Mahika menatap datar layar televisi yang menampilkan wajah seseorang yang dulu sangat ia benci. Tapi sekarang, ia berusaha bersikap biasa saja, kehidupan mereka sudah berbeda, meski ia membenci tidak akan ada gunanya. Ia hanya harus fokus pada bayi dan ekonominya agar tidak selamanya merepotkan sahabatnya. Kemudian dari sampingnya Noli datang dan mematikan siaran tersebut dan memegang bahunya lembut dan memberinya kekuatan. Mahika tidak bisa lagi menumpahkan air matanya, ia pun ragu apa masih ada yang tersisa di sana atau memang hatinya terlalu mati rasa untuk merasakan semua kesedihannya.
“Kenapa menonton siarannya.”
“Tiba-tiba dia muncul di sana,” ucapnya datar.
“Apa kita buang saja televisinya?” Tanya Noli memastikan.
“Tidak perlu, memangnya semurah itu harganya.” Decak Mahika.
“Harga bukan masalah, apa gunanya jika semua itu membuatmu sedih karena harus melihat wajah si brengsek itu.”
“Sudahlah, aku tidak apa-apa Noli, percaya padaku. Aku sangat kuat meski terkadang suka menangis dan berantakan seperti gelandangan. Lagi pula aku tidak lagi peduli dengan perbuatannya di masa lalu. Biarlah semuanya mengalir apa adanya, sekarang yang penting bayi sama keponakanku sehat.”
Noli tertawa mendengar ucapan sahabatnya. Seharusnya dialah yang menghibur Mahika, bukan malah sebaliknya, tapi terlepas dari apa pun itu, ia mengakui jika Mahika bukan sosok yang lemah seperti wanita dalam sinetron. Ia tumbuh begitu kuat dari luka yang diberikan pria pengecut yang tidak seharusnya bertemu dengannya. Dari hinaan teman yang dulu pernah dekat dengan mereka. Dari penolakan lingkungan yang terkadang terlalu kejam dalam menghakimi.
“Kenapa menatap ku seperti itu?” Tanya Mahika bergidik ngeri.
“Hanya sedang mengangumi sosok monster yang sedang bersemayan dibalik wajah cantikmu.” Kekeh Noli, sesaat kemudian ia tertawa lepas dan berlari ke kamarnya karena ia sudah harus berangkat ke kantor, tempat di mana pria pengecut itu berada. Ia bekerja di label yang sama dengan Gentala sebagai staf. Ingin sekali tangannya menampar, memaki tepat di wajahnya dan mengatakan pada dunia jika dirinya seorang pria brengsek yang berlindung dalam sosok sok baik saat tampil di depan layar kaca. Namun, ia masih menyayangi pekerjaannya.
Mahika mengelus lembut perut yang sudah membuncit sedang. Bayangan teringat pada masa di mana ia dan Gentala masih sepasang kekasih. Ketampanan yang dimilikinya kerap membuat Mahika cemburu karena banyak pasang mata yang memandang lapar. Terkadang ia sampai harus bergelayut manja untuk membuat para wanita menghentikan tatapan kekaguman mereka.
“Membosankan, kenapa juga harus mengingat masa lalu.” Kekehnya.
Terlalu dalam luka yang ia terima membuat Mahika bahkan malas hanya untuk mengutuk Gentala. Biarlah dia bersama kebahagiaannya dan Mahika bersama kebahagiaannya yang sederhana. Bisa hidup bersama sahabat dan calon bayinya saja sudah membuatnya senang. Ia tidak mau menghabiskan waktunya yang berharga hanya untuk mengutuk apalagi membenci Gentala. Ia percaya kalau saat ini, takdir tidak pernah salah tempat. Mungkin beginilah kehidupan yang harus dia jalani di dunia ini.
“Tidak baik kalau terlalu fokus dengan kebencian pada seseorang,” bisiknya menguatkan hatinya. Seolah kalimat tersebut sudah menjadi sebuah mantra untuknya.
Siang perlahan menjelma menjadi malam, ia melihat ponselnya yang berbunyi nyaring. Ia tersenyum melihat nama pemanggil dan segera menjawab panggilan tersebut.
“Halo, Noli.”
“Hari ini? Jam berapa?” tanyanya sambil melirik jam tangan yang melingkar cantik di dinding.
“Oke, aku tunggu kamu di sana aja, nggak usah jemput aku.”
Di tempat lain, Gentala sedang makan malam bersama sahabatnya. Ia sengaja memesan tempat yang lebih pojok agar pandangan orang bisa terhalang oleh susunan bunga dekorasi yang disediakan oleh restoran tersebut.
“Apa kamu benar-benar menjalin hubungan dengan Elia?” Tanya Bara serius.
“Itu hanya gosip murahan, tidak masuk akal. Hanya karena kami pernah makan bersama.” Dengkusnya.
“Wajar saja, kau sekarang seorang artis papan atas, siapa pun yang dekat denganmu akan kena gosip yang kau anggap murahan itu.” Kekehnya.
“Kau benar, sekarang aku dikenal banyak orang, tapi entah kenapa ada sesuatu yang terasa kurang.”
“Mahika!” teriak seseorang dari arah belakang kursinya.
Jantung Gentala perlahan berdetak menggila. Ia perlahan memutar badannya dan melirik pada seseorang yang baru saja datang dan duduk di depannya, hanya dipisahkan oleh dua meja saja. Ia memperhatikan dengan lekat dan ternyata itu bukan seseorang yang dia kenal. Gentala menghela napas dan kembali menghadap Bara.
“Kenapa?” tanyanya sambil ikut celingak celinguk.
“Bukan apa-apa,” ujarnya singkat dan kembali melanjutkan makannya.
“Noli, aku sudah berada di depan restoran.” Beritahunya melalui telpon.
“Masuklah lebih dulu, tunggu aku di sana, aku segera sampai.”
“Baiklah.”
Mahika masuk dan mengambil tempat duduk sedikit masuk ke dalam. Ia tidak suka menjadi pusat jika harus duduk di sisi depan. Mahika sibuk memainkan ponselnya, sesekali ia mengelus perutnya saat merasakan sebuah tendangan kecil.
“Hai good baby, Bunda mau makan sama Tante Noli, jangan diganggu ya,” ucapnya kecil.
“Mahika!” panggil Noli dan segera menghampirinya.
Lagi-lagi Gentala mendengar nama seseorang dari masa lalunya disebut. Ia hendak berbalik tapi menurunkan niatnya saat sebuah panggilan masuk menganggunya.
“Dari siapa?”
“Ratu lebah.”
“Angkat dulu panggilannya, ratu lebah kalau marah bisa berabe.” Kekeh Bara yang sudah tahu betul tabiat ibu dari Gentala.
“Kenapa, Ma?” Tanya Gentala tanpa basa basi.
“Minggu ini pulang ke rumah.”
“Minggu ini Gentala belum bisa kembali ke rumah, jadwal Genta padat, Ma.”
“Mama nggak mau tau, kamu harus pulang! Ada yang mau Mama beritahu.”
Gentala menghela napas mendengar titah mematikan dari ibunya. Ia pun menyetujui dan mematikan panggilan. Matanya tanpa sengaja melihat ke arah wanita yang sedang duduk selang beberapa meja darinya. Gadis itu tampak sedang membelakanginya. Entah kenapa, tubuh itu bagai memiliki sebuah magnet, ia bahkan enggan untuk berpaling dari sana.
“Makan yang banyak, biar keponakanku tumbuh besar.”
“Aku yang tidak kuat kalau harus melahirkan bayi besar.” Protes Mahika.
“Kenapa kamu selalu menggemaskan, andai aku laki-laki, pasti sudah menjadikan pajangan di rumah karena terlalu menggemaskan.” Kekeh Noli sambil menguyel pipi Mahika gemas.
“Dan aku akan membuatmu menjadi patung lilin!”
Mendengar itu, Noli bergidik ngeri dan keduanya tertawa. Tawa yang membuat Gentala semakin enggan mengalihkan tatapannya dari sana. Pelan-pelan ia melihat wajah gadis yang membelakanginya .
“Kau kenapa?” Tanya Bara saat melihat arah pandangan Gentala yang sedang memperhatikan dua orang gadis. “Kau naksir salah satunya?”
Gentala menggeleng dan memutuskan duduk, ia memegang jantungnya yang berdecak kencang, padahal ia tidak tahu siapa gadis yang sedang membelakanginya.
“Kita sudah menghabiskan tiga puluh menit di sini, haruskah kita pulang?” Tanya Bara sambil merogoh ponselnya.
Gentala menganguk dan segera pergi dari sana. Saat ia bangun, Mahika juga bangun dari kursinya. Mereka berdua saling bertatapan dan seketika tubuh Mahika menegang di tempat. Tapi hanya untuk sesaat, karena setelahnya ia mengabaikan kehadiran Gentala dan berlalu dari sana. Tentu saja Gentala yang melihat hal tersebut dibuat mati kutu. Ia hendak memanggil Mahika saat Bara menepuk punggungnya. Dia pun berlalu dari sana dengan perasaan yang mengganjal.
Mahika segera menuju kamar dan berdiam diri di sana, ia merenung cukup panjang sebelum akhirnya berteriak senang karena sudah berhasil mengatasi dirinya. Noli yang mendengar teriakan Mahika pun khawatir dan segera mengetuk pintu kamar.
“Mahika! Kamu kenapa?” Tanya Noli cemas dari balik pintu.
“Aku baik-baik aja Noli, Cuma lagi senang aja.”
“Syukurlah, besok ceritakan detailnya ya.” Teriaknya lagi.
“Oke!” balas Mahika ikut berteriak.
“Lihat sayang, Bunda hebatkan, kalau kamu sudah lahir, kamu nggak boleh melihatnya, nanti sifat jeleknya menurun padamu.”
Mahika pun bersiap untuk membersihkan wajah dan segera setelah itu, ia tidur ditemani sebuah boneka besar yang sengaja dibeli Noli untuknya. Kata Noli, jika ia merindukan sosok pria, anggap saja bonekanya pria. Mahika sampai dibuat terkekeh geli karena tingkah Noli. Lain Mahika, lain pula Gentala. Pria tersebut sedang galau memikirkan reaksi aneh yang baru pertama kali ia temui dalam hidupnya. Bahkan dalam drama yang pernah ia mainkan, seharusnya Mahika memaki atau mengumpatnya, bisa jadi bonus tamparan. Tapi dengan reaksinya tadi benar-benar membuat Gentala tidak habis pikir.
“Ada apa dengannya? Apakah reaksi semacam itu wajar?” tanyanya masih dengan wajah bertanya-tanya.
Ia menelepon Bara dan meminta pendapatnya. Ia tidak akan pernah benar-benar tidur dengan tenang sebelum mendapat jawaban. Meski jawaban ngawur sekali pun baginya tidak masalah. Ia hanya butuh sebuah pendapat, mengenai benar tidaknya urusan belakangan.
“Tumben kau menelponku malam-malam, apa kau sedang kesepian?” goda Bara membuat dengkusan kasar keluar begitu saja dari mulut Gentala.
“Aku butuh pendapatmu sebagai teman, orang tua, orang lain dan manusia.”
“Memang selama ini aku ini apaan.”
“Apa saja selama kau mampu menjelma,” ucap Gentala asal dan ia meminta Bara agar fokus mendengarnya.
“Kau mau membicarakan soal apa, kalau mengenai pekerjaan besok saja. Aku bahkan mual memikirkannya.”
“Dengarkan saja!” peringkat Gentala kesal. Di seberang telpon Bara menganguk saja karena malas meladeni kecerewetan Gentala yang kadang-kadang terlalu merepotkan untuk didengar. Mungkin semut pun malas jika berada di dekatnya.
Dengan menghela napas singkat, Gentala memulainya dengan jantung penuh debar. Ia tidak tahu mengapa, hanya membicarakan hal ini sampai membuatnya jantungan. Rasanya seperti ribuan monyet melompat meneriakkan pisang di dadanya.
“Halo, masih hidupkah?” Tanya Bara sambil menguap.
“Apa menurutmu wajar jika wanita bersikap datar pada pria, padahal jelas-jelas keduanya pernah tidur bersama.”
Bara yang baru saja akan meminum pil KB, bukan keluarga berencana, melainkan Kebutuhan Badan alias vitamin, sontak terdiam untuk sesaat. Ia mencoba meresapi pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh sahabatnya.
“Bara!” teriak Gentala.
“Sebentar, aku sedang menyimak setiap kata yang kau ucapkan barusan.”
“Bagaimana menurutmu?” Tanya Gentala tidak sabaran. Wajar saja, toh dia memang bukan manusia penyabar.
“Maksudmu, coba kau buat contoh yang lebih konkrit.”
“Haruskah?”
“Menurutmu?” Tanya Bara balik.
Gentala menarik napas kesal dan memegang dadanya yang masih berdetak, tanda ia masih hidup. “Kau meniduri seorang gadis, lalu saat kalian kembali bertemu setelah sekian lama, reaksi gadis tersebut tidak seperti gadis kebanyakan. Dia cuek dan hanya menatapmu datar.”
“Oh, soal itu, kurasa responnya bagus. Memangnya kalau kamu diposisiku, apa yang akan kamu lakukan, kamu mau berteriak kalau sudah menidurinya?” Tanya Bara.
“Bukan begitu, aku hanya bertanya mengenai responnya, apa itu semua wajar bagi seorang gadis?” Tanya Gentala penasaran.
“Mungkin bukan masalah wajar atau tidak, tapi tidak ingin kembali terlibat.”
Mendengar jawaban dari Bara, Gentala kembali mengingat kenangan terakhir yang ia berikan pada Mahika. ia ingat, terakhir kali mereka bertemu, kalimat yang ia lontarkan pada Mahika sangatlah menyakitkan. Kini ia tahu apa yang sedang dilakukan Mahika padanya. Benar kata Bara, Mahika hanya tidak mau lagi terlibat dengannya. Mengetahui fakta tersebut membuat sudut hatinya mendadak sakit tak berdarah. Karena keegoisannya dulu, ia mengorbankan perasaan wanita yang sangat ia cintai.
“Apa sudah selesai sesi bertanyanya?”
“sudah.”
Bara segera mematikan panggilan tanpa repot-repot melakukan penutupan. Gentala melempar asal ponselnya ke ranjang dan ia ikut merebahkan diri di sana.
“Mahika,” ucapnya sambil memegang dadanya. “Sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu. Apa benar kamu tidak ingin lagi terlibat denganku.” Desahnya.
Malam itu Gentala tidur dalam kondisi gundah gulana tidak karuan dan tidak tahu diri karena hanya memikirkan Mahika. Jelas-jelas ia sudah tidak pantas untuk memikirkan, bahkan mengucapkan namanya saja ia tidak pantas.
----
Paginya, Mahika menyiapkan sarapan untuk Noli. Memaksa sudah menjadi rutinitasnya di sini. Meski ia sering kali diomeli oleh Noli karena menyiapkan sarapan untuknya. Bagi Noli ia menolongnya bukan untuk menjadikannya sebagai pembantu di rumah ini. Tapi setelah diberi pengertian oleh Mahika, ia pun pada akhirnya membiarkannya asal Mahika tidak terlalu memaksakan diri.
“Cepet banget kamu bangunnya.”
“Hari ini aku mau periksa,” jawab Mahika senang.
“Aku ingin menemanimu,” ucap Noli dengan wajah sedih.
“Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri ke sana. Lagi pula kamu harus bekerja keras buat memberi kado untuk calon keponakanmu.” Kekeh Mahika sambil tersenyum.
“Baiklah,” ucapnya dan mengelus perut Mahika sekilas lalu pergi dari sana.
“Hati-hati!” teriak Mahika.
“Hatiku baik-baik aja, hanya dompet yang stadium tiga!” teriak Noli dan benar-benar menghilang dari sana.
Keduanya menjalankan rutinitas secara berbeda. Mahika membuka ponsel dan mulai berselancar di media sosial miliknya yang sengaja ia private. Bukan untuk menguntit Gentala melainkan sedang mengikuti perkembangan idol lain yang sudah ia gemar sejak lama. Seseorang yang selalu membuatnya menjadi sosok yang kuat seperti sekarang. Saat ia terpuruk dalam kesedihan, ia selalu memutar lagunya dan menonton beberapa cuplikan video tentangnya. Semua itu berhasil membuatnya tenang dan kembali kuat.
“Good Baby, nanti kalau kamu sudah lahir, Bunda mau kamu tumbuh menjadi orang yang baik, bertanggung jawab, sayang sama Bunda, hanya itu yang Bunda inginkan, karena hanya kamu yang Bunda miliki selain Tante Noli. Kamu harus janji akan tumbuh seperti yang Bunda harapkan ya.” Bisiknya sembari mengusap lembut perutnya.
“Jangan seperti ayahmu, Bunda tidak akan pernah rela kalau kamu sampai mirip apalagi kalau mewarisi sifatnya. Bunda akan berdoa siang malam supaya tidak ada satu bagian pun darinya yang akan kamu warisi.” Batinnya.
Mahika beranjak dan segera siap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Ia sudah tidak sabar ingin melihat perkembangan bayinya. Mengenai jenis kelamin, ia sudah mengetahuinya, hanya saja malas membagi tahu pada pembaca. Bukankah sesuatu akan lebih menarik jika menjadi sebuah rahasia.
Gentala yang sedang minum, mendadak tersedak. Ia meletakkan gelasnya dan segera mengambil beberapa lembar tisu. “Siapa yang lagi ngomongin aku.”
Ia mengambil ponselnya dan berselancar di media sosialnya. Ia mencari kata akun Mahika dengan mengetikkan beberapa kata kunci, tapi yang dia cari tidak kunjung ditemukan. Ia bingung karena setahunya Mahika memiliki media sosial.
“Apa dia sudah tidak aktif lagi?” tanyanya dan kembali mencari.
Di sela keasyikannya, panggilan telpon masuk dari ibunya. Ia segera menjawabnya karena telat sedikit saja, kupingnya akan penuh dengan bunyi ceramah dan beberapa penggalan quotes mematikan ala ibunya.
“Temani Mama ke rumah sakit hari ini. Mama tahu jadwal kamu lagi kosong satu jam.”
Gentala sebenarnya malas pergi kemana-mana karena ia ingin istirahat. Namun, karena ini
permintaan dari ibunya, ia pun menyetujui. Di seberang telpon ibunya sangat senang dan
menyuruhnya memakai pakaian yang tidak menarik perhatian siapa pun.
“Genta siap-siap dulu, Ma.”
“Ingat, jangan memancing perhatian siapa pun ya, Mama nggak mau waktu berharga Mama
diganggu sama siapa pun termasuk para fans-mu.”
“Iya, Gentala pakai baju pengemis.”
“Lalu kamu akan membuat rumah sakit gempa karena datang bersama Mama.” Dengkusnya di
seberang.
“Becanda Ma, Gentala otw ke rumah.” Beritahunya.
“Oke, Mama tunggu di depan.”
Panggilan pun dimatikan, Gentala segera keluar dari apartemennya menuju parkiran. Ia membelah jalan sambil memutar musik yang dulu pernah menjadi lagu favorit dari Mahika. Entah kenapa sekarang ini hanya Mahika yang melintas dalam benaknya semenjak pertemuan mereka kemarin.
“Mahika, Mahika, kenapa kamu bersikap seperti kemarin, kamu membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak.”