Bab 1

Sheila berjalan dengan langkah tergesa menuju halte, meninggalkan gedung PT. EP yang menjulang megah tempatnya mencari nafkah selama ini. Dengan tak sabar ia menyetop taksi, lalu meminta sopir taksi itu untuk bergegas.

"Ke rumah sakit Haluan, Pak. Kalau bisa ngebut saja ya," pinta Sheila dengan wajah cemas.

Wanita cantik dengan bola mata biru gelap itu terus melirik arloji di pergelangan tangannya. Telepon dari orang yang ia tugaskan untuk menemani ibunya adalah alasan dia cemas sekali siang itu.

"Mbak Sheila, ibu pingsan di kamar mandi, dari hidungnya keluar darah!"

Itulah kata-kata yang ia dengar beberapa saat lalu, yang dalam sekejap mata membuat Sheila langsung berlari meninggalkan meja kerjanya.

Sheila tidak akan sepanik itu jika saja keluarganya masih utuh. Sayangnya, sang ayah meninggal tidak lama setelah perusahaannya dinyatakan bangkrut. Selepas kepergian ayahnya itu, hidup Sheila semakin kacau. Jangankan mendapat warisan yang berlimpah, semua aset keluarganya justru disita untuk membayar hutang. Itu sebabnya, Sheila harus berkerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan membiayai pengobatan sang ibu yang sakit-sakitan.

"Tolong lebih cepat lagi, Pak," pinta Sheila sambil menepuk-nepuk sandaran jok sopir itu dari belakang. Ia benar-benar tak sabar untuk segera melihat kondisi ibunya.

"Ini sudah sangat cepat, Mbak. Kalau lebih cepat lagi kita bisa celaka," jawab sopir taksi bertubuh besar itu.

"Oh, maaf. Saya sedang sangat buru-buru soalnya, ibu saya baru saja dibawa ke IGD rumah sakit itu," ujar Sheila dengan wajah yang hampir menangis.

Namun, ia tidak mau air mata itu jatuh dengan mudah. Sheila mengangkat kepalanya, mencegah air mata itu meluncur ke pipinya. Akan tetapi, tentu saja cara itu tidak akan membantu sama sekali. Air mata itu tetap meleleh di pipinya yang mulus.

Akhirnya, taksi itu sampai dengan selamat di rumah sakit yang ia tuju. Setelah membayar ongkos, Sheila berlari secepat mungkin menuju IGD, tempat sang bunda tercinta berada saat ini. Kaki Sheila lemas seolah tak bertulang saat mendapati ibunya terbaring tak berdaya dengan berbagai macam alat menempel di tubuhnya.

"Ibu Anda harus segera dioperasi, dia kritis."

Kata-kata dokter itu bagaikan palu besar menghantam dada Sheila. Sangat sakit dan menyesakkan dadanya. Tubuh Sheila bergetar hebat, ia bingung dan juga takut dalam satu waktu. Ia takut kehilangan ibunya, tetapi ia bingung dengan biaya pengobatan yang pastinya tidak sedikit itu.

'Operasi? Biayanya pasti besar sekali. Apa yang harus aku lakukan? Dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk membayarnya?'

Sheila berdiri resah di hadapan dokter itu. Tanpa sadar ia menggigiti kukunya sendiri sambil menatap pilu pada ibunya yang tak sadarkan diri.

'Tabunganku hanya cukup untuk biaya hidup hingga gajian bulan depan. Ke mana aku harus mencari uang dalam waktu singkat ini? Haruskah aku ...? Ah, tidak-tidak. Tidak boleh, itu melanggar hukum, Sheila!'

Sheila terus bergelut dengan pikirannya sendiri.

"Tolong cepat, Mbak. Ini dokumennya, tolong ditandatangani. Lalu selesaikan administrasinya di kasir, ya."

Beberapa lembar kertas berpindah ke tangan Sheila. Ia benar-benar harus berpikir cepat kali ini karena satu detik saja terbuang bisa berakibat fatal pada ibunya. Tanpa berpikir panjang lagi Sheila menandatangani semua berkas itu lalu menyerahkannya pada petugas yang itu kembali.

"Biaya operasinya empat puluh delapan juta. Sesuai dengan peraturan rumah sakit ini, Anda harus membayar minimal setengah dari biaya tersebut agar pasien bisa di operasi secepatnya. Sisanya bisa Anda lunasi maksimal satu minggu setelah operasi selesai," kata kasir itu.

Sheila mengangguk dengan pikiran bercabang. Akal sehatnya benar-benar sudah hilang. Meski dengan tangan yang masih bergetar hebat, ia membuka dompet lalu mengeluarkan selembar cek yang baru saja ia terima tadi pagi.

'Ya, Tuhan. Tolong ampuni aku kali ini saja,' desis Sheila dengan suara yang sangat lirih.

Wanita berparas cantik itu memejamkan mata dengan perasaan bersalah. Namun, terbayang wajah ibunya yang sekarat, semua perasaan bersalah itu langsung raib tak bersisa. Bagi Sheila, nyawa ibunya lebih berharga. Ia tidak peduli lagi dengan risiko yang akan ia hadapi karena menggunakan cek itu tanpa izin pemiliknya.

"I-ini, Mbak. Sa-saya bisa bayar dengan cek, 'kan?" tanya Sheila gugup.

Kasir itu mengangguk, ia menerima lembaran cek yang Sheila sodorkan. Dalam hitungan detik, Sheila sudah menerima bukti pembayaran lunas, beserta uang kembalian senilai dua juta rupiah. Yah, cek senilai lima puluh juta yang seharusnya ia setorkan ke rekening perusahaan itu telah berpindah tangan sekarang.

Ia tidak tahu apakah rasa syukurnya hadir untuk alasan yang tepat, tetapi tidak bisa dipungkiri hal ini bisa ia lakukan karena kolom penerima pada cek tersebut tidak diisi oleh rekan bisnis yang mengeluarkan cek itu. Bagi mereka tanda terima pembayaran yang Sheila berikan sudah cukup sebagai bukti bahwa cek itu sudah sah sebagai alat pembayaran dari mereka.

Sheila melangkah meninggalkan meja kasir menuju ruang operasi. Ia tahu, saat ini sebelah kakinya sudah berada di penjara, tetapi ia tidak peduli karena saat ini yang terpenting adalah bisa menyelamatkan ibunya, satu-satunya keluarga yang masih ia miliki.

Beberapa jam sudah berlalu, Sheila masih duduk menunggu di depan kamar operasi yang lampunya masih menyala. Jantungnya berdetak beberapa kali lipat saat melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul lima belas lewat lima menit. Ia tahu arti angka di penunjuk waktu itu, karena di jam segitu biasanya ia sudah membuat laporan penerimaan pembayaran harian.

Tugas itu tentu saja sudah ia limpahkan pada rekan kerjanya sebelum pergi tadi, tetapi yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat adalah fakta bahwa dirinya telah menggelapkan satu lembar cek yang seharusnya masuk dalam rekapitulasi penerimaan pembayaran hari ini.

Pukul lima sore lewat lima belas menit, enam jam sudah operasi itu berlangsung. Sheila mulai berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Meski waktu operasi yang disebutkan dokter masih empat jam lagi, tetapi Sheila tetap tidak bisa tenang sebelum mendapat kabar bahwa operasi itu berhasil dilakukan.

Ia terus menatap ke pintu ruang operasi itu berharap dokter yang membedah tubuh ibunya keluar dari sana dengan wajah lega. Namun, lain yang ditunggunya lain pula yang ia dapatkan.

Dering ponsel yang memperlihatkan panggilan masuk dari ruang direktur membuat jantung Sheila terasa akan melompat ke luar.

["Selamat sore, Bu Sheila. Saya Chiara, sekretaris direktur. Pak Revian meminta Anda menghadapnya sekarang juga."]

"I-iya, Bu Chiara. Tetapi ... saya sedang di rumah sakit sekarang. Bisakah saya menemui beliau besok pagi?" pinta Sheila dengan suara terbata.

["Maaf, Bu Sheila. Pak Revian bilang harus sekarang, dia tidak akan menerima kedatangan Ibu besok pagi.]

Keringat dingin terasa mengalir deras di tubuhnya. Sheila tahu apa yang akan ia hadapi di ruangan direktur itu nanti. Tidak ada cara lain, ia harus menghadapi orang nomor satu di perusahaan itu jika masih ingin hidup dengan sedikit kewarasan yang tersisa.

Tiga puluh menit kemudian Sheila sudah berada di ruangan direktur berparas tampan itu. Muda, tubuh proporsional, cerdas, dan mapan. Tidak ada wanita yang menolak pesona eksekutif muda seperti Revian Adolf, sang konglomerat muda yang terkenal itu.

Jika saja hatinya tidak terikat pada seorang pria yang berada di masa lalu, mungkin dirinya sudah jatuh cinta pada ketampanan sosok di depannya saat ini. Sayangnya, sampai detik ini di hatinya masih bertahta nama pria itu. Pria yang ia sayangi sekaligus harus ia lupakan karena kemelut di kehidupan pribadinya.

"Sheila ... sudah berapa lama kamu berkerja di perusahaan ini?" tanya Revian dengan tatapan tajam, membuat lamunan panjang Sheila buyar seketika.

Kedua sikunya bertumpu di atas meja, sementara jari-jarinya yang panjang sibuk memainkan pena yang bagian atasnya bertuliskan namanya dengan tinta emas.

"Sudah dua tahun, Pak," jawab Sheila dengan suara yang dibuat setenang mungkin.

Pada hal aslinya ia sangat gugup sekali, tetapi Sheila berusaha untuk tetap terkendali di hadapan pemilik perusahaan itu.

"Apa posisimu di perusahaan ini?" tanya Revian lagi.

"Kasir utama, Pak."

"Dua tahun menduduki jabatan kasir utama PT. Eksim Perkasa. Wow ... cukup hebat," puji Revian dengan sebelah sudut bibir terangkat.

Lelaki itu tersenyum sambil memujinya, tetapi, di telinga Sheila pujian itu terdengar seperti seringai serigala yang sedang berhadapan dengan mangsanya. Ia benar-benar terpojok dan tidak berkutik, tubuhnya mendadak terasa kerdil di hadapan Revian yang berkuasa.

"Semua ... karena support dari Anda ..., Pak Revian," jawab Sheila yang semakin gugup.

Deru napasnya tak lagi teratur. Ia bisa merasakan sekujur tubuhnya basah oleh keringat.

"Selama kurun waktu tersebut ... berapa banyak uang perusahaan yang sudah kamu gelapkan?" tuding Revian tajam.

Sheila tersentak. Harga dirinya terluka mendengar pertanyaan yang mengarah pada tuduhan itu. Ia tidak bisa menerima perlakuan tidak adil itu begitu saja, karena selama ini ia mendedikasikan dirinya sepenuh hati pada perusahaan itu.

"Maaf, Pak. Saya keberatan dengan pertanyaan Anda yang jelas-jelas disertai tuduhan itu. Selama berkerja di sini saya tidak melakukan hal serendah itu, Pak. Saya adalah karyawan yang jujur dan penuh tanggung jawab," jawab Sheila dengan intonasi sedikit meninggi.

"Good! Memang itu yang saya butuhkan dari para karyawan yang berkerja di perusahaan ini," sahut Revian cepat.

"Lalu ... apa yang baru saja kamu lakukan dengan cek ini?" lanjut Revian seraya melemparkan fotocopy lembaran cek, di mana yang aslinya beberapa saat lalu sudah Sheila gunakan untuk membayar pengobatan ibunya.

Tubuh Sheila membeku. Kakinya bagai terpatri ke lantai, membuatnya tak lagi mampu bergerak meski hanya untuk sekedar menggelengkan kepala.

"Sa-saya terpaksa ... menggunakan cek itu ... untuk membiayai operasi ibu saya," jawab Sheila dengan kalimat yang terputus-putus.

"Kamu tahu, 'kan? Perusahaan ini bukan yayasan amal, Sheila. Apa pun alasannya, kamu telah menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi, dan itu jelas-jelas melanggar hukum!" kecam Revian.

Kepala Sheila tertunduk, ia mengaku salah kali ini. Setelah dua tahun berkerja, inilah pertama kalinya ia melakukan hal tercela begitu.

"To-tolong beri saya kesempatan untuk membayarnya, Pak," pinta Sheila dengan suara yang lemah.

"Satu hari, paling lambat besok sore kamu harus membawakan uang senilai cek ini ke hadapan saya," tegas Revian.

Sheila semakin tidak berdaya karena ia tahu itu adalah hal yang sangat mustahil untuk ia penuhi.

"Saya mohon, Pak. Izinkan saya mencicilnya dari gaji," pinta Sheila lagi, masih tidak menyerah untuk mendapatkan solusi terbaik untuk kesalahannya.

"Nope! Kamu telah menggelapkan uang perusahaan, berarti kamu mengkhianati kepercayaanku. Tidak ada tempat bagi pengkhianat di perusahaan ini," tolak Revian tegas.

Sheila tidak tahu lagi harus berkata apa untuk melunakkan hati Revian. Ia benar-benar tidak memiliki jalan keluar dari masalah itu.

"Sekarang begini saja," cetus Revian setelah beberapa saat terdiam, membiarkan Sheila larut dengan pikirannya sendiri.

"Aku ajukan dua opsi untukmu," ujar Revian dengan tatapan licik.

Kepala Sheila langsung terangkat demi mendengar solusi yang Revian tawarkan. Ia menatap penuh harap kepada lelaki yang kini mengumbar senyum kemenangan di hadapannya.

"Kamu boleh memilih salah satu. Penjara ... atau ... habiskan satu malam denganku."

Sheila tersentak, ia sampai mundur satu langkah saking kagetnya mendengar pilihan yang diberikan Revian.

"Maaf, Pak Revian. Tetapi keperawanan saya tidak akan pernah saya serahkan begitu saja tanpa ada ikatan pernikahan!" tolak Sheila dengan suara bergetar.

"Kalau begitu bersiaplah berhadapan dengan proses hukum. Asal kamu tahu, aku tidak akan segan menuntutmu dengan hukuman berat," jawab Revian dengan nada mengancam.

Namun, Sheila juga tidak mau menyerah begitu mudah. Jika memang harus mengorbankan hal paling berharga di dalam hidupnya itu, ia tidak mau berkorban tanpa mendapatkan apa pun selain bebas dari tuntutan hukum.

"Keperawanan saya sangat berharga, Pak. Inilah satu-satunya yang membuat diri saya merasa bernilai saat ini, yang membuktikan bahwa saya bukan wanita murahan. Bahkan dengan kekasih sekalipun, saya tidak pernah memiliki niat untuk melakukan hubungan itu sebelum menikah. Jadi ... kalau Anda menginginkan keperawanan saya ini ... nikahi saya terlebih dahulu!" ucap Sheila dengan tegas.

Revian berdecak dengan nada mencemooh.

"Aku tidak perlu menikah jika hanya untuk meniduri perempuan. Banyak perempuan di luar sana yang rela aku tiduri dengan cuma-cuma, mengapa harus repot? Lagi pula apa istimewanya milikmu itu sampai aku harus menikahimu?"

Di depan lelaki itu, ia membuka pakaian dalamnya lalu memperlihatkan miliknya yang memang istimewa.

Lelaki itu terpana, lalu dengan gugup bertanya, "Apakah kau yakin sudah berusia dua puluh lima tahun? Mengapa milikmu bisa mulus seperti bayi begini?"

Bab 2

"Nikahi saya selama satu bulan, tetapi bayar saya sepuluh kali lipat. Anggap saja Anda membeli keperawanan saya dengan harga yang pantas. Selama pernikahan itu Anda bisa menikmati tubuh saya sepuasnya. Setelah satu bulan, saya akan melupakan semuanya, lalu pergi dari kehidupan Anda untuk selamanya," ujar Sheila dengan dada bergemuruh.

Seumur hidup ini adalah pertama kalinya ia melakukan tawar menawar dengan keperawanannya sebagai taruhan. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Bagaimanapun juga Sheila tidak ingin di penjara atas kesalahan yang ia perbuat. Sebagai wanita yang cerdas ia memiliki impian besar di dalam hidupnya. Status sebagai mantan kriminal jelas akan menodai reputasinya di masa depan.

"Menikahimu lalu membayar sepuluh kali lipat dari uang yang kamu curi dariku? Huh ... jangan konyol. Jelas-jelas kamu yang telah merugikanku, Sheila. Kamu menggunakan uang perusahaanku tanpa izin. Lalu sekarang kamu ingin mengaturku hanya karena aku memintamu tidur denganku? Jangan buat aku tertawa. Di sini aku yang memegang kendali, bukan kamu!" jawab Revian dengan wajah tegang.

Rahangnya bergerak-gerak menahan emosi, jelas ia tidak senang mendengar permintaan Sheila yang merendahkannya. Uang senilai lima ratus juta apalah artinya bagi Revian. Namun, ia merasa wanita itu menjengkalinya, seolah-olah dirinya seorang pria pecandu perawan.

"Saya tahu, Bapak adalah orang yang memegang kendali penuh atas diri saya saat ini. Namun, tolong pahami dari sudut pandang saya, Pak. Saya mengaku salah dan memohon belas kasih Bapak untuk menyelamatkan hidup saya. Tetapi Bapak meminta saya memilih antara penjara dan keperawanan saya. Jika saya menyerahkan keperawanan saya sebagai imbalan atas kesalahan itu, rasanya sangat tidak adil, Pak. Saya sungguh tidak rela jika keperawanan saya hanya dihargai senilai lima puluh juta," jawab Sheila dengan sepasang mata yang telah berlinang.

"Sebagai pertahanan diri saya yang terakhir, maka saya beranikan diri mengajukan permintaan itu. Jika satu malam bisa Anda hargai senilai lima puluh juta, apa yang membuat Anda merasa rugi jika saya meminta lima ratus juta untuk tiga puluh malam?" lanjut Sheila sambil menghapus air mata yang merembes di sudut matanya.

Sheila benci dirinya yang lemah, yang meneteskan air mata tak berdaya di depan lelaki. Namun, ia sungguh terpojok saat itu. Apa yang bisa ia lakukan selain mengemis agar dibebaskan dari tuntutan hukum.

Revian mendengus kesal.

"Aku tidak perlu menikah jika hanya untuk meniduri perempuan. Banyak perempuan di luar sana yang rela aku tiduri dengan cuma-cuma, mengapa aku harus repot? Lagi pula apa istimewanya milikmu itu sampai aku harus menikahimu?" ucap Revian dengan nada mencemooh.

Bagi Revian yang terkenal playboy, wanita memang tidak berharga sama sekali. Baginya para wanita itu tidak lebih dari sekedar makhluk matre yang hanya menginginkan hartanya. Itu sebabnya, ia bersikap dingin mendengar permintaan Sheila yang di telinganya terdengar sebagai azaz manfaat semata.

Sheila mengaktifkan mode blind pada dinding kaca ruangan direktur itu, lalu melangkah anggun menuju meja kerja Revian. Dalam situasi itu, mereka benar-benar seolah berada dalam ruangan pribadi yang memancarkan aura intim. Tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam ruangan kaca tersebut.

"Bapak boleh lihat sendiri keistimewaan milik saya ini. Saya tidak akan menawarkan opsi itu jika tidak ada untungnya bagi Anda," ucap Sheila dengan kepercayaan diri yang kembali ia bangun dengan menguatkan hati.

Sheila duduk di atas meja, tepat di depan Revian yang masih duduk bersandar di kursi kebesarannya. Kedua tangan lelaki itu terlipat di depan dada, dengan satu tangan menahan dagu, sementara sorot matanya menatap datar ke arah Sheila.

Dengan jantung yang berdegup kencang, Sheila menaikkan roknya, lalu menurunkan celana dalamnya yang berwarna putih. Ia tahu, tingkahnya saat ini mungkin terlihat seperti perempuan jalang di mata Revian. Akan tetapi, Sheila memilih untuk mengabaikan semua pikiran negatif itu. Ia fokus pada upaya meluluhkan Revian agar mau menghapus kesalahannya dan membebaskannya dari tuntutan hukum.

Masih dengan menahan rasa malu di dalam hati, Sheila membuka kakinya lebar-lebar di hadapan Revian, sehingga memampang area kewanitaannya yang tak lagi ditutupi apa pun itu.

Revian terpaku, tangan yang tadi berada di dagunya tanpa ia sadari terlepas begitu saja. Dengan antusias ia mendorong kursinya kembali ke depan, untuk melihat area pribadi Sheila lebih dekat. Namun wanita itu bergerak secepat kilat, menghalangi niat Revian dengan menyilangkan kakinya sehingga wajah lelaki itu nyaris membentur lututnya yang putih mulus.

"Ka-kamu yakin sudah berusia 25 tahun?" tanyanya dengan suara terbata.

Sheila tertawa penuh ironi.

"Bapak 'kan sudah melihat sendiri kartu identitas saya. Mengapa masih bertanya tentang hal itu?" tanya Sheila.

"Kalau kamu benar-benar wanita berusia 25 tahun, bagaimana bisa milikmu begitu mulus seperti ... maaf bukan aku bermaksud tidak sopan ... tetapi bagaimana milikmu itu bisa seperti bayi begitu?" tanya Revian heran.

Ia sudah melihat berbagai bentuk area kepribadian wanita, dari yang perawan hingga janda. Dari yang berkulit putih, hingga berkulit gelap. Namun, belum pernah sekali pun ia melihat milik wanita dewasa yang ranum, mulus, berwarna merah muda tanpa sehelai rambut pun menutupinya. Kalau pun ia pernah melihat milik wanita yang tanpa rambut, tetapi tetap saja terlihat rambut-rambut halus bekas dicukur tumbuh di sekitarnya. Sementara milik Sheila jelas sangat berbeda. Tidak salah jika wanita itu menyebut miliknya istimewa karena memang itulah adanya. Hal itu membuat Revian penasaran untuk menjajal miliknya sendiri di liang yang berwarna merah muda itu.

Sheila melompat turun dari meja, mengenakan celana dalamnya, lalu merapikan pakaiannya kembali. Setelah itu ia kembali berdiri dengan sopan di depan meja Revian.

"Dokter bilang saya memiliki kelainan hormon. Bapak lihat sendiri, 'kan? Selain rambut di atas kepala, seluruh tubuh saya nyaris tidak memiliki rambut lainnya. It's okay. Selagi tubuh saya mengalami pertumbuhan yang sama dengan wanita lain, dokter itu bilang semuanya normal saja," jelas Sheila tanpa beban.

"Jadi ... bagaimana dengan permintaan saya tadi, Pak Revian. Apakah Anda setuju?" desak Sheila.

Ia tidak mau membuang waktu lagi. Detik itu juga ia harus memastikan dirinya aman dari tuntutan hukum. Saat ini ia tidak lagi mau memusingkan segala persoalan harga diri. Selagi dirinya tidak berzina, Sheila merasa tidak ada yang salah dalam keputusan yang ia buat.

'Lagi pula hanya satu bulan. Setelah itu, aku bisa bebas dengan materi yang cukup untuk memulai usaha dan hidup tenang bersama mama. Soal status janda sudah pasti tidak masalah. Yang pasti sebisa mungkin aku harus menghindari kehamilan selama pernikahan itu,' ucap Sheila di dalam hati.

"Deal ... Minggu ini juga aku akan menikahimu."

Tanpa Sheila sangka, Revian menyetujui permintaannya dengan semangat.

"Tetapi sebelum itu, aku ingin menyentuh milikmu dulu. Anggap saja ini sebagai sebuah tester produk baru," ucap Revian dengan deru napas yang mulai memburu.

Bayang-bayang milik Sheila yang istimewa sungguh membuatnya sulit untuk menahan diri. Meskipun belum bisa memasukkan miliknya yang telah menegang ke liang sempit itu, bagi Revian dengan menyentuh saja sudah cukup untuk merasakan sensasinya.

Namun, reaksi Sheila sungguh di luar dugaannya. Wanita cantik bertubuh seksi itu menyalakan ponselnya, lalu mengirimkan nomor rekeningnya ke ponsel Revian.

"Anda ingin tester? Saya ingin pembayaran di muka," ucap Sheila dingin.

Revian berdecak sambil mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Ia mengetikkan sesuatu di benda pipih itu. Tak lama kemudian, terdengar notifikasi di ponsel Sheila.

"Dua ratus lima puluh juta, tunai. Sisanya ... setelah kesepakatan pernikahan kita berakhir," ujar Revian dengan seringai kemenangan.

"Sekarang mana tester untukku?"

Bab 3

"Sekarang mana tester untukku?" tanya Revian seraya melangkah lebih dekat, sehingga membuat Sheila bergerak mundur dengan paras memucat.

"Be-berjanjilah Anda hanya menyentuh dari luar," pinta Sheila dengan suara terbata.

"Memangnya kamu bisa meminum air dari botol yang ada tutupnya?" tanya Revian dengan seringai tipis.

Sheila terpojok, ia tidak bisa bergerak mundur lagi karena dirinya sudah membentur tembok.

"Ayolah, Sheila. Jangan membuang waktu lagi. Jangan buat rasa penasaranku semakin besar sehingga sulit untuk mengendalikan diri. Sebagai wanita dewasa, kamu pasti sudah bisa melihat bagian bawah tubuhku yang mengeras di balik denim ini. Atau ... kamu memang ingin melalukan tester dengannya langsung? kata Revian lagi yang langsung dijawab dengan gelengan kuat oleh Sheila.

"Pakai tangan saja, Pak. Tapi, please ... jangan masukkan jari Anda. Berjanjilah terlebih dahulu," ujar Sheila.

Revian mengungkung tubuh Sheila dengan kedua tangannya yang ia tumpukan di dinding. Dengan suara rendah ia berkata, "Aku berjanji. Sekarang bukalah celana dalammu."

Sheila memejamkan mata dengan debaran jantung yang semakin tak menentu. Dia sangat gugup saat itu, ditambah lagi dengan posisi wajah Revian yang hanya berjarak beberapa mili dari wajahnya. Hembusan napas lelaki itu bahkan bisa menggetarkan rambut-rambut halus di permukaan kulitnya.

"Kamu pakai parfum apa? Aromanya enak," tanya Revian.

"Ti-tidak ada parfum, Pak. Ha-hanya sabun mandi," jawab Sheila.

"Saya ingin mencium kamu," bisik Revian dengan suara yang semakin parau.

Sheila ingin menolak, tetapi percuma karena bibir lelaki itu sudah menempel di atas bibirnya. Sheila bisa merasakan sapuan lembut dari lidahnya yang basah. Lumatan-lumatan kecil juga pria itu lakukan dengan lembut.

Revian menempelkan tubuhnya ke tubuh Sheila, membiarkan kejantanannya yang mengeras menekan paha wanita itu dengan intens.

Tanpa melepaskan ciumannya tangan Revian mulai menelusuri tubuh Sheila, bergerak turun dari pundak, dada, pinggang, lalu meluncur ke area belakang. Jari-jari kokoh miliknya meremas bokong Sheila dengan penuh hasrat. Dari bokong tangan itu meluncur ke bawah, menyelinap ke balik rok pendek yang Sheila kenakan, setelah itu hinggap di atas paha Sheila yang mulus.

Dari paha itu, tangannya bergerak perlahan menuju area yang berada di sela paha. Ujung jarinya menyentuh tepian bibir yang sangat halus dan lembab.

"Aah ... Sheil, milik kamu benar-benar istimewa dari yang lain," racau Revian sambil terus mengelus permukaan kewanitaan Sheila yang mulus dan chubby.

Sheila sendiri mulai terbakar oleh sentuhan Revian yang memabukkan. Jika saja tak ingat malu, ia mungkin akan mengeluarkan desahan sebagai reaksi atas sentuhan yang pria itu berikan. Namun, akal sehatnya masih berjalan, ia menahan semua sensasi itu dengan sekuat tenaga.

Revian menggeram tanpa sadar.

"Aku ingin memasuki kamu, Sheil. Ooh ...." Revian terus meracau sambil meremas lembut bukit kecil milik Sheila yang benar-benar membuatnya berada di puncak birahi.

Jemari Revian menelusuri celah yang lembut itu, dan bisa merasakan ada cairan yang mengenai ujung jarinya.

"Kamu sudah basah, Sheil. Ternyata tubuh kamu juga menikmati sentuhan ini," ucap Revian.

Janjinya untuk tidak memasukkan jari ke liang itu menguap ke udara. Revian tidak sanggup lagi menahan diri. Dari celah itu jarinya bergerak mencari liang kenikmatan Sheila.

Namun, Sheila bergerak cepat menahan tangan Revian, lalu menyilangkan kedua kakinya, menutup area pribadi itu rapat-rapat.

"Anda sudah berjanji tidak akan memasukkan jari ke sana," kata Sheila memperingatkan.

Dengan ekspresi datar, Sheila menarik tangan lelaki itu, menjauh dari area kewanitaannya.

"Sudah sepuluh menit lewat lima belas detik. Sepertinya sudah cukup kalau hanya untuk tester," lanjut Sheila.

Ia merunduk, meloloskan diri dari kungkungan lengan pria itu, lalu mengenakan celana dalamnya kembali.

"Besok pagi saya akan menyerahkan surat pengunduran diri pada Bapak. Sampai jumpa minggu depan," ucap Sheila seraya melangkah menuju pintu.

"Tidak. Aku tidak bisa menunggu selama itu. Pernikahan kita dipercepat. Aku akan menjemputmu lusa. Persiapkan dirimu," kata Revian sambil berjalan kembali menuju meja kerjanya.

Mata indah itu membesar beberapa detik, tetapi kembali meredup setelah keterkejutannya hilang. Meski berat hati, Sheila mengangguk juga karena memang dirinya tak lagi memiliki hak suara untuk melayangkan protes.

"Baiklah, sampai jumpa lusa," sahut Sheila seraya memutar tubuhnya, lanjut melangkah menuju pintu.

Tangannya sudah meraih handle pintu itu ketika ponsel yang ada di dalam saku blazernya berbunyi.

"Ya, halo, Mbak. Bagaimana proses operasi Mamaku? Apakah sudah selesai?" tanya Sheila dengan sebelah tangan menarik handle.

Namun, handle itu tidak berhasil ia putar hingga habis karena tubuh Sheila seolah membeku di tempatnya berdiri ketika mendengar kata-kata dari perawat ibunya itu.

"Ja-jangan be-bercanda, M-mbak. I-itu nggak lucu," ucap Sheila terbata dengan suara bergetar.

["Saya tidak bercanda, Mbak Sheila. Operasi ibu Mbak tidak berhasil. Beliau meninggal di meja operasi setelah mengalami pendarahan hebat."]

"TIDAAAAK! OPERASI MAMAKU TIDAK MUNGKIN GAGAL. MAMAKU TIDAK BOLEH MATI!" teriak Sheila.

Kedua tungkainya terasa lemas, tanpa sadar Sheila jatuh terduduk tanpa sempat membuka pintu kaca itu.

Revian yang sudah duduk di meja kerjanya langsung terlompat dari kursinya, lalu berlari mendekati Sheila.

"Hei, Sheila. Ada apa? Mengapa kamu histeris begini?" tanya Revian heran.

Sheila mengangkat kepalanya, menatap Revian dengan wajah yang basah oleh air mata.

"Mama saya ... mama saya ... operasinya gagal, Pak. Huhuhuhu ... Mamaaaa ... Mamaaaa," jawab Sheila.

Tangisnya pecah tak tertahan lagi. Sheila meraung sejadi-jadinya sambil memanggil-manggil mamanya.

Revian tertegun, tak tahu harus berkata apa untuk menghibur wanita yang akan ia nikahi itu. Hanya tangannya yang terangkat perlahan, menepuk punggung Sheila dengan pelan.

"Ikhlaskan kepergian ibu kamu. Mungkin ini jalan dari Tuhan agar dia tidak merasakan sakit lagi," ucap Revian.

Sheila terus menangis tersedu, menelungkupkan setengah badannya di lantai tanpa memedulikan kehadiran Revian yang berada di dekatnya. Bagi Sheila dunianya sudah runtuh, tidak ada lagi siapapun yang tersisa di sampingnya. Bahkan dirinya sendiri pun sudah tergadai akibat uang yang ia gunakan untuk membiayai pengobatan almarhum ibunya.

Menit demi menit berlalu, Sheila masih berada dalam posisi duduk dengan tubuh menangkup lantai. Sementara itu Revian berjalan mondar-mandir bingung harus berbuat apa untuk wanita itu.

"Sheila, bangunlah. Berhenti menangis, lebih baik temui ibumu di rumah sakit," kata Revian.

Namun, Sheila bergeming. Ia tetap berada dalam posisi itu tanpa menanggapi kata-kata Revian, membuat lelaki itu berdecak kesal.

"Kamu dengar kata-kataku, tidak? Berhenti tantrum seperti bayi begitu. Dewasalah, urus jenazah ibumu itu!" seru Revian lagi.

Akan tetapi, seruan itu lagi-lagi bagai angin lalu di telinga Sheila. Ia tidak mengubah posisinya sedikit pun, bahkan menggerakkan tubuhnya pun tidak.

'Eh ... sudah berapa lama dia menangis dalam posisi begitu?' gumam Revian heran sambil melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Astaga! Sudah satu jam lebih. Jangan-jangan dia pingsan lagi," seru Revian kaget.

Ia pun bergegas menghampiri Sheila, lalu mengguncang tubuh wanita itu sambil memanggil-manggil namanya.

"Hei, Sheila. Bangun! Mau sampai kapan kamu menangis begini?" tanya Revian.

Lagi-lagi Sheila tidak menjawab. Wajah Revian berubah cemas. Tanpa memedulikan apa pun lagi, Revian mengangkat tubuh Sheila dari lantai. Ternyata benar dugaannya. Mata Sheila terpejam, wajahnya pucat bagaikan tak dialiri darah. Tidak diragukan lagi, wanita itu pingsan karena shock setelah mendengar berita kematian ibunya.

Sekarang giliran Revian yang shock, karena pertama kali di dalam hidupnya berhadapan langsung dengan wanita yang jatuh pingsan saat berada di dekatnya.

'Sial, dia pakai pingsan segala lagi. Apa yang harus aku lakukan?' tanya Revian bingung karena tidak ada siapa pun yang bisa dimintai tolong. Di kantor itu hanya tinggal mereka berdua, sementara karyawan lainnya sudah pulang sejak jam kerja berakhir sore tadi.

Tidak ada cara lain, ia pun menelepon seseorang agar bisa membantu dirinya memindahkan Sheila.

"Ben, datang ke ruangan saya sekarang!" titah Revian pada Benny, sopir pribadinya.

Tidak lama kemudian pria bertubuh tegap datang, masuk ke ruangan Revian setelah mengetuk pintunya tiga kali.

"Astaga! Apa yang terjadi, Bos? Mengapa Bu Sheila bisa pingsan di sini?" tanya Benny heran. Ia cukup mengenal Sheila yang sehari-hari bertugas sebagai kasir utama itu. Sepanjang pengetahuannya, wanita itu tidak memiliki hubungan pribadi dengan Revian. Itu sebabnya ia bingung kenapa Sheila bisa pingsan di dekat pintu ruangan bosnya itu.

"Sudah, tidak usah banyak tanya. Bantu saya memindahkannya ke mobil. Kita harus mengantarnya pulang," jawab Revian.

Benny mengangguk. Dengan mudahnya, ia membopong tubuh Sheila lalu membawanya menuju mobil Revian yang berada di area parkir khusus direksi. Sheila dibaringkan di kursi tengah, sementara Revian duduk di kursi sebelah kemudi. Ia sedang membuka data karyawan untuk menemukan alamat rumah Sheila.

"Di mana alamat rumahnya, Bos?" tanya Benny sambil mengemudikan mobil itu keluar dari area parkir.

"Komplek Duta Mas Blok A3 No. 10. Kamu tahu tempat itu, nggak?" jawab Revian setelah mendapatkan alamat rumah Sheila di database karyawan.

"Tahu, Bos. Cukup dekat kok dari sini," jawab Benny.

"Bagus deh. Kalau begitu tunggu apa lagi, langsung saja ke sana," ujar Revian.

Usai berkata begitu, ia mengubah posisi tempat duduknya, lalu merebahkan tubuh untuk tidur. "Nanti bangunkan saya kalau sudah sampai," titahnya sambil memejamkan mata.

Benny mengiyakan perintah itu tanpa protes, karena memang sudah menjadi kebiasaan Revian begitu. Sejak berkerja sebagai sopir Revian empat tahun yang lalu, Benny sudah sangat hapal dengan kebiasaannya. Lelaki berwajah tampan itu selalu tidur saat berada di perjalanan, tidak peduli itu perjalanan jarak jauh ataupun perjalanan yang hanya membutuhkan waktu sepuluh menit.

Mobil mewah yang dikendarai Benny sampai di alamat yang disebutkan Revian. Ia menghentikan laju mobil itu tepat di depan sebuah rumah bergaya minimalis berukuran sedang.

"Bos, kita sudah sampai," ucap Benny sambil menepuk pelan lengan bosnya itu.

Revian duduk, lalu mengamati sekitarnya untuk beberapa saat.

"Ya, sudah. Kamu beritahu keluarganya sana," titah Revian.

Benny menurut patuh, turun dari mobil itu lalu mengetuk pintu rumah bernomor sepuluh itu dengan pelan.

Seorang pria berusia awal empat puluh membukakan pintu, terlihat kebingungan saat Benny memberitahu perihal Sheila yang pingsan di dalam mobil.

"Ada apa, Ben? Kenapa lama sekali?" tanya Revian dari jendela mobil yang ia buka setengah.

Benny menghampiri Revian dengan kebingungan.

"Ada masalah, Bos. Bapak itu bilang tidak memiliki keluarga bernama Sheila Damaris," jawab Benny.

"Kamu yakin? Kamu sudah sebutkan ciri-ciri fisiknya? Kalau perlu minta bapak itu melihat sendiri ke mobil deh," kata Revian.

"Sudah saya sarankan begitu, Bos. Tetapi bapak itu dengan tegas menolak. Dia bahkan memperlihatkan salinan kartu keluarga yang tersimpan di ponselnya. Memang tidak ada nama Bu Sheila di sana," jelas Benny.

"Lho ... kenapa bisa begitu? Apakah alamat rumahnya salah? Tetapi saya sudah melihat dengan teliti tadi, memang di sini alamatnya," ujar Revian tak kalah bingungnya dengan sang sopir.

Benny mengemudikan mobil itu kembali, fokus pada jalanan yang ada di hadapannya.

"Jadi sekarang kita ke mana, Bos?" tanya Benny lagi.

"Itu yang saya juga tidak tahu, Ben," jawab Revian sambil memijit kepalanya yang terasa pusing. Ia menoleh ke belakang, menatap Sheila yang masih terbaring tak sadarkan diri.

"Ah ... tadi dia menerima panggilan telepon dari seseorang di rumah sakit, 'kan?" seru Revian pada dirinya sendiri.

Ia pun bergegas memeriksa saku blazer Sheila untuk menemukan ponsel gadis itu, sayangnya nihil. Ia gagal menemukan ponsel milik Sheila.

"Sial. Mungkin ponselnya terjatuh saat di kantor," gumam Revian.

Sekarang ia benar-benar kebingungan karena tidak tahu harus membawa Sheila ke mana. Hari semakin malam, Revian sadar dirinya harus segera mengambil keputusan agar tidak berputar-putar tanpa arah di jalanan itu.

"Tidak ada pilihan lain. Bawa dia ke hotel saja, Ben," ucap Revian.

"Hotel yang biasa, Bos?" tanya Benny lugu.

"Apakah pertanyaan itu masih harus saya jawab?" Revian balik bertanya dengan dingin.

Benny menggeleng. Tanpa berkata-kata lagi ia segera melajukan mobil itu menuju hotel bintang lima tempat Revian biasanya menghabiskan waktu bersama wanita-wanita mainannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED