"Lihat ini, Heri, enak banget hidup adikmu itu punya istri anak orang kaya, tinggal di rumah besar dan mewah, ga kaya kamu, apes! Malah nikah sama rakyat jelata, jadi hidupmu gini-gini aja ga ada kemajuan" celetuk ibu mertua sambil memandang layar ponsel.
Aku yang sedang menghidangkan teh dan camilan di atas meja hanya bisa bersikap biasa saja, dihina dan dibandingkan dengan Rista yang tak lain istrinya Ardan adik iparku sudah jadi makanan sehari-hari.
"Lihat tuh di rumahnya ada kolam renang, gede dan juga bersih, enak banget ya jadi Rista tiap hari bisa foya-foya ga kaya kita," celetuk ibu lagi masih memandang ponsel android-nya.
Mas Heri menggeser posisi duduknya dekat ibu lalu dua pasang mata itu melihat layar ponsel bersamaan, memandang takjub benda pipih itu.
"Iya ya, Bu, enak banget jadi Ardan padahal sebelum nikah sama Rista dia pengangguran, eh sekarang jadi orkay mendadak, lah aku dari dulu kerja keras malah dapet ...."
Mas Heri tak melanjutkan ucapannya ia malah melirikku dengan sinis.
"Dapet apa, Mas? kamu nyesel karena punya istri kaya aku yang hanya tukang pentol aja?" sahutku dengan santai, ngapain emosi bikin darah tinggi saja.
"Fikir aja sendiri," sahut Mas Heri sedikit ketus.
"Coba aja kalau kamu punya istri seperti Rista yang kaya raya, pasti hidupmu enak ga perlu kerja keras, Ri," celetuk ibu lagi.
Aku memilih masuk ke dapur dari pada mendengar keluhan dua manusia tak bisa bersyukur itu, mau hidup enak tapi enggan berusaha, mana ada yang seperti itu dimana-mana kalau mau kaya ya harus usaha.
Hari ini rumah sederhanaku akan kedatangan tamu yang katanya istimewa, siapa lagi jika bukan Ardan dan Rista--putri seorang pengusaha sukses yang terkenal di kota ini--
Yang kudengar dari ibu mertua, keluarga Rista memiliki supermarket paling besar di kota ini dan memiliki beberapa cabang, berbeda denganku yang hanya anak seorang penjual daging di pasar, tak heran baik ibu ataupun Mas Heri selalu membandingkan aku dengan istrinya Ardan itu.
"Ma, aku mau kue yang ada depan itu, tapi ga dibolehin sama nenek," rengek Nasya--putriku yang berumur delapan tahun--
Tiba-tiba saja hatiku merasa geram, kue itu aku yang beli masa Nasya tak boleh memakannya walau sepotong.
"Ya sudah biar Mama yang pintain."
Aku bergegas ke ruang tamu.
"E-eh, main comot-comot aja, ini tuh kue buat Rista sama Ardan," celetuk ibu sambil menepis tanganku yang hendak mengambil sepotong kue di atas meja.
"Nasya mau, Bu, kasih ajalah sedikit lagian dia ga minta semua kuenya kok," jawabku sedikit kesal.
"Kalau Nasya mau kue beli aja di warung sana, ini kue mahal dan spesial buat mantuku, mereka ke sini mau ngasih kejutan buat Ibu, jadi harus disambut sama makanan enak dan spesial" jawab ibu sinis.
"Lagian kue ini Heri yang beli tadi khusus buat menyambut adiknya, jadi kamu jangan ngambil seenaknya ya."
"Yang beli memang Mas Heri, tapi uangnya dari aku, Bu!" tegasku sambil mengambil sepotong kue brownis itu dan membungkusnya dengan tissu.
"Hahhhh, yang bener aja masa iya kamu punya uang buat beli kue semahal ini." Ibu memandangku remeh.
"Yaiyalah punya, Ibu lupa kalau aku juga bisa mandiri cari uang sendiri," balasku sambil menyeringai.
"Halaaah, cuma jualan seblak sama pentol aja bangga! Tuh lihat Rista dia anak pengusaha tapi ga sombong!" tegasnya dengan wajah memerah.
Mereka tak tahu saja berapa penghasilanku perharinya yang didapat dari jualan seblak, bahkan gaji Mas Heri sebulan saja ketinggalan jauh, setengah hasil jualan kutabung untuk masa depan dan setengahnya untuk menutupi kekurangan sehari-hari.
Mas Heri bekerja sebagai seorang security di sebuah pabrik industri, gajinya hanya 3juta itu pun penghasilannya dibagi dua dengan ibunya, belum uang bensin dan rokok, tak heran jika uang yang diberikan padaku diminta lagi olehnya.
Entah bagaimana jadinya jika aku tak jualan seblak dan pentol, gajinya hanya cukup untuk beli beras dan kebutuhan selama dua Minggu, sedangkan kebutuhan listrik, air dan yang lainnya memakai uangku dari hasil jualan.
"Nah, itu mereka sudah datang."
Kami serempak celingukan ke arah luar, benar ternyata Ardan dan Rista keluar dari mobil mewahnya itu, lalu di belakangnya ada mobil pick up datang membawa motor Honda PCX berwarna merah.
"Wah ada motor, jangan-jangan motor itu kejutan buat ibu," ujarnya begitu ceria.
Aku menyeringai sambil mengikutinya keluar.
"Ya ampuun motornya bagus banget warna merah lagi, harusnya kalian ga perlu repot-repot lah beli hadiah semahal ini," ujar ibu sambil menggandeng Rista.
"Nih lihat, Amira, menantu kesayangan Ibu beliin motor bagus, kamu mah mana sanggup." Ibu mengejekku.
"Hei ibu-ibu lihat nih menantu saya yang kaya raya itu beliin motor loh, duhh baik banget 'kan dia," teriak ibu pada tetangga yang sedang ngerumpi di rumah sebelah.
Sontak saja beberapa orang ibu-ibu itu menghampiri, menatap takjub motor yang hendak diturunkan oleh pegawai dealer.
"Dengan Bu Amira?" tanya salah seorang pegawai dealer itu, ia berjalan begitu saja melewati ibu.
"Iya betul Pak." Aku mengangguk.
"Loh kok malah nanya Amira, motor itu buat saya atas nama Bu Ninik, Anda salah orang, Pak," sahut ibu membuatku ingin terbahak.
"Maaf, Bu. Tapi motor ini yang beli atas nama Bu Amira bukan Bu Ninik," jawab lelaki itu lalu menyerahkan kunci.
"Apa?! Amira? ... engga! ga mungkin! Dia cuma jualan pentol ga mungkin bisa kebeli motor," ujar ibu dengan mata membelalak.
Terdengar suara tetangga berbisik-bisik ria di belakang, hal seperti ini pasti akan jadi pembicaraan seluruh warga kampung, rasain kamu, Bu, pasti malu banget 'kan.
"Hebat banget kamu, Amira, cuma jualan pentol sama seblak aja bisa beli motor," sahut Bu Nita.
Ibu terlihat seperti kebakaran jenggot mendengar pujian itu, ia 'kan paling tak suka mendengar orang memujiku, lebih senang jika ada orang yang menghinaku maka ia pun akan ikutan menghina.
"Lagian pentol dan seblaknya enak kok, saya langganan tiap hari pasti beli, ga heran lah kalau dagangannya laku semua," sahut Bu Zia, dia salah satu pelangganku yang sering beli tiap hari.
Tak hanya jualan seblak dan pentol mercon saja, aku juga menjual pop ice dan pentol Frozen alias pentol yang sudah dibekukan, sehingga pelanggan yang jaraknya jauh bisa membeli via online.
Dan rencana selanjutnya akan menjual Boba, salah satu minuman yang sedang trend di kalangan remaja, semoga saja rencana itu segera terwujud, karena banyak sekali pelanggan yang request minuman itu.
Orang-orang dealer sudah pergi, jadinya halaman rumah sedikit lega. Aku tersenyum pada ibu dan Rista yang diam mematung.
"Aku mampu kok, Bu, beli motor. Bahkan pakai uang sendiri bukan minta sama suami atau orang tua," celetukku, menyindir tepatnya.
Ibu menyunggingkan sebelah bibir dan menatapku sinis.
"Jangan sombong, baru beli motor aja udah heboh. Tuh lihat Rista dia punya mobil mewah tapi biasa aja, emang dasar orang kampung baru punya begitu aja udah heboh," ungkap ibu dengan wajah merah.
Aku menghela napas, jangan sampai terpancing emosi karenanya.
"Kalau aku sombong mungkin sebelum membeli motor ini udah pamer duluan kali ke kalian semua, lah ini engga 'kan aku beli diam-diam, malah Ibu yang bilang-bilang ke tetangga, siapa coba yang suka pamer dan sombong?" Aku menahan senyum.
Membayangkan kejadian barusan jadi ingin tertawa ngakak, gagal deh punya motor baru.Tapi aku pun penasaran dengan kejutan dari Rista yang akan di kasih ke ibu itu apa.
"Sudah sudah mendingan kita masuk yuk, masa ada tamu dianggurin," seru Mas Heri.
"Oh iya ayo, Sayang." Ibu masih menggandeng Rista masuk ke dalam, matanya mendelik sambil berlalu.
Sementara aku masih di luar dengan beberapa tetangga, kubuka plastik yang membungkus motor itu lalu mencoba menstarter-nya.
Gerungan motor terdengar keren dan gagah, sudah pasti di dalam sana ibu makin kepanasan mendengar suar motor ini.
"Ini motor PCX model terbaru, Amira. Kamu beli cash apa kredit?" tanya Bu Mika, salah satu tukang gosip di kampung ini.
"Alhamdulillah cash, Bu," jawabku biasa saja, supaya ga dibilang sombong.
"Wihh keren kamu ya, terus motor ini buat kamu atau buat Heri?" tanyanya lagi.
"Buat aku, Bu, soalnya butuh banget buat ke pasar sama COD."
Enak banget Mas Heri kalau motor ini untuknya, mending kalau tahu diri dan bilang terima kasih.
"Ya sudah aku masuk dulu ya, ada tamu," ujarku sambil menyimpan kunci motor ke saku.
"Oh iya deh sana." Mereka pun bubar meninggalkan rumahku.
Saat masuk ke dalam wajah ibu terlihat masih merah, sedangkan Mas Heri terlihat sedang kesal, aneh sekali dia harusnya bangga punya istri yang mandiri, tanpa merengek meminta belas kasihan darinya bukan merasa iri.
"Rista, Ardan kalian apa kabar?" tanyaku basa-basi sambil menyodorkan tangan.
"Aku baik kok, Mbak." Ia meraih tanganku, perhiasannya berkilauan dari mulai cincin hingga gelang, dapat dipastikan jika itu berlian.
"Bagus 'kan perhiasan Rista, kamu mah mana punya perhiasan mahal begini," celetuk ibu menghinaku lagi.
Aku menghela napas, sebenarnya mampu beli perhiasan itu memakai uang tabungan, tapi dipikir lagi untuk apa, lebih baik uangnya ditabung dan disedekahkan pada orang yang membutuhkan.
Rista menyeringai senang mendengar pujian ibu.
"Perhiasannya 50jutaan, Bu, murah kok," jawab Rista, merendah supaya terlihat wah tepatnya.
"Wih mahal banget, ini baru perhiasan asli bukan kaleng-kaleng, emangnya Amira perhiasannya emas pasar yang harganya 700rebu hihi." Ibu terkikik.
Dari pada ibu ga kebeli sama sekali, ingin sekali aku katakan itu tapi takut dosa, lebih baik diam saja Allah tida tidur kok, suatu saat orang yang menghina akan terhina sendiri.
"Oh ya, Rista kejutan buat Ibu mana? tadi Ardan chat katanya kalian kemari mau ngasih kejutan," ujar ibu.
"Oh iya ada kok kejutannya." Rista mengeluarkan satu buah kotak kecil yang dihias dengan pita merah, ia memberikannya pada ibu sambil tersenyum.
"Waahh apa ini? jangan-jangan kalung berlian lagi, duh kamu emang baik." Ibu memandang kotak itu sambil mesem-mesem.
"Itu hadiah yang paling berharga, Bu, harganya lebih mahal dari pada berlian," sahut Ardan membuat ibu semakin ceria.
"Waah, benarkah?" Ibu terlihat takjub
Ia menyambar ponsel yang ada di meja, jemarinya bergulir entah mau buat apa.
"Ibu akan live streaming di efbe, biar semua temen-temen tahu kalau Ibu dikasih hadiah yang mahal dan mewah sama Rista."
Wanita itu segera menyalakan kamera depan, tersenyum ceria lalu mulai menyapa teman sosmednya, lebay sekali ibuku saja yang lebih muda darinya tak seperti itu.
"Haaii, hari ini aku seneeeng sekali karena mantuku yang tersayang Rista memberi hadiah, ini diaaa." Ibu memperlihatkan kado dari Rista ke kamera.
Aku segera mengecek ponsel melihat acara live streaming ibu, ternyata banyak sekali temannya yang berkomentar dan memberikan emoticon love.
"Coba kalian tebak kira-kira kotak ini isinya apa ya?" tanya ibu ke kamera.
Kulihat banyak sekali temannya yang berkomentar ikutan menebak isi dari kotak itu, terlihat menggelikan sekali ibu-ibu berusia hampir tua main sosmed, sikap alay-nya melebihi anak ABG masa kini.
"Kalung emas? kayanya ga mungkin deh mantuku Rista ngasih kalung murah emangnya Amira, ayo dong tebak lagi, jawaban yang betul aku kasih pulsa sepuluh ribu," ujar ibu masih tersenyum ke kamera.
Banyak sekali komentar teman-teman ibu yang ikutan nebak isi kotak itu, mending kalau isinya berlian, kalau bukan? ibu pasti malu lagi, hihi.
"Kalau tebakan aku sih ini kalung atau cincin berlian, secara mantuku Rista 'kan kaya, dia juga punya banyak koleksi berlian, ga kaya mantuku yang satu lagi beli baju aja setahun sekali." Ibu cekikikan.
"Ok kita buka ya gays kotaknya." Ibu mulai membuka kotak itu perlahan, ponsel diangkat tinggi-tinggi supaya mengarah ke isi kotak.
"Eng ing eng ...." Ibu masih tersenyum beberapa detik kemudian senyuman itu mulai memudar, aku yang penasaran segera menaruh ponsel dan melihat isi kotak.
"Hahhh, tespek," ujarku sambil membulatkan mata.
"Ternyata isinya tespek gays bukan berlian," seruku dengan suara sedikit keras.
Ibu langsung menaruh ponsel di meja dengan wajah geram, wajahnya terlihat memerah menahan malu, lalu ia menatap Rista dan juga putra bungsunya, mereka mau diapain ya?
Bersambung.
Kasih
"Maksudnya apa kamu ngasih tespek ini, Ardan?"tanya ibu dengan sedikit penekanan.
Ardan dan Rista saling memandang.
"Itu hadiahnya, Bu. Rista lagi hamil," jawab Ardan dengan wajah bahagia.
"Bukankah seorang cucu lebih berharga dari pada emas dan berlian," lanjut Ardan seperti ketakutan.
Kulihat wajah ibu berubah datar, padahal tadi sangat merah menahan amarah. Aneh sekali mantu mau punya anak kok expresinya biasa aja.
"Apa, kamu hamil, Ris? berapa bulan?" tanyaku antusias.
Ibu terlihat mencebikkan mulut, kentara sekali jika ia tak suka dengan kabar gembira ini, wanita yang banyak gaya itu pasti mengharapkan berlian dari anak mantunya.
Kasihan sekali kamu, Bu. Jadi pengen ngakak, eh.
"Baru enam Minggu, Mbak," jawab Rista santai.
Putri sultan itu memandang wajah mertuanya dengan tatapan kecewa, jelas saja kecewa kalau punya mertua mata duitan, giliran ngasih sesuatu muji setinggi langit, tapi pas ga ngasih apa-apa akan menghina sampai puas, ya seperti padaku contohnya.
"Ibu ga suka ya kalau Rista hamil?" tanya Rista sendu.
Ibu mendongkak menatap mantu kesayangannya sambil geleng-geleng kepala.
"Eng engga gitu, Ris. Ibu seneng kok, selamat ya semoga bayimu sehat dan laki-laki," jawabnya, kini ia mulai tersenyum walau sedikit terpaksa.
"Mau laki-laki atau perempuan asalkan lahir sehat dan selamat, Bu," sahut Mas Heri yang sejak tadi diam saja.
Kami semua akhirnya makan masakanku, suasana hening karena ibu tak banyak bicara, selesai makan aku langsung mengecek ponsel dan membuka aplikasi efbe.
Penasaran saja melihat komentar teman-teman ibu, bagaimana reaksinya saat mereka tahu kalau isinya itu bukan berlian.
Benar ternyata banyak yang memberikan komentar sinis dan ejekan.
"Hahaha boro-boro berlian, itu mah six pack, eh salah tespek." Tulis salah salah satu akun gambar Dora Emon, lengkap dengan emoticon ngakak di ujungnya.
"Yah kok gelap, ga seru ah padahal saya mau lihat expresi Bu Ninik pas tahu dalem kotak itu bukan berlian." Akun yang bernama Sesilia itu memberi komentar.
"Padahal udah ngarep banget pengen berlian, eh ternyata zonk." Tulis akun yang bernama Angelina Jolie.
Aku jadi senyum sendiri membacanya, entah mengapa akun Angelina Jolie menjadi pusat perhatianku, setelah nama itu diklik ternyata akun itu milik Bu Iroh tetangga ujung gang.
"Kamu lihat apaan sih senyum-senyum sendiri gitu?" tegur Mas Heri.
"Ah ini Mas, baca komen-komen live streaming Ibu," jawabku sambil menahan tawa.
"Ibu belum matiin live streaming-nya?" tanya Mas Heri.
Ibu terdiam sejenak lalu pergi entah kemana, mungkin hendak mematikan ponselnya yang berada di ruang tamu.
"Maaf ya, Bu, aku sudah bikin malu Ibu," ujar Rista dengan wajah menyesal.
"Engga apa-apa kok, Ris, Ibu sudah biasa dihina dan dipermalukan." Mata ibu terlihat berkaca.
Bukannya dia yang selalu menghina dan mempermalukanku? giliran dihina balik oleh orang lain mewek.
Mereka terlihat berpelukan, setelah itu Rista dan Ardan pamit hendak pulang. Di rumah suasana kembali tegang, Mas Heri dan ibu masih cemberut sesekali menatapku dengan sinis.
"Sekarang jawab! Kamu dapat duit dari mana buat beli motor itu?" tanya Mas Heri mengintrogasi.
"Jangan-jangan kamu jual diri ya sama Om Om?" selidik ibu.
Ingin sekali kusumpal mulutnya pakai tai ayam, ngomong kok seenaknya.
"Ya duit dari hasil jualan, Mas. Ibu juga jangan sembarangan nuduh-nuduh ya, selama setahun aku nabung buat beli motor itu," jawabku sedikit tegas.
Gitu banget punya mertua, suudzon mulu giliran minyak wangi sama skincare-nya abis minta sama aku.
"Buang-buang duit aja kamu ya, kita ini sudah punya motor ngapain beli motor lagi mending buat renovasi rumah , udah mau roboh rumah kita," sela Mas Heri ketus.
"Aku beli karena butuh buat COD sama ke pasar, lagian kamu juga seringnya ga ngasih kalau aku mau pakai motor, salah sendiri kenapa pelit," sanggahku.
Malas rasanya merenovasi rumah karena melihat sikap ibu dan Mas Heri yang tak pernah menghargaiku, walaupun rumah ini atas namaku karena hadiah dari almarhum ayah mertua.
Tapi tetap saja rasanya tak rela jika mereka menikmati hasil jerih payahku tapi masih suka menghina dan merendahkan diri ini, biarkan saja Mas Heri kerja keras dan banting tulang mencari uang untuk merenovasi rumah.
"Harusnya beli motor biasa aja yang harganya di bawah 20jutaan jangan motor mahal begitu, mau bergaya kamu? tukang seblak aja banyak gaya!" celetuk ibu sambil mendelik.
"Sudahlah, Bu, motor itu belinya pakai uangku ga minta siapa-siapa jadi ga usahlah dipermasalahkan," jawabku dengan malas.
Entah mengapa di mata ibu dan Mas Heri apa yang kulakukan pasti semuanya salah, Mas Heri terus memandangku dengan wajah masam dan pandangan menyelidik.
"Kamu mau bergaya supaya dilihat keren di hadapan orang-orang gitu?" tanya Mas Heri.
"Aku sudah bilang motor itu buat ke pasar sama COD-an, Mas, kenapa sih kamu mikirnya jelek begitu? aku 'kan ga ngerepotin kamu," sanggahku sedikit kesal.
"Gini aja deh kalau bener motor itu buat ke pasar sama nganterin makanan ke pelanggan maka kamu pakai saja motor Heri, terus Heri pakai motor kamu, gimana?" usul ibu.
Benar-benar usul yang licik! Jika begini Mas Heri yang bergaya aku yang kerja, enak aja dipikir nyari uang itu mudah.
"Nah iya, aku setuju dengan usul Ibu, lagian ga baik perempuan kaya kamu pake motor bagus, tar dibegal baru tahu rasa, mending aku aja yang pakai," sahut Mas Heri seperti mendapat angin surga.
Bersambung.