Seperti mimpi buruk yang Laura alami lima tahun lalu. Dia tidak percaya saat ini telah melewati masa-masa sulit itu. Jika bukan karena Mario, kekasih sekaligus sahabat yang memahaminya dengan baik. Laura tidak akan menghirup udara musim gugur di New York. Lima tahun lalu, bermodalkan nekat Laura menginjakkan kakinya di negara itu. Bukan karena pekerjaan atau pendidikan. Alasan klise seperti kebanyakan orang patah hati pada umumnya. Melupakan kenangan masa lalu. Bodoh, benar Laura mengakuinya. Kebodohan manusia karena mencintai seseorang yang tidak ditakdirkan untuknya. Dan demi menghargai perasaan itu. Laura menjauh, memilih belahan bumi yang lain.
Untuk menyembuhkan luka.
"Lala!"
Laura tersentak dari lamunan ketika Mario memanggilnya. Dia menatap wajahnya di cermin sekali lagi lalu mengalihkan pandangannya pada Mario. Laki-laki itu terlihat tampan memakai setelan jas. Ketampanan Mario meningkat dari hari biasanya. Laura memuji dalam hati lalu merapikan riasannya. Malam itu, Mario mengajaknya makan malam di luar. Tidak biasanya, Laura merasa aneh. Namun, tidak ingin bertanya. Dia hanya mengikuti langkah Mario yang menggenggam tangannya menuju sebuah restoran. Letak restoran itu tidak jauh dari apartemen. Tidak ada orang lain di sana kecuali mereka berdua. Bisa dikatakan, mereka satu-satunya pengunjung di restoran itu.
Laura menatap Mario curiga. "Kau menyewa restoran ini?" tanya Laura.
"Untuk merayakan anniversary kita. Jangan marah, aku berjanji hanya sekali ini saja. Lala, kau berhak mendapatkan yang terbaik," ucap Mario.
Laura mendesah pelan. Keinginan laki-laki itu sulit dicegah. Meskipun untuk hubungan mereka, Laura tidak pernah meminta sesuatu di luar kemampuan Mario. Selama ini Laura bahagia asalkan Mario ada di sampingnya. Tidak ingin berdebat, Laura mengangguk kemudian memberi isyarat pada pelayan. Pelayan itu menghampirinya lalu menyerahkan buku menu.
"Salad tanpa mayonaise," ucap Laura dan pelayan menuliskan pesanannya.
"Sayang, kau harus makan banyak." sela Mario.
"Aku sedang diet. Akhir-akhir ini lemak di tubuhku bertambah. Mario jangan memaksaku."
"Baiklah, aku juga tidak makan apapun." Mario menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Melipat kedua tangannya di depan dada. Memperhatikan Laura dengan seksama. "Aku juga ingin menurunkan berat badan."
Laura menyerah. "Pesan apa pun yang kau inginkan."
"Beri hidangan terbaik. Dan siapakan seperti yang aku minta," ucap Mario kemudian pelayan itu berlalu meninggalkan meja mereka.
"Kau mengeluarkan banyak uang hanya untuk malam ini. Beberapa hari ini kau tidak tidur karena pekerjaanmu. Mario, aku tidak suka kau memaksakan diri untuk membuatku bahagia," ucap Laura.
"Aku hanya memberikan kejutan. Lala, aku tidak pernah memberi hadiah apa pun. Dan ini pertamakalinya aku memberimu kejutan. Jangan menolak pemberianku, mungkin tidak mahal, tapi aku berusaha memberikan yang terbaik. Lala aku ingin kau bahagia seperti orang lain."
"Mario, aku bahagia saat bersamamu. Sudah cukup bagiku, kau tidak perlu menghamburkan uang yang kau dapatkan susah payah."
"Lala, kita selalu berdebat karena masalah seperti ini. Di luar sana, para gadis mendapatkan hadiah terbaik dari pasangan mereka. Aku tidak pernah memberimu apa pun. Dan hanya malam ini aku melakukan hal ini. Kau justru tidak senang. Lala aku tidak ingin kau menahan diri saat melihat orang lain mendapatkan hadiah dari pasangan mereka. Aku tahu, kau sering memperhatikan Lucy dan Jason. Cara mereka menunjukkan kasih sayang. Kau ingin aku bersikap seperti Jason 'kan?" tanya Mario.
Laura bangkit dari duduknya. Dia menghampiri Mario lalu memeluk laki-laki itu. "Maaf, aku tidak ingin membuatmu kesulitan," ucap Laura lirih.
Makan malam itu terasa berbeda. Mungkin karena Laura tidak menyukai cara Mario memberinya kejutan. Atau karena makanan mahal itu tidak sesuai seleranya. Dia hanya tidak terbiasa berada di tempat mewah seperti restoran itu. Dan juga Mario yang bersikap gugup selama makan malam itu. Laura curiga, namun tidak bisa bertanya mengingat emosi Mario tidak stabil dan belakangan ini pekerjaan Mario menumpuk. Laura tidak bisa membantu, dia hanya menemani Mario bekerja hingga larut malam. Begitu pagi tiba, Mario sudah pergi dan Laura berada di atas tempat tidur seorang diri. Selalu seperti itu hingga dua tahun berlalu.
"Laura,"
Laura tersadar dari lamunan ketika Mario berlutut dengan membawa sebuah cincin.
"Laura menikahlah denganku," ucap Mario serius.
Laura terkejut dengan lamaran tiba-tiba itu. Dia tidak siap. Maksudnya belum siap menikah dalam waktu dekat. Bukan begitu, Laura bahkan tidak mengerti mengapa seseorang harus menikah jika hubungan yang mereka jalani saat ini baik-baik saja.
"Aku,"
"Aku tahu jawabanmu. Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu hingga kau siap," ucap Mario kecewa. Dia berdiri lalu menyimpan cincin itu ke dalam saku.
"Mario aku—"
Ucapan Laura terhenti ketika Mario mencium bibirnya. Mario tidak pernah membiarkan Laura menjelaskan tentang penolakan itu. Sejak dulu, mungkin ketakutan akan sebuah hubungan yang mengikat. Menyebabkan Laura terus menghindar dari ajakan pernikahan. Dia tidak bermaksud melukai Mario, namun Laura tidak bisa memaksakan diri untuk menjalani kehidupan pernikahan. Meskipun keinginan untuk hidup bersama Mario adalah impiannya.
"Lala kau tidak perlu menjelaskan apapun. Kau bersamaku itu sudah cukup. Aku tidak akan memintamu melakukan sesuatu yang kau takuti," ucap Mario lembut.
Laura menggeleng. "Aku tidak bisa melihatmu kecewa Mario. Kau tidak pernah mengecewakan aku."
"Sudah malam. Ayo kita kembali."
Laura tidak pernah mengira jika genggaman tangan Mario yang membuatnya kuat menjalani kehidupan. Dia hampir menyerah ketika pertama kali datang ke New York. Menjadi orang asing di negara itu. Membawa pakaian tanpa tujuan. Hingga bertemu Lucy dan tidak lama kemudian bertemu Mario. Mereka tidak pernah bertanya tentang masa lalunya. Alasan datang ke New York tanpa persiapan. Mereka mengerti, Laura membutuhkan privasi. Dan yang paling Laura syukuri, Mario tidak pernah bertanya alasan mengapa Laura takut dengan sebuah pernikahan.
Kini setelah waktu terlewati. Tidak terasa, Laura mulai melupakan tentang luka masa lalunya. Semua itu berkat kehadiran Mario.
"Lala aku ingin bertemu orang tuamu."
Laura melepas genggaman tangan Mario. Dia berhenti di depan gedung apartemen. Udara musim gugur semakin dingin, Laura merasakan udara dingin itu bersamaan dengan air matanya menetes perlahan.
"Orangtuaku sudah meninggal."
Mario memeluknya. Membiarkan Laura menangis. Cukup lama, Laura tidak merasakan apa pun karena perasaannya semakin terluka. Dia terus menangis dalam pelukan Mario.
***
"Lala!"
Pelukan Lucy menyebabkan Laura tidak bisa bernapas. Dua minggu tidak bertemu antusias Lucy meningkat dari terakhir kali Laura melihatnya.
"Kau membawa kabar gembira?" tanya Laura setelah pelukan itu terlepas.
"Jason melamarku. Kami akan menikah tahun depan." Lucy membentangkan kelima jarinya. Di sana tersemat sebuah cincin.
"Aku turut bahagia."
"Mario mengatakan tentang lamaran itu. Lala, kau menolaknya lagi?" tanya Lucy memastikan.
"Aku tidak ingin menikah. Hubungan kami baik-baik saja. Aku merasa tidak perlu terikat dengan sebuah pernikahan," ucap Laura menghindari tatapan menyelidik Lucy.
"Kau bohong!"
Laura menggeleng. "Terserah kau saja. Aku harus bekerja pagi ini. Lucy, kau tidak boleh menginap di sini. Mario pulang lebih awal. Dia tidak ingin melihat apartemen ini berantakan," ucap Laura meraih mantelnya lalu meninggalkan Lucy.
Udara pagi itu terasa dingin. Laura mempercepat langkahnya menuju restoran cepat saji. Bekerja paruh waktu di tempat itu sebelum menjalani pekerjaan di tempat lain. Dalam satu hari, Laura berpindah dari satu tempat menuju tempat kerja yang lain. Melelahkan dengan penghasilan yang tidak seberapa. Laura bersyukur masih ada orang yang bersedia menggunakan jasanya. Tidak mudah mencari pekerjaan tanpa berbekal ilmu pendidikan.
"Kau terlambat satu menit miss Laura," ucap Miranda pemilik restoran cepat saji itu.
"Maaf, aku tidak memperhatikan waktu. Jangan kurangi gajiku nyonya Miranda," ucap Laura kemudian mengganti pakaiannya.
Lima jam kemudian Laura sudah berada di tempat lain. Menjaga toko kerajinan tangan tidak jauh dari apartemennya. Tidak banyak pengunjung yang datang, beruntung pemilik toko masih menggunakan jasanya. Laura menatap langit mendung sepertinya akan turun hujan. Dia tidak membawa payung. Semoga hujan turun setelah dia tiba di apartemen. Namun, perkiraannya meleset, hujan turun sangat lebat. Tidak ingin terserang demam. Laura memutuskan tinggal di toko hingga hujan reda.
Satu jam kemudian.
Hujan masih turun dengan derasnya. Laura menyerah, dia berlari menembus hujan menuju apartemennya. Tubuhnya basah kuyup, Laura hanya mengangguk ketika penjaga apartemen menyapanya. Dia melangkah menuju lift hingga tiba di depan unit apartemennya.
Pintu terbuka sebelum Laura mengeluarkan kunci. Mario menyambutnya dengan raut wajah khawatir. Laki-laki itu membawa sebuah payung. Sepertinya Mario berniat untuk menjemputnya.
"Lala kau menerobos hujan lagi. Belum lama ini kau terserang hipotermia. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu," ucap Mario cemas.
"Aku baik-baik saja Mario. Apa Lucy masih di sini?" tanya Laura mengawasi seluruh apartemen itu.
"Dia keluar satu jam yang lalu. Jason sudah melamarnya, ibu tidak keberatan mereka tinggal bersama. Tapi aku tidak mengizinkan sebelum mereka menikah. Lala sebaiknya kau mandi. Aku akan memasak untukmu."
Laura mengikuti perintah Mario. Lima belas menit kemudian dia menghampiri Mario di dapur. Aroma masakan tercium. Laura mengintip dari balik bahu Mario.
Pasta!
Mario suka sekali membuatnya gemuk. Laura menyingkirkan pasta itu dan hanya menyantap sedikit sayuran. Setengah jam kemudian makan malam itu berakhir. Mario masuk ke dalam kamarnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sementara Laura masih diam di tempatnya. Hingga mendengar ponselnya berbunyi. Dia meraih ponsel itu lalu membaca pesan singkat yang di kirim Lucy.
Lingerie tanpa sekat.
Laura tertawa pelan. Lucy sedang berbelanja dan memamerkan sebuah lingerie berenda. Dia mengirim pesan balasan lalu meletakkan kembali ponselnya. Laura mencuci piring bekas makan malam mereka kemudian menghampiri Mario. Laki-laki itu terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
"Mario, akhir pekan ini aku ingin liburan."
Mario melihat Laura sekilas. "Maaf sayang, aku sibuk mengurus beberapa naskah."
Laura menyentuh pundak Mario. "Aku bisa pergi sendiri. Atau bersama Lucy, Teruskan pekerjaanmu." ucap Laura.
Kesibukan Mario bukan alasan bagi Laura memaksa laki-laki itu memberikan sedikit waktunya. Dia bahagia meskipun perhatian Mario teralihkan oleh pekerjaan.
Laura berdiri di balkon, merasakan udara musim gugur pada malam hari. Bersamaan dengan kepingan ingatan itu melintas.
***
Mei, 2016
"Aku lulus. Kamu lulus nggak La?"
Laura mengangguk. "Party di rumah Ajeng jadi nggak mbak?" tanyanya.
"Aduh, maaf banget La. Mbak ada urusan kamu duluan ke rumah Ajeng. Ntar mbak nyusul," ucap Rahma menyesal.
"Cuma berdua mana seru lain kali aja lah mbak."
Laura berhenti di sebuah halte. Duduk di sana sambil mendengarkan musik. Jealous milik Labrinth lagu favoritnya. Hingga keramaian di halte itu terabaikan karena Laura fokus dengan dunianya.
"Sendiri La?"
Laura melepaskan earphone kemudian menoleh pada laki-laki yang duduk di sampingnya. "Mbak Rahma ada urusan," ucapnya.
"Urusan apa?"
"Mungkin sama komunitasnya," ucap Laura enggan.
"Rencana mau kuliah di mana La?"
Lala menatap laki-laki itu. Namanya Argino Mahendra. Gino biasa Laura memanggilnya. Sahabat sekaligus tetangganya. Orangtua mereka berteman, sebelum Laura kehilangan mereka.
"Aku nggak kuliah."
"Rahma kuliah di mana?" tanya Gino.
Laura bangkit dari duduknya ketika sebuah bus melintas. Dia menaiki bus itu dengan langkah ringan. "Dengar-dengar universitas di Aussie!" ucap Laura setengah berteriak, tidak lama kemudian bus itu melaju.
"Bodoh," gumam Laura pelan.
***
"Semalam Lucy mengirim hadiah. Aku membukanya dan menemukan ini."
Laura terkejut melihat benda yang berada di tangan Mario. Laki-laki itu tampak biasa saja. Namun, Laura segera menyingkirkan benda itu dari jangkauan Mario.
Lucy sialan!
"Aku sudah memutuskan. Kita akan liburan akhir pekan ini," ucap Mario.
"Kau libur?" tanya Laura memastikan Mario tidak mengabaikan pekerjannya. Hanya untuk menuruti keinginan tidak pentingnya itu.
"Break sebentar dari pekerjaan. Lala, aku merasa duniaku bukan hanya tentang pekerjaan. Aku lelah dan idemu masuk akal. Aku sudah memesan satu kamar di kapal pesiar. Kau jangan khawatir kita melewatkan liburan ini."
Laura menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak ingin naik kapal pesiar. Aku hanya ingin kita menjauh dari keramaian New York. Mario, kita akan memancing di rumah tepi danau. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu di sana. Aku tahu, tempat itu cocok untukmu," ucapnya.
"Kita selalu berdebat akan hal ini, tapi demi keinginanmu. Aku bersedia melakukan apa pun."
"Mario, terimakasih."
"Kau harus melakukan lebih dari itu." Mario mendekat kemudian mencium pipi Laura sekilas. "Bagaimana jika kau memakai hadiah dari Lucy?" tanya Mario dengan senyuman nakal.
"Aku akan mengembalikan lingerie itu. Jangan macam-macam, aku sudah mengingatkan kau tidak boleh melakukan apapun sebelum kita menikah," ucap Laura penuh ancaman.
"Aku tidak bisa menahannya. Kau selalu menolakku."
Laura menatap Mario. Dia tidak ingin melihat wajah kecewa itu lebih lama. Namun, tentang seks sebelum pernikahan, Laura selalu menghindarinya. Bukannya berpikiran kolot, Laura tidak ingin seseorang menyentuhnya secara sembarangan. Dan Laura mengerti selama ini Mario selalu menahan keinginan itu.
Semenjak menjadi kekasihnya.
"Kau bisa melakukannya bersama orang lain," ucap Laura.
Mario terkejut untuk sesaat. Namun, detik berikutnya dia bisa mengatasi perasaan itu. "Aku mencintaimu Lala. Aku tidak akan melakukan sesuatu bersama orang lain."
"Tapi kau selalu menahan diri saat bersamaku," ucap Laura.
"Karena aku menghargai semua keputusanmu. Meskipun aku tidak menyukainya, aku belajar untuk menerimanya karena aku mencintaimu."
Laura tersenyum. "Terimakasih Mario."
"Aku hampir terlambat!"
Laura tertawa kecil. Kebiasaan Mario melupakan sesuatu di tengah waktu mendesak. Kali ini Laura yakin, Mario akan melakukan kesalahan yang lain.
"Aku berangkat kerja. Lala, jaga dirimu baik-baik," ucap Mario sebelum berlalu.
***
"Lucy kau gila!"
Laura melempar lingerie itu di wajah Lucy. Sementara perempuan itu terkekeh pelan. Sejak Mario membuka hadiah itu. Laura selalu terbayang suatu hari akan memakainya. Dan memamerkannya pada Mario. Pemikiran yang gila!
Semua itu karena Lucy.
"Aku hanya mengikuti saran Jason. Dia ingin memiliki keponakan, Laura jangan marah. Aku yakin kakakku pasti menyukainya," ucap Lucy santai.
"Dia memang menyukainya. Hanya saja,"
"Kau menolaknya."
Laura mengangguk. "Perlindungan diri. Aku tidak bisa mengikuti gaya hidup bebas. Aku memiliki prinsip. Lucy, lain kali jangan memberikan hadiah seperti ini. Aku tidak ingin melihat wajah kecewanya," ucap Laura serius.
"Dia tidak mungkin kecewa. Lala, kau tidak bekerja hari ini?"
"Aku melewatkan satu pekerjaan."
"Tidak seperti biasanya. Apa kau demam?" Lucy menyentuh kening Laura. "Suhu tubuhmu normal. Apa kau sedang mengalami masalah?" tanya Lucy.
"Aku memikirkan tentang lamaran itu," ucap Laura jujur.
"Lupakan saja. Kakakku yang workaholic itu,"
"Mario kecewa. Dia kecewa ketika aku memintanya tidur dengan perempuan lain," potong Laura.
"Kau gila?!" pekik Lucy keras.
"Ya, aku tahu dia kecewa."
"Kau selalu bersikap dingin, Mario mungkin menganggap sikapmu itu bukan masalah besar. Dan kau memintanya tidur dengan orang lain. Dia berpikir kau tidak mencintainya, tapi menurutku kau memang acuh. Apa kau sungguh mencintainya?" tanya Lucy.
Laura menghindari tatapan Lucy. "Hentikan, aku sudah dewasa. Membahas tentang cinta aku merasa kekanakan. Lucy, temani aku mencari udara segar."
Beruntung kepenatan siang itu menguap begitu Lucy menemaninya jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Laura membeli sweater untuk persiapan musim dingin. Dia segera membayar di kasir lalu kembali menghampiri Lucy. Perempuan itu tengah berbicara melalui ponsel dan terlihat kesal. Beberapa kali Lucy mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar. Aneh, Lucy yang biasanya bersikap sopan. Kali ini tidak bisa mengendalikan kemarahannya.
"Sialan!"
"Ada apa Lucy?" tanya Laura penasaran.
"Salah satu klien ingin mengubah interior apartemennya. Aku sudah menghabiskan banyak waktu dan dia membatalkannya begitu saja. Aku bahkan melewatkan festival musim gugur bersama Jason," ucap Lucy kesal.
"Ayo kita mencari tempat lain." ajak Laura menarik tangan Lucy keluar dari pusat perbelanjaan itu.
"Dia orang paling merepotkan yang pernah aku temui. Gara-gara dia aku hampir dipecat. Aku sangat kesal waktuku terbuang sia-sia. Dan design itu. Ya Tuhan," Lucy mengacak rambutnya. Dia duduk berlutut hingga orang-orang memperhatikannya. "Aku harus menemuinya. Lala, ikut aku melihat orang brengsek itu."
Laura tidak sempat menghindar ketika Lucy menyeretnya menuju kereta dan membawanya entah kemana. Begitu tiba di gedung apartemen, Lucy menghentikan langkahnya. Laura mengerutkan kening melihat bangunan itu. Dia pernah datang ke tempat itu untuk melakukan pekerjaan paruh waktu. Membersihkan salah satu unit apartemen tanpa pemiliknya. Dia melakukan pekerjaan itu selama satu tahun terakhir. Dan Laura berhenti karena Mario melarangnya bekerja di tempat itu. Kini Laura seolah mengalami dejavu.
"Lala aku masuk ke dalam. Kau tunggu di sini," ucap Lucy.
"Lucy tunggu!" Cegah Laura menahan lengan Lucy hingga perempuan itu menghentikan langkahnya. "Aku pernah bekerja di tempat ini. Apakah kau bermasalah dengan unit apartemen tanpa penghuni?" tanya Laura memastikan.
"Dia selalu menghuni apartemen itu. Lala, kau membicarakan tentang apa?" Lucy balas bertanya.
"Lupakan saja. Aku tunggu kau di sini," ucap Laura melepaskan lengan Lucy.
Cukup lama Laura menunggu hingga penjaga keamanan berkali-kali menghampirinya. Merasa tidak nyaman, Laura memutuskan masuk ke dalam gedung apartemen itu. Dia menaiki lift lalu berhenti di depan unit apartemen tempatnya bekerja dulu. Tidak ada siapapun di lorong. Dengan ragu Laura menekan bel. Tidak lama kemudian pintu itu terbuka dan Laura mendengar suara benda terjatuh. Dia mundur beberapa langkah ke belakang ketika melihat Lucy keluar dari apartemen itu. Lucy terbelalak kaget dan menarik tangan Laura dengan paksa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lucy. Mereka sudah berada di taman. Duduk di salah satu bangku kosong.
"Aku bekerja di tempat itu selama satu tahun. Tidak menyangka kita memiliki masalah yang sama," ucap Laura.
"Kau mengenal orang gila itu?" tanya Lucy terkejut.
"Tidak, aku hanya bekerja di apartemennya. Aku bahkan tidak pernah melihat pemiliknya."
"Dia turis sama sepertimu. Orang kaya yang menghamburkan banyak uang hanya untuk mengubah interior apartemennya. Lala, kenapa kau penasaran dengan orang ini? Apa kau ingin bertemu dengannya?" tanya Lucy beruntun.
"Aku hanya merasa rindu pada seseorang. Entah mengapa, aku yakin jika pemilik apartemen itu—" Laura menahan kalimatnya. Dia lupa hampir saja mengatakan tentang masa lalunya.
"Aku ragu jika si brengsek itu orang yang kau rindukan. Lala, aku sudah bertemu berbagai jenis manusia. Dan aku tidak pernah bertemu dengan orang brengsek yang berbicara dengan sombongnya. Meskipun dia kaya, tidak perlu menunjukkan berapa banyak uang yang dia miliki. Dia bahkan melempar uang di depan wajahku. Lala, kau jangan pernah bertemu orang itu. Aku sudah pasrah harus kehilangan pekerjaan dibandingkan mengikuti keinginan orang gila itu!" ucap Lucy berapi-api.
"Lucy, kau pintar dan berbakat. Kehilangan satu klien tidak akan membuatmu menyerah. Aku masih ada pekerjaan. Nyonya Miranda akan membunuhku jika aku terlambat," ucap Laura bangkit dari duduknya lalu menghentikan taksi. Dia menoleh pada Lucy sekilas sebelum akhirnya taksi itu melaju meninggalkan tempat itu.
***
Beruntung Laura datang tepat waktu sehingga Miranda tidak menegurnya. Setelah mengganti pakaiannya, Laura melakukan pekerjaannya sebagai pelayan. Pengunjung restoran hari itu lumayan ramai, Laura bahkan tidak sempat memeriksa ponselnya dan mengingatkan Mario makan tepat waktu. Menjelang sore, pekerjannya berakhir Laura meregangkan tubuhnya yang kaku. Saat tiba di apartemen, dia ingin sekali berendam.
"Gajimu hari ini miss Laura. Biasakan datang tepat waktu seperti tadi," ucap Miranda lalu menyerahkan beberapa lembar uang pada Laura.
"Terimakasih nyonya Miranda." Laura menerima uang itu lalu bergegas mengganti pakaiannya.
Sore itu cuaca kembali mendung dan Laura lupa membawa benda penting seperti payung. Kali ini dia memutuskan untuk berteduh di emperan toko ketika hujan mulai turun. Laura mengeluarkan ponselnya. Namun, belum sempat dia membuka kunci pengaman di ponsel itu. Petir dan cahaya kilat menyilaukan mata tidak lama kemudian suara guntur memekakkan telinga. Laura terkejut hingga ponselnya terjatuh, naasnya ponsel itu terinjak oleh seseorang hingga mengeluarkan suara. Laura terpaku melihat ponselnya remuk tidak berbentuk.
"Maaf nona aku tidak sengaja."
Laura menahan tangannya untuk mengambil ponsel itu. Dia masih berjongkok sambil menatap ponselnya yang hancur. Suara itu, bukan bagian dari halusinasinya. Laura mengingatnya sejak kecil hingga dewasa.
Suara itu adalah …
"Gino," ucap Laura lirih.
"Lala?"
Petir dan guntur yang bersahutan seolah background dari pertemuan itu. Laura tidak menolak ketika Gino memeluknya, dia tidak bisa mencegah air matanya menetes. Lima tahun lalu dan saat ini, Laura tetap tidak bisa berdamai dengan perasaannya dan pelukan itu menyiratkan tentang kerinduan Gino. Jika tidak, maka kerinduannya pada laki-laki itu. Laura membalas pelukan Gino, tidak peduli hujan deras membasahi pakaiannya melupakan ponsel yang masih tergeletak di bawah kakinya. Laura hanya ingin merasakan kebersamaan itu lebih lama.
Cukup lama hingga pelukan itu terlepas dan Gino yang menatapnya lekat. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya hampir menyentuh bibirnya.
"Lala!"
Seketika Laura mendorong Gino menjauh. Mario berdiri di sana dengan sebuah payung di tangannya. Laura tidak tahu sejak kapan laki-laki itu melihatnya bersama Gino.
Wajah Mario yang pucat dan juga raut kecewa itu. Laura telah menyakiti Mario hanya karena kenangan masa lalunya.
"Lala, apakah dia yang membuatmu gelisah dan terus menolakku?" tanya Mario.
Laura menunduk. "Maaf."
"Jika begitu, maka lepaskan aku kau bisa bersamanya. Lala, aku menghargai semua keputusanmu karena aku sungguh mencintaimu, tapi aku tidak bisa memaksakan perasaanku karena ada orang lain di hatimu. Semoga dia bisa menghilangkan rasa takutmu dengan sebuah pernikahan."
Mario berbalik, membawa kekecewaan itu bersama langkahnya yang semakin menjauh. Laura berusaha untuk menggapai. Namun, tidak berhasil. Dia hanya meneteskan air mata melihat Mario pergi tanpa menoleh lagi.
"Nona ponselmu terjatuh."
Laura tersentak lalu menerima ponsel itu. Dia mengucapkan terimakasih kemudian orang itu berlalu.
Sejak kapan dia melamun?
Akhir-akhir ini Laura lupa meminum obatnya sehingga halusinasinya semakin kuat, beruntung kejadian tadi hanya ilusinya. Dia tidak tahu apa yang terjadi jika Mario pergi dari hidupnya.
Hujan mulai reda, Laura meninggalkan tempat itu kemudian menaiki kereta menuju apartemennya. Setengah jam kemudian dia tiba dan melihat Mario sudah menunggunya. Laki-laki itu langsung memeluknya begitu melihatnya datang.
"Kau pulang terlambat," ucap Mario khawatir.
"Aku terjebak hujan dan ponselku terjatuh, sepertinya rusak. Maaf lain kali aku tidak akan membuatmu khawatir."
"Kau pergi bersama Lucy. Saat bersamanya aku takut kau mengikuti pergaulannya," ucap Mario.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Lucy hanya mengajakku melihat salah satu kliennya. Dia adikmu, kau tidak boleh berbicara buruk tentangnya." Laura mengusap wajah Mario agar laki-laki itu berhenti mencemaskannya.
"Dan Lucy menimbulkan masalah di tempat itu. Aku mendapat laporan pemilik apartemen itu meminta ganti rugi karena Lucy memecahkan guci antik bernilai ratusan juta dolar. Saat ini Jason sedang menyelesaikan masalah itu. Lala, lain kali beritahu aku ketika kau bersama Lucy."
Laura tersenyum. "Kau seperti anak kecil dan Lucy melakukan hal yang benar. Dia kesal karena orang itu menghabiskan waktunya membuat design. Bahkan Lucy melewatkan festival musim gugur demi pekerjaan itu. Jika aku menjadi Lucy, aku akan melakukan hal yang sama, tidak peduli guci antik atau vas dari dinasti Han. Aku pasti akan menginjaknya di bawah kakiku."
"Hari ini kau banyak bicara. Lala, aku senang melihatmu begini."
Laura tersenyum kaku. Apakah ilusi bertemu Gino menyebabkan suasana hatinya membaik?
"Lala aku sudah menyiapkan sup ayam kesukaanmu. Cepatlah mandi, aku menunggumu di meja makan."
Laura mengangguk kemudian masuk ke dalam kamarnya. Mengikuti perintah Mario sebelum laki-laki itu bersikap berlebihan seperti tadi.
***
"Kau melaporkan perempuan itu ke polisi hanya karena benda ini?"
Guci antik bernilai ratusan juta dolar itu hancur berantakan di lantai begitu Gino menginjakkan kakinya di apartemen. Dia melihat David tidak percaya laki-laki itu bertengkar dengan seorang perempuan hanya karena benda jelek itu. Meskipun mahal, Gino tidak akan berdebat hanya karena benda mati yang tidak berguna. Dia memanggil orang yang biasa membersihkan apartemen itu. Tidak lama kemudian orang itu datang dan membersihkan kekacauan itu.
"Aku tidak akan mengubah interior apartemen ini. David jangan melakukan sesuatu seolah kau pemiliknya," ucap Gino terus terang, dia duduk di sofa memperhatikan David dengan seksama. Ada bekas tamparan di pipi laki-laki itu. Gino tidak percaya ada orang yang berani menyentuh David.
"Aku hanya ingin membuatnya kesal tidak disangka dia justru menamparku dan mengeluarkan kata-kata kasar. Dia bilang aku pedofil. Coba kau lihat dari sudut mana aku seperti si gila yang dia sebutkan itu?" tanya David menunjuk wajahnya sendiri. "Perempuan itu bahkan sudah dewasa."
"Kau melempar uang ke wajahnya dan kau pantas mendapatkan tamparan. Entah sebanyak apa uang yang kau miliki hingga kau berani menyinggungnya."
"Apa maksudmu?" tanya David tidak mengerti.
"Kekasihnya designer berbakat. Beberapa artis ternama menggunakan jasanya. Kau menyinggung perempuan itu, hati-hati berurusan dengan kekasihnya. Uang milikmu itu akan terkuras habis jika dia membawamu ke pengadilan," ucap Gino santai.
"Pengacara sepertimu suka mengurusi gosip orang lain!" dengus David kesal.
"Aku tidak mengurusi perempuan itu. Aku memperhatikan orang yang bersamanya, hanya sebagai poin tambahan aku memberitahumu hal ini. David, aku sudah bertemu dengan perempuan yang aku cari selama lima tahun ini. Tidak disangka dia pernah bekerja di apartemen ini. Sekarang aku ingin kau membantuku agar dia bisa bekerja di sini. Sudah saatnya kau membalas budiku."
"Perempuan tua itu untuk apa kau bertemu dengannya?" tanya David tidak mengerti.
"Aku ingin dia berada di sini besok siang." Gino meletakkan sebuah foto di atas meja lalu bangkit dari duduknya. "Usahakan jangan sampai dia tahu aku pemilik apartemen ini."
"Baiklah aku akan membawanya. Serahkan masalah ini padaku."
Gino tersenyum kecil, Sebentar lagi dia akan bertemu Laura. Lima tahun lalu Laura pergi dari hidupnya, Kali ini Gino tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
"Maaf La, karena Rahma kamu salah paham."
***
Pagi itu Laura dibuat kesal setengah mati oleh salah satu pelanggan. Seorang laki-laki bermulut pedas hingga batas kesabarannya habis. Dan tanpa sengaja Laura mengeluarkan kata-kata umpatan. Mendengar keributan itu Miranda memanggilnya. Biasanya, Laura tidak peduli dengan kemarahan perempuan itu yang menegur cara bekerjanya, tapi kali itu Miranda memecatnya. Terkejut bercampur dengan sisa kemarahan akibat pertengkaran tadi Laura segera mengganti pakaiannya lalu keluar dari restoran itu. Dia bahkan melupakan gajinya.
Laura terus melangkah menuju tempat kerja berikutnya. Toko kerajinan tangan yang hampir bangkrut. Namun, pemiliknya masih memintanya bekerja di sana. Tiba di toko itu Laura dibuat tercengang.
Toko itu terjual.
Ditengah situasi itu, ponselnya berbunyi. Sebuah nomor tidak dikenal menghubunginya.
"Nona aku membutuhkan bantuanmu."
Kening Laura berkerut. "Kau siapa?" tanyanya curiga.
"Aku pemilik apartemen tempat kau berkerja dulu. Aku membutuhkan jasamu, apa kau bersedia?"
Laura membutuhkan pekerjaan saat ini. Dia tidak bisa membiarkan Mario menanggung seluruh biaya hidupnya. Dan pekerjaan membersihkan apartemen tidak terlalu sulit.
"Aku bersedia asal kau membayarku dua kali lipat dari gaji sebelumnya," ucap Laura.
"Sepakat."
Laura menyimpan ponselnya lalu menaiki kereta. Setengah jam kemudian dia tiba di sana. Dengan ragu Laura menekan bel dan detik berikutnya pintu itu terbuka. Seorang laki-laki berambut pirang menyambutnya dengan senyum ramah. Laura memasuki apartemen itu dengan canggung.
"Maaf aku sudah menyinggung temanmu."
"Seharusnya kau meminta maaf padanya," ucap Laura lalu mengambil peralatan pel. Barang-barang itu masih berada di sana tidak ada yang berubah dari terakhir kali Laura meninggalkan apartemen itu.
"Perkenalkan namaku David."
Uluran tangan itu menyebabkan Laura menghentikan pekerjaannya. Dia memperhatikan laki-laki bernama David dengan seksama. Lucy berlebihan tentang laki-laki itu. Cara bicara yang sopan entah kenapa Lucy bisa terpancing emosi.
"Laura," ucap Laura singkat tanpa membalas uluran tangan David. Dia meneruskan pekerjaannya. Mengabaikan keberadaan laki-laki itu di sana.
Hingga dua jam kemudian, Laura telah membersihkan seluruh ruangan di apartemen itu. Dia meregangkan tubuhnya yang kaku. Pekerjaan itu menguras seluruh tenaganya. Laura memutuskan berada di apartemen itu lebih lama. Dia lega ketika David berpamitan keluar dan akan kembali dalam beberapa jam kedepan. Kini Laura sendirian di sana. Apartemen mewah tanpa penghuni seperti setahun yang lalu.
Dan Laura menyukai suasana sepi seperti itu.
Perlahan rasa kantuk menyerang. Laura berbaring di sofa lalu memejamkan matanya. Semoga David tidak mengusirnya saat melihatnya tidur di sofa mahal itu.
***
Pekerjaan menyebabkan emosi Gino tidak stabil. Dia terpaksa pulang terlambat ditambah hujan turun dengan lebatnya. Musim gugur yang menyebalkan. Gino tidak menyukai musim dengan curah hujan tinggi itu. Satu jam setelah terjebak macet akhirnya Gino berhasil tiba di apartemen. Dia melempar tas kerjanya ke lantai lalu menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dia menyandarkan kepalanya sambil menatap langit-langit di ruangan itu. Emosinya mulai terkendali. Dan Gino bisa merasakan kemarahan itu perlahan menghilang.
Namun, tubuhnya membeku ketika melihat sosok gadis tertidur lelap di sofa. Dia hampir terserang penyakit jantung mengetahui bahwa gadis itu adalah Laura. Laura Oktaviana yang dirindukannya selama lima tahun ini. Dengan hati-hati Gino mendekati gadis itu. Dia mengusap wajah Laura. Sudah lama sekali, Gino bahkan tidak ingat kapan terakhir kalinya mengusap pipi Laura. Mungkin saat usia mereka sepuluh tahun atau kurang dari itu. Setelah dewasa Gino tidak pernah melakukan kontak fisik. Dia menghargai Laura dan takut jika perasaannya tidak terkendali bila melakukan sesuatu yang lebih.
"Aku sudah membawa gadismu. Berikan aku Ferrari milikmu."
David tiba-tiba muncul dan menghancurkan suasana itu. Gino melempar kunci mobilnya lalu menatap David tajam.
"Pergi dari tempat ini."
"Aku lelah seharian ini membuat kekacauan agar gadis itu berhenti dari pekerjaannya. Aku juga tidak tahu harus aku apakan toko jelek berisi tanah liat itu. Gino, kau harus membayar lebih atas usahaku ini." David mengulurkan tangannya. "Seratus juta dolar untuk toko itu. Aku rugi tapi tidak apa-apa karena kau temanku," ucap David.
"Ada dua ratus juta dolar di kartu itu. Kau melakukan tugasmu dengan baik. Besok kau bisa kembali ke Denmark dan menikmati hidupmu di sana," ucap Gino lalu menyerahkan kartu debit miliknya pada David.
"Sialan, aku tidak butuh uangmu!" David melempar kartu debit itu ke lantai. "Terakhir kali kau mengirimku ke Siberia. Aku hampir mati kedinginan dan kau menikmati musim panas di sini. Gino, kau keterlaluan."
"Aku ingin menikmati waktu bersamanya," ucap Gino tidak ingin berdebat.
"Aku bisa pergi saat kau bersamanya. Lagipula aku tidak ingin menjadi orang ketiga. Dan kelihatannya gadis itu pendiam. Aku kesulitan beradaptasi dengannya."
"Dia tidak pendiam. Mungkin sebelum dia kehilangan orangtuanya," ucap Gino lirih.
"Sudahlah aku malas mendengar omong kosongmu. Aku pergi sekarang, kau bisa bersamanya. Tenang saja, aku tidak akan mengganggu pertemuan kalian."
"David, jangan biarkan dia melihatku. Sekarang sudah malam hari. Tolong antar dia pulang. Sekaligus melihat tempat tinggalnya."
Suara ponsel menyebabkan Gino beranjak dari tempat itu. Dia masuk kedalam kamarnya, mencoba melihat dari balik pintu. Samar-samar dia bisa mendengar suara Laura yang panik. Tidak lama kemudian, suara itu menghilang. Gino keluar dari kamarnya dan tidak ada siapa pun di apartemennya. Namun, suara ponsel menarik perhatiannya.
Aku sedang mengantar gadismu pulang. Dan dia cemas tentang kekasihnya yang pingsan.
Pesan singkat yang dikirim David menyebabkan Gino kesulitan bernapas.
Laura memiliki kekasih?
***
"Lucy apa yang terjadi pada Mario?" tanya Laura panik. Pembicaraan melalui ponsel itu sedikit berlebihan di bawah pengawasan David. Dia terpaksa menyetujui tawaran laki-laki itu mengantarnya pulang. Jika bukan karena khawatir pada Mario. Laura tidak akan menerima tawaran orang asing secara sembarangan.
"Dia pingsan dan Jason membawanya ke rumah sakit. Mereka sedang berkuda dan Mario terjatuh dari kudanya. Pergelangan tangannya terluka mungkin sedikit retak. Entahlah, aku hanya mendengarnya dari Jason. Sebaiknya kau melihatnya langsung. Saat ini aku berada di Boston lusa baru kembali. Lala, jangan panik kakakku orang yang kuat."
Mario tidak biasanya memiliki waktu luang berkuda bersama Jason. Laura memutuskan sambungan itu lalu menyimpan ponselnya. Pikirannya kacau, dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Mario. Perjalanan menuju rumah sakit itu terasa sangat lama. Ditambah hujan deras sehingga David tidak bisa menambah kecepatan mobilnya. Laura menjadi tidak sabar dan kegelisahan itu mengganggu David. Laki-laki itu berdehem pelan mencoba untuk menarik perhatiannya.
"Maaf," ucap Laura lirih, dia tidak bermaksud bersikap seperti itu. Namun, kekhawatiran itu tidak bisa disembunyikan.
"Aku tidak ingin mengambil risiko dan kita berdua celaka karena kau yang panik ini. Laura, tenanglah sedikit. Aku tidak bisa mengemudi jika kau terus seperti ini," ucap David terus terang.
"Apakah masih jauh?" tanya Laura mengabaikan ucapan David.
"Sebentar lagi."
Laura menghitung dalam hati, dia tidak tahu pada hitungan keberapa mobil itu tiba di rumah sakit. Begitu mobil itu berhenti Laura bergegas menuju rumah sakit mengabaikan teriakan David di belakangnya. Laura bertemu Jason di lobi. Dia menarik lengan laki-laki itu dengan napas tersengal.
"Bagaimana keadaan Mario?" tanya Laura cemas.
"Apa yang kau katakan?" tanya Jason tidak mengerti.
"Mario, terjatuh. Apa dia baik-baik saja?"
"Lala aku tidak paham apa yang kau katakan," ucap Jason.
"Lucy bilang—" Laura menahan kalimatnya.
Lucy sialan!
"Pasti Lucy mengerjaimu, setelah lingerie itu dia juga mengarang kejadian ini. Lala aku minta maaf atas nama Lucy. Dia berada di Boston," ucap Jason geli.
"Lucy kali ini aku tidak akan memaafkanmu!" ucap Laura geram.
"Aku mendengar tentang lamaran itu. Aku tidak ingin campur, namun mengenai penolakan itu. Mario sedikit tertekan. Lala, aku tidak tahu alasan kau selalu menolaknya, tapi kau harus memikirkan Mario. Dia laki-laki yang baik satu-satunya sahabatku, sejak dulu hingga sekarang dia tidak pernah menyentuh seorang gadis. Itu sebabnya dia selalu menentang keras jika aku bertindak berlebihan pada Lucy. Namun, saat ini aku tahu, Mario tidak bisa menahan keinginan itu. Terlebih kau gadis yang dicintainya dan kalian berdua memiliki prinsip yang sama. Lala, jika kau ragu dengan perasaanmu, lebih baik katakan dengan terus terang. Mario pasti mengerti."
"Terimakasih Jason," ucap Laura singkat.
"Kau tidak mencintainya bukan?"
Laura terkejut, dia tidak percaya Jason akan menanyakan hal itu. Jika Lucy mungkin Laura bisa menyangkalnya. Namun, Jason berbeda, laki-laki itu terlalu bijak untuk melihat sisi yang disembunyikannya.
"Aku tidak akan mengatakannya pada Mario. Lala kau pasti mengerti jika cinta tidak bisa dipaksakan. Kau tidak boleh melukai perasaannya karena hal ini. Sudah larut, aku akan mengantarmu pulang," ucap Jason.
Selama perjalanan pulang itu, Laura membisu. Dia hanya diam ketika Jason mengantarnya hingga unit apartemennya. Begitu Mario membuka pintu, laki-laki itu langsung memeluknya dan meminta Jason untuk singgah. Dengan sopan Jason menolak dan Laura merasa pandangan Jason seolah mengintimidasinya. Laura hanya mengangguk ketika Jason berpamitan. Dia melihat Jason hingga masuk kedalam lift. Setelah kepergian Jason, Laura melepaskan pelukan itu lalu melangkah menuju kamarnya. Mario mengikutinya dan duduk di sisi ranjang.
"Apa yang terjadi?" tanya Mario curiga.
"Tidak apa-apa aku hanya lelah," ucap Laura lirih.
"Aku mencarimu dan nyonya Miranda mengatakan kau sudah dipecat. Aku mencarimu di toko kerajinan tangan dan toko itu sudah terjual. Lala, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Mario aku sungguh lelah. Malam ini, aku tidak bisa menemanimu bekerja. Maaf,"
"Bukan itu yang aku tanyakan Lala. Ada apa denganmu hari ini?" tanya Mario tidak puas dengan jawaban Laura.
"Mario aku lelah. Biarkan aku istirahat."
"Apa karena kau bekerja di apartemen itu lagi?"
"Mario kau mengikutiku?" tanya Laura tidak percaya.
"Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Dan aku meminta seseorang mengawasimu. Lala jangan marah aku hanya,"
"Mario tinggalkan aku sendiri."
"Lala,"
"Biarkan aku sendiri!" teriak Laura.
Laura tahu, Mario terkejut dan tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. Mungkin mengecewakan bagi Mario, tapi Laura tidak ingin memahaminya. Dia lelah, sebenarnya bukan lelah karena pekerjaan.
Melainkan.
"Malam ini aku menginap di rumah Jason. Lala, kau bisa menenangkan diri dan jangan lupa minum obatmu." ucap Mario mencium kening Laura sekilas lalu meninggalkan tempat itu.
Lagi, Laura mengecewakan Mario. Dia seperti tokoh antagonis dalam setiap kisahnya.
***
"Kau bilang Laura memiliki kekasih?" tanya Gino begitu David tiba di apartemen dan laki-laki itu menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia duduk di samping David meminta jawaban dari pertanyaan itu. "Laura tidak mungkin mencintai orang lain," ucap Gino yakin.
"Aku hanya mendengarnya sekilas saat mereka berbicara di telepon. Gino, kau menyukainya. Jika aku jadi kau, aku tidak akan membiarkannya bersama orang lain."
"Aku tidak bisa. Maksudku," Gino menahan kalimatnya lalu bangkit dari duduknya. "Lupakan saja. Aku keluar sebentar mencari udara segar."
Hujan masih menyisakan gerimis, Gino mengendarai mobilnya dengan pikiran kosong. Dia tidak mempercayai ucapan David. Namun, Gino merasa terganggu mendengar Laura memiliki kekasih. Gadis itu tidak mungkin menyukai orang lain. Mereka memiliki banyak kenangan bersama masa-masa sekolah yang tidak terlupakan. Dan mereka memiliki perasaan yang sama hanya saja Gino tidak pernah mengatakannya.
Apakah dia sudah terlambat?
Gino menghentikan mobilnya di sebuah restoran. Perutnya berbunyi pertanda meminta segera diisi makanan. Gino memesan pizza dan cheesecake sebagai makanan penutup. Dia tidak menyukai makanan manis. Namun, malam itu Gino ingin sekali merasakan sesuatu yang berbeda. Mungkin karena suasana hatinya yang buruk menyebabkan seleranya berubah.
Pesanan datang, Gino menyantap makanannya dalam diam sesekali mengawasi suasana di restoran itu. Tidak banyak pengunjung yang datang. Gino mengamati laki-laki yang berada tidak jauh darinya. Laki-laki itu tampak muram seolah memiliki beban berat. Gino meletakkan makanannya, urung menyantap cheesecake ketika melihat laki-laki itu kesulitan untuk berdiri. Tidak ada orang lain yang membantunya. Merasa iba, Gino mendekati laki-laki itu.
"Apakah anda baik-baik saja?" tanya Gino cemas.
Tidak ada jawaban, samar-samar Gino mencium aroma alkohol. Laki-laki itu mabuk dan di meja tergeletak beberapa botol wine yang kosong. Gino tidak menyukai aroma alkohol. Namun, tidak bisa membiarkan laki-laki itu berada di sana. Setelah membayar makanannya, Gino membawa laki-laki itu ke dalam mobilnya dan memutuskan membawanya ke apartemen. Gino berdoa dalam hati semoga laki-laki itu bukan psikopat. Akhir-akhir ini dia suka sekali berkhayal.
"Gino kenapa kau membawa orang asing?"
Gino hampir menjatuhkan laki-laki itu di lantai mendengar pertanyaan David sesaat setelah dia tiba di apartemen. Dengan hati-hati Gino meletakkan laki-laki itu di sofa. Dia melepas pakaiannya, aroma alkohol itu juga menempel di tubuhnya. Gino tidak menyukai aroma itu
"Gino, kau menjadi homo setelah Laura memiliki kekasih!" teriak David panik lalu menjauhi Gino.
"Aku bertemu dengannya di restoran. Dia mabuk dan aku tidak tega membiarkannya sendiri. David, jangan meracau aku masih normal," ucap Gino.
"Baguslah." David mengusap dadanya disertai napas lega.
"Kau bertugas mengantarnya. Jangan sampai Laura melihat ada orang lain di tempat ini," ucap Gino.
"Laki-laki itu sangat tampan. Menurutmu apa yang menyebabkan dia mabuk dan kehilangan kesadaran?" tanya David penasaran.
"Jangan ikut campur urusan orang lain. David, kau jaga dia. Aku mandi sebentar," ucap Gino lalu masuk kedalam kamarnya.
Sepuluh menit kemudian Gino kembali ke ruang tamu dan melihat David sudah terlelap. Teman yang tidak bisa diandalkan!
Gino mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh David dan laki-laki itu. Dia mematikan lampu ruang tamu lalu masuk ke dalam kamarnya. Keheningan di kamar itu menyebabkan kerinduannya pada Laura memuncak. Lesung pipi ketika Laura tersenyum membuatnya semakin menarik.
Dan Gino sangat merindukan senyuman itu.
"Kamu nggak mungkin suka sama orang lain La," ucap Gino lirih.
Kepercayaan diri itu bukan tanpa alasan. Gino yakin jika perasaan Laura tidak berubah. Gadis kecil yang selalu mengikutinya kemana pun, Gino sangat mengenalnya. Alasan dia datang ke New York hanya untuk mencari Laura. Menolak bekerja di Indonesia dan bertengkar hebat dengan kedua orangtuanya. Gino tidak pernah menyesalinya. Dia mulai jatuh cinta pada keramaian New York. Menjunjung tinggi prinsip tidak boleh terpengaruh pergaulan bebas. Menghindari alkohol dan obat-obatan terlarang. Selama dua tahun ini Gino berhasil melewatinya. Namun, saat melihat Laura sesuatu yang menjadi prinsipnya tiba-tiba berubah. Gino ingin sekali membawa Laura dalam pelukannya, mengingat selama ini, dia tidak pernah memeluk gadis itu. Membiarkan perasaannya memiliki dinding pemisah.
Seandainya waktu berbaik hati membawanya kembali pada lima tahun silam. Gino tidak akan membiarkan Laura pergi dengan penuh luka.
***