Bab 1

"Balqis ... Yusuf. Ayok, Nak, salim dulu sama ayah. Ayah sebentar lagi mau tugas ke Kalimantan," ucap Ayla. Ibu dua anak yang juga istri dari seorang satuan pengaman perbatasan, Indonesia - Malaysia. Di Kalimantan Barat, tepatnya daerah Entikong. Ia Letnan Satu, Fawaz Omar Hisyam. Lelaki keturunan Arab, berkulit sawo matang dengan tubuh tinggi tegapnya.

Baik Balqis dan Yusuf nampak murung tidak seperti biasanya. Padahal kedua anak itu sudah sangat sering ditinggal ayahnya pergi demi tugas. Tapi, baru kali ini tatapan mereka amat berat.

"Eeh, kok anak Ayah pada murung gini, sih?" Fawaz berjongkok menyamai tinggi kedua anaknya yang baru berusia enam dan lima tahun itu.

"Ayah di sini saja sama Aqis," pinta si bontot yang paling manja sedunia.

"Ha ha ... nanti kalau Ayah gak tugas, Ayah bakal nemenin Balqis dan Yusuf sepanjang hari," kata Fawaz berjanji.

"Beneran,ya, Yah?!" Gadis itu tersenyum bahagia sambil memeluk ayahnya begitu posesif.

"Sudah dong Aqis. Nanti ayah ditinggal sama temen-temen ayah," rayu Ayla lucu sekaligus miris. Ia memahami perasaan anak gadisnya itu.

"Biarkan saja, Bun kalau Ayah ditinggal." Yusuf nampak begitu kontra dengan kepergian ayahnya kali ini. Dalam lubuk hatinya, merasa ini adalah pertemuan terakhir dan ia akan berpisah lama dengan idolanya itu.

"Yusuf, " panggil Ayla dengan tatapan tak senang karena sikap anak pertamanya itu. Yusuf memberengut dan langsung lari masuk ke kamarnya.

"Maaf,ya Sayang. Gara-gara aku Yusuf jadi marah sama kamu," sesal suaminya itu. Ia mengenggam tangan Ayla, wanita yang ia nikahi lebih dari delapan tahun belakang ini begitu erat. Ayla hanya tertunduk pasrah. Bibirnya terus menguntai senyum ikhlas. Walau di hatinya selalu merasa berat tiap kali melepas Fawaz yang harus pergi tugas.

Tapi bagaimana lagi, ini adalah takdirnya sebagai istri salah satu dari anggota TNI AD. Ayla harus ikhlas melepaskan kepergian Fawaz, yang mungkin saja menjadi kepergian terakhirnya tanpa pernah kembali. Mengingat medan perbatasan sangatlah berbahaya.

Akan tetapi semua ini Ayla terima. Karena cintanya yang begitu besar kepada suaminya. Bahkan berbagai rintangan telah mewarnai tahun-tahun pernikahan mereka. Dimulai hubungan tanpa restu sampai masa di mana Ayla dianggap sulit memiliki keturunan.

Alhamdulilah, badai itu telah berlalu. Dan saatnya ia memetik manisnya kehidupan dengan suami dan anaknya. Ayla tak sanggup jika harus kehilangan salah satu dari mereka.

Ayla cuma bisa berharap suaminya itu selalu pulang dalam keadaan selamat. Setiap kali Fawaz pergi, hanya kembali imam-nyalah yang selalu menjadi harapan Ayla. Hingga ia tidak putus berdoa kepada Sang Khalik. Meminta keselamatan sang suami sepenuh hati.

Ayla mendongak menatap lekat bola mata suaminya itu. Ia membelai pipi suaminya. Ayla tahu suaminya bukanlah hanya miliknya seorang, tapi ia juga seorang patriot yang harus mengutamakan kedamaian negeri ini di atas segalanya. Dan Ayla bangga dengan hal itu. Ia mencintai Fawaz apa adanya. Termasuk pekerjaannya yang membuat Fawaz terlihat begitu bahagia.

"Gakpapa Sayang, nanti Yusuf juga berhenti kok ngambeknya," jawab Ayla agar Fawaz tidak perlu lagi mencemaskan anak pertama mereka.

***

Rencananya, Fawaz pergi dengan menumpangi mobil jeep temannya. Seorang Letnan Dua bernama Pierre Nasution, lelaki blasteran dengan kulit putih dan mata hitam pekat itu sebenarnya tak layak menjadi satgas pamtas. Ia lebih layak menjadi seorang model dinilai dari tinggi juga tubuhnya yang atletis.

Lelaki yang tujuh tahun lebih muda dari Fawaz dan dua tahun lebih muda dari Ayla itu sudah sampai di pekarangan rumah Fawaz.

Ayla melambaikan tangan ke Pierre yang masih setia duduk di bangku kemudi, dan Pierre mengangguk sebagai balasannya.

Ayla memang sudah mengenal Pierre sebagai kenalan baru suaminya. Hanya itu dan tak lebih.

"Ya sudah Bun, Ayah pergi dulu,ya," ijin Fawaz. Ayla hanya mengangguk seraya mengambil tangan sang suami dan menciumnya patuh tanpa diminta. Dibalas Fawaz dengan mengecup hijab syar'i warna hitam yang Ayla gunakan. Pemandangan itu membuat batin Pierre bergejolak.

'Mas Fawaz dan Mbak Ayla begitu bahagia. Semoga kelak aku bisa mendapatkan istri seperti Mbak Ayla,' harap Pierre dalam hati.

"Eh kenapa bengong?" tegur Fawaz sambil terkekeh geli . Ia memang akan berubah menjadi lebih jail kalau sudah sama teman-temannya. Maka dari itu si-introvert Pierre dan Si-friendly Fawaz bisa langsung akrab walaupun baru beberapa kali bertemu.

"Eh Mas. Sudah di sini saja," sahut Pierre basa-basi.

"Iyahlah, makanya jangan melamun saja. Gak lihat kan kalau aku sudah sampai. Lagian, kamu lagi melamun,'kan apa sih?" selidiknya lagi ingin tahu apa yang ada di pikiran temannya itu. Meski Pierre tidak pernah cerita hal pribadi.

"Ahk, enggak kok. Bukan apa-apa," tolak Pierre halus.

***

"Usia kamu sudah berapa, Pier?" tanya Fawaz saat mereka masih di jalan. Pierre tersenyum tipis.

"Dua puluh lima tahun," jawabnya singkat.

"Dua puluh lima tahun! dan kamu masih saja sendiri, kamu tahu sewaktu usiaku dua puluh empat tahun aku sudah menikah dengan mbakmu itu," tutur Fawaz pongah. Pierre masih diam, wajahnya datar nampak seperti orang yang tidak pernah merengguk rasa bahagia. Dan itu semakin membuat Fawaz penasaran.

"Benar kamu belum ada calon?" lanjut Fawaz

"Belum, Mas."

"Emm.., memangnya seperti apa kriteriamu?"

Fawaz pikir, mungkin ia bisa mengenalkan Pierre kepada Zulaekah, adiknya yang bontot. Pierre merenung, jika membicarakan kriteria wanita idamannya, jujur ia belum memilik gambaran untuk itu. Kehidupan pribadinya yang terlalu complicated membuat ia enggan bermimpi karena hanya takut mimpi itu tak akan pernah menjadi kenyataan. Pierre hanya bisa tersenyum seraya menggeleng lemah untuk jawaban pertanyaan Fawaz.

"Hhah! Yakin kamu bahkan gak tahu wanita seperti apa yang kamu inginkan untuk menjadi bidadari di rumahmu?" sarkas Fawaz.

"Aku sungguhan Mas. Aku bahkan belum memikirkan hal itu." Jujur Pierre dengan nada berat. Sebenarnya ia juga merasa terganggu terus sendiri.

"Kamu normal kan?" selidik Fawaz sambil melihat Pierre dari atas sampai bawah.

Kini, Pierre tertawa keras. "Jelas saja. Itu tidak perlu Mas Fawaz ragukan!" Pierre jadi sering tertawa jika ia sedang bersama Fawaz dan itu berkat Fawaz. Fawaz bisa mengeluarkan sosok lain dalam diri Pierre, yaitu ia yang periang.

"Terus," balas Fawaz yang belum puas. Tepatnya ia sedang menyelamatkan posisinya jika seandainya Pierre belok seperti dugaannya.

"Aku hanya tidak punya waktu untuk memikirkannya," desis Pierre serius. Fawaz menyeritkan alisnya.

"Gak punya waktu, tapi kan kamu punya mata." Fawaz sibuk bergerutu.

"Oke kalau begitu aku tanya. Apa menurutmu mbakmu itu cantik?" Karena tidak ada lagi wanita dewasa disekitaran mereka akhirnya Fawaz membawa Ayla sebagai perbandingan. Jujur Fawaz merasa Ayla adalah wanita tercantik. Matanya jernih dan bibirnya mungil. Menjadikan ia terlihat lebih muda dari usianya. Siapa pun.., siapa pun laki-laki pasti akan merasa tertarik dengan miliknya itu. Dan hanya Fawaz lah yang beruntung mendapatkan keindahan itu.

Pierre menyinggulkan senyum miring. "Cantik," kutipnya sambil membelokkan kemudi.

"Hanya itu?!" sahut Fawaz semakin bingung.

"Lalu harus apa lagi?" Pierre malah balik bertanya seraya menengok ke arah Fawaz.

"Betul juga sih, apa lagi, istriku memang cantik dan ingat ia sudah punya aku!" tekannya.

"Tapi kamu tahu, selama beberapa hari ini aku bermimpi Ayla menangis seraya memegangi papan nisan yang basah dengan air matanya. Aku takut itu sebuah pertanda," cicit Fawaz. Ia memang tidak pernah menceritakan mimpi ini ke Ayla. Karena takut wanita itu kepikiran.

Lagi Pierre menengok, kali ini dengan pelototan matanya ketika mendengar hembusan putus asa yang keluar dari bibir temannya itu.

"Mas kan pernah bilang padaku. Jika maut, jodoh dan rejeki sudah digariskan oleh Tuhan yang maha kuasa. Jadi mungkin saja semua itu tidak benar. Lagipula kan mimpi hanya bunga tidur," ujarnya mencoba menghibur.

"Kamu benar," lirih Fawaz meski kesedihan masih ia rasakan. Tetapi seharusnya juga ia bisa mengambil sikap seperti Pierre percaya akan takdir serta ketentuan yang Maha Kuasa. Fawaz merasa malu, bahkan Pierre yang baru belajar islam lebih mengamini hal itu ketimbang dirinya.

"Lalu bagaimana jika saatku telah tiba?" Rasa takutnya berpisah dengan keluarga kecilnya yang membuat Fawaz pendek akal seperti ini.

"Hm ...."

Pierre pun tidak bisa menjawab. Ia tahu banyak sekali kejadian yang bahkan gak bisa mereka percaya bisa terjadi. Misalkan seperti tiba-tiba kecelakan lalu meninggal detik itu juga. Dan itulah maut. Tidak ada yang tahu kapan akan terjadi. Tanpa Pierre sadar, Fawaz terus memperhatikannya.

"Jika itu terjadi, maukah kamu merawat istri dan anakku?" lirih Fawaz penuh harap.

Mata Pierre membulat "Maksud, Mas?" desaknya. Fawaz kembali duduk menghadap jalan.

"Seperti yang kita tahu. Alam akan selalu menyimpan misterinya. Memang sebagai manusia kita tidak boleh berburuk sangka. Tapi kamu pernah dengarkan yang dinamakan firasat.

Sebuah rasa yang tiba-tiba hadir begitu saja."

Pierre memberhentikan mobilnya sesaat. "Tapi Mas tahu itu tidak mungkin," tampiknya.

"Kenapa, karena kamu non muslim? Bukankah kamu bilang sebentar lagi kamu akan masuk islam?" celetuk Fawaz. Kali ini ia sangat serius memintanya.

"Iyah cuma ... ."

"Dan Ayla jawabannya. Ia sangat pintar. Ia bisa membimbingmu. Gak ada aturan yang mengharuskan seorang lelaki harus memiliki power lebih dalam rumah tangganya. Karena seorang suami juga manusia biasa. Bisa salah dan bisa benar. Lagipula rumah tangga bukan tempat untuk saling adu kekuatan, justru dibutuhkan kerja sama yang baik antara suami dan istri agar bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah," simpulnya.

"Aku cuma gak berharap itu terjadi, Mas. Semoga kita bisa kembali dengan selamat," ujar Pierre. Meski ia tahu, sepertinya Fawaz masih memikirkan hal tersebut.

Bab 2

Sampailah mereka di pedalaman hutan Kalimantan. Di sini, di tempat inilah mereka harus saling bahu-membahu menjaga negara ini dari tangan orang orang jahat. Seperti penebang liar atau semacamnya.

Butuh waktu empat jam dari tenda utama sampai tempat ini. Karena itu mereka dibekali HT, sebagai alat komunikasi penghubung mereka dengan yang lainnya.

Kali ini Pierre dan Fawaz kedapatan menjadi satu tim yang ditugaskan menjaga daerah utara. Sementara sekitar tiga kilometer dari sini ada tim lainnya yang sudah dipecah ke berbagai bagian.

Seraya menghapus buliran peluh Fawaz mulai menaruh barang-barangnya di barak yang dibuat sementara. Karena sebelumnya tempat ini seolah belum terjamah oleh manusia mana pun. Ia melihat sekelilingnya dengan takjub. Daerah yang perhutanan yang begitu asri dan alami, seakan memanjakan matanya. Ia bersyukur diberikan kesempatan menatap keindahan yang alam ciptakan tanpa campur tangan manusia.

Bibirnya bergumam, "Masya Allah." Penuh rasa haru. Tangannya menyentuh pepohonan yang entah sudah berapa lama berada di sana tanpa ada satu pun orang yang tahu. Dilihat seberapa besarnya akar yang menjulang dari dalam tanah.

"Mas ... Mas Fawaz," panggil Pierre. Baru saja sampai di sini, ia langsung berinisatif memasak air panas. Sekedar menyeduh kopi hangat. Karena udara yang lembab, menciptakan rasa dingin seakan mampu menusuk sampai tulangnya.

"Minum kopi dulu yuk, Mas," ucap Pierre seraya memberikan Fawaz gelas kopi plastik. Ia tak akan lupa mendahulukan Fawaz, senior yang juga sudah dianggapnya sebagai abang kandungnya sendiri. Dan dalam adab, menghormati yang lebih tua adalah suatu keharusan.

Fawaz menerima kopi yang diberikan Pierre seraya tersenyum. Keduanya terlihat diam sejenak sekadar merasakan indahnya pemandangan alami yang disajikan di depan mata mereka. Lantas Fawaz menyeruput kopi yang mulai hangat sedikit demi sedikit.

"Heum ... kopi buatanmu enak, Pier," godanya. Membuat Pierre terkekeh.

"Apa, sih?" Ia menyenggol lengan Fawaz yang di sebelahnya.

"Aku bicara sebenarnya. Kopi buatanmu sangat mirip dengan kopi buatan Ayla," gumam Fawaz kembali. Pierre semakin tertawa geli. Yah, pastilah. Ia kan hanya menuangkan kopi sachetan ke dalam gelas plastik. Tentunya takarannya juga sudah sesuai.

***

Setelah agak siang dan hilang lelahnya. Fawaz terlihat memberikan intruksi untuk Pierre. Lelaki itu hanya memberikan bagian-bagian yang mudah untuk Pierre sementara bagian yang sulit dan terjal akan menjadi daerah penjagaannya.

"Mas, gak salah Mas. Tapi di sana kan masih banyak babi hutan," pekik Pierre takut. Rasanya membayangkan hewan besar itu saja sudah mampu membuat buluk kuduknya merinding.

Fawaz tersenyum. Ia mengerti ketakutan yang dirasakan Pierre dan bukan berarti ia tidak takut, hanya saja ia memilih pasrah. Karena jika memang belum saatnya, walau badai sekali pun ia tidak akan gugur begitu saja.

"Kau tenang saja, ada Allah yang selalu menjagaku. Lagipula anak-anakku menanti kepulanganku. Jadi aku harus baik-baik saja kan?" Fawaz malah menanggapi kekhawatiran Pierre dengan candaan.

Sekitar tiga hari mereka sudah terpisah. Daerah penjagaan yang cukup luas yang membuat Fawaz dan Pierre jadi jarang bertemu.

Tiba-tiba saja Pierre merasa bosan. Tak ada hiburan serta tak tembusnya jaringan membuat ia serasa mati kutu. Pierre berniat menghampiri Fawaz sekedar mengobrol santai bersama abang angkatnya itu.

Saat di jalan Pierre dibuat kaget setengah mati saat seekor babi hutan berada di depan Fawaz. Dan kini lelaki itu terlihat sedang waspada dengan serangan babi itu, Fawaz terlihat memasang kuda-kudanya dengan pisau belati di tangannya. Ia tahu.., dirinya harus siap sedia persenjataan kapan pun itu.

Fawaz melirik ke arah Pierre. Ia menyadari keberadaan Pierre yang jadi semakin membeku. Fawaz pun khawatir babi itu merubah mangsanya menjadi Pierre. Sementara Pierre tidak terlihat membawa senjata apapun.

Fawaz terus melirik ke arah Pierre yang masih tergugu. Ia seolah terpaku dengan apa yang ia lihat kini. Meski jantungnya terus berpacu begitu cepatnya. Peluh membasahi dahi dan menjalar ke sela pipi. Ia begitu takut terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu. Bayangan semua perkataan Fawaz sewaktu mereka di mobil entah mengapa terus teriang, seakan menari dalam memorinya. Semakin banyak ketakutan yang berkecamuk, semakin kerdil hati Pierre. Ia juga merasa tak akan menang seandainya menghadapi babi hutan itu.

Fawaz memberikan isyarat agar Pierre pergi dari sana. Berkali-kali laki-laki itu menggeleng agar Pierre tidak mendekat, tetapi rasa takut Pierre seakan mengunci akal sehatnya. Ia justru maju selangkah.

Kregkk!

Suara daun kering yang terinjak langkah Pierre menjadi sinyal bagi babi hutan itu.

Dan saat Pierre menengok kembali sudah ada satu babi lainnya yang ikut mengepung Fawaz seakan membentuk lingkaran penjagaan agar Fawaz tidak pergi.

"Husshh ... hussh!" Fawaz berusaha sangat keras agar babi-babi itu pergi darinya. Pisau belati kecil yang tak mungkin banyak membantu itu sekarang begitu Fawaz andalkan. Ia masih ingin selamat, berkumpul kembali bersama anak dan istrinya. Bohong kalau ketakutan yang sama juga tidak meliputinya. Malah mungkin, ketakutan Fawaz jauh lebih besar ketimbang Pierre. Hal lumrah, semakin banyak orang-orang terkasih. Maka, perasaan takut mati kadang menjadi jauh lebih besar.

"Pierre ... lari!" teriak Fawaz kuat. Spontan kedua babi itu berlari semakin mendekati Fawaz. Sebab merasa terancam. Pierre pun berlari seperti orang kesetanan. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan berkali-kali nalurinya mengatakan untuk membantu Fawaz. Tapi kenapa justru ia berlari tunggang langgang. Tiba-tiba ia sangat membenci dirinya sendiri. Pierre merasa bodoh, payah bahkan pengecut.

Tangis penyesalan meraung membasahi wajahnya yang bercampur peluh. Kakinya lemas seakan tak bertulang membuat Pierre jatuh terperosok ke dalam jurang kecil yang ada di sana. Punggungnya menghentak tanah yang sudah mengeras berlanjut suara pekik kesakitan ke luar dari bibirnya.

Cepat ia bangun. Pierre sadar, dirinya tidak bisa selamanya bersembunyi dari kenyataan. Sebagai seorang pria ia harus berani.

Pierre mengenggam akar pohon yang menjuntai, sebagai tali pegangan untuk ia sampai ke atas. Tangannya yang beset dan kemerahan tidak lagi ia hiraukan. Ia menemukan satu caranya untuk menyelamatkan Fawaz, yaitu dengan memanggil bala bantuan dari pusat. Pikiran itu baru saja muncul setelah ia mencoba menarik nafas dalam.

'Mas Fawaz bertahanlah, aku di sini juga sedang berusaha' batinnya.

Rahangnya mengeras mencoba menaiki tubuhnya yang besar. Cuma mengandalkan akar tipis nyatanya bukan perkara mudah. Ia kembali terkenang mata dingin dari kawanan babi itu. Pierre bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana nasib sahabatnya sekarang, tepatnya ia tidak ingin membayangkan satu kejadian buruk pun terjadi pada Fawaz.

Pierre kembali terjatuh. Ia mencoba menarik nafas sekali lagi sebelum dirinya berusaha kembali naik. Pierre memilih duduk bersandar sebentar. Tangannya yang kebas bergoyang karena bergetar takut. Ia sangat amat tidak siap ditinggal seperti ini oleh sahabatnya. Terlebih tidak siap menjelaskan semuanya kepada keluarga Fawaz.

Bab 3

'Bagaimana kalau sampai Mbak Ayla menyalahkanku?' Cemas Pierre dalam hati.

Setelah cukup lama Pierre berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersisa. Ia tak berniat selamanya di sini. Idenya masih sama, mencoba mengirim sinyal bantuan untuk pusat.

“Yapp!!" Tubuhnya sudah terangkat setengah, dengan bantuan kakinya ia akhirnya bisa memanjat. Sampai di atas, ia langsung berlari dengan nafas memburu. Matanya melirik mencari arah tempat awal mereka. Jujur karena berlari ia jadi tidak tahu di mana posisinya sekarang. Pierre hanya mengandalkan nalurinya supaya sampai di barak sementara mereka.

Dalam kepanikan ia berusaha mengingat dengan jelas. Setelah ia yakin. Segera Pierre pergi ke baraknya tanpa pikir panjang.

"Hahh!! Hah!" Nafas memburu, tangannya yang gelagapan mencari alat komunikasi serta bibirnya bergetar juga pucat, sebuah perpaduan yang bisa membuat seseorang menyerah apabila ia di tempatkan pada posisi yang sama dengannya. Jangan katakan apa yang Pierre lakukan adalah tindakan bodoh. Karena setiap manusia memiliki alasan untuk mengambil tindakan itu.

Ia cuma berfikir akan percuma jika ia maju seorang diri menyelamatkan Fawaz. Entah keputusan ini akan ia sesali nantinya atau tidak. Hanya Tuhanlah yang tahu

Ttuutt! Tttuut!

Suara sambungan dari mesin HT yang sangat ia harapkan bisa mendatangkan keajaiban untuk Fawaz mulai mengedar di telinganya.

'Tuhan, aku memang belum menyembah-Mu. Aku masih selalu terlena untuk mengingkari semua hidayah-Mu yang KAU tunjukkan padaku. Tapi lelaki yang tengah berjuang itu adalah hamba-Mu yang baik. Dengan segala kerendahan hati aku berharap ia bisa selamat,' rancau Pierre dalam hati begitu tulus.

"Halo!" suara seseorang berhasil mengangkat HT itu.

"Halo ... halo ... di sini dengan Letnan dua, Pierre Nasution. Saya ingin melaporkan jika Letnan satu Fawaz Omar hisyam hilang di titik koordinat 10.3 arah timur!" Bunyi pesan Pierre yang ia gaungkan penuh pengharapan.

"Halo." Pria yang di ujung telepon justru mengulang kalimat sapaannya lagi.

"Iyah ... halo, tolong kami. Kami dalam bahaya!" ulang Pierre tak lagi memakai cara lapor yang sesuai perintah atasan. Persetan dengan aturan. Nyawa Fawaz jauh lebih penting.

"Maaf tapi di sini kita tidak bisa mendengar apapun.

Kkrriiinngg!

HT itu berdengung seakan menulikan rungunya.

"Tolong, Tolong kami. Fawaz di kejar dua babi hutan," lirihnya memelas. Hatinya hancur, seakan tak ada lagi harapan untuknya menolong Fawaz.

"Lebih baik anda mencoba menghubungi kami lagi nanti!" Alat penghubung satu-satunya terputus. Itu artinya, putus juga harapannya.

Pierre tertunduk. Air matanya jatuh. Sedang tangannya mengepal kuat.

"Maafin aku, Mas!" Setelah mengatakan itu justru Pierre merasa semakin kuat. Ada sisi hatinya yang menolak untuk menyerah.

Ia menatap sebuah senapan. Tak perlu pikir panjang. Pierre keluar lagi dari baraknya membawa senapan itu untuk menembak mati kumpulan babi hutan. Saat ini semua hal sangat ingin ia kerahkan untuk Fawaz, untuk tawa yang begitu menyejukkan hatinya ketika memandang.

***

Sementara itu,

Setelah kawanan babi mengepungnya. Fawaz justru dengan nyali yang besar ikut mendekat dan menaiki tubuh babi yang jauh lebih kecil.

Pria itu langsung menancapkan pisaunya. Dan karena kulit babi itu keras, pisau belatinya justru tertancap tidak mau ditarik lagi. Amukan sang babi semakin tidak terkendali.

Saat itu Fawaz turun dan berlari sekencang-kencang. Ia belum bisa bernafas lega. Ada satu babi lagi yang mengejarnya dengan tatapan murka. Sepertinya yang Fawaz lukai adalah 'istrinya' dan setiap pejantan memang selalu memiliki insting untuk melindungi betinanya.

Fawaz mencoba bersembunyi di pohon besar. Kakinya terasa sakit karena saat ia turun dari badan sang babi ia malah terkena tancapan ranting pohon yang cukup besar.

Fawaz menarik ranting itu tanpa bantuan obat bius. Ia mengerang di dalam tenggorokannya karena tidak mungkin jika ia mengeluarkannya langsung.

Tetes demi tetes darah mengalir. Tapi Fawaz tidak ingin tubuhnya menjadi santapan si babi hutan itu. Jiwa primitif-nya mengatakan jika manusia selalu berada di rantai makanan teratas.

Jadi konyol baginya jika ia berakhir menjadi sajian lezat bagi para babi.

Krreekk! kreekkk!

Babi itu mendekat dan Fawaz merasa siap bertarung sekali lagi. Ia tidak mungkin melewati kehadiran babi itu.

Fawaz tidak mau kalau babi itu menemui kawanan temannya yang lainnya.

Fawaz memilih memutari pohon, berjalan sangat hati-hati dengan ranting runcing di tangannya.

'Bisa ... aku bisa menancapkan sekali lagi!' suara hatinya penuh keyakinan

"Bismillah ... Allahu Akbar!" Ranting itu sudah tertancap seiring gaungan kalimat tauhid dari bibirnya.

Fawaz melotot. Babi kali ini tidak langsung lemas seperti yang tadi. Ia malah semakin terlihat marah. Seperkian detik Fawaz tidak mampu mencerna saat si babi mengobrak-abrik tubuhnya dengan moncongnya yang berruncing. Ia hanya mampu mencoba memegangi perutnya yang perih, meremas darahnya yang keluar. Ooh, bukan lebih tepatnya ia sedang meremas isi perutnya yang terkoyak.

Darah keluar dari mulutnya. Entah luka apa yang Fawaz terima. Seluruh tubuhnya mati rasa. Matanya berkunang, tanpa sadar, ia merasa ingin pingsan.

Lima menit berlalu. Saat tidak ada lagi harapan hidup yang tersisa. Remang di saat ajal menjemput, diantara alam bawah sadarnya, Fawaz masih bisa mendengar bunyi seseorang menarik sebuah pelatuk.

Ddorr! doorr!

Disaat itu pula ia betul-betul tak sadarkan diri.

***

Selang tiga puluh menit dari tragedi berdarah itu. Pierre akhirnya menemui tempat kejadian. Ia terjongkok seraya meremas sisa kain dari baju yang Fawaz kenakan.

Hatinya luruh. Ia betul-betul gagal untuk menyelamatkan Fawaz, mungkin saja jenazahnya telah dibawa binatang liar itu ke habitatnya. Untuk bersama menikmati setiap daging Fawaz yang tersayat karena gigitan mereka.

"Huhuhu ... Mas Fawaz!" Pierre menjatuhkan kening ke tanah dengan senapan di sampingnya. Belum pernah ia merasakan dirinya sebodoh ini sampai tega meninggalkan Fawaz seorang diri. Kenapa tidak mati bersama saja?

Untuk apa dia berlari demi bertahan hidup? Bukankah dia berniat untuk mati cepat?

Khayalan Fawaz tergeletak lemah dengan kawanan babi mengelilinginya semakin membuat batinnya pedih.

Ahkk ... membayangkan saja membuat Pierre ingin bunuh diri. Sayang, ia baru tahu dari Fawaz. Jika kematian dengan cara seperti itu hanya akan mengenaskan di alam sana.

***

Langit semakin menyingsing cahaya mentarinya. Berganti pekat dengan cahaya bulan yang menerawang dari sela-sela dedaunan.

Pierre menghembuskan nafasnya. Seolah baru saja tersadar dari keterkejutannya. Berkali-kali ia menimbang ingin menempelkan senapan ke pelipisnya dan memuntahkan dua atau tiga peluru.

Tapi Pierre tahu, bunuh diri adalah hal yang dilarang agama. Lagipula Fawaz memberikannya mandat yang harus ia jalankan.

Menjaga dan merawat anak dan istrinya. Ia merasa harus kuat. Lagipula tak ada ujian yang didatangkan dengan persetujuan orang tersebut terlebih dulu. Ini Qonnah-Nya dan ia harus menerima dengan tangan terbuka

Pierre juga pernah dengar. Tuhan tidak mungkin memberikan beban di pundak yang salah dan itu artinya ia harus siap.

Ia memutuskan bangkit sambil membawa potongan baju Fawaz sebagai bukti kalau Fawaz telah gugur. Tidak ada lagi yang Pierre pikiran kecuali senyum Ayla yang sempat ia lihat sebelum mereka pergi. Mungkin itu adalah saat terakhir wanita itu tersenyum. Karena setelah ini hanya ada airmata, menangisi belahan jiwanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED