Bab 1

Status WA Mantan Suami (1)

______________________

[Janda ngenes, baru kucerai udah kalang kabut aja jualan sayur]

Aku meremas baju yang melekat di dada saat jemariku dengan sengaja membuka status WA Mas Ari, mantan suamiku enam bulan yang lalu.

Ternyata tidak cukup sampai di situ, di bawah status Mas Ari, terpampang jelas nama Mbak Risa, kakak ipar yang kini sudah menguasai rumah Ibu mertua. Mas Ari dua bersaudara. Kakak pertamanya bekerja di luar pulau dan beristrikan Mbak Risa. Sedang anak kedua yakni Mas Ari, mantan suamiku.

[Makanya jadi wanita itu yang nurut. Sok-sokan minta cerai, eh, nggak taunya malah jadi buruh penjual sayur, wkwkwk]

Pada caption yang dia tulis, disertakan pula fotoku yang sedang melayani pembeli.

Flashback on.

"Han, ini jatah belanja kamu sebulan. Cukup-cukupin!"

Mas Ari melempar beberapa lembar uang berwarna merah tepat di depan wajahku. Hatiku sakit? Tentu saja! Tapi aku bisa apa selain mulai memunguti uang itu satu per satu, tanpa menghitungnya lagi karena sudah kupastikan jumlahnya hanya ada lima.

"Kebutuhan dapur semakin naik, Mas, uang ini nggak akan ...."

Brak!

Meja makan di depannya digebrak dengan keras hingga hampir saja sayur yang kutuang dalam mangkuk berhamburan keluar.

"Nggak cukup ... nggak cukup. Selalu nggak cukup! Apa kamu nggak punya bahasan lain selain uang, hah?!" Suara Mas Ari meninggi, jika sudah seperti itu maka jalan satu-satunya yang kupilih adalah diam.

"Harusnya kamu bersyukur selalu kuberi jatah bulanan. Mikir, Han, aku ada Ibu dan Kakak ipar yang menjadi tanggung jawabku. Kamu jadi wanita jangan serakah!"

Dadaku bergemuruh hebat.

Serakah?

"Aku nggak pernah melarang kamu untuk memberikan Ibu uang bulanan, Mas. Tapi untuk Mbak Risa ... dia sudah bersuami, jelas sekali kalau Mbak Risa bukan tanggung jawabmu," jelasku pada Mas Ari lirih.

"Halah! Tau apa kamu tentang tanggung jawab! Masih untung aku memberimu jatah bulanan. Jadi istri kok nggak bersyukur!"

Aku menghela nafas kasar. Selalu saja begini keadaannya kalau Mas Ari sudah menerima gaji. Dia selalu mendahulukan Ibu dan Mbak Risa yang sudah bersuami, padahal aku istrinya ... tapi tidak sedikitpun Mas Ari memberiku kesempatan untuk mengelola keuangan di rumah ini.

"Bisanya juga masak tempe sama sayur bening aja sok-sokan mau jatah bulanan lebih. Mimpi!"

Dia membanting sendok tepat di sisi piring yang masih kosong. Mas Ari melenggang pergi, tanpa menyentuh makanan di meja yang sudah kusediakan.

Apa lagi yang bisa kubeli?

Uang dapur hanya tersisa sepuluh ribu rupiah. Daripada Mas Ari pulang dan meja makan masih kosong, mau tidak mau aku kembali membeli tempe tadi sore untuk lauk makan malam.

Dan sekarang? Uang lima ratus ribu itu kembali dia berikan setelah tiga kali berturut-turut aku terima.

Pernikahan kami baru menginjak usia satu tahun. Aku dan Mas Ari bertemu di sebuah restoran mengingat saat itu dia datang makan malam bersama kawan-kawannya. Saat aku meletakkan makanan di atas meja, Mas Ari menghentikan langkahku dan meminta nomor ponsel padaku. Riuh suara teman-teman Mas Ari menggoda aksinya kala itu hingga membuat pipiku terasa panas.

Sebulan setelah berkenalan, Mas Ari mengatakan ingin bertemu Bapak dan Emak di desa. Dia datang sendiri dan mengatakan ingin menikahiku. Mas Ari meminta restu Emak dan Bapak dan berjanji akan kembali lagi dua bulan yang akan datang.

Benar saja, dua bulan selanjutnya, dia datang bersama beberapa kerabatnya dari Kota. Mas Ari melamarku secara resmi dan kami menikah dua Minggu setelahnya. Tidak ada resepsi mewah di kampung. Hanya akad nikah sederhana saja.

Setelah menikah, esoknya Mas Ari memboyongku ke Kota. Berat tentu saja mengingat Bapak dan Emak hanya berdua di kampung sementara kakak lelakiku bekerja di luar pulau dan pulang tiga bulan sekali, atau bisa lebih lama. Tapi Emak selalu menguatkan dan mengatakan jika aku harus patuh pada perintah suami. Aku menurut, meskipun hatiku sebenarnya tidak rela jauh dari Emak dan Bapak.

Flashback off.

"Han ... Hana...?"

Aku terkesiap saat tepukan lembut mendarat di pundakku. Bu Wira tersenyum dan duduk di depanku dengan menatap lekat kedua manik mata yang mulai berembun ini.

"Kamu dipanggil dari tadi diem aja. Melamun?"

Aku menggeleng samar dan menyerahkan uang setoran jualan sayur pada Bu Wira. Setelah menghitungnya, Bu Wira akan memberiku upah sebesar tujuh puluh lima ribu dalam setiap harinya.

Lumayan bagiku karena uang sebanyak itu bisa kubagi untuk membayar sewa kos dan makan sehari-hari, bila ada sisa, maka akan kumasukkan ke dalam celengan ayam untuk ongkos pulang.

Aku bisa saja menjual ponsel yang kepegang saat ini, tapi selain butuh dana untuk pulang kampung, aku juga butuh hati yang kuat saat berhadapan dengan Emak dan Bapak nanti. Apalagi jika aku pulang dengan menyandang status janda. Aku benar-benar butuh hati yang kokoh dan telinga yang tebal sebab para tetangga akan menggunjingkan status baruku nanti, mungkin sampai mereka bosan dan terganti dengan berita baru yang lebih heboh. Tentu saja aku belum siap dengan itu mengingat pernikahanku dengan Mas Ari baru seumur jagung. Aku takut menambah beban pikiran Emak dan Bapak nantinya.

"Ini gaji kamu." Bu Wira menyerahkan uang seratus ribu di atas meja.

"Saya nggak ada kembalian, Bu. Bisa gajinya uang pas saja," kataku sungkan.

Bu Wira tersenyum tipis, "Udah bawa aja. Hari ini laku banyak, itu bonus buat kamu."

Aku tersenyum meskipun sudut mata sedikit berair. Kuambil uang di atas meja dan mengucapkan terima kasih pada Bu Wira sebanyak-banyaknya. Wanita itu menepuk pundakku lembut, "Kalau butuh teman bercerita, kamu bisa datang kesini, Han."

Hampir saja aku menangis. Bu Wira adalah juragan sayur di kota ini. Dia memiliki empat karyawan yang salah satunya adalah aku. Meskipun aku mendapat jatah berkeliling di kompleks rumah mantan Ibu Mertua, mau tidak mau aku tetap menjalankan pekerjaan ini dengan baik.

"Terima kasih, Bu. Saya pamit dulu."

________________________

"Karyawan baru, Ma? Boleh juga nih!" celetuk anak sulung Bu Wira yang terkenal suka mabuk-mabukan.

Sudah bukan rahasia umum lagi di komplek sini tentang bobroknya kelakuan anak sulung Bu Wira. Kadang aku menyayangkan, kenapa orang sebaik Bu Wira harus mempunya anak seburuk Kevin.

"Hey, cantik! Mau ena-ena nggak nanti malam, aku jemput."

"Kevin!" teriak Bu Wira dengan wajah memerah. Dia menepis tangan Kevin dengan kasar dan menariknya menjauhiku. Dengan isyarat mata, Bu Wira memintaku segera pergi dari rumahnya.

Aku berlari hingga nafas hampir habis rasanya. Tapi tiba-tiba ....

Tin

Tin

Tin

"Hey, janda miskin, minggir!"

Aku menoleh dan mendapati wajah Mbak Risa melongok dari jendela mobil.

"Kenapa? Kaget ya liat aku bisa pakai mobil. Kamu tau ini siapa yang beliin? A ... ri ....!"

Aku membuang muka, melanjutkan langkah tanpa mendengarkan lagi ocehan dan hinaan yang keluar dari mulut Mbak Risa.

"Bye-bye jandes ... semakin sengsara setelah dicampakkan. Cocok banget sama keadaan kamu sekarang. Ha ... ha ... ha ....!"

Air mata meluncur begitu saja seiring dengan semakin menjauhnya mobil Mbak Risa dari hadapan. Kuraup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya perlahan.

Oke, Hana. Ayo bangkit!

Bersambung

Bab 2

Status WA Mantan Suami (2)

________________________

Prang!

"Tempe terus ... tempe terus ....!" Mas Ari melepar wajan berisi tempe yang baru saja aku tiriskan.

Aku berjingkat, air mata mengalir begitu saja melihat wajan kecil yang sudah menghitam itu tergeletak di lantai dengan minyak goreng yang tentu saja sudah bertumpah ruah.

Hatiku berdenyut nyeri, tapi aku bisa apa? Aku masih membutuhkan Mas Ari sekalipun uang yang dia berikan tidak seberapa. Aku tidak memiliki penghasilan lain.

"Sekali-kali beli ayam, Han. Aku ini kerja ... capek ... masa tiap hari kamu suguhi tempe?"

Aku menghela napas kasar, "Ayam mahal, Mas. Uang lima ratus ribu benar-benar aku hemat agar cukup sampai gajian bulan depan," sahutku berterus terang.

"Persetan!" Mas Ari menginjak-injak beberapa potong tempe yang berhamburan di lantai, dan ....

Brugh!

Suamiku terpeleset minyak goreng yang belum sempat aku bersihkan. Dia meringis kesakitan bahkan aku pun ikut meringis karena jatuhnya sangat keras. Saat tanganku terulur hendak membantunya, Mas Ari menepis dengan kasar.

"Sialan! Istri pembawa sial! Dulu aku kira menikahi gadis kampung itu enak ... bisa hidup hemat ... cantiknya alami, tapi ternyata ... aku malah menikahi wanita jelek dan boros sepertimu!" umpat Mas Ari.

Tanganku terkepal kuat. Jika saja aku punya penghasilan sendiri ... tentu aku tidak sudi bersama dengannya lagi.

"Kalau kamu mau makan ayam, beri aku tambahan uang." Kuberanikan diri berbicara. Kulihat kilatan amarah di mata Mas Ari, tapi seketika dia tersenyum saat Mbak Risa memanggil namanya dan masuk ke dalam rumah menyaksikan kerusuhan di dapur.

"Astaga, Hana! Istri macam apa kamu? Masak aja sampai berantakan begini, nggak becus!" cibir Mbak Risa, "Gimana suamimu bisa betah di rumah kalau kamu nggak bisa buat seger matanya. Udah masak cuma tempe goreng, baju juga daster udah pada bolong ... itu rambut minimal smothing lah, biar rapi," cerocos Mbak Risa seraya mengibaskan rambut indahnya di depanku.

"Kamu masih betah aja sama dia, Ar?"

Mas Ari mengedikkan bahu, "Biarin aja, kalau dia udah nggak kuat pasti pergi dari sini. Sayang dong, Mbak, kalau uangku dipakai buat beli surat cerai. Mending kita ...."

Hatiku rasanya diremas begitu kuat. Kulihat dengan jelas Mas Ari mengedipkan satu matanya pada Mbak Risa. Kakak iparku itu tersenyum sembari menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga.

"Mas!" teriakku lantang. "Apa-apaan kamu, hah? Mbak Risa itu istri kakakmu, bisa-bisanya kamu pakai segala main kedip-kedip mata di depanku pula!" sambungku dengan nafas memburu.

Mas Ari melengos. Dia berlalu meninggalkanku di dapur berdua dengan Mbak Risa. Wanita itu tertawa lantang dengan berkacak pinggang.

"Sadar diri dong, Han. Kamu itu jelek, kusam ... nggak ada seujung kukunya sama aku. Jadi ... jangan salahkan aku ya kalau Ari ...." Mbak Risa memainkan ujung lidahnya di bibir.

Tanganku terkepal kuat. Kulayangkan tangan di udara dan mendarat tepat di pipi Mbak Astri yang mulus.

Plak!

Mbak Risa tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya dan menangis keras. Tidak lama setelah itu Mas Ari datang. Dia membantu Mbak Risa untuk duduk di ruang tamu. Aku tidak peduli ... kubereskan kerusuhan yang sudah Mas Ari perbuat di dapurku.

"Hana!"

"Ada apa?"

"Kamu apakan Mbak Risa, hah?!" Dia mencengkeram daguku dengan kuat. Kulirik Mbak Risa tersenyum tipis dan memainkan satu alisnya ke hadapanku.

"Aku tampar. Memang kenapa?"

Dihempaskannya daguku dengan kasar, bahkan aku hampir saja limbung jika tidak segera menguasai diri.

"Istri nggak tau diri! Dia itu kakak iparku, Han. Berani-beraninya kamu menamparnya?"

"Tanya dia, Mas! Berani-beraninya dia berbicara tidak senonoh di depanku. Harusnya Mbak Risa tau, kamu itu adik iparnya ... tidak pantas dia berpikiran ingin menggodamu!" ujarku dengan napas memburu.

Mas Ari membuang muka. Dia meremas rambutnya frustasi dan mengamit tangan Mbak Risa untuk membawanya keluar.

"Ar! Marahin Hana dulu dong! Dia udah nampar aku nih!" rengek Mbak Risa dengan manja.

Mas Ari berbisik, entah mengatakan apa aku tidak mendengarnya. Keduanya pergi menuju rumah Ibu Mertua. Aku menggigit bibir bawah, sebentar lagi sudah pasti suasana semakin panas jika Ibu tau aku sudah menampar pipi menantu kesayangannya.

______________________________

"Lihat deh, Mbak Juli ... kalungku baru loh ini," tutur Mbak Risa di depan gerobak sayur daganganku. Dia memamerkan kalung barunya di depan Mbak Juli, tetangga depan rumahku dulu.

"Wah, pasti mahal ya, Ris?"

Mbak Risa mengangguk mantap, mata kami bersiborok saat aku melirik ke arahnya, begitupun Mbak Risa, dia diam-diam menatapku dengan senyuman tipis.

"Mahal dong. Suamiku kan kerja di luar pulau ... belum lagi jatah dari adik ipar ... ya ... Mbak Juli tau kan, semenjak menjadi duda, Ari kebingungan ngasih jatah bulanan ke siapa. Jadinya aku bantu dia buat mengatur keuangan," sahut Mbak Risa pongah.

"Emang kamu dikasih berapa sama Ari, Ris?" Kali ini Yu Atikah yang berbicara.

"Banyak lah, Yu. Dilarang kepo!" seloroh Mbak Risa.

"Bukannya kepo sih. Tapi dulu kan dia suka ngasih uang belanja yang nggak seberapa ke mantan istrinya, masa ke kamu berubah jadi royal. Kan kita jadi curigen ... eh curiga gitu," tutur Yu Atikah, si biang gosip di komplek ini.

Bukan rahasia umum lagi di komplek ini tentang seberapa banyak uang bulananku dulu yang diberikan oleh Mas Ari. Karena hampir setiap menjelang gajian, kami akan bertengkar dan tentu saja mengundang kasak-kusuk para tetangga. Hingga entah bagaimana awalnya, mereka menaruh kasihan padaku setelah tau jika Mas Ari begitu pelit namun royal pada ibu dan iparnya.

"He ... Yu Tikah! Kalau ngomong hati-hati ya. Aku ini iparnya Ari, jadi wajar dong dia mau ngasih aku uang berapapun. Mantan istrinya aja yang lebay. Udah jelek, boros, suka sakit hati lagi sama aku. Maklum sih, penyakit orang jelek ya gitu ... suka insecure sama orang lain, apalagi orang lainnya itu aku. Auto kabur dia."

Aku berpura-pura tidak mendengar. Semakin diladeni, justru semakin gencar Mbak Risa membuatku terlihat sangat buruk di depan semua orang.

"Ya kan, Han? Kamu pasti insecure kan punya ipar secantik aku?"

Bersambung

Bab 3

Status WA Mantan Suami (3)

__________________________

"Ya kan, Han? Kamu pasti insecure kan punya ipar secantik aku?"

Aku menoleh sejenak, lalu kembali berfokus pada para ibu-ibu yang meminta dihitung belanjaannya. Mbak Risa menghentak-hentakkan kaki melihatku yang tidak merespon ucapannya.

"Loh, Ris, nggak belanja?" teriak Mbak Juli pada Mbak Risa yang melenggang pergi menjauhi gerobak sayur.

"Dih, nggak level banget aku, Mbak, beli ke dia. Mending ke Mall, uang bulanan dari Ari cukup banyak!" Dia mengibaskan tangan di udara. Aku hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Mbak Risa yang semakin menjadi-jadi semenjak aku bercerai dari Mas Ari.

"Kamu nggak cemburu lihat iparmu itu, Han?" tanya Yu Tikah.

Aku tersenyum tipis dan menggeleng, "Tidak sama sekali, Yu. Lagipula saya sama Mas Ari juga sudah lama bercerai. Dan ya ...."

Yu Tikah menoleh, begitupun Mbak Juli dan beberapa Ibu-ibu lainnya yang menjadi pelangganku selama ini, "Mantan ipar, Yu. Saya sudah nggak peduli lagi sama urusan mereka. No debat!"

Mereka semua tertawa. Tapi tidak dengan Mbak Juli, dia mencebik dan membuang muka saat aku mengatakan demikian. Siapa yang nggak kenal Mbak Juli ... tetangga depan rumah mantan suami yang berteman baik dengan Mbak Risa. Mereka bisa dibilang soulmate!

"Nih, itung!" Mbak Juli menyerahkan sekantong keresek di depanku.

"Udah, Mbak?"

"Udah! Kan aku bilang itung barusan!" sahutnya kesal.

"Empat puluh dua ribu."

Diangsurkannya dua lembar uang berwarna hijau lalu merampas kantong keresek di tanganku. Mbak Juli melenggang pergi seolah uang yang dia berikan barusan benar itungannya.

"Mbak Juli!" teriakku lantang, dia menoleh dengan sinis. "Kurang dua ribu, mana?"

Dia berbalik, ditatapnya mataku dengan tanpa berkedip, "Uang dua ribu kamu ributkan, Han? Semiskin apa sih kamu sampai-sampai uang dua ribu saja kamu minta?" tutur Mbak Juli dengan menarik sudut bibirnya. "Ah iya ... aku lupa, kamu kan janda miskin, ha ... ha ... ha ...."

"Sudah meledeknya? Mana kurangannya, Mbak?"

Mbak Juli mendengkus kesal. Dia mengeluarkan uang dua ribu dari dalam dompet bermotif manik-manik yang dia cepitkan di lipatan ketiak.

"Pantes aja Ari cerein kamu, orang pelit begini!" seloroh Mbak Juli kemudian berlalu pergi.

Yu Tikah mengusap lembut punggungku. Beberapa ibu-ibu yang lain juga memberikan nasihat dan kekuatan agar aku lebih bersabar. Ah, ucapan Mbak Juli barusan membuatku teringat kejadian beberapa bulan silam, saat aku masih menyandang status sebagai istri Ari Subagja.

_______________________

"Hana ... ibu mau minta uang, beras di rumah habis, kata Ari suruh minta sama kamu," ujar Ibu mertua suatu sore.

Aku menggigit bibir bawah. Netraku memanas melihat Ibu mertua datang dan meminta uang pemberian Mas Ari yang tidak seberapa itu.

"Tapi, Bu. Uang dari Mas Ari tinggal lima puluh ribu saja. Itu juga untuk belanja dua hari kedepan sampai hari gajian Mas Ari," jelasku lirih.

"Benar-benar ya kamu, Han. Wanita kampung nggak tau diri! Ari kerja capek-capek dan uangnya kamu kuasai, tapi sekarang lihat ... aku minta uang buat beli beras malah kamu bilang tinggal lima puluh ribu," cerocos Ibu tanpa peduli dengan air mataku yang mulai mengalir. "Padahal gaji anakku itu besar. Mana mungkin uang kamu tinggal lima puluh ribu padahal hari gajian masih dua hari lagi. Kamu bohong kan?" tuduh Ibu.

Beberapa tetangga melihat ke arah dimana kami berdiri. Ibu semakin mengeraskan suara begitu tau para tetangga menatap keributan di rumahku. Rumahku dan Ibu memang berdekatan, hanya terpisah dua rumah saja. Bukan rumahku, apalagi rumah Mas Ari, itu adalah rumah kontrakan yang sengaja suamiku sewa karena Mbak Risa menolak aku tinggal seatap dengan Ibu dan dirinya.

"Bu ... ibu salah paham. Mas Ari hanya memberiku uang belanja lima ra ...."

Plak!

Ibu menamparku dengan keras. Dia mendelikkan mata dengan dada yang terlihat naik turun.

"Benar-benar menantu kampung nggak tau diri. Tau begitu dulu tidak kuberikan restuku pada wanita sepertimu! Orang miskin memang selalu begini ... serakah!" Ibu melenggang pergi setelah meninggalkan bekas tamparan keras di pipi.

"Aku pastikan Ari menceraikanmu, wanita miskin!" teriak Ibu marah.

Tubuhku luruh di depan rumah. Air mata mengalir deras dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Haruskah kulanjutkan hidup bersama dengan keluarga toxic ini?

Apa aku siap melukai hati Bapak dan Ibu dengan gagalnya pernikahan yang baru seumur jagung ini?

_______________________

"Ikan gurame dua kilo, ambilkan!"

Yu Tikah menepuk lenganku. Aku terkesiap, ingatan tentang perilaku Ibu membuatku hampir saja menangis.

"Kalo kerja yang bener, bisa rugi yang punya sayuran kalau karyawannya suka ngelamun kayak kamu!" seloroh seorang lelaki tampan berperawakan tinggi dan berwajah datar.

Aku mencebik, siapa dia berani-beraninya mengatakan hal itu padaku. Aku tau aku salah ... tapi siapa yang bisa mengelak tentang ingatan masa silam yang buruk.

Aku berkacak pinggang di depannya. Tinggi sekali orang ini, bahkan aku hanya sebatas pundaknya saja.

"He, Mas! Siapa yang ngelamun, hah? Saya itu cuma lagi mikir!" ujarku kesal.

Yu Tikah menyenggol lenganku dengan keras tapi tak kuhiraukan. Laki-laki seperti dia harus diberi pengertian bahwa tidak semua wanita takut pada lelaki dingin sepertinya. Itu adalah Hana yang dulu, tapi tidak sekarang! Jangankan orang tak dikenal, bahkan untuk melawan Mas Ari saja sekarang aku sanggup!

"Bacot! Cepat siapkan ikan gurame dua kilo!"

Aku mendengkus kesal dan menyiapkan pesanannya dengan cekatan. Lelaki itu merebut kantong kresek di tanganku dengan kasar lalu pergi begitu saja menggunakan motor gedenya.

"Woy ... bayar dulu! Main kabur aja ... woy!" teriakku lantang.

Yu Tikah tertawa lebar, begitupun ibu-ibu yang lain. Mereka seolah menganggap kerugian yang aku alami ini adalah lelucon.

"Kamu beneran nggak tau siapa dia, Han?" tanya Bu Dwi di sela-sela tawanya.

Aku menggeleng, mencoba berbesar hati menanggung kerugian nanti pada Bu Wira. Lalu melanjutkan lagi melayani para pembeli sayuran yang sudah menunggu untuk aku hitung semua bahan belanjanya.

"Dua kilo ikan gurame, alamat nggak dapat gaji hari ini," lirihku dengan menahan tangis. Baru dua hari bekerja sebagai karyawan Bu Wira, aku sudah harus mendapatkan masalah besar begini. Uang tujuh puluh lima ribu itu sangat berarti bagiku.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED