Wanita mana yang tidak bahagia jika menikah dengan pria yang ia inginkan. Itulah yang dirasakan Tania, menikah dengan kekasih yang sangat ia cintai. Hubungan mereka berjalan dengan baik selama ini.
"Sayang, kamu siap-siap ya! Sebentar lagi Mama akan menemani kamu membeli gaun pengantin. Ditemani Rian juga kok," rayu mamanya yang bernama Tiya.
"Ih, Mama bisa aja," jawab Tania malu-malu.
Tania yang berusia 25 tahun itu terasa seperti anak kecil saja ketika digoda mamanya.
"Selamat siang, Tante, sayang!" sapa Rian pada kedua wanita cantik yang sedang duduk menunggu kedatangan Rian di sebuah sofa dalam butik terkenal itu.
"Siang juga Rian!" jawab Tiya, mamanya Tania.
"Ma'af ya Tante jadi lama nunggu," ucap Rian sedikit segan dengan Tiya.
"Santai saja Riyan. Oh iya, Mama kamu dimana?" tanya Tiya sambil melihat di sekeliling butik itu.
"Mama masih di mobil, tadi Mama lagi nelpon sama Papa." Mendengar jawaban Rian, Tiya pun mengerti.
"Hi, kalian sudah lama menunggu ya? Sorry, Because earlier my beloved husband called me."
Tiya dan Tania tersenyum mengiyakan perkataan Sari, mamanya Rian.
"It's okay Sari, aku dan Tiya ngerti kok." Tiya memegang bahu Sari.
Terlalu lama berbincang dan basa-basi, mereka hampir lupa tujuan utama ke butik itu. Untung saja, Tania mengingatkan kedua wanita paruh baya yang sedang bercengkrama itu Jika tidak, mereka akan melupakan semuanya.
"Hmmm, tujuan kita kesini buat apa sih Mama-Mama cantik ku," tutur Tania sambil terkekeh dan memeluk mereka berdua.
Tania sudah sangat akrab dengan mamanya Rian sejak awal mereka pacaran. Mama Rian juga sangat menyukai Tania karena ia memiliki sikap yang baik dan sopan.
Mereka langsung saja masuk mencari gaun dan juga jas yang paling mewah.
"Nak, menurut Mama disini cuma ada 2 gaun yang bagus dan menarik perhatian Mama. Tapi Mama nggak bisa pilih antara 2 gaun ini," ucap Tiya sambil menunjuk ke arah 2 gaun yang ia maksud.
"Benar, aku juga sangat menyukai 2 gaun ini. Sangat elegan jika dilihat, apalagi jika dikenakan menantuku yang cantik ini," jawab Sari menggoda Tania.
"Ih, Mama bisa aja." Tania tertunduk malu.
"Emmm, Rian mau kasih saran. Boleh nggak, Ma?" tanya Rian sambil terkekeh.
"Boleh banget sayang, menurut kamu bagusan mana antara 2 gaun ini?" tanya Tiya pada Rian, calon menantunya.
"Yang ini, Ma. Rian sangat menyukai gaun pengantin berwarna putih dan motifnya juga lebih unik, sangat cocok dikenakan Tania. Nanti Rian akan memakai jas berwarna putih campur hitam yang ada di sudut sana," jawab Rian sambil tersenyum lebar, sedikit kagum dengan motif gaun itu.
Tania sedikit mengerutkan bibirnya karena isi hatinya tak sejalan pemikiran Rian.
"Tapi, aku lebih suka motif gaun ini. Inikan putih juga sayang. Jadi cocok dong dengan jas yang kamu tunjuk disana," protes Tania.
Mendengar dua pendapat yang berbeda itu, Tiya dan Sari jadi bingung harus bagaimana.
"Jadi, bagaimana dong?" tanya kedua wanita paruh baya itu secara bersamaan.
"Terserah Tania aja, Ma. Lagian, kalau Rian nggak ngikutin kemauan tuan putri inj, pasti nanti Rian bakalan di ocehin sama dia," gumam Rian sambil melihat ke arah Tania.
Tania hanya tersenyum mendengar jawaban Rian. Ia kira, Rian tak akan mendengarkan perkataannya.
Dua jam lamanya mencari gaun dan riasan pengantin lainnya, mereka pun berencana akan pulang ke rumah.
"Ma, Mama sama Tante pulang duluan ya! Mama ikut Tante Tiya saja ke rumah. Nanti Rian telpon supir pribadi rumah untuk menjemput Mama ke rumah Tante Sari. Boleh, kan?" tanya Rian penuh harap agar mamanya mengiyakan permintaan nya itu.
Sari mengangguk dan mengiyakan perkataan Rian. Rian dan Tania akhirnya pergi ke sebuah taman tempat biasa mereka duduk berdua saat berpacaran.
"Sayang, ini tempat unik buat aku. Tempat ini nantinya akan menjadi sebuah sejarah terindah dalam hidup aku," ucap Tania, menyandarkan kepalanya di bahu Rian.
"Iya, kamu benar banget sayang. Ada banyak kenangan di taman ini. Ooo iya, kamu kan sekarang bekerja sebagai Dokter ni, Dokter Spesialis dalam lagi. Kalau aku sakit, kamu mau kan obati aku?" ucap Rian sambil terkekeh melihat wajah Tania.
"Hahaha, bayar dong sayang. Kamu kan juga CEO terkenal, pasti untuk bayar obat masalah sepele dong," gumam Tania sambil terkekeh.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, saling melepas rindu yang membelenggu karena sudah 5 hari tak bertemu. Maklum saja, Rian adalah CEO yang super sibuk dengan pekerjaan sehingga harus keluar masuk kota bahkan sesekali keluar masuk Negeri.
"Emm, sayang ada siomay langganan. Itu, disana!" Tania menunjuk ke arah siomay langganan mereka.
Mereka berdua adalah anak bangsawan yang dapat dikatakan memiliki kekayaan berlimpah. Namun, mereka sangat menyukai makanan jajanan seperti siomay.
"Ya udah, kita beli yuk!" ajak Rian memegang tangan Tania.
Mereka berdua berjalan menuju gerobak bapak tukang siomay yang sekarang berada di seberang jalan. Namun, Tania melepaskan tangannya dari tangan Rian dan berlari tanpa melihat kiri kanan. Tania takut bapak siomay itu keburu jauh dan tidak akan bisa merasakan siomay itu hari ini.
Tit! Tit! Tit!
Suara klakson mobil truk bergema, Rian berlari menyingkirkan kekasihnya dan akhirnya ia tergeletak jatuh di jalan. Tubuh Tania gemetaran melihat sang kekasih berlumuran darah di seluruh tubuh.
Tania mengejar Rian yang sudah tergeletak di jalan dan teriak minta tolong kepada semua orang yang ada di sekeliling itu.
"Tolong! Tolong!"
Beberapa orang datang untuk membantu membawakan Rian ke rumah sakit terdekat. Tania menelpon keluarganya juga keluarga Rian. Semua orang kaget dan segera berlari ke rumah sakit.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Sari, mamanya Rian sambil terisak.
Tania menjelaskan semua dengan dadanya yang begitu sesak diiringi butiran air yang terus keluar membasahi pipi mungilnya itu.
"Bagaimana keadaan anak saya, Pak?" tanya pria paruh baya yang merupakan papanya Rian.
"Anak Bapak kritis, mohon jangan ganggu pekerjaan kami dulu ya. Kami akan berusaha semaksimal mungkin," jawab dokter itu dengan nada suara tergesa-gesa.
"Lakukan yang terbaik, Dok!" seru Sari, mamanya Rian.
"Dug, dug, dug."
Detakan jantung mereka semakin kuat mendengar penjelasan dokter barusan. Mereka berharap agar Rian dapat diselamatkan.
Dua jam menunggu, akhirnya Dokter keluar dengan ekspresi wajah yang sulit untuk ditebak.
"Dok, bagaimana keadaan Rian? Dia baik-baik aja kan?" tanya Tania penuh harap.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, sekali lagi takdir yang menentukan. Pasien, tidak bisa kami selamatkan." Dokter itu menunduk, turut berduka atas kepergian Rian.
"Tidaaaak!" Jeritan Tania menggema, sementara kedua orang tua Rian dan Tania hanya terdiam menahan dada yang sesak karena kehilangan Rian.
Semua orang berlari ke ruangan Rian. Melihat jasadnya yang tertidur pulas dan tak akan bisa membuka mata lagi.
"Kenapa kamu ninggalin aku Rian? Kita akan menikah Rian. Kalau kamu pergi, aku nikah sama siapa? Aku nggak mau kehilangan kamu," ucap Tania dengan isakan yang begitu sakit di dadanya.
"Nak, ini semua sudah takdir. Kita ikhlaskan kepergian Rian ya," seru Sari, mencoba menguatkan Tania yang merupakan calon istri dari anaknya Rian yang sudah meninggal barusan.
"Tidak Mama, kami sudah janji sehidup semati. Kalau gitu, Tania ikut mati juga ya," ucap Tania mencoba memukul dadanya.
Hal itu membuat kedua orang tua Tania mencoba menghentikan aksi nekatnya itu.
"Nak, jangan nangis! Rian sedih melihat kamu seperti ini. Lebih baik, kita lakukan kewajiban untuk Rian ya!" seru Tiya, mamanya sambil memeluk Tania dengan erat.
Tubuh Tania melemah, ia tak dapat menahan perih yang menggores lukanya itu. Bagaimana tidak, awalnya ia sangat bahagia akan pernikahan nya. Kini, ia harus menanggung perih ketika ditinggal untuk selamanya oleh calon suami yang sangat ia cintai.
Dua keluarga itu melaksanakan kewajiban untuk memakamkan jenazah Almarhum Rian.
"Nak, ayo kita pulang!" ajak Sari, terlihat khawatir dengan keadaan Tania yang merupakan calon istri Almarhum anaknya.
"Nanti ya, Ma. Tania akan pulang kalau sudah waktunya," jawab Tania sambil memegang batu nisan milik Rian.
Semua orang mencoba menahan air mata agar tidak keluar. Lagi dan lagi mereka berusaha untuk menenangkan Tania.
"Nak, kalau kamu terus begini, Rian tidak akan bahagia disana. Kalau kamu sayang Rian, maka jangan seperti ini ya!" seru Tiya, mamanya.
Mendengar itu, Tania hanya diam dan melangkahkan kaki dengan pelan ikut bersama mereka. Sesekali Tania melirik ke belakang karena tak sanggup dengan semua kenyataan yang terjadi. Sungguh, ia masih belum sanggup kehilangan kekasihnya.
Sampai di rumah, Tania merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan air mata yang terus saja jatuh membasahi pipi mulusnya itu.
"Kenapa seperti ini akhirnya, Rian? Aku nggak sanggup menghadapi dunia tanpa kamu." Tania mengacak-acak rambutnya, frustasi.
Ia melihat sekeliling kamarnya dan melihat beberapa foto yang terpajang di dinding. Foto itu adalah fotonya saat bersama Rian dulu.
"Aaaaaaaaaa." Teriakan Tania sukses membuat semua orang terkejut.
"Nak, ada apa?" tanya Tiya sambil duduk di samping kiri anaknya.
Tania tak menjawab perkataan mamanya. Ia hanya terisak, tak sanggup menjelaskan dengan kata-kata kepada Tiya, mamanya.
"Mama dan Papa paham isi hati kamu. Demi Papa dan Mama, tolong jangan seperti ini." Tania hanya terdiam menundukkan kepala ke bawah dengan menyembunyikan air mata yang terus saja tumpah.
Kedua orang tua Tania mengerti dan mencoba meninggalkan Tania di kamar. Biarkan saja Tania untuk tenang dengan sendirinya.
"Nak, ayo kita makan bersama!" ajak Tiya, mamanya.
"Duluan saja, Ma. Nanti Tania nyusul kok," jawab Tania tanpa melihat wajah mamanya.
"Tapi kamu belum makan sayang. Ayolah, jangan buat Papa dan Mama khawatir!" seru Tiya sambil memegang bahu anaknya itu.
"Ma, duluan saja ya! Nanti Tania makan kok," jawab Tania dengan pelan.
Tiya tak menjawab apa-apa lagi, ia keluar dari kamar anaknya dengan air mata yang jatuh membasahi pipi. Sang suami terkejut melihat istrinya yang tiba-tiba menangis dan sontak mempertanyakan.
"Kamu kenapa? Ada apa?" tanya Bram sambil berdiri dari kursi yang berada di meja makan sambil memegang bahu sang istri.
"Tania, Mas." Tiya menundukkan kepala ke bawah sambil menutup mulutnya.
"Dia kenapa?" tanya Bram, khawatir.
"Dia tidak mau diajak makan, aku harus bagaimana?" tanya Tiya dengan isakan yang terus saja terdengar.
"Kita tunggu sekitaran seminggu lagi, mungkin saja ada perubahan nanti. Tapi, tugas kamu terus mengajak Tania untuk makan dan bisa melupakan Rian, ya! seru Bram, papanya Tania.
Tiya hanya mengangguk mengiyakan perkataan Bram. Mereka kemudian melahap makanan yang sudah disediakan bi Iyum di atas meja makan.
Satu Minggu lamanya setelah kematian Rian. Namun, kondisi Tania masih sangat memprihatinkan. Tania hanya mengurung diri di kamar dan tak berselera untuk makan.
"Sayang, kamu siap-siap ya!" seru Bram yang mendatangi anaknya yang sedang duduk di jendela dengan matanya yang hanya tertuju pada satu tatapan.
"Siap-siap kemana, Pa?" tanya Tania melihat ke arah papanya.
Bram kaget melihat putrinya yang sudah sangat pucat itu.
"Nak, kamu pucat banget. Kamu makan ya!" seru Bram dengan matanya yang sudah berkaca-kaca melihat putri semata wayangnya sangat pucat.
Tania tersenyum paksa melihat papanya. Ia tidak ingin papanya bersedih karena Tania tahu bahwa papanya punya riwayat penyakit stroke.
"Tania tidak apa-apa, Pa." Tania tersenyum lebar dan mendekati papanya.
"Nak, Papa minta kamu makan sekarang ya! Please, demi Papa!" seru Bram dengan pelan pada putri semata wayangnya.
"Iya, Papa." Tania menjawab dengan pelan.
Tania turun ke bawah bersama Bram. Sudah seminggu ia tidak turun ke bawah karena terus-menerus mengurung diri di kamar.
"Nah, kali ini Tania makan khusus ya!" ucap mamanya yang sedang menyeduh nasi ke dalam piring.
"Makan khusus, maksud Mama?" tanya Tania dengan menaikkan bola matanya ke atas.
"Mama dan Papa mau nyuapin kamu, Nak." Tiya menjawab dengan pelan sambil menyuapi putri cantiknya itu.
Tania membuka mulut dan menerima suapan dari mamanya meski rasa makanan yang ia makan terasa hambar dan sulit untuk ia kunyah.
"Rian, aku jadi teringat kamu. Aku kangen kamu," batin Tania menjerit.
"Nah, sekarang giliran Papa," ucap Bram membawa sendok dari tangan istri dan menyuapi anaknya.
Air mata tak bisa Tania tahan lagi, dadanya begitu sesak.
"Nah, makan khususnya sudah selesai. Tania pamit ke kamar lagi, ya!" ucap Tania dengan pelan.
"Tapi makannya belum habis sayang," jawab Tiya menatap putrinya.
"Tania abisin di kamar aja ya," jawab Tania.
Tania membawa piring dan membawa segelas air. Ia berjalan menuju kamar.
"Tania!" panggil Bram hingga Tania menghentikan langkahnya.
Tania melihat ke belakang, "Ada apa, Pa?" tanya Tania.
"Pukul 20:00 WIB kamu harus sudah selesai siap-siap ya! Ada tamu yang akan datang ke rumah," seru Bram pada Tania.
"Tania nggak bisa, Pa." Tania menjawab dengan malas karena ia masih belum siap bertemu dengan orang lain.
"Demi Papa!" seru Bram dengan pelan pada anaknya.
Tania menghela napas kasar. Ingin menolak tapi tak ingin mengecewakan papanya. Dengan berat hati, ia terpaksa mengiyakan perkataan papanya.
"Baiklah, Tania usahakan." Tania berjalan ke atas dengan air mata yang kini sudah jatuh membasahi pipinya.
Tania membuka almarinya, ia memilih baju yang akan ia kenakan.
"Baju ini, aku pakai ini saja deh." Tania tersenyum lebar ketika mengenakan baju hijau lumut yang pernah diberikan Rian padanya.
"Aku kangen kamu Rian, kamu apa kabar disana?" tanya Tania sambil menyanggul rambutnya itu.
Tania memakai make up seadanya dan tepat pukul 20:00 WIB, Tania turun ke bawah. Semua orang memandangnya sedangkan ia sendiri kaget melihat siapa tamu yang datang.
"Om, Tante, Andre?" Tania menyapa dengan nada suara yang penuh pertanyaan.
"Eh, Tania sudah datang. Ayo duduk!" seru Tiya, mamanya.
Tania duduk di samping mamanya. Ia mulai mendengar percakapan mereka.
"Hi, Tania! Apa kabar?" tanya Andre yang sudah lama tak berjumpa dengannya.
Sejak lulus SMA mereka berdua dipisahkan karena dunia perkuliahan hingga malam ini mereka bertemu kembali.
"Aku baik-baik saja," jawab Tania mencoba memberikan senyum terbaik kepada Andre.
Bram menarik napas panjang dan mencoba memulai percakapan.
"Nak, jadi tujuan Andre bersama kedua orang tuanya kesini untuk menjodohkan Andre dengan kamu. Papa dan Mama juga setuju jika Andre menjadi pendamping hidup Tania."
Bram tersenyum lebar pada putrinya, sementara Tania panas mendengar hal yang baru saja terucap dari bibir papanya.
"Jadi, Papa mau jodohin Tania?" tanya Tania dengan dadanya yang mulai sesak.
"Iya sayang, Papa rasa kamu sudah bisa membuka hati kembali. Kamu mau kan menerima permintaan Papa dan Mama!" seru Bram dengan pelan pada putri semata wayangnya itu.
"Harus secepat ini, Pa?" tanya Tania yang sudah mulai panas karena tak memberitahu Tania sebelum dijodohkan.
"Iya sayang, Papa dan Mama merasa ini sudah waktu yang tepat."
Batin Tania menjerit, rasanya ia ingin pergi menyusul Rian, kekasih yang sangat ia cintai. Matanya mulai memerah, ia sangat kesal kepada papa dan mamanya.
"Pa, Tania perlu berbicara dengan Andre." Tania melipat kedua tangan di dadanya.
Bram mempersilahkan mereka untuk bicara berdua. Tania dan Andre duduk agak jauh dari sekitar kedua keluarga mereka.
"Ndre, kamu tau kan kalau kita ini sahabatan dari kecil. Kamu mau kita menikah?" bujuk Tania pada Andre berharap Andre akan membantu untuk membatalkan pernikahan mereka.
"Ya, kita sahabat Tania. Tapi, aku nggak bisa menolak perjodohan ini." Andre tersenyum paksa melihat wajah Tania.
"Maksud kamu apa? Kamu tau kan aku sedang dalam keadaan berduka?" celetuk Tania dengan wajah yang mulai merah padam.
Andre tak menjawab apa-apa karena tak ingin Tania semakin baik darah kepadanya.
"Aku masuk duluan ya, Tan." Andre memegang bahu Tania dengan wajah yang sangat murung.
"Ndre, tolong aku!" pinta Tania penuh harap.
Andre tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia kembali ke dalam rumah duduk bersama dengan dua keluarga yang sedang menunggu perbincangan kedua anak mereka.
Tania kembali dengan wajahnya yang begitu datar. Mereka semua kembali mempertanyakan hal yang sama pada kedua anak mereka.
"Jadi, bagaimana keputusannya?" tanya Guntur yang merupakan papa dari Andre.
"Andre ikut kemauan Papa dan Mama saja. Keputusan hanya ada di tangan Tania, Pa."
Andre menundukkan kepala ke bawah sedangkan semua orang melihat ke arah Tania. Wajah Tania menatap jijik kepada Andre.
"Pa, Ma! Perjodohan ini terlalu cepat menurut Tania. Andre ini sahabat Tania sejak kecil, tidak mungkin kami akan menikah. Yang betul saja dong," Tania menggeleng kepala nya yang tidak pegal itu.
"Papa dan Mama melakukan yang terbaik buat kamu," ungkap Bram menatap putrinya dengan serius.
"Tania tidak mau dan sama sekali tidak menginginkan perjodohan ini!" erang Tania dengan wajahnya yang sudah sangat memerah.
Tania berlari ke kamar diiringi air mata yang terus mengalir dari kedua netranya. Dadanya sangat sesak.
"Bagaimana bisa Papa dan Mama berpikir untuk menjodohkan Tania dengan Andre. Dia sahabat kecil Tania yang sama sekali Tania tidak mencintainya."
"Aaaaaaaaaaaaa." Tania mengacak-acak rambutnya frustasi. Tania merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Perjodohan itu membuat ia semakin tidak baik saja. Ia begitu tersiksa dengan perjodohan yang tidak masuk akan itu.
Sementara di ruang tamu sana, kedua orang tua Andre dan juga Andre sendiri berpamitan untuk pulang ke rumah.
"Bram, kalau gitu kami pulang dulu ya! Bujuk putri mu baik-baik. Jika dia tidak menginginkan pernikahan ini, maka tidak usah dilaksanakan. Aku yakin, dia butuh waktu lama untuk melupakan Rian, mantan kekasihnya."
Guntur, papanya Andre mengerti dengan kondisi Tania, begitu juga dengan istrinya dan Andre.
Mereka pulang ke rumah, sedangkan kedua orang tua Tania masuk ke dalam kamar putri semata wayangnya. Mereka melihat Tania yang sedang meratapi nasib di dekat jendela sambil melihat bulan dan bintang yang menyatu di atas sana.
"Bulan dan bintang saja bisa bersama di atas sana meski mereka berbeda. Apakah kita bisa bersama walau dunia kita berbeda," ucap Tania dengan lesu sambil memandang foto Rian di dalam ponsel miliknya.
"Bulan dan bintang bersatu karena dunia mereka sama. Mereka ada di tempat yang sama. Sedangkan Tania dan Rian itu berbeda sayang. Tania dan Rian ada di dunia berbeda. Papa dan Mama yakin kalau Tania akan bersama dengan Andre. Andre adalah pria yang bisa menggantikan posisi Rian."
Bram menyela perkataan anaknya. Tania terdiam kemudian menatap balik kedua orang tuanya.
"Kenapa Papa bicara seperti itu? Papa nggak tau gimana rasanya di posisi Tania saat ini. Hati Tania hancur, Pa. Seperti kaca yang retak dan susah untuk utuh kembali. Tania baru saja kehilangan Rian dan sekarang Papa dan Mama mau jodohin Tania? Dan haruskah dengan Andre yang merupakan sahabat kecil sendiri?" sergah Tania dengan amarahnya yang semakin meluap pada kedua orang tuanya dengan tangan yang sudah mengepal di bawah sana untuk menahan amarahnya.
"Papa dan Mama selama ini tidak pernah melarang Tania untuk melakukan apapun. Apapun kemauan Tania selalu Papa dan Mama turuti. Untuk kali ini, Papa mohon turuti keinginan Papa! Papa melakukan ini demi kamu sayang." Bram memegang bahu anaknya dan meninggalkan Tania maupun istrinya berdua di dalam kamar.
Dada Bram begitu sesak ketika Tania berbicara dengan nada tinggi padanya. Bram keluar sambil memegang dadanya. Tania dapat melihat itu, ia tak ingin melanjutkan perkataannya karena tau bagaimana kondisi papanya.
"Sayang, Mama dan Papa selalu support apapun yang Tania lakukan selama ini. Percayalah Nak, kami selalu ingin yang terbaik untuk Tania. Mana ada orang tua ingin anaknya sengsara," bujuk Tiya, mamanya Tania dengan nada suara rendah.
"Ma, tapi nggak gini dong caranya. Sekarang tidak ada lagi yang namanya jodoh-jodohan, Ma. Tania berhak menentukan pilihan sendiri karena Tania sudah dewasa. Apa Mama tidak mengerti perasaan Tania sekarang? Ini bukan malah menyembuhkan hati Tania, Ma. Tania semakin sakit dengan semua yang terjadi sekarang ini." Tania terisak-isak sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Berharap agar sang Mama mengerti tentang isi hatinya.
"Memang, sekarang bukan zamannya jodoh-jodohan. Tapi, ini terpaksa Mama lakukan sayang, demi kebaikan kamu sayang. Tolong, jangan egois seperti ini Tania! Tolong ngertiin kondisi Papa juga. Tania tidak lihat Papa tadi memegang dadanya yang sudah sesak? Satu bulan lalu, papa kena stroke. Jangan sampai penyakit itu kambuh lagi sayang. Demi Papa, Tania!" seru Tiya kemudian pergi meninggalkan Tania sendiri di kamar. Tiya khawatir dengan keadaan suaminya, ia berjalan cepat menuju kamar.
Tania menutup pintu kamar, tubuhnya sangat lemah saat ini. Bibirnya yang mulai memucat dan kakinya gemetaran. Tania tersenyum sendiri, sesaat terbayang wajah Rian.
Tania membuka laptop, ia melihat semua kenangan mereka. Itulah yang sering Tania lakukan jika sedang merindukan Rian.
"Rian, tidak ada yang bisa menggantikan kamu. Aku tidak tau harus bagaimana sekarang. Aku sudah janji sama kamu kan, aku tidak akan pernah menduakan kamu. Bagaimana bisa aku menikah dengan Andre. Aku sama sekali nggak cinta sama dia."
Tanpa sengaja, Tania membuka video mereka berdua.
"Tania, aku sayang kamu dan tidak ada yang bisa menggantikan posisi kamu di hatiku," ucap Rian dalam video itu.
"Aku juga cinta banget sama kamu sayang. Nggak ada satu orang pun yang bisa menggantikanmu dalam hati ini. Hati ku sudah tergembok dan kuncinya hanya ada satu, kamulah kunci hatiku sayang." Tania tersenyum lebar kemudian memeluk Rian.
"Kamu janji tidak akan ada orang lain lagi?" tanya Rian kembali pada kekasihnya.
"Tidak ada orang lain lagi di hati aku sayang." Tania tersenyum lebar.
"Termasuk sahabat kamu itu? Siapa sih namanya? Emmm, Andre ya?" tanya Rian dengan menaikkan bola matanya ke atas.
"Ih apaan sih? Aku kan juga udah jauhin dia? Nggak mungkin aku sama dia," jawab Tania sambil terkekeh.
"Dia baik kok sayang. Jadi, kalau aku udah nggak ada lagi di dunia ini, dia adalah orang yang tepat untuk gantiin aku." Rian terkekeh sedangkan Wajah Tania mulai kecut.
"Kok ngomong gitu sih? Aku nggak suka deh," jawab Tania dengan kesal.
Seketika, Tania menghentikan videonya, ia tak ingin melanjutkan lagi. Video itu membuatnya semakin sedih.
"Kenapa kata-katamu itu jadi kenyataan sekarang, Rian? Aku nggak mau hidup bersama Andre. Rian, aku hanya cinta sama kamu," ucap Tania kembali terisak.