Menunggu adalah hal yang paling membosankan.
Menunggu adalah daftar dalam kamus hidupku yang selalu kuhindari.
Menunggu adalah sesuatu yang sebisa mungkin tidak akan kulakukan mengingat banyak pekerjaan lain yang bermanfaat yang bisa kulakukan.
Namun, untuk hal ini aku harus "menunggu" dia.
Dia yang sebenarnya tidak harus ada dalam pikiranku lagi.
Dia...yang seharusnya tidak pernah ada dalam kamus hidup bernama Andini Larasati.
Dia...yang seharusnya kuhindari. Karena aku tahu permasalahan nanti akan muncul jika semua ini menjadi tidak terkendali.
Aku memang sedang menunggu dia...
Aku sedang duduk termangu di toko kueku. Toko kue milikku yang kubangun lima tahun silam. Toko kue yang kubangun berkat kerja keras. Toko kue yang kubangun setelah keterpurukanku.
Aku akan menceritakan semua ini setelah kalian tahu seorang tokoh yang akan kuceritakan ini nanti.
Untuk dialah aku "menunggu".
Aku menunggu sopirku.
Di luar, dari balik kaca toko kue-aku melihat hujan masih mengguyur deras. Mungkin karena hujan itulah sampai detik ini Revan masih belum menjemputku di toko kue ini. Aku maklum. Mungkin di luar sana ia sedang berteduh entah dimana. Mungkin sedang kebasahan. Atau mungkin juga Revan sedang menuju kemari. Yang pasti ini jam dimana aku sudah biasa menunggunya.
Jam 5 sore, aku yang merupakan owner merangkap pembuat kue di toko kueku sendiri harus segera meninggalkan pekerjaanku, karena aku harus kembali ke rumah.
Biasanya aku akan tiba di rumah nanti pukul 6 sore.
Seperti biasanya, tak ada yang bisa kulakukan di rumah selain memasak, melakukan aktivitas yang menyenangkan, menonton TV, ataupun melakukan segenap pekerjaan lain. Namun sepertinya melihat hujan yang deras di luar sana, aku pasti akan terlambat sampai di rumah. Lihat saja-Revan Airlangga-sopirku bahkan belum juga sampai ke toko kue.
Menghabiskan waktu sejenak, tanganku mulai gatal untuk tidak melakukan aktivitas. Ya, seperti apa kata kekasihku-Danar-tanganku memang tidak bisa diam.
Dokter Danar Hadiputra nama jelasnya. Tampan. Rupawan. Seorang dokter bedah di rumah sakit ternama. Seorang teman, sekaligus kekasih yang menemani hari-hariku selama 5 tahun ini.
Waktu yang cukup lama.
Ya, dialah orang yang menurutku berjasa atas hidupku. Dan ini menurutku tidak main-main.
Tanganku berhenti merapikan bungkusan roti-roti tawar, lalu teringat akan handphone-ku. Aku akan mencoba menghubungi Revan.
Tuuutttt!
Tuuuuttttt!!
"Dimana, Van?" tanyaku setelah tersambung.
"Lagi mau jemput Ibu. Kejebak macet. Maaf, tadi, aku pergi ke mall dulu beli sesuatu. Dan sekarang lagi mau jemput Ibu Andini."
"Van, sudah beberapa kali kan aku bilang jangan panggil aku dengan sebutan Ibu," protesku.
"Kamu kan bossku, Din. Aku tidak mau menyebutmu dengan nama lain."
"Panggil saja Andin," cetusku.
"Kalau aku panggil Andin. Aku pasti akan teringat akan kisah 'kita' berdua."
Aku terdiam. Memang...terlalu banyak kisah antara aku dan Revan. Maaf, pemirsa. Mungkin, akan ada banyak pertanyaan di benak kalian tentang siapa Revan sesungguhnya. Namun, biarlah saja ya Revan akan kalian ketahui belakangan. Yang pasti dia adalah sopirku. Dan dia akan menjemputku ke toko kue ini dan itu memang sudah menjadi kewajibannya.
"Sekarang sudah dimana?" tanyaku lagi. Semata-mata agar Revan tak perlu banyak berbicara tentangku lagi. Aku tidak ingin Revan bercerocos tentang masa indah kami dulu.
"Sekarang sudah di jalan menuju toko kue milik Ibu."
"REVANNN??" Aku berkata keras. Mengingatkannya kembali.
"Baiklah, aku sudah dekat kesana, Din. Sabar ya? sebentar lagi juga akan sampai."
Aku menghela napas. Cepat kututup telpon. Lalu kuputuskan untuk menunggu laki-laki itu dengan sabar.
Tak lama, kulihat mobil sedan milikku sudah terparkir rapi di depan toko kue. Revan masuk dengan pakaiannya yang basah.
Basahnya pakaian Revan sepertinya bukan lantaran ia yang keluar dari mobilku dan menuju toko kue. Namun ia sepertinya sudah sangat kebasahan sejak lama.
"Ya ampun, Van," Tak sadar aku berkata. "Kamu basah kuyub begitu."
"Nggak papa, Din."
"Aku ambil pakaian ganti ya. Aku tidak ingin kamu jadinya nanti masuk angin."
"Andin, aku tidak apa-apa."
"Jangan bilang kamu baik-baik saja. Kamu basah kuyup begitu," protesku. "Sudah, kamu diam disitu. Biar aku ambil pakaianku. Dan kamu harus ganti kausmu. Basah begitu." omelku lagi.
Akupun masuk ke dalam toko kue. Cepat masuk ke ruanganku. Tak peduli dengan pandangan beberapa karyawanku-yang aku tahu pasti sudah sangat tertuju padaku dan Revan.
Ya, betapa aku sangat memerhatikan sopirku ini. Semata-mata karena aku memang masih...
Ah sudahlah...ini soal perasaanku.
Sampai akhirnya, ponselkupun bergetar. Aku tak akan mengangkatnya jika saja bukan Mas Danar yang menelpon.
"Ya, mas." Aku menyapa ramah, seraya memberikan kausku ke arah Revan. Revan mengamatiku yang tengah berbincang-bincang di telpon dengan Danar.
"Din..."
"Ya, mas," sahutku lagi.
"Hujan deras, Din. Kamu dimana? Masih di toko kue?"
"Iya, mas. Revan barusan mau jemput aku. Aku segera mau pulang."
"Oh...jadi sekarang?"
"Sudah akan mau pulang," jelasku.
"Ya sudah, hati-hati ya sayang."
"Ya, mas."
Aku menutup telpon.
Revan sudah selesai mengenakan kaus milikku. Tadi dia memang melipir sejenak ke toilet untuk mengenakan pakaian yang aku sodorkan tadi, dan kini sudah kembali ke depanku dengan wajahnya yang fresh.
Revan pun tanpa banyak bicara langsung menuju pintu keluar. Aku hanya mengikutinya. Dan tanpa banyak bertanya, aku masuk ke dalam mobilku lalu duduk sambil menghela napas.
***
Beberapa menit kemudian, mobil sudah sampai di pelataran rumahku. Rumah besar yang kutempati sendirian. Di rumah ini aku hanya ditemani Bi Surti-pembantu rumah tanggaku-juga Revan.
Bi Surti melihat kedatanganku, dan langsung menggamit tas dan bawaanku. Ia langsung berlalu dari hadapanku.
Sepeninggal Bi Surti tak kusadari kalau Revan sudah meraih tanganku.
"Revan...." Aku nyaris terpekik. Nyaris histeris dengan apa yang dilakukannya.
"Oh, maaf Din, jika buat kamu kaget. Aku...aku hanya ingin memberikan ini..."
"Apa?" selorohku. Aku lantas melihat kotak kecil yang ia sodorkan.
"Buka saja."
Perlahan kubuka kotak kecil yang disodorkannya tadi dan hatiku menghangat saat pandanganku bertumpu pada sebuah cincin berbentuk bunga.
"Kau membelinya?"
"Iya, Din. Itu dari gaji yang kau berikan. Apa kau masih ingat dulu kau menginginkan cincin yang seperti itu."
Mataku melihat kedalaman mata Revan lalu beralih melihat Bi Surti yang ada di dalam rumah. Aku takut di teras rumahku ini, apa yang dilakukan Revan padaku dilihat oleh Bi Surti.
Tak ada sesiapapun tahu mengenai Revan sebenarnya dan tiada sesiapapun tahu mengenai hubungan kami di masa lalu.
"Revan, kau tahu hubungan kita..."
"Andin...aku memang tak pernah lagi bisa berharap dengan hubungan kita berdua, namun..."
"Kau membelinya. Dan itu tidak murah," ujarku cepat.
"Andin...terimalah. Itu dari hasil kerja kerasku bekerja sebagai sopirmu. Lagipula..."
"Van, sebaiknya kau tak perlu memerhatikanku lagi!" tukasku.
Aku menyesal telah mengatakan hal ini kepadanya.
Aku terdiam. Mataku memanas.
Hubunganku dan Revan sudah lama bubar. Sudah lebih dari lima tahun yang lalu.
"Kumohon terimalah, Din. Aku tahan berhujan-hujanan demi untuk membelikanmu cincin itu."
"Baiklah," kataku. "Terima kasih."
"Pakai, Din."
Aku menatapnya lagi. Lalu, terlihat Revan yang mulai gemas dengan kelakuanku-yang hanya diam saja- sampai akhirnya ia mengambil cincin dari kotak tersebut dan Revan memakaikan cincin itu di jari manisku.
"Walaupun hubungan kita sudah lama berakhir. Semoga dengan hadirnya cincin ini di jarimu, kau masih mengingat akan aku," tandasnya.
"Van..." Aku bahkan rasanya ingin menangis. "Aku telah mempunyai kekasih. Aku bahkan telah bertunangan dengan dokter Danar." Aku mempertegas kata-kataku.
"Aku tahu, Din. Namun...apa salahnya..."
"Ya sudah," kataku. "Sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Aku harus masuk ke rumah seperti biasa. Dan aku harus menyiapkan makan malam. Bi Surti pun pasti tengah menungguku di dapur."
Revan kemudian mengangguk.
Revan lalu tersenyum pelan. Dia pun berjalan menuju kamarnya lewat jalan samping rumah.
Revan memang tinggal di rumah ini. Ia kuijinkan tinggal disini dengan tinggal di kamar belakang, dan menjadi sopir pribadiku.
Sekarang, aku memang menjadi orang yang cukup sukses sehingga berhasil membangun toko kue. Memperkerjakan banyak karyawan. Termasuk menjadikan Revan sopir pribadiku.
Aku lalu masuk ke rumah besarku. Lantas begitu masuk dapur, kulihat Bu Surti tengah mencuci piring. Lalu beralih Bi Surti yang mencuci sayuran.
Pikiranku kembali nyalang.
Seraya memasak untuk makan malam, pikiranku masih dipenuhi dengan wajah Revan.
***
Masakan baru saja selesai.
Aku menatanya di meja makan.
Hingga akhirnya terdengar bel pintu berbunyi.
Siapakah gerangan yang datang malam-malam begini?
Aku dan Bik Surti akhirnya saling pandang.
"Mungkin...." kata Bik Surti.
Sampai akhirnya aku menuju pintu depan dan membukanya. Terlihat kekasihku tengah berdiri di ambang pintu dengan senyum yang khas.
"Hai sayang,"
"Mas Danar." Tentu saja bagiku ini mengejutkan. Tumben, di sela pekerjaannya, Mas Danar menyempatkan diri kemari. Mas Danar memang sibuk. Namun, menyempatkan diri untuk kemari sepertinya hal lain.
"Tumben, nggak nelpon dulu," selorohku.
"Kok pacarnya malah dibiarin berdiri di depan pintu sih." Ia lantas berkata.
"Oh iya, silakan masuk mas," ajakku. Danar akhirnya masuk rumah.
Ini bukan pertama kalinya ia datang ke rumah ini, jadi baginya rumah ini sudah tidak asing lagi untuknya.
"Aku baru saja selesai masak. Kita makan sama-sama ya. Mas Danar mau kan?"
"Boleh," ucapnya. "Tawaran yang menggiurkan," katanya lagi seraya melipat jaketnya, lalu meletakkan tasnya di sofa. Mas Danar lalu mengikuti langkah kakiku menuju ruang makan.
Bi Surti dan aku akhirnya kembali menyiapkan semuanya. Namun, saat Bi Surti hendak meninggalkanku, aku teringat akan Revan.
"Bik, panggilkan Revan ya. Bilang, kita makan sama-sama," tukasku.
Bik Surti lalu melihat ke arahku, dan dia menatap Danar yang baru saja hadir di ruang makan.
"Ya Non, bibik akan panggilkan mas Revan," jawab Bi Surti.
"Lho, Revan juga ikut makan bersama?" tanya Mas Danar.
"Iya mas, kenapa?" Aku bertanya. Heran.
"Bukannya...sopir..."
Bik Surti masih berdiri di dekatku. Belum melangkah ke kamar Revan.
"Nggak papa Bik. Panggilkan saja. Kita makan bareng. Bik Surti juga nanti makan bareng sama aku ya disini."
Mengindahkan protes dari Danar, Bik Surti lantas ke kamar belakang, lalu sekejap kemudian perempuan tua itu sudah kembali lagi ke ruang makan.
"Kata Mas Revan, dia akan kemari nanti Non," kata Bik Surti.
Aku sudah bersiap makan malam. Lalu memberikan piring makan pada Danar. Aku sudah duduk di meja makan.
"Lagi apa dia, Bik?" tanyaku pada Bik Surti seraya memberikan piring pada Bik Surti.
"Lagi nyuci pakaian sebentar katanya Non."
"Apa harus ada dia dulu sih kita baru mulai makan," kata Danar tiba-tiba. Aku melihat raut wajah kekasihku yang tidak senang dan terlihat senewen. Mas Danar sudah duduk manis di meja makan.
"Mungkin sebentar lagi Revan datang," tukasku. "Hayo, bibik duduk di sebelahku sini... "
"Bibi makannya nanti saja, Non. Biar Mas Danar sama Non Andini duluan saja."
"Ayolah, Bik." Aku memaksanya, hingga akhirnya Revan pun muncul ke ruang makan.
Revan hanya mendelik melihat siapa yang datang. Lama dia memandang Danar, hingga akhirnya Revan duduk di meja makan tanpa bicara apapun.
"Yuk Van, Mas Danar, kita makan. Dan ini piringnya, Bik."
Semuanya diam. Namun aku tidak peduli. Bukankah kalau tidak ada Danar kami biasa makan bertiga?
Memangnya kalau ada tunanganku yang ikut makan bersama semuanya menjadi berbeda. Aku tidak menganggap semuanya jadi berbeda. Sama saja.
Kami makan malam. Meski dalam suasana diam. Revan bahkan hampir tidak banyak bicara. Dan Danar yang memang biasanya banyak bercerita kini diam mengikuti semuanya. Lalu makan malam pun usai.
Revan dengan cepat permisi ke kamarnya. Bik Surti kemudian membereskan piring bekas makan ke belakang dan aku membantunya mencucinya sebentar.
"Non Andini sebaiknya temani mas Danar. Biar bibik sendiri saja beresin semuanya," kata Bik Surti merasa tak enak padaku.
Aku lantas mengikuti perkataannya dan akupun menuju beranda samping rumah, karena Danar sedang duduk-duduk disana.
***
Danar langsung berdiri ketika melihatku hadir di beranda samping rumah.
"Aku langsung pulang ya, sayang." katanya.
"Lho, kok buru-buru sekali?" Aku memandang wajahnya. Sepertinya wajah kekasihku nampak kecewa. "Ada pasien darurat...atau..."
"Nggak ada." Danar cepat menukas. Ia mengambil jaket dan tasnya dan bersiap pulang. "Tadinya aku pengin kita ngobrol berdua. Pas kamu ngajakin makan malam, aku pikir kita bakalan makan malam berdua saja, tapi..."
"Mas," ucapku. "Disini kan aku nggak tinggal sendiri."
"Lalu?" Danar memandangku.
"Ya, paling nggak aku ngajak mereka makan bareng sama kamu apa salahnya kan?"
Danar lantas mengedikkan bahunya.
"Aku mau pulang ya sayang. Aku nggak ingin berdebat," ucapnya. Mas Danar pun lantas berjalan menuju ke pintu depan. "Lagipula kamu rasanya sekarang lebih memerhatikan sopirmu ya daripada aku..."
"Lho?" Aku mulai protes. Memandang wajah mas Danar dalam-dalam. "Mas, kamu..."
"Sepenglihatanku sih ya."
"Mas...Revan itu hanya sopirku. Bagaimanapun-"
"Jadi aku ini apa?" Danar sudah duduk di sofa. Ia bersiap mengenakan pantofelnya.
"Mas Danar childish," kataku setengah berbisik.
"Kamu ngomong apa?" tanyanya.
"Nggak," ucapku.
"Ya sudah, aku pulang. Aku lelah. Besok mungkin aku telpon kamu saja, atau nanti akunya yang datang ke toko kuemu."
"Tapi jangan nelpon di jam-jam sibuk ya mas," sanggahku.
"Akunya juga belum bilang kapan bakalan datang mengunjungi toko kue lagi, mengingat akupun kadang sama sibuknya denganmu."
Aku terdiam.
Danar sudah mengenakan sepatunya dan bersiap keluar rumah.
Danar lantas keluar rumah. Mungkin ia masih kesal dan kecewa. Satu hal yang mendadak ia lupakan jika ia bertandang mengunjungiku. Kali ini ia tidak mencium keningku. Hal yang sebenarnya rutin ia lakukan. Namun aku paham, mood kekasihku itu sedang tidak bagus sehingga ia tidak melakukannya.
"Ya sudah, mas mau pulang. Sampai besok lagi ya?"
Aku mengangguk. Mas Danar berjalan menuju pelataran rumah, dan menuju mobilnya yang sudah terparkir rapi di halaman.
Tanpa melambaikan tangan, mobil pun sudah keluar dari rumah besarku.
Aku menutup pintu rumah dengan napas tertahan. Dan aku menghela napasku.
Begitu aku mau ke kamarku, aku lantas melihat Bik Surti yang masih berjibaku di dapur.
"Bik, beresinnya udah dulu. kerjanya besok lagi. Udah...sekarang istirahat, gih, " kataku.
"Ya, Non."
Bik Surti lantas mencuci tangannya. Mematikan lampu dapur, lalu meninggalkan dapur.
Dengan helaan napas lelah akupun menuju ke kamarku.
***
Tiba-tiba saja aku terjaga.
Mataku bertumpu pada jam dinding di kamarku. Pukul satu dini hari.
Aku mengucek mataku sebentar dan ingin sekali minum. Kerongkonganku terasa kering.
Aku keluar kamar.
Aku berjalan mengitari rumah. Sunyi...sepi...dan aku memang suka akan keheningan.
Hingga akhirnya aku sampai di dapur. Tanganku membuka kulkas, lalu mengambil segelas air minum. Kuteguk air itu secara perlahan. Namun ketika aku menutup pintu kulkas....
Aish!!!
Betapa terkejutnya aku! Kukira aku melihat hantu. Revan sudah berdiri tegak di sampingku!
"Revan??" Aku hampir memekik kaget. "Kamu ini mengagetkan saja!"
Dan dia tersenyum. Senyumannya
sungguh mengombang-ambingkan perasaanku.
"Kamu ngapain malam-malam begini?" tanyanya.
"Seharusnya aku yang bertanya, kamu ngapain malam-malam begini!" tukasku.
Terus terang aku memang penakut. Kompleks disini aman. Beruntung sih ada Revan. Cuma Revan datang seperti hantu. Muncul pada saat yang tidak tepat.
"Aku tidak bisa tidur," katanya.
"Kenapa?" tanyaku.
Dia menggeleng. "Nggak tahu kenapa. Aku tiba-tiba teringat kedua orang tuaku. Sampai detik ini aku bahkan belum menemukan ayahku."
Aku terdiam. Aku berhasil menutup pintu kulkas lalu berdiri.
Sedikit cerita. Hidup Revan ini kacau balau.
Ayahnya terjerat hutang dan lari entah kemana. Sementara ibunya meninggal karena penyakit jantung. Ibunya memang tidak bisa menerima keadaan mereka yang berbalik 180 derajat, yaitu menjadi miskin, dan dikejar-kejar oleh beberapa penagih hutang.
Revan datang padaku setelah aku berhasil seperti sekarang.
Masih kuingat betapa susahnya dulu aku memulai hidup. Kemiskinan memaksaku mengesampingkan semuanya.
Aku bahkan merelakan hubungan kami. Aku bahkan menangis tiap malam. Menangisi nasibku yang terlahir miskin.
Kini, bahkan wajah Danar bermain-main di benakku. Kalau bukan karena bantuan dan dukungan Danar, mana mungkin aku bisa membangun usaha dan bangkit dari keterpurukanku.
Sedikit banyak apa yang menimpaku ini karena ulah Revan, namun aku tidak pernah ingin menyalahkan siapa-siapa.
"Kamu terlalu mikirin ayahmu. Aku saja yang masih punya ayah bahkan tidak pernah menengoknya."
Aku bukan tidak ingin menengok ayahku. Asal tahu saja kalian pemirsa, aku diusir ayahku lantaran aku telah membuat kesalahan fatal.
Aku diusir dari rumahku dan pergi. Dan Revan sungguh tidak tahu betapa terpuruknya aku saat itu.
"Sudah, Van. Yang sudah sebaiknya tidak usah kamu pikirkan lagi. Kita hidup itu untuk ke depan. Bagaimanapun kamu harus bangkit."
"Seperti kamu," ujarnya. "Kamu memang gadis yang super power, Andini."
"Itu karena tekadku yang sangat kuat untuk merubah hidup," kataku. "Sudah yuk, daripada membahas masa lalu bagaimana kalau kita ke depan saja. Atau ke beranda samping rumah. Kita ngobrol di sana."
"Andini...ini bahkan sudah pukul satu dini hari...bahkan sudah lewat dari tengah malam."
"Lho, tadi katamu sendiri yang bilang kalo kamu tidak bisa tidur," ujarku senewen.
"Baiklah." Revan akhirnya menyerah. Menyetujui keinginanku.
Tanpa sadar, ia menggamit lenganku. Aku seperti merasakan sengatan listrik yang seakan menimpaku. Mataku sudah tertuju pada sepasang matanya.
Astaga!
Harusnya aku ini sadar. Hubunganku dengan Revan sudah lama berakhir.
Hubungan kami berdua sudah lama amblas. Tapi mengapa puing-puing cinta yang berserakan itu kini seperti hadir lagi dan meruntuhkan apa yang susah payah kubangun.
Aku...telah membangun mahligai indah bersama Danar Hadiputra.
Ingat Danar Andini....ingat Danar...bukan Revan...
Ingat...Danar Hadiputra itu adalah tunanganmu!
Tanganku masih digamit Revan. Aku bahkan tidak mampu melakukan perlawanan. Revan telah menatap cincin yang melingkar di jari manisku, yang semalam ia berikan.
"Kamu tampak cantik dengan cincin itu."
"Revan..!!" pekikku. "Jangan menggombal cinta ya?"
Revan tersenyum, lalu kami melipir ke beranda samping rumah.
***
Sepasang mataku sudah menatap rembulan diatas sana yang bersinar dengan megahnya.
Langit malam bertaburkan bintang.
Revan duduk di sofa beranda samping rumah ini. Tengah memerhatikanku yang sedang asyik menikmati langit malam.
Sampai akhirnya aku berjalan mendekatinya lalu duduk di sebelahnya.
"Din..." ucapnya pelan.
"Hmmm...."
"Kok cuma berdeham, Din."
"Lalu mau ngomong apa?" timpalku. "Van, hidup itu harus semangat. Jangan loyo. Sudah aku bilang kan, kamu itu harus bangkit!"
"Kayak kamu..."
"Tapi bukan bangkit dari kubur lho ya." Aku lantas terkekeh.
"Aku bahkan tidak bisa mengira hidupku bakalan berubah seperti ini."
"Hidup kan ada pasang surutnya, Van. Kan kita tidak selamanya berada diatas. Begitupula yang di bawah. Mereka yang di bawah tidak selamanya ada di bawah terus. Selagi kita masih terus berjuang."
"Aku salut banget sama kamu Din.Aku...merasa amat bersalah...sama kamu."
"Revan, sudah beberapa kali kan aku bilang. Lupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu kita."
"Tapi menurutku itu sangat menyakitkan untukmu, Din. Aku tahu kamu menderita karena ulahku."
Kamu bukan saja bikin aku menderita Van. Ada rahasia lain yang sebisa mungkin aku sembunyikan darimu hingga sekarang.
Pemirsa...aku tidak bisa menceritakan semuanya sekarang. Namun, kalian pasti akan menebak-nebak. Telah terjadi hal apa di masa laluku sebetulnya. Perlahan kalian akan menyibak rahasia kelam yang selama ini masih kusembunyikan.
Pemirsa...
Aku hanya ingin kalian tahu, bahwa aku menangis tiap malam karena hal ini.
Aku menderita karena cinta.
Aku menderita karena Revan.
Seperti apa kata banyak orang. Tidak usah mencintai jika takut disakiti. Aku sama sekali tidak pernah takut mencintai Revan. Aku sama sekali tidak pernah takut untuk sakit atau terluka karena cinta.
Dan kini Revan sudah menggamit lenganku. Membuat mataku menatap tajam ke arahnya.
"Din..."
"Ya...apalagi."
"Kalau aku..."
"Kalau aku kenapa?" mulutku memang bisa berkata seperti itu. Namun sebenarnya hatiku ketar-ketir. Aku takut Revan mengatakan hal itu lagi. Aku takut Revan mengucapkan sesuatu yang tak kuharapkan.
Tuhan.... tolong...aku tidak pernah takut tersakiti lagi. Namun, tahukah kalian kalau rasa sakit yang dulu masih membekas di hatiku lantaran ulah Revan ini.
"Van, udah malam...mau lanjut tidur ah." Aku mengelak.
"Yah..."
Dan gantian aku yang akhirnya tersenyum padanya. "Kan besok lagi bisa dilanjutkan ngobrolnya. Lagian kalau Bik Surti bangun dari tidurnya dan melihat kita berdua..."
"Biar saja. Biar kita ajak bik Surti ngobrol sama kita disini."
"Gila kamu!!"
Revan sudah terkekeh renyah.
Secepat kilat Revan akhirnya mencuri cium pipiku dan aku merasa pipiku memanas.
"Revan....!!!!" Revan sudah terkikik dan dia langsung cabut pergi dari hadapanku.
***