Bab 1

Bab 1

"Menikah? Astaga, Ayah! Clara masih kuliah!" Teriakan seorang gadis yang tidak terima atas keputusan sang ayah, membuat semua yang berkumpul di ruang tamu bernuansa Eropa itu tercengang.

"Perbuatan kamu sangat memalukan, Clara! Kali ini Ayah tidak akan memaafkan!" Ayah dari gadis tersebut sangat murka. Tangannya mengepal menahan amarah yang membuncah di dada.

Di salah satu sofa ruang tamu tersebut, terdapat seorang pemuda yang berpenampilan sederhana, hanya duduk mendengarkan perdebatan antara ayah dan anak gadisnya itu. Dia tidak dapat berbuat apapun. Pembelaan yang dia lontarkan sama sekali tidak merubah yang telah terjadi.

"Yah, coba pikirkan lagi! Apa Ayah tega menikahkan Clara dengan laki-laki yang nggak jelas kayak gini!" Ibu dari gadis itu menyela pembicaraan kedua belahan jiwanya. Dia melirik laki-laki itu dengan pandangan sinis. Sedangkan sang pemuda tertunduk dan menahan amarah. Harga dirinya terinjak-injak atas ucapan sang ibu.

"Coba Mama pikir! Kalau Clara hamil gimana?" Pertanyaan dari sang ayah membuat pemuda itu tercengang. Itu adalah tuduhan keji. Dia tertunduk mengutuk dirinya yang tidak dapat membela diri karena tidak ada bukti yang menguatkan, jika dirinya tidak bersalah.

"Astaga, Ayah! Clara minta untuk visum!" sentak gadis itu.

"Tidak ada waktu, Clara! Semua telah mengetahui aib ini. Ayah malu. Nak Gaza, bisa memanggil orang tuanya kemari? Kita akan membicarakan masalah ini lebih lanjut." Pemuda berkaca mata itu terkejut.

"Maaf, Pak. Tapi, saya yatim piatu," jawab pemuda itu gugup.

"Tuh, kan, Yah. Asal usulnya aja kita nggak tahu. Jangan-jangan dia turunan penjahat." Sang Ibu sangat berat menerima keputusan dari suaminya.

Dia sangat menyayangi Clara anak satu-satunya. Tidak mungkin semudah itu dia melepaskan anak gadisnya dengan seorang pemuda yang tidak mereka kenali.

Gaza merasa tersinggung dengan perkataan ibu dari gadis itu. Dia juga sama sekali tidak menghendaki keputusan sepihak ini. Tapi, apalah daya. Dia hanya seorang perantau yang mencari rezeki di kota demi sesuap nasi. Dia hanya butiran debu, jika dibandingkan dengan Clara dan keluarganya.

"Clara mau bawa ini ke jalur hukum! Kalau Ayah nggak mau bantu Clara, biar Clara yang usaha sendiri!" Kemudian gadis itu berlalu ke kamarnya. Dia tidak memedulikan lagi teriakan ayahnya.

Beberapa saat kemudian sang ibu menyusul anak gadisnya itu ke kamar. Setelah dia menyatakan ketidaksetujuannya atas keputusan sang suami.

Gaza merasa bersalah dengan keadaan yang tidak menguntungkan ini. Seandainya dia lebih hati-hati, semua kejadian ini tidak akan membelenggu mereka sejauh ini. Namun, semua telah terjadi dan dia harus menghadapi semua.

"Nak Gaza, Bapak meminta maaf atas semua ucapan mamanya Clara." Gaza tersenyum dan mengangguk, meskipun dadanya panas mendengar hinaan yang dilontarkan wanita yang masih modis meskipun dimakan usia itu.

"Ini sudah menjadi keputusan saya. Sungguh saya sangat malu dengan semua yang terjadi. Apa Nak Gaza setuju dengan semua ini?"

Sebelum menjawab, Gaza membenahi duduknya. Dia terlihat berpikir. "Maaf, Pak. Semua yang menjadi keputusan Bapak, saya mengikutinya." Sebenarnya bukan itu yang akan dia katakan. Setelah melihat wajah memelas dari laki-laki yang telah memutih rambutnya itu, membuat Gaza luluh. Dia harus menerima keputusan ini, meskipun terpaksa.

Setelah perbincangan berakhir, Gaza pamit undur diri. Dia keluar dari ruangan yang menegangkan itu menuju motor sport-nya yang dia parkir di depan rumah. Sebelum mengenakan helm, pemuda berpostur tinggi itu melihat ke lantai atas. Ternyata, Clara berada di balik jendela kamarnya. Netra mereka beradu, lalu Clara melihat tajam ke arah Gaza dan mengacungkan jari tengah sebelum berlalu.

***

Malam ini, begitu banyak bintang bertaburan di langit. Gaza memilih untuk duduk di taman dekat dengan rumah kontrakannya. Dia memikirkan hidupnya setelah ini. Tanggung jawabnya akan bertambah, jika pernikahan yang terpaksa ini benar-benar terjadi.

Kaleng soda di tangannya sudah kosong sedari tadi. Dia hanya memainkannya. Tidak lama kemudian dia meremasnya dan membuangnya ke tong sampah yang ada di depannya. Pemuda itu melepas kaca mata dan menyimpannya di saku kemeja. Kemudian menyandarkan bahunya di kursi taman sambil melihat langit yang betebaran oleh bintang-bintang. Sesekali dia mengusap wajah dan rambutnya dengan kasar. Dia mengutuk dirinya yang sangat ceroboh. Tidak hanya kehilangan pekerjaan. Sekarang, dia harus menikahi anak gadis orang.

Malam semakin larut, Gaza masih bertahan di gelapnya malam dalam kesendirian. Taman tersebut juga sudah terlihat sepi. Hanya beberapa orang saja yang tinggal. Kemudian pemuda itu berjalan menuju mini market 24 jam di depan taman.

Setelah masuk, Gaza mengambil minuman kaleng bersoda di lemari pendingin. Tidak lupa dia membeli rokok. Kemudian dia membayarnya dan duduk di depan mini market tersebut.

Gaza menyulut rokoknya. Dia melihat pasangan muda mudi yang berlalu lalang di depannya. Mereka terlihat sangat mesra. Berjalan sambil bergandengan tangan. Ada juga yang duduk di bangku taman sambil bercanda. Gaza tersenyum, apakah kelak dia akan melakukan hal itu dengan Clara?

Gaza tersenyum kecut ketika memikirkan Clara. Gadis itu sangat membencinya. Bagaimana bisa mereka menjalankan pernikahan atas dasar kebencian? Sikap Clara di rumahnya tadi, membuat matanya terbuka. Apa dia harus membatalkan keputusan yang telah disepakati?

***

Gaza sengaja bangun terlambat pagi ini karena sudah tidak ada tanggung jawab untuk bekerja. Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Dia mengabaikannya dan memilih untuk tetap tidur.

Beberapa kali dia mematikan panggilan dari nomor tidak dikenal itu. Namun, penelepon itu terus mengganggu, sehingga membuat tidurnya tidak nyaman. Terpaksa dia mengangkat panggilan tersebut.

"Halo ...."

"Lo ke mana aja! Gue cari di perpus, tapi nggak ada. Semua bilang lo dipecat! Gue nggak mau tahu! Sekarang gue tunggu di kantin dekat perpus, cepat!" Gaza mendengar suara gadis yang sangat dia hapal melalui pengeras suara. Suara tersebut bagaikan alarm yang membuatnya harus bergegas untuk pergi. Tanpa mandi, hanya mencuci muka dan menggosok gigi, Gaza melaju ke kampus demi panggilan seorang gadis bernama Clara.

Lima belas menit kemudian, Gaza telah sampai di tempat Clara. Dia mencari sosok cantik tersebut. Setelah menemukan gadis itu, dia segera menghampirinya.

Gaza tersenyum pada Clara. Bukannya membalas senyum tersebut, gadis itu memandang penampilan Gaza yang berantakan. Rambut disisir asal dan hanya memakai celana selutut dengan atasan kaus.

"Ada yang penting, Ra?" Suara Gaza mengejutkan Clara. Kemudian dia mempersilakan Gaza untuk duduk.

Gadis itu menunjukkan sebuah lembaran dari map yang dia bawa. Sebelum membaca, Gaza membenarkan kaca matanya terlebih dahulu. Baru satu paragraf dia membacanya, Clara menyodorkan lembaran yang lain.

"Lo harus tanggung jawab, Za! Semua peristiwa ini terjadi atas kecerobohan yang lo buat!" Gaza tercengang. Dia melanjutkan kembali membaca lembaran tersebut. Ternyata isinya adalah tuntutan untuk dirinya. Dia dijerat dengan pasal kelalaian dan pencemaran nama baik. Atas tindakan tersebut membuat korban mengalami kerugian.

"Nggak bisa gini, Ra! Aku nggak terima!"

"Perbuatan lo itu merugikan gue tahu nggak! Lihat ini! Gue di-Do!" Gadis itu menunjukkan lembaran satu lagi dengan mata berkaca-kaca.

"Kalau Ayah nggak bantu gue, teman-teman gue dari bantuan hukum Fakultas siap urus semua!"

"Tapi, ini bukan kesalahanku, Clara! Semua terjadi gitu aja!" Gaza kehabisan kata. Dia tidak dapat meyakinkan Clara atas kejadian yang terjadi.

"Setelah visum dilakukan, gue mau polisi selidiki kejadian ini. Kalau lo terlibat, jangan salahkan gue tuntutannya akan lebih banyak lagi!"

Gaza membelalakkan matanya, ternyata perempuan di depannya ini tidak main-main dengan tindakannya.

Bab 2

Bab 2

Gaza tertunduk lesu. Dia tidak menyangka Clara akan berbuat sejauh ini. Sebelum meninggalkannya, Clara mengancam dirinya untuk tidak melarikan diri. Apalagi dia akan melakukan visum hari ini bersama tim bantuan hukum dari Fakultas Hukum.

Ayah Clara mengatakan, jika dia tidak akan membantu Clara lagi karena dia sangat kecewa atas perbuatan gadis tersebut. Gadis itu memilih jalannya sendiri untuk menyelesaikan kasus ini. Yaitu: Menuntut penyelesaian kasus ini melalui lembaga hukum fakultas.

Meminta bantuan hukum kepada tim tersebut, tidaklah sulit bagi Clara sebab dia adalah bagian dari tim tersebut. Sebenarnya Gaza senang atas tidakan Clara. Apabila ini berhasil, penyidik akan menangani kasus ini dan semua akan terungkap. Namun, di benak Gaza terlintas wajah ayah Clara. Dia seorang anggota dewan yang terkenal dengan wibawanya.

Tuan Renaldi Wijaya Kusuma. Sosok anggota dewan yang sangat menjunjung tinggi moral bangsa. Dia adalah sang penegak keadilan bagi rakyat jelata. Bagaimana jika publik mengetahui kasus ini? Citra itu akan tercoreng.

Untuk menghilangkan penat, Gaza beranjak dari kantin menuju perpustakaan kampus. Di sana dia akan menemui sahabatnya. Darinya, dia akan mengetahui perkembangan kasusnya. Gaza menempuh jalan lain untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dia akan menyelidiki secara diam-diam. Banyak yang dia pertimbangkan jika mendukung cara Clara.

Di depan perpustakaan besar itu, Gaza memilih duduk di bangku depan pintu masuk. Pemuda berwajah oriental itu mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk menghubungi temannya. Dia tidak mungkin masuk ke dalam karena kartu identitasnya telah dicabut oleh pihak Universitas. Gaza menunggu temannya di depan perpustakaan. Oleh karena bosan, Gaza menyulut rokok yang dia simpan di saku celananya sambil melihat sekeliling.

Pemuda itu memandang bangunan berlantai tiga di depannya. Kemarin, dia masih bekerja di sini. Melayani para mahasiswa yang akan meminjam buku. Matanya beredar memandang sekitar bangunan. Meja administrasi terlihat dari pintu kaca. Dia merindukan duduk di meja itu. Sekarang posisinya telah tergantikan dengan yang lain.

Gaza menyugar rambut ikalnya dan tangan satunya memainkan batang rokok yang dia pegang. Matanya menatap tajam jendela yang selalu tertutup di ruang bawah perpustakaan itu. Ruangan itu yang menjadi awal mula petaka yang dia hadapi sekarang.

***

Kejadian sebelumnya.

Sore itu, pesanan buku oleh pihak Universitas datang. Gaza membantu temannya untuk menyusun buku di ruang bawah. Ruangan tersebut digunakan sebagai gudang buku atau tempat menyimpan buku yang baru datang, tapi belum terdata. Ada juga buku lama yang kondisinya sudah tidak layak lagi.

Oleh karena buku yang datang banyak, Gaza dan temannya melupakan waktu yang berlalu. Senja datang menyapa. Setelah semua selesai, teman Gaza pamit terlebih dahulu sedangkan Gaza masih harus bersiap.

Perpustakaan sudah sepi, hanya ada seorang office boy yang telah selesai membersihkan seluruh ruangan perpustakaan. Dia menunggu Gaza keluar. Kemudian dia akan mengunci seluruh pintu di perpustakaan tersebut.

Saat Gaza bersiap untuk keluar perpustakaan, tiba-tiba Clara datang. Dia bersikeras untuk meminjam buku, meskipun Gaza sudah memberitahu jika perpustakaan sudah tutup.

"Tolong, Mas, ya. Bukunya untuk besok pagi," pintanya.

"Mbak-nya nggak lihat, komputer udah mati semua! Gimana mau cari buku, Mbak?"

Namun, Clara tetap pada pendiriannya. Melihat permohonan gadis cantik di depannya, akhirnya Gaza luluh. Dia meminta kepada office boy tersebut untuk menunggunya sebentar. Sementara dia dan Clara mencari buku yang gadis itu minta secara manual.

Tiga puluh menit kemudian, Gaza menemukan buku yang Clara cari. Segera dia mencatatnya di note untuk sementara dan keesokan paginya dia akan mendatanya di komputer. Kemudian Gaza menyerahkan buku tersebut pada Clara. Gaza pun keluar perpustakaan bersama dengan Clara.

Hari telah gelap ketika keduanya keluar dari perpustakaan. Saat menuju tempat parkir, Gaza sempat berbasa-basi dengan Clara. Gadis itu menanggapi obrolan tersebut dengan ramah.

***

Esok hari, hal tidak terduga terjadi. Gaza di panggil pimpinan perpustakaan ketika dia baru tiba. Pemuda itu mengikuti langkah atasannya tersebut ke ruang bawah tempat penyimpanan buku.

Betapa terkejutnya laki-laki itu, ketika mendapati ruangan tersebut berantakan penuh dengan botol alkohol dan putung rokok berserak. Bau menyengat menusuk penciumannya, saat Gaza masuk ke dalam ruangan itu.

Tidak hanya itu, dia juga melihat alat kontrasepsi bekas yang tercecer di sudut ruangan. Pemuda itu menelan ludah karena jijik melihat benda yang dia lihat.

"Kamu yang terakhir di ruangan ini, kan, Za?" tanya Ibu Maria, pemimpin perpustakaan tersebut.

"Iya, Bu. Tapi, kemarin rapi." Pemuda itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya pagi ini.

Kemudian Ibu Maria membawa Gaza ke ruangannya. Pemuda itu berjalan dengan perasaan tidak menentu. Dia diliputi rasa bersalah karena ini adalah tanggung jawabnya. Dia yang terakhir berada di ruangan itu.

"Za, CCTV depan, merekam kamu keluar bersama perempuan. Ada yang bisa kamu jelaskan sebelum rektor panggil kamu?" tanya perempuan berhijab itu, setelah mereka duduk di meja pimpinan di lantai paling atas.

"Ya Ampun, Bu. Itu mahasiswi Hukum yang mau pinjam buku!" Gaza menggaruk kepalanya. Ternyata masalahnya bertambah rumit.

"Itu sudah malam, Za. Perpustakaan tidak menerima pelayanan lagi setelah pukul lima sore!" Pemuda itu terlihat menyusun kata untuk membela dirinya.

"Kemarin saya susun buku sama Toni. Kemudian Toni pulang terlebih dahulu." Gaza menjeda kalimatnya. Dia menenangkan diri untuk melanjutkan ceritanya.

"Saat saya akan keluar perpus. Mahasiswi itu datang. Dia merengek untuk pinjam buku."

Ibu Maria masih menunggu Gaza untuk menjelaskan semua.

Dia melihat mata Gaza. Tidak ada kebohongan di sana. Dia tahu bawahannya ini adalah orang yang jujur. Selama bekerja di tempat ini, tidak pernah melakukan kesalahan fatal yang merugikan orang lain.

"Lantas kamu kasian dan mencarikan buku yang akan dia pinjam. Ya Allah Gaza! Karena kasian sama orang kamu dapat masalah!" Wanita paruh baya itu memijit pelipisnya.

"Ada saksi, Bu! Office boy yang kerja kemarin sore." Ada secercah harapan untuk Gaza. Senyum yang tadi redup, tiba-tiba tersungging di wajah tegangnya.

"Office boy? Oke kalau gitu saya akan mencari tahu orang tersebut." Kemudian Ibu Maria mempersilakan Gaza bekerja kembali.

Di lantai dasar, semua karyawan menunggunya. Mereka meminta Gaza untuk menjelaskan yang terjadi, termasuk Toni.

"Gimana, Za?" tanya Toni.

"Masih diselidiki Bu Maria, tunggu aja!" jawab Gaza. Karyawan yang lain berebut untuk menanyakan kejadian yang sesungguhnya kepada pemuda itu.

Gaza hanya menjawab seadanya. Dia juga masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja dia alami. Semoga atasannya segera menyelesaikan kasus ini.

Satu jam berlalu, Gaza menunggu keputusan kasusnya dengan waswas. Dia tidak berkonsentrasi melayani para peminjam buku yang harus mengantre lama karena kelambatannya bekerja.

"Santai, Za!" Toni berlalu sambil menepuk bahu pemuda itu dan Gaza tersenyum untuk membalasnya.

Selang beberapa menit, Bu Maria memanggilnya untuk datang ke kantor.

"Za, kamu yakin ada office boy yang kerja sore itu?"

"Yakin, dia yang nunggu saya, Buk."

"Di catatan kepegawaian, nggak ada office boy yang masuk sore itu, Za."

***

Gaza dan Toni duduk di ruang Rektor dengan perasan tidak menentu. Mereka tidak menyangka keterlambatannya kemarin, membawa masalah besar yang siap membelenggu. Saat mereka berdua sedang berbincang, Pak Santoso-Rektor Universitas- datang bersama Bu Maria dan Clara. Sebelum duduk, gadis itu menghunus Gaza dengan tatapan tajam. Oleh karena gugup, berkali-kali Gaza membenahi kaca matanya yang telah terpasang dengan rapi.

"Bapak mengucapkan terima kasih karena kalian mau berkumpul di sini untuk menyelesaikan masalah yang memalukan ini." Semua mendengarkan Pak Santoso berbicara.

"Langsung saja, mungkin Gaza juga Toni sudah melihat kondisi perpustakaan pagi ini. Tolong jelaskan apa yang kalian ketahui tentang hal ini." Rektor itu berbicara dengan lembut.

Toni menjelaskan semua yang terjadi dari pertama buku datang sampai dia berpamitan untuk pulang. Setelah itu, Gaza menjelaskan semua yang terjadi di perpustakaan setelah Toni pulang. Clara tidak menyanggah keterangan Gaza karena semua yang terjadi memang benar adanya.

"Baiklah, setelah Bapak mendengar semua penjelasan kalian. Bapak akan mengungkapkan sesuatu. Ini sangat aneh. Pertama, seperti yang kalian ketahui. Terdapat adanya barang-barang terlarang di dalam gudang penyimpanan buku. Kedua, semua CCTV perpustakaan mati, kecuali di lantai tiga dan di pintu keluar."

Gaza dan Toni saling pandang. Mereka tidak mengetahui akan hal ini. Padahal Gaza berniat mengusulkan untuk melihat seluruh CCTV. Jika CCTV yang hidup hanya di lantai tiga, itu berarti percuma karena kejadiannya ada di lantai bawah dan Clara meminjam buku ada di lantai dasar, tempat administrasi. Sedangkan CCTV di pintu keluar, tidak menyorot ke dalam ruangan. Ia mengarah ke luar ruangan.

"Pak, saya mohon untuk mencari office boy yang kemarin bekerja saat sore hari setelah perpus tutup. Dia satu-satunya saksi saat itu," mohon Gaza.

Toni memandang Gaza. Dia menautkan alisnya. Sebelum dia berbicara, Ibu Maria terlebih dahulu memotong ucapannya. "Sudah Ibu bilang, Za. Tidak ada daftar office boy yang kerja sesore itu di perpustakaan. Ibu sudah menanyakan ke bagian kepegawaian juga, mereka tidak tahu menahu tentang pegawai itu."

"Maaf, saya menyela. Memang benar tidak ada office boy yang kerja lewat jam lima sore dan tidak ada pegawai yang masuk daftar pengganti di catatan saya. Ada office boy yang izin dua hari karena sakit. Tapi pekerjaannya digantikan oleh yang lain dan sore itu, semua office boy sudah pulang sebelum jam lima." Keterangan Toni semakin membuat Gaza terbelalak.

Semua karyawan baru ataupun magang, semua harus menemui Toni sebagai bagian koordinasi perpustakaan. Apabila Toni berkata demikian, sudah dipastikan office boy tersebut memang tidak ada.

Clara yang melihat sendiri ada office boy, membenarkan perkataan Gaza. Dia juga bersaksi, jika pegawai tersebut menunggu Gaza mengambilkan buku untuknya. Namun, semua dibuat bingung oleh keterangan keduanya. Apalagi didukung oleh CCTV yang tidak berfungsi, hal itu semakin menyulitkan semua orang.

"Gaza dan Clara, Bapak berharap masalah office boy tidak kalian karang. Semua mengatakan tidak ada karyawan baru yang masuk, bagaimana bisa kalian mengatakan demikian?" Suara Pak Santoso lebih tegas saat ini. Hal itu membuat Gaza dan Clara menunduk.

"Saya sebelumnya meminta maaf atas semua yang terjadi, Pak. Ini murni karena kelalaian kami. Ke depannya saya akan mencari tahu lebih dalam masalah ini, terutama masalah office boy yang Gaza sebutkan tadi." Ibu Maria menengahi. Dia berkata dengan sangat lembut. Wanita paruh baya itu menyesal tidak teliti atas kejadian ini sehingga karyawan terbaiknya mendapatkan masalah.

Dua jam berlalu, semua masih membahas masalah yang kacau ini. Masing-masing pihak bersikukuh dengan pendapatnya. Akhirnya, rektor menengahi dan menyudahi sidang hari ini.

"Saya berharap masalah ini tidak diketahui oleh publik karena nama Universitas kita dipertaruhkan." Semua setuju dengan pendapat Rektor.

***

Setelah keluar dari ruang Rektor, Toni mengajak bicara Gaza di kantin yang masih terlihat sepi karena para mahasiswa belum banyak yang keluar untuk istirahat. Mereka berdua berdiskusi di sudut kantin tersebut.

"Za, lo yakin ada office boy petang itu?"

"Kamu denger tadi Clara bilang apa? Dia nunggu aku ambil buku yang mau dipinjam Clara."

"Astaga, Za! Gue nyesel ninggalin lo sendiri. Gue buru-buru kemarin. Setau gue, office boy yang pulang duluan bareng gue udah kunci semua pintu. Tinggal pintu depan, itu tugas lo. Dan lo tinggal serahin kunci ke satpam, kok, jadi rumit gini, ya?"

"Nasibku, Ton."

"Gue heran, CCTV mati, ada office boy yang tiba-tiba nongol. Gue kayak orang bego, nggak tau apa-apa. Lo nggak matiin CCTV, kan?"

"Mana bisa aku, Ton. Itu tugas IT. Aku Cuma ngurus komputer sama rapikan buku aja, abis itu pulang."

Mereka terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Toni menggebrak meja. Membuat Gaza tersedak kuah bakso yang dia makan.

"Gue cari tau ke anak IT nanti." Gaza bergegas minum untuk meredakan batuknya. Kemudian dia memaki Toni yang membuatnya celaka.

***

Keesokan paginya, masalah yang membelenggu Gaza dan Clara tidak kunjung reda. Kasus itu menyebar ke seluruh penjuru kampus. Ibu Maria mendapatkan banyak kecaman karena dia dituduh menyembunyikan karyawan mesum.

Gaza yang bertugas meminjamkan buku mendapat banyak pertanyaan dari mahasiswa yang ingin mengetahui kejadian sebenarnya. Dia kewalahan menjawab pertanyaan tersebut. Toni yang melihat temannya terdesak, memintanya untuk pergi dan dia menggantikan pekerjaannya, meskipun tugasnya sendiri sedang menumpuk.

Gaza masuk ke ruang istirahat. Dia memikirkan semua yang terjadi. Di lingkup perpustakaan ini saja, masalah tidak kunjung mereda. Benaknya teringat akan Clara. Dia terus bertanya-tanya apa yang sedang gadis itu lakukan sekarang.

Ya Allah Clara, kamu lagi apa? Kamu dengar berita ini nggak? Semua sudah menyebar ke mana-mana, batin Gaza.

Tiba-tiba Toni masuk ke ruangan itu dengan tergesa. "Za, gawat! Ternyata Clara itu anak anggota dewan. Sekarang dia disidang sama Rektor. Semua dosen dan mahasiswa nuntut Clara untuk tanggung jawab."

"Maksud kamu apa? Kenapa Clara yang salah?"

"Dia disalahkan karena dituduh mesum di perpus!"

Gaza terbelalak, jika Clara saja bersalah dalam situasi ini, bagaimana dengan dirinya?

Beberapa saat kemudian Bu Maria menemui Gaza. Dia meminta pemuda itu untuk datang ke ruangannya. Muka wanita itu sangat tegang saat mereka duduk bersama di ruangannya.

"Za, Ibu minta maaf. Ini bukan keputusan Ibu, tapi demi kenyamanan bersama. Untuk sekarang, Ibu istirahatkan kamu dari pekerjaan sampai masalah ini mereda. Suasananya sudah sangat kacau, Za. Ibu nggak tau lagi harus gimana."

Gaza tertunduk. Dalam hatinya ingin memberontak. Dituduh melakukan sesuatu yang sangat memalukan. Tapi, dia hanyalah bawahan. Menentang pun percuma.

"Kamu ke ruang Rektor sekarang, ya. Bantu Clara."

***

Setelah berada di ruang rektor, Gaza melihat Clara sedang membela dirinya di hadapan Rektor dan dosen yang menyudutkannya. Gadis itu terlihat menahan air matanya. Segera Gaza meminta izin untuk masuk. Semua mempersilakan pemuda itu untuk duduk dan setelah dia duduk semua yang ada di ruangan itu memberondong Gaza dengan pertanyaan yang sulit untuk dia jawab.

"Maaf Gaza dan Clara. Untuk meredakan masalah ini, saya harus memanggil orang tua kalian supaya masalah ini segera diselesaikan."

"Jadi, Bapak menuduh saya berbuat mesum? Saya tidak terima, Pak! Saya mau visum untuk membuktikan ini semua!" Suara Clara meninggi. Air mata menetes di pipinya. Gaza segera menenangkan gadis itu, tetapi penolakan yang dia dapat. Clara menatapnya penuh kebencian.

Bab 3

Bab 3

"Ngelamun, lo, Za!" Toni mengagetkan Gaza yang sedang memandang gudang penyimpanan buku.

"Ada kabar?"

"Belum, tapi lo tenang aja, ada anak IT yang mau gue introgasi."

"Office boy itu belum ketemu?"

"Susah, Bro! Nggak ada yang tahu dia siapa dan dari mana. Itu urusan Bu Maria."

Gaza menepuk punggung Toni untuk mengucapkan terima kasih. Dari dalam hatinya ada perasaan tidak terima atas tuduhan ini semua. Apalagi sekarang Clara di-DO. Perasaan bersalah itu semakin bersarang di benaknya.

"Aku bingung, Ton. Tiga hari lagi kawin, tapi belum ada kerja. Mana Clara kena DO?"

Toni mengulum senyum. Ada bagian lucunya dalam kasus ini. Akhirnya temannya itu tidak jomlo lagi.

"Jangan ngledek! Aku serius. Kalau ada kerja kasih tau aku!"

***

Sementara itu, gadis manis yang mengenakan baju kasual sedang menunggu hasil visum yang dia lakukan satu jam yang lalu. Clara hanya mondar-mandir di depan laboratorium rumah sakit. Mukanya terlihat menegang, padahal tidak ada yang perlu ditakutkan. Gadis itu selalu menjaga diri selama ini. Semua orang mengetahui hal itu. Clara hanya tidak ingin kasus yang mengerikan ini mencemarkan namanya. Apalagi sekarang ayahnya sangat percaya dia melakukan hal yang buruk.

Setelah dipanggil untuk mengambil hasilnya. Clara bersama dengan teman tim bantuan hukum fakultas menerima hasil tersebut untuk dijadikan bukti. Dia begitu senang karena dapat membuktikan kepada seluruh orang yang menuduhnya, jika dia tidak bersalah.

Tim bantuan hukum tersebut menyimpan barang bukti untuk diberikan kepada pihak kampus keesokan harinya.

***

Esok paginya, Clara meminta Gaza untuk bertemu di kampus. Saat bertemu, Gaza senang karena melihat senyum Clara yang hilang setelah beberapa hari kemarin. Berarti masalah ini akan segera berakhir. Dia juga akan bekerja kembali. Keduanya menunggu tim bantuan hukum dari fakultas di kantin.

Salah satu tim yang juga teman Clara terburu-buru untuk menemui gadis itu. Mukanya pucat dan tangannya gemetar. Setelah melihat Clara dan Gaza terburu dia menghambur ke tempat duduk keduanya.

"Ra, kami benar-benar minta maaf!" katanya dengan gemetar.

"Untuk?" tanya Clara.

"Ra, kita udah usaha, semua juga sangat kecewa dengan semua ini. Tapi, pimpinan bantuan hukum menolak berkas yang kamu ajukan!" Clara dan Gaza saling pandang. Keduanya tidak mempercayai kenyataan yang ada di depan mata. Semua usaha terakhir yang mereka lakukan gagal.

"Kenapa bisa ditolak?" tanya Gaza.

"Gue nggak tau, ke pimpinan langsung aja kalian, gue dan yang lain syok juga."

Tanpa aba-aba lagi Clara berlalu ke kantor Fakultas Hukum. Langkahnya setengah berlari, Gaza dan teman Clara yang berada di belakang tidak kalah panik. Mereka terburu-buru untuk pergi menemui pemimpin lembaga bantuan hukum fakultas tersebut.

Setelah sampai di kantor, ternyata pemimpin tersebut tidak berada di tempat. Hal itu membuat Clara dan yang lainnya kecewa. Gadis itu tertunduk di lantai depan kantor. Dia meratapi nasib buruk yang datang kepadanya.

"Ya ampun, ini usaha terakhir gue. Kalian tau sendiri, kan, gue nggak lakuin yang enggak-enggak sama Gaza. Kalian lihat hasil visumnya, kan? Lo juga jadi saksi, Za! Gue nggak macem-macem sama lo, kan?" Semua teman Clara mendekat padanya. Mereka menenangkan gadis itu.

Sementara Gaza hanya bisa melihat. Dia sadar diri semua ini terjadi karena kelalaian dirinya. Di dalam dadanya ada yang sangat sakit menyaksikan tangisan pilu gadis itu. Apakah permintaan maafnya diterima olehnya.

"Ra, aku ...."

"Pulang aja, lo, Za!" Bentakan Clara membuat Gaza menjauhi gadis itu. Mungkin ini waktu yang tidak tepat untuknya. Besok jika dia sudah tenang, Gaza akan berbicara dengannya.

***

Hari terburuk untuk Gaza dan Clara telah datang. Pernikahan terpaksa itu akan segera dilaksanakan. Tidak ada dekor pengantin mewah, tidak ada katering yang menawarkan banyak menu makanan, tidak ada juga hiasan pelaminan. Hanya ada meja untuk melaksanakan janji setia dengan hiasan sederhana. Semua berbanding terbalik dengan rumah mewah ini.

Clara datang dari kamar dengan penampilan sederhana. Riasan ala kadarnya jauh dari kata layak untuk seorang pengantin, baju kebaya berwarna putih sederhana, juga tanpa senyuman.

Pernikahan paksa ini sungguh sangat menyiksa sang gadis. Matanya sembab dan bengkak akibat menangis semalam. Gaza yang melihat calon istrinya sangat sedih. Dalam hatinya berjanji akan membahagiakan Clara apapun yang terjadi. Ini semua telah menjadi takdir Tuhan. Clara adalah teman hidup yang Tuhan kirim untuknya.

Acara ijab qabul berjalan dengan lancar. Ayah Clara menyerahkan putrinya kepada Gaza sepenuhnya. Dia telah berikrar jika putrinya telah menjadi milik Gaza. Itu berarti tanggung jawab pemuda itu bertambah.

Pandangan Gaza tidak beralih dari Clara. Sedari awal gadis itu hanya menunduk, sesekali dia mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Sungguh pemandangan yang membuatnya tersayat. Ingin dirinya memeluk gadis itu hanya sekadar mengurangi beban, tetapi yang dia tahu Clara sangat membencinya.

Setelah acara sakral itu selesai, Gaza membawa Clara ke rumahnya. Meskipun awalnya sang gadis menolak. Gaza membawa Clara ke rumah setelah gadis itu berberes. Mereka diantar oleh supir rumah Clara. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Clara melihat keluar jendela begitu juga Gaza, sesekali pemuda itu mencuri pandang melalui kaca spion. Namun, gadis itu sama sekali tidak memandangnya.

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah kontrakan Gaza. Saat Clara menginjakkan kaki di rumah sederhana itu, dia merasa tidak terbiasa dengan suasananya. Gadis itu terbiasa dengan kehidupan mewah, sekarang dia bersuamikan orang yang sederhana.

"Kamar cuma satu?"

"Iya."

"Ya ampun, Za. Terus gue tidur di mana?"

Gaza menggaruk kepalanya. Dia tidak memikirkan hal ini. Kemarin, dia hidup sendiri. Sekarang, dia harus berdua dengan seorang wanita dalam satu atap.

"Entar aku tidur di luar." Gaza mengambil keputusan. Dia mengalah. Lelaki itu tidur di sofa ruang tamu sekaligus tempat makan dan tempat bersantai.

Baru beberapa menit Clara berada di rumah sederhana itu, Gaza dibuat pusing karena keluhan sang gadis. Seperti kamar mandi tidak bersih, dapur yang kecil, juga kamar Gaza yang berantakan dan bau. Pemuda itu hanya mengangguk saja jika Clara berkata untuk merubah semua rumahnya.

"Di kulkas cuma ada air?" Clara muncul dengan tiba-tiba. Suara besarnya mengagetkan Gaza yang sedang menonton acara televisi.

"Mau makan? Ada mie instan di rak dapur." Bukannya pergi untuk memasak, gadis itu semakin marah dan melempar gaza dengan piring plastik yang dia tenteng ke mana-mana.

"Gue laper, Gaza! Masakin!"

"Masak sendiri!"

"Gue nggak bisa masak!"

***

Gaza bergegas menuju dapur. Beberapa saat tadi, dia mendengar suara piring pecah dan teriakan.

"Kenapa, Ra?"

"Masih tanya lagi, lihat lantai!" Gaza melihat pecahan kaca berserakan di lantai. Segera dia mengambil sapu dan membersihkan serakan tersebut.

"Hati-hati, Ra. Kamu ngapain aja? Dari tadi masak nggak selesai."

"Udah gue bilang! Gue nggak bisa masak!" Gaza menahan tawa. Betapa anehnya perempuan di depannya. Seharusnya perempuan itu pandai memasak.

"Ini gimana? Kompor dari tadi nggak nyala." Gaza menepuk jidadnya. Menyalakan kompor saja gadis ini tidak bisa.

"Kamu duduk aja, biar aku yang masak. Dari pada dapurku meledak!"

Clara melotot karena mendengar ledekan Gaza, sedangkan Gaza tidak tahan lagi untuk tertawa.

Beberapa menit kemudian mie instan siap dihidangkan.

"Silakan makan, Nona."

"Ya ampun, Za. Cuma mie aja, nggak ada telor gitu."

"Sorry, aku dipecat kemarin. Nggak ada uang untuk beli telor."

***

Malam pun tiba, Clara bingung dengan tempat tidurnya sekarang. Gadis itu terbiasa dengan ranjang yang besar dan kamar tidur ber-AC. Di kamar Gaza, hanya ada tempat tidur sempit, AC juga tidak ada, hanya kipas angin yang mendinginkan ruangan.

Clara hanya membolak-balikkan badannya. Oleh karena tidak tahan, gadis itu keluar dan mengajukan protes pada Gaza.

Saat dia keluar Gaza sedang menonton televisi. "Kenapa Nona? Nggak bisa tidur? Mau ditemani?" Kemudian pemuda yang hanya memakai celana boxer dan kaos itu tertawa terbahak.

Clara yang tidak terima, menghampiri Gaza dan melemparnya dengan bantal yang ada di samping pemuda itu.

"Kamar lo bau, sempit, udah gitu panas!"

"Terus?"

"Gue tidur sini aja!"

"Berdua?"

"Gue nggak sedang becanda! Lo sekarang masuk kamar!" Gaza mengikuti perintah gadis itu. Namun, beberapa menit kemudian Clara berteriak memanggil Gaza. Pemuda itu pun bergegas keluar kamar.

"Ra, ini malam. Kamu pikir di hutan!"

"Gue takut, Za. Serem di sini."

"Astaga, Clara! Kalau kamu mau ditemani tidur, oke aku siap. Ayo ke kasur sekarang!"

"Otak lo emang mesum, ya!" Clara malu karena perkataan Gaza yang terlalu vulgar untuknya. Dia menutup mukanya dengan bantal supaya Gaza tidak melihat pipinya yang memerah.

"Terus mau kamu gimana?"

"Gue mau pulang!" Gaza terbelalak. Kalau gadis ini merengek untuk pulang, ayahnya pasti menganggap jika Gaza tidak bertanggung jawab.

"Jangan pulang sekarang, Nona. Ini sudah malam."

Clara melihat Gaza dengan tatapan membunuh. Kemudian dia bersandar di sofa dan melihat acara di televisi. Gaza semakin bingung apa yang harus dia lakukan. Pemuda itu hanya berdiri dan bersandar di pintu kamar. Menunggu perintah Clara.

Clara tidak tenang duduk di atas sofa, berkali-kali dia merubah posisi duduknya. Sekarang gadis itu tidur memiringkan badannya dengan menghadap televisi.

Ada sesuatu yang berdesir dalam diri Gaza saat melihat tubuh seksi di depannya. Piyama tidur berwarna gold dan berbahan satin yang dikenakan Clara semakin membuatnya menarik. Diam-diam pemuda itu menikmati keindahan yang ada di depannya sambil bersandar di pintu.

"Ngapain lo nyandar di situ?" Bentakan Clara membuat Gaza tersadar.

"Aku nggak tau mau ngapain. Belum ada perintah!"

Clara memandang Gaza sangat lama. Gaza yang dipandang gadis cantik di depannya, menjadikannya salah tingkah.

"Lo tungguin gue lihat tivi! Tapi nggak boleh duduk di sini. Lo berdiri aja di situ!"

Sebenarnya, berada di tempat Gaza sekarang merupakan siksaan baginya. Keindahan yang dia lihat tidak dapat dia sentuh saat ini. Berkali-kali pemuda itu berusaha untuk menutup mata, tetapi godaan untuk melihat tubuh indah itu semakin besar.

"Mau ke mana lo, Za?"

"Mau pipis!" jawab Gaza sambil berlalu ke kamar mandi.

***

Esok pagi Gaza bingung. Clara masih tidur dengan nyenyak di atas sofa. Semalam gadis itu baru terlelap setelah pukul dua malam. Perlahan Gaza mendekati gadis cantik di depannya, kemudian membangunkannya dengan menyentuh tangan Clara.

Clara yang baru saja terbangun, kaget melihat Gaza yang sudah berdiri dengan sedikit membungkuk di sampingnya. Gadis itu pun berteriak. Dia memarahi Gaza karena berani menyentuhnya.

"Ra, diam! Aku cuma mau bangunin kamu, ini sudah siang."

"Bohong! Kamu pasti cari kesempatan!" Clara bangun sambil menutupi dadanya dengan tangan. Gaza tersenyum melihat tingkah berlebihan Clara.

"Jangan senyum-senyum! Gue serius, Za! Kalau lo macem-macem, gue bakalan tuntut lo dengan pasal berlapis!"

Kemudian Clara masuk ke dalam kamar masih dengan melindungi dadanya dengan kedua tangan. Setelah gadis itu masuk ke dalam kamar, Gaza mengempaskan dirinya di sofa. Dia membayangkan betapa anehnya hidup yang dia jalani.

***

"Mau ke mana?" tanya Gaza.

Gaza melihat Clara sudah bersiap akan keluar rumah. Tanpa memedulikan Gaza, Clara berlalu ke dapur, lalu mengambil air putih dari kulkas.

"Ke kampus?" tanya Gaza sekali lagi, tetapi gadis itu masih diam saja.

"Bukan urusan lo, gue mau ke mana!" Clara berlalu ke sofa sambil membawa gelasnya. Kemudian dia mengambil ponsel dari tas kecilnya. Terlihat dia mengirimkan pesan.

"Nanti kalau di jalan kenapa-kenapa aku yang tanggung jawab." Gaza menghempaskan diri di sofa dan Clara bergeser tidak ingin terlalu dekat dengan Gaza.

Clara memainkan game yang ada diponselnya sambil menunggu ojek online yang dia pesan. Dia tidak memedulikan Gaza yang mengoceh tentang keadaannya saat di jalan nanti jika tidak memberitahukan tujuannya. Tidak lama kemudian, ojek yang dia pesan datang. Dia melambaikan tangannya pada Gaza. Bukan bermaksud berpamitan, tetapi mengejeknya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED