Seorang lelaki berlari di tengah jalanan di antara rumah-rumah bertingkat, dari tangannya mencekam kekuatan dahsyat, membekukan semua yang disentuhnya. Hingga orang-orang di kota tersebut tunggang-langgang tampak ketakutan. Dia mengamuk sejadi-jadinya, berteriak-teriak seperti kesakitan. Saat ini dia tak dapat mengendalikan kekuatan juga dirinya sendiri.
“Bunuh! Bunuh! Bunuh!” Suara berat terus menerus bergema di kepalanya, seolah-olah dia dirasuki sesuatu.
“Aaaaa!” Suara teriakan orang-orang yang sedang berlarian semakin membuatnya tak terkendali.
“Monster! Dasar Pembunuh!” Suara di benaknya semakin bersahutan. Kini dia mencoba menutup telinga, tapi tetap saja gema-gema itu masih tetap terlintas.
Tak berapa lama semua suara tiba-tiba hilang dan kota seketika menjadi sunyi. Lelaki berambut hitam itu melepaskan tangan dari telinga, lalu memandang kakinya membeku yang seketika menjalar keseluruh tubuh.
“Hei! Tukang Tidur, bangun!”
Lelaki berbaju pasien itu beranjak sembari terkejut, kemudian segera terduduk di sisi tempat tidur saat dia menatap gadis di depan wajahnya persis. Gadis yang membangunkannya dari mimpi buruk.
“Pasti kau bermimpi.” Gadis itu memasang wajah kasihan, kemudian menggeser kursi, duduk tepat di hadapan. “Syukurlah kamu tidak mati, kamu sudah tertidur dua hari.” Dia memiringkan kepala memasang wajah manis.
Peluh memenuhi kening yang tak tertutup rambut, lelaki itu terdiam sembari menyekanya, raut mukanya tampak terguncang. Kini dia semakin tegang hingga tak bergerak sedikit pun kala wajah gadis dengan mata indah itu berada sejengkal di depan.
“Sudah puas lihatnya.” Gadis itu melotot.
Lelaki berambut cepak itu tak berkata apa-apa. Dia langsung memalingkan muka. Tak lama kemudian dia memegang kepala yang mulai terasa sakit. “Aaaaahhhhhh!” Sekarang dia berteriak kencang, sambil memegang erat kepala. Sekelebat dalam pikirannya seperti melihat beberapa bayangan orang memakai masker dan baju serba putih sedang menatap tepat ke arahnya.
Dengan cemas gadis itu bergegas mengambil sesuatu dari laci meja di samping, kemudian meraih kapsul plastik. Sesegera mungkin dia memberikan dua butir obat ke tangan lelaki itu.
Tanpa pikir panjang lelaki itu telan bulat-bulat obat tersebut tanpa air. Kini kepalanya mulai tenang, kemudian tangannya perlahan turun.
“Setidaknya obat ini bisa membuatmu tenang.” Gadis berambut hitam dengan gaya diikat satu ke belakang serta berwajah cantik itu mengangkat satu alis heran sambil memegang wadah obat.
Pandangan lelaki itu menelaah wajah Gadis di depannya sambil mengernyitkan dahi seakan bertanya, siapa gadis yang ada dihadapanya sekarang?
Gadis itu menyadari bahwa dia belum memperkenalkan diri. “Aku Maki, yang bertanggung jawab mengobatimu. Panggil saja Maki.” Tangannya terulur sembari tersenyum, memampangkan lesung pipi yang membuatnya tampak manis.
Lelaki itu segera berjabat tangan dengan Maki. Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan menyentuh tangan gadis cantik di hadapannya itu. “Aku Shin. Kamu bisa memanggilku Shin. Terima kasih telah menolongku.” Sambil tersenyum, Shin mengabaikan rasa sakit kepalanya yang masih terasa.
Lelaki sedikit pemalu itu bergegas beranjak dari tempat duduk karena tak mau tampak lemah di hadapan gadis yang telah menolongnya.
Namun, suara keras mengalihkan perhatian keduanya. Mereka terkejut, lalu menatap satu sama lain. Itu bunyi bangunan roboh berserakan seperti telah diledakkan oleh bom. Suara keras tersebut tak jauh dari tempat mereka. Dari luar jendela orang-orang pun terdengar mulai berlarian.
Tanpa permisi seorang gadis berbadan tinggi membuka pintu dengan kencang. Sesaat kemudian dia cepat-cepat menghampiri Maki.
“Apa yang terjadi, Kasumi?” Maki tampak cemas. Kasumi segera membisikan sesuatu pada Maki.
“Ada ap ….” Shin mengernyitkan dahi, belum sempat melayangkan pertanyaan, tapi Maki dan Kasumi sudah berlari, lalu lenyap di ambang pintu.
Tanpa berpikir panjang Shin bergegas bermaksud menyusul. Namun, setelah keluar ruangan matanya menangkap ada tangga ke bawah.
Kali ini Shin telah memakai baju hitam lengan panjangnya, dia telah berada di lantai bawah, tapi sudah tidak ada siapa-siapa di sana hanya tersisa botol bekas minuman di meja beserta bungkus makanan. Tampak kacau seperti sudah mengadakan pesta.
Gemuruh ledakkan menggema lagi. Dahi Shin mengernyit, kali ini terdengar jauh dari tempatnya sekarang. Dengan cepat dia bergegas membuka pintu keluar, matanya menyipit sekejap sebab cahaya terang.
Sekarang Shin sudah berada di jalanan sambil kebingungan. “Ke mana perginya Maki?” ucapnya sambil menatap asap-asap hitam mengepul terhalang bangunan-bangunan berlantai dua. Dari sana orang-orang berlarian, mereka sedang menghindar dari sesuatu.
Beberapa ledakkan menggema, lalu dari arah lain asap hitam membludak. Kepulan itu kini cukup jauh dari tempatnya berdiri. Shin langsung melesat secepat mungkin menghampiri asal suara.
Sesampainya di tujuan, Shin memandang banyak reruntuhan rumah, anehnya dia melihat banyak pohon yang daun-daunnya memunculkan asap hitam. Sekarang benaknya bertanya-tanya. “Mengapa tempat ini menanam pohon seperti itu, dan daun-daunnya mengeluarkan asap?”
Selesai mengamati daerah tersebut, Shin kembali berlari, kemudian sampai di perbatasan. Pandanganya segera menyusuri sekitar. Terlihat gapura serta pintu gerbang yang menempel pada benteng tinggi besar telah hancur berkeping-keping, sepertinya ada yang menembus pertahan tempat itu. Di sana cuman tersisa papan yang tergelak di tanah bertuliskan ‘Desa Gin’.
“Sudah pasti ini ulah Maou.” Raut wajah Shin tampak sangat kesal tampak dari kepalan tangannya. Sekarang pikirannya tahu semua ledakan itu perbuatan siapa karena dari tadi dia dapat merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
“Bagi yang masih di luar segera ke tempat evakuasi!” Terdengar jelas sebuah pengumuman dengan pengeras suara.
Sembari tetap berdiri di sana menunduk, tangannya masih mengepal sangat kesal. Shin kini tahu siapa pohon-pohon tersebut.
Membuang rasa kesal Shin teringat pada Maki, dari tadi dia belum menemukannya. Ketika akan melangkah, Shin tiba-tiba berhenti karena mendengar ada yang memanggil namanya. Dia langsung tahu suara tegas siapa itu.
“Shin, sebelah sini!” Dari kejauhan Maki memanggil sambil melambaikan tangan, kemudian berusaha muncul dari batu tempat persembunyiannya.
Maki segera berlari melewati bebatuan berniat menghampiri Shin, tapi dia langsung berhenti di sana, lalu menunduk di hadapan satu pohon berasap.
Kali ini Shin mendekati ke sana. Dia menatap gadis itu sedang menggenggam tangan sembari mendoakan pohon tersebut. Shin tiba di samping Maki.
Gadis berambut hitam itu bangkit, tak mengeluarkan kata-kata sedikit pun. Maki segera menghapus air mata yang sempat akan menetes.
Mulut Shin mendadak kaku saat melihat Maki menangis, bahkan saat ini dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Selama ini dia tak pernah berhadapan dengan situasi seperti itu, apalagi jika gadis itu sedang menangis. Kini dia tak tahu mesti berkata atau berbuat apa.
“Kita harus segera ke tempat evakuasi. Pasti banyak warga yang butuh bantuan di sana.”
Maki mengejutkan Shin yang dari tadi melamun menatap wajahnya. Dengan segera dia berbalik dengan wajah datar, kemudian mengajak Shin bergegas berlari mengikuti.
Shin pun membuntuti dari dengan benak yang campur aduk. “Pasti perasaannya sangat hancur,” gumamnya.
Mereka berdua telah melesat meninggalkan tempat itu naas itu.
-Bersambung-
“Bagi setiap warga desa segera ke tempat evakuasi.”
Gadis dan lelaki itu masih melayangkan langkah di jalanan desa, melewati pohon-pohon juga beberapa rumah yang telah hancur.
Tampak wajah Maki semakin sendu sambil terus-menerus menghapus air mata yang hendak mengalir.
Shin tetap tak dapat berkata apa-apa, sekarang dia hanya mengekor kemana Maki pergi. Shin memandang rumah tempat terbangunnya tadi, lalu melewatinya, pintu rumah itu masih terbuka karena dia lupa menutupnya.
“Tujuan kita ke sana.” Maki menunjuk memberi isyarat.
Tatapan Shin tepat pada semacam tembok besar yang persis dengan benteng perbatasan desa. Itu adalah dinding kedua yang berada di pertengahan desa, biasanya disebut pusat desa yang dijadikan sebagai tempat evakuasi warga setempat, jika sewaktu-waktu ada serangan dari Maou ataupun bandit. Namun, kini ketakutan itu terjadi, benteng tebal yang sudah mereka bangun menyelubungi desa, kini dapat ditembus dengan begitu mudah.
Kini mereka sampai di depan gerbang yang tingginya mencapai delapan meter. Gerbang langsung terbuka karena penjaga tahu siapa yang akan masuk. Ada beberapa orang penjaga bersenjata di atas dinding tengah desa itu, juga beberapa penjaga yang memakai Nah elemen mereka untuk memperkokoh pondasi.
Gadis yang masih berjas dokter dan bercelana jeans itu bergegas lari ke bangunan besar yang di depannya tertulis “Balai Desa Gin”. Benar saja setelah Maki ke dalam, matanya mendapati banyak orang terluka.
Kaki Shin berhenti membuntuti, tetap menunggu di luar. Dia tidak mau menemui orang-orang yang terluka karena masih merasa trauma dengan mimpinya yang menghancurkan kota.
Pikiran Shin mulai menerka, kota mana yang sempat dia hancurkan? Karena ada beberapa nama kota yang dia ingat, contohnya Kota Daiyamondo, itu adalah kota peringkat kedua. Di sana banyak warga kaya yang hanya mementingkan harta sampai rela melakukan apa saja demi harta. Diperingkat pertama ada Kota Rubin yang di dalamnya terdapat panglima-panglima Monster Hunter yang kuat dan orang-orang yang kekayaannya di atas rata-rata serta terdapat tempat eksperimen di dalamnya, kota itu juga didirikan sebagai benteng Raja. Yang paling atas ada Pemerintahan Pusat yang ditempati oleh Pemerintahan serta sebagian besarnya terdapat orang-orang yang juga licik, dari sana mereka mengatur semua kota sampai ke pelosok-pelosok desa.
Shin dari tadi bolak-balik mendekati pintu seperti orang kebingungan. Maki sudah satu jam belum muncul dari Balai Desa. Kini lelaki berbaju lengan panjang itu semakin ragu untuk masuk atau tidak, tapi kali ini dia ingin memaksakan ke dalam meski harus merasakan trauma. Saat tangannya sejengkal lagi akan menyentuh gagang pintu dia terkejut karena pintu telah dibuka dari dalam.
“Shin, kenapa? Ayo masuk, aku perlu bantuanmu.” Maki menyodorkan kepala dari balik pintu tanpa mengeluarkan badannya.
Raut muka Shin semakin bingung. Dia langsung menundukan kepala.
“Ayolah jangan malu-malu.” Maki muncul, segera menarik tangan lelaki itu.
Shin tak akan mungkin melawan.
Sekarang mereka di dalam. Shin menatap banyak yang terluka, tapi semuanya tidak ada yang sampai parah. Ada yang berbaring di kasur mereka, ada juga orang yang sedang diobati oleh perawat. Trauma Shin tak muncul.
Maki terus menarik Shin hingga tiba di sebuah ruangan, di sana banyak sekali tabung-tabung kaca yang berisi cairan berwarna-warni. Shin juga melihat banyak benda aneh di dalam beberapa tabung. Dia penasaran, kemudian mendekati salah satu, tangannya hendak menyentuh benda bulat itu.
“Kalau jadi kau, aku tak akan memegangnya,” seorang pria tua bicara dari balik tabung.
Tangan Shin mengurungkan niatnya.
“Prof, perkenalkan dia, Shin.” Maki menunjuk.
“Shin, perkenalkan ini, Prof. Yamato.” Maki sudah berada di samping pria tua itu.
Shin dan Profesor segera berjabat tangan.
“Ada yang ingin kuperlihatkan kepada kalian.” Prof. Yamato memberi isyarat untuk membuntutinya.
Ketiganya masuk ke Ruang Penelitian yang masih berada di satu ruangan yang sama. Di dalamnya terdapat lebih banyak benda-benda aneh, tapi tersimpan di dalam lemari es yang pintunya dari kaca, membuat udara di sekeliling terasa dingin.
“Coba kalian lihat.” Prof. Yamato ingin menunjukan sesuatu di balik mikroskop.
Maki mendekatkan mata ke alat tersebut, lalu menerawang ke dalamnya. Setelah itu dia hanya mengangguk pada Profesor.
Jiwa penasaran Shin berkobar, dia juga langsung melihatnya, lalu setelah selesai wajahnya malah kebingungan. Dia tidak tahu itu apa, yang tertangkap hanya bulatan-bulatan kecil bergerak. Dia tidak tahu apa-apa tentang itu karena sebelumnya tak pernah belajar penelitian.
“Aku sudah tahu siapa yang menyerang desa. Bandit itu pasti suruhan dari Pemerintah Pusat.” Maki mengepalkan tangan, memanas.
Dari tadi Shin sudah tahu, tapi dia hanya ikut mengangguk. Dia memandang Maki tampak sangat marah, terlihat dari wajahnya menjadi masam.
“Prof, sebenarnya itu apa?” Shin berniat mengalihkan suasana.
“Itu adalah sel-sel yang aku ambil dari sisa serangan tadi,” jawab profesor jelas.
Maki mendekati Profesor, kemudian membisikan sesuatu padanya. Prof. Yamato menatap Shin serius.
Telinga Shin tak dapat menangkap apa yang mereka bicarakan. Begitu Maki selesai berbisik-bisik dengan professor, pria tua itu langsung menghampirinya.
“Kau ikutlah denganku.” Prof. Yamato melangkah. Shin segara mengikuti.
“Aku tidak ikut dengan kalian, masih banyak orang yang harus diobati.” Maki bergegas ke arah sebaliknya.
Shin masih membuntuti Prof. Yamato ke sebuah lorong. Dia menatap pria tua di depannya itu melambaikan tangan menyapa orang-orang yang dilewati. Shin melontarkan senyum pada mereka berniat sama, tapi mereka malah memandangnya sinis. Muka Shin tidak peduli karena merasa bahwa masih baru di sana. Jadi, orang-orang belum mengenalnya.
Pria berpakaian putih itu berhenti di sebuah ruangan bertuliskan “laboratorium 2”. Profesor masuk, juga diikuti Shin. Mereka melewati benda-benda aneh persis dengan yang tadi. Mereka segera ke raungan lain. Profesor bergegas menghampiri lemari besar..
“Lihatlah ini.” Prof. Yamato menarik salah satu laci besar lemari tersebut.
Ada mayat seorang laki-laki dengan perawakan tinggi. Kini Shin merasa heran sembari mendekat pada Profesor yang sudah berada di sebelah mayat.
“Coba kau lihat ini, apa ada yang aneh?” Profesor menunjuk mayat tersebut dengan sorot matanya.
“Menurutku tidak ada yang aneh,” jawab Shin sambil menelaah mayat itu.
“Coba kau sentuh.”
Shin mulai menggerakan tangan, lalu menyentuh bagian dada mayat tersebut. Seketika muncul sedikit sinar dari bagian kulit yang bersentuhan, seperti ada aliran listrik yang menyetrum. Shin pun mengerjap, dan kebingungan dengan apa yang terjadi barusan.
“Dugaanku selama ini benar. Manusia dengan kekuatan dari sebab yang sama, bila bersentuhan akan terjadi reaksi,” ujar Profesor gembira, tidak memperdulikan perasaan yang dirasakan lelaki di depannya.
“Maaf, Shin, aku terlalu bersemangat.” Prof. Yamato merasa tak enak.
“Tidak apa-apa, Prof itu memang benar.” Shin tak ingin mematahkan kegembiraan Profesor.
“Apa sebelum melihat mayat ini kau merasa ada yang aneh dengan perasaanmu?” Profesor langsung bertanya.
“Iya,” jawab Shin singkat.
“Aku harus membicarakannya dengan tim.” Profesor menutup kembali laci besar tersebut dan berjalan ke ambang pintu.
Sementara Prof. Yamato telah meninggalkan ruangan itu, Shin masih berdiri disana memikirkan yang terjadi tadi. Dia belum dapat menyimpulkan semuanya. Juga, apa yang akan Profesor bicarakan dengan timnya?
-Bersambung-
“Hei, rupanya kau masih di sini. Apa kamu sedang mencariku?” sapa Maki sembari mendekati Shin yang celingak-celinguk di lorong.
“Ti-tidak juga.” Shin menggeleng, tapi wajahnya memerah.
“Kita harus segera ke ruang rapat.” Maki buru-buru mengajak.
Setibanya di ruangan yang berhiaskan poster-poster berita serta peta-peta yang telah ditandai, Shin dan Maki segera duduk di kursi yang telah disediakan.
Tidak banyak orang di ruangan itu, hanya ada Kasumi, Prof. Yamato, Maki, Shin, dan lelaki berkulit putih dengan mata sipit yang dari tadi memandang Shin sinis.
“Jadi, namamu Shin.” Lelaki itu menatap tajam.
“Kau benar. Siapa ....”
Lelaki itu langsung memalingkan wajah, tak menanggapi.
“Baiklah, tidak masalah.” Shin tak peduli.
“Namanya Yoshi,” bisik Maki.
“Sebelum kita mulai, alangkah baiknya bila mendoakan dulu saudara-saudara kita yang telah gugur.” Profesor Yamato telah berdiri di depan. Dia yang akan memimpin jalannya pertemuan, sekaligus yang juga memulai pembicaraan lebih dulu.
Prof. Yamato menjelaskan dengan rinci penemuannya. Orang-orang di ruangan itu memperhatikan dengan saksama.
Penjelasan itu sangat rinci sampai membuat Shin serasa dibacakan dongeng, tapi dia berusaha menahan kantuknya yang sudah menjalar.
“Jadi kesimpulannya.” Prof. Yamato sudah sampai di akhir pembicaraan. “Kita bisa meminjam kekuatan Shin untuk merebut benteng kota, selain dia mempunyai kekuatan es, dia juga bisa memakai Nar.” Prof. Yamato melihat tajam. Dia tahu semua hanya dari satu kali penelitian saja.
Semua menatap Shin. Maki tersenyum, memperlihatkan lesung di pipinya. Kasumi dan Yoshi menatap dengan ekspresi ragu seakan tidak percaya padanya.
“Apa dia dapat dipercaya?” ucap Yoshi dingin.
“Aku yakin, Shin, orang baik,” timpal Maki serius. “Hanya saja dia belum bisa mengendalikan kekuatannya,” lanjutnya.
Ruangan itu kembali ke suasana rapat. Mereka semua berhenti memperdebatkan Shin yang dari tadi seperti terpojok, tapi ada Maki yang membelanya.
Kini giliran Kasumi yang maju ke depan selaku Divisi Evakuasi. Dia segera bicara, “Tadi, dalam beberapa menit Divisi Pasukan yang berada di garis depan hampir semuanya tidak tertolong.” Kasumi menunduk.
“Seperti yang tadi dijelaskan Prof bahwa dari hasil tes, yang menyerang desa ini adalah suruhan dari pemerintah. Saya sudah melihat bahwa ada semacam sel baru yang dimana sel itu buatan Pemerintahan Pusat. Mereka membuat eksperimen baru pada manusia atau lebih tepatnya pada bandit-bandit yang mau bekerja pada orang-orang licik itu. Sekarang ada banyak warga desa yang terluka dan butuh pengobatan. Kami dari Divisi Evakuasi berhasil mengobati semua warga desa. Namun tidak bisa menyelamatkan mereka yang berada di garis depan.”
“Aku yakin serangan ini hanya peringatan dari pemerintah karena mereka sudah mengetahui bahwa Kelompok Pemberontak ada di desa ini, tapi saya yakin, jika kelompok kita akan menang melawan orang-orang licik itu.” Dia tersenyum memberi semangat, lalu kembali duduk.
“Kita lanjutkan besok.” Prof. Yamato segera menutup pembicaraan dengan singkat, supaya tidak terjadi lagi perdebatan.
Maki dan Shin masih duduk di kursi mereka masing-masing.
Shin memikirkan bagaimana cara dia dapat mengendalikan kekuatannya. Sekarang dia menelaah tangannya, kemudian berusaha menarik lengan bajunya ke atas.
“Jangan lakukan itu atau akan terjadi masalah besar.” Maki yang memperhatikan, tiba-tiba memperingatkan.
Sontak Shin menengok. Mata gadis itu sudah sedikit melotot. Tangannya segera mengurungkan niat.
“Aku tahu kamu harus berlatih pada siapa.” Maki beranjak dari tempat duduk.
Sebelah alis Shin terangkat.
“Sudah malam, kamu kembalilah ke rumah. Besok pagi kita bertemu di gerbang perbatasan desa,” papar Maki sambil meninggalkan ruangan.
---
Kelompok Monster Hunter terbentuk pertama kali karena terjadi pemberontakan pada saat orang-orang licik menguasai pemerintahan pusat. Mereka tidak hanya memberantas Maou, tapi juga memberantas penjahat berseragam. Dalam kelompok Monster Hunter tidak ada yang namanya pimpinan karena bila masuk pada kelompok ini semua dianggap keluarga. Hanya saja akan diukur dari tingkat kekuatan. Jika kekuatannya meningkat pesat, maka akan disebut Panglima. Setelah bertahun-tahun baru ada dua orang yang berhasil mencapai tingkatan tersebut.
Monster Hunter mulai mengikuti pemerintah saat salah satu Panglima berkhianat demi mendapat harta. Dia mau mengajarkan orang-orang pemerintah bagaimana cara meningkatkan kekuatan mereka. Oleh sebab itu perang besar terjadi. Monster Hunter pun kalah, kemudian nama itu diambil alih oleh Pemerintah. Sehingga pada saat itu juga, semua yang tidak mengikuti Pemerintahan dibunuh.
---
Shin buru-buru melangkah. Dia akan terlambat menemui Maki di gerbang desa.
Maki telah menunggu hampir sepuluh menit di sana, tapi gadis itu tidak sendiri, dia ditemani seorang lelaki, itu Yoshi dari Divisi Pasukan.
Saat penyerangan terjadi Yoshi sedang melaksanakan misi. Jika ketika itu dia ada, mungkin Divisi Pasukan akan selamat, karena kekuatan Yoshi sudah berada di tingkat Panglima awal. Namun, dia tidak mau menyandang gelar itu.
“Kau terlambat.” Yoshi langsung melemparkan kata-kata dingin.
Gerbang desa sudah selesai diperbaiki. Papan yang kemarin tergeletak di tanah sekarang sudah menempel lagi di tempatnya semula.
Kini mereka telah di luar gerbang desa. Maki memeriksa lagi tas selempangnya yang penuh dengan alat medis dan sedikit persedian makan, sedangkan Yoshi membawa peralatannya. Sementara itu Shin hanya membawa tas selempang kecil miliknya yang selalu dia bawa kemana-mana.
“Kita harus bergegas jangan sampai bermalam di hutan. Menurut informasi, hari ini di dalam hutan banyak Maou yang bersembunyi, kita tidak bisa memakai kendaraan karena suaranya akan mengundang mereka,” saran Maki sambil melihat jam tangan.
Saat mereka akan berangkat, tiba-tiba pintu gerbang terbuka sedikit. Mereka lantas melirik ke belakang.
“Tunggu. Apa kalian melupakanku?” Prof. Yamato tergesa-gesa muncul dari balik gerbang.
“Ternyata ada yang lebih terlambat dari lelaki ini.” Yoshi menunjuk Shin dengan sorot mata.
Mereka melangkah menyusuri jalan setapak, lalu masuk ke hutan yang dipenuhi pohon-pohon hijau besar. Jalanan mulai tak tampak karena tertutup daun-daun yang berserakan, tapi Maki tahu harus berjalan ke arah mana. Dia membawa benda keberuntungannya, kompas pemberian mendiang ayahnya. Kini jarumnya menunjuk utara. Shin, Yoshi, dan Prof. Yamato membuntuti dari belakang. Mata Maki tak lepas dari jarum kompas, tapi sesekali dia melirik jalan di depannya.
“Pohon apa ini?” tanya Shin sembari menengadah.
“Kalau tidak salah sesudah pohon besar ini, kemudian ke arah sana,” gumam Maki pada diri sendiri sambil menunjuk arah.
Shin terpaku menatap pohon besar itu dari bawah sampai ke atas. Dia belum pernah melihat pohon besar dan menjulang itu.
“Kau akan kami tinggalkan!” seru Yoshi sinis.
Sementara itu, Maki tetap fokus mencari jalan.
“Berhenti.” Lelaki sipit itu merasakan sesuatu. Yoshi mempunyai pendengar yang tajam. “Sepertinya ada yang mengikuti kita.” Dia mengamati sekitar.
“Apa kau merasakan sesuatu, Shin?” tanya Profesor.
Mereka memandang Shin. Dia segera menggeleng..
Seketika dari semak-semak ada yang menyambar Prof. Yamato dengan lincah. Tiga orang lainnya menampakkan diri dari balik pohon.
Yoshi, Shin, dan Maki segera bersiaga karena kini musuh menyandera Profesor dengan menodongkan senjata tajam.
-Bersambung-