Bab 2

"Terimakasih mas, terimakasih karena kau masih bisa menutupi aib terburukku walaupun di saat hubungan kita tengah tidak baik-baiknya seperti sekarang ini sekalipun, Batin Bella.

Tanpa terasa air matanya juga ikut menetes, perasaan yang awalnya begitu membenci kedua pasangan itu karena tidak bisa menerima kesalahan yang sudah mereka perbuat sebelumnya tiba-tiba langsung menjadi luluh saat melihat sikap bijak yang ditunjukkan oleh mantan suaminya itu saat menghadapi masalah seperti ini.

Tidak seharusnya bagi pasangan suami istri ataupun yang sudah bercerai membuka aib pasangan mereka kepada orang lain. Karena membuka aib pasangan itu layaknya seperti sedang menelanjangi dan mempertontonkan tubuh pasangan kita sendiri kepada orang lain, tanpa terkecuali hanya di dalam keadaan yang sangat mendesak dan juga demi memperjelas suatu perkara untuk kebaikannya.

Bella sudah bertekad akan menghapus nama Aris dari hatinya dan juga merestui hubungan keduanya walaupun dadanya masih terasa nyeri sekali saat melihat kebersamaan mereka, lagi pula semua itu bisa terjadi karena ulahnya juga yang gagal menjadi seorang istri sudah seharusnya dia melepas pria itu demi kebahagiaannya.

Di lain sisi.

Brak..

Mia langsung menutup pintu kamarnya dengan keras saat tahu kalau putranyalah yang sudah mendonorkan darahnya kepada

Ana, saat melihat live konferensi pers pengusaha muda direktur CTIA group itu barusan.

"Kurang ajar, suatu saat aku akan mengambil darah anakku kembali dari dalam tubuhmu!" Batin Mia.

Dia benar-benar geram saat tahu justru putranyalah yang sudah mendonorkan darahnya kepada keluarga itu, terlebih saat tahu untuk siapa darah itu di berikan, kebenciannya kepada Ana semakin bertambah-tambah dari sebelumnya.

Dret...Drett...

Ponselnya bergetar, Mia pun langsung buru-buru mengambilnya untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan untuknya itu.

Prangg-.

Kali ini Mia justru langsung melemparkan ponselnya ke arah lantai saat sudah melihat isi pesan itu barusan.

"Keluarga Mahendra, kalian benar-benar kurang ajar! tidak cukup puaskah kalian merusak anak perempuanku satu-satunya itu, dan sekarang kalian lagi-lagi mempengaruhi putraku, tak tik apa lagi yang akan kalian permainkan sekarang haaa?"

Pantas saja selama beberapa hari ini putranya itu tak kunjung-kunjung pulang ke rumah, pedahal segala upaya sudah dia lakukan agar putranya itu kembali pulang, bahkan karena terlalu mengkhawatirkan keadaannya, dia sampai harus mengutus beberapa orang untuk mencarinya, dan malangnya setelah dia tahu di mana keberadaan putranya itu sekarang, Aldo justru tengah berada di rumah keluarga yang sudah menjadi penyebab kehancuran rumah tangganya itu.

****

Besoknya

Plakk...Plakkk..

Aris langsung mendaratkan beberapa tamparannya kepada kedua mantan resepsionis yang pernah bekerja di perusahaannya itu.

"Rupanya pelajaran yang sudah ku berikan kepada kalian beberapa waktu yang lalu terlalu ringan ehhh!? berani sekali kalian menyebarkan video terkutuk itu ke internet!"

Maki Aris kepada kedua wanita itu.

Setelah tahu kalau bukan Bella lah yang sudah menyebabkan kericuhan itu, Aris pun langsung memberi perintah kepada

Rey demi mencari tahu siapa dalang dari itu semua. Setelah beberapa hari masa penyelidikan, mereka justru menemukan beberapa bukti yang mengarah kalau kedua wanita itulah sebagai pelakunya.

"Pak, saat itu kami memang berada di tempat kejadian, jujur saja kami memang membenci calon istri anda, tapi sungguh pak bukan kami yang menyebarkan videonya," Ratap mereka.

Keduanya hanya bisa meringis menahan rasa perih yang ada di pipinya. Jantung mereka sudah berdetak sangat kencang saat memikirkan apa yang akan pria itu lakukan kepada mereka selanjutnya.

"Heh! masih berani menyangkal, aku sudah punya beberapa bukti, bahwa kalianlah yang sudah menyebarkannya, besar sekali nyali kalian berani membodohiku eeh!"

Tangannya semakin mengepal erat karena geram.

"Rey!" "Baik pak" Jawab Rey. Kakinya sudah melangkah ke arah mobil demi mengambil beberapa bukti yang mereka punya agar bisa di pertanggung jawabkan oleh kedua wanita itu.

Plakkk

Aris langsung melemparkan beberapa foto ke arah wajah kedua wanita itu. "Sebelum bertindak pikirkan terlebih dahulu apa resiko yang harus kalian hadapi!"

Kecam Aris.

"Pak, saat itu kami memang sempat memvideo kekasih anda dan bermaksud akan menyebarkannya ke internet, tapi setelah kami memikirkan kembali apa resiko yang akan kami hadapi nantinya, kami pun langsung mengurungkan niat kami kembali; Jawab keduanya.

Saat mereka sudah melihat foto apa yang dilemparkan oleh pria itu barusan. Suara keduanya sudah gemetaran saat berbicara.

"Kalau bukan kalian lalu siapa!?"

"Ka...kami ingat, saat kami akan meninggalkan halaman rumah bapak saat itu kami sempat bertemu seorang wanita cantik berambut pendek, dan di kedua pipinya memiliki lesung pipi,"

Jawab keduanya serentak.

Entah kenapa pikiran mereka tiba-tiba bisa sejalan saat mengingat kejadian tempo hari. Yang mana di saat mereka akan menyalakan motornya untuk meninggalkan tempat itu, mereka sempat bertemu orang lain, sifatnya pun sedikit tampak mencurigakan menurut mereka.

Hati mereka langsung bersorak kegirangan saat teringat itu, untung saja dia masih bisa mengingatnya di saat situasi darurat seperti ini.

"Pergilah!" Usir Aris. Dia langsung paham siapa dalang dari semuanya, Aris percaya kalau kedua wanita itu bukanlah pelakunya saat melihat raut wajah bersungguh-sungguh dari kedua wanita itu.

"Te.terima kasih banyak pak," Jawab keduanya. Mereka benar-benar bersyukur karena bisa lolos dengan selamat dari cengkeraman pria itu. Tanpa banyak berkata-kata lagi dengan langkah tergesa-gesa keduanya langsung meninggalkan tempat itu.

"Rey kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?"

"Tentu saja pak" Jawab Rey.

Setelah itu Aris pun sudah terlihat masuk ke dalam mobilnya, demi menyusul kekasihnya yang sudah terlebih dahulu pergi ke butik tempat Desainer ternama di kotanya itu untuk melakukan fitting baju pengantin.

Di ruang ganti.

Saat Aris memasuki ruangan itu, dilihatnya calon istrinya itu baru saja akan mengenakan pakaian pengantinnya, di belakangnya ditemani oleh seorang pelayan yang memang bertugas untuk membantunya.

Tap.Tapp.

Suara langkah kaki Aris. Pelayan itu pun langsung menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang menghampiri mereka.

Baru saja pelayan itu akan membungkuk dan juga membuka mulutnya untuk memberi hormat kepada Aris, Aris sudah terlebih dahulu memberinya kode agar tetap menutup mulut dan juga langsung menyuruhnya pergi untuk meninggalkan mereka sekarang juga dari ruangan itu.

Tanpa banyak bertanya lagi pelayan itu pun langsung pergi dari sana.

"Mbak ini bagaimana cara menaikan resletingnya? saya sendiri tidak bisa melakukannya, apakah anda bisa membantu saya?" Tanya Ana lembut.

Srett.

Tanpa banyak bicara Aris pun langsung memenuhi permintaan kekasihnya itu.

Cuppp.

Aris benar-benar sudah tak tahan saat melihat tengkuk putih mulus yang dimiliki oleh gadis itu.

"Mbak?" Ana sudah kaget setengah mati saat mendapati tengkuknya yang tiba-tiba dicium oleh pelayan wanita itu.

"Apa kau begitu khawatir kalau yang mencumbumu barusan adalah pelayan wanita itu?" Ujar Aris. Tangannya sudah memeluk tubuh Ana dari arah belakang,sekali-kali dia juga menciumi rambut gadis itu bahkan juga menjilati lehernya.

"Mas."

Dadanya sudah berdetak sangat kencang, entah kenapa Ana bisa merasakan sendiri kalau seluruh tubuhnya saat ini mendadak menjadi panas saat mendapatkan perlakuan itu dari Aris.

"Bagaimana sayang apa kau suka dengan permainan yang ku berikan? ini hanya permulaan saja, permainan yang sesungguhnya akan kita mulai setelah kita menikah nanti' Bisik Aris mesra. Lalu membalikan tubuh gadis itu untuk menghadap ke arahnya sambil mengerlingkan matanya untuk menggodanya.

Blushh.

Wajah Ana semakin memerah saat mendengar ucapan nakal pria itu barusan.

"Kenapa wajahmu merah sekali apa kau demam?" Berpura-pura bodoh, tangannya sudah meraba-raba kening Ana.

"Eng...enggak kok mas, urusan mas udah kelar?" mengalihkan pembicaraan ke arah

lain karena malu.

"Tentu saja sudah, kalau belum aku tak akan berada di sini sekarang, gaun ini cocok sekali untukmu, ukurannya benar-benar pas dengan tubuhmu, aku memang sangat pandai bukan walaupun aku belum pernah melihat tubuh tanpa busana mu, tapi aku sudah hafal semua tentang ukuran tubuhmu." Bibirnya sudah tersenyum menyeringai.

"Ja..Jadi gaun ini memang khusus dijahitkan untukku?" Tanya Ana.

Walaupun dia sudah tahu jawabannya, pantas saja setelah dia sampai di situ Designer itu langsung mengeluarkan beberapa gaun terbaik walaupun dia belum memintanya sama sekali.

"Tentu saja."

"Ya tuhan, kenapa dia bisa langsung tahu sedetail itu tentang ukuran tubuhku, awalnya kupikir gaun ini hanya kebetulan pas dengan ukuran tubuhku, pantas saja gaunnya tidak memiliki kekurangan apapun walaupun hanya secuil' Batin Ana.

"Tidak usah semalu itu, bahkan setelah kita menikah nantinya setiap malam sebelum tidur, aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk menggunakan pakaian dalam lagi!"

"Aa..Ana kebelet pipis."' Sudah bergegas ingin keluar, karena sudah tidak tahan mendengar ucapan vulgar calon suaminya itu.

Bab 3

Grepp..

Lagi-lagi langkahnya berhasil di tahan.

"Kau bukan kebelet pipis sayang? aku rasa yang kau perlukan adalah mengganti dalamanmu yang basah."

Ah ingin sekali rasanya Ana langsung menenggelamkan tubuhnya di bak mandi sekarang juga saat mendengar semua ucapan nakal dari calon suaminya itu.

Tok..Tokk.

"Tuan saya kemari ingin mengantarkan

Tuxedo yang anda inginkan, apakah saya boleh masuk sekarang?" Tanya seorang pelayan butik itu dari balik pintu.

"Masuklah!"

Fiuhhh.

Ana langsung bernafas lega, saat kedatangan pelayan itu di sana.

Sementara Aris sudah terlihat sibuk demi mengenakan beberapa stel tuxedo yang dia inginkan itu agar penampilannya di saat hari pernikahan mereka nantinya benar-benar terlihat begitu sempurna.

********

Hari pernikahan.

Setelah selama beberapa hari ini Ana dan juga Aris terus di sibukkan dengan semua urusan persiapan pernikahan, akhirnya hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh keduanya beserta yang lainnya itu pun telah tiba.

Semua publik juga turut bergembira atas hari bahagia itu, mereka juga turut mendoakan kelancaran acara keduanya dari jauh.

Plakkk...

Aris langsung melemparkan sepotong kue yang ada di tangannya ke arah wajah seorang pria yang terlihat bertubuh begitu gemulai yang tengah memakaikan make up di wajah calon istrinya itu.

"Aris!" Rika yang saat itu juga turut berada di sana dan juga melihat kejadian itupun langsung melemparkan tatapan yang begitu menusuk ke arah putranya karena ulah konyolnya itu.

"Siapa yang mengijinkanmu menyentuh wajah calon istriku heh!? pokoknya aku tidak mau tahu kau harus pergi sekarang juga! lagi pula seingatku aku tidak pernah memintamu untuk menjadi Makeup Artist calon istriku!

Kecam Aris.

Dia sudah tidak peduli lagi dengan tatapan tajam yang diberikan oleh mamanya, tangannya sudah sibuk dengan ponselnya untuk segera memberi perintah kepada Rey agar Rey segera mencarikan

Makeup Artist yang baru.

"Hahaaahaa.."

Belum sempat si pria gemulai itu menjawab, Aldo yang saat itu baru saja masuk ke kamar itu demi mencari Rika, langsung tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar ucapan Aris barusan.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Kau bertanya padaku?" Ujar Aldo seraya menunjuk dirinya sendiri.

"Ya tentu saja, memangnya siapa lagi yang bisa mengeluarkan tawa jelek seperti truk rusak itu selain kau!"

"Hahaaa, kau terlalu memuji, tentu saja aku menertawakanmu, acara pernikahanmu tinggal 30 menit lagi akan segera dimulai,| dan kau malah memintanya untuk pulang, hanya karena alasan kau begitu cemburu saat melihat calon istrimu di sentuh oleh pria lain, dan itu pun padahal bukan disentuh oleh seorang pria sepertiku, apa menurutmu umurmu itu sesuai dengan kelakuanmu?"

"Cihhh, ku beri kau waktu dalam 15 menit untuk menyelesaikan make upnya, kalau sampai lewat dari waktu yang ku berikan, kau tahu sendiri resiko apa yang kau terima nantinya!" Ancam Aris.

Matanya sudah menatap tajam ke arah pria yang bertubuh gemulai itu.

"Oke cin, tenang aje" Jawab pria bertubuh gemulai itu, tapi jujur saja tangannya sudah gemetaran saat mendengar ancaman itu.

Pikirannya sudah kemana-mana, tampaknya rumor gila tentang pria itu memang benar adanya apalagi saat melihat tatapan membunuhnya secara langsung seperti itu, sudah meninggalkan kesan aura membunuh yang sangat menakutkan baginya.

13 menit kemudian.

Aris sempat terpana saat melihat betapa cantiknya penampilan calon istrinya itu, dadanya sempat berdebar-debar tak karuan saat melihatnya dengan balutan baju pengantin berwarna putih itu.

"Apa dia benar-benar calon suamiku" Batin

Ana.

Keduanya tampak saling mengagumi satu sama lainnya.

"Ehmmm..Ehmm..." Aris langsung berdehem untuk mencoba mencairkan suasana tegang di antara mereka, diakui pria gemulai itu memang pantas diacungi jempol saat melihat riasan yang dia berikan untuk calon istrinya itu, bahkan dia bisa menyelesaikannya lebih cepat dari waktu yang diberikan olehnya tadi.

Di Aula gedung.

Dari pagi sampai sesore ini sekalipun, para tamu undangan masih saja terlihat begitu sesak memenuhi semua meja yang sudah disediakan oleh tuan rumah.

Decak kagum dari para tamu undangan saat melihat betapa cantik dan juga tampannya kedua mempelai itupun tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka.

Dan banyak juga di antara mereka yang langsung secara terang-terangan meminta izin untuk berfoto bersama demi mengabadikan momen spesial itu, dan kedua mempelai pun dengan senang hati langsung memenuhi keinginan mereka.

"Selamat!" Ujar Elios seraya mengulurkan tangannya ke arah sahabatnya itu.

"Kau!" Aris langsung meninju bahu Elios karena kesal baru bertemu dengan pria itu sekarang.

"Kemana saja kau beberapa minggu ini bahkan saat aku meneleponmu sekalipun kau tak pernah mengangkatnya?" Lanjut

Aris lagi.

"Maaf selama beberapa minggu ini aku sibuk sekali, oleh karena itu aku tidak terlalu punya banyak waktu bersantai-santai apalagi sampai harus menerima telepon darimu, tapi kau puas bukan dengan hasil makeup Artis yang aku kirimkan sebagai bentuk hadiah dariku untuk pernikahan sahabat tercintaku ini?"

"Makeup Artist?" Ujar Aris.

"Jadi yang mengirimkan pria jadi-jadian itu kemari karena ulah perbuatanmu?" Ujar Aris lagi. Berbicara dengan pelan karena takut ucapannya akan terdengar oleh orang lain.

"Hahaaa tentu saja, memangnya siapa lagi yang bisa selancang itu kepadamu selain sahabatmu yang gagah perkasa ini" Jawab Elios.

"Kau!" Aris sudah menggertakan giginya karena geram.

"Ingatlah sobat, di segala penjuru semua kamera terus menyorotmu, memangnya kau mau semua publik melihat sifat aslimu itu?"

Ujar Elios seraya menepuk-nepuk bahunya

Aris, tak lama setelah itu dia pun segera berlalu dari sana untuk menikmati jamuan yang disediakan oleh tuan rumah.

Entah mengapa saat Aris melihat sikap yang Elios tunjukan barusan, dia justru merasa kalau Elios malah seperti sedang menghindarinya dan juga tengah berpura-pura bahagia atas pernikahan mereka.

"Ada apa dengan anak in?" Batin Aris.

Matanya terus memandangi punggung sahabatnya itu, bahkan dahinya juga sampai tampak mengkerut karena terlalu banyak berpikir.

"Ada apa mas?" Tanya Ana. Saat melihat raut wajah suaminya yang sulit di artikannya itu.

"Tak apa sayang" Jawab Aris seraya langsung tersenyum lebar ke arah istrinya itu lalu merangkul pinggangnya dengan mesra.

Tak lama setelah itu keduanya pun sudah disibukkan bersalaman kembali dengan semua para tamu undangan yang saat itu sudah berada di hadapan mereka.

Senyuman lebar tak luput sedikitpun dari bibir keduanya dan juga semua keluarga besar kedua mempelai yang tengah begitu berbahagia itu.

****

Setelah selama 2 hari 2 malam menggelar pesta pernikahan, akhirnya kedua mempelai dan juga seluruh keluarga besar Mahendra pun bisa pulang ke rumah dan juga mengistirahatkan tubuh mereka hari ini.

Walaupun tubuh mereka sangat kelelahan karena pesta pernikahan itu, namun senyuman lebar tak pernah luput dari bibirnya karena terlalu bahagia.

"Ma kita balik duluan ya?" Pamit Ana dan

Aris berbarengan kepada orangtuanya itu.

"Ya hati-hati sayang," Pesan Rika.

"Paman' Ujar Aris seraya langsung membawa Erik ke pelukannya.

"Ku titip keponakanku padamu, tolong jaga dia baik-baik' Ujar Erik seraya menepuk-nepuk bahunya Aris.

Tanpa terasa air matanya sempat menetes karena mulai hari ini dia dan keponakannya itu tidak akan pernah bisa seperti dulu lagi karena statusnya yang sudah menyandang sebagai istri dari seorang pria selaku atasannya itu.

"Tentu paman, tentu saja Aris akan menjaganya,' Jawab Aris lalu langsung melepaskan pelukan mereka.

"Hiks..hiksss"

Tanpa terasa air mata Ana juga merembes keluar, mulai sekarang dia bukanlah seorang wanita lajang berstatus sebagai keponakan kesayangan pamannya lagi, melainkan seorang wanita yang sudah resmi menjadi istri orang. Sedih, tentu saja dia sedih karena sekarang masa-masa saat dia tinggal di rumah pamannya itu hanyalah tinggal kenangan walaupun selama dia tinggal di sana bibiknya tak pernah memperlakukan dia dengan baik, namun oleh karena kasih sayang yang selalu di berikan oleh pamannya itu selama tinggal di sana, sempat membuatnya merindukan masa-masa itu, terlebih setelah dia sudah bekerja di rumah Aris selama kurang lebih setengah tahun ini dia memang tidak pernah lagi menginap di rumah pamannya.

"Ayolah kenapa kau cengeng sekali? kalau kau merindukan paman sewaktu-waktu kau kan bisa datang berkunjung ke rumah' Ujar

Erik menenangkan.

Jiwa kebapakannya langsung paham saat melihat reaksi gadis itu.

"Bukankah paman juga cengeng?

Ana sempat melihat kalau paman juga meneteskan air mata tadinya."

"Kau salah sangka, mata paman hanya berair tadinya karena kelilipan, Dalih erik.

Lalu mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Haihhh kenapa kau cengeng sekali sayang, atau kamu mau aku cium sekarang juga untuk menghentikan tangismu itu?" Timpal Aris.

"Sudah, sudah, sebaiknya kalian kembalilah sekarang!" Ujar Rika menengahi.

"'Silahkan tuan dan nona!" Timpal seorang wanita setengah baya setelah membukakan pintu mobil bagian belakang untuk kedua majikannya itu.

"Paman, mama, semuanya kami pulang"

Pamit Ana dan Aris lagi.

"Ya,' Jawab mereka.

"Bibi akan merindukanmu sayang, sering-seringlah berkunjung ke rumah,"

Timpal Hana seraya memasang wajah manis palsunya itu, pedahal di dalam hatinya dia habis-habisan merutuki gadis itu karena sudah membuatnya harus berjauhan dengan putri tercintanya.

Sementara Ana hanya menanggapinya dengan senyuman yang sangat tipis.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED