. Meeting berjalan dengan mulus, selama kurang lebih satu jam. Lukman dan Alan saling berjabat tangan, menyetujui kerjasama antar perusahaan.

**

Sedari tadi Adinda berkutat dengan layar ponselnya, walau sebagai staff biasa tetapi Adinda sering kali diberi tugas yang berat. Dan tidak berada pada bidang yang ia geluti, tetapi Adinda menerima semua itu dengan ikhlas. Sebab, tujuan utama ia bekerja adalah untuk mandiri dan tidak bergantung kepada kedua orang tuanya.

“Hei! Kau, kerjakan ini,” suara seorang wanita cukup nyaring menusuk sampai gendang telinga Adinda.

“Tapi, Bu, perkerjaan saja masih banyak. Apa tidak sebaiknya yang lain saja?”

“Saya mau kamu yang kerjakan ini, kenapa jadi kamu yang mengatur saya seperti ini?”

Adinda diam saja, karena tidak mungkin ia melawan atasannya yang bernama Lara itu. Memang Lara terkenal dengan kejam, tidak ada ampun bagi karyawan yang melawan perintahnya. Maka dari itu Adinda selalu menuruti apa yang Lara perintahkan. Jika tidak karena uang, Adinda sudah sejak lama keluar dari perkerjaan itu. Lara sudah pergi, dan sekarang tinggal Adinda yang menatap kesal ke arah berkas yang ada di atas meja kerjanya.

“Kenapa harus aku? Bukan bagianku juga,” gerutu Adinda.

Setiap harinya Adinda melakukan pekerjaan yang menguras tenaga. Tanpa sadar sekarang perutnya sudah berbunyi. Ia baru sadar kalau sedari tadi belum makan apa pun. Adinda menutup layar laptopnya, ia memutuskan untuk pergi mencari makan. Kebetulan jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Adinda akan pergi ke sebuah warung makan langganannya, bukan café ataupun resto. Tapi sebuah warung makan biasa, yang tidak ada kemewahan di sana. Tapi Adinda nyaman makan di sana, sebab penjualnya yang ramah dan selalu membantu Adinda.

Sampainya di sana, Adinda langsung saja memesan makanan dan minuman. Perutnya sudah tidak sabar untuk menerima makanan agar tidak berbunyi lagi. Tempat itu memang selalu ramai oleh pekerja yang memutuskan untuk mengisi perut mereka.

“Tumben tadi pagi tidak mampir dulu, Neng,” ujar Ibu Penjual.

“Iya, Bu, tadi terburu-buru jadi tidak sempat mampir.”

Ibu Penjual menjawab dengan anggukan kepala.

**

Bersambung.

Bab 3

Adinda makan dengan begitu lahap, karena sudah tidak bisa ditahan lagi rasa lapar yang menyerangnya. Suasana warung makan cukup ramai, apalagi oleh pasangan yang sengaja datang hanya untuk makan siang. Memang tidak bisa dipungkiri jika makanan di sana terasa menggoyang lidah siapa saja yang melahapnya. Setiap bahan makanan bersatu padu bersama dengan bumbu yang dibalutkan menjadi persatuan yang melezatkan.

“Ini minumnya Neng,” ujar Ibu Penjual sambil meletakkan minuman dingin tepat di depan Adinda.

“Terima kasih, Bu.”

“Iya sama-sama. Oiya, pacarnya tidak dibawa?”

Ibu Penjual selalu saja menanyakan hal itu. Bukan hanya dia, tetapi semua orang. Membuat kepala Adinda terasa pusing, dan menjadi beban tersendiri. Tetapi Adinda tidak terlalu menonjolkan, umurnya memang sudah cukup untuk memiliki pasangan hanya saja ia yang belum siap mengarungi bahtera rumah tangga.

“Lagi pergi, Bu.” Adinda menjawab asal.

“Pergi ke mana? Kenapa tidak menemani?”

“Pergi jalan-jalan.”

“Dengan siapa?” Ibu Penjual tampak antusias.

“Dengan kekasihnya.”

Ibu Penjual menyernyitkan dahinya bingung sambil menggaruk kepalanya walau tidak gatal, “Kekasihnya? Kenapa bisa begitu?”

“Iya, ‘kan jodoh aku lagi dijagain sama wanita lain, Bu.”

Mendengar hal itu membuatnya tertawa. Adinda menanggapi dengan senyum tipis. Itu adalah jawaban andalan yang selalu saja Adinda lontarkan jika ada yang bertanya seperti itu. Karena banyak pengujung membuat Ibu Penjual harus segera kembali ke pekerjaannya. Sementara Adinda kembali melahap sisa makanan yang masih ada di atas piring. Sekarang perutnya sudah terasa kenyang, dan tidak terasa perih lagi. Saat ini Adinda bisa berpikir dengan tenang.

Saat ia hendak pergi, tiba-tiba seorang pria datang langsung duduk di tempat Adinda berada. Awalnya ia tidak menanggapi, tetapi pria itu membuat Adinda menghentikan niatnya untuk pergi.

“Ibu, maaf ini piring kotor tolong disingkirkan saja,” teriak pria itu.

“Ya anda saja yang duduk di tempat lain,” sahut Adinda.

Pria itu menoleh dan menatap intens, “Terserah saya, mau duduk di mana saja.”

Ternyata pria itu adalah Alan. Tetapi ia tidak mengenakan jas, melainkan baju biasa berwarna abu-abu. Memang Alan lebih nyaman berpenampilan seperti ini, karena menurutnya memakai jas hanya akan membatasi geraknya.

“Sombong sekali,” gerutu Adinda.

Alan diam saja tidak menjawab apa-apa.

Kemudian Ibu Penjual datang dan membersihkan semuanya. Adinda masih berdiri tepat di samping Alan. Karena ada sesuatu yang ia lupakan. Dahinya mengkerut, dan mata yang menyidik berusaha untuk mengingat kejadian yang telah ia lewati. Tampilan yang tidak masuk dalam kriteria pria yang diinginkan oleh Adinda, jauh dari standar yang telah ia tetapkan untuk calon pasangannya. Setelah beberapa saat mengingat, akhirnya Adinda ingat akan sesuatu. Alan adalah pria yang kemarin hampir tertabrak oleh mobil miliknya.

“Kau itu pria yang kemarin hampir menabrak mobil saya.” Adinda meninggikan suaranya.

“Menabrak? Bukannya anda yang akan menabrak tubuh saya.”

Wajah Alan yang tidak berekspresi membuat Adinda gemas serta kesal, “Ya, kau itu menyebrang tidak lihat kanan dan kiri.”

“Tapi anda juga sudah melajukan mobil terlalu kencang.”

Adinda melipat kedua tangannya tepat di dada. Perseteruan mereka berlanjut, Adinda tidak mau kalah. Dan menganggap kalau Alan itu salah, begitupun dengan Alan yang tak berhenti membela dirinya. Dan beranggapan kalau semua itu adalah salah dari Adinda. Mendengar ada keributan, segara Ibu Penjual menghampiri dan merelainya.

“Sudah, apa kalian tidak malu dilihat oleh orang?” ucap Ibu Penjual.

Adinda menengok ke kiri dan ke kanan. Rupanya benar apa yang dikatakan oleh Ibu Penjual. Semua pasang mata sedang menyaksikan perdebatan mereka.

“Bukannya meminta maaf malah menyalahkan saya,” lanjut Adinda.

Ia kemudian pergi begitu saja, meninggalkan Alan dan Ibu Penjual yang masih saling diam. Adinda pergi dengan hati yang kesal, ia tidak berhenti bergerutu di dalam hatinya. Sedangkan Alan acuh, dan tidak memperdulikan hal itu lagi.

“Maaf, ya, Mas. Dia memang begitu, jutek. Tapi aslinya baik, dan lembut.” Ibu Penjual merasa tidak enak hati, karena ia tahu kalau Alan adalah anak dari pemilik perusahaan besar.

“Tidak masalah, Bu. Dia saja yang begitu.”

“Sekali lagi saya meminta maaf, tapi dia selalu baik terhadap saya, Mas.”

Alan menjawab dengan deheman. Lalu melanjutkan makan siangnya. Sementara di kejauhan, Adinda menutup pintu mobil dengan sangat kencang. Perasaannya hancur seketika hanya karena berdebat dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal. Adinda meraih ponselnya, sudah ada banyak pesan dari ayahnya.

Adinda membuka pesan yang isinya memerintahkan agar ia pulang ke rumah. Karena sebentar lagi, Adinda akan dijodohkan dengan pria pilihan sang ayah. Mood Adinda semakin tidak karuan.

“Kenapa harus dijodohkan? Memangnya tidak ada pria yang ingin menjadi pasanganku?” gumam Adinda dalam hati.

Adinda terdiam sejenak, ia berusaha menggunakan otaknya untuk berpikir jalan keluar. Namun, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk mencari pacar sewaan. Tetapi ia berpikir kembali resiko yang akan ia terima jika ayahnya mengetahui.

“Pacar sewaan? Apa ada seperti itu di zaman sekarang?” Adinda bertanya-tanya.

Ia menepis jauh-jauh pikiran seperti itu. Dan lebih focus dengan pekerjaan yang menanti di kantor. Jika ingat akan pekerjaannya, ingin rasanya Adinda tenggelam dari dunia ini. Apalagi harus menghadapi bos yang kejam serta tidak memiliki hati nurani.

**

Tidak terasa hari sudah petang. Matahari sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat. Serta memancarkan warna jingga yang selalu dinantikan oleh banyak orang sebagai obyek foto selfie. Adinda mengendarai motornya menuju rumah Chika. Sampainya di rumah, ia segera turun dan berjalan masuk. Ternyata Chika sudah lebih dulu pulang, dan telah membersihkan tubuhnya.

“Kamu baru pulang?” tanya Chika sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.

“Ya, seperti biasa. Pekerjaan menumpuk, karena tidak mau lembur. Alhasil aku bawa ke rumah.

“Kasihan sekali. Coba saja kamu mau berkerja di perusahaan ayahmu, pasti dapat jabatan yang tertinggi.”

Adinda menghela nafas kasar, “Kamu sudah tau bukan, apa tujuanku mencari kerja di tempat lain?”

Chika mengangguk faham, ia sudah kenal dengan sifat Adinda yang keras kepala dan tidak bisa diubah pendirian jika sudah menetapkan suatu keputusan.

“Ya sudah, aku mau mandi dulu. Sudah terasa lengket sekali tubuhku ini.” Adinda melenggangkan langkah kakinya menuju kamar mandi.

Chika duduk sambil menonton televisi. Kebetulan ia telah membeli beberapa camilan dari supermarket. Tak berapa lama, Adinda keluar dengan pakaian yang sudah berganti. Ia menghempaskan tubuhnya tepat di samping Chika dan menyabet camilan yang ada di tangan sahabatnya itu.

“Kebiasaan,” oceh Chika.

“Tidak apa, sedikit saja. Lagian berbagi dengan sahabat itu ‘kan indah?”

Chika memutar bola matanya malas. Kalau bukan Adinda, pasti ia akan melahap habis.

Mereka berdua menikmati senja bersama-sama dengan menonton sinetron yang mereka sukai. Banyak sekali persamaan diantara mereka. Mulai dari : makanan, minuman, sinetron, pakaian, bahkan sampai make up. Maka tidak jarang jika mereka sering dijuluki kembar sejak masih duduk di bangku kuliah. Adinda dan Chika senang dengan sebutan yang disematkan kepada mereka. Karena hal itu membuat hubungan mereka semakin erat, dan sudah menganggap seperti keluarga sendiri.

Dengan santai Adinda maupun Chika menikmati camilan, sampai tidak sadar kalau sudah habis. Adinda merogoh bungkus camilan itu, dan tidak menemukan makanan di dalamnya.

“Sudah habis,” ujar Adinda memasang wajah kecewa.

“Nanti beli saja lagi. Tapi pakai uangmu, hehehe.”

Adinda mendengus kesal, “Aku belum gajian. Kamu saja yang sudah turun uang gajihannya.”

**

Bersambung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED