“Apa ini semacam lelucon, Kit?” Sebastian menatap sekretarisnya dengan sorot mata mengancam. Jika ini lelucon maka Kit harus bersiap menerima kemarahannya dan saat ia marah tidak ada satu pun hal baik yang akan terjadi.
Kit mengangguk. “Saya baru mengkonfirmasinya, Sir.”
Sebastian memejamkan mata bukan untuk meredam emosinya seperti yang biasa ia lakukan. Bukan. Ia memejamkan mata dengan harapan kalau yang ia dengar mungkin hanya mimpi buruk. Para pengantin biasa merasakannya bukan?
“Kenapa?” tanyanya bingung, lebih kepada dirinya sendiri.
Kit mengangguk, tidak mengatakan apa pun.
“Periksa semua gedung. Setiap sudut. Temukan dia, Kit! Sialan! Wanita itu mungkin terjatuh atau bisa saja dia sakit!” geramnya dengan rahang mengeras.
“Kami sudah memeriksanya, Sir. Memeriksa setiap sudut. Memerintahkan setiap pengawal untuk mencari di apartemen dan kami menemukan ini.” Tangan Kit yang gemetar memberikan secarik kertas pada Sebastian.
Sebastian mengernyit namun menerimanya. Ia membuka lipatan kertas yang rasanya seperti surat kematian dan ketika ia membaca kalimat yang tertulis di sana Sebastian merasakan gelombang kemarahan menusuk-nusuk kulitnya.
“Kapan kalian menemukan ini?” tanyanya datar, nyaris terkesan kasar.
“Kami menemukannya pagi ini. Ketika para pengawal datang untuk menjemputnya, Sir.”
Kenapa sekarang? Jika wanita itu ingin menghilang kenapa dia memutuskan untuk melaukannya hari ini? Hari yang seharusnya menjadi saksi atas kebahagiaan mereka?
“Apa yang harus kami lakukan sekarang, Sir? Apa kami perlu mengusir para tamu?”
Kedua tangan Sebastian terkepal hingga menunjukkan buku-buku tangannya yang memutih. Kemarahan memenuhi setiap sel dalam darahnya hingga rasanya menyakitkan. Tara pergi. Wanita itu meninggalkannya tepat di hari pernikahan mereka! Sekarang bagaimana ia akan menyelesiakan kekacauan ini?
Hannah tersenyum lebar mendapati para tamu yang memadati gedung tempat pernikahan akan digelar. Dekorasi gedung ini mengingatkannya akan kisah dongeng yang dulu sering ia baca sewaktu kecil. Mengingat yang akan menikah merupakan taipan yang kekayaannya membuat perutnya mual ia yakin pesta ini layak.
Hannah menyunggingkan senyumnya. Ini akan menjadi harinya juga. Ketika para tamu melihat rancangan yang dikenakan pengantin ia yakin ini akan menjadi awal dari bisnis yang ia bangun.
Ia harus memastikan kalau gaun yang ia rancang benar-benar sempurna. Hannah memasuki kamar yang menjadi tempat pengantin dirias dan langsung membeku saat melihat sosok yang ada di dalamnya. Bukan Tara Dixon yang ada di dalam melainkan Sebastian Carter sang mempelai pria.
“Siapa kau?”
Pertanyaan bernada menuduh itu membuatnya berjengit. Tatapan mata pria itu sedingin es seakan ada badai di balik tatapannya yang menusuk. Kenyataan ini mengirimkan ketakutan pada Hannah. Ia berdeham sebelum membuka suara.
“A-aku,” sial! Kenapa ia harus gugup?
Kedua alis Hannah terangkat saat melihat pria yang ada di dekat Sebastian berbisik pada pria itu.
“Ah, jadi kau perancang gaun pengantin itu?”
Hannah mengangguk, meski ia kebingungan. Kenapa pria itu ada di sini dan di mana pengantin wanitanya? Hannah mengedarkan pandangan dan kebingungan saat tidak melihat siapapun ada di sini. Apa yang terjadi?
“Tinggalkan kami, Kit. Aku perlu bicara dengan perancang ini!”
Caranya mengatakan perancang berhasil mengundang kemarahan Hannah. Meski begitu ia berusaha menahannya. Hannah sedikit menepi dari pintu saat melihat pria bernama Kit berjalan kearahnya.
“Mendekat.”
Tatapannya, sorot matanya yang mengandung amarah membuat Hannah ragu untuk melangkah.
Tanpa sadar ia menjilat bibirnya.
“Ke mari Hannah! Aku tidak suka menunggu!”
Bentakan itu menyadarkan Hannah. Ia berjalan mendekat dan berada dalam jarak aman Sebastian.
“Apa kau tahu ini akan terjadi?”
Hannah yang kebingungan hanya bisa mengernyit.
“Kau tahu kalau Tara menghilang?” ucap Sebastian mulai kehilangan kesabaran.
Butuh beberapa detik mencerna kalimat itu. Tara menghilang? Yang berarti … mata Hannah membulat sempurna saat otaknya berhasil mengirimkan informasi yang ia butuhkan. Pengantinnya menghilang? Bagaimana mungkin?
“Kau tahu ini akan terjadi?”
Tuduhan itu berhasil menyulut emosinya. “Kenapa aku harus tahu? Aku perancang bukan pendamping pengantin dan sebelum kau menuduhku lebih kejam, tidak aku bukan temannya.”
“Tentu saja aku tahu kau bukan temannya!”
Hannah membuka mulut untuk mengatakan sesuatu namun kemudian ia menutupnya kembali.
Sebastian menyapu pandangan pada tubuh Hannah dari kepala sampai kaki sampai membuat Hannah risih.
"Ukuran tubuhmu sama dengan Tara."
Meski tidak suka dengan nadanya Hannah meyetujui ucapan Sebastian. Tubuhnya mungil seperti Tara.
“Apa gaun itu cocok untukmu?”
Hannah menatap gaun selutut yang ia kenakan. Tidak ada yang aneh. Kenapa pria itu bertanya?
“Tentu saja cocok. Gaun ini—“
“Bukan gaun bodoh itu yang kumaksudkan. Maksudku gaun pengantin rancanganmu apa gaun itu bisa kau kenakan?”
“Kenapa?”
Keheningan pekat mengelilingi mereka. Hannah menatap ekspresi tenang Sebastian. Ia tahu ketenangan pria itu seperti bom waktu. Hanya menunggu detik berlalu sebelum benar-benar meledak. Ketegangan pria itu bahkan bisa membuat udara di sekeliling mereka membeku hingga titik terendah.
“Karena kau yang akan mengenakannya.”
Hannah menatap Sebastian seperti melihat makhluk asing yang tiba-tiba mendarat di depannya.
“Kau pasti bercanda.”
Satu alis Sebastian terangkat. “Menurutmu situasi saat ini cocok untuk bercanda?”
Hannah membuka mulut, menutupnya kemudian membukanya kembali. “Kalau begitu kepalamu mungkin bermasalah. Namaku Hannah bukan Tara. Aku perancang bukan pengantin.”
“Seperti yang kau tahu pengantinnya menghilang dan aku tidak ingin membuat diriku terlihat menyedihkan.” Sebastian mengernyit jijik seolah pemikiran menyedihkan merupakan kosa kata baru baginya. “Kau akan menjadi pengantin penggantinya.”
Hannah tahu seharusnya ia tertawa. Ucapan pria itu tidak masuk akal, tapi saat melihat kabut kemarahan dan juga emosi menakutkan lainnya di mata biru itu Hannah berusaha mempertahankan kewarasannya.
“Itu tidak mungkin!”
“Kenapa tidak mungkin?”
Hannah tertawa sinis. “Karena bukan aku pengantinnya dan lebih dari segalanya aku tidak mengenalmu.” Meski hal itu tidak sepenuhnya benar, Hannah menolak mengakuinya. Matanya yang membola menatap Sebastian yang terlihat luar biasa tenang dengan situasi aneh ini.
“Tunggu! Kenapa pengantinnya menghilang?” tanyanya bingung. Kenapa harus hari ini?
Sebastian menatap jam tangan platinumnya seakan tidak mendengar pertanyaan Hannah.
“Kenakan gaun rancanganmu dan keluarlah dalam 15 menit. Aku akan keluar dan menemui para tamu.”
Sebastian sudah berada di ambang pintu saat mendengar teriakan panik Hannah.
“Tidak! Aku tidak mau menikah denganmu!”
Sebastian berhenti. Pria itu berbalik dan saat melihat seringainya tanpa sadar kulit Hannah meremang. Ia menelan ludah susah payah. Sebastian memiliki aura yang membuat nyali ciut hingga terasa menakutkan. Meski begitu Hannah berusaha menunjukkan keteguhannya. Pria itu sinting!
“Kau yakin?” Senyum yang tidak menyentuh mata Sebastian terukir di wajahnya yang rupawan.
Wajah yang terpahat sempurna dan membuat wanita manapun terpesona.
“Ki-kita tidak mungkin menikah,” ucapnya terbata-bata.
“Kalau begitu sebagai investor utamamu aku akan menghentikan semua aliran danaku dan bukan hanya itu pinjaman dengan jaminan rumahmu juga akan digadaikan jika dalam 2 hari dana itu tidak dikembalikan. Bagaimana?”
Hannah berpikir kalau orang tidak waras selalu bertindak tidak masuk akal dan orang-orang masih bisa menerimanya. Itu wajar. Mereka tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan. Tapi ini, seorang miliuner tampan, berkuasa dan bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan baru saja melontarkan sesuatu yang tidak masuk akal.
“Kau pasti bercanda!” Hanya itu yang bisa Hannah ucapkan.
“Bagian mana dari kalimatku itu yang mengandung candaan, Hannah?”
Hannah bahkan lebih terkejut lagi Sebastian tahu namanya. Meski menjadi investor utamanya, tapi Sebastian seringnya bekerja dibalik kursi. Orang-orang bawahannyalah yang sering berinteraksi dengannya.
Sebastian menjadi penyandang dana utamanya saat ia berencana membuka butik. Dari sanalah semua berawal. Saat melihat contoh rancangannya Tara tertarik dan ingin dirinya menjadi perancang gaun pengantin mereka.
“Tapi itu konyol!” pekiknya dengan mata melebar.
Dengan gerakan malas, Sebastian kembali menatap jam tangannya.
“Waktumu 15 menit. Lakukan apa pun yang kau inginkan , tapi ancamanku masih berlaku.”
Setelah mengatakan kalimat yang rasanya seperti bom yang dijatuhkan diatas kepalanya, Hannah menatap nanar kepergian Sebastian. Lututnya goyah dan ia bisa saja jatuh seandainya tidak berpegangan pada dinding yang sekarang terasa dingin mematikan.
Hannah menatap gaun pengantin yang ia rancang sepenuh hati dengan hati terpilin. Seharusnya ini menjadi awal baru untuknya. Seharusnya hari ini orang-orang akan terpukau dengan gaun rancangannya. Seharusnya ….
Hanah menggeleng. Tidak. Ini tidak akan terjadi.
Dia tidak akan membiarkan mimpinya direbut dengan cara seperti itu, tapi menikah….
***
Sebastian menatap para tamu yang hadir dengan kemarahan tertahan. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Tara memutuskan menghilang saat seperti ini? Sudut matanya menatap gerakan Kit.
“Ada apa?” tanyanya pelan.
Para tamu memperhatikannya, tapi Sebastian mengabaikannya. Saat ini ada yang jauh lebih penting dari pada sekedar memusingkan tamu yang menatapnya dengan ekspresi penuh tanya.
“Kami tidak menemukan jejaknya, Sir. Sama sekali.”
Kalimat Kit menyentak kesadaran Sebastian. Tara merencanakan hal ini sejak jauh hari. Itu berarti Tara sengaja ingin mempermalukannya. Sebastian memejamkan mata guna menekan kemarahannya yang sepertinya siap meledak. Tara tidak akan mendapatkan keinginannya!
Tidak ada cara lain. Wanita itu harus membantunya mengatasi situasi ini. Hannah Evans akan menjadi solusi atas semua kekacauan yang terjadi hari ini.
“Buat pengumuman, Kit. Pernikahan diundur 1 jam dari waktu yang ditentukan!” Tanpa menunggu jawaban sekretarisnya Sebastian kembali berjalan menuju ruang ganti pengantin, tempat di mana Tara seharusnya dirias.
Sebastian membuka pintu dan mendapati Hannah tengah memandangi gaun putih panjang yang seharusnya dikenakan Tara.
“Mau kubantu membuat keputusan?” tanya Sebastian dingin.
Hannah mengernyit bingung.
Sebastian merogoh saku celananya.
“Hentikan aliran dana ke—“
“Hentikan!”
Teriakan itu berhasil menghentikan kalimat Sebastian.
“Ada yang ingin kau katakan?”
“Kau benar-benar brengsek!”
“Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya.”
Hannah menarik napas dalam-dalam. Pandangannya yang penuh dendam tertuju pada Sebastian yang terlihat begitu tenang.
“Kenapa aku?”
“Anggap saja jalan keluar yang tersedia hanya dirimu.”
“Aku menginginkan perjanjian jika pernikahan ini dilakukan,” sahut Hannah tegas.
Sebastian menarik alisnya, tersenyum mencemooh. “Katakan.”
“Aku ingin kita tidur di kamar berbeda dan—“
Sebastian mengangkat tangan dan Hannah menghentikan rentetan kalimatnya.
“Ada yang harus kau pahami Hannah,” desak Sebastian. “Pernikahan ini bersifat sementara. Hanya 1 tahun. Setelah itu kau bebas dan aku memberikan jaminan penuh atas usaha gaun pengantinmu. Katakan kau ingin membangun tokomu di mana dan aku akan memberikan dana penuh. Surat rumahmu akan dikembalikan begitu kita menikah dan soal kamar terpisah tentu saja kita akan tidur di kamar yang berbeda kecuali keadaan tidak memungkinkan. Apa itu menjawab semua pertanyaanmu?”
Kedua alis Hannah bertemu. “Keadaan tidak memungkinkan?”
“Pertemuan bisnis, pesta atau apa pun yang membutuhkan publisitas. Setelah 1 tahun kita akan bercerai dan aku akan memberikan tunjangan yang bisa membuatmu membangun toko impianmu. Hutangmu … anggap saja tidak ada.”
Betapa mudahnya saat kau memiliki uang, pikir Hannah muram setelah mendengar rentetan kalimat Sebastian. Pria itu dominan dan membuatnya ketakutan tapi setelah semua yang dikatakan Sebastian rasanya hal itu tidak terlalu buruk.
“Satu tahun?” tanyanya memastikan.
Sebastian mengangguk.
“Okke kalau begitu aku setuju. Dan Sebastian, aku menginginkan perjanjian di atas kertas.”
***
Dan di sinilah Hannah. Menatap bangunan mewah menjulang yang langsung membuatnya merasa rendah diri. Gaun pengantin yang ia kenakan seakan mengejeknya. Ia tidak pantas berada di tempat ini. Tempatnya adalah rumah sederhana dengan kamar yang pastinya hanya bisa memuat beberapa orang.
“Ayo.”
Sebastian berjalan tanpa perlu repot-repot menunggunya. Gaun panjang yang dikenakan Hannah sedikit menyusahkannya. Ia mengangkat ujung gaunnya dan berjalan mengikuti Sebastian. Beberapa pelayan tampak tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
“Siapkan kamar untuk Hannah,” ucap Sebastian tegas, mengabaikan raut terkejut pelayan yang menyambut kedatangan mereka.
Hannah meringis, tersenyum setulus yang bisa ia lakukan. Begitu masuk Hannah langsung dibuat menganga.
Rumah Sebastian adalah wujud dari kekuasaan pria itu. Hannah menelan ludah melihat lampu kristal yang menggantung di langit-langit atap ruang tamu. Karpet Persia melapisi tangga melengkung tidak jauh dari tempatnya berdiri. Lantai granit mengkilap yang ia injak mungkin akan menjadi penyebab kematiannya.
Semua pertunjukkan kemewahan ini membuat perutnya melilit.
“Mrs. Carter.”
Sapaan itu menyeret Hannah dari lamunannya. “Hannah saja please,” ucapnya cepat.
“Kamar Anda ada di atas, Mrs. Carter.”
Hannah hanya mengangguk dan mulai menaiki tangga. Ia mengedarkan pandangan dan sadar kalau Sebastian telah menghilang.
“Ini kamar Anda, Mam.”
Hannah mengangguk menatap pintu yang dibuka oleh pelayan yang mengikutinya. Begitu ia masuk Hannah kembali meringis melihat kemewahan yang ia dapatkan. Luas kamar ini setidaknya sama luasnya dengan apartemennya.
“Kamar tuan tepat disebelah Anda.”
“Apa?” pekiknya tanpa sadar.
“Tuan berpesan agar kamar Anda berdekatan.’
Kenapa harus seperti itu?
“Kau tahu Sebastian di mana?”
Pelayan itu mengangguk. “Tuan ada di ruang kerjanya, Mam.”
Orang macam apa yang bekerja di hari pernikahannya? Tapi Hannah menggeleng. Pria itu membutuhkan waktu bahkan ia sendiri membutuhkan waktu untuk mencerna semua kejadian ini.
Siapa sangka ini akan menimpanya? bahkan dalam mimpi paling konyolnya sekalipun, menikah tidak ada dalam prioritas mendesaknya. Terkadang ia berharap ini hanya mimpi tapi saat pandangannya menunduk menatap gaun rancangannya—gaun yang seharusnya dikenakan pengantin lain—ia segera sadar kalau ini bukan mimpi.
“Aku ingin sendiri,” bisiknya lelah, nyaris memohon pada pelayan yang terus menungguinya.
Pelayan wanita itu mengangguk dan melangkah pergi, meninggalkan Hannah sendirian dan kesepian.
Hannah mendekati walk ini closet, berusaha keras mengabaikan deretan baju mahal yang digantung dan bergegas meraih baju santai yang bisa ia kenakan. Pastinya semua pakaian ini untuk Tara mengingat wanita itulah yang seharusnya ada di sini.
Hannah baru akan membuka kancing gaunnya saat mendengar pintu kamarnya menjeblak terbuka. Hannah dengan cepat menutupi pundaknya.
“Tidak bisa mengetuk pintu lebih dahulu?” ucapnya tajam.
Sebastian hanya menatapnya tanpa ekspresi.
“Bersiaplah, kita akan melakukan wawancara."
"Wawancara?"
Hannah menatap tangannya yang kini berada dalam genggaman Sebastian. Lampu sorot membuatnya menyipit. Ia merasa asing dengan semua ini, tapi Sebastian yang duduk nyaman di sampingnya sama sekali tidak terlihat ragu akan apa pun. Pria itu menguasai keadaan.
“Apa yang terjadi? Semua orang tahu Tara Dixonlah yang akan menjadi pengantin tapi kami semua dikejutkan dengan kehadiran Hannah Evans. Apa ini semacam kejutan demi publisitas?”
Hannah meringis mendengar pertanyaan wartawan wanita yang memakai lipstik merah menyala itu. Publisitas? Apa Sebastian membutuhkannya? Pria itu milliarder dan sejauh yang ia tahu publisitaslah yang mengikuti langkah Sebastian bukan sebaliknya.
Hannah menatap Sebastian lewat sudut matanya. Pria itu luar biasa tenang, terkendali dan juga misterius. Andai ia bisa seperti itu, keluh Hannah.
“Aku dan Tara memutuskan untuk mengakui perasaan kami masing-masing,” ucap Sebastian tenang. Saat pandangan pria itu tertuju pada Hannah sudut mulutnya terangkat.
“Tara mencintai pria lain begitupun denganku mencintai wanita lain. Kami hanya terlalu takut untuk mengatakannya sampai pada saat terakhir.”
“Itu berarti anda mencintai istri Anda?”
“Ya. Aku mencintainya. Rasanya semua menjadi benar saat bersamanya.” Sebastian mencium puncak kepala Hannah untuk membuktikan ucapannya.
“Apa Anda merasakan hal yang sama? Publik tentunya berasumsi Anda menjadi orang ketiga dalam hubungan ini?”
Hannah mencoba mengingat-ingat jawaban yang seharusnya ia berikan saat pertanyaan ini muncul. Sialnya, otaknya tidak bisa diajak kerja sama. Kerongkongannya tiba-tiba terbakar. Apa yang harus ia katakan sekarang?
“Aku mencintai Sebastian,” ujarnya lembut dengan nada meyakinkan terbaik yang bisa ia lakukan. Pandangan matanya kini sepenuhnya pada Sebastian. Sebelum ia bisa mencerna apa yang ia lakukan, Hannah melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkesiap. Ia mencium tangan Sebastian.
“Seperti yang dikatakan Sebastian. Saat kita mencintai seseorang rasanya menjadi benar. Tidak ada orang ketiga dalam hubungan ini. Aku mencintainya, begitupun sebaliknya. Tara menemukan orang yang tepat baginya dan seperti inilah akhirnya. Kami bersatu.”
“Bagaimana dengan Tara Dixon? Seperti yang kita tahu wanita itu sepertinya menghilang?”
Sebastian mengambil alih kendali. “Tara memutuskan kalau dia tidak menginginkan publisitas dan aku menghargainya.”
Wanita berlipstik merah itu mengangguk. Senyumnya mengembang saat membaca pertanyaan selanjutnya.
Hannah yang melihatnya merasakan wajahnya panas. Sepertinya apa pun yang akan dikatakan wanita itu ia tidak akan menyukainya.
“Semua orang tentunya ingin tahu ke mana kalian berbulan madu?”
Pertanyaan wartawan itu sukses membuat rona merah menjalar dari leher sampai wajahnya.
“Kami bisa pergi ke mana pun. Istriku yang akan mengaturnya,” balas Sebastian datar.
Mata pria itu kini tertuju pada sekretarisnya. Kit mengangguk tidak kentara.
“Wawancara berakhir,” ucapnya tenang.
Sebastian berdiri dan Hannah mengikuti gerakannya. Para pengawal mengelilingi mereka dalam sekejap.
Suara gaduh dan kalimat protes masih sempat menghiasi gendang telinganya sebelum mereka benar-benar memasuki limusin yang sudah menunggu.
Hannah mendesah lega begitu berada di dalam mobil yang sejuk. Wawancara itu membuat emosinya kacau.
Setiap harinya hanya semakin buruk dan buruk.
“Kita ke kantor. Setelah itu antar Hannah ke rumah.”
Hanya seperti itu. Tidak ada ucapan basa-basi apa pun seolah Sebastian hidup dalam dunianya sendiri. Hannah melirik Sebastian. Tubuh yang dibalut jas mahal buatan tangan itu terlihat kaku dan keras, tapi Hannah penasaran bagaimana dengan Sebastian yang sebenarnya? Apa pria itu memang selalu dingin seperti ini?
“Aku ingin ke butik,” ucap Hannah tiba-tiba.
Sebastian bahkan tidak menatapnya. Pria tu hanya mengangguk tanpa kata, sibuk dengan komputer tabletnya. Hannah mencebik, memutuskan untuk mengabaikan kebungkaman Sebastian.
“Kenapa 1 tahun?” tanyanya sebelum bisa menahan diri.
Sebastian mengangkat kepalanya sejenak. “Itu waktu yang efektif dan efisien.”
Efektif dan efisien?
“Satu tahun sudah cukup memudarkan cinta dan omong kosong seperti itu. Orang-orang tidak akan bertanya jika jangkanya di atas 1 tahun.”
Sebastian memikirkan segalanya.
“Apa kau baik-baik saja? Maksudku semua ini seperti mimpi buruk dan...”
Sebastian memencet tombol dan kaca pembatas segera muncul untuk memberikan mereka privasi.
"Apa yang kau harapkan? Pernikahan kita tidak lebih dari sekedar perjanjian di atas kertas, Hannah. Jangan membuatnya terdengar berlebihan.”
Kalimat pedas Sebastian berhasil membuat Hannah mendengus.
“Jangan khawatir aku tidak akan bertanya apa pun lagi jika itu membuatmu mengernyit dan berubah menjadi batu. Dan jangan salah paham aku bertanya karena semua ini benar-benar membuat frustrasi," balasnya ketus.
Hannah mulai bertanya-tanya bagaimana Tara bertahan menghadapi sikap Sebastian yang menyebalkan? Atau mungkin sikap Sebastianlah yang menyebabkan Tara pergi?
Limusin berhenti dan Sebastian keluar tanpa kata.
“Dasar,” ujarnya mendengus.
Hannah mengempaskan dirinya pada sandaran kursi. Hidupnya praktis berubah sejak terjebak dalam pernikahan konyol ini. Pandangannya kini menatap jalanan di mana kendaraan berlalu lalang. Apa mereka akan terus seperti ini? Bertindak seperti dua orang asing yang terjebak di bawah atap yang sama? Tidak bisakah mereka setidaknya berteman? Atau Sebastian tidak mengenal kosa kata itu?
“Mrs. Caster, kita sudah sampai.”
“Panggil Hannah saja, tolong. Panggilan itu membuatku merinding,” rutuknya dan berjalan keluar menghentakkan kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi. Hannah merapatkan syal yang ia kenakan. Angin kencang berhasil membuat udara menjadi dingin. Kaki jenjangnya buru-buru melangkah memasuki butiknya.
Setidaknya di tempat ini ia memiliki sesuatu untuk dilakukan. Untuk mimpinya. Alasan ia melakukan semua kekacauan ini.
“Kalian menemukan sesuatu?” Sebastian menatap pria yang mengenakan topi bundar dan kaca mata anti surya itu dengan alis terangkat.
“Belum. Tidak ada jejak. Wanita itu menghilang seolah ditelan bumi.”
Bukan jawaban yang ia inginkan. “Bahkan kartu kredit yang kuberikan tidak meninggalkan jejak?”
Pria yang ditanya Sebastian menggeleng. “Asumsiku dia menggunakan uang tunai. Wanita itu tahu jika dia menarik uang jejaknya akan diketahui.”
Sebastian mengusap-usap dagunya yang mulai ditumbuhi rambut halus. Ke mana Tara menghilang? Kekacauan ini membuat emosinya carut marut dan ini tidak pernah terjadi. Sebastian selalu tahu bagaimana mengendalikan diri.
“Tetap lakukan pencarian. Aku ingin diberitahu jika ada perkembangan,” ucapnya tegas setelah terdiam beberapa saat.
Pria itu mengangguk dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Sebastian dengan pikirannya yang menerawang.
Gema langkah kaki yang memasuki ruangannya membuat kepalanya terangkat. Kit masuk dengan tabletnya.
“Ada apa?” tanyanya langsung.
“Ada acara gala yang harus Anda hadiri, Sir. Anda setuju untuk datang minggu lalu.”
Sebastian memikirkannya. “Batalkan!”
“Akan banyak orang penting yang hadir, Sir. Acara ini—“
Senyum sinis yang tersungging di wajahnya berhasil menghentikan ocehan Kit.
“Aku tidak ingin publisitas dan pertanyaan saat ini.”
“Baik, Sir.” Kit sudah setengah jalan menuju pintu ketika Sebastian bersuara.
“Ke mana seharusnya orang-orang berbulan madu?”
Pertanyaan itu berhasil mengejutkan Kit, tapi pria itu menyembunyikannya dengan baik.
“Ada beberapa rekomendasi, Sir. Saya bisa membuat beberapa pilihan untuk Anda.”
Sebastian mengangguk. “Bagus. Berikan daftarnya untuk kupelajari. Secepatnya, Kit."
Kit mengangguk dan menghilang di balik pintu.
Sebastian menatap langit-langit kantornya setelah sendirian di ruangannya. Ada apa dengan dunianya? Semenjak Tara menghilang hidupnya menjadi berantakan dan kacau. Sebastian mengusap wajahnya. Apa pun yang terjadi ia harus menemukan Tara dan menuntut penjelasan dari wanita itu.
Ponsel Sebastian bergetar. Melihat nama Hannah di layar, Sebastian ragu sesaat. Apa yang diinginkan wanita itu sekarang?
Sebastian menggeser layar ponselnya dan suara Hannah yang Panik terdengar dari ujung telepon.
“Sebastian, aku butuh bantuanmu."