Bab 1

Damien D’Arcy, seorang pria tampan berusia 28 tahun, terlahir dari keluarga kaya raya di Kanada. Ayahnya, Julian D’Arcy, merupakan pengusaha sukses di dunia perminyakan, sedangkan ibunya, Carol D’Arcy, dikenal sebagai pengusaha property terkemuka di Kanada. Pilihan besar menghadang Damien ketika ia lulus kuliah pada usia 21 tahun. Ayahnya menawarkan dua jalur kepadanya: bergabung dalam kerajaan bisnis keluarga atau membangun jalannya sendiri. Tertarik dengan dunia perhotelan, Damien memutuskan untuk membangun bisnisnya sendiri.

Dengan modal besar dan koneksi dari sang ayah, Damien merintis perjalanannya di dunia perhotelan. Diamond Rose Hotel, adalah nama hotel bintang lima pertamanya di Kanada, lahir berkat visi dan dedikasi tinggi Damien. Bakat bisnisnya, yang diwarisi dari ayah dan ibunya, membawa keberhasilan pesat. Dalam waktu tujuh tahun, Diamond Rose Hotel telah berkembang dan membuka cabang di beberapa negara.

Saat ini, Damien berada di puncak karirnya. Tampan dan berdedikasi tinggi, ia dikenal sebagai Presdir Jenius yang ramah. Namanya harum di kalangan karyawan, bukan hanya karena keberhasilan bisnisnya, tetapi juga sikap baik dan ramahnya.

Hari ini, Damien berada di Amerika, meninjau persiapan peresmian cabang terbarunya yang akan di langsungkan besok. Mobil sedan mewah merek Bentley berwarna hitam mengantarnya melewati jalan-jalan perkotaan Amerika.

Dengan setelan jas mewah merk Armani, Damien duduk di dalamnya, menatap keluar jendela dengan tatapan serius. Pemandangan gedung-gedung tinggi dan cakrawala yang luas menyambut kedatangan Damien.

Begitu tiba di Diamond Rose Hotel Amerika, Damien tersenyum lebar. Mobilnya memasuki halaman hotel yang megah dengan logo berbentuk mawar berlian yang menjadi ikonnya.

Saat mobil berhenti, Damien turun dengan langkah mantap. Dengan senyum hangat, ia menyapa General Manager, Henry, yang sudah menunggu di depan pintu lobby dan beberapa departemen manager yang akan memimpin hotel ini.

"Selamat Pagi, Tuan Damien, bagaimana kabar anda hari ini?" ucap Henry sambil berjabat tangan dengan dengan Damien.

Damien tersenyum, "Pagi yang cerah, Henry. Aku benar-benar bersemangat untuk acara besok. Bagaimana persiapan semuanya?"

"Semuanya berjalan dengan lancar, Tuan Damien, tim kami sudah bekerja keras untuk memastikan acara besok berjalan sesuai rencana. Semua tamu penting sudah diundang, termasuk beberapa tamu yang merupakan kenalan ayah anda.” Damien mengangguk puas.

"Itu kabar baik. Aku ingin memastikan semuanya sempurna. Apakah ada hal spesifik yang perlu saya perhatikan?" Tanya Damien yang lalu berjalan bersama Henry memasuki lobbi hotel bersama semua Departemen Manager yang menyambutnya tadi.

"Saat ini, semuanya dalam kendali. Semua Departemen manager bekerja keras untuk memastikan acara berlangsung tanpa kendala, begitupun juga dengan para staff kita yang terlihat sangat antusias," jelas Henry sambil tertawa pelan.

Damien ikut tertawa pelan, menyapa beberapa karyawan wanita yang sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Wajah tampannya berhasil mencuri perhatian, dan senyum hangatnya memberikan semangat tambahan untuk mereka.

"Para karyawan benar-benar memberikan yang terbaik," ujar Damien kepada Henry. "Mereka menjadikan acara ini lebih istimewa."

Henry dan para departemen manager yang berjalan bersama Damien terlihat menganggukkan kepala mereka, setuju dengan ucapan Damien. Begitu tiba di lokasi utama yang akan menjadi tempat acara peresmian besok, beberapa Departemen Manager mendekati Damien untuk memberikan laporan.

Mereka memberikan detail tentang persiapan masing-masing bidang yang mereka pimpin, termasuk dekorasi, keamanan, dan ketersediaan semua fasilitas.

Damien tersenyum puas, "Terima kasih, semua. Kalian luar biasa. Aku yakin peresmian ini akan menjadi sukses besar, bisa dipastikan besok akan menjadi hari yang luar biasa."

Setelah meninjau persiapan peresmian besok, Henry mengajak Damien menuju ruangannya untuk berbincang santai sambil menikmati segelas teh hijau dan snack ringan. Dia juga sedikit membahas rencana strategis untuk mendukung pertumbuhan Hotel Diamond Rose Amerika di masa mendatang.

Setengah jam berlalu dengan cepat, Henry terlihat mengantar Damien menuju kamar presidential suite yang akan Damien tempati selama berada di negara ini.

Henry langsung mengucap pamit begitu tiba di depan kamar Damien, ia memberi waktu Damien untuk beristirahat.

Damien melepaskan jasnya dan berjalan menuju teras balkon yang menghadap ke laut. Udara segar pagi dan pemandangan lepas pantai yang memukau membuatnya merasa tenang.

Duduk di kursi dengan pemandangan laut yang luas di depannya, Damien membiarkan dirinya terhanyut dalam keindahan alam. Dalam keheningan itu, ia mengeluarkan ponselnya dan memutuskan untuk menghubungi beberapa kenalannya yang tinggal di Amerika, yang turut menjadi tamu di acara peresmian hotelnya besok.

Damien menerima tanggapan positif dari para kenalannya. Mereka berbicara tentang persiapan peresmian, saling bertukar ide, dan mengonfirmasi kehadiran mereka besok.

Namun, ketika Damien baru saja menutup teleponnya, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama "Tyler" muncul di layar, membuat Damien tersenyum.

"Hey, Tyler!" sapa Damien sambil tersenyum. Di benaknya kini tergambar wajah sang sahabat, yang selalu kocak dan membuatnya tertawa.

Tyler dengan antusias menjawab, "Hello Damien! Bagaimana kabarmu, Bro?"

Damien menceritakan perjalanan bisnisnya dan menjelaskan tentang acara peresmian hotelnya besok. Tyler pun mengingatkan bahwa ia tidak akan melewatkannya dan ikut merasa bangga dengan pencapaian Damien.

Seiring percakapan berlanjut, Damien teringat rencana Tyler dulu tentang membuka bar di Amerika. "Bagaimana dengan rencanamu dulu, Tyler? Apakah barmu sudah sukses?"

"Lumayan Bro, sudah cukup besar, Bagaimana jika kamu mengunjungi tempatku malam ini, namanya Purple Swan Bar, mungkin aku bisa menerima beberapa masukan darimu," balas Tyler.

Damien tersenyum, "Ide bagus, aku juga tidak sibuk malam ini, bagaimana dengan jam 9 malam?” Tanya Damien.

"Oke Bro, aku akan kirim lokasinya melalui pesan singkat," kata Tyler dengan semangat.

Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Tyler, Damien melihat notifikasi pesan masuk dengan alamat bar Tyler. Menatap jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 10:30, Damien memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Ia membalas email laporan dari beberapa General Manager yang memimpin hotel Diamond Rose di negara lain, menunjukkan dedikasinya terhadap bisnisnya.

Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 9 malam, Damien telah bersiap di depan pintu lobi hotel, menunggu mobil sedan mewah Bentley yang akan membawanya menuju bar milik Tyler. Damien terlihat sangat tampan, mengenakan setelan jas mewah berwarna hitam merek Armani. Rambutnya terlihat rapi dengan model klasik yang menambah pesona.

Mobil yang dia tunggu tiba, seorang pria turun dari mobil, membuka pintu belakang untuknya, dan dengan sopan mempersilakan Damien masuk. Damien masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang yang empuk. Sopir masuk ke mobil, dan tak berselang lama mobil itu pergi meninggalkan hotel Diamond Rose, menuju Purple Swan Bar.

Damien sedikit terkejut begitu tiba di lokasi tujuannya. Bangunan megah dengan logo burung bangau berwarna ungu terlihat mengagumkan. Lampu hias yang indah menambah pesona Purple Swan Bar. Begitu turun dari mobil, Damien di sambut dua petugas keamanan bar itu. Setelah memberitahu identitas dan maksud kedatangannya, salah satu dari petugas itu dengan ramah langsung mengantar Damien menuju ruang VIP.

Suasana bar terlihat ramai dengan pengunjung, suara musik yang mengalun kencang. Damien sendiri tidak terlalu menyukai suasana seperti itu. Namun, dengan penuh hormat, petugas itu membawa Damien melewati kerumunan menuju ruangan VIP.

Tiba di depan sebuah ruangan, pintunya berwarna hitam dengan strip emas mengelilingi. Logo burung bangau berwarna emas terpampang di pintu. Petugas tadi membuka pintu dan mempersilakan Damien masuk dengan ramah. Damien tersenyum dan mengucap terima kasih lalu melangkahkan kakinya masuk ke ruangan VIP.

Damien sedikit terkejut, begitu pintu tertutup, hiruk pikuk yang terdengar di luar tidak menembus ruangan ini. Dekorasi ruangan tempatnya berada juga terlihat sangat indah, bergaya klasik dengan beberapa hiasan botol wine mahal menjadi hiasan dekorasi ruangan itu.

Tak berselang lama, seorang wanita cantik berusia 23 tahunan memasuki ruangan. Wanita cantik itu tersenyum ramah menyapa Damien. Di tangannya, wanita itu membawa nampan berisi botol wine mahal dengan merek yang mewah, serta gelas kristal yang terlihat sangat indah. Wanita itu dengan cermat menata wine dan gelas di meja. Setelah tugasnya selesai, wanita cantik itu mengucap pamit ke Damien.

Ceklek!

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, Damien tersenyum melihat sosok pria yang memasuki ruangan, dia adalah Tyler, sahabat lama Damien yang terakhir kali dia temui adalah 5 tahun yang lalu. Wajah Tyler masih kocak seperti dulu, dengan rambut pirang yang sedikit berantakan dan senyum yang selalu membuat orang di sekitarnya merasa nyaman.

"Tyler!" seru Damien dengan antusias, berdiri dari sofa tempatnya duduk. Mereka berdua saling berpelukan, seakan merayakan pertemuan setelah sekian lama. "Lihat wajahmu, masih tetap seperti dulu, Bro."

Tyler tersenyum lebar, "Tentu saja, aku ini abadi. Bagaimana kabarmu, Damien? Terakhir kali kita ketemu, kau masih mengelola Diamond Rose Hotel di Kanada."

Damien mengangguk, "Ya, segalanya berjalan dengan baik. Dan sekarang, aku di sini untuk meresmikan cabang terbaru kami di Amerika."

"Wow, itu luar biasa, Bro! Aku bangga padamu," ujar Tyler dengan tulus.

Mereka berdua duduk di sofa bersebelahan, menatap satu sama lain dengan senyuman. Atmosfir keakraban mereka seolah membawa mereka kembali ke masa-masa kuliah dulu.

"Jadi, bagaimana Purple Swan Bar-ku menurutmu?" tanya Tyler, matanya berbinar penuh harap.

Damien melihat sekitar ruangan dengan penuh perhatian sejenak sebelum menjawab, "Ini luar biasa, desainnya begitu elegan dan atmosfirnya begitu unik. Aku benar-benar terkesan."

"Terima kasih, Damien. Aku selalu ingin menciptakan sesuatu yang berbeda. Dan sepertinya, aku berhasil," balas Tyler tersenyum bangga mendengar pujian dari sahabatnya yang sekarang di kenal sebagai pebisnis jenius di generasi mereka.

“Oh Iya, Waitress yang membawa wine ini juga sangat cantik, itu menjadi nilai tambah untukmu,” ucap Damien sembari tertawa pelan.

“Waitress cantik?” Tanya Tyler penasaran, dia sudah mengetahui selera wanita yang masuk dalam kategori cantik di mata Damien, mendengar Damien memuji waitress di tempatnya membuat Tyler menjadi penasaran.

“Iya… menurutku waitress itu sangat cantik,” balas Damien mengangguk pelan.

“Tunggu… aku jadi penasaran, waitress yang mana yang kamu maksud?” ucap Tyler yang sontak membuat Damien tertawa.

“Hei… apa kamu tidak mengenali semua karyawanmu?” tanya Damien bercanda. Tyler ikut tertawa, dia lalu meminta izin ke Damien untuk menghubungi seseorang, dia meraih ponselnya dari saku, dan terlihat berbicara dengan seseorang melalui telepon.

Tak lama setelah Tyler mengakhiri pembicaraannya di telepon, pintu ruangan tempat mereka berada terbuka, waitress cantik tadi terlihat memasuki ruangan. Ternyata Tyler tadi menghubungi bawahannya dan meminta waitress yang membawa wine ke ruangan ini untuk datang. Tyler tercengang menatap wajah cantik waitress itu, tak salah jika sahabatnya tadi memuji kecantikan wajah waitress itu.

Waitress cantik itu menyapa Tyler dan Damien dengan ramah. Damien sedikit terkejut melihat senyuman menyeringai yang tergambar dari wajah Tyler ketika menatap wajah cantik waitress itu.

“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, jadi bisakah kamu memperkenalkan dirimu terlebih dahulu?” tanya Tyler.

"Nama saya Miranda Pak, dan saya baru seminggu bekerja di sini," jawab Miranda dengan senyuman lembut.

Tyler tiba-tiba beranjak dari duduknya, "Sebentar ya, Bro. Ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengan Miranda. Aku izin pamit sejenak." Sebagai sesama pengusaha, Damien langsung mengangguk paham, mungkin Tyler berniat memberi arahan tertentu kepada karyawan barunya pikir Damien.

"Tentu Bro, Oh Iya, aku tadi lupa mengisi ulang daya ponselku.

" Damien merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, dia lalu mengoper ponselnya ke Tyler, meminta Tyler untuk mengisi ulang daya ponselnya yang tinggal 12 persen.

Tyler menangkap ponsel yang di lempar Damien dengan tangkas, "Tentu, Bro. I’ll be back," ucap Tyler tersenyum sambil mengedipkan satu matanya ke Damien.

Tyler pergi meninggalkan ruangan bersama Miranda, sementara Damien duduk di sofa menikmati wine mahal yang Tyler siapkan untuknya.

Baru 3 menit berlalu, Damien tiba-tiba teringat bahwa dia belum sempat mengabari ayah dan ibunya. Setiap hari, tanpa kecuali, Damien selalu menyempatkan waktunya untuk mengabari kedua orang tuanya ketika sedang dalam perjalanan dinas seperti ini.

"Ah, bagaimana bisa aku lupa?" gumam Damien pada dirinya sendiri. Matanya melayang ke arah pintu ruangan, dan dia memutuskan untuk mencari Tyler untuk mengambil kembali ponselnya.

Damien berdiri dari sofa dan bergerak menuju pintu ruangan. Begitu pintu terbuka, lantunan musik DJ yang terdengar sangat kencang menyambutnya. Suasana di luar ruangan VIP terasa begitu berbeda.

Damien memandangi sekeliling, mencari karyawan Purple Swan Bar. Dia melambaikan tangannya ke arah seorang pria yang mengenakan seragam bar. Pria itu dengan cepat menghampiri Damien sembari tersenyum ramah.

"Apa yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pria itu sopan.

"Aku mencari Tyler," jawab Damien.

Pria itu mengangguk mengerti, " Pak Tyler biasanya berada di ruang kerjanya di lantai dua. Mari aku antar Tuan."

Mereka berdua berjalan melalui kerumunan dan masuk ke dalam lift.

Begitu lift tiba di lantai dua, pria itu langsung menunjuk pintu ruangan Tyler yang terletak di bagian ujung. “Itu ruangan Pak Tyler,” ucap pria itu sopan.

"Terima kasih atas bantuannya," balas Damien.

Dia melangkahkan kakinya keluar dari lift dan berjalan menuju pintu ruangan Tyler. Dari dalam, alunan musik jazz yang cukup nyaring terdengar. Damien mengetuk pintu beberapa kali sambil memanggil nama Tyler, namun tak mendapat jawaban. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Damien langsung saja membuka pintu ruang kerja Tyler, matanya sontak membelalak terkejut mendapati Tyler sedang meniduri Miranda di meja. Pakaian mereka berdua berserakan di lantai, Tyler dan Miranda bercinta tanpa mengenakan sehelai benang pun. Kaki Miranda yang putih dan jenjang melingkar di tubuh Tyler, suara desahan Miranda membaur dengan lantunan musik Jazz yang memenuhi ruang kerja Tyler.

Damien diam membatu, sangat terkejut dengan apa yang dia saksikan saat ini, Tyler menyeringai sambil terus menghujam batang kejantanannya ke tubuh Miranda, “Maaf Damien, sepertinya kamu datang terlalu awal," katanya santai, jelas menikmati keterkejutan di wajah Damien.

Bab 2

Damien diam membatu, sangat terkejut dengan apa yang dia saksikan saat ini, Tyler menyeringai sambil terus menghujam batang kejantanannya ke tubuh Miranda, “Maaf Damien, sepertinya kamu datang terlalu awal," katanya santai, jelas menikmati keterkejutan di wajah Damien.

Miranda yang sudah menyadari kehadiran Damien langsung memalingkan wajahnya karena malu, pipinya memerah akibat campuran rasa malu dan gairah. Kejantanan Tyler yang masih terkubur jauh di dalam dirinya menyebabkan dia terkesiap dan menggeliat di bawah hentakan tanpa henti.

“Jadi ada perlu apa kamu mencariku, Bro?” Tanya Tyler di iringi suara hentakan yang semakin kuat.

Damien terdiam tak menjawab pertanyaan Tyler, matanya tertuju pada gumpalan indah Miranda yang terguncang akibat hentakan yang Tyler buat. Reaksi Damien yang diam membatu membuat Tyler tertawa dan mengulang pertanyaannya.

“Hey Bro, Jadi ada perlu apa kamu mencariku?”

Wajah Damien memerah, dia menunduk dan memalingkan wajahnya, “Po… ponselku,” jawab Damien.

Tyler yang masih menghujam tubuh Miranda tersenyum nakal melihat reaksi Damien, dia menunjuk ponsel Damien yang sedang di charging di bagian sudut ruang kerjanya.

Damien mengangguk paham, dia berjalan melewati Tyler yang semakin kuat menghentak tubuh Miranda.

Suara rintihan Miranda semakin kuat terdengar, Membangkitkan gairah Damien yang juga lelaki normal.

"Berengsek Tyler, kamu masih belum berubah," gumam Damien yang bergegas meraih ponselnya. Dia ingin segera meninggalkan ruangan yang telah menciptakan situasi aneh seperti ini.

Tyler tertawa pelan, "Hei Damien, bukan hanya aku yang tidak berubah setelah 5 tahun tak bertemu, sepertinya kamu juga masih belum berubah, masih seperti bocah polos yang tidak mampu melihat adegan seperti ini," ucap Tyler menyindir sekaligus menantang Damien.

Provokasi yang Tyler lemparkan terbukti efektif, Damien yang tadinya hendak langsung pergi setelah mengambil ponselnya, memutuskan duduk di sofa, dia berusaha bersikap biasa saja, untuk membuktikan ke Tyler jika dia tidak masalah dengan hal seperti ini.

“Nah… i… ini baru Damien Versi tangguh,” ucap Tyler yang mempercepat gerakan pinggulnya.

Damien duduk di sofa, jantungnya berdebar kencang sambil menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Di depannya, Tyler terus menghujam liang Miranda dengan keras, menyebabkan wanita cantik itu terus menggeliat. Suara erangan mereka memenuhi ruangan, bercampur dengan gairah Damien yang semakin besar.

“Ayolah Bro, lihat kesini, bukankah Miranda terlihat semakin cantik dengan tubuh yang berkeringat seperti ini?” Tantang Tyler yang tak henti-hentinya menggoda Damien.

Damien menjawab tantangan Tyler, dia kini menatap Tyler dan Miranda yang sedang bercinta.

“Bukankah Miranda sangat cantik?” Tanya Tyler di selingi desahan kuat yang keluar dari mulutnya.

Gluk!

Damien mengangguk pelan, tubuh indah Miranda yang berguncang hebat seakan menghipnotis matanya.

Tyler mencabut senjatanya, lalu membalikkan tubuh Miranda membelakangi dirinya, menempatkan Miranda dalam posisi doggy style yang sempurna. Erangan erotis kuat keluar dari mulut Miranda saat Tyler kembali menghujam liang wanitanya, disusul tamparan basah bibir kewanitaan Miranda saat di hujam dengan ganas oleh batang kejantanan Tyler.

Tyler mengerang kenikmatan saat dia mendorong Miranda dengan intensitas tinggi. Pinggulnya bergerak dengan ritme cepat tiada henti, batang keras itu menghujam sangat dalam membuat Miranda menggeliat dan mengerang tak terkendali.

Pikiran Miranda menjerit minta dilepaskan, tapi kenikmatan dari setiap hentakan saat batang Tyler terkubur jauh ke dalam liang miliknya langsung membuyarkan pikiran itu.

Dia menggigit bibirnya untuk menahan rintihannya, wajah cantiknya yang sedang merasakan nikmat di setiap nadinya menjadi tontonan Damien yang perlahan melonggarkan dasi miliknya.

Tyler tersenyum puas, menikmati cengkeraman erat di bongkahan pantat Miranda yang terlihat indah, menikmati rintihan nikmat Miranda yang seakan terus meminta lebih. Sampai akhirnya tubuh wanita cantik itu bergetar hebat, di iringi lenguhan panjang tanda bahwa Miranda telah mencapai klimaks.

Damien menarik nafas panjang, ini pertama kalinya dia melihat wanita mencapai klimaks, gairahnya meningkat drastis, menimati wajah cantik Miranda, dan juga tubuh indah Miranda yang terlihat basah karena pertempuran panas yang terjadi.

Tyler semakin bergairah, jepitan kuat yang dia rasakan saat Miranda mencapai klimaks memberikan kenikmatan yang luar biasa, dia mempercepat gerakannya, suara tamparan basah ketika tubuh mereka bertabrakan menciptakan sensasi yang luar biasa.

Dorongan Tyler semakin cepat, cengkeramannya di pinggul Miranda semakin erat saat dia merasakan ketegangan yang familiar di kedua bola tangguhnya. Napasnya menjadi pendek, menandakan pelepasannya yang akan segera terjadi.

Cairan kenikmatan Miranda menetes jatuh diatas meja, Damien meneguk salivanya berkali-kali melihat pemandangan itu, tiba-tiba Tyler mencabut batang kejantanan miliknya, Miranda yang mengerti langsung memutar tubuhnya menghadap Tyler, memasukkan kepala kejantanan Tyler ke dalam mulutnya.

Erangan rintihan kuat terdengar dari mulut Tyler, bersamaan dengan itu cairan putih menghambur masuk ke mulut Miranda, Miranda memegang dan memberi sentuhan lembut ke batang kejantanan Tyler, menampung setiap semburan cairan kenikmatan yang di lesakkan Tyler ke dalam mulutnya.

Tyler menarik nafas panjang, tersenyum puas menatap wajah nakal Miranda yang mendongak menatap balik dirinya.

Beberapa tetes cairan putih meluber dari bibir Miranda. Namun raut wajah wanita cantik itu terlihat sangat bahagia, membuat segudang pertanyaan tiba-tiba muncul di benak Damien.

“Kenapa wanita itu malah terlihat bahagia? Bukankah Tyler baru saja memaksanya berhubungan badan?” batin Damien.

“Pak Tyler, sebentar lagi anda harus bertemu dengan Tuan Smith, bukankah hari ini anda sudah janji bertemu dengannya?” Tiba-tiba seorang wanita cantik mengenakan blouse putih dan rok pendek berwarna biru masuk ke dalam ruangan. Memberitahu jadwal Tyler hari ini.

“Terima kasih Anna,” jawab Tyler sembari menyerahkan beberapa lembar tisu kepada Miranda.

Tyler melompat turun dari meja, dia lalu menghampiri Anna yang terlihat biasa saja dengan pemandangan itu.

Tyler melingkarkan lengannya di pinggul Anna, dia lalu mencium bibir Anna dengan ganas.

Hal itu membuat Damien kembali tercengang, bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi pikirnya.

Hal yang membuat Damien semakin heran, karena Anna bukannya marah, malah membalas ciuman Tyler. Sementara diatas meja, Miranda terlihat santai membersihkan bibirnya dengan tisu yang di berikan Tyler tadi.

“Astaga… bagaimana bisa ini terjadi?” batin Damien dengan gairah yang kembali meningkat.

***

15 menit setelah Damien menyaksikan pertempuran panas antara Tyler dan Miranda, Damien yang sudah kembali ke ruangan VIP, terlihat duduk di sofa dengan pandangan kosong, mencoba memproses kegilaanyang baru saja dia saksikan.

Pertanyaan bergejolak dalam benaknya, "Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana Tyler bisa sebegitu liar dan tanpa batas?" Damien mencoba mengingat masa kuliah mereka bersama, di mana Tyler memang dikenal sebagai seorang playboy, namun hal ini terasa berbeda.

Sejak masa kuliah, Tyler memang sering bergonta-ganti pasangan dan gemar berpesta. Namun, apa yang terjadi tadi melebihi segala bayangan yang pernah Damien miliki tentang sahabatnya itu. Hal yang dia saksikan tadi bukan lagi sekadar kenikmatan biasa tetapisebuah pertunjukan kegilaan tanpa batas dan melanggar semua norma.

Suara pintu yang tiba-tiba terbuka membuyarkan lamunannya. Tyler masuk dengan santainya, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Senyuman nakal terukir di wajahnya, seakan merasakan ketidaknyamanan yang tengah menghantui Damien.

"Hey, Bro! Kenapa kamu seperti melihat hantu?" canda Tyler sambil duduk di sofa bersebelahan dengan Damien.

"Jadi… Menurutmu, bagaimana penampilanku tadi? Miranda memang pilihan yang baik, bukan?"

Bab 3

"Hey, Bro! Kenapa kamu seperti melihat hantu?" canda Tyler sambil duduk di sofa bersebelahan dengan Damien. "Jadi… Menurutmu, bagaimana penampilanku tadi? Miranda memang pilihan yang baik, bukan?"

Damien terdiam sejenak, berusaha menyusun kata-kata. "Tyler, apa-apaan kelakukanmu tadi?"

Tyler tertawa lepas. "Bro, hidup ini singkat. Kita harus menjalaninyadengan cara kita sendiri. Selain itu, apa kamu tidak lihat tadi, Miranda juga sangat menikmatinya. Bahkan bisa aku pastikan gairahnya tadi meningkat pesat saat di nonton oleh pria tampan sepertimu."

Ucapan Tyler membuat Damien teringat dengan wajah cantik Miranda yang mengerang kenikmatan saat mencapai klimaks tadi.

Damien menggeleng pelan, mencoba mengusir raut wajah Miranda dari pikirannya. "Aku tidak yakin bisa mengerti dengan duniamu Bro. Itu terlalu..." Damien merasa sulit menemukan kata yang tepat, "...berlebihan."

Tyler mengangguk mengerti, tetapi pandangan mata birunya tetap menantang Damien. "Jangan batasi dirimu. Cobalah sesuatu yang berbeda, Damien. Lepaskan dirimu." Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka kembali. Dengan anggun, Miranda memasuki ruangan dengan troli berisi hidangan mewah untuk makan malam. Aroma menggoda dari hidangan yang Miranda bawa langsung menyusup ke dalam ruangan.

"Pak Tyler, Tuan Damien, ini makan malam untuk kalian berdua!" ucap Miranda dengan senyuman manisnya. Troli itu dipenuhi dengan hidangan lezat, mulai dari sushi, steak saikoro yang dihidangkan dengan saus spesial, hingga kue cokelat mewah.

Damien terkejut melihat sikap tenang Miranda. Wanita cantik itu tidak terlihat malu atas kejadian tadi, dia terlihat biasa saja dan mulai menata hidangan di atas meja. Beberapa saat kemudian, meja terisi dengan hidangan yang di bawa oleh Miranda.

Tylertersenyum melihat reaksi Damien yang kebingungan, dia lalu berbisik pada Damien, "Sudah kubilang ‘kan, dia juga menyukainya, sekarang… ayo kita makan.”

Damien yang sedikit terkejut menganggukkan kepalanya pelan. Setelah selesai menata hidangan, Miranda melihat ke arah Damien dan Tyler. "Semoga Tuan Damien suka dengan hidangan yang kami siapkan," ucapnya dengan senyum ramah.

"Dia pasti suka, bukan hanya hidangannya, dia juga sepertinya menyukaimu, mungkin malam ini kamu sebaiknya menemani Damien. Bagaimana, Damien?" Tanya Tyler tiba-tiba sambil memainkan kedua alisnya.

Damien mendadak panik mendengar ucapan Tyler, "Apa? Tidak, Tyler, itu terlalu..."

Tyler tertawa Pelan. "Relax, Bro! Aku hanya bercanda. Mari kita makan malam dulu."

Miranda ikuttertawa pelan, menikmati reaksi Damien yang kikuk. Setelah beberapa lama makan bersama, atmosfer mulai lebih santai. Percakapan mengalir begitu saja, terutama ketika Tyler dan Damien mulai mengingat masa-masa kuliah mereka.

Setengah jam berlalu dengan cepat. Setelah makan dan berbincang santai, Damien memutuskan untuk pulang karena besok pagi harus menghadiri acara peresmian hotelnya. Tyler mengantar Damien sampai ke depan bar.

"Besok jangan lupa datang," Damien mengingatkan.

Tyler mengacungkan jempolnya, "Pasti, Bro! Aku tidak akan melewatkan acaramu."

Damien masuk ke dalam mobil mewahnya, meninggalkan bar Tyler menuju Diamond Rose Hotel. Selama perjalanan, pikirannya terus terhanyut ke kejadian tadi. Gairahnya mulai meledak-ledak, dan dia mengumpat dalam hati, menyalahkan Tyler atas segala kegilaan yang baru saja dia alami.

Beberapa saat kemudian Damien tiba di Diamond Rose Hotel miliknya. Setelah mobil mewahnya berhenti di depan pintu masuk, Damien turun dengan langkah mantap. Suasana malam yang tenang dan gemerlap lampu hotel menyambut kepulangan sang Presdir.

Dua resepsionis cantik yang berjaga di lobi tersenyum ramah menyambut Damien begitu dia melangkah masuk. "Selamat malam, Pak Damien,” sapa salah satu dari mereka.

Damien mengangguk pelan dan tersenyum, "Selamat malam," jawabnya singkat sambil terus melangkah menuju pintu lift. Pelayan hotel dengan sigap membantu membuka pintu lift untuknya.

Saat lift membawanya ke lantai area presidential suite, Damien merenung. Pikirannya masih dipenuhi oleh gambaran pertarungan panas yang baru saja dia saksikan. Wajah Miranda terus muncul di benaknya, dan dia berusaha keras untuk mengusir pikiran-pikiran yang tak senonoh itu.

Sampai di lantai presidential suite, Damien berjalan menuju kamarnya. Begitu masuk, dia langsung menuju kamar mandi. Air hangat menyiram tubuhnya, membersihkan keringat dan pikiran kotor yang memenuhi kepalanya. Damien berganti pakaian, memilih setelan piyama yang nyaman.

Setelah bersih dan rapi, Damien merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk. Namun, meski fisiknya terasa nyaman, pikirannya masih tidak tenang. Wajah Miranda kembali terlintas di benaknya.

Damien menepuk-nepuk jidatnya sendiri, kembali berusaha mengusir Miranda dari pikirannya. "Ini gila," gumamnya pada diri sendiri. "Aku bukan orang mesum seperti ini. Ini semua karena Tyler!"

Diatas tempat tidur, Damien berjibaku dengan pikiran mesumnya sendiri. Sampai akhirnya rasa kantuk menyerang, membuat Damien akhirnya tertidur lelap.

Keesokan harinya, acara peresmian Diamond Rose Hotel akhirnya dilangsungkan. Damien, mengenakan setelan jas mewah berwarna putih, berdiri di depan pintu masuk hotel. Acara tersebut terlihat sangat megah, dekorasi mewah, spanduk besar, dan ratusan karangan bunga ucapan selamat yang terpampang sepanjang mata memandang.

Damien ditemani Henry dan beberapa Departemen Manager, terlihat sibuk menyambut para tamu yang terus berdatangan. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya, para tamu di buat terkesima oleh keindahan hotel dan keramahan Damien.

Kilatan kamera wartawan menyoroti acara tersebut, merekam setiap detik kemegahan peresmian Diamond Rose Hotel. Parkiran penuh dengan ratusan mobil mewah dari berbagai merek, menciptakan pemandangan yang memukau. Damien terlihat berjabat tangan dengan kenalan ayahnya, berbicara singkat tentang kabar keluarga dan perkembangan bisnis mereka.

Damien yang terlihat rapi dan berkelas menjadi pusat perhatian. Setiap langkahnya dipantau oleh para tamu dan wartawan yang hadir. Beberapa tamu yang seusia dengannya merasa nyaman dengan cara Damien menyapa mereka, yang lebih terlihat santai layaknya bertemu sahabat lama.

Tyler tiba sebagai tamu terakhir, membuat Damien tersenyum bahagia. Keduanya berpelukan erat, dan Tyler memberikan pujian yang berlebihan tentang kemegahan hotel tersebut. Damien tertawa pelan, merasa malu dengan pujiannya yang terlalu berlebihan dari sahabatnya itu, namun Tyler dengan bangga terus menyebut Damien sebagai sahabatnya yang sukses.

Damien dan Tyler melangkah masuk ke lobi hotel, di mana perhatian Tyler sontak tertuju kepada dua resepsionis cantik yang berdiri di dekat meja resepsionis. Kedua wanita itu tersenyum ramah menyambut tamu.

Tyler tersenyum membalas sapaan mereka, lalu berbisik ke telinga Damien, "Wow, mereka berdua sangat cantik. Apa aku bisa meminjam salah satu dari mereka untuk menemaniku malam ini?"

Damien terbatuk pelan, sambil berbisik, "Tyler, jangan bawa pikiran mesummu ke sini, aku bukan tipe Bos berwatak bejad seperti dirimu."

Tyler tertawa pelan dan berkata, "Hahaha tenang Bro! Aku hanya bercanda. Tapi jujur, mereka sungguh menarik perhatian."

Damien menggelengkan kepalanya, dia dan Tyler lalu berjalan menuju Ballroom utama, tempat di langsungkannya acara peresmian ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED