Bab 1

“Besok persiapan untuk wawancara, Mama udah persiapkan untuk bajunya. Sudah Mama setrika juga.”

Anjani mencoba untuk bersikap tenang, pasalnya besok akan diwawancara di salah satu perusahaan yang cukup besar. Yang selalu mengingatkannya siapa lagi kalau bukan ibu tirinya yang sudah mengasuhnya sedari ia masih kecil.

Sementara ibunya Anjani telah tiada ketika dirinya berusia beberapa bulan. Anjani yang sedang makan kemudian mengiyakan. “Thanks, Ma.”

“Papa kamu pulang lusa katanya. Maaf nggak bisa antarin kamu wawancara. Besok Mama yang nyetir. Mama yang antar kamu ke perusahaan itu.”

“Ma, aku bisa pergi sendirian.”

“Nggak bisa. Papa kamu sudah pesan ke Mama kalau kamu nggak boleh ke mana-mana sendirian.”

Anjani sudah tahu bagaimana sikap dari ibu tirinya sedari dulu yang pasti akan posesif juga kepadanya. Tidak ada saudara perempuan yang membuatnya dijadikan anak perempuan tunggal yang paling dijaga. Apalagi adik-adiknya yang lain akan bersikap sama kalau mereka ada di sini.

“Aku besok pakai taksi online, aku kabari kalau aku sudah sampai. Mama nggak masalah?”

Dewi yang akhirnya mengalah kepada putrinya untuk pergi sendirian. “Ya udah, kamu langsung kabari Mama besok, ya!”

Sembari menghabiskan makan malamnya, Anjani pun mendapatkan persetujuan dari mamanya.

Besok adalah hari wawancara keduanya Anjani, setelah melewati wawancara tahap pertama dengan para perektrut, yang kedua ini adalah dengan bos besar mereka langsung. Tidak sabar untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan itu. Sedangkan ia sudah tidak mau jadi pengangguran lagi dan menjadi beban bagi orangtuanya. Hanya rebahan dan menunggu uang dari papanya.

Pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan menyiapkan semuanya. Kedua adiknya juga ternyata ada di rumah. “Semangat wawancaranya, Kak.”

“Pasti dong, biar nanti bantu kalian untuk biaya kuliah.”

Sedangkan Dewi sudah menyiapkan sarapan di atas meja. “Ma, aku berangkat dulu, ya.”

“Sarapan kamu, Sayang?”

“Aku bawa, Ma. Takutnya nanti macet. Mama kan tahu sendiri kayak apa.”

Dewi akhirnya mengambilkan kotak nasi dan memasukkan dua potong roti ke dalam kotak itu yang sudah diolesi dengan selai. Kemudian mengambilkan susu kedelai dan air mineral kemasan kecil kepada Anjani. “Taksinya sudah kamu pesan?”

“Sudah, Ma.”

“Ya sudah kamu berangkatnya hati-hati, ya!”

Anjani keluar dari ruang makan tapi tetap diantar oleh ibu tiri dan juga kedua adiknya.

“Ayo semangat, kak. Mana tahu ketemu sama jodohnya di sana.”

Anjani malah menertawakan kedua adiknya. “Pantang nikah kalau kalian belum bahagia, oke. Ingat tuh ucapan kakak.”

Dia langsung pergi karena taksi menunggu cukup lama. Wawancara di perusahaan itu sudah jadi incarannya sejak lama. Mendapatkan jenjang karier yang bagus pastinya sudah jadi incarannya Anjani.

Benar seperti dugaannya kalau ini akan macet sekali. Dilihatnya kalau di depan sangat macet dan sebentar lagi akan tiba di perusahaan itu.

“Pak, saya bayar aja, ya. Saya turun di sini.”

Dia kesal kalau tidak bisa ikut wawancara terakhir kali ini akan jadi penolakan besar padanya. Anjani buru-buru mengeluarkan sejumlah uang yang kemudian disebutkan oleh sopir itu. Dia akhirnya turun dari taksi dan malah berjalan kaki. Kalau menunggu keadaan membaik, itu akan sangat sulit sekali apalagi dalam keadaan macet seperti ini. Sulit sekali dihindari seperti yang sudah bisa dibayangkan sendiri oleh Anjani akan jadi seperti apa dirinya jika telat ke wawancaranya hari ini.

Waktu itu Anjani langsung berjalan dengan cukup cepat untuk menghindari keterlambatan dari yang sudah dijanjikan. Apalagi dia harus wawancara di lantai belasan. Maka akan sulit juga ke sana.

Anjani baru saja melewati sebuah toko bunga yang akhirnya melihat seorang nenek-nenek yang terjatuh di sana dengan kakinya yang terluka. Tidak bisa membiarkan kejadian itu begitu saja dia mendekat tanpa peduli soal wawancara itu saat ini. “Nenek baik-baik saja?”

Wanita tua itu akhirnya bangun setelah Anjani bantu. “Kaki saya berdarah.”

Anjani ingat dia membawa kapas make up di dalam tasnya. Ada air mineral yang kemudian dia keluarkan lalu membasuh luka sang nenek untuk kemudian dia bersihkan dengan hati-hati. Dibersihkan dengan kapas itu sisa air yang dilihatnya ada luka goresan kecil yang tidak mengeluarkan darah lagi setelah dibersihkan oleh Anjani.

Ia tidak pernah lupa membawa persediaan untuk plester luka di dalam tasnya. “Udah, nenek bisa jalan lagi? Atau saya carikan kendaraan?”

“Tidak perlu, saya nanti mau dijemput. Kamu buru-buru sekali kelihatannya.”

Anjani mengiyakan lalu berpamitan kepada wanita tua itu. “Maaf saya tidak bisa lama-lama di sini, saya ada keperluan.”

“Sekali lagi terima kasih. Semoga harimu menyenangkan!”

Anjani berlari untuk segera bisa sampai di perusahaan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sini. Sekitar lima ratus meter dari tempatnya berada. Ketimbang harus menunggu taksi yang barusan ternyata satu pun kendaraan tidak ada yang bergerak karena macet.

Tidak lama setelah itu dia tiba di kantor itu. “Peserta wawancara hari ini?” tanya seorang wanita yang membawa dokumen di tangannya.

“Ya, saya ada wawancara hari ini.”

“Silakan ikuti, saya!”

“Yang lainnya sudah?”

“Anda yang terakhir. Yang lainnya sudah pulang.”

Sepagi ini wawancara telah selesai? Memang secepat apa pertanyaan itu sampai membuat mereka semua sudah pulang sedangkan Anjani masih ada di sini.

Ia kemudian dipersilakan untuk masuk. Begitu dia membuka pintu, dilihatnya seorang pria yang sudah berdiri di depan pintu waktu ia masuk ke dalam ruangan itu. “2 menit 37 detik adalah keterlambatan tanpa toleransi.” Pria itu tiba-tiba mengatakan hal yang buruk kepadanya. Pria itu menyenggol bahunya Anjani dan meninggalkannya di ruangan itu sendirian.

“Dua menit, Pak.”

“Dua menit saya berarti. Saya bisa menghasilkan uang puluhan juta dalam jangka waktu dua menit. Tapi kamu telah menyita waktu saya. Pulanglah! Kamu gugur.”

Mata Anjani membelalak menatap pria yang ada di depannya menolaknya tanpa ada wawancara lagi. “Tapi kan, Pak. Saya belum wawancara.”

“Tidak perlu. Kamu sudah ditolak.”

“Saya tidak pernah mendengar sebuah perusahaan menolak calon karyawannya di wawancara terakhir seperti ini. Wawancara yang sebenarnya ada di perekrut.”

“Jangan atur saya, ini perusahaan saya. Ada beberapa orang yang sudah wawancara hari ini dan mereka saya minta untuk pulang. Karena besok sudah resmi jadi karyawan.”

“Pak, kasih saya kesempatan, please!”

Pria itu melihat ke arah jam tangannya. “Apa jadwal saya hari ini?”

Anjani diabaikan oleh pria itu yang sekiranya usianya mungkin masih tiga puluh tahunan. “Untuk hari ini ada acara untuk perusahaan PT. Putra Jaya Abadi, Pak.”

“Kalau begitu hubungi saya satu jam sebelum acara itu. Saya harus bertemu dengan seorang klien terlebih dahulu untuk hari ini. Dia yang akan memberikan sejumlah uangnya untuk kita karena proyek besarnya.”

“Pak, saya...”

Pria itu tidak peduli terhadapnya dan memilih untuk keluar meninggalkan Anjani.

Wanita yang barusan itu diyakini bahwa sekretarisnya sang pria barusan. “Mbak, apa tidak ada kesempatan?”

Dijawab dengan gelengan. “Sayangnya tidak ada kalau Bapak sudah menjawab. Bapak tidak suka orang yang tidak menghargai waktu.”

“Saya ada kepentingan tadi.”

“Tetap tidak ada toleransi. Tadinya Bapak sangat takjub dengan Anda, karena nilai Anda pada tes tulis sempurna. Tidak ada yang pernah bisa mencapai nilai sebagus itu. Lalu pada wawancara pertama juga Anda mendapatkan A+ dari perekrut. Sayangnya Bapak Alvaro tidak bisa berikan kesempatan untuk Anda.”

Anjani menangis sejadi-jadinya di kamar ditemani oleh Vaulia—sahabatnya. “Sabar, pasti ada yang lain lagi.”

“Masalahnya dia bajingan, dia menolakku karena dua menit saja.”

“Dua menit itu lama, Anjani. Bukan waktu yang sebentar.”

Sedangkan Dewi yang dengar anaknya ditolak lantaran terlambat malah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Padahal tadi anaknya juga sudah berangkat lebih cepat dari yang sudah diberitahukan.

Tidak bisa memberikan semangat kepada Anjani yang sekarang ada di kamar sambil menangis.

Bab 2

Anjani sedang menenangkan hati bersama dengan Vaulia untuk jalan-jalan ke mana saja yang mereka inginkan. Mereka berdua bersahabat sejak lama. Jikalau Vaulia tidak perlu mencari pekerjaan lagi sebab orangtuanya yang terbilang sangat berada. Sayangnya Anjani tidak mau mencoba di perusahaan milik orangtuanya Vaulia.

Lebih baik mencari di luar dengan keinginan sendiri dan bisa bekerja sesuai dengan apa yang dia inginkan.

Untuk kali ini Vaulia mengajaknya untuk ke salah satu tempat tongkrongan baru yang dikhususkan untuk anak-anak muda dan bernuansa Korea sekali. Mulai dari makanan hingga tempatnya juga punya ciri khas.

“Kali ini kita makan pedas gimana? Sama yang lainnya, pokoknya hari ini kita makan sepuasnya. Nggak usah pikirkan gemuk. Kita dari dulu makan banyak nggak gemuk-gemuk.”

Anjani mengangguk setuju dan mengangkat jempolnya. “Oke, setuju.”

“Hot pot atau grill? Atau keduanya?”

“Keduanya, jangan lupa juga makanan yang lain dipesan. Untuk hari ini aku yang traktir. Makan pedas aja semua. Benar-benar bikin emosi sama tuh orang.”

Vaulia sudah pasti tahu keadaan hatinya Anjani, sampai wanita it tidak protes sama sekali dengan kelakuan gila Anjani. “Aku yang bayar, kamu kan batal kerja. Jadi sayangi saja uangmu. Setelah ini kita pergi ke klinik. Manja dikit nggak apa-apa, kan. Manja sama diri sendiri gitu.”

“Boleh.”

Vaulia orang yang sangat peka sekali terhadap apa yang terjadi pada Anjani setelah ditolak kerja, dia yang tadinya berharap untuk tidak jadi beban keluarga. Tapi justru menjadi lebih beban lagi.

Sayangnya keinginan papa Anjani tetap sama. Anjani tidak perlu bekerja, dan menikah saja.

Entah doa mereka berdua masih tetap sama, yaitu ingin Anjani menikah dibandingkan harus bekerja tapi begitu ditolak justru terlihat seperti orang yang harusnya masuk ke rumah sakit jiwa untuk dibiarkan di sana.

Mereka berdua makan dengan cukup lahap sembari bercerita tentang kekesalan masing-masing sampai memilih untuk ke sini. Sedangkan tadi sebelum berangkat ke tempat ini, Anjani diberikan uang lima juta oleh Dewi. Belum lagi diberikan oleh papanya. Memang benar, ibu tiri serasa ibu kandung itu benar-benar ada—atau mungkin karena tidak ada anak perempuan lagi selain dirinya? Yang jelas Anjani merasa beruntung saja untuk hidup sebagai satu-satunya perempuan di keluarga itu.

Jadi ratu di dalam keluarganya dengan cara yang sangat baik.

Papanya juga sebenarnya tidak mengizinkan Anjani bekerja. Tapi ingin hidup mandiri tidak mau lagi melihat papanya bekerja sangat keras. Kini giliran dia yang harus membahagiakan orang-orang di rumah.

Waktu Anjani sedang memegang sumpit dan hendak mengambil makanan. Sorot matanya tertuju pada pasangan yang ada di jarak beberapa meter dari mereka berdua terlihat sangat mesra sekali berpegangan tangan lalu mengobrol.

“Yaya, lihat mereka!” Anjani memanggil Vaulia dengan panggilannya sedari kecil bahkan selama mereka bersahabat itu adalah panggilan khusus. Gadis itu juga menoleh ke arah orang yang ditunjuk oleh Anjani.

Gadis itu kemudian melirik ke arah Anjani dan kepada pria dan wanita yang sedang pacaran. “Kamu tahu itu siapa?”

“Nggak, nggak kenal. Baru lihat di sini. Emang ada apa sih?”

Anjani merasa hatinya sangat panas, apa artinya samyang dan juga makanan yang berjejer di sini sekarang sangat banyak sekali setelah melihat pria yang sedang bermesraan dengan wanita. “Bajingan yang menolakku itu adalah dia,” umpat Anjani ketika dilihatnya Alvaro sedang bersama dengan seorang wanita dan mungkin itu adalah kekasihnya.

“Apa yang kamu rencanakan?” kekesalan Anjani tidak bisa ditahan lagi.

Sementara Anjani menggigit sumpitnya dan berpikir untuk membalas apa yang sudah dilakukan oleh Alvaro kepadanya.

Tidak lama dia kemudian bangun dari tempat duduknya. “Tunggu di sini. Biar dia dapat pelajaran dari Anjani, siapa yang dia buat seperti ini, sih. Lawan dia itu salah.”

“Nah ya benar. Kamu harus balas dendam ke dia.”

Anjani membersihkan mulutnya dengan tisu dan mengambil cermin dari dalam tas. Untuk bercermin memastikan dirinya cantik.

“Oke, cantik udah. Cabai di gigi juga aman, lipstik masih ngejreng. Waktunya balas dendam.”

Dia berjalan dengan pelan ke meja tempat Alvaro duduk dengan wanita itu.

Braaaak.

“Jadi ini kelakuan kamu di luar, Alvaro? Terus kamu sama dia sekarang setelah aku hamil? Kamu nggak mau tanggung jawab sama perbuatan kamu sendiri?”

Vaulia ternganga mendengar ucapan Anjani di depan orang banyak tapi malah mengakui dirinya hamil. Oh yang benar saja, di kampus banyak pria yang naksir kepadanya tapi tidak ada yang pernah diterima oleh Anjani. Sekarang melakukan tindakan gilanya.

Benar-benar gadis gila ini.

Vaulia merasa kewarasan Anjani sudah habis.

Sementara itu Alvaro yang menelan salivanya susah payah melihat gadis ini berdiri di depannya.

Wanita yang ada di seberangnya juga bangun. “Al, kamu apa-apaan?”

“Aku nggak kenal dia.”

“Nggak kenal. Tapi dia tahu nama kamu.”

“Orang bakalan kenal sama aku karena aku pengusaha.”

“Kamu itu korban yang keberapa sih? Aku sama Al sudah pacaran tiga tahun. Kami berantakan waktu aku seperti ini sekarang.”

Byuuuur

Jus yang di depan wanita itu langsung tumpah di wajahnya Alvaro. “Emang benar, ya. Kamu itu bajingan kelas kakap. Kamu nggak akui perempuan yang baru saja bilang dia ini hamil anak kamu. Kamu juga ngeles di depan aku. Kamu nggak usah hubungi aku lagi dari sekarang!”

Wanita itu pergi, tapi berusaha ditahan oleh Alvaro.

Anjani ke tempat Vaulia lagi dan sekarang malah melihat Vaulia tidak ada di sana. Waktu dia menoleh. “Anjani, bentar aku ke toilet. Perutku langsung sakit dengar kamu ngaku hamil.” Dia melihat pesan dikirimkan oleh Vaulia.

Sementara gadis itu tertawa dengan tingkahnya barusan yang sudah membuat Alvaro ketakutan.

Dia melanjutkan makannya dengan suasana hati yang baik sekali setelah membuat pria itu marah besar.

Anjani sedang makan sendirian sembari menjaga barang-barangnya Vaulia. “Nona Anjani.”

Dia mengangkat kepalanya melihat Alvaro ada di sana. “Why? Impas, kan?”

“Ini balas dendam? Apa yang kamu lakukan ini sungguh keterlaluan. Kamu pikir siapa yang kamu lawan? Saya waktu itu tertarik karena kamu pintar. Tapi sekarang saya sadar, kamu pintar hancurkan hidup orang lain.” Pria itu bertepuk tangan untuknya. “Apa kamu wanita yang bisa dibayar untuk tidur? Jika memang iya, sebutkan berapa tarifmu untuk satu kali main?”

Anjani geram dengan ucapan pria itu dan sekarang malah ingin menyiramnya dengan kuah hot pot. “Apa Anda sedang menghina saya, Pak Alvaro yang terhormat?”

“Bagaimana denganmu? Bicara seperti itu kepada calon istri saya? Kamu adalah perempuan paling gila. Jangan anggap urusan kita berdua ini akan selesai sampai di sini. Kamu tidak akan pernah bebas dari saya. Camkan baik-baik, kamu akan menyesal seumur hidup. Dari detik ini juga, kamu akan menderita sampai seterusnya! Jangan lupa sebutkan tarifmu kepada saya. Mungkin saya bisa benar-benar lakukan itu ke kamu. Satu juta? Apa terlalu murah? Atau satu milyar untuk tinggal bersama dengan memberikan pelayanan untuk saya? Saya sanggup bayar kamu satu bulan satu milyar untuk service terbaikmu.”

Anjani sudah benar-benar meradang dengan jawaban pria itu. “Apa Anda sadar dengan yang Anda ucapkan sama saja menghina Ibu Anda?”

“Tentu tidak. Karena kamu mengaku hamil. Kamu tidak pernah menikah. Daripada kamu main sama hidung belang atau pacar kamu itu. Lebih baik sama saya. Saya bayar kamu mahal. Tidak perlu bekerja di perusahaan saya dengan gaji yang hanya lima jutaan. Satu milyar satu bulan, asal jadi teman tidur saya. Sepakat?”

Kali ini justru Anjani yang sudah gila. Dia mendapatkan respons yang tidak bisa dia biarkan. Alvaro harus membayar semua yang sudah dia katakan.

Bab 3

Rasa kesalnya Alvaro bukan main. Pikirannya kacau lantaran ulah dari Anjani dua hari lalu. Masih belum bisa termaafkan apa yang telah dilakukan oleh wanita sialan itu. Bukan karena disiram oleh wanita yang akan menjadi calon istrinya. Tapi lantaran Anjani mengaku hamil di depan orang banyak. Sudah menjatuhkan harga dirinya Alvaro. Tidak bisa dibiarkan begitu saja untuk saat ini.

Sebab bagaimana pun juga, Anjani harus menanggung apa yang sudah dia perbuat kepada Alvaro.

Tidak akan pernah dibiarkan apa yang sudah dilakukan itu membuat Alvaro harus diinjak-injak oleh wanita itu. Tidak wajar jika Alvaro diinjak harga dirinya oleh seorang wanita.

Alvaro menarik napas dan benar-benar sialan Anjani itu sudah merusak namanya di depan umum. Alvaro tidak akan pernah terima dengan kelakuan orang yang sudah ditolaknya bekerja.

Waktu dia sedang ada di ruang kerjanya.

Ika masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi. Untuk pertama kalinya Ika melakukan itu tanpa ada basa-basi terlebih dahulu sekadar ketuk pintu.

“Ada apa? Kenapa kamu tumben tidak ketuk pintu?”

Wanita itu langsung mendekat ke arah Alvaro tanpa pemberitahuan apa pun terlebih dahulu atau sekadar menjawab pertanyaan dari pria itu. Ekspresinya juga sulit ditebak.

“Berita tentang Anda sudah tersebar. Bahkan video Anda disiram oleh Nona Rena juga sangat jelas sekali.”

Alvaro terdiam, mengeratkan rahangnya dan marah besar dengan video yang membuat dirinya jadi orang yang gila untuk kali ini. Benar-benar sudah diambang batas kesabaran. Harga dirinya telah jatuh oleh wanita yang sudah mengaku dirinya tengah hamil anaknya Alvaro. Bukan persoalan yang mudah lagi untuk ini. Kalau saja orangtuanya tahu ini sudah pasti dia akan habis dilibas oleh kedua orangtuanya.

Dia membenci segala sesuatu yang sudah merusak kenyamanan itu. Alvaro bersumpah akan membalas semua yang sudah diperbuat oleh wanita tersebut. Jangan menganggap ini akan jadi hal yang sangat mudah sekali untuk ditanggapi. Secara akal sehat, sebejat apa pun ia tidak pernah sampai menghamili seorang wanita apalagi hanya untuk senang-senang dengan wanita.

Dia bukan tipe pria yang semacam itu.

Mereka akan melakukan atas dasar suka sama suka dan itu sudah pasti dalam catatan bahwa mereka sedang dalam pacaran. Tidak mau melakukan itu tanpa ada ikatan apa pun. Sungguh ini bukan hal yang bisa dia maafkan.

“Apa wajahnya Anjani terlihat?”

“Tidak, Pak. Hanya wajah Anda dan Nona Rena. Apa pelakunya Anjani?”

Alvaro kemudian mengangkat tangannya. “Bukan, tapi dia ada di sana juga kebetulan sedang makan.”

Tiba-tiba dia mulai marah dengan apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu dan kemudian berkata. “Kirimkan ke WhatsApp saya nomornya Anjani. Saya ingin memastikan dia juga tidak menyebar itu.”

Ika mengiyakan lalu pergi dari sana untuk mencari nomornya Anjani waktu itu yang ada di surat lamaran.

Alvaro mendapatkan itu dari Ika. Dia keluar dari kantornya.

Kemudian dia juga membalas pesan dari Ika untuk mengirimkan alamat lengkap dari wanita sialan yang sudah menghancurkan nama baiknya. Ini tentang dia yang akan menghadapi orangtuanya. Sebab jujur saja kalau Alvaro benci terhadap ini.

Sudah mendapatkan nomor wanita itu, buru-buru ia langsung pergi ke alamat yang telah dituju. Hamil adalah pengakuan paling gila di dalam hidupnya Alvaro selama ini yang bahkan tidak akan pernah sentuh wanita kalau itu bukan kekasihnya—dan hanya sekadar ciuman. Mereka juga pasti atas dasar suka sama suka. Tidak akan pernah mau melakukan itu lantaran dirinya yang menjaga nama baik.

Tapi hari ini sungguh amarahnya sudah diambang batas.

Dia menghubungi nomornya Anjani. Wanita itu menjawab teleponnya. “Kamu di mana? Keluarlah sebelum saya masuk ke rumah kamu atas ulah yang kamu lakukan.”

“Di rumah. Kamu siapa?”

Pria itu geram dan akhirnya menjawab. “Bukankah saya harus tanggung jawab sama janin kamu?”

Biar saja dia dianggap gila dan kali ini akan balas semua yang sudah dilakukan oleh Anjani. Sungguh ini bukan hal yang biasa lagi. Tidak bisa dimaafkan dengan mudah apa yang sudah dilakukan oleh Anjani kepadanya.

“Saya di luar, buruan keluar! Atau saya harus bertemu orangtua kamu dan bilang kamu sedang mengandung anak saya?”

---

Anjani yang ada di dalam kamar seperti orang kerasukan yang mendengar Alvaro ada di luar. Apa yang membuat orang itu sampai mencari Anjani ke rumah ini. Lagi pula alamatnya sangat tepat sekali.

Atau jangan-jangan mengambil alamat Anjani dari berkas surat lamaran yang dia serahkan waktu itu.

Dia keluar dari kamar. “Lah ini anak, kamu kenapa lari gitu?” tegur Dewi ketika Anjani berlari begitu saja melewatinya yang membawa makanan.

“Buru-buru, Ma. Ada orang di luar.”

“Ajak masuk kek.”

Tapi Anjani tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Dewi kemudian ia melihat Alvaro berdiri di depan mobil Porsche berwarna biru. Dia langsung memberikan ponsel itu kepada Anjani. “Ulahmu, puas?”

Anjani melihat berita tentang Alvaro yang seperti itu. “Kamu harus tahu, orangtua saya tidak akan tinggal diam untuk tidak melibas kamu, Anjani. Jangan sampai kamu ketahuan oleh orangtua saya setelah kamu lakukan ini. Tidak akan lepas dari apa yang kamu perbuat. Semua ada bayaran mahal yang harus kamu lunasi.”

Tapi wanita itu melotot tajam. Memang benar seperti yang dikatakan oleh Vaulia waktu itu kalau Anjani terlalu nekat berurusan dengan Alvaro. “Tapi kan. Aku nggak berbuat apa-apa sama kamu.”

“Oh kamu mau bicara formal sekarang. Oke, kamu harus tanggung jawab soal apa yang kamu lakukan ini sebentar lagi. Saya tidak mau tahu kalau kamu harus bayar semuanya. Kamu tidak akan mudah lepas dari saya. Yang harus kamu tahu adalah bagaimana kamu bisa mendapatkan nama baik saya kembali.”

“Lah, itu ulah kamu sendiri. Ngapain juga minta tanggung jawab orang lain?”

Anjani tidak mau kalah dari Alvaro. Pria itu kemudian melangkah maju mendekat ke arah gerbang rumahnya Anjani. “Saya mau bicara sama orangtua kamu kalau kamu mengandung.”

Anjani melotot dan menarik Alvaro dengan keras. “Oke, apa yang kamu mau? Kamu nggak bisa masuk begitu saja.”

“Besok, kita ketemu. Saya tidak mau tahu. Apa pun itu kamu harus tetap tanggung jawab. Otak saya bisa gila mikirin masalah ini.”

---

Alvaro tidak bisa komentar banyak yang kemudian dia memilih pulang ke rumah orangtuanya. Baru saja dia sampai di sana. “Apa ini?” tanya papanya yang sudah berdiri di depan pintu dengan membawa tabletnya. “Kamu umurnya sudah berapa? Hamili wanita di luar pernikahan adalah tindakan paling gila yang kamu lakukan, Al. Kamu putus sama Rena karena kamu hamili wanita lain?”

“Pa, bukan begitu. Itu aku nggak kenal sama sekali.”

“Apa nggak kenal dia bisa tahu nama kamu?”

Dia melihat berita lain lagi dan memperlihatkan wajahnya Anjani di blur. Sialan bisa-bisanya Alvaro hancur oleh wanita gila seperti Anjani yang terlambat dua menit saja waktu itu. Harusnya diterima daripada menjadi orang yang harus bermasalah dengan orangtuanya.

“Keluar dari rumah ini sekarang juga! Saya tidak sudi melihat tampang seorang bajingan di rumah ini.”

Sialannya Alvaro tidak akan pernah melawan kepada orangtuanya. Meskipun tidak salah, tapi dia akan tanggung jawab atas berita itu. “Oke, aku bakalan buktikan itu nggak seperti yang diberita, Pa.”

“Kamu juga keluar dari perusahaan!”

Semua yang dia berikan kepada orangtuanya tapi tidak bisa ditoleransi hanya karena berita sialan yang diakibatkan oleh Anjani.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED