Bab 2

Malam telah berganti pagi, jam pun, sudah menunjukan pukul 08.00. Sesosok tubuh atletis menggeliat dari atas tempat tidur. Pria itu membuka perlahan kedua kelopak matanya kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah.

Damar, pria yang baru saja bangun, dari tidur panjangnya. Namun, alangkah terkejutnya ia saat mendapati dirinya tertidur di kamarnya. Karena seingatnya, tadi malam ia tengah menghabiskan malamnya disebuah klub.

Seketika Damar pun, teringat akan kejadian dua hari lalu saat Elga sang kekasih memutuskan hubungan mereka. Kemudian menerima lamaran dari pria lain, kemudian menikah dengan pria itu. Padahal Damar dan Elga sudah menjalin hubungan selama dua setengah tahun.

Mereka juga sudah saling mengenalkan pada kedua orang tua masing-masing. Tak hanya itu, Damar dan Elga sudah berniat akan lanjutkan hubungan mereka. Mereka bahkan sudah merencanakan akan menikah tahun depan.

Di tengah lamunannya, sedetik kemudian Damar justru tersentak. Seketika pria itu nampak panik saat melihat pakaian yang tercecer tak berbentuk. Ditambah lagi bercak darah di seprei berwarna biru langit yang terlihat begitu jelas. Pandangan Damar langsung berganti cepat melihat tubuhnya sendiri.

"Sial! Apa yang sudah terjadi dan ini, akhhh!" teriak Damar frustasi.

"Wulan," Damar kembali berucap pelan seraya melotot panik. Pria itu menyadari jika ternyata dirinya telah merenggut kesucian sang adik angkat.

Damar langsung beranjak memakai celana boxernya. Pria itu kemudian berlari mencari keberadaan sang adik. Damar bergegas berlari ke kamar Wulan. Namun nihil, tak ada tanda-tanda Wulan dimana pun.

Sepuluh menit mencari, Damar tak menemukan siapapun di rumah mewah itu. Kecuali Bi Sari dan juga Bi Tia, pembantu yang memang datang jam enam pagi dan pulang pada jam lima sore. Pembantu yang sama-sama berusia empat puluh tahunan itu memandang aneh pada kelakuan sang majikan yang terlihat berlari panik dan kebingungan.

"Bi Sari, Bibi lihat Wulan?" tanya Damar pada pembantunya yang tengah mencuci peralatan masak.

"Tidak Den, bibi belum lihat Non Wulan sejak bibi datang, bibi juga lagi heran kok sampai jam segini Non Wulan belum juga turun, padahal biasanya, jam tujuh si Enon sudah sibuk senam di ruang fitnes." Bi Sari menerangkan panjang lebar.

"Iya Bi, terima kasih," ucap Damar kemudian melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.

"Kemana Wulan, apa dia sudah berangkat kuliah? Akhhh! Bodoh! Bodoh! Bodoh, kamu Danar!" Damar kembali berteriak frustasi seraya menatap bercak darah kesucian sang adik di sprei tempat tidurnya.

Setelah beberapa menit terdiam, Damar kemudian bergegas menuju kamar mandi. Pria itu berniat akan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Damar berniat akan kembali mencari Wulan di kampus.

Namun, betapa terkejutnya pria itu ketika mendengar gemercik air. Mata Damar langsung berbinar ketika mengira jika Wulan ternyata ada di kamar mandi.

"Wulan! Wulan! Kau di dalam?" Damar mengetuk pintu kamar mandi seraya memanggil nama Wulan.

Sayangnya tak ada jawaban dari dalam kamar mandi meski Damar sudah beberapa kali mengetuk dan memanggil nama Wulan. Damar tak sabar lagi, pria itu kemudian memutar kenop pintu kamar mandi. Ia kembali tersentak ketika mendapati ternyata pintu kamar mandi tak terkunci. Damar segera membuka pintu kamar mandi itu dengan tak sabar.

"Wulan!" teriak Damar begitu terkejut saat pria itu baru saja membuka pintu kamar mandi. Melihat sosok Wulan tergeletak di bawah kucuran air shower. Tubuh Wulan terasa sangat dingin dengan wajah yang juga sudah terlihat sangat pucat.

Wulan segera menggendong tubuh Wulan yang hanya terbalut bra dan CD. Damar membaringkan tubuh Wulan di atas ranjangnya. Tanpa pikir panjang, Damar langsung membuka bra dan CD Wulan.

Namun, lagi-lagi pria itu kembali tercengang saat ia tersadar dan melihat ada banyak tanda merah yang tercetak di tubuh sang adik. Sungguh Damar tak pernah membayangkan jika dirinya mampu berbuat seperti ini pada Wulan, adik yang begitu ia cintai dan ia sayangi.

Damar tak menyangka jika dia'lah laki-laki yang merusak masa depan Wulan. Dia yang seharusnya menjaga dan melindungi sang adik. Kini justru menjadi penjahat yang merenggut kesucian adik perempuannya itu.

"Maafkan aku Wulan maafkan kakak sayang, kakak—" ujar Damar begitu menyesali perbuatannya. Setetes air mata jatuh dari kedua mata Damar. Pria itu, benar-benar merasa menjadi pria yang begitu brengsek saat ini.

Damar kemudian menyelimuti tubuh Wulan menggunakan selimutnya. Pria itu kemudian melangkah menuju kamar sang adik. Damar ke kamar Wulan untuk mengambil baju ganti. Karena tidak mungkin, ia menggendong Wulan dan memindahkan ke kamar wanita itu dengan mengenakan selimut. Kerena Bi Tia atau Bi Sari pasti akan melihatnya.

Setelah mengambil baju ganti untuk Wulan, Damar langsung bergegas menuju kamarnya kembali. Damar perlahan memakaikan baju pada tubuh sang adik dari mulai bra dan CD dan yang terakhir setelah piyama.

Selesai memakaikan baju pada tubuh Wulan. Damar kemudian meraih ponselnya yang berada di atas meja nakas. Pria itu kemudian mencari nama Aunty Alia, dokter pribadi keluarga Aditama.

Untung saja saat ini Papah dan Mamahnya sedang keluar kota. Tuan Prabu sedang melakukan perjalanan bisnisnya ke kota Surabaya. Pria paruh baya itu selalu mengajak sang istri jika ada kegiatan di luar kota maupun di luar negeri. Begitu pun, kali ini Tuan Prabu juga mengajak sang istri untuk menemaninya dalam perjalanan bisnisnya.

Tiga puluh menit kemudian, dokter Alia sampai di kediaman keluarga Prabu Aditama. Wanita paruh baya itu langsung menuju kamar Damar.

"Siang Damar,"

"Siang Aunty,"

"Wulan kenapa?"

"Em... Aku tidak tahu Aunty, em... Aku menemukannya sudah seperti ini, tadi pagi-pagi sekali Wulan ke kamarku dan meminta injin untuk menggunakan kamar mandi, tapi saat itu aku hanya menanggapinya dengan anggukan karena setelah itu aku kembali tidur, dan jam sembilan tadi aku yang hendak ke kamar mandi kaget saat melihat Wulan sudah dalam keadaan pingsan," ujar Damar begitu tentang. Rupanya Damar sudah mempersiapkan alibi agar kejadian semalam tidak diketahui oleh orang lain.

Dokter Alia sempat terdiam mencoba mencerna cerita yang di ucapkan oleh, Damar. Entah kenapa dokter cantik berusia empat puluh lima tahun itu merasakan sesuatu yang janggal saat, mendengar cerita Damar.

Dokter Alia seperti melihat ada kekhawatiran yang terpancar di wajah Damar. Namun, wanita itu tak ingin mengambil kesimpulan begitu cepat. Lagi pula dirinya juga belum bisa menerka ada kejadian apa sebenarnya antara Damar dan Wulan.

"Damar, Wulan terkena hipotermia jadi aunty menyarankan jika dia sebaiknya di bawa kerumah sakit untuk menjalani perawatan lebih lanjut," ujar dokter Alia dengan wajah khawatir. Dokter cantik itu, menyarankan agar Wulan segera dibawa ke rumah sakit. Karena, saat ini Wulan mengalami hipotermia. Dimana suhu tubuh Wulan turun di bawah suhu normal.

Bagaimana tidak, Wulan semalaman diguyur air. Ditambah lagi cuaca di luar yang malam tadi memang sedang hujan deras. Tentu saja menambah hawa dingin, terlebih lagi tubuh Wulan yang juga tengah kelelahan.

"Em... Baik Aunty aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang." Damar langsung mengiyakan saran dari dokter Alia.

"Iya, aunty akan ikut mengantar kalian, dan iya aunty juga akan menelpon orang tua kalian, mengabarkan jika Wulan dirawat,"

"Jangan Aunty!" Damar dengan cepat mencegah dokter Alia untuk mengabarkan pada kedua orang tuanya.

"Kenapa? Papah dan Mamah Mu harus tahu Damar," ujar dokter Alia seketika bertambah curiga pada penolakan Damar. Dokter Alia menjadi semakin yakin jika ada yang tidak beres.

Namun, lagi-lagi dokter Alia tak ingin menyimpulkan sesuatu terlalu dini. Wanita itu juga benar-benar belum bisa menerka kejadian apa yang sudah terjadi diantara mereka. Dokter Alia, merasa tidak percaya jika Damar bisa berbuat jahat pada Wulan. Karena yang ia tahu, Damar begitu menyayangi sang adik.

"Begini Aunty, Papah sekarang sedang ada pekerjaan, aku tidak ingin mereka khawatir dan kepikiran karena mereka—"

"Eumm," Wulan tiba-tiba saja mengigau dan mulai tersadar dari pingsannya. Sontak saja Damar kembali dilanda ketakutan saat melihat sang adik yang mulai terbangun. Pria itu takut jika adilnya itu akan mengadu pada dokter Alia tentang kejadian semalam.

Bab 3

Seketika Damar merasa ketakutan, takut jika sampai buka suara pada dokter Alia. Bagaimana pun Damar belum siap jika perbuatannya tadi malam harus terungkap.

"Sayang, bagaimana keadaan mu?" tanya Dokter Alia pada Wulan.

"Sudah lebih ba-ik." Wulan menjawab dengan nada terbata. Namun, tatapannya seketika berubah kala melihat Damar ada dihadapannya. Wanita itu sepertinya ketakutan melihat kehadiran Damar. Tubuhnya seketika beringsut, wajahnya tertunduk. Wulan benar-benar ketakutan saat ini.

"Lan, kamu kenapa? ujar Damar seraya mendekat pada Wulan.

"Akhh! Tidak!" Wulan menjerit ketakutan dan kembali jatuh pingsan.

"Wulan!"

"Lan!"

Dokter Alia dan Damar sontak berteriak. Mereka begitu kaget melihat Wulan yang kembali pingsan. Dokter Alia semakin dibuat penasaran ketika melihat reaksi Wulan saat Damar baru saja hendak menyentuh tangannya. Sungguh Wulan seperti mengalami trauma yang cukup dalam.

"Kita bawa Wulan ke rumah sakit sekarang Mar," ujar dokter Alia mengintruksikan Danar untuk membawa Wulan ke rumah sakit.

"Baik Aunty." Damar mengangguk seraya menggendong tubuh sang adik dan membawanya ke rumah sakit.

Wulan akhirnya dibawa kerumah sakit. Wanita berparas cantik itu langsung mendapat pertolongan. Damar membawa Wulan ke IGD dan terus menunggu Wulan disana. Sungguh pria itu benar-benar tak menyangka jika hal ini akan terjadi.

Sementara, dokter Alia menatap nanar kearah Damar. Dokter Alia menelisik Damar yang tengah tertidur dengan posisi duduk di samping ranjang Wulan. Dengan wajah yang tertelungkup di bawah tangannya.

Dokter Alia yang tadinya berniat menghubungi Tuan Aditama dan Nyonya Laura. Namun, ia urungkan sebab Damar sudah mengatakan jika dia sendiri yang akan menghubungi orang tuanya. Bagaimana pun dokter Alia adalah orang luar, tentu saja ia masih tahu diri, dan menghargai permintaan Damar.

Jam sudah menunjukan pukul 23.45, Wulan akhirnya tersadar dari pingsannya. Wanita itu perlahan mulai membuka mata. Wulan merasakan ada seseorang yang menggenggam tangannya. Wanita berparas cantik itu langsung melihat ke arah samping.

Wulan langsung tersentak saat mengetahui jika ternyata orang yang menggenggam tangannya adalah Damar. Spontan Wulan, langsung menarik tangannya dari genggaman Damar. Membuat pria itu langsung terbangun dari tidurnya.

"Lan," Panggil Damar pada Wulan yang terlihat kembali beringsut dan ketakutan.

"Lan, tolong jangan begini. Kakak minta maaf Lan, sungguh kakak tidak sengaja, kakak khilaf Lan, maafin Kakak." Damar memohon kepada Wulan untuk memanfaatkan perbuatannya.

"Ka-kak jahat! Tolong Kak tinggalin Wulan sendiri," ujar Wulan mengiba dengan raut wajah ketakutan pada sang Kakak.

"Lan, tapi kakak mau jagain kamu—"

"Kak Damar! Tolong tinggal aku sekarang!" Wulan berteriak semakin kencang meminta Damar keluar dari ruang rawat inapnya.

"Ok, Kakak keluar tapi, kakak akan kembali lagi dan kakak mohon setelah kakak kembali kita bicarakan ini baik-baik ok," ujar Damar kemudian melangkah pergi. Pria itu mencoba memberi ruang untuk sang adik menenangkan diri.

Damar yakin setelah ini, Wulan bisa ia ajak bicara. Biar bagaimanapun hal ini benar-benar harus dibicarakan serius antara mereka berdua. Sebelum Papah dan Mamahnya pulang dari luar kota.

Sepeninggal Damar, wulan terduduk menekuk lututnya sendiri. Wanita itu kembali menangis meratapi nasib sialnya. Puas menangis Wulan kemudian menghapus air matanya dan bertekad menghadapi semua masalah yang tengah menimpanya. Termasuk menghadapi Damar, ia harus tegas dan meminta pertanggung jawaban dari pria itu.

Bersamaan dengan itu Damar pun perlahan melangkah kembali keruangan Wulan. Pria itu masuk ke dalam ruang rawat inap Wulan. Terlihat disana Wulan tengah duduk melipat kakinya, kali ini tak ada penolakan atau pengusiran dari Wulan.

Meski tak satu pun kata keluar dari bibir wanita itu. Damar tahu betul jika Wulan saat ini sudah lebih baik. Inilah waktu yang tepat bagi Damar untuk berbicara dari hati ke hati.

"Aku mau bicara Kak," ucap Wulan tiba-tiba. Dengan nada dingin, wanita itu berucap tanpa mengalihkan pandangannya. Wulan memasang wajah datarnya dan terus menatap kedepan dengan tatapan kosong.

"Iya Lan, kita memang perlu bicara." Damar tersenyum tipis kemudian perlahan mulai mendekati Wulan. Damar kemudian mendudukan dirinya di kursi samping ranjang Wulan.

"Lan, pertama kakak mau minta maaf, sungguh kakak saat itu tidak sadar, kakak khilaf Lan," ucap Damar seraya tertunduk. Pria itu benar-benar menyesali perbuatannya tadi malam.

"Kak, apa dengan minta maaf kehormatanku bisa kembali? Apa dengan maaf kakak, aku bisa minta kembali kesucianku?" Wulan menjawab tegas seraya menatap tajam Damar yang duduk di sampingnya.

"Lan Kakak ...."

"Kakak apa?"

"Kakak benar-benar menyesal,"

"Kakak menyesal! Minta maaf! Sekarang aku tanya, apa semua itu bisa mengembalikan kesucianku! Apa bisa mengembalikan kehormatanku!" teriak Wulan mengulang kata-katanya.

Wanita itu hanya ingin Damar mengatakan dia akan bertanggung jawab. Tapi apa, Damar hanya terus berucap maaf dan menyesal. Sungguh, bukan itu yang Wulan harapkan. Semua memang sudah terjadi tapi, apakah tidak ada niat Damar untuk bertanggungjawab. Apa Wulan tidak berhak meminta pertanggung jawaban dari Damar?

Saat ini hati Wulan terasa begitu sakit. Ketika Damar hanya berucap kata maaf, maaf dan menyesal. Kini suasana menjadi hening, baik Damar maupun Wulan, tak ada yang saling bicara. Mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.

"Lan," panggil Damar setelah beberapa saat pria itu terdiam. Sementara, Wulan tersentak saat Damar kembali memanggilnya. Wanita itu berharap kali ini Damar mengatakan apa yang ia harapkan.

"Lan, sekali lagi kakak minta maaf, Kakak benar-benar minta—"

"Bagaimana jika aku hamil?" Wulan langsung memotong perkataan Damar. Wanita itu kembali menanyakan kemungkinan terburuk dari kejadian tadi malam.

Deg!

Jantung Damar berdetak kencang, pria itu seketika terdiam. Tenggorokannya terasa tercekat sesak seolah tak dapat bicara.

"Sudah cukup minta maafnya Kak, sekarang aku tanya bagaimana jika perbuatan Kakak tadi malam membuatku hamil?" Wulan kembali bertanya pada sang kakak bagaimana jika dirinya hamil.

"Lan, masa depan kita masih panjang, kakak harap kamu tidak berpikir sejauh itu dan lagi pula kita hanya satu kali melakukannya, kakak rasa itu tidak akan membuat mu hamil, kakak yakin jika—"

"Aku tanya sekali lagi, bagaimana jika aku hamil Kak!" Wulan kembali bertanya dengan nada tinggi.

"Kita gugurkan," jawab Damar singkat namun penuh penekanan.

Wulan melotot kaget, mendengar pernyataan kakak angkatnya itu. Nafasnya sesak hatinya begitu sakit mendenagar jawaban dari Damar. Begitu mudahnya Damar berkata akan mengugurkan kandungannya jika dirinya hamil. Sungguh, Wulan baru melihat sifat Damar yang begitu tak memiliki perasaan.

Wulan benar-benar tak menyangka jika selama 19 tahun ini. Ternyata dirinya salah menilai seorang Damar. Wanita itu mengira jika Damar adalah pria yang baik dan lembut. Namun, nyatanya kini Damar berubah menjadi Damar yang berhati iblis.

"Aku tidak menyangka, jika ini akan keluar dari mulutmu Kak, aku tidak menyangka jika kau bisa berpikir sekejam ini aku sungguh aku—"

"Cukup Lan! Kakak membuat keputusan ini bukan semata karena kakak kejam, tapi pikirkan apa yang akan kita dapatkan dari ini semua jika kita mempertahankannya." Damar mencoba menyakinkan Wulan bahwa tidak akan ada baiknya jika sampai dirinya hamil.

"Dan iya, pikirkan juga, apa yang akan Papah dan Mamah terima jika kita mempertahankan ini semua! Sudah ku bilang ini hanya kecelakaan dan kakak hanya sekali melakukannya jadi jangan berpikir jauh seperti ini, karena itu tidak akan mungki!" ucap Damar lagi dengan nada dingin, seraya pergi meninggalkan Wulan. Menyisakan sejuta luka dan sakit di hati wanita itu.

"Jahat kamu Kak! Jahat kamu!!!" Wulan meraung terisak mengingat perkataan Damar yang begitu menyakiti bahkan membuat hatinya kini semakin hancur berkeping-keping.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED