Bab 1

"Harap tetap tenang! saya pasti akan menjawab semua pertanyaan kalian,"

Jawab Aris.

"Mula-mula saya hanya ingin mengatakan kepada kalian semua bahwa saya dan juga calon istri saya ini tidak pernah berselingkuh sekalipun di belakang Bellena, kami menjalin hubungan setelah saya sudah resmi bercerai dengan Bella, jadi dengan ini saya ingin menegaskan kepada kalian bahwa Ana bukanlah seorang wanita pelakor seperti yang kalian tuduhkan, selama ini Bella sudah salah paham terhadap kami, bahkan beberapa hari yang lalu saya sudah meluruskan kesalah pahaman dia terhadap kami, dan dia juga merasa sangat bersalah atas apa yang sudah dia lakukan terhadap calon istri saya beberapa waktu yang lalu, Lanjut Aris lagi.

"Ya tuhan jadi begitu cerita yang sebenarnya."

Semua para wartawan yang hadir di situ pun langsung di buat terkejut. Semua orang-orang yang tadinya sempat mengeluarkan tatapan kebencian kepada

Ana seketika langsung berubah menatap iba ke arah gadis itu saat teringat akan penyiksaan yang sudah Bella lakukan kepadanya.

"Maaf tuan, saya masih keberatan dengan penjelasan anda, walau bagaimanapun juga anda hanya bisa berucap tanpa bukti, lagi pula di dunia ini mana ada seorang maling yang mengaku maling, oleh sebab itu anda harus menunjukan buktinya kepada kami terlebih dahulu agar kami bisa percaya dengan apa yang anda katakan' Ujar salah satu dari para wartawan itu.

"Ya benar, walau bagaimanapun juga apa yang ada katakan barusan memang belum cukup kuat untuk membuktikan bahwa kalian selama ini memang tidak pernah berselingkuh, di tambah lagi calon istri anda memang sempat mengakui kalau dia jelas-jelas pernah mengajak anda untuk tidur di kamarnya' Ujar yang lainnya lagi.

Sementara para wartawan yang lainnya hanya bisa manggut-manggut saat mendengar penuturan rekannya itu.

Lagi pula di dunia ini mana ada seseorang yang secara sukarela mengakui aibnya terang-terangan di depan publik, pastilah pengusaha muda CTIA grup itu hanya bisa omong belaka, terlebih saat mereka mengingat betapa cerdasnya otak pria itu, baginya membolak balikan fakta itu hanya sebanding dengan membalikan telapak tangan, begitu pikir mereka.

"Haih si ****** itu benar-benar hebat, lihatlah! sekarang dia sudah berhasil mempengaruhi pikiran Haris Mahendra agar pria itu selalu berada di pihaknya,"

Bisik-bisik wartawan itu.

"Ya kau benar, Bella benar-benar kasihan, dasar pelakor laknat! merusak nama baik wanita saja,' Cibir yang lainnya lagi.

"Bukti!?" Aris hanya bisa tersenyum kecut saat mendengar penuturan mereka.

Tangannya sudah menggenggam tangan Ana dengan begitu eratnya demi menenangkannya, saat melihat wajah panik yang Ana tunjukan setelah mendengar ucapan para wartawan itu.

"Ya benar, tanpa bukti mana mungkin kami bisa percaya begitu saja terhadap apa yang anda katakan, terlebih kalian memang sering menghabiskan waktu berdua saat

Bella sedang tidak berada di rumah, hal apapun mungkin saja bisa terjadi di antara kalian saat itu.!"

"Ku akui kami memang tidak memiliki bukti apapun, adapun soal ucapan calon istriku di dalam video itu, aku memang tidak bisa menyangkalnya karena kami memang pernah melakukan kesalahan di belakang Bella, seharusnya aku selaku seorang suami memang tidak sepantasnya melakukan hal itu kepada wanita lain, terlebih disisiku sudah ada seorang perempuan yang sudah resmi menjadi istriku."' Wajah Aris menunjukan penyesalan yang sangat mendalam saat teringat kejadian itu.

Walau bagaimanapun juga baik itu disengaja ataupun tidak di sengaja, saat itu dirinya sudah berstatus sebagai suami orang. Jangankan berselingkuh, saat berbicara dengan lawan jenis saja seorang pria beristri harus menjaga batasannya karena hal itu pasti akan sangat melukai hati seorang istri, karena pada dasarnya seorang perempuan itu memang memiliki sifat yang sangat pencemburu.

Lagi-lagi para wartawan itu kembali ricuh saat mendengar pengakuan pria itu, mereka juga tidak menyangka kalau di dunia ini masih ada seseorang yang bisa sejujur itu dan mengakui kesalahannya, bahkan secara terang-terangan di hadapan orang banyak sekalipun.

"Bella aku yakin sekali bahwa kau juga ikut menyaksikan live ini di rumah, aku benar-benar minta maaf padamu atas apa yang sudah aku lakukan di belakangmu selama ini, tapi sebelumnya aku juga minta maaf yang sebesar-besarnya padamu karena aku secara terpaksa akan membongkar aib rumah tangga kita hari ini kepada publik, demi membersihkan nama kami, kau tidak akan keberatan bukan? lagi pula aku yakin sekali dengan aku menceritakan hal ini kepada mereka, mereka bisa mengambil hikmah dari ceritaku untuk mereka terapkan di kehidupannya sehari-hari, karena masalah yang menimpa rumah tangga kita adalah hal lumrah yang juga pernah terjadi di dalam kehidupan rumah tangga pasangan lainnya, Ujar Aris lagi.

Sebelum dia melanjutkan kata-katanya

Aris terlebih dahulu menarik nafasnya lalu membuangnya kembali. Jujur saja sebenarnya dia tak ingin mengumbar aib rumah tangga mereka kepada orang lain, namun oleh karena desakan semua para wartawan itu Aris pun terpaksa harus menceritakannya demi kepentingan bersama.

Sementara semua wartawan itu hanya bisa memfokuskan pendengaran mereka demi mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh pria itu selanjutnya.

"Sepertinya apa yang membuatku begitu penasaran tentang masalah perceraian mereka selama beberapa hari ini akan terjawab semuanya' Batin Ana.

Walaupun hari itu dia memilih untuk percaya kepada apa yang di katakan oleh pria itu, tapi jujur saja dia memang masih sangat penasaran tentang penyebab perceraian keduanya.

"3 tahun yang lalu aku dan Bella resmi menjadi pasangan suami istri, walaupun status pernikahan kami hanya menikah secara siri, namun karena alasan kami yang saling mencintai kami terpaksa melakukannya, kalian semua pun pasti tahu sendiri kenapa kami harus melakukan hal itu karena mengingat hubungan kedua belah pihak keluarga kami yang memang tidak memiliki hubungan baik itu bukan?"

Tanya Aris.

"Ya, kami tahu itu Jawab para wartawan itu..

"Di awal pernikahan kami sudah bertekad akan mempengaruhi seluruh keluarga kami agar mau merubah tradisi permusuhan yang sudah turun temurun itu, tapi sayangnya setelah kami menikah karier

Bella justru semakin menanjak dan berada di puncaknya, jangankan menyusun rencana untuk merubah pandangan keluarga kami masing-masing, untuk sekedar menemani keseharianku di rumah saja dia sudah tidak punya banyak waktu karena terlalu sibuk dengan karirnya, hingga akhirnya aku memutuskan untuk selalu menyibukan diri dengan urusan kantor, bahkan saat urusanku sudah kelar sekalipun aku lebih memilih untuk tidur di sana, bagiku baik itu tidur di rumah maupun di kantor rasanya sama saja hanya ada aku dan juga jiwa yang kesepian, saat itu aku benar-benar dilanda kesepian yang sangat mendalam karena tanpa kehadiran seorang istri di sisiku, hingga akhirnya datanglah Ana ke rumahku, awalnya aku hanya bersikap acuh kepadanya layaknya hubungan antara majikan pria dan juga pembantu, namun karena Bella terus-terusan hanya sibuk mengurus kariernya dan semakin jarang pulang ke rumah, bahkan di saat aku menyuruhnya untuk meninggalkan kariernya itu sekalipun agar dia selalu punya waktu untukku, dia justru menolaknya dan masih bersikeras untuk mempertahankannya, dari semenjak kejadian itulah aku yang biasanya sabar, dan terus bisa memaklumi apa yang dia inginkan, entah kenapa mulai merasa lelah, sampai akhirnya di alam bawah kesadaranku aku yang biasanya cuek, tidak pernah melirik wanita manapun selain Bella, berubah menjadi seorang pria nakal yang suka menganggu pembantuku sendiri, bahkan aku juga sadar betul bahwa kelakuanku saat itu benar-benar sudah kurang ajar bagi seorang pria yang sudah beristri, tapi saat itu aku sendiripun terus bertanya-tanya kepada diriku sendiri, kenapa aku selalu melakukan tindakan gila itu kepada Ana? bahkan di saat aku melihat ada pria lain di sisinya sekalipun aku tiba-tiba menjadi marah tanpa alasan yang jelas, bahkan aku juga pernah sampai melampiaskan semua amarahku padanya, namun entah mengapa hatiku justru merasa ikut sakit saat melihat butiran air mata yang keluar dari pelupuk matanya karena ulah busukku itu, dimulai dari malam itulah aku yang biasanya sering mengganggu dan menyakitinya berubah menjadi seseorang yang sedikit lebih menghargainya, hubungan kami yang tadinya terlihat kaku dan kurang baik langsung berubah normal kembali, bahkan menjadi lebih baik dan juga lebih akrab dari sebelumnya, kami berdua mulai merasa saling nyaman satu sama lain, terlebih semua tugas seorang istri yang seharusnya dikerjakan oleh Bella justru

Ana lah yang bisa melakukannya, bahkan di saat aku sakit sekalipun bukan Bella yang berada di sisiku melainkan Ana, ditambah lagi masalah rumah tanggaku dengan Bella terus menerus datang silih berganti, yang justru membuatku semakin lelah untuk mempertahankan pernikahan kami, aku rasa tanpa aku jelaskan sekalipun kalian bisa mengambil kesimpulan sendiri bukan, kenapa aku tiba-tiba langsung melamar Ana walaupun percerain kami belum terhitung lama? kenapa aku lebih memilih dia walaupun dia tidak memiliki apa-apa, karena bagiku baik itu status, ataupun takhta tidak terlalu penting, selagi dia bisa menjadi seorang istri yang begitu baik, patuh dan juga dapat menyenangkan suaminya kenapa tidak! harta dan tahta pasangan kalian tidak akan menjamin bahwa hidup kalian pasti akan selalu bahagia nantinya, memang benar kalau segalanya itu membutuhkan uang tanpa uang kita tidak bisa membeli apa-apa, tapi coba kita pikirkan lagi, apakah dengan uang kita bisa mendapatkan semua yang kita inginkan? apakah dengan uang kita bisa membeli kasih sayang dan juga kebahagian di dalam sebuah keluarga? tidak! itu sudah membuktikan kalau yang paling kita butuhkan di dunia ini bukanlah hanya uang melainkan sebuah kepedulian yang akan di tunjukan oleh pasangan kita terhadap kita nantinya, apa gunanya banyak uang kalau hidup kita saja terlantar tidak mendapatkan perhatian dari apa namanya keluarga, karena pada dasarnya setiap insan yang ada di dunia ini tidak sekedar hanya membutuhkan uang namun juga sangat membutuhkan setiap perhatian yang diberikan oleh keluarga, baik itu di saat kita sedang sehat, ataupun di saat kita sedang sakit sekalipun Ujar Aris panjang lebar.

Deggg.

"Ya tuhan tampaknya semua sifatku yang tidak pernah menolak mas Aris ketika dia menjamahku dulu karena aku mulai jatuh cinta kepadanya sejak saat itu, di tambah lagi buk Bella juga sering membuat mas

Aris kecewa, jadi cinta kami yang tadinya nilainya tak seberapa semakin bertambah besar seiring berjalannya waktu' Batin Ana.

Andai hari ini dia tidak mendengar penuturan pria itu, mungkin saja saat ini

Ana tetap menilai dirinya sendiri sebagai wanita murahan penggoda suami orang saat teringat kejadian itu. Rasa penasaran yang terus membuncah di dadanya selama ini akhirnya bisa terjawab semuanya, dia juga sangat bahagia saat tahu alasan pria itu memilihnya walaupun statusnya bukan siapa-siapa itu.

"Ya tuhan, kami benar-benar mendapatkan pelajaran yang begitu berharga dari cerita anda, kami sudah berbuat kesalahan, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada anda dan juga nona Ana, tolong maafkan kesalahan kami selama ini, siapapun yang berada di posisi anda pasti akan melakukan kesalahan itu, terlebih anda melakukan itu semua juga bukan karena disengaja, namun karena anda terlambat menyadari perasaan anda sendiri terhadap nona Ana, di tambah lagi istri anda memang terlalu egois dan lebih mementingkan dirinya sendiri, sesabar apapun seorang pria lama kelamaan pasti akan menjadi lelah juga saat menghadapi sifat seorang istri egois seperti Bellina, dan teruntuk nona Ana, anda adalah orang yang cukup baik, bahkan anda berani mengakui kesalahan yang sudah anda perbuat kepada

Bella, sifat jujur kalian benar-benar patut di contoh oleh orang banyak, walaupun kejujuran itu memang sangat menyakitkan tapi itulah yang terbaik, di banding kita harus menutup-nutupinya, karena sesuatu yang busuk itu sepandai apapun kita menyembunyikannya pasti lama kelamaan akan tercium juga, kalian benar-benar pasangan yang sangat mirip, entah itu dari segi sifat maupun sikap, kalian benar-benar pasangan yang sangat serasi" Ujar salah satu dari para wartawan itu.

"Ya benar, walaupun kalian juga pernah melakukan kesalahan, tapi yang melakukan kesalahan paling besar di sini adalah Bella, dia pantas mendapatkan semua ini setelah apa yang di perbuatnya, kalian berhak bahagia Ujar yang lainnya lagi.

"Terima kasih banyak, di sini saya juga ingin menyampaikan sebuah pesan yang sangat penting untuk kalian semua, seperti apapun masalah yang datang menimpaInirumah tangga kalian, kalian harus saling terbuka demi mencari solusinya secara bersama-sama, perbanyaklah intropeksi diri, jangan hanya bisanya melemparkan kesalahan kepada orang lain, terlebih bagi orang-orang yang gampang sekali terpengaruh terhadap segala hal, yang hobby sekali menilai sesuatu dengan apa yang mereka dengar dan juga lihat, mungkin saja masalah itu bisa berbeda dari apa yang kalian ketahui, jadi janganlah terlalu suka menghakimi dan juga ikut campur dalam urusan orang lain, karena itu akan sangat berbahaya sekali bagi orang yang kalian hujat, bahkan mungkin saja sampai bisa membuatnya nekat untuk bunuh diri hanya karena terlalu depresi gara-gara ulah kalian."

"Ya tuhan, apakah hal ini berhubungan dengan iklan yang anda pasang beberapa waktu yang lalu?" Tanya mereka.

"Ya, untung saja kami bisa menemukan pendonor darahnya secepat mungkin.

karena mengingat jenis golongan darah kekasihku yang sangat langka itu, Jawab

Aris.

"Ya tuhan, apakah kak Aldo bisa berada di ruangan yang sama denganku kemarin karena dialah yang sudah mendonorkan darahnya untukku?" Batin Ana.

Ana akui dirinya benar-benar bodoh karena tidak bisa memikirkan itu semua sejak hari itu, dia pikir Aldo bisa berada di ruangan yang sama dengannya karena hal lain, dia benar-benar tak menyangka kalau dirinya sudah sangat menyusahkan seluruh keluarga calon suaminya itu gara-gara ulah konyolnya itu.

Pantas saja keluarga calon suaminya itu tiba-tiba berubah menjadi peduli pada

Aldo, bahkan Aris yang biasanya selalu bermusuhan setiap bertemu pria itu tiba-tiba berubah menjadi baik, bahkan juga sampai memberi ijin untuk pria itu tinggal bersama kedua orangtuanya.

Lagi-lagi semua para wartawan itu dibuat terkejut, sama seperti halnya orang-orang yang juga ikut menyaksikan live itu di rumah, mereka benar-benar semua benar-benar sudah mendapatkan menyesali perbuatannya, hari ini mereka pembelajaran yang sangat berharga dari direktur CTIA grup itu.

Bab 2

"Terimakasih mas, terimakasih karena kau masih bisa menutupi aib terburukku walaupun di saat hubungan kita tengah tidak baik-baiknya seperti sekarang ini sekalipun, Batin Bella.

Tanpa terasa air matanya juga ikut menetes, perasaan yang awalnya begitu membenci kedua pasangan itu karena tidak bisa menerima kesalahan yang sudah mereka perbuat sebelumnya tiba-tiba langsung menjadi luluh saat melihat sikap bijak yang ditunjukkan oleh mantan suaminya itu saat menghadapi masalah seperti ini.

Tidak seharusnya bagi pasangan suami istri ataupun yang sudah bercerai membuka aib pasangan mereka kepada orang lain. Karena membuka aib pasangan itu layaknya seperti sedang menelanjangi dan mempertontonkan tubuh pasangan kita sendiri kepada orang lain, tanpa terkecuali hanya di dalam keadaan yang sangat mendesak dan juga demi memperjelas suatu perkara untuk kebaikannya.

Bella sudah bertekad akan menghapus nama Aris dari hatinya dan juga merestui hubungan keduanya walaupun dadanya masih terasa nyeri sekali saat melihat kebersamaan mereka, lagi pula semua itu bisa terjadi karena ulahnya juga yang gagal menjadi seorang istri sudah seharusnya dia melepas pria itu demi kebahagiaannya.

Di lain sisi.

Brak..

Mia langsung menutup pintu kamarnya dengan keras saat tahu kalau putranyalah yang sudah mendonorkan darahnya kepada

Ana, saat melihat live konferensi pers pengusaha muda direktur CTIA group itu barusan.

"Kurang ajar, suatu saat aku akan mengambil darah anakku kembali dari dalam tubuhmu!" Batin Mia.

Dia benar-benar geram saat tahu justru putranyalah yang sudah mendonorkan darahnya kepada keluarga itu, terlebih saat tahu untuk siapa darah itu di berikan, kebenciannya kepada Ana semakin bertambah-tambah dari sebelumnya.

Dret...Drett...

Ponselnya bergetar, Mia pun langsung buru-buru mengambilnya untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan untuknya itu.

Prangg-.

Kali ini Mia justru langsung melemparkan ponselnya ke arah lantai saat sudah melihat isi pesan itu barusan.

"Keluarga Mahendra, kalian benar-benar kurang ajar! tidak cukup puaskah kalian merusak anak perempuanku satu-satunya itu, dan sekarang kalian lagi-lagi mempengaruhi putraku, tak tik apa lagi yang akan kalian permainkan sekarang haaa?"

Pantas saja selama beberapa hari ini putranya itu tak kunjung-kunjung pulang ke rumah, pedahal segala upaya sudah dia lakukan agar putranya itu kembali pulang, bahkan karena terlalu mengkhawatirkan keadaannya, dia sampai harus mengutus beberapa orang untuk mencarinya, dan malangnya setelah dia tahu di mana keberadaan putranya itu sekarang, Aldo justru tengah berada di rumah keluarga yang sudah menjadi penyebab kehancuran rumah tangganya itu.

****

Besoknya

Plakk...Plakkk..

Aris langsung mendaratkan beberapa tamparannya kepada kedua mantan resepsionis yang pernah bekerja di perusahaannya itu.

"Rupanya pelajaran yang sudah ku berikan kepada kalian beberapa waktu yang lalu terlalu ringan ehhh!? berani sekali kalian menyebarkan video terkutuk itu ke internet!"

Maki Aris kepada kedua wanita itu.

Setelah tahu kalau bukan Bella lah yang sudah menyebabkan kericuhan itu, Aris pun langsung memberi perintah kepada

Rey demi mencari tahu siapa dalang dari itu semua. Setelah beberapa hari masa penyelidikan, mereka justru menemukan beberapa bukti yang mengarah kalau kedua wanita itulah sebagai pelakunya.

"Pak, saat itu kami memang berada di tempat kejadian, jujur saja kami memang membenci calon istri anda, tapi sungguh pak bukan kami yang menyebarkan videonya," Ratap mereka.

Keduanya hanya bisa meringis menahan rasa perih yang ada di pipinya. Jantung mereka sudah berdetak sangat kencang saat memikirkan apa yang akan pria itu lakukan kepada mereka selanjutnya.

"Heh! masih berani menyangkal, aku sudah punya beberapa bukti, bahwa kalianlah yang sudah menyebarkannya, besar sekali nyali kalian berani membodohiku eeh!"

Tangannya semakin mengepal erat karena geram.

"Rey!" "Baik pak" Jawab Rey. Kakinya sudah melangkah ke arah mobil demi mengambil beberapa bukti yang mereka punya agar bisa di pertanggung jawabkan oleh kedua wanita itu.

Plakkk

Aris langsung melemparkan beberapa foto ke arah wajah kedua wanita itu. "Sebelum bertindak pikirkan terlebih dahulu apa resiko yang harus kalian hadapi!"

Kecam Aris.

"Pak, saat itu kami memang sempat memvideo kekasih anda dan bermaksud akan menyebarkannya ke internet, tapi setelah kami memikirkan kembali apa resiko yang akan kami hadapi nantinya, kami pun langsung mengurungkan niat kami kembali; Jawab keduanya.

Saat mereka sudah melihat foto apa yang dilemparkan oleh pria itu barusan. Suara keduanya sudah gemetaran saat berbicara.

"Kalau bukan kalian lalu siapa!?"

"Ka...kami ingat, saat kami akan meninggalkan halaman rumah bapak saat itu kami sempat bertemu seorang wanita cantik berambut pendek, dan di kedua pipinya memiliki lesung pipi,"

Jawab keduanya serentak.

Entah kenapa pikiran mereka tiba-tiba bisa sejalan saat mengingat kejadian tempo hari. Yang mana di saat mereka akan menyalakan motornya untuk meninggalkan tempat itu, mereka sempat bertemu orang lain, sifatnya pun sedikit tampak mencurigakan menurut mereka.

Hati mereka langsung bersorak kegirangan saat teringat itu, untung saja dia masih bisa mengingatnya di saat situasi darurat seperti ini.

"Pergilah!" Usir Aris. Dia langsung paham siapa dalang dari semuanya, Aris percaya kalau kedua wanita itu bukanlah pelakunya saat melihat raut wajah bersungguh-sungguh dari kedua wanita itu.

"Te.terima kasih banyak pak," Jawab keduanya. Mereka benar-benar bersyukur karena bisa lolos dengan selamat dari cengkeraman pria itu. Tanpa banyak berkata-kata lagi dengan langkah tergesa-gesa keduanya langsung meninggalkan tempat itu.

"Rey kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?"

"Tentu saja pak" Jawab Rey.

Setelah itu Aris pun sudah terlihat masuk ke dalam mobilnya, demi menyusul kekasihnya yang sudah terlebih dahulu pergi ke butik tempat Desainer ternama di kotanya itu untuk melakukan fitting baju pengantin.

Di ruang ganti.

Saat Aris memasuki ruangan itu, dilihatnya calon istrinya itu baru saja akan mengenakan pakaian pengantinnya, di belakangnya ditemani oleh seorang pelayan yang memang bertugas untuk membantunya.

Tap.Tapp.

Suara langkah kaki Aris. Pelayan itu pun langsung menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang menghampiri mereka.

Baru saja pelayan itu akan membungkuk dan juga membuka mulutnya untuk memberi hormat kepada Aris, Aris sudah terlebih dahulu memberinya kode agar tetap menutup mulut dan juga langsung menyuruhnya pergi untuk meninggalkan mereka sekarang juga dari ruangan itu.

Tanpa banyak bertanya lagi pelayan itu pun langsung pergi dari sana.

"Mbak ini bagaimana cara menaikan resletingnya? saya sendiri tidak bisa melakukannya, apakah anda bisa membantu saya?" Tanya Ana lembut.

Srett.

Tanpa banyak bicara Aris pun langsung memenuhi permintaan kekasihnya itu.

Cuppp.

Aris benar-benar sudah tak tahan saat melihat tengkuk putih mulus yang dimiliki oleh gadis itu.

"Mbak?" Ana sudah kaget setengah mati saat mendapati tengkuknya yang tiba-tiba dicium oleh pelayan wanita itu.

"Apa kau begitu khawatir kalau yang mencumbumu barusan adalah pelayan wanita itu?" Ujar Aris. Tangannya sudah memeluk tubuh Ana dari arah belakang,sekali-kali dia juga menciumi rambut gadis itu bahkan juga menjilati lehernya.

"Mas."

Dadanya sudah berdetak sangat kencang, entah kenapa Ana bisa merasakan sendiri kalau seluruh tubuhnya saat ini mendadak menjadi panas saat mendapatkan perlakuan itu dari Aris.

"Bagaimana sayang apa kau suka dengan permainan yang ku berikan? ini hanya permulaan saja, permainan yang sesungguhnya akan kita mulai setelah kita menikah nanti' Bisik Aris mesra. Lalu membalikan tubuh gadis itu untuk menghadap ke arahnya sambil mengerlingkan matanya untuk menggodanya.

Blushh.

Wajah Ana semakin memerah saat mendengar ucapan nakal pria itu barusan.

"Kenapa wajahmu merah sekali apa kau demam?" Berpura-pura bodoh, tangannya sudah meraba-raba kening Ana.

"Eng...enggak kok mas, urusan mas udah kelar?" mengalihkan pembicaraan ke arah

lain karena malu.

"Tentu saja sudah, kalau belum aku tak akan berada di sini sekarang, gaun ini cocok sekali untukmu, ukurannya benar-benar pas dengan tubuhmu, aku memang sangat pandai bukan walaupun aku belum pernah melihat tubuh tanpa busana mu, tapi aku sudah hafal semua tentang ukuran tubuhmu." Bibirnya sudah tersenyum menyeringai.

"Ja..Jadi gaun ini memang khusus dijahitkan untukku?" Tanya Ana.

Walaupun dia sudah tahu jawabannya, pantas saja setelah dia sampai di situ Designer itu langsung mengeluarkan beberapa gaun terbaik walaupun dia belum memintanya sama sekali.

"Tentu saja."

"Ya tuhan, kenapa dia bisa langsung tahu sedetail itu tentang ukuran tubuhku, awalnya kupikir gaun ini hanya kebetulan pas dengan ukuran tubuhku, pantas saja gaunnya tidak memiliki kekurangan apapun walaupun hanya secuil' Batin Ana.

"Tidak usah semalu itu, bahkan setelah kita menikah nantinya setiap malam sebelum tidur, aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk menggunakan pakaian dalam lagi!"

"Aa..Ana kebelet pipis."' Sudah bergegas ingin keluar, karena sudah tidak tahan mendengar ucapan vulgar calon suaminya itu.

Bab 3

Grepp..

Lagi-lagi langkahnya berhasil di tahan.

"Kau bukan kebelet pipis sayang? aku rasa yang kau perlukan adalah mengganti dalamanmu yang basah."

Ah ingin sekali rasanya Ana langsung menenggelamkan tubuhnya di bak mandi sekarang juga saat mendengar semua ucapan nakal dari calon suaminya itu.

Tok..Tokk.

"Tuan saya kemari ingin mengantarkan

Tuxedo yang anda inginkan, apakah saya boleh masuk sekarang?" Tanya seorang pelayan butik itu dari balik pintu.

"Masuklah!"

Fiuhhh.

Ana langsung bernafas lega, saat kedatangan pelayan itu di sana.

Sementara Aris sudah terlihat sibuk demi mengenakan beberapa stel tuxedo yang dia inginkan itu agar penampilannya di saat hari pernikahan mereka nantinya benar-benar terlihat begitu sempurna.

********

Hari pernikahan.

Setelah selama beberapa hari ini Ana dan juga Aris terus di sibukkan dengan semua urusan persiapan pernikahan, akhirnya hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh keduanya beserta yang lainnya itu pun telah tiba.

Semua publik juga turut bergembira atas hari bahagia itu, mereka juga turut mendoakan kelancaran acara keduanya dari jauh.

Plakkk...

Aris langsung melemparkan sepotong kue yang ada di tangannya ke arah wajah seorang pria yang terlihat bertubuh begitu gemulai yang tengah memakaikan make up di wajah calon istrinya itu.

"Aris!" Rika yang saat itu juga turut berada di sana dan juga melihat kejadian itupun langsung melemparkan tatapan yang begitu menusuk ke arah putranya karena ulah konyolnya itu.

"Siapa yang mengijinkanmu menyentuh wajah calon istriku heh!? pokoknya aku tidak mau tahu kau harus pergi sekarang juga! lagi pula seingatku aku tidak pernah memintamu untuk menjadi Makeup Artist calon istriku!

Kecam Aris.

Dia sudah tidak peduli lagi dengan tatapan tajam yang diberikan oleh mamanya, tangannya sudah sibuk dengan ponselnya untuk segera memberi perintah kepada Rey agar Rey segera mencarikan

Makeup Artist yang baru.

"Hahaaahaa.."

Belum sempat si pria gemulai itu menjawab, Aldo yang saat itu baru saja masuk ke kamar itu demi mencari Rika, langsung tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar ucapan Aris barusan.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Kau bertanya padaku?" Ujar Aldo seraya menunjuk dirinya sendiri.

"Ya tentu saja, memangnya siapa lagi yang bisa mengeluarkan tawa jelek seperti truk rusak itu selain kau!"

"Hahaaa, kau terlalu memuji, tentu saja aku menertawakanmu, acara pernikahanmu tinggal 30 menit lagi akan segera dimulai,| dan kau malah memintanya untuk pulang, hanya karena alasan kau begitu cemburu saat melihat calon istrimu di sentuh oleh pria lain, dan itu pun padahal bukan disentuh oleh seorang pria sepertiku, apa menurutmu umurmu itu sesuai dengan kelakuanmu?"

"Cihhh, ku beri kau waktu dalam 15 menit untuk menyelesaikan make upnya, kalau sampai lewat dari waktu yang ku berikan, kau tahu sendiri resiko apa yang kau terima nantinya!" Ancam Aris.

Matanya sudah menatap tajam ke arah pria yang bertubuh gemulai itu.

"Oke cin, tenang aje" Jawab pria bertubuh gemulai itu, tapi jujur saja tangannya sudah gemetaran saat mendengar ancaman itu.

Pikirannya sudah kemana-mana, tampaknya rumor gila tentang pria itu memang benar adanya apalagi saat melihat tatapan membunuhnya secara langsung seperti itu, sudah meninggalkan kesan aura membunuh yang sangat menakutkan baginya.

13 menit kemudian.

Aris sempat terpana saat melihat betapa cantiknya penampilan calon istrinya itu, dadanya sempat berdebar-debar tak karuan saat melihatnya dengan balutan baju pengantin berwarna putih itu.

"Apa dia benar-benar calon suamiku" Batin

Ana.

Keduanya tampak saling mengagumi satu sama lainnya.

"Ehmmm..Ehmm..." Aris langsung berdehem untuk mencoba mencairkan suasana tegang di antara mereka, diakui pria gemulai itu memang pantas diacungi jempol saat melihat riasan yang dia berikan untuk calon istrinya itu, bahkan dia bisa menyelesaikannya lebih cepat dari waktu yang diberikan olehnya tadi.

Di Aula gedung.

Dari pagi sampai sesore ini sekalipun, para tamu undangan masih saja terlihat begitu sesak memenuhi semua meja yang sudah disediakan oleh tuan rumah.

Decak kagum dari para tamu undangan saat melihat betapa cantik dan juga tampannya kedua mempelai itupun tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka.

Dan banyak juga di antara mereka yang langsung secara terang-terangan meminta izin untuk berfoto bersama demi mengabadikan momen spesial itu, dan kedua mempelai pun dengan senang hati langsung memenuhi keinginan mereka.

"Selamat!" Ujar Elios seraya mengulurkan tangannya ke arah sahabatnya itu.

"Kau!" Aris langsung meninju bahu Elios karena kesal baru bertemu dengan pria itu sekarang.

"Kemana saja kau beberapa minggu ini bahkan saat aku meneleponmu sekalipun kau tak pernah mengangkatnya?" Lanjut

Aris lagi.

"Maaf selama beberapa minggu ini aku sibuk sekali, oleh karena itu aku tidak terlalu punya banyak waktu bersantai-santai apalagi sampai harus menerima telepon darimu, tapi kau puas bukan dengan hasil makeup Artis yang aku kirimkan sebagai bentuk hadiah dariku untuk pernikahan sahabat tercintaku ini?"

"Makeup Artist?" Ujar Aris.

"Jadi yang mengirimkan pria jadi-jadian itu kemari karena ulah perbuatanmu?" Ujar Aris lagi. Berbicara dengan pelan karena takut ucapannya akan terdengar oleh orang lain.

"Hahaaa tentu saja, memangnya siapa lagi yang bisa selancang itu kepadamu selain sahabatmu yang gagah perkasa ini" Jawab Elios.

"Kau!" Aris sudah menggertakan giginya karena geram.

"Ingatlah sobat, di segala penjuru semua kamera terus menyorotmu, memangnya kau mau semua publik melihat sifat aslimu itu?"

Ujar Elios seraya menepuk-nepuk bahunya

Aris, tak lama setelah itu dia pun segera berlalu dari sana untuk menikmati jamuan yang disediakan oleh tuan rumah.

Entah mengapa saat Aris melihat sikap yang Elios tunjukan barusan, dia justru merasa kalau Elios malah seperti sedang menghindarinya dan juga tengah berpura-pura bahagia atas pernikahan mereka.

"Ada apa dengan anak in?" Batin Aris.

Matanya terus memandangi punggung sahabatnya itu, bahkan dahinya juga sampai tampak mengkerut karena terlalu banyak berpikir.

"Ada apa mas?" Tanya Ana. Saat melihat raut wajah suaminya yang sulit di artikannya itu.

"Tak apa sayang" Jawab Aris seraya langsung tersenyum lebar ke arah istrinya itu lalu merangkul pinggangnya dengan mesra.

Tak lama setelah itu keduanya pun sudah disibukkan bersalaman kembali dengan semua para tamu undangan yang saat itu sudah berada di hadapan mereka.

Senyuman lebar tak luput sedikitpun dari bibir keduanya dan juga semua keluarga besar kedua mempelai yang tengah begitu berbahagia itu.

****

Setelah selama 2 hari 2 malam menggelar pesta pernikahan, akhirnya kedua mempelai dan juga seluruh keluarga besar Mahendra pun bisa pulang ke rumah dan juga mengistirahatkan tubuh mereka hari ini.

Walaupun tubuh mereka sangat kelelahan karena pesta pernikahan itu, namun senyuman lebar tak pernah luput dari bibirnya karena terlalu bahagia.

"Ma kita balik duluan ya?" Pamit Ana dan

Aris berbarengan kepada orangtuanya itu.

"Ya hati-hati sayang," Pesan Rika.

"Paman' Ujar Aris seraya langsung membawa Erik ke pelukannya.

"Ku titip keponakanku padamu, tolong jaga dia baik-baik' Ujar Erik seraya menepuk-nepuk bahunya Aris.

Tanpa terasa air matanya sempat menetes karena mulai hari ini dia dan keponakannya itu tidak akan pernah bisa seperti dulu lagi karena statusnya yang sudah menyandang sebagai istri dari seorang pria selaku atasannya itu.

"Tentu paman, tentu saja Aris akan menjaganya,' Jawab Aris lalu langsung melepaskan pelukan mereka.

"Hiks..hiksss"

Tanpa terasa air mata Ana juga merembes keluar, mulai sekarang dia bukanlah seorang wanita lajang berstatus sebagai keponakan kesayangan pamannya lagi, melainkan seorang wanita yang sudah resmi menjadi istri orang. Sedih, tentu saja dia sedih karena sekarang masa-masa saat dia tinggal di rumah pamannya itu hanyalah tinggal kenangan walaupun selama dia tinggal di sana bibiknya tak pernah memperlakukan dia dengan baik, namun oleh karena kasih sayang yang selalu di berikan oleh pamannya itu selama tinggal di sana, sempat membuatnya merindukan masa-masa itu, terlebih setelah dia sudah bekerja di rumah Aris selama kurang lebih setengah tahun ini dia memang tidak pernah lagi menginap di rumah pamannya.

"Ayolah kenapa kau cengeng sekali? kalau kau merindukan paman sewaktu-waktu kau kan bisa datang berkunjung ke rumah' Ujar

Erik menenangkan.

Jiwa kebapakannya langsung paham saat melihat reaksi gadis itu.

"Bukankah paman juga cengeng?

Ana sempat melihat kalau paman juga meneteskan air mata tadinya."

"Kau salah sangka, mata paman hanya berair tadinya karena kelilipan, Dalih erik.

Lalu mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Haihhh kenapa kau cengeng sekali sayang, atau kamu mau aku cium sekarang juga untuk menghentikan tangismu itu?" Timpal Aris.

"Sudah, sudah, sebaiknya kalian kembalilah sekarang!" Ujar Rika menengahi.

"'Silahkan tuan dan nona!" Timpal seorang wanita setengah baya setelah membukakan pintu mobil bagian belakang untuk kedua majikannya itu.

"Paman, mama, semuanya kami pulang"

Pamit Ana dan Aris lagi.

"Ya,' Jawab mereka.

"Bibi akan merindukanmu sayang, sering-seringlah berkunjung ke rumah,"

Timpal Hana seraya memasang wajah manis palsunya itu, pedahal di dalam hatinya dia habis-habisan merutuki gadis itu karena sudah membuatnya harus berjauhan dengan putri tercintanya.

Sementara Ana hanya menanggapinya dengan senyuman yang sangat tipis.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED