Liana, wanita berusia 35 tahun. Sudah menikah dan memiliki 2 anak, saat ini bekerja di salah satu perusahaan export import bagian keuangan. Hubungannya dengan sang suami baik-baik saja, tidak ada masalah dalam rumah tangganya.
Bekerja di bagian keuangan membuat Liana sering pulang malam jika akhir bulan, tidak jarang sampai dini hari. Heru, salah satu satpam selalu menemaninya setiap lembur. Pria berusia 55 tahun, memiliki dua istri dengan tiga anak dan dua cucu.
Tidak ada seorang pun yang tahu tentang hubungan mereka berdua, di kantor mereka seperti pekerja pada umumnya. Semua berawal secara tidak terduga sama sekali, mereka berdua menikmati hubungan rahasia ini.
"Belum selesai?" tanya Heru yang sudah duduk disamping Liana.
"Dikit lagi, Mas." Liana menjawab dengan menggerakkan kepalanya.
"Capek? Padahal kangen ini sama kamu." Heru mendekatkan diri pada Liana mencium bibirnya singkat.
"Nanti dulu, dikit lagi selesai." Liana mendorong Heru tanpa melepaskan tatapan pada layar dan berkas "Memang nanti mau dimana?"
"Kos aja, kamu bilang apa sama suami?"
"Aku udah ijin mau tidur di rumah kamu, sekalian besok belajar masak sama istrimu."
"Terus nanti hasil masakannya?" tanya Heru.
"Gampang, aku tinggal beli. Jangan ajak bicara, kamu tunggu diluar aja."
Liana segera menyelesaikan pekerjaannya, setelah memastikan semuanya selesai langsung mematikan semua peralatannya. Besok dirinya mengambil cuti, kebiasaan Liana akan mengambil cuti setiap kali lembur. Tujuannya adalah menghabiskan waktu dengan Heru seharian, langkah Liana semakin keluar dari tempatnya kerja.
Heru sudah menunggunya di kos, tempat yang mereka sewa untuk menghabiskan waktu bersama. Kos yang berjarak jauh dari tempat mereka kerja dan tempat tinggal mereka, Liana memasuki kamar dengan wajah lelahnya, namun tidak berlangsung lama saat melihat Heru disana dengan bungkusan diatas meja.
"Kamu pasti lapar, makan dulu." Heru membuka bungkusan.
Makan dalam diam, Liana memang membutuhkan tenaga untuk memuaskan mereka berdua. Kali ini Liana akan memberikan kejutan pada Heru, setelah makan langsung membersihkan dirinya dan menggunakan lingeri tanpa dalaman.
"Kamu selalu seksi, Sayang." Heru menatap Liana dengan kagum.
"Mas sering lihat masih aja."
"Habis kamu memang benar-benar seksi." Heru memberikan kode pada Liana untuk duduk disampingnya.
Liana mengikuti permintaan Heru, tapi tidak disampingnya melainkan duduk di paha Heru. Liana membelai wajah Heru secara perlahan, mendekatkan bibirnya dengan bibir Heru dan mengecupnya pelan, menggerakkan bibirnya dan langsung disambut Heru. Tangan Heru menarik Liana semakin dekat dengan dirinya, melingkarkan tangan di pinggang, tangan Liana berada di leher Heru membuat ciuman mereka semakin dalam.
"Ehmmm...ehmmm..." suara desahan terdengar diantara ciuman mereka berdua.
"Kamu memang luar biasa," ucap Heru saat ciuman mereka terlepas.
"Mas yang luar biasa, lebih seksi mana aku dibandingkan istrinya?" Liana membuka lingerienya yang langsung membuatnya telanjang depan Heru.
"Kamu sangat seksi, Mas jadi pengen menikahi kamu dan memiliki kamu sepenuhnya." Heru menarik payudara Liana dan langsung menghisap putingnya.
"Ough...Mas...oughh..." Liana berteriak saat bibir Heru mengulum putingnya "Disitu, Mas...oughh..." menelan kepalanya lebih dalam.
"Susu kamu memang enak, andaikan aku bisa menghamilimu." Heru menatap Liana penuh damba.
"Kontolnya udah tegang aja," ucap Liana membelai penis Heru dari celana "Dibuka ya, Mas."
Liana tidak membutuhkan jawaban Heru, melepaskan celana yang dipakainya dan langsung keluar penisnya. Penisnya panjang dan diameter besar, berbeda dengan milik suaminya. Mendekatkan bibirnya dengan penis Heru, memberikan ciuman singkat sebelum memasukkan kedalam mulut, tangan Liana bergerak di buah zakarnya dengan mulutnya bergerak naik turun. Heru membantu Liana dengan memegang rambutnya, kuluman pada penisnya bergerak pelan, terkadang memberikan jilatan dan menatap Heru dengan tatapan menggoda.
Heru yang tidak tahan menarik Liana, melumat bibirnya kasar. Liana membalas lumatan bibir Heru dengan mengalungkan tangannya pada leher Heru, posisi mereka saat ini Liana berada diatas Heru.
"Mas masukin kontolnya sekarang, aku nggak tahan." Liana mengatakan dengan tatapan sayu penuh gairah.
"Sesuai keinginanmu, Sayang."
Heru membalikkan tubuh Liana menjadi menungging, posisi yang sangat disukainya, bibirnya mendekat pada vagina Liana dan menjilatinya.
"Sudah basah aja ternyata...." Heru membelai bibir vaginanya "Mas masukkan..."
Liana memejamkan matanya saat merasakan penis Heru membelah vaginanya, meskipun sudah beberapa kali tetap membuat Liana tidak menyangka penis itu bisa memuaskannya berkali-kali.
"Oughhh....masih sempit aja...." Heru mengerang tertahan.
"Dalam....oughh...Mas..." Liana mengerang sesekali meremas payudaranya.
Heru mendorong semakin dalam, Liana memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Dorongan semakin dalam, sampai akhirnya mengenai rahim Liana. Heru mendiamkan penisnya dalam vagina Liana, tangannya meremas payudara dan mencubit putingnya keras yang membuat Liana teriak.
"Ough...memek kamu...luar biasa." Heru mengerang setiap kali penisnya bergesekkan dengan vagina Liana.
"Lebih dalam dan cepat....oughhh...Mas." Liana mengerang saat Heru menggerakkan penisnya.
Suara kelamin terdengar jelas di ruangan, saling melumat dan teriak sebagai tanda mereka menikmati pergumulan terlarang. Mereka berdua tidak peduli dengan status dan usia, terpenting adalah kenikmatan satu sama lain. Hubungan mereka sudah terjalin hampir setahun, tidak ada yang menaruh curiga pada hubungan mereka termasuk pasangan masing-masing. Kos yang mereka sewa dibayar dengan urunan, mencari kos suami istri dan mereka mengaku menikah secara agama.
"Shit! kamu enak sekali." Heru kembali mendorong lebih dalam.
Mengubah posisi Liana tanpa melepaskan penyatuan mereka, membuat Liana mengerang tertahan merasakan penis Heru yang didalam sana memutari vaginanya.
"Kamu luar biasa," ucap Heru melumat payudara Liana dan meremas yang lain.
"Oughh...Mas...terus aku mau keluar." Liana mengerang dengan tangannya meremas rambut Heru.
Heru yang mendengar perkataan Liana melakukannya dengan cepat dan sedikit keras, erangan terdengar semakin keras tanda mereka akan mencapai klimaks.
Heru merasakan penisnya selalu dipijat didalam vagina Liana, ini yang membuat Heru menyukai hubungan terlarang dengan Liana. Liana menarik kepala Heru yang berada di payudaranya dan langsung melumat bibirnya, tanda bahwa Liana akan mencapai klimaksnya dan Heru akan melakukannya dengan cepat agar mereka bisa mencapai klimaks bersama.
"Mas...oughhh....aku mau keluar." Liana mengangkat tubuhnya keatas dan mengejang tidak lama kemudian cairannya keluar.
Heru yang merasakan penisnya terjepit semakin tidak tahan, mendorong semakin dalam dan mengeluarkan spermanya didalam Liana. Nafas mereka tersengal setelah pelepasan dahsyat, Heru membiarkan lama didalam sampai merasakan spermanya tidak keluar dan melepaskan penyatuan mereka.
"Mas ingat aku pernah bilang buat lepas KB?" tanya Liana yang membuat Heru mengerutkan keningnya "Aku sudah lepas KB."
Heru membelalakkan matanya "Tadi aku keluar didalam, bagaimana?"
Liana tersenyum dan membelai wajah Heru pelan "Adik senang kalau ayahnya mengunjungi dia malam ini. Mas, akan jadi ayah dan ini buah cinta kita berdua."
Tbc
Liana merahasiakan kehamilannya dari siapapun, kecuali sang suami dan Heru pastinya. Sikapnya berubah semenjak hamil, tidak seperti kehamilan sebelumnya.
"Kamu sekarang jadi lebih manja," ucap Heru saat mereka sudah berada di rumah sewaan atau kos. "Kamu manja juga sama suami?"
Liana menggelengkan kepalanya "Aku hanya manja sama kamu, Mas. Anak ini tahu siapa ayahnya jadi hanya manja sama satu orang, apalagi kalau kontolmu itu masuk kedalam kayaknya anak ini bakal tenang."
"Alasan kamu aja itu." Heru mencubit hidung Liana pelan.
Mereka berbicara banyak hal, posisi mereka berbicara berada diatas ranjang tanpa sehelai benang ditubuh masing-masing. Heru sebenarnya mau minta lagi, tapi harus menahan diri karena Liana hamil anaknya.
"Kamu alasan apa sama suami?" tanya Heru penasaran.
"Mas alasan apa sama istri? Dua istri pula." Liana menatap selidik pada Heru.
"Aku cowok jadi gampang alasannya, kalau kamu?" tanya Heru penasaran.
"Suami dinas luar kota selama sekitar 3 bulan, jadi agak sedikit bebas. Aku sudah pernah bicara sama mas kalau nggak salah."
"Aku sudah tua pastinya lupa dan pikun." Heru memberikan alasan membuat Liana memutar bola matanya malas.
Flashback On
Heru yang bertugas malam harus merasakan kesepian, kondisi hujan membuat semuanya menjadi berantakan. Heru memiliki istri dua yang pastinya bisa memuaskannya, kalau bosan dengan pertama bisa datang ke yang lain. Kepuasannya ternyata tidak benar-benar maksimal, Heru menginginkan sesuatu yang lebih dalam mencapai klimaksnya.
"Pak Heru, yang jaga malam ini?" sapa Liana yang sepertinya baru dari warung depan.
"Ya, Neng." Heru menjawab sopan, hanya saja matanya fokus pada payudara Liana.
"Aku masuk dulu, Pak." Liana menganggukkan kepalanya untuk pamitan.
Isi kepala Heru saat ini adalah bagaimana membawa Liana masuk kedalam pesonanya, membuat Liana yang ketiga atau menjadi selingkuhannya. Heru sangat yakin jika vagina Liana bisa memuaskan penisnya dibandingkan kedua istrinya, Heru langsung membayangkan bagaimana rasanya Liana.
Heru mengamati kantor yang berada didalam, pegawai-pegawai sudah pada pulang dan tampaknya hanya Liana yang belum. Memilih untuk menutup dan mengunci pagar, Heru berjalan memasuki ruangan kantor mencoba melihat keadaan Liana.
"Belum pulang, Neng?" tanya Heru berjalan mendekat kearah Liana.
"Belum, Pak."
"Teman-temannya udah pada pulang, nanti nggak dicari suami?" Heru mencoba memancingnya.
"Akhir bulan sudah paham, Pak. Bapak kenapa ada disini?" Liana menatap sekilas pada Heru.
"Lihat keadaan dalam dan Neng Liana yang belum pulang." Heru menjelaskan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Heru menatap Liana yang sudah sedikit berantakan, tapi tidak dengan wajahnya masih terlihat menyegarkan. Heru membelai penisnya perlahan, membayangkan rasa penisnya didalam vagina Liana.
"Sudah selesai, Neng?" tanya Heru saat melihat Liana membereskan sesuatu.
"Subuh, aku pulang mungkin." Liana mengatakan tanpa menjawab pertanyaan Heru.
Heru angkat tangan dan memilih kembali ke posnya, tidak ada kejadian apapun dan di kantor hanya ada mereka berdua. Waktu berjalan cepat dan teman Heru sudah ada yang datang untuk menggantikan dirinya, dari jauh Heru melihat Liana dengan wajah lelahnya. Heru langsung berpamitan pada temannya, mengambil jam pulang awal dan mendatangi Liana yang akan berjalan keluar.
"Aku antar aja, Mbak." Heru menawarkan dirinya.
Liana menggelengkan kepalanya "Naik angkot didepan."
"Aku antar." Heru mengatakan dengan nada datarnya dan tidak terbantahkan.
Liana hanya bisa mengikuti perkataan Heru, beralasan pada temannya karena dari semalam melihat Liana tampak tidak enak badan. Heru merasakan dari belakang beberapa kali Liana terantuk, memilih mencari tempat penginapan karena tidak mungkin mereka pulang dalam keadaan Liana seperti ini.
"Kita istirahat disini dulu, nggak mungkin mbak pulang dalam keadaan seperti ini." Heru sekali lagi berbicara dengan nada yang sama seperti sebelumnya.
Liana yang tidak ingin membantah hanya mengikuti perkataan Heru, membiarkan Liana langsung berbaring di ranjang tidak lama suara dengkuran pelan terdengar. Heru memilih membeli makanan untuk mereka berdua melalui aplikasi online di ponsel Liana, membuka galeri foto yang langsung membuat penis Heru tegang.
Liana memotret dirinya dalam keadaan yang bisa membuat pria menginginkannya, foto telanjang mulai dari payudaranya sampai vaginanya. Heru mengalihkan pandangan kearah Liana yang masih tidur, pesanan datang tidak lama kemudian yang langsung Heru ambil dan mengunci pintunya.
Heru berjalan mendekati Liana, membuka kancing bajunya secara perlahan sampai bajunya terbuka memperlihatkan perut mulusnya yang berbeda dengan di foto. Heru menaikkan bra Liana membuat payudaranya terlihat dengan putingnya coklatnya, tangan Heru membelainya pelan. Heru melepaskan pakaiannya semua dan dilemparkannya, menurunkan badannya yang langsung melumat puting dan meremas payudara Liana.
"Ehmm...ehmm...ehmm..." Liana mendesah di saat tidurnya.
Heru yang mendengar itu tidak mau membuang kesempatan dengan membuka celana Liana dan memainkan jemarinya disana, desahan keluar dari bibir Liana dengan mengangkat tubuhnya.
"Apa yang bapak lakukan?" suara Liana saat tersadar menatap Heru terkejut.
"Hanya ingin merasakan bagaimana punya Neng Liana."
Liana membelalakkan matanya mendengar jawaban Heru "Bapak sudah punya anak dan istri bagaimana bisa..."
Heru menghentikan perkataan Liana dengan melumat bibirnya, tangan Liana memukul dada Heru dengan keras. Heru menggigit bibir Liana membuatnya membuka bibir dan langsung memasukkan lidahnya didalam dengan bermain disana. Liana yang sudah tidak memiliki tenaga memilih untuk menyerah dan menikmati apa yang Heru lakukan, tangan Liana sudah melingkar di leher Heru.
"Apa bisa aku melakukannya, Sayang?" tanya Heru setelah melepaskan ciuman mereka "Buka semua bajumu sekarang."
Liana tidak ingin membantah dan memilih melakukan apa yang dikatakan Heru, membuka seluruh pakaiannya dan membuat Heru menelan saliva kasar. Heru menarik tubuh Liana dan bisa merasakan penisnya yang tegang, Heru mengambil tangan Liana untuk diletakkan di penisnya yang membuat Liana terkejut dibuatnya.
"Foto-foto kamu seksi, aku suka." Heru mencium bibir Liana lembut "Lebih besar siapa aku atau suamimu?"
"Ahh...kamu..." Liana mengerang saat merasakan remasan pada payudaranya.
"Kamu foto buat siapa?" tanya Heru masih meremas payudara Liana.
"Ahhh...hentikan...suamiku...semua buat suamiku...ahh..." Liana tidak bisa berpikir dengan jernih.
Heru mengganti posisinya menjadi berbaring, meletakkan Liana diatasnya dan memberi kode untuk memasukinya. Liana menatap penis Heru ragu, mengangkat tubuhnya menempatkan penis Heru di bibir vaginanya, menggesekkannya perlahan membuat Liana memejamkan matanya. Heru melihat apa yang Liana lakukan mengulurkan tangan untuk meremas payudaranya, remasan Heru membuat Liana mendesah dan mulai memasukkan penisnya ke vagina.
"Ahhh...penuh...oughh..." Liana mendesah diantara gerakannya.
Heru yang melihat itu memilih mengubah posisi dengan duduk dan memegang pinggang Liana, mendorong penisnya semakin masuk kedalam. Liana yang sudah mencapai klimaks hanya bersandar pada bahu Heru, dorongan penis Heru membuat Liana tidak bisa melakukan gerakan lain karena terlalu lelah. Heru tidak peduli yang penting adalah dirinya mengeluarkan benih didalam rahim Liana, cukup lama dalam posisi seperti duduk sampai akhirnya mereka mencapai klimaks bersamaan. Liana mencapai klimaksnya kembali bersamaan dengan Heru yang mengeluarkan cairannya didalam.
"Kamu luar biasa," bisik Heru.
Sejak saat itu Heru dan Liana melakukan hubungan terlarang, tidak ada kata cinta yang keluar dari bibir mereka. Heru tahu Liana tidak mencintainya, pasangan sah mereka adalah yang paling utama.
Flashback Off
"Mikirin apaan?" tanya Liana menatap penuh selidik "Istri kamu?"
"Cemburu?" tanya Heru dengan nada menggodanya.
"Kalau ya?" Liana menatap kesal pada Heru.
"Kita akan tetap seperti ini, aku nggak mungkin menikahimu. Kamu tetap dengan suamimu sampai kapanpun." Heru membelai wajah Liana perlahan.
"Aku paham karena aku juga nggak mau jadi istri ketigamu." Liana menganggukkan kepalanya.
"Pintar." Heru mencium bibir Liana lembut. "Anak ini adalah saksi bagaimana kita bersama selama ini, aku akan membiayainya semampuku."
"Aku menerima apapun itu, asalkan kamu tetap ada disamping kami." Liana menatap Heru lembut.
Mereka berciuman kembali, berlanjut dengan kegiatan ranjang dan panas yang menjadi kebiasaan mereka selama ini.
Sembilan bulan kemudian
"Kenapa kamu disini?" tanya Liana terkejut dengan kedatangan Heru ke rumahnya.
"Dimana semua?" tanya Heru menatap rumah Liana.
"Suami kerja, anak-anak sekolah. Asisten hari ini libur jadinya aku sendirian." Liana menjelaskannya dengan tatapan rindu pada Heru.
"Nggak ada orang sama sekali?" Liana menganggukkan kepalanya.
"Masuk kedalam."
Liana membawa Heru masuk semakin kedalam rumahnya setelah mengunci pintu semua, tujuan mereka tentu melihat anak mereka yang baru Liana lahirkan dua bulan lalu.
"Cakep kaya ibunya," ucap Heru menatap bayi yang ada di ranjang.
Heru mengangkat bayinya dan menggendongnya, Liana yang melihat itu hanya diam dan tersenyum kecil. Melangkahkan kakinya kearah Heru, melingkarkan tangannya di pinggang Heru dan meletakkan kepalanya di bahu Heru.
"Mirip kamu juga," ucap Liana menatap bayi mereka.
Heru menatap Liana sekilas, mencium bibirnya lembut dan kembali fokus pada bayi mereka.
"Kalau begini aku jadi pengen punya anak lagi dari kamu," ucap Heru membuat Liana mencubit pinggangnya.
"Mungkin satu lagi nggak masalah, nanti kita atur waktunya kapan buat kasih dia adik."
Tamat.
Resti, wanita usia 28 tahun. Kehidupannya sangat agamis, menggunakan pakaian tertutup dan pastinya keluarga harmonis. Semua berubah sejak kehadiran Tigor.
Tigor, tukang sayur usia 50 tahun. Pertemuan mereka terjadi saat Ratih belanja, Tigor yang selalu keliling menjajakan dagangannya bertemu dengan Ratih.
Kedekatannya dengan Tigor tidak sengaja, Tigor yang perhatian membuat Resti masuk kedalam perangkapnya. Mereka memiliki keyakinan berbeda, tapi tidak membuat hubungan mereka terganggu. Keluarga Tigor sudah menerima Resti dengan tangan terbuka, membuat Resti melupakan statusnya dan dosa.
"Oughh...Bang...lebih dalam..." Resti mengerang saat merasakan penis Tigor mengocok vaginanya.
"Memek kamu enak, Sayang." Tigor melumat payudara Ratih dengan kasar.
"Oughhh...kontol kamu buat aku ketagihan, Bang...oughh....ahhh..." Resti meremas rambut Tigor.
"Lonte memang kamu...lonte nikmat...besar mana kontolnya sama suami?" Tigor mendorong sampai dalam.
"Ahhh...abang...enak abang...oughh....aku memang lontenya abang." Resti meracu tidak jelas.
Tigor mendorong semakin dalam penisnya, Resti mengangkat tubuhnya akan mencapai klimaksnya. Tigor yang bisa merasakan Resti mencapai klimaks mempercepat gerakan penisnya, dinding rahim Resti sudah menjepit penisnya tanda akan mencapai klimaks.
"Aku mau keluar...." Resti mengerang.
"Aku juga keluar...."
"Ahhh...." teriak mereka berdua.
Tigor langsung melumat payudara Resti, mendorong penisnya semakin dalam dan semprotan spermanya berkali-kali keluar. Resti membelai rambut keriting Tigor dengan pelan, melepaskan penyatuan mereka dan melumat bibir Ratih lembut sebelum berakhir mencium perutnya.
"Cepat tumbuh anakku, aku nggak sabar kaya siapa anak kita." Tigor menatap lembut Resti.
"Abang bisa aja, pastinya kaya kita." Resti menarik Tigor mendekatinya.
Melumat bibirnya pelan, tangan Resti membelai penis Tigor pelan. Tigor menghentikan gerakan tangan Resti dan juga ciuman mereka, menatap bingung dengan apa yang Tigor lakukan.
"Sayang, mamak mau datang." Tigor berkata lembut "Mamak mau cepat-cepat jadikan kamu mantu, katanya bujang lapuk ini akhirnya ada yang mau."
"Tapi aku kurang, Bang." Resti memberikan tatapan memohon.
Mendorong tubuh Tigor menjadi berbaring, Resti memegang penis Tigor yang masih berdiri, memasukkan kedalam vaginanya langsung tanpa pemanasan. Tigor hanya tersenyum melihat keliaran Resti, padahal diawal sangat susah mendapatkannya.
Flashback On
"Sayurnya, Neng." Tigor menatap Resti sedang bersama putrinya.
Resti yang menggunakan pakaian tertutup, tidak bisa menutupi bentuk tubuhnya dan Tigor membayangkan sesuatu didalam pakaian itu. Tatapan mereka bertemu, senyum tipis yang Resti berikan membuat Tigor membeku. Belum pernah menikah sampai usianya sekarang, bukan tidak laku tapi Tigor tidak mau menjalin hubungan karena trauma dan memutuskan melajang. Tidak ada wanita yang menyukai dirinya, memiliki kulit hitam, rambut keriting dan satu lagi badannya yang tidak tinggi selayaknya pria pada umumnya. Tigor memang tidak menarik perhatian para wanita, pastinya Resti juga sama tidak akan tertarik pada Tigor.
"Melamun aja, Bang." Resti menegur Tigor yang membuatnya tersadar jika wanita itu ada dihadapannya "Melamun apa?"
"Kamu." Tigor menjawab langsung, seketika dapat dilihat pipi Resti yang memerah.
"Abang, bisa aja." Resti menggelengkan kepala seakan menghilangkan kegugupannya.
Mereka semakin dekat, saling bertukar cerita satu sama lain. Tigor menjadi pendengar terbaik, saling bertukar nomer dan mengirim chat. Hal yang tidak di duga oleh Tigor adalah Resti mengirim foto telanjangnya, tapi tidak berlangsung lama karena langsung dihapus, untungnya sudah disimpan oleh Tigor.
"Aku mau hamil lagi, Nana sudah minta adik, tapi suamiku sibuk melulu." Resti bersandar pada bahu Tigor.
"Aku aja yang hamili kamu." Tigor berkata lembut.
"Abang, jangan ngarang deh." Resti memukul paha Tigor pelan.
"Sakit, Sayang." Tigor membelai pahanya pelan.
Mereka sudah saling bergenggaman tangan satu sama lain, setiap melihat tangan mereka bertautan membuat Tigor tersenyum dalam hati. Sangat kontras, kulit mereka berdua dimana Resti putih dan Tigor hitam. Perhatian Tigor membuat Resti perlahan membuka diri, genggaman tangan ini juga berlangsung lama. Resti dengan terbuka membenarkan Tigor menggenggam tangannya. Banyak hal yang berubah dalam hubungan mereka, salah satunya adalah ciuman bibir yang dilakukan sembunyi-sembunyi.
"Bang, kalau aku hamil anak kamu benar nggak papa?"
Flashback Off
"Oughh...Bang...enak, Bang...." Resti menjerit keras saat menaik turunkan tubuhnya dan menggoyang pantatnya.
Tigor hanya diam melihat apa yang Resti lakukan, tangannya meremas payudara dan mencubit putingnya keras. Teriakan Resti membuat Tigor akhirnya mengikuti apa yang dilakukannya, mengangkat tubuhnya membuat penisnya semakin masuk kedalam.
Mereka terus bergerak, suara erangan dalam kamar kecil di rumah Tigor terdengar keras. Tigor beruntung menyewa rumah yang jauh dari tetangga, membuat mereka bebas melakukan segala macam termasuk kegiatan panas ini.
"Oughhh...Bang...ahhh..." Resti menurunkan kepalanya dan melumat bibir Tigor.
"Aku mau keluar, sayang." Tigor menarik tubuh Resti semakin dekat dengannya dan penisnya masuk semakin dalam.
Cairan keluar dari mereka berdua, Resti bersandar pada bahu Tigor setelah pelepasan keduanya. Tigor membaringkan tubuhnya dengan Resti berada diatasnya tanpa melepaskan penyatuan mereka berdua.
"Kalian masih begituan?" suara mamanya Tigor membuat Resti menatap kearahnya.
"Bang Tigor enak jadi aku lupa diri, Mak." Resti menatap tidak enak.
"Ya sudah, mamak pergi aja kalian buruan buatin mamak cucu. Mamak kan mau punya cucu dari Tigor, masa udah 50 belum punya anak, setidaknya ada yang menjadi penerus keluarga ini."
"Ini lagi usaha buat cucu, Mak." Tigor menatap malas pada mamaknya yang tersenyum menggoda.
"Mamak pulang."
Resti menatap kepergian mamaknya Tigor dalam keadaan masih diatas tubuhnya dan penis yang berada didalam, rasanya malas melepaskan penyatuan mereka berdua.
"Abang, masih ingat janji ke aku?" tanya Resti membuat Tigor menatap bingung. "Abang akan bawa aku pergi dari sini dan kembali ke tempat abang?"
"Ah...itu...tapi bukannya kalau kamu bercerai dan hamil?" tanya Tigor mencoba mengingat.
"Abang siapin semua, kalau bisa secepatnya karena aku sudah bercerai dan hamil anak abang."
Tbc