Bab 1

"Mama, aku mohon jangan bawa putriku! Aku sanggup menghidupinya, Ma."

Seorang wanita berparas memikat yang baru saja melahirkan bersimpuh dan memegang kaki wanita lain yang sedang menggendong seorang bayi perempuan baru lahir.

"Jangan egois, kamu! Ini adalah balasan karena kamu telah merebut putraku," hardik wanita dengan usia yang dua kali lipat dengan usianya. Wanita itu menghentakkan kakinya agar ibu dari bayi yang digendongnya melepaskan kakinya.

Setelah lepas, dia pergi dengan cepat agar tidak bisa dikejar.

"Ma…. Aku mohon…!"

Ratna sama sekali tidak menoleh. Dia tak lain adalah mertua dari wanita yang baru saja melahirkan itu. Juga merupakan istri dari Fredi Edward, pemilik perusahaan WANGS GOOD.

Kabar kematian anaknya–Erlangga Edward membuatnya tega memisahkan ibu dan bayi yang baru dilahirkan, yang tak lain adalah cucu dan menantunya.

Sabrina, nama menantu Ratna yang merupakan istri Erlang. Wanita itu masih menangis dan duduk di lantai saat ibu mertuanya sudah tak terlihat. Dua tangannya menyangga badan agar tidak jatuh tengkurap. Sementara kakinya tertekuk pada siku dengkul.

Suster yang tadi bersembunyi langsung keluar dan membawa Sabrina kembali ke kamar setelah Ratna berbelok di pertigaan lorong rumah sakit. Secara tak sengaja, dia melihat drama antara mertua dan menantu secara live setelah kembali mengambil perlengkapan susu formula untuk bayi Sabrina.

Suster ber-name tag Susi itu langsung membantu Sabrina berdiri dan memapah lalu membawanya menuju kamar rawat. Setelah sampai di kamar dia membaringkan Sabrina di kasur brankar.

"Nyonya, sebaiknya istirahat dulu!" ujar Susi lalu beranjak untuk menenangkan bayi di dalam box. Bayi itu menangis sedari tadi, saat saudara kembarannya dibawa oleh Neneknya.

Dengan cekatan, Susi membuat susu untuk bayi yang baru lahir itu. Setelah bayi merah itu tenang dan tidur kembali, Susi berusaha untuk menghibur Sabrina.

Beberapa jam yang lalu, Susi merasa iri pada Sabrina karena mendapatkan mertua seperti Ratna. Sebelum ada kabar kematian Erlangga, Ratna begitu baik dan terlihat sangat menyayangi menantunya. Hingga membuat semua orang yang melihat, termasuk Susi merasa iri. Namun pada detik ini keadaan berubah 180 derajat.

"Nyonya, saya memang kurang tahu dengan permasalahan yang sedang Anda hadapi. Akan tetapi, Nyonya harus semangat. Lihatlah, anak Anda begitu cantik dan masih butuh sosok ibu!" ujar Susi tersenyum. Dia sudah berada di depan Sabrina dan memperlihatkan wajah bayi merah itu.

Sabrina mengusap air matanya, kemudian beralih duduk. "Kamu benar. Aku masih memilikinya di dunia ini."

"Coba, Nyonya gendong!" Susi tersenyum dan mengulurkan bayi itu pada Sabrina.

Bayi mungil nan cantik itu tersenyum di pangkuan ibunya meski terlelap. Sabrina pun ikut tersenyum.

"Senyummu seperti embun di pagi hari yang membasahi tanah gersang. Memperindah bunga dan dedaunan. Karena itu, Mama akan memberimu nama Embun Mentari."

Setelah seminggu, Sabrina dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Karena Sabrina adalah yatim piatu dan tak memiliki sanak saudara di kota ini, dia memutuskan untuk membeli rumah kecil di pinggiran kota menggunakan uang tabungannya semasa kerja.

Sebuah rumah minimalis satu lantai yang memiliki, dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, satu ruang tamu dan halaman yang luas menjadi pilihan Sabrina. Dia mendapatkan rumah itu dengan bantuan Susi, karena sebelumnya rumah itu milik tetangga Susi.

Dengan sisa uang membeli rumah, Sabrina memulai usaha membangun toko tanaman hias. Setelah lima tahun toko itu mulai membesar dan ada tiga karyawan.

Begitupun putri Sabrina, Embun Mentari. Bocah yang kerap disapa Tari itu tumbuh menjadi sosok gadis kecil yang imut, lucu dan juga aktif. Tak jarang gadis itu mengganggu karyawan Sabrina di sela pekerjaan.

Karena itu, di tahun ajaran kali ini, Susi menyarankan pada Sabrina untuk memasukkan Tari ke paud.

"Tante Susi…," panggil Tari saat melihat Susi pulang dan memasuki gerbang toko. Saat itu Tari baru saja selesai membuat satu karyawan Sabrina yang bernama Bela mengeluarkan taring.

Susi menyambut Tari dengan merentangkan kedua tangannya. "Euummm, wanginya ponakan Tante yang cantik ini," pujinya sembari mencium rambut Tari.

"Tante juga wangi, sudah mandi 'kah?"

"Belum. Tapi tadi menggunakan sanitizer di seluruh badan Tante, agar tidak ada kuman yang ikut tante dan menular pada Tuan Putri yang cantik ini," gemasnya lalu melepas pelukan dan mencubit hidung Tari yang minimalis.

"Sakit, Tante!" protes Tari mengerucutkan bibirnya mungilnya. Susi tertawa dan menggandeng Tari untuk masuk ke rumahnya.

Kini, mereka sudah berada di dalam rumah Susi. Gadis kecil itu langsung melompat pada sofa ruang tamu seperti biasanya. Sementara Susi melepaskan sepatunya.

"Tante, sekolah paud itu gimana sih?" tanya Tari dengan suara khas anak kecil yang menggemaskan.

"Kamu mau sekolah?" Bukannya menjawab, Susi justru balik bertanya.

Bersamaan dengan dia selesai melepas sepatu. Lalu meletakkan sepatunya di rak sepatu dan menggantung tasnya di tempat penggantungan tas di depan pintu kamar.

"Mama bilang, besok Tari mau dimasukkan ke paud. Tadi tidak sengaja, Tari dengar Mama bicara di telepon." Sudut bibir mungil Tari melengkung ke bawah setelah mengatakan itu.

"Kenapa sedih? Kan bagus kalau Tari sekolah, nanti banyak temannya." Susi yang baru saja selesai meletakkan tasnya kembali menghampiri Tari.

"Tapi… kalau Tari kebelet pipis bagaimana, Tan?" Spontan Susi menepuk jidat.

***

"Asalamuallaikum, Selamat pagi, Bu! Permisi! Saya Sabrina Maharani yang kemarin menghubungi yayasan ini via telepon," sapa Sabrina yang membuat wanita berhijab dan badannya sedikit gempal itu menoleh ke arahnya. Sebelumnya dia terlihat serius menatap laptop di depannya.

"Oh iya, Bu Sabrina . Silahkan duduk!" sambut wanita berpipi chubby dengan pandangan teduh itu.

"Wahh, anak Ibu cantik sekali!" puji wanita bernama lengkap Mulasih itu setelah dia, Sabrina dan Tari duduk di sofa.

"Terima kasih, Bu! Benarkah ini dengan Bu Mulasih selaku pemilik yayasan PAUD RUMAH MUTIARA?"

"Benar Bu Sabrina. Anak–anak biasa memanggil saya Bunda," jawabnya lalu beralih menatap Tari yang sedari tadi menatap lemari kaca berisi banyak piala. Dia mengagumi benda baru yang pertama kali dilihatnya itu.

"Hai anak cantik! Bunda boleh tahu nggak siapa namamu?" Namun Tari tidak menjawab karena fokus menghitung piala dalam hati.

Sabrina menyenggol Tari dan mengisyaratkan kalau Bunda Asih bertanya padanya.

"Ibu gendut mau kenalan dengan saya?" ceplos Tari dengan polosnya dan membuat Sabrina menutup wajahnya menggunakan tas. Ingin sekali rasanya bersembunyi ke dasar bumi.

Sedangkan Bunda Asih tersenyum dan menahan tawa melihat kejujuran anak kecil di depannya. Sama sekali dia tidak tersinggung dengan ucapan Tari.

"Iya, Sayang! Boleh 'kan?"

"Boleh. Namaku Tari, Ibu. Kata Mama nama lengkapku Embun Mentari. Kalau nama Ibu?" Tari balik bertanya.

"Nama saya Asih dan Tari bisa memanggil saya Bunda. Mau 'kan?"

Tari mengangguk.

"Bunda, saya minta maaf ya! Anak saya kalau ngomong memang suka ceplas–ceplos." Sabrina malu dan sungkan karena Tari tadi mengatainya 'gendut'.

"Selamat pagi, Bunda!" sapa seorang anak perempuan kecil dari pintu dan menghentikan Bunda Asih saat hendak menjawab.

Spontan Sabrina ikut menoleh ke arah pintu. Matanya membulat sempurna saat melihat seorang pria di belakang anak kecil itu.

"Mas Erlang?"

Bab 2

Seketika Sabrina mematung dan larut dalam keterkejutannya. Tubuhnya terasa disengat oleh ribuan volt tegangan listrik. Wanita yang masih memiliki darah keturunan putri keraton itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa berdiri di hadapannya sekarang? Pikiran Sabrina benar-benar buntu.

Pria yang disebut Erlang oleh Sabrina dan anak kecil yang bersamanya melangkah mendekati mereka. Namun mata Sabrina masih tertuju dimana pria itu berdiri dan mengucap salam.

"Ehh, Pak Erlangga dan Nak Bulan. Mari silahkan duduk!" sambut wanita sedikit subur itu yang kemudian berdiri dan menunjuk sofa yang di sebelah Sabrina dan Tari. Sofa itu berbentuk leter u dan Sabrina duduk di bagian tengah.

Sedangkan pintu ruangan itu berada di belakang sofa tunggal tempat duduk Bunda Asih.

Sabrina semakin terkesiap saat Bunda Asih menyebut pria itu dengan nama 'Erlangga'.

"Nyonya, anda baik–baik saja?"

Deg!

Jantung Sabrina seakan hendak lari dari tempatnya saat mendengar suara itu. Wajahnya begitu pucat dan deru napasnya masih tak beraturan.

Otaknya kembali traveling saat Erlangga memanggilnya 'Nyonya'. Benarkah dia bukan Erlangga? Tapi kenapa wajah, suara, dan namanya sama. Dan jika dia Erlangga, kenapa dia memanggilnya nyonya dan tidak mengenalinya?

Lalu, kenapa lima tahun yang lalu dia dikabarkan meninggal? Apakah itu sebuah kebohongan, semacam skandal? Tapi siapa yang kurang kerjaan melakukan drama murahan seperti itu? Apakah Erlang yang melakukan itu? Jika dia bosan dengannya, kenapa tidak mengatakannya langsung?

Masih banyak lagi pertanyaan yang berproduksi di otaknya. Semakin dipikirkan, semakin berdenyut kepalanya.

"Eh, i–iya. Saya baik–baik saja," jawab Sabrina tergagap seraya menetralkan gemuruh dalam dada.

"Bu Sabrina , jika kurang enak badan sebaiknya istirahat dulu!" ujar Bunda Asih yang kembali membuatnya terhenyak.

"Ti–tidak kok, Bun. Cuma kepala saya sedikit pusing," jawabnya tidak sepenuhnya berbohong karena memang kepalanya pening melihat pria yang memiliki wajah, suara, dan nama yang sama.

Tidak mungkin Sabrina salah mengenali pria di depannya. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan suara seseorang yang telah mengisi sepenuh hatinya.

"Wahh kebetulan kalian satu kelas. Ehh tapi, wajah Tari dengan Bulan kok mirip ya, Pak, Bu. Seperti pinang dibelah dua," ujar Bunda Asih setelah mengecek daftar peserta didiknya.

Perkataan Bu Asih semakin membuat kepala Sabrina berdenyut. Dia segera pamit sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Kemudian Sabrina pamit sekaligus menitipkan Tari pada Bunda Asih.

Di dalam taksi pun Sabrina tetap pusing memikirkan kejadian beberapa menit lalu.

Dia yakin jika itu benar Erlangga suaminya yang dikabarkan meninggal lima tahun silam. Apalagi setelah Bunda Asih mengatakan kalau Tari dan Bulan mirip.

Apakah Erlangga amnesia?

"Tapi kenapa Mas Erlang melakukan itu?" teriak Sabrina yang membuat sang driver terlonjak kaget. Bahkan dia mengira jika penumpangnya itu gila.

"Ehh, maaf Pak!" ujar Sabrina saat mengetahui tatapan aneh sang driver. Sang driver hanya tersenyum kaku dan setelahnya bergidik.

Bahkan saat sampai depan rumah, saat sang driver memanggilnya. Sabrina masih melamun.

"Mbak, sudah sampai!" teriak sang sopir hingga membuat Sabrina tersadar.

"Ehh, iya Pak. Maaf ya!" ujar Sabrina meminta maaf lalu menyodorkan uang sesuai yang tertera di aplikasi.

Setelah Sabrina turun dia masih terus kepikiran. Hingga membuat karyawannya menatap aneh

Sabrina memilih mengalihkan pikirannya dengan mengecek dokumen–dokumen mengenai tokonya.

Beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang mengaku investor dan ingin mengajak Sabrina untuk membangun cabang dari toko tanaman hiasnya.

Setelah dirasa semua oke dan tidak ada hal yang janggal, Sabrina menghubungi orang itu. Mereka berencana membahas bisnis lebih lanjut di kafe dekat dengan sekolah Tari. Sabrina yang memilih agar nanti sewaktu Tari pulang tidak lama menunggu.

Hanya beberapa menit Sabrina dan partnernya selesai membahas hubungan kerja sama.

Sabrina melirik pergelangan tangannya. Lalu mengaktifkan mode data di ponselnya.

Ada pesan masuk dari Bunda Asih di ponselnya yang memberitahu kalau Tari pulang diantar oleh Erlangga. Tanpa disadari Sabrina memegang kepalanya.

Diam-diam partner Sabrina melirik ke arahnya. "Maaf, apakah Bu Sabrina sakit?"

"Ehh, tidak, saya baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi," pamit Sabrina lalu bergegas pulang.

Sesampainya di rumah, Sabrina kembali sakit kepala karena Tari belum pulang. Dia mondar–mandir di gerbang tokonya setelah ganti baju dengan daster.

"Seharusnya sudah sampai rumah 'kan?" Sesekali dia mengigit kukunya saat mondar–mandir, juga mengambil ponselnya untuk melihat waktu.

Lima puluh menit menunggu, ada sebuah mobil Lexus hitam berhenti tepat di depannya.

"Mama!" seru Tari, tiba-tiba nongol dari pintu kaca mobil itu yang dibuka.

"Darimana kamu? Kenapa baru pulang?" tanya Sabrina. Bersamaan dengan itu, kaca pintu mobil bagian depan terbuka dan menyembul sosok kepala pria dan kepala anak kecil yang tersenyum ke arahnya.

Sontak membuat Sabrina beku. Meskipun dia sudah mempersiapkan mental untuk bertemu dengan Erlangga lagi, Sabrina tetap saja terkejut dan membeku.

"Hai. Maaf ya! Saya tadi mengajak Tari pergi makan es krim sebentar," jawab Erlangga. Dia menyembulkan kepalanya di sebelah kepala Bulan yang juga menyembul keluar.

Gadis kecil yang serupa dengan Tari itu juga menyapa Sabrina. Akan tetapi, Sabrina tidak menanggapi karena terbengong.

Kemudian terdengar pintu mobil belakang terbuka. Tari turun dan memeluk Sabrina. Bahkan saat Tari dan Bulan berbincang pun, Sabrina sama sekali tidak mendengar. Suara pintu mobil yang terbuka dan menutup pun tak menggoyahkan kebekuan Sabrina.

"Kalau begitu kami permisi dulu ya? Daaahh, Tari!" Erlangga dan Bulan melambaikan tangan lalu menutup pintu kacanya otomatis. Tak lama mobil itu melaju dan Ratna masih bergeming dan mematung.

Pria itu hanya tersenyum melihat Sabrina yang masih mematung dari kaca mobilnya. "Dasar wanita aneh," gumannya.

Pandangan Sabrina masih lurus ke depan, bahkan saat mobil sudah tak terlihat.

"Ma," panggil Tari seraya mengguncang tubuh mamanya.

Tidak ada respon, anak kecil itu mencubit lengan mamanya hingga Sabrina menjerit. Baru dia tersadar.

"Aaauwww!" pekik Sabrina. "Apaan sih, Nak? Nyubit–nyubit Mama. Sakit tahu," keluhnya yang ditanggapi Tari dengan mengangkat kedua bahunya seraya menggeleng.

Kemudian gadis kecil itu masuk gerbang pekarangan rumah yang tekesan seperti lorong taman penuh bunga warna-warni.

"Ehh, anak itu main nyelonong aja. Heii, Tari, tungguin Mama!" teriak Sabrina lalu mengejar putrinya.

Sabrina berhasil mengejar putrinya dan menangkapnya dalam pelukan. Kemudian gelak tawa memenuhi toko dengan konsep terbuka itu.

Tanpa disadari, ada sepasang mata yang mengamati mereka sedari mobil Erlangga berhenti di depan gerbang toko. Lalu pria itu mengutik ponsel dan menghubungi seseorang.

"Nyonya, saya sudah menemukan persembunyian wanita itu."

Bab 3

Setelah selesai berbicara pada orang di seberang teleponnya, pria itu melajukan mobilnya.

Sementara itu, Sabrina masih bercanda dengan Tari. "Iiihhh! Anak Mama sekarang sudah berani nyuekin Mama," ujarnya sembari menggelitik Tari.

"Ampun, Ma! Ampun!" gelak Tari berusaha melepaskan diri.

Cukup lama mereka bergurau dengan canda tawa. Kebahagiaan itu menular pada karyawan, sehinggga mereka ikut tersenyum.

Seorang wanita yang mengenakan seragam putih berbalut cardigan juga tas kecil menaut pada lengan kirinya menghampiri mereka. Dia adalah Susi, seseorang yang membantu Sabrina selama ini.

"Seru banget, ada apa sih?" tanya Susi dengan senyuman dan wajah tanda tanya.

Sabrina dan Tari diam sejenak beralih menatap Susi. Kesempatan Tari untuk melepas diri dari pelukan ibunya yang diselingi gelitik.

"Tante, tolong aku!" ujar Tari yang berlari menuju pelukan Susi sembari tertawa.

Sabrina mengejar Tari. Akhirnya Susi pasrah karena Sabrina dan Tari mengelilinginya.

"Mbak, ada hal penting yang ingin aku bicarakan!" ujar Susi yang membuat Sabrina berhenti seketika.

"Sayang, sana ganti baju dulu! Kamu sudah bisa 'kan?" titah Sabrina pada Tari.

"Siap, Ma!" jawab Tari seraya memperagakan hormat bendera. Kemudian gadis kecil itu berlari masuk rumah.

"Ada apa?" Sabrina bertanya seraya berjalan ke kursi teras. Namun masih ikut area toko.

Kedua wanita yang selisih usianya hanya beberapa tahun itu duduk.

"Mbak Sabrina kenal mobil ini? Tadi itu aku nggak sengaja lihat orang yang mengendarai mobil ini mengambil foto Mbak Sabrina dan Tari. Aku nggak bisa lihat mukanya dengan jelas karena dia pakai kerudung hodienya," jelas Susi sembari menyodorkan ponselnya.

"Tidak. Aku tidak mengenalnya," lirih Sabrina mengamati seraya berpikir keras. Tapi ingatannya nihil karena memang dia tidak pernah melihatnya.

"Aku jadi khawatir sama Tari deh, Mbak. Bagaimana kalau orang itu mau menculik Tari?" tebak Susi yang spontan mendapat toyoran dari Sabrina.

"Kalau ngomong mbok ya jangan asal jeplak! Bikin takut aja." Omongan Sabrina dengan logat jawa keluar saat dia sedang khawatir.

"Kan aku hanya nebak, Mbak. Ya kali, main toyor aja."

"Maaf! Tumben kamu pulang awal?" Sabrina mengalihkan topik pembicaraan. Meski begitu pikirannya tetap tertuju pada orang yang dibicarakan Susi. Siapa dan apa tujuan orang itu memotret dirinya dengan Tari?

"Aku izin, Mbak! Perutku sakit banget," lirih Susi dengan wajah melas yang dibuat–buat.

"Haisssht, lebay banget!"

Obrolan mereka terhenti saat Tari memanggil Mamanya. Lalu Tari keluar dengan baju yang belum diganti.

"Kok belum ganti baju?"

Sabrina berkacak pinggang menyipitkan matanya.

"Aku nggak bisa nurunin ininya, Mama." Gadis kecil itu cemberut karena mendapat tatapan mengerikan dari Mamanya.

Sabrina meniup poninya sendiri hingga terangkat ke atas. "Kenapa nggak bilang dari tadi Sayangku?"

Kemudian, Sabrina menggiring Tari kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Susi pun melipir ke rumahnya sendiri di sebelah.

"Ma, Papanya Bulan itu orang baik loh. Tadi, sebelum pulang Tari diajak makan es krim di Toko Es Krim Enak," celoteh Tari.

Toko yang disebutkan Tari memang toko es krim terbaik di kota ini. Sabrina pernah mengajak Tari ke sana sekali. Yaitu pada ulang tahun Tari yang keempat.

"Tari tadi milih es krim coklat, enakk banget. Itu yang dulu Mama nggak bolehin Tari memilihnya."

"Apa?" Sabrina kaget karena es krim yang dimaksud Tari sangat mahal. "Itukan mahal, Tari. Lain kali, jangan minta apapun pada orang yang bari saja kenal. Mengerti?!"

"Om Elang nggak masalah kok, Ma. Bulan tadi juga milih itu, makanya Tari juga dapat es krim itu." Gadis kecil itu memanggil Erlangga dengan sebutan 'Om Elang' karena mengikuti Bulan yang memanggil dengan sebutan 'Papa Elang'.

Wajah mungil itu langsung ditekuk saat nada bicara Sabrina naik satu oktaf. Bahkan mata Tari memerah.

"Maaf, Sayang." Sabrina menyesal karena membentak Tari. "Lain kali, Tari nggak boleh gitu ya?! Kalian kan baru kenal, nggak sopan dong kalau Tari langsung minta itu. Benar nggak?" bujuk Sabrina.

"Mama jahat!" bentak Tari lalu pergi. Tepat bersamaan dengan Sabrina selesai mengganti bajunya.

"Tariii!" Panggilan Sabrina sama sekali tidak dihiraukan oleh gadis kecil itu.

Sabrina menyusul anaknya yang lari keluar rumah. Tiba-tiba jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang dan Tari berada di jalan itu.

"Tariii…!"

Brakkkk!

Tari terpental jauh dan mobil yang menabraknya tidak berhenti.

Sabrina sudah berlari secepat mungkin saat mobil belum menabrak Tari. Akan tetapi, langkahnya kalah cepat dengan mobil itu, seakan dia berlari seperti siput. Dia juga merutuki dirinya sendiri, kenapa tadi membentak putrinya.

"Tariii!" pekik Sabrina berulang kali. Dia langsung menggendong putrinya dan membawanya ke halaman toko.

Sementara mobil tadi melaju kencang setelah menabrak Tari. Sabrina tidak peduli dan memperdulikan apapun selain kondisi anaknya.

"Ilham!" teriak Sabrina pada pegawainya sembari berlari.

"Iya, Bu Sabrina. Ada ap—! Astagfirullah! Neng Tari kenapa, Bu?" Pegawai pria itu pun terkejut saat Tari digendong Sabrina dengan berlumuran banyak darah.

"Ayo cepat ke rumah sakit!"

Ilham bergegas ke parkiran motornya. Dia langsung men–started motornya. Kunci motor selalu berada di tas kecil yang dilingarkan di perut. Sehingga tidak perlu memakan waktu mencarinya.

Air mata Sabrina terus saja mengalir deras seperti air bah. Tak henti-hentinya, wanita itu meminta Ilham untuk menaikkan kecepatan motornya. Bahkan Ilham sampai menerobos lampu merah saking paniknya.

Alhasil mereka dibututi polisi sampai rumah sakit. Namun, Sabrina sama sekali tidak menghiraukan para polisi dan mempercayakan urusan itu pada Ilham.

"Suster, tolong!" teriak Sabrina saat memasuki rumah sakit.

Lalu ada petugas kesehatan yang membawa brankar. Sabrina membaringkan Tari, lalu petugas membawanya ke IGD.

Suster mencegah Sabrina masuk saat sampai di pintu IGD.

"Maaf, Bu! Biarkan dokter yang menangani berkosentrasi. Sebaiknya, Ibu segera mengurus administrasi!" ujar suster berseragam merah muda itu.

Sabrina tak menjawab sepatah katapun. Setelah pintu tertutup, lutut Sabrina serasa seperti jeli. Dia memilih untuk duduk sebentar di kursi sebelum mengurus administrasi.

"Ya Tuhan, sembuhkanlah putriku seperti sedia kala!"

Sabrina menyandarkan kepalanya ke dinding sembari berdoa dan menghela napas dalam–dalam berulang kali. Lalu dia pergi ke tempat administrasi setelah dirasa tubuhnya tak lemas.

Bruuukkkk!

Sabrina tak sengaja menyenggol seorang wanita paruh baya di depan meja administrasi.

"Mama!" gumannya saat melihat orang yang ditabraknya.

"Kamu rupanya," cebik wanita paruh baya itu yang ternyata adalah Ratna. Mantan mertuanya. "Saya peringatkan, jangan panggil saya dengan sebutan itu karena kita tidak ada ikatan apapun."

"Maaf … Nyonya!"

Sabrina malas meladeni dan hendak pergi dari hadapannya. Urusan administrasi Tari juga selesai. Namun, Ratna mencekal tangannya karena melihat Erlang di belakang Sabrina sedang menerima panggilan.

"Saya tahu kamu sudah bertemu Erlang tadi pagi. Pasti kamu bertanya–tanya kenapa Erlangga tidak mengenalimu 'kan?"

Sabrina terdiam menunggu Ratna melanjutkan perkataannya. Akan tetapi mantan mertuanya itu malah tertawa kecil dan terdengar mengejek.

"Itu adalah urusanku dan kamu tidak perlu tahu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED