Bab 1

"HEI BERHENTI!" Beberapa orang pria kini tengah mengejar seorang wanita dengan bayi yang ada diperutnya.

Badai dan guntur seakan bukan apa-apa bagi mereka. Mereka terus berlari mengejar wanita itu.

Petir menyambar dengan sangat kuat, wanita itu sudah kehabisan seluruh tenaganya. Ia tak bisa berlari lagi.

Apa lagi dengan rasa sakit yang ada di perutnya sekarang, semakin membuatnya tak berdaya.

Sumpah demi para dewa yang Agung. Ia takkan membiarkan anak yang ada didalam kandungnya ini mati.

Tidak! Ia tidak mau sampai itu terjadi. Walau ia harus mempertaruhkan hidupnya demi anaknya, ia pasti akan melakukannya.

Hujan lebat membuat tubuhnya basah kuyup, tapi itu tidak membuat langkah kakinya berhenti.

Wanita itu melihat perutnya, semakin lama semakin pula ia merasakan sakit yang teramat sangat.

Mungkin waktu kelahiran anaknya sebentar lagi, dengan jalan yang cukup cepat namun sudah sangat lemah itu, menuntunnya pada sebuah gubuk tua, yang mungkin sudah sangat lama ditinggal oleh pemiliknya.

Ia segera masuk kedalam gubuk itu, tanpa sepengetahuan mereka

Rasa sakit dan juga mulas semakin menjadi-jadi. Ia segera menyusun nafas agar bayi itu segera keluar dari rahimnya.

Wanita itu terus mendorong nafasnya sekuat tenang. Semakin wanita itu mendorong, semakin banyak pula guntur yang menyambar.

Tak lama suara bayi terdengar begitu jelas. Dengan wajah yang amat mengenaskan wanita itu tersenyum saat mendengar tangisan bayinya.

Wanita itu mengambil bayinya yang tergeletak di tanah, dengan darah dan juga tali pusar yang masih terhubung di jalan lahir si bayi.

Ia mengangkat bayinya, sampai wajah tampan pria kecilnya itu terlihat. Dan ketika itu juga guntur merah menyala menyambar secara berganti.

Entah pertanda buruk apa yang akan terjadi ketika bayi itu lahir didunia.

Wanita itu tidak memperdulikan guntur merah itu, yang ia pedulikan, saat ini hanya anaknya.

Anaknya yang masih dilumuri darah, dengan kulit sehalus sutra dan wajah yang begitu mungil, seakan mengingatkan wanita itu tentang siapa Ayahnya.

Ia menyimpan dendam yang teramat sangat pada Pria itu. karena pria itu, hidupnya menjadi hancur sehancur-hancurnya.

Tak ada kebahagiaan lagi setelah pria itu pergi. hidupnya kini hanya dianggap sebagai sampah masyarakat. Harusnya dari dulu ia tidak usah berkenalan dengan pria itu, apa lagi bertemu.

Ia melihat putranya dengan wajah penuh kebencian. Bukan! Bukan untuk putranya melainkan untuk pria itu.

"Dengarkan ibumu ini, anakku! Suatu hari nanti berjanjilah padaku, kalau kau akan membalaskan dendam, ibu! Ibumu ini menginginkan keadilan, hiks. Dia- pria itu hanya ingat para istrinya saja di Kerajaan dan melupakan ibumu ini, hiks. Dia bahkan hanya memperkenalkan putra-putranya di kerajaan dan melupakan dirimu, hiks. Maka dari itu balaskan rasa sakit hati ibu padanya, putraku!" wanita itu mencium pucuk kepala anaknya, seketika itu juga guntur merah kembali menyambar dengan dasyat.

Sampai kapanpun rasa sakit hatinya takkan pernah terbalaskan sebelum pria itu lenyap, terutama para penerusnya di Kerajaan juga harus ikut mati. Karena kalau sampai hal itu terjadi!

Putranya akan menjadi penguasa diseluruh negeri.

.

.

Tergesa-gesa. itulah yang kini dilakukan gadis itu. Ia terlambat bangun karena ulah sahabatnya, apalagi pekerjaannya hari ini begitu menumpuk membuat siapa saja menggeleng, karna tak sanggup untuk menyelesaikannya.

Ah sialan, teman terkutuk. Awas saja jika aku menemukan gadis itu, kupastikan tulangnya akan patah kali ini, gerutunya kesal.

Saat sampai di dapur, ia segera mencari keberadaan sahabatnya. Tanpa memperdulikan sekitar.

Banyak pelayan istana merasa bingung dengan tingkah gadis itu, hingga satu pelayan menghentikan langkah kakinya.

Ranie nama gadis itu. wajahnya yang lumayan cantik, namun sangat mengemaskan layaknya anak-anak. Kini melihat keatas sebab tinggi pelayan yang ada didepannya jauh melebihi dirinya.

Seketika, wajahnya sedikit takut karena dihadapannya ini bukanlah pelayan biasa melainkan seorang kepala pelayan.

Namanya Acelin Adamma atau kerap disapa pelayan El. Sekarang ia menatap anak buahnya dengan mata tajam, ia sedikit heran dengan tingkah Ranie hari ini.

"Ranie! Kau kenapa?" tanya pelayan El, dan dibalas dengan gelengan cepat dari Ranie.

"Pembohong. Kau berani berbohong padaku, Ranie?" Acelin yang sama sekali tak percaya pada gadis yang ada dihadapannya ini. Demi para dewa yang angung, Ranie adalah gadis yang sering sekali berbohong padanya.

Ranie menunduk. Ia takut jika berhadapan dengan pelayan El. Tidak! Bukan hanya wanita itu saja, ia terkadang takut dalam segala hal, bisa dibilang dia itu adalah gadis penakut.

"A-aku tengah mencari Lisha pelayan El. Aku minta maaf jika tingkahku membuatmu marah" ucapnya dengan nada pelan, demi para dewa yang Agung dirinya sungguh takut jika dihukum.

Mendengar jawaban Ranie, wajah Elin berubah. "Jadi kau hanya mencari temanmu itu?" tanya Elin yang dibalas anggukan Ranie.

Wanita itu menghela nafas panjang. "Lisha ada di kolam, dia sedang memberi makan ikan sekarang, kau bisa pergi mencarinya di sana!" ucap Elin.

Ranie melihat keatas, dengan wajah ingin bertanya, sontak itu membuat Elin kesal dan menyentil keningnya.

Bukan sebab apa-apa ia melakukan itu pada Ranie, ia hanya kesal dengan wajah gadis itu yang begitu sangat menggemaskan.

Matanya yang lebar dengan bibir merah muda yang kecil, hidungnya yang tidak terlalu mancung, dengan pipi yang begitu chubby menambah kesan manis pada gadis itu.

Walau umurnya sudah beranjak 18 tahun, namun tetap saja wajah lugu itu tak pernah luntur darinya. Mungkin kesan orang yang baru saja bertemu dengan Ranie akan menganggap gadis itu masih anak-anak, atau baru menginjak usia remaja, tapi tidak! Gadis itu bahkan sudah cukup umur untuk merasakan namanya cinta.

"Aduh ... Keningku sakit pelayanan El. Kau wanita yang kejam," kesal Ranie tak terima, kini keningnya sakit karna ulah wanita itu.

"Ck. Suruh siapa kau menunjukkan raut wajah seperti itu," bela Elin, jika saja ia tak menyentil kening Ranie, ia pastikan wajah itu pasti sudah rusak, karena saking gemasnya.

"Aku bahkan tak tau apa salah wajahku," ucap Ranie dengan nada sedih.

"Sudah pergi sana! Aku banyak kerjaan," ucap Elin, lalu pergi meninggalkan Ranie yang tengah mengusap keningnya yang sakit.

Ranie menggembungkan pipinya, karna kesal, menyebalkan! Kenapa pelayan El selalu kesal melihat wajahku? Apa karna wajahku jelek ya? gerutu Ranie sambil menyentuh wajahnya.

Tanpa banyak berpikir gadis itu segera pergi menemui Alisha Corinna atau kerap disapa Lisha.

Kini Lisha sedang memberikan makan ikan, rambutnya yang coklat panjang menambah kesan cantik pada diri gadis itu.

"LISHA"

Mendengar namanya dipanggil gadis itu segera menoleh ke sumber suara, dan melihat sahabatnya tengah berjalan sambil tergesa-gesa kearahnya.

Ia menaikan alisnya karna bingung. "Ada apa?"

"Kau masih bilang ada apa? Kenapa tadi pagi kau tidak membangunkanku Alisha Corinna?" Tiba-tiba Ranie marah tidak jelas dihadapannya.

Ya ini memang salahnya. Ia terkadang malas membangunkan sahabatnya itu. bukan karena apa-apa hanya saja Ranie sangat sulit untuk dibangunkan.

Terkadang Lisha sempat berpikir, sebenarnya Ranie tertidur apa pingsan. Pernah beberapa kali ia harus menjatuhkan Ranie kebawah hanya untuk membangunkannya.

"Suruh siapa kau susah dibangunkan?" marah Lisha. Ia tak terima jika disalahkan. Sontak saja itu membuat wajah Ranie berubah, yang tadinya marah menjadi kesal dan sedikit malu.

"Sudah! lebih kau bantu aku menabur cacing kecil ini!" ucap Lisha seraya memberikan wadah yang berisikan cacing merah kecil didalamnya. Mata Ranie terbelalak, ia geli dengan hewan yang bergerak-gerak itu.

"Aku tidak mau. Kau saja sana!" dengan cepat ia mengembalikan wadah itu, ke tangan Lisha.

"Ais ... Kau ini,"

"Oh iya, apa kau sudah mengerjakan apa yang aku suruh?" tanya Lisha, karna dua hari yang lalu ia pernah memerintahkan Ranie untuk membuat kalung dari bunga, sebanyak Enam buah.

Ranie baru ingat, bahwa ia hanya mengerjakan lima dan satu lagi belum.

"Sudah ... Kok," balasnya dengan nada ragu, ia berbohong pada Lisha, ia takut dimarahi gadis itu.

Karena jika Lisha marah, maka yang terjadi adalah gunung meletus, bahkan kemarahan Lisha lebih mengerikan dari pada marahnya pelayan El.

Lisha menyipitkan matanya. Pertanda dia curiga pada Ranie. "Kau yakin?"

Gadis itu mengangguk cepat. "Iya."

"Kau tau? Aku tidak pernah percaya pada gadis tukang bohong sepertimu. Sekarang kerjakan! atau rasakan kemarahanku," ucap Lisha dengan wajah mengerikan, dengan cepat Ranie berlari untuk mengerjakan tugasnya.

.

.

Sekarang Ranie tengah memasukkan sehelai benang kedalam bunga. ia terus mengerutu sedari tadi. Karena ia tak menyukai pekerjaan ini sama sekali.

"Kalau kerja itu sepenuh hati, jangan setengah-setengah."

Ranie hanya diam, ia sangat tau siapa yang tadi bicara. Tentu saja Lisha sahabatnya, ia terkadang berpikir, kenapa Lisha selalu membuatnya kesal.

"Kau bisanya hanya menceramahiku saja."

"Lalu kau berharap aku akan membantumu, begitu? Jangan mimpi!"

Ranie membuat wajah kesal, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Mereka kini berada ditaman istana. dimana tempat para bunga-bunga cantik tumbuh dengan suburnya. Beraneka ragam bunga ada disana. Penghuni Istana mengatakan, bahwa taman itu adalah surganya dunia.

"Akhir-akhir ini aku heran. mengapa semua orang sibuk menghiasi seluruh istana? Memangnya ada acara apa?" tanya Ranie penasaran, sejak seminggu terakhir orang-orang sangat sibuk dengan tugas mereka, yaitu menghiasi istana dengan pernak-pernik untuk pesta.

"Tentu saja untuk menyambut kedatangan para pangeran mereka,"

Ranie menoleh kearah sahabatnya. dia tadi bilang apa? Pangeran? Memangnya para wanita itu mempunyai anak? Pertanyaan-pertanyaan itu terus meraja lela didalam otaknya.

Sejak ia kecil, ia tak pernah tau kalau para istri Raja mempunyai anak, karena sejak dulu dirinya dan ibunya sudah tinggal lama di istana, mereka tak memiliki rumah, beruntung Raja dan para istrinya memperbolehkan mereka tinggal di istana yang megah ini.

"Pangeran?" ucap Ranie dengan nada tak percaya.

"Iya. Pangeran," balas Lisha yakin.

"Memang mereka punya?"

"Tentu saja, bodoh. Kalau tidak kenapa, mengapa mereka memerintahkan kita untuk menghias istana?"

"Tapi. saat ibuku masih hidup dan bekerja sebagai pelayan di sini. Aku tidak pernah melihat satupun pangeran. Kupikir para wanita itu, tidak bisa punya anak," jelas Ranie. ya gadis itu kini tidak punya siapa-siapa lagi selain sahabatnya.

Ia lahir tanpa sosok ayah. mereka bilang dirinya anak haram dan aib bagi ibunya yang juga tak memiliki siapa-siapa.

Tapi ibu Ranie tak pernah menganggap putrinya sebagai aib, justru kehadiran Ranie membawanya pada kebahagiaan.

Ini juga salahnya. karena telah percaya pada pria hidung belang itu, hingga menghadirkan Ranie dalam hidupnya.

"Kau salah, justru Rajalah yang tidak bisa punya anak, menurut orang sekitar, Raja meminta bantuan para dewa, untuk mendapatkan anak dan dewa pun mengabulkannya,"

"Bantuan dewa?" tanya Ranie.

"Iya. dewa," balas Lisha membenarkan.

"Berapa banyak anak yang Raja dapatkan?"

"Enam. Karena itu, aku menyuruhmu membuat kalung dari bunga, untuk mereka,"

Ranie menatap sahabatnya, dengan wajah tak percaya. Enam? dan mereka semua adalah keturunan dewa? Raja sungguh beruntung, memiliki anak-anak seperti mereka, pikir Ranie.

Bab 2

Bulan bersinar begitu terang menghiasi langit malam. Nampak seorang pria paruh baya tengah tersenyum bahagia.

Cahaya rembulan menerpa wajahnya yang masih nampak muda. walau usianya terbilang cukup tua. Tapi wajah tampannya tak pernah hilang darinya.

Alaric Kenzie atau kerap disebut KENZIE adalah seorang Raja besar. Di mana kedudukannya melebihi Raja-raja manapun di seluruh Negeri.

Memiliki lima istri dan Enam putra adalah sebuah anugrah besar baginya.

Dulu harapannya menjadi seorang ayah pupus, karena tabib mengatakan jika Kenzie tak bisa punya anak.

Ia terpuruk saat itu, hatinya hancur. Sebagai Raja dari seluruh Negeri harusnya dirinya memiliki penerus untuk kerajaannya. dan ternyata hal itu tidak akan terjadi padanya.

Tapi dirinya ingat. Jika dulu ia memiliki seorang guru yang sangat ia hormati dan guru itu adalah pengikut dewa yang paling berbakti.

Maka dari itu, Kenzie memerintahkan seluruh prajuritnya untuk mencari gurunya tersebut, dan berjanji akan memberikan upah yang besar, jika salah satu dari mereka berhasil mendapatkan gurunya itu.

Setelah berbulan-bulan, akhirnya Kenzie bertemu gurunya itu, dan meminta bantuan agar mendapatkan seorang anak.

Sang guru pun iba, dan memohon pada para dewa untuk memberikan apa yang diinginkan pria itu.

Para dewa yang sangat menyayangi sang guru, akhirnya mengabulkannya dengan senang hati. Tapi, tentu dengan syarat-syarat yang harus Kenzie jalani.

Pria itu memenuhi syarat dari para dewa, dan tak lama para istrinya hamil, Kenzie tentu sangat bahagia pada waktu itu.

Kegembiraannya tak pernah bisa terlukis, hingga pada usia anaknya yang tujuh tahun, ia harus merelakan anak-anak pergi ke langit untuk belajar.

Karena mereka adalah keturunan dewa, maka pelajaran mereka haruslah berbeda.

Hari ini para putranya akan kembali, Setelah pelajaran yang begitu panjang. Hampir delapan belas tahun mereka tak bertemu, Kenzie sempat berpikir, apa mereka sama tampannya dengan dirinya ataukah jauh melebihinya.

"Yang mulia!" Kenzie menoleh, untuk mengetahui siapa yang tadi memanggilnya.

Ternyata itu Aghna Dilarai atau kerap disapa AGHNA. dia adalah Selir kedua Kenzie.

Setau pria itu Aghna adalah wanita yang lemah lembut, sangat sopan kepada siapa saja, berwajah cantik dan memiliki suara yang merdu.

Tak bisa dipungkiri. Bahwa Kenzie jatuh cinta pada suara indah milik istrinya itu, dan menjadikan Aghna sebagai Selirnya di Kerajaan.

"Ada apa?" Suara berat dan dewasa itu, bertanya pada Aghna dengan nada lembut.

Wanita itu tersenyum. Lalu memeluk tubuh Kenzie dengan mesra.

"Kau tau? Aku sungguh sangat bahagia sekarang. Karena anak-anak kita akan pulang besok," ucap Aghna dengan nada bahagia. Kenzie membalas pelukan Aghna dengan mesra sambil menutup matanya.

"Aku juga," bisik Kenzie, membuat Aghna semakin senang, walau pria itu memiliki banyak istri tapi kasih sayang Kenzie selalu sama pada istri-istrinya. Ya semua, kecuali Ratunya.

"Wah. sedang bermesraan rupanya." Sontak saja suara itu merusak kebersamaan Kenzie dan Aghna.

Dengan cepat mereka melepaskan pelukan mereka, untuk mengetahui siapa yang bicara tadi.

Yara Mughny atau kerap disebut YARA, kini dengan santainya berjalan kearah Kenzie dan Aghna, sambil menunjukkan ekspresi datarnya.

Bagi seorang istri Raja, rasanya sudah biasa melihat sang suami bermesraan dengan istri lain didepan mata mereka. Jadi itu sudah menjadi hal lumrah baginya.

"Yara! Ada apa?" tanya Kenzie dengan nada gugup, entah kenapa setiap Yara melihatnya bermesraan dengan istrinya yang lain, ia akan merasa seperti selingkuh, padahal mereka itu, istrinya juga.

Wanita itu melihat Kenzie dengan tatapan dingin. Seakan-akan tatapan itu akan membunuhnya dalam sekejap.

"Aku ingin bicara, yang mulia--" Yara melihat kearah Aghna dengan tatap tajam, lalu kembali melihat sang suami dengan tatapan sama, "--hanya kita berdua."

Kenzie mengerti. Kemudian ia melihat Aghna kembali, "sayang! Aku akan menemuimu nanti," ucap Kenzie lembut.

Aghna mengangguk paham. Dan segera pergi dari kamar sang Raja.

Pria itu kembali menatap Yara, dengan senyum bodohnya. Bisa dibilang Yara adalah orang yang paling ditakuti Kenzie.

Dan posisi Yara adalah Ratu di kerjaan. Entah kenapa? ketika sang suami hanya berdua saja dengannya, sifatnya berubah menjadi penakut.

Karena pada dasarnya. Kenzie adalah orang yang paling ditakuti seluruh Negeri, semua orang tunduk pada kekuasaannya. Tapi siapa sangka Kenzie yang begitu disegani, ternyata hanya seorang suami yang takut pada istrinya.

"Hentikan senyuman bodohmu itu! Kita harus membicarakan acara besok," ucap Yara tegas, ya Yara terkenal sebagai Ratu yang jarang tersenyum. bahkan wajahnya selalu datar dan serius. Tak ada main-main dalam kamusnya.

Ia sebenarnya benci, dengan sikap sang suami kepada dirinya. Ia terkadang heran, entah kenapa Kenzie yang biasanya tegas, akan menjadi kikuk jika berhadapan dengan dirinya.

Seakan-akan, dia adalah Dewa pencabut nyawa bagi pria itu.

"Maaf," ucap Kenzie dengan nada pelan, sambil menunduk, sungguh ingin rasanya ia memukul kepala itu sampai hancur.

"Kenzie! Aku sedang tidak main-main, ini serius. Lebih baik kita bicarakan ini di tempat kerjamu," ucap Yara. Wanita itu segera pergi ketempat kerja Kenzie, dan disusul Kenzie dari belakang.

.

.

.

Kemeriahan kerajaan Benedict, baru saja dimulai. Seluruh Negeri bersenandung riang atas kembalinya enam pangeran mereka.

Seluruh kaum hawa amat sangat kagum dengan para pangeran itu, bagaimana tidak? Mereka sungguh tampan. Bahkan ketampanan mereka, jauh melebihi sang ayah.

Bisa dibilang. mereka benar-benar seperti dewa yang turun ke bumi.

"Hahaha ... Ayah sungguh senang, kalian telah kembali, dan ayah merindukan kalian," gelak tawa Kenzie memenuhi Aula istana, yaitu letak singgasana Raja dan Ratu.

Mereka berpelukan. Melepas rindu sama lain. Mereka berenam tersenyum pada Kenzie dan mengitari singgasana pria itu.

"Kami juga sangat merindukanmu, ayah," ucap Abiyyu Adhyastha atau kerap disapa ASTHA. Dia adalah pangeran ke-empat kerajaan Benedict, dan dia lahir dari rahim Aghna.

"Bagaikan sang surya menyinari bumi, begitu pun ayahanda yang menyinari hati kami," ucap Luthfy Frederick atau bisa dipanggil ERICK, yang mulai berpuisi.

Sejak kecil pangeran ke-lima dari Kerajaan Benedict itu, sering sekali berpuisi. Dan pria itu memiliki ketampanan yang luar biasa, bisa dibilang dialah yang paling tampannya diantara para saudaranya.

Salah satu dari pangeran itu berdiri, lalu duduk disamping sang ayah, dan menyenggol bahunya sambil mendekatkan wajah ke telinga Kenzie.

"Hei ayah! Wanita yang ada di sana itu sungguh menggoda, bukan?" bisik putra ke-duanya yang bernama Orlando Adelardo atau kerap disebut ANDO.

Kenzie melihat kearah yang ditunjukkan anak mesumnya itu, dan benar saja, wanita cantik yang tak jauh dari mereka, ternyata memiliki tubuh yang menggoda.

Tak lama, kepala Ando yang baginya indah dan tiada tandingannya didunia. Terkena pukulan sang Ratu.

"Hentikan pikir mesummu itu, Ando! Kau baru saja datang," ucap tak suka Yara. Bisa-bisanya pria itu, mengajari suaminya yang tidak benar.

Sudah cukup empat wanita yang menjadi saingannya, ia tak sudi ditambah lagi. Lagi pula Kenzie sudah tua, dan pria itu ingin menikah dengan yang muda? Apa kata dunia nanti.

"Ais ... Kau tetap kejam sama seperti dulu, ibu Yara," ucap Ando kesal, sambil mengusap kepalanya yang terkena pukulan tadi.

"Ayah... Para dewa itu, tak bisa membiarkanku bebas, bisakah aku meminta kebebasan padamu?" rengek Gavriel Archelaus atau kerap sapa GAVRIEL, dan dia adalah anak terakhir Kenzie.

"Hei Gavriel! ayah kira kau takkan pernah merengek lagi setelah pulang dari sana," ucap Kenzie, yang tersenyum geli melihat putranya itu.

"Jangan harap ayah! Dia malah semakin menjadi-jadi di sana," ucap Early Reynand atau kerap disapa EARLY. menatap tidak suka kepada adik terakhirnya itu.

"Ah... Bilang saja, kau iri terhadapku'kan Early? karena kau anak pertama, jadi kau tidak bisa merengek sepertiku," ucap Gavriel lebih tidak suka pada kakaknya.

"Iri terhadapmu? Jangan berhayal Gavriel!" ucap Early ketus. Mereka membuang muka mereka masing-masing dan tidak ingin saling pandang.

Memang sejak kecil, kedua pria itu tak pernah akur. Entah karena. Early yang tidak menyukai adanya adik barunya. Mengingat pria itu sudah banyak memiliki adik, atau memang karena sifat mereka yang sedikit bertolak belakang.

Salah satu dari pangeran berdiri, dan berjalan pergi.

"Geo! Kau mau kemana?" tanya Kenzie, pada putra ketiganya, yang entah mau pergi kemana.

Fachry Geofrey menoleh. Melirik kearah sang ayah dan saudara-saudaranya, "ingin berdamai dengan alam. Di sini terlalu berisik," ucap pria yang kerap disapa GEO.

Ya memang sejak dia lahir, dia membenci suara bising dan cenderung menyukai ketenangan. Walau sifatnya begitu tenang, dia sebenarnya adalah orang yang paling suka tergesa-gesa.

Geo berjalan keluar. Hendak meninggalkan pesta.

"Biarkan saja dia, ayah! Dia memang aneh, sejak dulu," ucap Ando pada sang ayah, dan Kenzie hanya manggut-manggut karena mengerti.

Bab 3

Ranie tak henti-hentinya bingung, karena sedari tadi Lisha tak kunjung kenampakan wujudnya.

Entah kemana gadis itu? bukannya melayani para tamu, malah pergi keluar. Itu pun menyuruh Ranie menemaninya.

Dan yang terjadi sekarang adalah menunggu, ia sangat yakin, jika gadis itu menemui kekasihnya.

Ya Lisha sudah memiliki kekasih. Tapi pria itu berasal dari Kerajaan tetangga. Jadi mereka harus diam-diam, jika ingin bertemu. Karena peraturan keras kerajaan Benedict, meralarang seluruh penghuninya untuk berhubungan dengan orang-orang, diluar kerajaan.

Karena terlalu lama menunggu. Ia merasa suntuk berkepanjangan. Tak lama gadis itu mendengar suara yang begitu merdu. Seperti alat musik yang tengah dimainkan dengan indahnya.

Tanpa sadar dirinya dituntun untuk mengikuti suara itu. Dan apa yang dilihatnya kini? Seorang pria dengan wajah bak dewa, tengah memainkan alat musik dengan lihainya.

Wajahnya begitu tenang, layaknya air. Tapi ia sadar! terkadang air yang tenang, bisa saja menjadi ancaman.

Ranie terus memperhatikan pria itu. Matanya yang tadinya tertutup, tak lama memperlihatkan iris matanya yang hijau pekat, menandakan sesuatu kedamaian ada didalamnya.

Gadis itu ternganga melihat mata hijau itu, sungguh ciptaan dewa yang begitu indah, pikirnya.

Tak lama Ranie merasakan tepukan di bahunya. Lantas ia menoleh untuk mengetahui siapa pelakunya dan ternyata itu Lisha, dengan seringai bodoh milik gadis itu.

"Apa aku terlalu lama?" tanya gadis itu, dan dijawab tatapan tajam dari Ranie.

"Kau tau? Aku hampir mati, hanya untuk menunggumu," ucap Ranie kesal, bisa-bisa Lisha menanyakan hal bodoh seperti itu. Tentu saja. ia akan mengatakan dengan senang hati, bahwa gadis itu sangat lama pergi.

Ia sempat berpikir. Apakah mereka berdua melakukan hal yang tidak senonoh sampai-sampai begitu lama.

"Hehe. Maaf! Aku terlalu rindu pada kekasihku itu. jadi ya ... Sedikit lebih lama dari pada yang kubayangkan,"

"Sedikit lebih lama katamu? Hampir seperempat malam, aku habiskan hanya untuk menunggumu," ucap Ranie dengan sewot.

"Baiklah-baiklah! Aku salah. Oh iya kau sedang mengintip pangeran Geo ya? Hati-hati! Dia terkenal cukup kejam," ucap Lisha. Sontak membuat Ranie terbelalak kaget.

Apa maksud Lisha mengatakan hal itu? yang jelas, Ranie merasa takut sekarang dan sedikit curiga pada ucapan gadis itu

Tapi tunggu dulu! Bukankah Lisha adalah pribadi yang jujur. Dia takkan pernah bohong, jika itu bukan kondisi darurat. Berarti apa yang dikatakan gadis itu benar adanya.

Ah sial!

"Jadi dia pangeran?" Lisha mengangguk penuh semangat. Sekarang mereka berada dibalik pohon yang tak jauh dari Geo berada.

"Menurut pendengaranku, dia adalah pangeran ke-tiga, sekaligus putra dari permaisuri Delia," ucap Lisha dengan semangatnya.

Ya beginilah Lisha, jika tidak dalam kondisi marah, dia akan menjadi pribadi yang menyenangkan.

Tak lama sesosok wanita datang menghampiri Geo, dengan terburu-buru, lalu memeluk leher pria itu dengan bahagia.

"Permaisuri Delia," ucap Ranie dan Lisha serempak. Mereka berdua memang hafal siapa saja penghuni dalam istana. Mengingat mereka sudah bekerja, sejak umur lima belas tahun di sana.

"Ibu! Aku sedang bermain. Kenapa Ibu tiba-tiba memelukku?" tanya Geo, lalu memperhatikan wajah Delia yang kini tengah memeluknya erat.

"Ibu merindukanmu Geo. Kau tadi tiba-tiba pergi dari pesta, maka dari itu Ibu menyusulmu," ucap DELIA manja, mereka bahkan tidak terlihat seperti Ibu dan anak. Melainkan seperti dua insan yang tengah dimabuk cinta.

"Mereka berisik ibu. Maka dari itu aku pergi," ucap Geo santai. Diraut wajahnya tak terukir'kan apapun. Hanya ada tatapan tenang penuh mengintimidasi.

"Geo! Tolong mainkan lagu yang pernah ibu ajarkan dulu!" ucap Delia setelah melepas pelukannya dan duduk disamping Geo.

Tak perlu waktu lama, ia tau lagu apa yang ibunya minta. Sedetik kemudian tangannya yang besar dan kekar itu, mulai memainkan Alat musik dibawahnya.

Nada yang dimainkan begitu indah, sungguh siapapun yang mendengarnya akan langsung terhipnotis.

Tak lama suara merdu dan memabukkan datang, untuk melengkapi nada-nada yang dimainkan Geo.

Pria itu dan ibunya menoleh, mendapati Aghna yang bernyanyi dengan merdunya.

Delia hanya tersenyum, saat mendengar, suara emas milik selir suaminya. Wanita itu

Akui bahwa Aghna adalah pemilik suara terindah di negeri ini.

Tak ada yang bisa menyamakan suara merdunya itu, bahkan kicauan burung sekalipun. selain bersuara indah, Aghna adalah wanita yang lembut dan mudah tersenyum.

Aghna dan Geo terus melakukan, apa yang harus mereka lakukan, hingga perpaduan itu tercipta begitu indahnya. Geo dengan alat musiknya dan Aghna dengan suaranya.

Tak lama lagu pun habis. Para pendengar merasa kecewa. Hingga tanpa sadar Ranie menginjak rating kayu, berada tak jauh dari kakinya.

Sontak suara itu membuat semua mata tertuju padanya, apalagi kini mata Lisha yang seakan-akan siap untuk memakannya.

"Siapa itu?" tanya Aghna, sambil terus melihat kearah pohon besar.

Lisha marah. Bisa-bisanya gadis itu membuat ulah diwaktu yang salah. Jika saja Ranie bukan sahabatnya, sudah pasti gadis itu habis dicincang olehnya.

Lisha mendorong tubuh Ranie, untuk keluar dari balik pohon, susul dirinya yang juga ikut keluar.

Mereka berdua tersenyum bodoh, sambil menatap ketiga orang itu, lalu menundukkan wajah mereka.

"Lisha, Ranie. Kemari kalian!" ucap Delia, ya wanita itu memang hafal mereka berdua.

Karena Ranie dan Lisha adalah pelayan yang paling mencolok di mata para istri Raja. Ranie dengan wajah anak-anaknya dan Lisha dengan paras cantiknya.

Mereka berdua tak luput, dari perhatian semua orang di istana. Ya semua kecuali sang Raja tentunya.

Kedua orang itu berjalan dengan kikuk, mereka takut dihukum karena menguping.

"Kenapa kalian ada dibalik pohon? Coba jelaskan?" tanya Delia. Raut wajahnya penuh mengintimidasi pada kedua gadis itu.

"It-itu karena--"

"Karena kami tak sengaja mendengar suara merdu dari pangeran dan selir Aghna, permaisuri," bohong Lisha. Yang sengaja memotong ucapan Ranie.

"Kalian datang diwaktu yang tepat. Kami akan memulai lagu lain kali ini. Benar begitu Geo," pria itu hanya mengangguk tanda mengiyakan.

Lalu mata hijau itu bertemu dengan mata hitam milik Ranie. Kejadian itu hanya sebentar, tak lebih dari tiga puluh detik, tapi mampu membuat detak jantung gadis itu bekerja tiga kali lebih cepat.

Pandang Geo kembali beralih kearah Aghna, "bisa kita mulai, ibu?" Tanya Geo pada sang selir.

"Tentu anakku!" balas Aghna dengan senyum merkah diwajahnya.

Geo mulai dengan petikan-petikan yang begitu indah dan ikuti suara Aghna yang menyamakan alat musik pria itu.

Geo terus memainkan alat musiknya dengan lihai. Pikirannya kini melayang pada gadis yang tadi ditatapnya.

Entah siapa nama gadis itu. Apakah Ranie ataukah Lisha? Yang jelas dia nampak tak seumuran dengan gadis disampingnya.

Dia malah lebih nampak seperti anak berusia lima belas tahun. Tapi kenapa gadis kecil itu bermain dengan gadis yang lebih besar darinya.

Apa dia tidak punya teman? Dan kemana ibunya? Bisa-bisa sang ibu meninggalkan gadis itu seorang diri, atau jangan-jangan gadis yang dewasa itu adalah kakaknya.

Semakin lama Geo hanya dalam pikirannya, dan nada-nada yang tadinya lembut, berubah tempo menjadi lebih cepat.

Sontak itu membuat Aghna menghentikan nyanyiannya dan beralih melirik Geo yang tengah melamun.

Bukan Aghna saja bahkan semua orang di sana. Tetap saja Geo tidak menyadari bahwa ia telah merusak suasana. Tak lama lagu pun habis.

Geo mendongakkan wajahnya, karna sedari tadi pria itu, asik menunduk sambil melamun. Saat lamunannya mulai buyar. Dia terkejut dengan semua orang yang menatapnya bingung.

Ada apa ini? Dia salah apa?

"Hmm Ranie, Lisha! Bisakah kalian mengambilkan teh dan beberapa makan untuk kami?" tanya Delia, yang dijawab anggukan kepala oleh keduanya.

Mereka berdua pergi, menyisakan tiga orang di sana. "Geo! Kau kenapa, nak?" tanya Delia, pada sang putra.

"Aku tidak kenapa-kenapa," ucap Geo dengan nada panik.

"Bohong! Kau tau? Kau tadi tiba-tiba merubah tangga nadanya menjadi lebih cepat. Apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan, anakku?" tanya Aghna lembut.

"Ah ... Benarkah? Maafkan aku ibu! Tadi pikiranku sedang melayang," ucap pria itu sedikit lebih tenang.

"Apa ada yang ingin kau tanyakan, Geo?" tanya Aghna, yang sedang menebak isi hati pria yang sudah dianggap Sebagai putranya itu.

"Sebenarnya, aku ingin tau kenapa ada gadis itu di istana. Maksudku gadis yang wajahnya seperti anak-anak itu, bu," ucap Geo sedikit ragu.

"Oh... Maksudmu Ranie? Dia memang sudah lama, kerja menjadi pelayan di sini," jawab Delia.

"Maksud ibu, kalian memperkerjakan anak kecil di istana?" tanya Geo dengan muka yang kembali tenang.

Mendengar hal itu, rasanya perut Delia dan Aghna sedikit geli. Pasalnya mereka yakin, jika Geo akan mempertanyakan hal itu pada mereka. Sontak itu membuat mereka tertawa.

"Hahaha..., Jadi kau percaya dengan wajah lugu itu?" tanya Delia pada putranya sambil tertawa geli.

sekarang Geo merasa semakin bingung, dengan tingkat kedua ibunya itu. "maksud ibu, apa?"

"Maksud kami, jangan pernah tertipu dengan wajah Ranie! Walau wajah itu sangatlah mengemaskan, layaknya seorang anak kecil. Tapi percayalah! umurnya bahkan, sudah lebih dari tujuh belas tahun," jawab Aghna sambil menahan tawanya.

"Maksud ibu, dia bukan anak-anak yang baru saja memasuki usia remaja? Melainkan seorang gadis dewasa?" tanya Geo, yang dijawab anggukan kepala dari keduanya.

Demi apa pun, ia sungguh tak percaya pada perkataan kedua ibunya. Benarkah gadis itu sudah dewasa?

"Ini teh dan cemilannya, yang mulia." ucap Ranie dan Lisha serempak, sambil menaruh nampan yang berisi teko mewah dan beberapa gelas beserta cemilan yang keluarga kerajaan inginkan.

"Ah ... terimakasih, sayang," ucap Aghna dengan senyumnya yang hangat.

"Sama-sama," balas Lisha dengan senang.

Sedangkan Geo ternganga tak percaya. Apakah ini omong kosong? Atau sungguhan? Sumpah Demi apapun, aku tak percaya bahwa kecebong itu sudah menjadi kodok. Pikirnya seraya terus melihat kearah Ranie.

"Hari semakin malam gadis-gadis. Lebih baik kalian kembali ke kamar!" perintah Delia pada Ranie dan Lisha.

"Tapi permaisuri! Bagaimana dengan pestanya?" tanya Ranie yang tidak enak, Jika pergi begitu saja.

"Ada banyak pelayan yang akan membantu mereka, Ranie. Kau tidak perlu khawatir!" ucap Aghna.

Mereka berdua hanya mengangguk paham, lalu memberikan hormat pada Delia, Aghna dan Geo. Kemudian pergi.

"Geo! Apa kau masih tidak percaya, jika Ranie memang sudah dewasa?" tanya Aghna pada Geo.

Geo yang tengah memperhatikan Ranie, lantas memalingkan pandangannya pada Aghna.

"Rasanya sulit dipercaya, ibu," ucap Geo yang menatap kedua ibunya, secara bergantian.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED