“Ciu San! Kau sebaiknya turun saja dari panggung ini jika kamu tidak mau luka parah lagi seperti yang sudah-sudah!”
Mendengar suara ejekan itu semua orang tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan ada satu keluarga yang tampaknya muram dan sedikit murka mendengar ejekan itu.
Satu keluarga itu sepertinya merupakan keluarga besar. Karena banyak sekali orangnya. Dan ada beberapa pasang orang yang sudah berumur pula.
Mendengar ejekan itu, salah satu orang tua itu berbisik kepada yang lain, “Sebaiknya kau suruh anakmu itu turun saja. Daripada semakin membuat malu keluarga kita.”
“Betul apa yang di ucapkan Twao Tiong San barusan, Ko Bun San!” kata seorang wanita menimpali ucapan orang tua tersebut.
Bun San berkata kepada mereka berdua, “Aku mendidik putraku agar tidak mudah menyerah. Kalau dia kalah. Dia harus kalah terhormat!”
Rupanya orang yang bernama Bun San adalah ayah dari orang yang sedang bertanding dan tubuhnya sudah terlihat babak belur semua.
Baru saja sang ayah berkata demikian, tampak seseorang telah terlempar dari atas panggung dan jatuh tepat di hadapannya.
Rupanya dia adalah putra dari Bun San yang bernama Ciu San.
Seorang perempuan segera mendekatinya dan tampaknya ia menangis sambil berkata. “Ciu San anakku, kamu baik-baik saja.”
Pemuda itu mencoba mengangkat tangannya untuk memberi tanda kalau dia baik-baik saja. Tetapi ketika ia mencoba bangkit berdiri, tubuhnya kembali ambruk.
Bersamaan dengan itu terdengar suara dari seseorang, “Pertandingan kali ini di menangkan kembali oleh Siau Lan dari keluarga besar Naga Terbang.
Pemuda yang bernama Siau Lan itu mendekati Ciu San.
Sesudah ia dekat dengan pemuda itu, ia pun mengejek lagi, “Sebaiknya untuk pertandingan berikutnya janganlah kalian mengikut sertakan dia lagi. Yang lain saja sudah kalah lebih dahulu. Kenapa dia harus ikut bertanding lagi. Sebaiknya dia di tinggal di rumah saja. Berlindung di balik ketiak ibunya!”
Kembali semua orang yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak.
Sang ibu yang mendengar sindiran itu sepertinya terpancing juga emosinya dan Ia hendak melompat naik untuk memberi pelajaran kepada pemuda itu, tetapi tangan Bun San cepat mencegahnya sambil berkata, “Janganlah kamu buat keributan di tempat ini. Sebaiknya kita segera bawa pergi anak kita dahulu dari sini.”
“Tuan Bun San, anak ku tidak takut kepada keluargamu. Sebaiknya kamu maju sebagai wakil dari keluargamu. Aku ingin lihat sampai di mana kehebatan jurus pukulan telapak tangan dari keluargamu yang katanya sudah mencapai tingkat ke delapan itu!” terdengar suara tantangan yang cukup keras dari ujung seberang tempat duduk keluarga itu.
Mendengar suara tantangan itu terdengar suara sorak-sorai yang menyatakan kalau semua orang juga hendak melihat jurus tingkat ke delapan dari jurus pukulan telapak tangan milik Bun San.
Rupanya kedua orang tua itu tidak mengacuhkan ucapan tersebut, mereka tampaknya lebih memperhatikan keadaan putra mereka daripada tangan itu.
Sang Kaisar yang bernama Kaisar Kwok Lung juga ikut berteriak, “Perlihatkanlah jurus itu di hadapanku, Bun San! Jika kamu berhasil mengalahkan Siau Lan artinya kedudukan keluargamu di dalam Istana masih sangat besar pengaruhnya.”
Dengan demikian itu artinya, posisi keluarga Lok San yang sudah turun temurun berada di dalam Istana tidak akan tergeser kan walaupun keturunan generasi kelima Ciu San kalah pada pertandingan hari itu.
Mendengar ucapan dari Kaisar, dua orang yang tadi mengatai Bun San segera mendekati Bun San lalu membujuknya agar segera naik.
Istrinya yang bernama Mu Yung segera menyahut dengan sewot, “Kalian urus saja sendiri nama dan keluarga baik kalian. Aku dan Bun San lebih mementingkan putra kami daripada kedudukan itu!”
Tiong San segera berkata, “Baik! Jika kelak terjadi apa-apa dengan kalian. Termasuk dengan putramu, kalian berdua tidak perlu datang minta bantuan ke kami!”
Selesai berkata demikian, Tiong San melompat ke atas. Bersamaan dengan itu tampak seorang tua juga melompat ke atas sambil berteriak, “Siau Lan! Sebaiknya kamu mundur. Biar Ayah yang menghadapinya!” gerakan lelaki itu membentak kedua tangannya di udara. Dan kedua kakinya di lipat seperti orang duduk sila.
Mendengar teriakan dari sang ayah, pemuda bernama Siau Lan bergegas turun dari panggung. Sedangkan semua orang sudah kembali fokus dengan kedua orang itu di mana mereka di udara sudah saling bentrok satu sama lain.
Tiong San juga membuka kedua telapak tangannya. Dan dengan tenaganya ia mendorong ke arah Qui Lan yang menjadi ayah dari Siau Lan.
Sesungguhnya kemampuan Qui Lan tidaklah di bawah Tiong San, tetapi kali ini dia sepertinya tidak menanggapi dengan sungguh-sungguh serangan lawan, sehingga ia terlihat jatuh ke panggung dengan muntah darah.
Mendengar kedua orang itu cek-cok, Bun San menjadi serba salah. Ia tidak dapat membela keduanya. Karena yang satu adalah istri dan yang lain adalah saudara.
Begitulah kalau tinggal satu atap dengan saudara yang sudah berkeluarga. Bawaannya tidak enak. Mengalah tidak enak. Mau menang sendiri juga tidak enak. Tidak bisa membela keduanya.
Bun An pun tampaknya cepat sadar. Karena ia telah kehilangan dua orang anaknya yang terdahulu gara-gara pibu tersebut. Dan ia kali ini tidak mau kehilangan putranya lagi. Maka dari itu ia mengacuhkan apa yang di katakan sang kakak barusan sambil menarik tangan si istri dia berkata, “Sebaiknya kita bawa Ciu San dari sini sekarang juga.”
Sementara itu Tiong San yang tidak mau kedudukan keluarganya berkurang di dalam istana mau tidak mau segera melompat naik ke panggung sambil mengerahkan telapak tangannya ke depan. Ia langsung menggunakan jurus tingkat ke empat.
Tampak telapak tangan kanan Tiong San seperti memancarkan api. Lalu dengan kekuatan sedang ia mendorong telapak tangan kanan itu tepat ke bagian dada Siau Lan.
Pada saat mereka mulai melangsungkan pibu, tampak seorang biksu Saolin datang melompat dan mendekati mereka berdua seraya berkata, “Biar Pinceng coba untuk mengobati nya.”
Kedua orang itu tampak gembira sekali dan mereka pun membiarkan biksu itu memeriksa keadaan Ciau San putra mereka.
Sesudah memeriksa keadaan pemuda itu, si pendeta Shaolin segera mengalirkan tenangnya sejenak. Akhirnya ia menggelengkan kepala sambil berkata, “Sepertinya hampir sebagian urat nadi nya putus.”
Mendengar itu Mu Yung terlihat sangat marah sekali. Dan ia hendak melompat ke panggung untuk memberikan pelajaran kepada pemuda itu, tetapi di cegah oleh biksu sambil berkata, “Sekiranya nyonya lebih memperhatikan putra anda. Kalau telat sedikit saja, putra anda akan lumpuh total. Dan nantinya kalau dapat bertahan hidup akan seperti anak ideot.
Sebelum pergi kedua orang tua Ciu San sempat mendengar, “Pemenangnya adalah Tiong San!”
Lalu mereka pun sempat menoleh, dan terlihat Qui Lan di papah turun dari panggung oleh beberapa orang muridnya. Sedangkan Tiong San juga menoleh ke arah adiknya sambil tersenyum sinis. Seolah-olah dia mengatakan, “Tanpa kalian, keluarga kami mampu diandalkan oleh kerajaan.”
Mendengar ucapan dari si pendeta Shaolin itu, Bun San bergegas menggendong putranya bersama dengan sang istri berlari menuju kereta kuda yang tadi mereka gunakan bersama dengan keluarganya untuk datang menghadiri acara pibu tersebut.
Pada saat itu dua orang kusir kuda bergegas membantu Bun San memapah Ciu San masuk ke kereta kuda tersebut. Dan ketika mereka berdua hendak naik di belakang kuda, terdengar suara adiknya yang bernama Bwe San, “Kalian berdua janganlah membantu mereka. Sebab kalau kalian tetap membantu mereka, maka hari ini juga kalian berdua akan saya pecat.
Bun San segera berkata kepada kedua kusir itu, “Terima kasih. Sebaiknya kalian berdua turun saja. Dan biarkan kami yang membawa anak kami pergi.”
Dengan hati dan wajah tidak tega kedua kusir itu akhirnya turun lagi. Bersamaan dengan itu suami-istri tadi segera mencelat ke atas kereta kuda dan langsung duduk di tempat si kusir tadi.
Bun San pun segera memecut kuda-kuda itu dan larilah kuda-kuda itu melesat pergi meninggalkan arena pertandingan adu ketangkasan tersebut, dan Tiong San sempat menoleh ke arah laju kereta kuda itu dan menoleh juga ke arah adiknya yang paling bungsu seraya mengangguk.
Bwe San pun segera menyelinap pergi dari situ ketika melihat anggukan dari sang Twako.
Sedangkan kerta kuda itu terus melaju cepat menuju ke tempat tabib yang pernah menolong Ciu San. Karena Ciu San sudah yang ketiga kalinya mengalami luka parah seperti ini. Untung yang dua kali pertama dia selamat.
Kata-kata biksu Shaolin itu kembali terngiang di telinga suami-istri itu dan mereka saling melihat satu sama lain.
Ucap Mu Yung kepada suaminya, “Jika kelak putraku tidak dapat di sembuhkan sama sekali. Aku akan menuntut balas kepada keluarga anak itu!”
Bun San diam saja ia tidak memberikan komentar. Karena ia harus konsentrasi ke depan ke jalanan yang harus ia lewati.
Baru saja memasuki sebuah jalan setapak. Jalan itu sepi, tidak banyak orang yang melewati jalan tersebut, dan tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan datangnya serombongan orang bertopeng setan.
Rombongan itu tidak basa-basi. Mereka segera menyerang sepasang suami-istri itu.
Keduanya pun segera berkelebatan menghadapi serangan yang datang mendadak itu. Dan rupanya mereka lupa kalau di dalam kereta kuda itu ada putranya pula yang sedang sekarat.
Beberapa orang dari rombongan yang menyerang keluarga Bun San itu segera menculik Ciu San.
Beruntung Mu Yung melihat hal itu dan ia pun berusaha mati-matian menebas orang-orang yang mencoba menghalanginya dengan senjata selendang yang telah membawa namanya di dalam dunia kang ouw.
Tetapi orang-orang itu sepertinya mati-matian juga bertahan agar Mu Yung tidak dapat mengejar teman-teman mereka yang menculik Ciu San.
Alhasil orang-orang itu mati juga di tangan Mu Yung. Tetapi ia telah kehilangan jejak kawanan mereka yang menculik Ciu San.
Mu yung berteriak, “Suamiku! Ciu San telah di culik! Aku akan mengejar dan mencari jejak mereka!”
Pada saat itu kedua orang itu telah terpisah cukup jauh dan mereka berdua dikurung oleh orang-orang tangguh. Terutama sekali orang-orang yang mengurung Bun San.
Sepertinya mereka tahu kalau Bun San memiliki ilmu yang sangat tinggi. Karena dia telah menguasai jurus pukulan telapak tangan tingkat delapan.
Bun San menoleh dan berteriak, “Aku segera menyusul!” tapi sayangnya ia kurang hati-hati. Salah satu dari mereka berhasil melukai paha kanan lelaki itu.
Ia terlihat murka. Dan ia pun tidak main-main lagi. Dan segera menggunakan jurus andalannya. Tetapi mereka sepertinya sudah tahu kalau lawan memiliki kemampuan sangat tinggi.
Begitu Bun San hendak melepaskan serangan pukulan yang mematikan. Yaitu jurus ke delapan dari pukulan telapak tangan yang di beri nama, “Pukulan telapak tangan beruntun!”
Sebelum ia melancarkan serangan pukulan itu, lawan telah meniupkan beberapa bubuk asap warna-warni.
Bun San terkejut melihat serangan bubuk asap itu dan ia terlambat untuk menahan napas. Karena ia sedang konsentrasi untuk melancarkan serangan. Akibatnya ia sempat menghirup asap itu dan membuat dirinya hilang kendali.
Tenaga pulukannya berbalik menyerang dirinya. Dan ia pun mengalami luka dalam yang cukup parah. Di tambah pengaruh racun yang telah menjalar memasuki tubuhnya.
Orang-orang tersebut segera menancapkan senjata mereka ke tubuh Bun San.
Suara jeritan sang Suami cukup keras. Dan mengejutkan kuda mereka sehingga kuda itu berlari meninggalkan majikannya. Dan suara itu juga samar-samar terdengar Mu Yung.
Bersamaan dengan itu perasaan sang Istri merasa tidak enak. Dalam hati ia berkata, “Jangan-jangan…”
Ia sempat melamun sejenak. Dan itu membuat dirinya terkena serangan dari lawan yang datangnya mendadak sekali.
Bahu kiri wanita itu terkena bacokan senjata lawan.
Mereka pun juga menggunakan racun yang sama untuk melumpuhkan Mu Yung. Perempuan itu pun tewas dengan cara yang sama. Di tusuk dengan senjata lawan bersama-sama.
Wanita itu berteriak pula, “Koko! aku menyusul mu!” akhirnya ia pun tewas dengan mengenaskan.
Sementara itu di tempat lain, orang-orang yang telah berhasil menculik Ciu San melempar pemuda itu sebuah jurang yang tidak jauh dari situ.
Jurang itu tidak cukup dalam. Hanya sekitar lima meter saja. Tetapi tubuh Ciu San sudah terluka parah. Dan orang-orang itu pikir Ciu San bakal mati di dalam jurang tersebut.
Ternyata Tian masih mengharapkan pemuda itu hidup.
Ketika tubuhnya di lempar ke dalam jurang ternyata tubuhnya jatuh di atas sebuah bangunan tua yang sudah lama di tinggalkan. Sehingga tubuh pemuda itu tidak langsung jatuh ke tanah tetapi mengenai atap rumah yang terbuat dari daun dan jerami yang cukup tebal. Barulah tubuh Ciu San gelinding ke bawah.
Jatuh tepat di depan pintu bangunan itu. Sayangnya pemuda itu tidak dapat bangun. Ia sudah mencoba beberapa kali untuk bangkit berdiri.
Pemuda itu mengerang kesakitan. Lalu tak sadarkan diri.
Ketika ia sadar kembali hari sudah malam. Hanya bintang-bintang saja yang terlihat di langit. Awan terlihat cerah.
Ciu San mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sehingga ia harus berada di situ. Ketika ia teringat dirinya di culik, ia pun segera teringat akan kedua orang tuanya. Lalu ia berteriak memanggil nama mereka. Sambil menangis sesegukan.
Ia merasa kalau kedua orang tuanya sudah tiada. Karena pada saat teringat akan kejadian itu perasaannya tidak enak. Dan hatinya terasa sakit dan pedih.
Pemuda itu kembali tak sadarkan diri.
sesudah membuang pemuda itu ke dalam jurang, orang-orang yang mengenakan topeng setan bergegas melepaskan topeng dan pergi dari situ.
Sayangnya tidak ada satu orang pun yang mendengar kejadian tersebut, sampai keesokan harinya, beberapa orang lewat dan menemukan jenazah ayah dan ibu Ciu San.
Tak terasa sudah dua bulan Ciu San bertahan hidup di jurang tersebut. Untuk bertahan hidup dia harus memakan hewan-hewan kecil yang lewat di depannya. Hewan-hewan itu diantaranya cacing, kecoa, kelabang ulat kaki seribu bahkan semut pun ia makan. Dan minum pun ia ambil dari genangan hujan yang berada di depannya.
Hewan-hewan kecil itu pun juga ada yang beracun sehingga menyebabkan Ciu San kadang-kadang tak sadarkan diri hingga beberapa hari lamanya.
Akhirnya ia merasa sudah tidak kuat lagi. Dan ia pun berteriak, “Ayah! Ibu! Tian! Jika kalian mendengarkanku, tolong bebaskan dan lepaskan penderitaanku ini. Aku sudah tidak kuat lagi!”
Pada saat itu juga penglihatannya menjadi rabun. Ia tidak dapat melihat apa-apa lagi. Ia pikir waktunya sudah tiba untuk pulang menghadap raja Gulong raja Akhirat.
Pada saat itu dari langit entah dari mana datangnya. Tiba-tiba saja sebuah benda jatuh menimpa tubuh Ciu San. Dan ia sempat membuka matanya sejenak. Kedua tangannya menyentuh benda itu.
Ternyata benda itu adalah sebuah mata.
Ciu San sempat terkejut melihat ada mata di tangannya. Lalu ia pun buru-buru melepas mata itu, ternyata ia tidak bisa. Bersamaan dengan itu ia merasakan seluruh tubuhnya sakit semua. Sebelum kembali tak sadarkan diri ia sempat berpikir, itulah akhir hidupnya.
Di saat ia tak sadarkan diri justru ia mendapatkan penglihatan. Penglihatan itu adalah jurus-jurus yang tidak ia kenal. Tadinya ia tidak mau mengikuti bayangan yang muncul.
Ia mendengar suara dari bayangan tersebut, “Lakukanlah sesuai dengan apa yang kamu lihat. Dan kamu pasti akan sembuh.”
Rupanya Ciu San mau mengikuti juga gerakan yang muncul di dalam alam bawah sadarnya. Dan ia terkejut ketika ia merasakan seluruh urat nadi dan saraf yang tadinya putus, kini perlahan-lahan mulai kembali menyatu sesuai dengan jalurnya.
Pada saat ia sedang konsentrasi ia merasakan ada yang datang mendekati. Tetapi ia tidak dapat membuka matanya.
Ternyata yang datang adalah enam orang tua yang tampaknya tidak biasa.
Mereka datang ke tempat itu karena mendengar suara jeritan beberapa kali dari bawah jurang. Ternyata suara itu dikeluarkan oleh Ciu San yang ketika merasakan nadi nya kembali ke tempat semula membuat ia harus merasakan sakit yang luar biasa.
Begitu mereka tiba di tempat, ke enam orang itu lantas tertawa gembira ketika melihat bola mata tersebut, salah satu dari mereka bergegas mengambil bola mata itu.
Mendengar suara tawa mereka, pemuda itu hanya dapat kembali berdoa, “Sekiranya Tian masih menghendaki saya hidup, kiranya usir orang-orang itu dari sini.”
Salah seorang dari ke enam orang itu, setelah yang lainnya berhasil mengambil bola mata tersebut berkata, “Kita bunuh saja pemuda itu!” tetapi
Balas yang lain, suaranya seperti seorang perempuan, “Janganlah kamu membunuhnya. Sepertinya dia dalam keadaan sekarat. Paling nanti mati sendiri.”
Keenam orang itu ternyata berjuluk enam datuk dari segala penjuru. Karena dahulunya mereka terkenal dengan kekejaman nya di seluruh penjuru dunia.
Kini sepertinya mereka bersatu padu untuk mendapatkan bola mata itu.
Mereka pun bersepakat untuk memasak bola mata itu, lalu setelah matang mereka memakannya. Dengan demikian mereka pikir lebih afdol untuk meningkatkan kemampuan mereka.
Dengan tenang dan perlahan-lahan keenam datuk sesat menikmati mata itu, karena Ciu San belum sadar juga.
Keenam datuk itu adalah, datuk barat yang memiliki jurus laba-laba beracun. Ia dapat membunuh musuh-musuhnya dengan jerat jaring-jaring tipis yang ia buat. Kemudian datuk utara yang memiliki jurus kuku beracun. Dengan kuku-kukunya yang dapat terbang lepas dari jari-jarinya bisa membunuh semua musuh.
Lalu ada datuk timur. Ia memiliki jurus udara beracun yang ia keluarkan melalui mulutnya. Kemudian ada datuk selatan yang memiliki jurus rambut beracun. Semua ujung-ujung rambutnya dapat terbang seperti pisau dan sangat tajam dan berbisa. Dia seorang perempuan.
Setelah itu ada datuk suami istri. Keduanya terkenal dengan jurus kelabang seribu racun. Dengan meminum darah kelabang dan memakan dagingnya yang beracun ia dapat bergerak cepat ke segala arah. Gerakannya cepat seperti memiliki seribu tangan dan kaki.
Kini di tambah dengan memakan bola mata milik si Dewa Tata surya, mereka pikir kemampuan mereka akan semakin meningkat pula. Bahkan mereka kira akan menguasai seluruh dunia.
Selesai menikmati, keenam datuk itu memperhatikan tubuh Ciu San yang masih tak sadarkan diri.
Mereka saling pandang satu sama lain. Dan bersamaan dengan itu keenam datuk tersebut melepaskan tenaga mereka yang semakin beracun ke arah Ciu San.
Pada saat itu juga kebetulan sekali Ciu San membuka matanya dan dengan cepat dan sigap ia pun mengeluarkan jurus andalan keluarganya yaitu jurus delapan telapak tangan yang di segani oleh golongan putih maupun hitam.
Gerakannya sangat cepat dan tenaganya juga luar biasa sehingga terjadilah bentrokan tenaga antara Ciu San sendiri dengan ke-6 datuk sesaat yang sudah malang melintang di dunia persilatan bahkan boleh di katakan sudah tidak ada lawan lagi.
Betapa terkejutnya ke-6 datuk itu ketika merasakan tenaga yang di keluarkan oleh si pemuda seorang diri.
Tubuh ke-6 orang datuk itu ter-pental hingga empat langkah dan semuanya menubruk dinding bangunan yang berada tepat di belakang mereka.
Tetapi karena mereka berenam adalah para datuk sesaat tidak membuat mereka sampai celaka. Apa lagi membuat mereka muntah darah.
Keenam datuk itu pun tidak terluka sama sekali karena menubruk tembok di belakangnya.
Si datuk dari barat memuji pemuda itu, “Sungguh hebat! Masih muda, tetapi kemampuan mu menyamakan kami semua.”
Ucap si datuk timur, “Sayangnya kamu bertemu langsung dengan kami berenam. Jadi jangan harap kamu dapat pergi dari sini dalam keadaan hidup-hidup!”
Mendengar ucapan itu, para datuk yang lain tertawa-tawa mendengarnya.
Mereka terlihat sangat percaya diri sekali kalau mereka dapat membunuh pemuda yang berada di hadapannya itu.
Ciu San bangkit berdiri. Dan keenam datuk itu pun bangkit berdiri.
Ucap si pemuda itu, “Sepertinya kalian adalah para orang gagah yang sudah mengasingkan diri. Ada hal apakah yang membuat tiba-tiba kalian semua keluar dari sarang?”
Mendengar ucapan itu, sang suami dari datuk kelabang seribu racun yang menjawab, “Anak muda! Sepertinya kamu tidak tahu sama sekali tentang bola mata itu ya. Atau kamu pura-pura tidak tahu.”
Istrinya yang menambahkan, “Padahal bola mata itu berada dekat sekali denganmu. Tapi sayangnya kamu terlihat tidak sadarkan diri hingga kami beradu tenaga barusan denganmu.”
Mendengar ucapan itu, si pemuda terkejut dan ia teringat kembali apa yang baru saja terjadi ketika ia dalam keadaan tidak sadar menyentuh bola mata tersebut yang membuatnya kembali hidup. Dalam hati ia berkata, “Terima kasih bola mata. Engkau telah membuat aku pulih kembali. Bahkan lebih kuat berkali-kali lipat dari sebelum ini.”
Ciu San segera berkata, “Oh itu ya!” sambil tangannya menggaruk kepala. Tambahnya lagi, “Sepertinya kalian berenam sudah hebat. Kenapa membutuhkan bola mata itu lagi. Dan kemanakah bola mata itu?”
Keenam orang itu mengelus perutnya masing-masing.