"Yaelah bang! Tolong banget ini mah. Gue cuma ke luar negeri dua minggu buat kerjaan, masa nggak dibolehin sih?!"
Perempuan dengan surai panjang dan legam itu berbicara dengan suara tinggi kepada seorang laki-laki yang lebih tua lima tahun darinya.
"Dua Minggu itu bukan waktu yang cepet, Salju! Itu lama banget!" Kakak dari perempuan bernama Salju itu tidak kalah protes kepada adiknya yang sangat keras kepala.
Nyatanya, mereka berdua sama-sama keras kepala dan tidak akan mudah untuk saling mengalah.
"Duh, bang! Ini kan urusan kerjaan! Gue mulai ini bisnis dari nol! Kalau meeting ini batal, gue bisa rugi jutaan dollar! Tolonglah, bang. Pikirin karyawan-karyawan gue mau digaji apaan? Masih banyak di antara mereka yang anak-anaknya masih kecil, masih banyak tanggungan, lagi nabung buat modal nikah, lo kaga kasian sama mereka?" Salju menunjukkan proposal yang ada di atas meja sambil terus bersuara lantang sekaligus serak, ia sudah berdebat dengan kakaknya selama kurang lebih dua jam.
"Iya, oke. Gue tau, Salju. Gue ngerti kok, mulai dari lo rintis bisnis ini gue bangga banget. Lo juga bilang soal karyawan dan dengan segala permasalahannya. Iya, gue ngerti." Michelle Sean. Sosok berkulit cerah itu mengangguk takzim mendengar pernyataan Salju yang sudah sangat memohon izinnya. Dalam hati, ia merasa kasihan kepada adik bungsu yang menjadi satu-satunya kerabat yang ia miliki.
Mendengar pernyataan sang kakak, Salju merasa sedikit tenang. Namun, ia belum bisa bernapas lega sebelum paspor miliknya benar-benar sudah ia genggam sendiri. Selama ini, hampir semua identitas milik perempuan itu dikendalikan oleh Sean. Kecuali kartu identitas pribadi dan surat izin mengemudi.
"Tapi, lo tetap nggak diizinin."
Ucapan singkat itu membuat Salju menjatuhkan diri ke atas sofa secara kasar. Ia benar-benar membuang tenaga berdebat dengan kakak sulung yang tidak akan pernah mengalah dalam perdebatan.
Tapi, bukan Salju namanya jika tidak pandai bernegosiasi. Kakaknya akan terus bersih kukuh dalam pendiriannya, namun Salju akan membuat negosiasi yang mungkin sedikit berisiko untuk dirinya sendiri.
"Oke. Fine!" Perempuan bersurai panjang itu kembali duduk dengan tegap, ia menghadap ke arah sang kakak yang sudah siap dengan sesi negosiasi di antara mereka. "Gue akan melakukan apapun yang lo mau, asalkan gue bisa pergi ke luar negeri untuk pertemuan bisnis ini. Please! Cuma ini kesempatan gue biar bisa balik modal, abang sayang!" Salju memelas, ia bersimpuh di depan kakaknya sambil menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Oke. Mungkin ada satu cara yang bisa bikin gue percaya lo aman di luar negeri." Sean berdiri dari sofa dan membelakangi adiknya yang masih berlutut di atas karpet beludru merah. Secercah harapan dimiliki oleh Salju, ia berharap hal itu tidak terlalu merugikannya.
"Sebelumnya, gue..."
"Please, bang! Gue bener-bener yakin, apapun deh! Apapun yang lo mau bakal gue turutin, lo mau minta apapun gue kasih! Lo mau gue bikinin lapangan basket depan rumah atau ngasih wardobe gratis buat talent, artist, dancer apapun, bakal gue turutin bang! Serius!"
Mendengar keseriusan dari adiknya, membuat Sean menampilkan senyuman puas. Ia pun mengangguk sendiri dan pergi meninggalkan Salju di ruang tengah, tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Setelah Sean benar-benar pergi, perempuan yang sedang bersimpuh itu pun langsung mengangkat tubuhnya dan membaringkannya lagi ke atas sofa. Dalam hati, ia mengutuk kakaknya yang keras kepala dan sedikit posesif itu. Walaupun Salju sangat menyayangi kakaknya, ia tetap membenci moment saat harus berdebat seperti ini.
Sejak orang tua Sean dan Salju berpisah, mereka masih berusia dua belas dan tujuh tahun. Hak asuh diberikan kepada sang ayah. Namun, satu tahun kemudian ayahnya meninggal. Sean saat itu harus bekerja dan putus sekolah demi menghidupi adiknya sendiri. Ia tidak berniat untuk menemui sang ibu karena tahu ibunya terlibat perselingkuhan, yang membuat Sean membenci sosok ibunya seumur hidup.
Saat Salju duduk di bangku SMA, Sean memutuskan untuk pindah ke luar kota dan mencoba untuk mengikuti audisi. Sedangkan, sang adik berusaha untuk membantu kebutuhan finansial mereka dengan bekerja paruh waktu. Awalnya, Sean melarang hal tersebut karena khawatir pendidikan Salju akan terganggu. Perempuan itu pun memberikan pembuktian dengan menunjukkan nilainya yang selalu bagus.
Hingga Sean berhasil memasuki dunia industri musik dan Salju merintis usahanya sendiri di bidang fashion. Keduanya saling membantu dan memulihkan finansial, mereka juga semakin sibuk dalam urusan masing-masing. Sean sadar bahwa ia adalah sosok yang berperan penting dalam kehidupan Salju. Di sela kesibukan, ia berusaha meluangkan waktu untuk sekadar menanyakan aktivitas atau adik kesayangannya itu.
"Gue harap, abang gue nggak minta macem-macem. Gila aja kemaren gue diminta beliin makanan katering banyak banget, cuma buat gebetannya yang mau dateng ke rumah. Huh! Padahal itu kan sahabat gue sendiri!" Salju memijat pelan pelipisnya yang mulai pusing, mengingat banyak sekali kejadian tidak masuk akal yang diminta oleh kakaknya dalam negosiasi ini.
Belum selesai dengan isi kepalanya, Salju diganggu dengan dering ponsel di atas meja. Dengan segenap usaha, ia bangkit dan menggapai ponselnya. Kemudian, melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Namun, bukan berita baik bagi Salju saat melihat nama Park Mars tertera di sana. Ia langsung menetralkan suaranya dengan berdeham sendiri, kemudian menggeser ikon hijau pada layar.
"Halo?"
"Salju?"
"I-iya, Mars? Kenapa?" Suara perempuan itu tiba-tiba memelan saat melihat Sean keluar dari ruangan.
"Aku dan pemimpin perusahaan lain sepakat untuk buat pertemuan di Jepang. Tapi... "
"Tapi, kenapa?" Salju tidak sabar mendengar suara Mars yang menggantung di seberang sana. Seketika suasana hati perempuan itu menjadi tidak menentu. Ia sangat tidak siap kalau harus menerima kabar buruknya.
"Ah, ya. Aku nggak tau apa alasan yang pasti. Tapi, mereka sepakat untuk pertemuan di hari Kamis ini."
"What?!" Perempuan yang awalnya memelankan suaranya itu langsung berseru, membuat Mars maupun Sean yang sedang mengambil soda di kulkas terkejut.
"I-iyaa... Kalau begitu, aku telepon kamu nanti ya. Sampai jumpa." Mars menutup sambungan telepon secara sepihak. Tidak memberikan kesempatan untuk Salju mencerna apa yang baru saja didengarnya.
Hari Kamis, berarti dalam waktu dua hari pertemuan akan berlangsung. Dan perempuan bersurai panjang itu belum mempersiapkan apapun untuk kepergiannya selama dua minggu di Negeri Sakura itu.
"Abang! Abang!!" Salju langsung melompat dari sofa dan menghampiri kakaknya yang masih terpaku di depan kulkas sambil memperhatikan adiknya yang sudah memohon di hadapannya.
"Abang, please kasih gue izin buat pergi, Hari Kamis nanti gue udah harus di sana buat pertemuan bisnis, please bang, gue butuh banget izin lo sekarang, Please! Kasih tau gue sekarang, apapun yang lo mau, asalkan kasih gue izin pergi ke luar negeri, bang! Please!"
Salju terus memohon sambil menyatukan tangannya di depan dada, bahkan sesekali mengguncang tubuh kakaknya yang belum mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga suara bel rumah menghentikan permohonan brutal dari Salju dan mengalihkan perhatiannya.
"Nah, itu permintaan gue. Sekarang, lo buka pintunya, nanti gue kasih tau syaratnya." Sean menuangkan soda ke dalam gelas dengan santai, sedangkan bel masih terus berbunyi sebelum ada yang membukanya.
Salju yang merasa terdesak, mau tidak mau membukakan pintu dan ia ingin segera tahu apa yang diinginkan oleh kakaknya itu.
"Iya, seben... tar." Salju membeku saat melihat sosok yang berdiri tegap di hadapannya. Laki-laki itu tersenyum bangga ke arah Salju yang mematung, tidak percaya.
"Jay Justin?"
Pikiran Salju kembali ke masa lalu. Di mana ia dan sosok laki-laki depannya itu pernah memiliki hubungan yang cukup intens. Saat itu Salju dikenalkan sebagai adik Sean kepada seluruh anggota grup, dan laki-laki termuda dari grup itu mencintai Salju, dengan sedikit peringatan dari Sean, Salju dan Justin mulai berpacaran. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena rumor yang beredar.
"Eh, bang!" Laki-laki dengan jaket boomber hitam itu berseru saat melihat Sean, menerobos masuk ke dalam rumah, tanpa mempedulikan Salju yang masih mematung di depan pintu.
Sean melambaikan tangan. Sosok yang sudah lama sekali tidak dijumpai selama beberapa tahun terakhir itu pun menyambutnya dengan ramah.
"Ayo masuk, udah lama nggak ketemu nih, Salju kangen katanya." Sean melirik ke arah adik perempuannya yang memicingkan mata tidak suka.
"Oh ya? Gue nggak tau bang, kalau dia kangen sama gue. Emang gengsi aja kali ya? Hahaha." Tawaan itu membuat dada Salju bergemuruh. Ia sangat membenci sosok Justin yang pernah menjadi kekasihnya itu.
"Nah, itu dia. Sekarang, gue mau minta tolong sama lo." Sean duduk di atas sofa bersebelahan dengan Salju, sedangkan Justin berada di hadapan mereka berdua.
"Minta tolong apa bang? Biasanya gue yang minta tolong, kenapa sekarang lo tiba-tiba minta tolong?."
"Ah, itu mah udah biasa. Gantian, sekarang gue yang minta tolong." kata Sean.
Salju yang tidak sabar dengan obrolan klasik itu berdecak sebal dan hendak meninggalkan ruang tengah. Namun, belum ada selangkah gerakannya langsung terhenti saat Sean membuka suara.
"Mau pergi nggak?"
Crazy! Satu kalimat maut yang dikatakan oleh Sean membuat Salju mengurungkan niatnya untuk meninggalkan ruang tengah. Ia kembali duduk dengan suasana hati yang kacau. Belum lagi ia melihat wajah Justin yang tersenyum ke arahnya, semakin membuat perempuan itu jengkel.
"Gini, deh. Karena ini cewe lagi badmood banget pikirannya. Gue langsung ngomong to the point aja." Sean berbicara dengan nada serius. Membuat kedua orang yang ada di ruangan itu memusatkan perhatian padanya.
"Gue minta tolong lo buat temenin Salju ke luar negeri."
"Abang!"
"With my pleasure!" Justin langsung berdiri dan membungkuk sembilan puluh derajat layaknya seseorang yang menghormati bangsawan. Berbeda dengan Salju yang memasang raut kesal kepada kakaknya itu. Namun, Sean hanya membalas dengan tatapan santai.
"Kenapa? Lo mau pergi kan? Kalau lo mau pergi ya silakan. Tapi bareng Justin."
"Bang! Di mana-mana nih, ya. Cewe kalau pergi ya ditemenin sama temen cewenya. Kalau cewe ditemenin sama cowo, pulang-pulang malah jadi omongan tetangga!" Adik bungsu Sean itu tidak mau mengalah dengan pendiriannya. Bagaimanapun ia tidak akan pernah setuju jika harus pergi ditemani Justin. Apalagi status mantan kekasihnya itu masih dikenal oleh banyak orang.
"Iya, gue tau. Lo emang nggak akan gue kasih izin buat pergi sama cowo manapun. Kecuali Justin." kata Sean santai. Lagi-lagi ia menyebut nama Justin yang menjadi orang kepercayaannya. "Lagian juga kalian pernah pacaran, gue juga kenal deket Justin udah lama, gue percayalah sama dia. Emang lo pernah diapain sama dia? Masih aman-aman aja kan?" tambah Sean.
Salju menarik napasnya sambil memejamkan mata. Ia merasa emosinya akan meledak saat itu juga jika tidak memikirkan perjalanan bisnisnya.
"Masih ingat nggak sama kesepakatannya?" Sean dengan santai memetik buah anggur yang dibawa oleh Justin. Sedangkan, Salju berusaha keras untuk menerima permintaan konyol dari kakaknya itu. "Kalau nggak mau sih..."
"Bang, tolong banget ya!" Salju memutus ucapan Sean yang terus memaksanya memilih dua pilihan yang tidak sesuai ekspektasi. "Gue kan masih bisa pergi sama Bella. Gue juga pergi ke sana nggak mungkin sendirian. Gue ke luar negeri emang lumayan lama, tapi gue... "
"Kalau lo keberatan, nggak masalah."
Satu kalimat lagi membuat perempuan bersurai hitam itu kembali terpojok. Belum selesai ia berbicara, Sean langsung membungkam tanpa ampun. Tidak ada pilihan lain untuk perempuan itu selain menuruti keinginan kakaknya yang keras kepala.
"Oke, fine! Gue pergi sama dia." Tidak perlu menunggu tanggapan, Salju memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan mempersiapkan kebutuhan selama dua Minggu ke depan bersama mantan kekasihnya yang sangat menyebalkan itu.
---
Melihat kepergian Salju yang sudah melenggang pergi ke lantai atas, Justin tidak mengalihkan netranya sama sekali dari sosok yang sangat disayanginya itu.
Walaupun hubungan mereka harus kandas karena rumor, Justin tidak pernah memiliki hubungan khusus lagi dengan perempuan lain. Baginya, Salju sudah cukup untuk mengisi hatinya dan berusaha untuk mendapatkannya kembali.
"Jadi, gimana kerjaan lo sekarang?" Sean mengalihkan perhatian Justin. Laki-laki dengan senyuman semanis gula itu mengambil makanan yang dibawa oleh Justin.
"Ya. Nggak ada yang berubah. Sekarang, gue udah cukup puas kerja di dunia entertainment. Tapi, kak Jared bilang gue masih harus selesai dulu kontrak untuk iklan dan single terakhir."
"Setelah itu lo mau ngapain?" Sean bertanya sambil mengunyah kue yang sangat lembut. Ia bahkan menggelengkan kepalanya beberapa kali saking enaknya makanan yang dibawa oleh maknae grupnya dahulu.
"Hm... Ya, kalau dibolehin sih... " Justin mengulas senyum penuh arti. Ia merasa sedikit malu untuk mengungkapkannya. Sean yang menyadari hal itu sengaja tidak membuka mulut, pura-pura tidak tahu. "Salju gue bawa ke rumah gue aja, bang." Mendengar pernyataan itu, Sean langsung melemparkan buah anggur ke arah Justin. Keduanya saling tertawa.
"Gila lo. Mana mungkin gue ngasih Salju ke pengangguran kayak lo!" ucap Sean dengan nada bercanda.
"Haha! Jangan salah, bang. Gue nganggur tapi aset gue tetep jalan. Lancar jaya! Tujuh turunan kagak bakal abis-abis hahaha." Justin memakan anggur yang dilemparkan oleh Sean barusan.
"Hahaha. Ya, ya. Bolehlah."
Mendengar pernyataan singkat itu, tiba-tiba Justin terdiam. Ia membulatkan mata ke arah Sean yang sibuk makan makanan yang ada di atas meja, seolah ia tidak mengatakan apapun.
"Tadi... Lo bilang apa bang?" tanya Justin yang tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Gue nggak bilang apa-apa. Emang gue bilang apa?" Sean kembali melemparkan pertanyaan.
"Nggak, nggak. Tadi lo bilang boleh, itu maksudnya apa, ya?"
"Boleh? Oh... Ya, tadi gue cuma nanggepin jokes lo doang." Sean mengangguk sendiri. Sedangkan Justin merasa salah tingkah, karena ia berpikir jika laki-laki bersurai coklat itu merestui hubungannya dengan Salju.
"Tapi, gue mau kasih saran aja sih, kalau lo nikah nanti, jangan masak seafood. Gue jamin itu makanan bakal abis sekali duduk sama Salju." Ucapan Sean kembali membuat Justin terkejut. Ia masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki dihadapannya beberapa detik yang lalu.
"Wait, wait. Maksudnya gimana nih bang? Jangan bikin gue salah paham sendiri deh."
Justin mengangkat tangannya, mencoba memberikan penjelasan. Namun, Sean hanya mengangguk sambil terus mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Lo mau nikah sama Salju?"
"Jelas mau!" Justin mengangguk mantap dan yakin dengan ucapannya.
"Gue percaya sama lo. Kalau lo bisa jaga Salju tanpa kesalahan sedikitpun setelah pergi dari luar negeri, lo mau nikah besok? Gue kasih lampu ijo!"
Justin langsung berseru, ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat mendapatkan restu dari seorang yang akan menjadi wali nikahnya bersama Salju.
"Makasih banyak, bang! Gila sih ini. Gue nggak percaya bisa langsung dikasih izin sama lo, bang! hahaha."
"Eits, jangan seneng dulu, bro! Kalau nanti ada kejadian yang nggak menyenangkan dari adek gue, gue jamin lo nggak bakal ketemu Salju lagi. Paham?"
"I got it!"
Di sela pembicaraan yang sangat menyenangkan itu, dari lantai atas Salju masih dapat menguping pembicaraan keduanya yang sangat menyakitkan. Ia tertawa miris mendengar perjanjian konyol dua laki-laki yang menyebut namanya berulang kali.
"Kurang ajar, mereka berdua! Liat aja nanti, gue bakal bikin kalian kapok ngomongin gue di belakang!"
"Cantik banget." Salju yang baru saja membuka pintu kamar dikejutkan dengan suara kakaknya yang tiba-tiba muncul dari koridor. "Mau ke mana?" tanya Sean sambil menunggu jawaban dari perempuan yang mengenakan jeans panjang dan cardigan putih itu.
"Gue mau belanja. Besok gue harus berangkat ke Jepang. Gue pergi dulu."
"Eh, tunggu sebentar!" Sean menahan langkah Salju yang baru saja ingin menuruni tangga, dengan perasaan kesal perempuan itu membalikkan tubuhnya.
"Perginya bareng Justin aja."
Lagi. Nama itu terus diucapkan oleh kakak sulung Salju berulang kali sampai terasa pekak telinganya.
"Abangku Sean, gue cuma mau pergi ke luar, ke supermarket, belanja dikit doang! Nggak perlu bawa-bawa nama... "
"Kalau ga mau, gausah pergi."
"Abang!" Salju kesal, wajahnya memerah menahan emosi. Kali ini ia benar-benar tidak bisa mengendalikan amarahnya.
Memorinya akan masa lalu membuatnya tersinggung. Hubungannya dengan Justin memang tidak berakhir dengan baik. Walaupun ia hanya mendengar rumor, Salju benar-benar tidak bisa menerima laki-laki berumur dua puluh enam tahun itu kembali ke kehidupannya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Salju nekat pergi seorang diri. Ia tidak peduli dengan kakaknya yang terus berteriak memanggil namanya. Langkahnya tegas sebelum menghilang di balik pintu.
Deru mobil yang dikendarai Salju membuat Sean sedikit khawatir. Ia memutuskan untuk mengejar adiknya yang keras kepala. Kali ini laki-laki itu tidak punya alasan untuk bisa mencegah adiknya pergi. Lagipula ia sudah punya surat izin mengemudi dan umurnya sudah cukup untuk mengendarai mobil sendirian. Namun, kali ini keadaannya berbeda. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Sean sangat khawatir jika ada sesuatu yang buruk menimpa adiknya.
"Ah! Ini anak nyusahin gue aja. Lagi pengen males-malesan malah dibikin repot! Lagian belanja besok apa susahnya sih?!" Sean meracau sendiri. Ia menyambar kunci mobil dari atas meja kamarnya dan mengunci pintu rumah. Ia langsung menyusul Salju yang pasti sudah lebih dulu menghilang keluar jalan raya.
Dengan kecepatan tinggi, Sean menyusul adiknya. Ia menemukan mobil berwarna hitam berukuran besar itu di jalan raya yang lengang. Kemudian, menambah kecepatannya. Beberapa belokan membuat laki-laki bersurai kecoklatan itu kesulitan untuk menyusul dan nyaris kehilangan jejak. Sampai pada lampu merah di perempatan, laju mobil Sean harus berhenti karena ada polisi yang memantau walaupun jalanan raya tidak terlalu ramai.
"Argh! Kena juga gue!" Sean memukul stir mobil. Kemudian meraih ponsel yang ada di kursi penumpang di sebelahnya. Ia mencari nama seseorang di daftar kontak. Kemudian, menghubunginya. "Halo, Justin."
"Ya, bang?"
"Lo lagi di mana?"
"Di RM Mart, nih bang. Kenapa?"
"Pas banget! Tadi Salju kabur dari rumah."
"Hah? Kabur?! Kok bisa?!" Justin yang mendengar pernyataan dari Sean itu pun sangat terkejut sekaligus cemas.
"Iya, tadi dia ngotot mau pergi belanja. Tapi nggak gue izinin. Sekarang gue susul tapi dia nggak bisa gue kejar gara-gara lampu merah. Gue minta tolong deh, Salju pasti belanja ke RM Mart, pantau dia tapi jangan sampe ketauan. Dia lagi kacau banget kayaknya. Nanti gue nyusul."
"Oke, bang. Gue baru selesai belanja juga nih." Justin yang berada di parkiran langsung melihat sebuah mobil hitam berukuran besar melesat di depannya. Ia sangat yakin itu adalah mobil yang dikendarai oleh mantan kekasihnya.
"Nanti gue kabarin lagi bang, kayaknya dia udah sampe." Justin langsung memutus sambungan dan memasukkan barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil. Setelah itu, ia berjalan pelan menuju mobil yang telah diparkirkan oleh Salju.
Tampak seorang perempuan dengan tubuh tinggi semampai keluar dari mobil, tanpa ragu Justin memastikan kalau itu adalah adik bungsu Sean. Raut wajahnya sangat kesal, bahkan dari kejauhan tampak sekali kulitnya yang putih bersih itu memerah karena emosi. Saat Salju memasuki supermarket, Justin langsung menyusulnya dengan perlahan, berharap keberadaannya tidak diketahui sampai Sean tiba.
Perempuan dengan rambut panjang dan legam itu langsung menarik troli dengan kasar dan mendorongnya dengan penuh emosi. Laki-laki dengan bucket hat hitam itu memperhatikan dari jauh. Agak khawatir karena pujaan hatinya terlalu emosional.
Justin memperhatikan dari jauh. Ia berpura-pura membeli beberapa keperluan, padahal ia sudah membelinya. Tangan perempuan dengan cardigan putih itu sangat cepat mengambil barang yang dibutuhkan. Dalam sekejap berpindah dari rak satu ke rak yang lainnya. Memasukkan barang nyaris acak, membuat laki-laki yang memantaunya dari kejauhan itu terheran.
"Dia belanja apa asal comot sih?" tanya Justin dalam hati.
Setelah troli belanjaan milik Salju penuh, ia langsung membawa barang belanjaannya ke kasir untuk dibayar. Masih memantau Salju, Justin memperhatikan apa saja yang dibeli oleh adik Sean itu.
"Totalnya 740 ribu, nona." Seorang kasir laki-laki menyebutkan total belanjaan milik Salju.
Lima kantong plastik sudah mengisi troli, dan perempuan cantik itu membayarnya dengan uang tunai. Usai pembayaran, Salju keluar dari supermarket sambil mendorong trolinya. Justin yang tidak memiliki waktu untuk membayar belanjaan di kasir, menaruh keranjangnya asal di salah satu rak. Kemudian, menyusul Salju keluar dari supermarket.
Baru tiga langkah keluar dari supermarket, langkah perempuan itu berhenti, membuat Justin mematung seketika. Tiba-tiba Shinju menoleh ke belakang dan reflek, Justin menyembunyikan wajahnya dengan berbalik badan juga.
Suara langkah Salju mendekat ke arah supermarket membuat Justin panik. Khawatir ketahuan. Ternyata, perempuan yang sedang diikutinya itu masuk ke dalam supermarket dan meninggalkan troli belanjaannya di tengah parkiran.
"Huft, hampir aja." Justin menghela napas lega. Namun, saat ia membalikkan tubuh, sorot mata tajam Salju sudah mengintimidasinya. Membuat jantung laki-laki bertopi bucket warna hitam itu terkejut.
Dengan langkah perlahan, Salju mendekat. Misi Justin untuk memantau adik Sean itu sudah diketahui. Bersamaan dengan jarak yang semakin dekat, jantung laki-laki itu semakin berdetak cepat.
"Bang Sean nyuruh lo buat ngikutin gue 'kan?" Justin berani jamin, dinginnya malam tidak akan mengalahkan suara Salju. Tubuh kekarnya merinding seketika, setelah sekian perempuan itu tidak pernah bicara padanya lagi.
"Ng-nggak."
"Jangan bohong!" tekan Salju. Perempuan itu menatap tajam laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya. Tanpa kedipan sedikitpun, memaksa Justin untuk tenggelam ke dalamnya.
"Lo pikir gue nggak tau, daritadi lo ngikutin gue?" Salju melipat tangan di depan dada. "Gue bukan anak kecil yang perlu diperhatiin tiap kali keluar malam. Lagipula Bang Sean... "
"Salju!" Suara Sean terdengar menggema di parkiran, membuat Justin dan Salju menoleh bersamaan. Sosok laki-laki berkulit cerah itu berdiri di depan troli Salju sambil mengatur napasnya yang tersengal.
"Heh! Lo udah gila ya? Ini barang belanjaan kenapa ditinggalin di tengah jalan begini? Kalian juga ngapain di sana? Buruan pulang! Gue masih banyak kerjaan di rumah!" Sean berteriak kesal.
"Abang?" Salju langsung menyusul kakaknya yang masih mengatur napas. Ia tidak menyangka Sean akan menyusulnya hingga ke supermarket. "Abang kenapa nyusul ke supermarket sih?" Pertanyaan itu sontak membuat Sean mengerutkan dahi.
"Loh! Kok lo malah nanya gue? Harusnya lo yang nanya diri lo sendiri. Siapa yang ngizinin lo keluar malem-malem begini?"
"Yaelah, bang! Gue juga udah iasa keluar malem-malem ke supermarket jam segini, biasanya juga lo biasa aja, kenapa jadi emosional gini deh?" Salju tidak mau kalah. Namun, Sean hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan rasa kesal.
"Sekarang lo pulang deh. Daripada bikin gue tambah emosi. Sana!" Sean mengibaskan tangannya, mengisyaratkan adiknya itu untuk segera pulang. Dengan napas yang memburu, Salju mendorong troli ke arah mobilnya dan memasukkan barang ke dalam bagasi.
Sedangkan Justin yang masih berdiri, menyaksikan kedua saudara itu berdebat, mendapatkan isyarat dari Sean untuk menyusul ke rumah. Laki-laki dengan topi buket itu mengangguk dan berjalan ke arah mobilnya.
Beberapa saat kemudian, mobil milik Salju melaju ke jalan raya, disusul sedan putih milik Sean dan mobil lambo berwarna merah milik Justin di posisi paling belakang.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah. Salju membawa kantong belanjaannya dibantu Sean, kemudian mempersilakan Justin untuk masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya, Justin merasa tidak nyaman berada di tengah atmosfer kedua saudara kandung yang jarang akur ini. Namun, permintaan Sean seolah mengikat untuk tidak menolak apapun yang dikatakannya.
Usai menaruh belanjaan di meja dapur, Salju melangkah pergi tanpa sepatah kata dari mulutnya. Ia menaiki tangga dan menghilang dibalik pintu kamar.
Justin dan Sean duduk di sofa. Namun, belum sempat membuka suara, mereka mendapatkan notifikasi di waktu yang bersamaan. Beberapa detik mereka saling menatap, seolah berbicara dengan telepati. Hingga mereka mulai fokus pada ponsel masing-masing dan sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat.
"Hah?! Gila aja, belum ada satu jam!"