Bab 1

"Innalillahi wa innalillahi rojiun. Maaf, Bu, Pak, Pak Rangga sudah tiada," ucap dokter setelah memeriksa Rangga.

Bak disambar petir, tangis Vania pecah saat itu juga. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu, berteriak histeris. Ia tidak menyangka, bahwa suaminya akan berpulang secepat itu. Padahal, tadi pagi, sebelum berangkat bekerja, ia baik-baik saja, malah Vania sempat bermesraan dengan suami tercintanya. Tapi, maut tak memandang waktu dan usia. Rangga mengalami kecelakaan yang membuatnya harus kehilangan nyawa. Siap tidak siap, Vania akan menjadi janda dan Ryan akan menjadi anak yatim.

"Mas Rangga ...!"

"Mas Rangga, bangun, Mas. Kumohon." Vania mengguncang tubuh Rangga yang sudah tak bernyawa. "Jangan tinggalkan aku dan Ryan, Mas. Ryan masih membutuhkanmu."

Adi dan Nitta-orang tua Rangga turut meneteskan air mata. Mereka telah kehilangan sang putra tercinta. Putra yang selama ini mereka banggakan. Putra yang mereka besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang.

"Kalau begitu, saya permisi," ucap dokter lagi.

Vania menatap sendu jasad Rangga yang sudah terbujur kaku. Tak ada lagi kembang kempis napas, tak ada lagi gerakan tubuh, netra pria yang telah menemani hidupnya selama beberapa tahun itu sudah tertutup rapat. Tak bisa lagi diajak bicara. Tak akan ada lagi tawa canda dan senyuman pria itu. Tak akan ada lagi dua tangan yang selalu mengusap air matanya dikala bersedih.

“Nggak! Ini nggak mungkin! Pasti aku cuman mimpi.” Wanita itu menampar pipi dengan kedua tangannya sendiri beberapa kali. Berusaha menyadarkan diri kalau ini hanya sebuah mimpi buruknya.

“Nggak, Sayang. Rangga udah nggak ada. Kita harus kuat demi Ryan.” Nitta menatap Vania sendu.

“Nggak, Ma! Mas Rangga nggak mungkin meninggal!” teriak Vania.

“Kuatkan hatimu, Nak. Kamu masih punya tanggungan. Kamu masih punya Ryan yang membutuhkan kasih sayangmu.” Nitta memeluk menantunya, berusaha menguatkan.

***

Jenazah Rangga sampai di rumah duka, disambut isak tangis keluarga. Orang-orang pun berdatangan untuk melayat. Beberapa di antaranya sibuk mengurus persiapan pemakaman.

Sebuah mobil xpander terparkir di depan halaman rumah berlantai satu itu. Pemiliknya turun, melewati beberapa warga, dan memasuki rumah. Mengenakan kemeja dan kacamata hitam. Ia tampak gagah dengan cara berjalan yang tegap. Dari wajah dan penampilannya, ia 90% mirip dengan Rangga. Hanya saja, ia lebih tinggi dari Rangga. Kulitnya putih bersih dengan hidung yang mancung.

"Papa?" lirih Ryan. Bocah berusia enam tahun itu melihatnya. "Itu pasti Papa."

Ryan segera menghapus air matanya. Vania yang berada di sampingnya, merasa heran. Papa mana yang Ryan maksud? Bukankah papanya sudah tiada dan saat ini jenazahnya belum dikebumikan? Lalu, papa mana yang Rian maksud?

"Papa mana, Ryan? Papa kamu udah nggak–" Belum sempat Vania melanjutkan ucapannya, Ryan sudah berlari menghampiri pria itu.

"Papaaa...!" Bocah itu langsung memeluk pinggang pria yang belum ia kenal itu.

Semua orang yang berada di sana turut bersedih melihat kejadian itu. Bocah sekecil Ryan harus ditinggal pergi oleh ayahnya. Sampai-sampai menganggap orang lain sebagai sang ayah. Ia menganggap bahwa Rangga masih hidup.

"Pa, papa nggak jadi pergi, kan? Jangan tinggalin Ryan, Pa," tangis Ryan. Ia semakin mengeratkan pelukan.

Pria yang Ryan peluk hanya diam membisu. Mungkin, ia bingung kenapa anak kecil itu tiba-tiba datang dan langsung memeluk. Merasa tidak enak, Vania berjalan cepat dan menghampiri mereka.

"Ryan, itu bukan papamu. Lepasin, Ryan!" Vania berusaha melepaskan tangan Ryan yang melingkar di pinggang si pria.

Namun, Ryan malah semakin mengeratkan pelukan. "Nggak! Ini papanya Ryan, Papa Rangga!" teriaknya histeris.

"Papa Rangga belum mati. Papa Rangga masih hidup. Ini dia."

Pria itu perlahan berjongkok. Kini posisinya berhadapan dengan Ryan. Ia membuka kaca mata hitamnya. Dari sorot matanya, ia seperti Rangga.

"Dek, ini om bukan papa kamu. Panggil om, Om Rendy," ucapnya lirih seraya membelai rambut Ryan pelan.

"Nggak. Ini bukan Om, tapi Papa Rangga," balas Ryan lirih. Netranya berkaca-kaca menatap si pria.

Mengembuskan napas kasar, pria itu kini memegang pundak Ryan. "Baiklah, kamu boleh manggil papa. Tapi, jangan nakal, ya?" Pria itu mengacungkan jari kelingkingnya.

"Oke, Papa." Sedetik kemudian, wajah Ryan yang semula murung kembali ceria.

Vania melongo melihat keakraban Ryan dan pria yang tak dikenalnya. Dari arah lain, Nitta datang menghampiri pria itu. Wajah wanita berusia 45 tahun itu tersenyum. Netranya berkaca-kaca.

"Akhirnya kamu pulang juga, Nak," ucapnya lirih.

"Iya, Ma. Maafin Rendy." Pria yang diketahui bernama Rendy itu mencium punggung tangan ibunya takzim.

'Ternyata Mas Rendy. Ya, dia Mas Rendy, mukanya mirip Mas Rangga,' batin Vania.

"Pa, nanti kita main, ya!" pinta Ryan.

Ajakan Ryan berhasil membuat Nitta terkejut. Ia memanggil putra sulungnya dengan panggilan 'Papa'. Nitta memandang Rendy, meminta kejelasan. Vania yang berdiri di samping mertuanya mengedipkan mata, memberi kode.

"Iya, Sayang. Nanti kita main mobil-mobilan," balas Rendy tersenyum ramah.

***

Jenazah Rangga sudah dikebumikan. Para warga sudah pulang ke rumah masing-masing. Yang tersisa hanya Vania, Rendy, dan ibu mertuanya-Nitta. Ryan sudah pulang terlebih dahulu dengan kakeknya. Vania masih belum berhenti menangisi kepergian suaminya. Laki-laki baik yang telah menemani hidupnya selama bertahun-tahun.

"Sudahlah, Vania. Jangan menangis, biarkan Rangga tenang di alam sana." Nitta memeluk Vania, mengusap punggung wanita muda itu.

"Gimana aku nggak nangis, Ma. Aku udah ditinggalin Mas Rangga, suami yang paling aku cintai. Mas Rangga sudah pergi, Ma. Dia nggak akan pernah kembali lagi." Vania menangis tersedu-sedu. Tangan mulusnya memegang nisan bertuliskan nama Rangga.

Lagi-lagi, Nitta menitikkan air mata. Wanita berkerudung putih itu bangkit, kemudian mendekat ke arah putra sulungnya. "Rendy, apa nggak sebaiknya kamu nikahi aja Vania? Kasihan dia dan Ryan. Toh kamu juga kan masih saudara Rangga. Malah Ryan udah anggap kamu sebagai papanya," tanya Nitta.

Rendy membuang napas kasar. Memang, saat ini ia bermasalah dengan hubungan percintaannya. Kekasihnya ketahuan berselingkuh dengan teman dekatnya. Belum tenang pikiran, ia sudah dihadapkan pada permintaan sang mama, menikahi Vania.

"Apa ini nggak terlalu cepat, Ma? Nanti aku pikir-pikir dulu, ya, Ma?" ujarnya, meminta waktu.

"Ya sudah, kalau begitu. Harapan mama, semoga kamu mau menikah dengan Vania," balas Nitta.

Di tempat lain, agak jauh dari pemakaman Rangga, sepasang mata menatap ketiga orang itu. Seorang pria berperawakan tinggi, mengenakan kaca mata hitam. Sudut bibir pria itu sedikit terangkat, tersenyum sinis. Ia bersembunyi di balik semak-semak.

"Mampus kau, Rangga! Itulah akibatnya kalau kamu merebut gadis pujaanku. Vania milikku. Ya, dia harus menjadi milikku," ujarnya lirih. Tak lama kemudian, ia pergi, tak ingin ada orang lain yang melihatnya.

"Vania, sudahlah. Ayo kita pulang, kasihan Ryan. Pasti dia sudah lama menunggu kita," ajak Nitta lagi.

Kali ini, Vania mengangguk. Ia perlahan bangkit, lalu pulang bersama Nitta dan Rendy. Semilir angin menerpa pakaian ketiga orang itu, menghapus keringat yang bercampur dengan air mata.

***

Di tempat lain, pria yang berperawakan dan berkaca mata hitam tadi sampai di rumahnya. Ia turun dari mobil, membuka kaca mata hitamnya, bergegas memasuki rumah. Sampai di dalam, sang istri menyambutnya ramah.

“Mas, akhirnya kamu pulang juga. Aku punya kabar bagus buat kamu,” ujar istrinya.

“Kabar bagus apa?” Pria itu mengernyitkan dahi.

“Aku .....” Sang istri menggantung ucapannya, sengaja membuat pria itu penasaran.

‘Aku hamil, Mas. Aku yakin, kamu pasti seneng kalau denger aku hamil,’ batinnya.

Tiba-tiba ponsel si pria berdering. Ia langsung meraih ponsel di saku kemejanya, berjalan ke luar rumah. Istri si pria hanya tersenyum kecut.

“Gini nih biasanya kalau lagi ada telepon. Suka menghindar, main rahasia-rahasiaan sama aku, jangan-jangan dia lagi nelpon si Frida j*l*ng itu lagi,” gumamnya.

Tertera nama seseorang yang pria itu kenal di layar ponselnya. Ia mengangkat telepon.

“Hallo, Bos. Kita udah ngelakuin apa yang lu perintahin. Sekarang gua mau lu bayar upah yang lu janjiin buat kita.” Terdengar suara seorang laki-laki dari seberang.

“Bagus. Soal bayaran, lu gak usah khawatir. Gua pasti bayar. Sekarang juga bisa, lu pada datang aja ke ruko kosong Pak Haris. Nanti gua juga ke sana,” ujar si pria itu, lalu menutup telepon.

Tak lama kemudian, si pria berpamitan kepada istrinya. Ia bergegas pergi ke tempat yang ia sebutkan kepada si penelepon. Tampak di sana ada empat orang yang tengah menunggu kehadirannya.

“Gimana bayarannya, Bos?” Rio–salah satu orang bayaran pria itu menadahkan sebelah tangannya.

“Lu semua tenang aja. Ini, gua bawa uang buat kalian,” sahut si pria seraya mengeluarkan amplop coklat berisi uang.

Dengan segera, Rio menyambar amplop berwarna coklat itu. Ia mengeluarkan isinya, beberapa lembar uang berwarna merah kini berada di tangannya. Rio mencium uang itu.

“Beres nih, Bos. Kalau butuh bantuan lagi, jangan sungkan hubungin gua sama anak-anak lagi, ya, Bos. Kami akan selalu siap bantu Pak Bos,” ujar Rio.

“Oke. Tapi ingat, kalian harus tutup mulut. Jangan sampai ada satu pun orang lain yang tahu, termasuk istri gua,” ujar pria itu.

“Bos tenang aja. Kalau soal itu, kita pasti nggak akan cerita ke siapa pun,” ujar salah satu anak buah Rio.

“Bagus. Artinya, sekarang aku udah nggak punya penghalang lagi. Berani kau menolakku Vania, kau terima akibatnya!” Sedetik kemudian bibir pria itu terangkat, tersenyum sinis.

Bab 2

“Ren, kemarin gue liat si Selvy sama si Reza di kafe. Mereka ngobrol mesra-mesraan gitu, pake manggil sayang lagi,” lapor Agus–teman kantor Rendy.

“Ah, masa? Jangan fitnah lu, Gus. Ntar dosa.” Rendy tak langsung percaya begitu saja.

“Fitnah matamu! Serius gua, Ren. Gua nggak lagi becanda,” ucap Agus, memasang ekspresi serius.

Rendy malah membuang muka. Mengembuskan napas kasar, Agus kemudian berkata lagi, “Oke deh. Kalau lu nggak percaya, lu datang aja ke Hotel Cendana. Gua denger mereka mau ketemuan di sana. Si cowoknya udah booking hotel. Kayaknya mau ... anu-anuan deh.”

Agus memberi kode dengan kedua tangannya kepada Rendy. Dengan cepat, Rendy menepis pikiran buruk itu. “Hus! Nggak mungkin. Selvy itu gadis baik. Mana mungkin dia ngelakuin hal-hal kayak gitu,” ucapnya.

“Makanya, nanti lu buktiin sendiri. Lu bisa buktiin ucapan gua, ya. Kalau lu minta anter, gua bersedia nganter lu ke hotel itu. Jadi laki tuh jangan bodoh, Ren. Bisa-bisanya lu ketipu sama tampang polos si Selvy.” Agus berusaha meyakinkan.

“Oke, Bapak Agus terhormat. Nanti akan gua buktiin kalau Selvy nggak salah,” ucap Rendy akhirnya.

Rendy yang penasaran pun, pergi ke hotel Cendana berbekal rekaman Selvy dan selingkuhannya yang diberikan Agus. Isi rekaman itu ialah alamat hotel dan nomor kamar yang akan mereka tempati. Setelah menanyakan kepada petugas, Rendy menuju ke kamar no. 2411.

Pria itu berhenti tepat di depan pintu. Suara desahan terdengar, menandakan kalau di dalam ada dua insan yang tengah memadu kasih. Mengembuskan napas kasar, hatinya berdebar-debar. Sanggupkah ia menerima kenyataan pahit kalau yang di dalam kamar itu benar Selvy dan Reza–sahabat SMPnya?

Sebisa mungkin, Rendy menenangkan hatinya. Ia membuang pikiran buruk tentang Selvy. Perlahan, ia mengetuk pintu. Namun, tak ada respon. Berkali-kali pintu diketuk juga tak ada respon. Akhirnya, Rendy membuka pintu kamar itu yang kebetulan tidak dikunci.

Betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan yang menjijikkan itu.

“Astagfirullahalazim, Selvy!” seru Rendy dengan netra yang membulat. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

Sontak Selvy dan Reza terkejut dengan kedatangan Rendy yang tak diundang. Kedua insan yang tidak mengenakan sehelai kain itu pun refleks menutupi tubuh mereka dengan selimut. Dengan hati yang terluka, Rendy memberanikan diri masuk ke dalam ruangan itu.

“Ternyata ini yang kamu lakukan di belakangku, kamu bermain api dengan sahabatku sendiri, Selvy! Aku kecewa sama kamu!” Rendy menatap Selvy dengan pandangan yang berapi-api.

“Mas, a-aku bisa jelasin–“ ucap Selvy terbata-bata.

“Cukup, Selvy! Aku nggak mau mendengar penjelasan apa pun dari kamu!” Sedetik kemudian, pandangan Rendy beralih kepada Reza. “Dan kamu, Reza! Ambil perempuan j*l*ng ini, aku udah nggak butuh. Mulai hari ini, aku dan kalian nggak ada hubungan apa-apa!”

Pertengkaran antara mereka bertiga berhasil mencuri perhatian orang-orang. Banyak orang yang mengambil foto-foto mereka untuk di–viralkan. Rendy membalikkan badan, meninggalkan kedua pasangan b*j*t itu. Ia segera keluar dari hotel itu.

Rendy tak habis pikir kepada Selvy, gadis manis yang dia kenal baik hati dan polos itu ternyata bisa berbuat hal yang jelas-jelas dilarang. Awal mula pertemuannya dengan gadis itu ialah ketika dirinya tanpa sengaja menyerempet gadis itu saat akan menyeberangi jalan raya. Sebelumnya, dia hanya mengenal namanya saja, karena kerap menjadi bahan pembicaraan kaum laki-laki. Selvy terkenal karena kecantikannya.

Setelah menolong, Rendy mengajak berkenalan. Mereka saling bertukar nomor whatsapp, berkirim pesan. Hari-hari mereka lewati bersama. Rasa penat usai pulang bekerja hilang begitu saja. Lama-kelamaan rasa cinta hadir begitu saja di hati Rendy. Suatu ketika dia menyatakan cintanya langsung kepada Selvy dan beruntungnya gadis itu menerima Rendy.

Rasa ingin memiliki mulai singgah di hati. Dia sudah mantap, akan segera melamar dan menikahi Selvy. Rendy tak ingin berlama-lama pacaran karena takut hal yang sudah berlalu terulang kembali. Yap, jauh sebelum mengenal Selvy, dia pernah memiliki hubungan dengan wanita lain yaitu Aulia. Mereka berhubungan sudah lama, yakni sejak mereka duduk di bangku kelas 2 SMA. Namun, takdir memisahkan mereka. Aulia dijodohkan oleh kedua orang tuanya yang pada akhirnya mau tidak mau hubungan mereka kandas.

Membutuhkan waktu yang cukup lama baginya untuk melupakan kenangan indah yang dia ukir bersama Aulia. Saat dia sudah ‘sembuh’, menemukan tambatan hatinya yang baru, saling berjanji untuk sehidup semati, dia malah dikecewakan oleh kenyataan. Selvy diam-diam menjalin hubungan di belakangnya, bersama Reza–sahabat SMP yang bekerja satu kantor dengannya dan mempunyai jabatan yang lebih tinggi.

"Ren!" Panggilan Nitta berhasil membuyarkan lamunan Rendy.

"Eh, iya, Ma. Ada apa?" Rendy merespon secepat mungkin.

"Ada yang mau Mama dan Papa omongin sama kamu, penting. Ayo, ikut Mama ke ruang keluarga," ajak Nitta.

"Iya," balas Rendy seraya mengangguk.

Nitta berjalan ke ruang keluarga, diikuti Rendy. Di sana, sudah ada papanya. Hati Rendy berdebar, hal apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tuanya?

"Rendy, duduk!" titah Adi.

Rendy pun duduk di salah satu kursi. Nitta duduk di samping putranya.

"Ada apa, ya, Ma, Pa? Kok manggil Rendy ke sini?" tanyanya, memandang Adi dan Nitta bergantian.

"Begini Rendy, tadi papa sama mama udah berunding soal kamu." Adi memulai pembicaraan. Rendy menatap sang ayah dengan tatapan serius.

"Kami sepakat menjodohkan kamu sama Vania," lanjutnya.

"Gimana? Kamu mau kan menikahi Vania?" tanya Nitta, ia berharap putranya itu mau.

Rendy terdiam sejenak. Ia baru saja disakiti kekasih yang amat dicintainya. Ingin menenangkan hati, ia malah diminta menikahi Vania.

Sebenarnya, Rendy tidak mencintai Vania. Tapi, kala mengingat Ryan, ia tak tega. Ia sangat menyayangi keponakannya. Menarik napas panjang, Rendy berkata, "Oke, Ma, Pa. Aku mau menikahi Vania. Tapi, nanti setelah masa idahnya habis."

'Nggak papa aku nikah sama Vania karena cuma dengan menikahi Vania rasa sakit hatiku bisa terobati. Aku akan berusaha mencintainya. Aku akan berusaha melupakan Aulia dan Selvy.' Rendy membatin.

Bab 3

Beberapa hari sepeninggal Rangga

Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Hujan deras yang mengguyur daerah Vania tinggal belum jua reda. Pun dengan air mata Vania yang terus saja mengalir. Tiada hari tanpa tangisan. Pertanyaan demi pertanyaan dari warga berhasil membuatnya ingat kepada Rangga, semakin membuat wanita itu bersedih.

Menatap salah satu foto yang berbingkai, Vania mengambil dan memeluk foto itu. Foto Rangga ketika menikah dengannya, mengenakan jas dan peci juga dasi.

“Mas Rangga, pasti sekarang kamu udah tenang di alam sana,” gumam Vania.

Memejamkan mata, Vania merasakan ada angin yang sangat dingin mengenai tubuh. Saat ia membuka matanya kembali, gorden kamar tersibak angin. Di balik gorden itu, Vania melihat ada bayangan seseorang entah siapa. Karena penasaran, ia memberanikan diri mendekati gorden.

Kriettt!

Gorden disingkapkan, tetapi Vania tidak menemukan siapapun. Hanya rintik hujan disertai kilatan petir yang menambah horor suasana. Bergegas Vania menutupnya kembali.

Baru saja ia akan berbalik, Vania dikejutkan dengan bayangan yang berpindah-pindah cepat di balik gorden. Saat ia akan mendekati, terdengar suara Ryan menangis. Gegas Vania keluar kamarnya, masuk ke kamar Ryan.

“Ryan? Ada apa, Sayang? Kok kamu nangis?” tanya Vania seraya memeluk putranya.

“Mama ... ada hantu,” rengek Ryan.

“Apa? Hantu? Mungkin kamu berhalusinasi, Ryan. Di sini nggak ada hantu.” Vania berusaha meyakinkan, walaupun dirinya juga merasa ketakutan setelah melihat bayang-bayang itu.

“Beneran, Ma. Tadi ada hantu di jendela itu.” Ryan menunjuk ke salah satu jendela kamarnya.

“Nggak ada apa-apa. Sudah, tidur. Sekarang udah malam. Ayok, Mama temenin,” ajak Vania.

Ryan pun menurut. Ia merebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang, bersebelahan dengan sang mama. Vania memejamkan mata, tapi ia tak ingin tidur. Ditatapnya Ryan, bocah itu sudah terlelap, disambut dunia mimpi.

‘Kasihan kamu, Ryan. Sekecil ini kamu harus kehilangan Papa. Mama janji, akan berusaha membahagiakan kamu, Nak. Mama akan selalu memberikan yang terbaik buat kamu.’ Vania membatin.

Tak mau membuat Ryan bangun, ia berusaha menidurkan matanya. Belum berapa lama, terdengar suara ketukan pintu. Vania tak jadi tidur, ia malah bangun dan berjalan menuju pintu depan.

Perlahan, tangan mulusnya membuka pintu. Namun, nihil. Tidak ada seorang pun di luar. Menarik napas panjang, Vania memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah.

Baru saja pintu ditutup, ia melihat ada bayangan orang di balik gorden, tak jauh dari sana. Ia berjalan mendekat dengan hati yang berdebar dan dikuasai rasa takut. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Bulu kuduknya meremang.

Perlahan, Vania menyingkap gorden dan ...

“Aaaaa ...!” Vania menjerit histeris saat melihat sosok menyeramkan berdiri di depan kaca. Sosok laki-laki berpakaian kotor. Mukanya nyaris hancur dan dipenuhi darah.

Vania hendak melarikan diri, tetapi entah mengapa tubuhnya serasa kaku seketika. Ia tak bisa menggerakkan kakinya. Vania terus berteriak, berharap Ryan bangun dan membantunya. Namun, Ryan tidak mendengarnya. Ia malah semakin terlelap.

Vania memejamkan mata, ia merasakan hawa dingin menusuk kulit. Ia mendengar suara yang amat ia kenal, pelan, seperti orang berbisik. “Tolong aku!” bisiknya.

Sedetik kemudian, ia menoleh ke arah sosok tadi. Sosok menyeramkan itu masih berada di sana, belum berpindah. Vania melihat rembesan darah keluar dari kepala sosok itu. Ia pingsan di sana.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu sukses membangunkan Vania dari pingsannya. Vania merasa heran, mengapa ia bisa tidur di lantai. Ia melirik jam dinding yang letaknya tak jauh dari dirinya, pukul dua belas malam tepat.

“Kenapa aku bisa tidur di sini? Sosok itu? Mungkin itu mimpi,” gumamnya.

Sebenarnya, Vania takut. Tapi, ia juga penasaran, siapa yang bertamu malam-malam ke rumahnya? Mungkinkah itu mertua, ipar, atau saudaranya Rangga?

Vania mencoba berpikiran positif. Ia berjalan pelan, kembali membukakan pintu depan. Berharap yang datang adalah keluarga suaminya. Saat dibuka, ia mendapati seseorang membelakanginya. Perlahan, Vania mendekati sosok laki-laki itu. Dari jarak dekat, Vania mendengar suara tangis memilukan.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, tangan Vania menyentuh pundak sosok itu. Ia merasakan pundak si laki-laki itu dingin. Hati Vania semakin berdebar tak karuan. Ia merasa tidak tenang. Perlahan, sosok itu membalikkan badan ...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED