Bab 1

1 Maret 20xx

Kafe Payung Hitam, Kota Praga

"Nggak kerasa kita udah mau lulus aja. Kamu jadinya mau kuliah di mana, Bis?" tanya Gangga.

"Aku sih masih sama kayak cita-cita kita dulu. Kuliah di Universitas Vanguard. Kamu masih pengen kuliah di sana apa punya kampus impian baru?"

"Aku juga. Moga-moga aja kita ketrima," kata Gangga. Tiba-tiba dia bersedih. "Ehm, masa SMA udah berakhir. Rasanya kayak mimpi aja udah mau beralih ke dunia kampus."

Mendengar nada sedih Gangga, Bisma menerawang. Dia mengingat-ingat saat-saat mereka bersama melalui masa remaja. Dia dan gadis di hadapannya ini adalah sepasang sahabat, bukan pacar, bukan saudara, bukan sulap, bukan sihir.

Persahabatan ini lahir dari keruwetan hubungan mereka berdua di awal masuk ke sekolah menengah atas. Ruwetnya bagaimana? Hanya author yang tahu. Tapi nanti pasti diceritakan oleh author, karena authornya baik hati, tidak sombong dan gemar menabung.

"Karena kita udah mau lulus, aku mau mengakui sesuatu." Laki-laki yang memiliki nama panjang Aditya Bisma Wibowo itu bersiap mengungkapkan hal yang selama ini mengganjal seperti gelundungan batu di hatinya.

Gangga memperhatikan Bisma dengan seksama, menunggu apa yang akan disampaikan makhluk di hadapannya ini.

"Dulu, aku suka sama kamu," kata Bisma dengan nada perlahan. Pernyataan cinta itu sudah sangat lodoh dan lonyot karena terlambat.

Gangga mengangguk sangat pelan. "Kalau, sekarang?"

Bisma menatap mata Gangga dengan tatapan sendu. "Sekarang juga iya."

Gangga dan Bisma saling menatap dalam diam. Tak ada yang berbicara selama beberapa menit.

Namun mereka masih berkedip agar mata tidak perih, tidak seperti ikan yang bisa melek bahkan saat terkena air sekalipun, karena sejatinya ikan memang tinggal di air.

Gangga sama sekali tidak memiliki niatan untuk menjawab pernyataan cinta ini.

Dasar badut. (Gangga).

Senyum Gangga sedikit terkembang. Bibir Bisma pun berkedut tidak karuan. Mereka sama-sama menahan tawa. Beberapa saat kemudian mereka sudah tidak tahan lagi. Tawa pun meletup meledak tak terkira.

Saat kelas satu, mereka memang saling tertarik. Bahkan, Bisma adalah cinta pertama bagi Gangga. Namun, mereka tak pernah menyatakan perasaan masing-masing dan memupus semua rasa itu.

Bisma melanjutkan, "Kamu kirim surat cinta ke aku itu bikin aku hilang respect sama kamu."

Kali ini Gangga terkejut bukan main. Dia tidak pernah mengirim surat apa pun kepada laki-laki mana pun termasuk Bisma. Mungkin jika Bisma berhutang, barulah dia mengirim surat penagihan hutang, karena dia memang medhit* sekali.

Kembalian 500 perak saja dia usut tuntas. Dan jika berbelanja, dia tidak pernah mau diberi kembalian permen. Camkan itu! (Karena memang tidak ada kembalian, uangnya ngepas malah kadang kurang).

"Surat apa maksudnya?" tanyanya.

"Nggak usah pura-pura nggak tahu, nggak usah malu juga. Kita sekarang sahabatan kayak saudara. Ngaku aja. Ya aku bakal ngolok-olok kamu sih, tapi kamu tetep harus ngaku."

"Oke, dengerin baik-baik ya Kubis." Gangga menarik dan membuang napas beberapa kali. "Aku nggak pernah kirim surat apa-apa sama kamu!"

"Bener? Masak sih? Lha terus itu surat siapa yang bikin?"

"Meneketepret!"

Gangga berpiki-pikir kira-kira siapa yang mengirim surat yang mengatasnamakan dirinya itu. Kelebat ingatannya langsung tertuju pada dua nama yaitu Rina dan Ayu. Gangga pernah mencurahkan isi hatinya kepada mereka berdua.

Duo ember itu bener-bener nggak bisa dipercaya ya. Dulu aku pesen jangan bilang siapa-siapa. Mereka emang nggak bilang ke temen lain, tapi malah ngirim surat ke target. KAMBING! (Gangga).

Gangga mengatupkan bibirnya rapat-rapat sembari merencanakan akan membuat perhitungan belanjaan dengan dua orang yang telah mempermalukan dirinya itu. Kira-kira hal sepadan apa yang bisa dia lakukan kepada dua teman yang telah membocorkan rahasia besarnya itu?

Bisma memperhatikan setiap garis dan ekspresi wajah Gangga. Dari apa yang dilihatnya, dapat dipastikan gadis itu sudah tahu siapa pelaku surat cinta palsu itu.

Pasti udah nyadar siapa yang bikin surat itu. Mulutnya udah mengerucut sempurna, siap diiket pakai tali rafia. (Bisma).

"Ngga... Gangga... Hai..." Bisma melambaikan tangan di depan wajah Gangga.

Gangga terkesiap. "Hoah, maaf. Aku tadi mikirin nanti gimana habis lulus SMA."

"Masak sih kamu mikirin itu? Kirain lagi mikirin cara balas dendam."

Jingak! Ketahuan! (Gangga).

"Akh sial, padahal aku mau bangga-banggain diri jadi laki-laki yang dikejar-kejar sama si Sungai India ini."

"Bentar-bentar, kok bisa-bisanya kamu percaya itu surat dari aku? Kita sahabat kan? Kita sering belajar bareng kan? Kamu tahu tulisan indahku kayak apa?"

"Aku nggak kepikiran buat identifikasi tulisan. Terus setelah dilihat-lihat, tulisannya mirip kayak tulisan kamu, kayak cekeran tirex gitu deh. Terus ya aku fokus sama isi surat itu yang norak banget. Makanya aku hilang respect sama kamu."

Gangga menghubung-hubungkan runtutan peristiwa yang terjadi. Kelas 1 mereka sangat akrab karena selain saling menyukai, Bisma lah yang membuat Gangga sadar bahwa laki-laki tak semuanya jahat.

Dia memiliki luka hati terhadap ayahnya sendiri yang acap kali menjadikannya samsak pelampiasan emosi dengan wujud pukulan dan tendangan. Saat dirinya masih kecil, hingga lulus sekolah dasar, dia tidak pernah melawan dan menyimpan sendiri kesakitan yang dirasakannya.

Ibunya? Hanya bisa melihat. Kadang ibunya membela, tapi tidak cukup menghentikan aksi ayahnya. Malah, berakhir dengan pertengkaran kedua orang tuanya yang membuat Gangga tambah kesal.

Memasuki sekolah menengah pertama, dia mulai berani memberontak seiring dengan keadaan fisiknya yang mulai berkembang. Dia berani menangkis jika ayahnya melakukan kekerasan.

Ironis memang. Seharusnya dia bermain perang-perangan dengan anak sebayanya, dia malah dengan ayahnya sendiri. Dan bukan sedang bermain melainkan dipukul sungguhan. Saat itu, dia menjadi dingin dan membenci sosok laki-laki.

Memasuki sekolah menengah atas, hidupnya berubah karena Bisma.

Namun saat kelas 2, Bisma dan Gangga tidak saling bicara. Gangga tidak pernah menanyakan apa sebabnya.

Dia mulai bisa mengurainya sekarang.

"Apa kamu nggak ngomong sama aku selama kelas 2 itu karena ini?"

Bisma mengangguk.

"Terus, apa yang bikin kamu mau temenan lagi sama aku? Kan kamu baru dapat konfirmasi surat itu hari ini."

"Karena aku kasihan aja sama kamu yang kemana-mana sendiri. Ngenes."

Mereka tertawa kecil meski Gangga sedikit kesal. Tapi apa yang dikatakan Bisma memang benar, dia tidak memiliki sahabat selain Bisma. Ada sahabat lain tapi tidak sedekat Bisma.

Rina dan Ayu yang sempat menjadi tempat curhatnya pun sudah jarang mengajak bicara. Dan ternyata mereka menjauhi Gangga karena sudah melakukan blunder termemalukan.

Di kelas 3, persahabatan Gangga dan Bisma kembali terikat dan semakin erat. Mereka pun dijuluki dengan panggilan Gambas dan Kubis, pelesetan nama mereka.

"Eh, aku mau dibeliin motor sama bapakku. Canggih pokoknya."

"Hah?! Yang bener?!" Gangga langsung berbinar-binar. "Kita bisa jalan-jalan ke situ, sini, sono."

Gangga sudah merencanakan banyak tempat untuk dikunjungi bersama Bisma. Mereka memang sejak lama berharap Bisma akan dibelikan motor baru.

"Tapi gini ya Gambas, bosnya tetep aku. Jadi, kamu mau ke mana itu harus dapet acc dari aku."

"Ya nggak bisa gitu dong, harus sesuai sama kebutuhan."

"Bahahah!" Bisma tertawa terbahak-bahak. "Kita berdua kayak orang halu rebutin barang yang masih di toko."

***

2 Maret 20xx

Universitas Vanguard, Kota Koja

Kendrik Damartyo, seorang pemuda yang berumur 23 tahun baru saja menyelesaikan study strata 1. Kini dia sedang mengurus yudisium dan wisudanya.

"Mapala, selamat ya. Udah mau lulus. Mapala ini akhirnya hengkang juga," canda Pak Wardiman, tipikal bapak-bapak berkumis, ngocol dan ramah yang bekerja di bagian administrasi kampus.

Kendrik memang terkenal di kalangan pegawai dan dosen di fakultas MIPA karena nasibnya yang tersandung, terjerat, terjatuh dan tak bisa bangkit lagi (syalala) saat mengerjakan skripsi.

Kawan seangkatannya sudah mendahului untuk lulus. Tinggal dia dan beberapa gundul temannya yang masih berjibaku dengan kelulusan. Mau tidak mau, gelar mapala (mahasiswa paling lama) harus disandangnya.

"Makasih Pak, sekarang saya udah lepas dong dari predikat mapala."

"Khusus kamu sih tetep, heheh. Oh iya, sebentar lagi ada bukaan pegawai di rektorat. Kalau di lingkungan MIPA, ada bukaan pegawai buat laboratorium. Kalau tertarik, daftar aja. Sekalian kamu tetep bisa aktif di karate kalau kerja kamu di lingkungan kampus."

Kendrik mengangguk. "Saya pikir-pikir dulu Pak, soalnya setelah ini saya mau nemenin kakak saya yang lagi hamil dulu."

"Udah mau lahir?"

"Belum sih, baru 7 bulan. Tapi sekalian saya rehat dulu dari dunia permumetan."

"Nah, pas banget. Bukaannya juga masih awal Juni kok. Pasti kamu udah nggak mumet lagi. Ikut ya, lab butuh orang."

Pak Wardiman seolah tak mau melepaskan Kendrik. Mereka sangat akrab karena Kendrik sering seliweran mengurus ini itu, menunggu dosen, mengurus bebas teori, nilai, dan seabrek kepentingan lainnya.

Saat Kendrik berada di titik terendah yaitu saat dia harus berganti judul skripsi, Pak Wardiman juga yang menenangkan dan memberi semangat pada Kendrik.

Kala itu, Kendrik membanting draft skripsinya di belakang kantor jurusan. Anehnya, Kendrik tidak melontarkan kata-kata kasar seperti mahasiswa lain. Dia hanya membenamkan wajah di lututnya yang meringkuk setelah draft skripsinya berserakan. Pak Wardiman merasa trenyuh kemudian menenangkannya.

"Pak Wardiman, kok ngelamun," kata Kendrik, membuyarkan lamunan Pak Wardiman.

"Eh, maap. Maklum udah tua, sering ngelamun." Pak Wardiman mencubit dagu Kendrik. "Hih, kalau aja anakku perempuan, aku ambil kamu jadi anak mantu."

~

Kendrik membawa eksemplar skripsi dan CD yang berisi file pdf skripsinya untuk diserahkan ke perpustakaan pusat di kompleks rektorat. Sembari memandangi judulnya, hatinya merasa lega dan bangga dapat menyelesaikan perjuangan.

Akhirnya, skripshit selesai. Kamu tahu, bikin kamu itu perjuangannya mendaki gunung lewati lembah, ngos-ngosan, pegel dan encok! (Kendrik).

Kendrik berbicara dalam hati kepada skripsinya.

Dalam perjalanannya di perpustakaan di kompleks rektorat, netranya menangkap bayangan seorang gadis yang masih berseragam SMA sedang melihat papan pengumuman. Hatinya tergetar melihat gadis itu.

Tersihir cinta...

Gosh, wajah mongoloid, warna mata amber, dagu sedikit lancip, rambut lurus berombak di ujung, ukuran badan middle size nggak terlalu tinggi nggak terlalu pendek pas untuk dipeluk, hidung juga middle nggak mancung juga nggak pesek. Oh my thiny winny pretty, hatiku cenat cenut cebrat cebrut. Otak, hati, jantung, tiarap semuaaa! Serangan militer dari gadis itu langsung menyerang tanpa ampun. Shit! Dia pake peluru kendali! Sembunyi di mana pun tetap kena hatiku. Aaakkk. (Kendrik).

Kendrik hampir saja tidak berkedip. Jatuh cinta pada pandangan pertama baru dirasakan sekali ini. Sebelumnya, dia jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri yang telah lama dikenalnya.

Namun itu juga harus pupus karena wanita yang dicintainya akhirnya bersama dengan orang lain karena dia terlambat menyatakan cinta. Dia terjebak dalam kubangan friend-zone yang menyakitkan. Tsah!

"Mas, permisi, itu CDnya jatuh," kata seorang mahasiswa di depan perpustakaan itu.

Sontak Kendrik memegang pinggangnya. Perasaan, dia bukanlah superhero Suparman yang memakai silly red underwear alias segitiga bermuda sebagai luaran.

"Bukan CD yang itu Mas yang jatuh, itu lho CD skripsi," katanya sambil menunjuk CD yang bersampul skripsi di atas lantai.

"Oh, hahah, maaf reflek. Makasih ya."

Sembari memungut CD yang tergeletak dan menderita di lantai, matanya terus memandangi gadis itu. Beberapa saat setelahnya, seorang laki-laki dengan seragam SMA yang sama datang mendekati gadis itu. Mereka bercakap-cakap. Akrab.

Seketika hatinya cemburu, sakit. Seperti terjun bebas dari puncak gedung Burj Khalifa (tapi tidak bersama Mia Khalifa) tanpa sling, parasut atau pengaman apa pun. Jatuh cinta pada pandangan pertama, dan langsung patah hati di detik berikutnya.

What the hell! (Kendrik).

Kendrik melanjutkan urusannya di perpustakaan. Setelah itu dia makan siang di taman kuliner, masih di kompleks rektorat.

Tak lama gadis yang menggetarkan jiwanya itu masuk ke tempat makan yang sama. Dan, masih diekori oleh laki-laki yang dia duga adalah pacar si gadis.

Jarak mejanya dengan meja gadis itu tidak terlalu jauh. Dia pun memfokuskan baik-baik telinganya untuk menguping percakapan mereka.

"Eh, eplekenyes eplekenyes bla bla bla..."

"Iya Kubis, eplekenyes eplekenyes bla bla bla..."

"Wooo dasar Gambas, eplekenyes eplekenyes bla bla bla..."

Kubis? Gambas? Apa mereka sebangsa sayur mayur? (Kendrik).

Mata dan telinga Kendrik tajam memandangi dua siswa SMA yang akan segera lulus itu. Out of nowhere, gadis itu berbalik dan memandangi Kendrik.

Kendrik yang tengah fokus itu pun langsung salah tingkah dan membuang pandangan. Gadis itu berdiri dan berjalan mendekatinya!

Apa dia marah? Apa dia tahu aku lagi nguping? Apa dia bisa baca pikiran orang? Apa aku ganteng? (Kendrik).

bersambung...

Jogja, 19 September 2021

footnote

*medhit= pelit

***

Bab 2

Jantungnya terus berdegup kencang saat melihat langkah gadis itu lurus menuju mejanya. Kendrik mengangkat pandangan dan menatap gadis yang tersenyum kecil itu.

Apakah gadis itu tahu dia sedang diintai? Tak membalas senyumannya, wajah Kendrik malah menegang. Keringat bercucuran, kira-kira seember jika ditampung.

Aku bakal digampar? (Kendrik).

"Permisi Kak, kecap di meja saya habis. Boleh pinjam punya Kakak?" kata gadis itu sembari menunjuk botol kecap di meja Kendrik.

"Gampar! Eh maksudnya bo-boleh, silahkan."

Gadis itu mengambil botol kecap di meja Kendrik dan beranjak ke mejanya sendiri.

Kecap aja? Hatiku nggak? (Kendrik).

Tiba-tiba gadis itu berbalik dan kembali ke meja Kendrik.

Dia dengar kata hatiku? Shitt, dia pasti bisa baca pikiran. (Kendrik).

"Maaf, Kak, saosnya juga ya."

"I-iya, ambil aja."

"Makasih, Kak."

Jangankan kecap dan saos, seluruh hidupku juga boleh kamu ambil. Pasrah, mletre, mleyot. (Kendrik).

Gadis itu kembali ke mejanya dan duduk. Beberapa detik berselang, gadis dan lelaki berseragam SMA itu menengok ke arah Kendrik dan tersenyum kecil.

Tak siap dengan serangan pandangan mata tandem itu, Kendrik hanya bisa membalas senyuman mereka dengan tatapan canggung.

~

Gangga berbisik, "Kakak itu agak aneh, tadi aku minta kecap malah dia bilang 'gampar'."

Bisma dan Gangga kemudian menoleh ke arah Kendrik dan tersenyum. Lelaki yang tengah mereka bicarakan itu membalas dengan senyuman dan ekspresi yang aneh.

"Iya bener, Mbas, aneh ya," bisik Bisma.

"Mungkin dia menderita semacam anxiety disorder?"

"Atau mungkin dia lagi nahan kebelet. Kamu ingat kan waktu ulangan matematika, aku dikira nyontek karena gerak-gerak nggak karuan. Padahal aku lagi nahan kebelet."

"Buahahah." Tawa Gangga meledak.

Kendrik masih memasang telinga dan perhatiannya kepada dua orang itu. Tidak ada sentuhan di antara keduanya. Tidak ada genggaman tangan atau belaian sayang seperti pasangan-pasangan muda pada umumnya.

Bolehkah aku berharap kalau mereka itu nggak pacaran? Berarti aku masih punya kesempatan kan? (Kendrik).

(Rebel mind voice: Ingat umur Ken!)

Heit, suara siapa berani nyenggol masalah umur? Aku 23 tahun, gadis gambas bermata amber itu kira-kira 18 atau 19 tahun. Masih masuk akal! (Kendrik).

(Rebel mind voice: Serah lu dah!)

Tapi kalau aku mau masuk ke circle mereka, aku harus ganti namaku jadi nama buah atau sayuran. Ken- siapa ya? (Kendrik).

(Rebel mind voice: Kedondong, kelapa, kelengkeng?)

Hah, diem lu! (Kendrik).

~

Gangga dan Bisma telah menyelesaikan makan siang mereka. Mereka pun berdiri dan bersiap keluar dari taman kuliner di kompleks rektorat Universitas Vanguard itu.

Kendrik juga ikut beranjak pergi. Lebih tepatnya mengintil mereka dari belakang. (Kalau kecil itu mengintil, kalau besar apa hayo? Nggak usah dijawab! Jangan!)

"Mbas, Mbas, itu si kakak aneh kok kayaknya ngintilin kita ya," bisik Bisma.

Gangga tidak berani menoleh. Dia hanya melirik dengan sudut matanya. "Apa dia itu orang jahat ya?"

"Mungkin juga. Dari tadi dia ngelihatin kita terus. Lebih banyak ngelihatin kamu sih."

"Apa dia, predator?"

"Bisa juga. Gimana kalau kita melakukan jurus pamungkas keadaan kepepet?"

"Apaan?" Gangga membayangkan perkelahian.

"L-A-R-I."

Gangga mengangguk. Mereka berdua pun berlari sekencang-kencangnya dari sana, meninggalkan Kendrik.

Kendrik ternganga sendiri melihat kedua orang itu berlari tunggang langgang. Pasalnya, meski pun dia tertarik kepada si gadis gambas bermata amber itu, dia sebenarnya sedang berjalan menuju area parkir.

Dia pun berbelok ke kiri untuk mengambil motornya. Dia memacu kendaraan roda duanya perlahan meninggalkan kampus.

Melewati shelter bus, dia melihat si gadis gambas bermata amber sedang menunggu bus sembari bercanda dengan si kubis. Senyum kecil tersungging di bibirnya.

Dia semakin yakin bahwa pemuda dan pemudi SMA itu tidak terikat hubungan percintaan.

~

Sampai di rumah...

Kendrik masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Instingnya menuntun untuk menggali informasi tentang si gadis yang menawan hatinya itu.

Dia langsung mencari akun media sosial si gadis. Dengan minimnya informasi yang dia punyai tentang gadis itu, dia kesusahan memasukkan keyword di kolom pencarian.

Satu-satunya nama yang dia tahu hanyalah 'Gambas'. Dia pun memulai dengan Outstagram, aplikasi media sosial berbasis foto.

Hasilnya nihil, gadis itu tidak menggunakan kata gambas sebagai usernamenya. Malah, hasil pencarian menampilkan beberapa akun diet dan akun kuliner. Akh, memang gambas adalah nama sayuran.

Dia melanjutkan pencarian. Kali ini, dia mencari tahu tentang sahabat lelaki yang bersama Gambas, yaitu Kubis. Jika dia dapat menemukan Kubis, pasti akun Gambas akan berada di list followernya, dan mungkin ada dalam tag foto.

Hasilnya, masih nihil.

Apa mereka nggak pake media sosial ya? (Kendrik).

Kendrik memejamkan mata, mengingat-ingat kembali apa yang didengar dan apa yang dilihat. Seragam yang dikenakan dua anak SMA itu nampak asing.

Begoo, dia tadi deketin mejaku dan jarak kami deket, kenapa nggak baca badge sekolahnya. (Kendrik).

Kendrik mengutuki dirinya sendiri yang tidak sigap menangkap informasi. Saat gadis itu mendekatinya, dia malah tenggelam dalam perasaan gugup bercampur terpesona yang menghasilkan ekspresi kurang presisi di wajahnya.

Dia memandang ke arah jendela kamarnya yang mendadak tergambar wajah manis si gadis gambas bermata amber itu...

Bu Puri, mama Kendrik, masuk ke kamarnya dengan membawa beberapa baju pesta.

"Ken, lihat nih, nanti di wisuda kamu, Mama pake kebaya. Bagus nggak?"

"Bagus, Ma," jawabnya sembari matanya masih ke arah jendela.

"Kalau ini nih, gaun brukat. Bagus nggak?"

"Cantik," balas Kendrik sembari membayangkan wajah gadis asing yang telah menancapkan panah ke dadanya itu.

"Kalau Mama pakai bikini gimana Ken?"

"Bagus, cantik."

Bu Puri geram melihat anaknya yang sama sekali tidak melihat ke arahnya. "KENDRIK, masak iya Mama pakai bikini di acara wisuda kamu?!"

"What?! Apa?! Ya jangan lah, Ma. Mama kan bukan Kim Kadarkasihan atau Sendal Jenner. Hanya mereka yang boleh pakai baju dalam ke pesta."

"Kamu dari tadi diajak ngomong malah ngelamun aja. Mikirin apa? Kerjaan? Nggak usah dipikirin, nanti pasti ada."

"I-iya Ma, mikirin kerjaan. Aku bingung mau kerja apa dan di mana."

"Pelan-pelan aja. Yang penting tunggu kakakmu lahiran dulu. Oh iya, kamu juga nggak perlu khawatir-khawatir amat. Bisa juga buka usaha kayak kakakmu."

"I-iya Ma, nanti aku pikirin mau usaha apa dan kayak gimana."

"Nah, terus Mama ini bagusnya pakai baju yang mana, Ken?"

Kendrik melirik baju yang dibawa ibunya. Dia mengambil satu kebaya. Kebaya yang digantung di hanger itu dia angkat tinggi-tinggi.

Tiba-tiba, kebaya yang sedang dia angkat itu berubah menjadi gadis gambas yang ditemuinya tadi.

"Hai Kakak, boleh minta kecap dan saosnya?"

"Hoah! Gambas!" teriak Kendrik sembari membanting kebaya dari tangannya. Ajaib, gadis polos yang ditemuinya tadi seakan memiliki jalan pintas masuk ke alam bawah sadar Kendrik.

"Kenapa, Ken? Gambas apaan?" tanya Bu Puri, cemas.

"Oh, akh, hahah, nggak apa-apa Ma. Tadi aku lewat warung sayuran, lihat gambas jadi kepikiran sayuran gambas."

"Mau Mama masakkin gambas?"

"Uhm, ya, boleh, Ma."

"Oke lah, nanti Mama cari dan masakkin gambas."

Bu Puri pun keluar dari kamar anak lelakinya itu.

~

Gangga dan Bisma, Kota Praga

1,5 jam perjalanan dari Koja ke Praga membuat sepasang sahabat ini lelah. Meski tadi semangkok bakso telah mereka makan, rasa lapar kembali menghampiri.

"Perjalanan cuma lintas kota deket aja bisa bikin perut dangdutan lagi."

"Keroncongan."

"Aku lebih suka dangdutan tuh. Mampir di Indomacet ya, Mbas."

"Siap!"

Mereka singgah di minimarket Indomacet yang ada di daerah tersebut. Mi instan dengan kemasan gelas menjadi andalan pemadam kelaparan.

Sembari menikmati mi itu, mereka berbincang di teras luar minimarket.

"Mbas, kamu nanti harus hati-hati. Jangan mudah percaya sama orang. Terus, kamu sebagai cewek musti kuat dan bisa membela diri."

Gangga menatap Bisma dengan mulut ternganga. "Kubis, kamu kok ngomongnya kayak kakek-kakek begitu?"

"Bukannya gitu, tadi kita habis ketemu orang aneh. Dan orang aneh nggak cuma dia. Banyak lagi orang aneh di luar sana. Apalagi di kota besar kayak Koja."

"Iya iya Mbah Kakung!"

"Kamu mendingan ikut bela diri. Oh, dan kamu harus bisa jaga kehormatan diri. Kalau kamu lagi mau khilaf, pikirin orang tua kamu."

"Hahah, 'orang tua' kamu bilang? Aku justru pengen banget bikin mereka malu."

"Hush, ya udah bukan buat orang tua deh, tapi buat kamu sendiri. Kamu harus bisa jaga diri."

"Iya iya, kamu kok jadi bawel gini sih Bis?! Nggak asyik akh," jawab Gangga sembari mendengus kesal menyaksikan sahabatnya itu tiba-tiba bijaksana dan bijaksini.

Bisma menatap Gangga lekat sembari tersenyum. Itu adalah senyum termanis yang pernah diberikan Bisma kepadanya. Biasanya, mereka menghabiskan waktu untuk saling meledek satu sama lain. Kali ini, Bisma bersikap sangat manis.

"Sekarang, aku pesen sama kamu juga, nggak cuma kamu aja yang kasih wejangan ke aku. Kamu nanti kalau udah dibeliin motor, aku harus jadi orang pertama yang bonceng. Oke?!"

"Haish, kirain mau kasih pesan moral."

"Di sini nggak bisa pesan moral, bisanya pesan mi," kata Gangga sembari menunjuk mi-nya. []

bersambung...

Jogja, 20 September 2021

***

Bab 3

29 Mei 20xx (2 bulan kemudian)

SMA Pura Mahardika, Kota Praga

Gangga, Bisma dan seluruh siswa di SMA Pura Mahardika telah lulus. Dua sejoli itu juga sudah menjalani ujian masuk Universitas Vanguard. Mereka berdua pun telah diterima sebagai mahasiswa baru di universitas impian mereka.

Bisma juga telah menyanding motor baru yang dibelikan ayahnya ketika dia diumumkan lulus dari ujian.

Hari ini adalah jadwal cap 3 jari pada ijazah. Semua mantan siswa sudah berkumpul di sekolah.

Gin, salah seorang teman yang akrab dengan mereka, memberikan sebuah gantungan kunci kepada Gangga.

"Mbas, ini buat kamu," katanya.

"Wow, makasih banget ya, Gin."

Gin juga memberikan sebuah gantungan kunci kepada Bisma.

"Lhoh, Kubis juga dapet? Kirain aku doang yang dapet, udah GR," sungut Gangga.

"Semua dapet, aku bikin banyak," timpal Gin sembari memamerkan gantungan kunci di tasnya. Dia pun berlalu untuk membagikan gantungan kunci itu ke teman-teman yang lain.

Bisma tergelak. "Jangan baper, Mbas Mbas!"

Bisma dan Gangga yang sedang duduk di depan kelas itu memandangi gantungan yang diberikan oleh Gin.

Gangga pun menengadahkan tangannya.

"Apa?" tanya Bisma keheranan.

"Gin itu temen yang baik. Dia ngasih kenang-kenangan. Kamu? Bukannya kita sahabat? Kamu nggak ngasih apa-apa ke aku?"

"Heh Mbyak, kamu juga nggak ngasih apa-apa ke aku. Jadi jangan protes dong!"

Gangga mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sesuatu yang akan membuat skor mereka 1-0 karena ketidaksiapan Bisma memberikan kenang-kenangan.

"Nih buat kamu." Gangga mengulurkan sebuah kalung tali berwarna hitam berliontin seperti uang kuno dari negeri tirai bambu.

Bisma menerimanya. "Right, kamu ngasih kenang-kenangan kalung dogo buat aku."

"Dari pada kamu, nggak ngasih apa-apa. Sahabat apa itu namanya?"

"Kenapa sih kita musti kasih kenang-kenangan? Aku nggak mau dikenang. Lagian kita bakal 1 kampus. Meski beda jurusan, kita masih bebas ketemu. Ngasih kenang-kenangan kayak gini berasa kayak besok udah nggak ketemu lagi."

Gangga mengangkat wajahnya untuk menatap Bisma. "Bis, mulutmu masih suka ngomong sembarangan kayak gitu ya?! Ya pasti kita ketemu lagi. Tapi kasih apa gitu buat aku biar aku ngerasa agak istimewa dikit gitu lho."

"Haish..."

Bisma memandangi bunga melati tumpuk di taman kecil yang tepat berada di hadapan mereka. Dia memetik bunga itu.

"Nih, buat kamu. Habis ini jangan nagih-nagih lagi ya. Hutangku udah lunas sama kamu."

"Yah, bukan bouquet bunga yang bagus dan gedhe sih. Tapi bunga kenang-kenangan low budget ini aku terima deh."

~

Setelah menyelesaikan urusan cap tiga jari, mereka pun pulang. Mendadak Bisma meminggirkan motornya di minimarket Indomacet.

"Beli apa, Bis?"

"Ada deh, kamu duduk aja di situ," jawabnya sembari menunjuk teras toko.

Bisma keluar dari Indomacet membawa 2 mi instan gelas yang telah diseduh, kemudian kembali lagi ke dalam untuk mengambil 2 botol air mineral dan coklat batang merk Silverkingkong.

"Wowowow, big day baby. Ulang tahun kamu masih bulan agustus dan sekarang udah pesta duluan."

Makan, nggak usah banyak ngomong. Udah untung digratisin. (Gangga).

Itulah jawaban yang ditebak oleh Gangga di pikirannya. Biasanya, setiap sahabatnya itu melakukan kebaikan dan dia memprotes, jawabannya seperti itu. Dia sudah hafal segala model dialog Bisma hingga titik komanya.

Pemuda itu tersenyum. "For my best friend."

Berbeda...

Biasanya Bisma tidak seperti ini...

Semanis ini...

Apakah perasaan cinta kembali tumbuh antara mereka berdua? Apakah setelah lulus SMA, hubungan mereka tidak lagi menjadi sahabat tetapi menjadi sepasang kekasih?

Gangga tak berani bertanya apa pun. Dia hanya menikmati mi di hadapannya. Dia khawatir akan memberi kekecewaan kepada Bisma.

"Kok diem aja, Mbas?"

Gangga memberanikan diri bertanya, "Apa kamu naksir aku lagi? Bukannya kamu lagi ngincer Fita?"

"Enggak tuh, aku nggak naksir kamu. Dan udah nggak ngincer Fita juga."

"Fyuh," Gangga menghembuskan napasnya lega.

"Nanti agak siang, aku mau survey pantai di Gunung Timur yang mau kita jadiin arena camping minggu depan. Meski besok terus senin udah sibuk-sibuk di kampus, usahain bisa camping akhir minggu depan ya. Itu kumpul-kumpul terakhir kita sama anak-anak. Habis itu nggak tahu bakal ketemu lagi apa nggak."

"Kok gitu sih ngomongnya?"

"Ya kan kita kuliahnya nyebar. Kita aja besok udah mulai tinggal di kos."

"Ada reuni, Kubis! Kita tiap tahun bisa ngadain reuni."

Bukannya menjawab atau menyanggah, lelaki itu malah menatap Gangga sembari tersenyum. Bisma merogoh kalung yang diberikan oleh Gangga di sekolah pagi tadi. Dia memakainya.

"Not bad lah. Keren nggak gue?" tanya Bisma sembari menarik kerah bajunya. Sok keren.

"Gue? Mentang-mentang besok mau pindah ke kota yang lebih besar terus pake bahasa gahol anak metropolitan getoh? Koja itu belum sebesar Jacatra. Masih belum umum pake bahasa lu-gue."

"Itu kan di khalayak umum, kalo sama sahabat kan pengecualian."

"Oke kalo gitu. Gueh mau pulang, yuk ah. Takut nyokap nyariin."

"Buahahah, ternyata kalau kamu yang ngomong gaul jadi nggak enak di kuping."

Sekali lagi Gangga meminta mereka segera pulang. Dia harus mengepak barang-barangnya untuk esok pagi pindah ke kos di Koja. Meski jarak Praga-Koja hanya 1,5jam perjalanan, rasanya tidak bisa jika harus pulang-pergi setiap hari. Tenaga akan habis di perjalanan dan kesulitan untuk konsentrasi belajar.

Akan tetapi, sahabatnya masih enggan beranjak.

"Kenapa sih Bis, kok males-malesan? Ayo, aku belum packing. Terus kamu juga katanya mau ke Gunung Timur."

Akhirnya, dengan enggan, Bisma berdiri dan menuju motornya.

Sesampainya di depan rumah Gangga, dia mengulurkan coklat Silverkingkong yang dibelinya di Indomacet.

"Lhoh, buat aku?"

Bisma mengangguk. Gangga hendak mengambilnya, namun gerakan Bisma lebih cepat menangkupkan coklat itu di tangan Gangga.

Genggaman itu tak segera dilepas oleh empunya tangan.

"Bis? Jadi ini ikhlas buat aku nggak? Kok malah dipegang gini?" Gangga merasakan genggaman tangan Bisma malah semakin erat menangkup tangannya beserta coklat di tengahnya.

"Thanks for being such a good friend, Ganggadara Widi. I'll miss you."

"Heh dodol, kamu kayak mau kuliah di Amerika aja. Orang kita sekampus ini, kos juga deketan. Besok sore, aku tunggu di kos. Kamu harus ke kosku, bantuin beberes."

"Hahahah, oke oke." Bisma melepaskan genggaman itu dan pergi.

Gangga memasuki rumah. Bu Rasti, ibunya, sudah pulang dari bekerja dan telah sedikit membantu mengepak barangnya.

"Kamu pulang sama siapa Ngga?"

"Biasa, sama Bisma."

"Lhoh, Bisma?"

"Iya, Bu. Kenapa?"

"Kira-kira setengah jam yang lalu, Ibu lihat dia lewat di halaman rumah sini. Kirain kalian nggak barengan."

"Ya nggak mungkin lah, sedari pagi di sekolah kok."

"Oh, mungkin cuma mirip."

Mereka melanjutkan packing.

~

Pukul 15.00, barang-barang Gangga sudah rapi dan siap untuk dibawa ke kos keesokan harinya.

Sebuah motor masuk ke halaman rumahnya.

Siapa tuh? Bisma? Nggak capek bolak-balik Gunung Timur-Praga? (Gangga).

"Permisi, Gangganya ada, Bu?" kata pemuda itu yang ternyata bukan Bisma.

Bu Rasti mempersilahkan duduk dan memanggil Gangga.

"Lhoh, Gustyo, ada apa ada apa? What happen nyariin aku padahal tadi pagi kita udah selesai urusan sama sekolah. Aku nggak kelupaan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) apa pun kan?"

Gustyo menggeleng lemah. "Begini Ngga, ehm, Bisma kecelakaan."

"Hah! Di mana Gus? Terus sekarang dirawat di rumah sakit mana?"

"Nggak dirawat di rumah sakit, di rumah," kata Gustyo dengan sangat pelan dan berhati-hati.

"Fyuh ya ampun leganya. Jadi dia nggak apa-apa kan?"

Gustyo memandangi Gangga dengan wajah yang sangat datar. "Sorry, Ngga."

"Lhoh kok 'sorry' sih? Kamu nggak salah apa-apa, dia tuh yang salah nggak langsung ngabarin aku lewat chat kek biar nggak ngrepotin kamu gini."

Gustyo diam membisu sejenak. Dia ragu bagaimana mengatakannya, tapi harus. Dia memulai lagi dengan sangat perlahan.

"Gini, Ngga. Bisma

.

.

udah nggak ada."

Gangga menatap Gustyo dengan tatapan menyelidik. Apakah ini candaan? Prank? Karena demi apa pun itu, sungguh tidak lucu.

"Ma-maksudnya?"

"Meninggal dunia."

Gangga tak merespon, hanya terpaku dengan mulut yang sedikit menganga.

"Gangga..." panggil Gustyo yang terdengar samar di telinganya.

Semakin lama, suara di sekitar ikut tersamar...

Mengecil dan mengecil...

Saturasi warna dalam penglihatannya berkurang drastis...

Memudar...

Bahkan warna di sekelilingnya tinggal kuning...

Seluruh ruangan terus menguning, temaram, kemudian gelap gulita...

Hening...

~

Bu Rasti sibuk mengoleskan minyak kayu putih di hidung Gangga, berharap putri keduanya itu segera bangun.

"Gangga, bangun, bangun..." panggil Bu Rasti sembari mengguncangkan badan Gangga.

Gangga membuka mata.

"Minum dulu, Ngga," Bu Rasti membantu Gangga meminum air hangat. Dia meminum sedikit.

Matanya pun panas. Kelenjar air matanya dengan segera mengalirkan buliran bening. Sejenak proses keluarnya air mata yang pertama membuat matanya sedikit perih.

Berikutnya hanya mengalir dan mengalir tanpa dia mampu menghentikannya. Bu Rasti mengelus bahu putrinya yang belum berhenti menangis itu. []

Bersambung ....

Jogja, 21 September 2021

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED