Kenalin namaku Jaka Susantio atau biasa dipanggil Jack biar kerenan dikit. Ibuku asli Garut, Jawa Barat, sementara ayahku asli Semarang, Jawa Tengah. Aku tinggal di kostan kawasan Cianjur. Sementara orang tuaku bersama ke tiga adikku tinggal di Cirebon.
Maaf kalau cerita ini bahasanya agak sedikit vulgar apa adanya, karena memang pengalaman pribadi, dan aku terbiasa bicara ceplas ceplos. Jika sedikit terganggu dengan bahasa yang agak vulgar mohon maaf dan mohon dimaklum. Coba aja terus baca dulu, minimal sampai bab 6, siapa tahu berkesan dan jika suka teris lanjutkan sampai selesai.
Pekerjaanku sebagai tukang penagih kreditan, alias Debt Collector. Umur 22 tahun, masih relatif muda namun bermutu.
Selama hidup aku gak pernah kenal yang namanya pacaran. Dalam arti benar-benar punya pasangan kekasih seperti remaja pada umumnya. Boro-boro pacaran, kenal deket sama cewek aja gak pernah. Abis setiap mau kenalan, pasti tuh mental aku down, karena merasa tampangku gak ganteng-ganteng amat, walau hampir semua teman-teman sesama debt collctor, jauh lebih hancur dariku.
Anehnya cewek juga sepertinya tidak terlalu tertarik dengan penampilanku. Walau tidak pada lari saat lihat muka aku yang sejujurnya kayak preman, terkesan lebih tua dari usia sebenarnya, jadi bermutu alias ‘bernuka tua’. Mungkin karena posturku yang agak kerempeng, wajahku tirus hitam manis, senang memelihara kumis dan jenggot dari sejak remaja namun terawat baik. Serta suka berdandan selengean ala preman. Maklum anak jebolan STM, pernah aktif dalam geng motor, tapi bukan anak buahnya Pegi Cianjur anaknya Pak Cecep.
Walau belum pernah pacaran, namun sudah cukup pengalaman dalam hal membombardir memek. Baik secara baik-baik atau secara maksa, lebih sering dengan WTS, alias wanita panggilan, pelacur murahan pinggir jalan. Namun yang pasti dilakukan di tempat-tempat yang ala kadarnya, tanpa penghayatan dan perasaan lebih. Hanya sebatas menyalurkan syahwat, tak jauh beda dengan onani.
Semua kenakalanku itu berubah gara-gara satu orang.
Siapakah orang itu? Orang itu tak lain dan tak bukan adalah orang yang sedang memarahi aku saat ini.
''Gimana sih lu, Jack! Bisa kerja gak sih? Jangan kumis aja lu gedein, badan sama setoran juga gedein doong!'' omel seorang ibu-ibu kepadaku yang sedang kebingungan meredakan amarahnya.
Dia adalah Bu Haji Ijah, istrinya Pak Haji Mamad, bosku. Pak Haji Mamad sebenarnya masih saudara sepupu dengan ibuku. Bu Haji Ijah asli Betawi, usia 42 tahun. Orangnya sih lumayan cantik, kadang berpakaian tertutup kalau mau ikut pengajian doang. Toketnya juga gede, karena udah menyusui empat anaknya yang sekarang udah gede-gede.
Bodi Bu Haji Ijah juga lumayan montok kayak Titi DJ, tapi sayang kelakuannya kayak mak lampir. Suka pamer, mulutnya pedas kaya cabe rawit malah kadang cenderung menyakitkan. Pokoknya jauh dari akhlaq seorang wanita yang pernah naik haji. Maklum titel Hajah hanya dia jadi topeng rentenir yang sangat kejam.
Setelah marah-marah panjang lebar, akhirnya berhenti juga setelah ditenangin oleh suaminya. Aku diultimatum wajib membawa setoran lebih banyak kalau masih mau bekerja dengannya. Sambil dongkol, aku pulang ke kostan sedehanaku. Kebetulan aku kost juga di rumah sepupu ayahku, jadi agak murah bayarnya, walau agak jauh tempatnya.
Andai saja ada pekerjaan lain yang lebih baik, mungkin aku sudah pindah. Namun sejak lulus STM, aku sama sekali tak pernah punya pekerjaan lain, selain menjadi penagih utang di tempat saudaraku sendiri yang jadi rentenir berbaju kreditur hebat itu. Bermodalkan motor tua berlebel RX King, kadang aku menjadi King Jalanan.
Besok siangnya, aku berangkat nagih utang yang macet-macet. Salah satu targetku adalah pemilik warung di salah satu kompleks tempat aku keliling. Namanya Teh Dewi, istrinya Bang Ramzi. Teh Dewi, masih sepupuan dengan Pak Haji Mamad juga dengan ibuku. Dan anehnya justru para sepupu itu juga yang kadang menghambat lancarnya usaha. Mungkin karena merasa ada ikatan saudara jadinya suka nganggap enteng. Padahal ada prinsip sakral dalam dunia bisnis, ‘Bussines Is Bussiness.’
Teh Dewi ini si mulut dan muka manis. Ketika ngajuin kredit, segala tektek bengek rayuan sebagai saudara sepupu dekat dia keluarkan. Namun ketika ditagih bagaikan musuh bebuyutan, segala macam alasan dia keluarkan, bahkan kadang omongan nyelekit pun keluar. Kebiasaan dia, ketika aku belum sampai di warungnya, dia sudah menghilang entah kemana.
Teh Dewi sebenarnya orangnya lumayan cantik, muka khas Sunda geulis karena ibunya berasal dari Bandung. Toket lumayan muncul, bodi langsing kayak Desi Ratnasari, tapi dia rada pendek. Bang Ramzi suaminya seorang tentara, kelahiran Medan, saat ini sedang tugas di Papua selama dua tahun, punya satu anak lelaki umur tiga tahun.
Ketika aku berhenti depan rumah yang merangkap warungnya, ternyata tutup dan sepi. Aku yakin Teh Dewi sengaja menutup warungnya karena tahu hari ini jadwal aku menagih kreditan ke kompleks ini. Sudah satu bulan kredit dia macet, seharusnya sudah lunas tiga minggu yang lalu.
Aku panggil-panggil gak ada orang. Ya udah, aku coba masuk saja lewat dapur. Pas aku lewat kamarnya Teh Dewi, aku dengar suara mencurigakan. Insting detektifku langsung keluar. Pas aku intip pelan-pelan, aku lihat Teh Dewi sedang masturbasi pake dildo sambil meremes-remes toketnya yang gede kaya melon. Otak mesumku segera berpikir keras gimana caranya biar aku bisa mendapatkan hasil maksimal dari sepupu ibuku ini.
Aku balik lagi ke depan, terus aku teriak-teriak agak kenceng biar dia tahu kalau aku sang penagih ganteng sudah datang. Gak berapa lama, Teh Dewi menghampiri aku sedikit tergopoh-gopoh dengan wajah keringetan dan napasnya ngos-ngosan.
''Habis ngapain, Teh, sampe ngos-ngosan gitu?'' tanyaku berlagak bego.
''Itu, habis nimba air tadi di sumur,'' jawabnya malu-malu karena aku terus menatapnya sampai dia salah tingkah. Dan yang pasti dia tidak punya sumur, hehehe.
‘Bilang aja lagi sange berat.’ batinku.
''Eh, kok sepi amat, Teh, si Adit kemana?'' tanyaku menanyakan anaknya.
''Lagi nginep ke rumah kakeknya, tadi dijemput.'' balasnya. Kakek yang dimaksud adalah bapaknya Bang Ramzi, alias mertuanya, karena orang tua Teh Dewi tinggal di Bandung.
''Oh, terus gimana, sudah ada belum uangnya buat melunasi cicilannya?'' tanyaku langsung pada sasaran.
''Aduh, Jack, minggu depan aja ya. Warung lagi sepi nih, mana kiriman Bang Ramzi belum datang lagi,'' jawabnya berbohong, karena aku yakin tiap bulan pun gaji suaminya gak pernah telat.
’’Wah, gak bisa, Teh. Aku sudah dimarahi sama boss gara-gara setoran kurang terus, seharusnya bulan lalu teteh sudah lunas!’’ sergahku tak mau lagi kompromi.
“Halah, bilangin aja sama Pak Haji Mamad, masa sama saudara aja perhitungan banget. Dia kan sepupu aku juga. Sama kaya ibumu, Jaka!” Tiba-tiba saja Teh Dewi nyolot.
“Aku juga berarti masih sepupunya Pak Haji Mamad, Teh. Tapi kerja ya kerja, gak ada urusan sepupu. Teteh juga begitu, utang ya utang. Apalagi ini sudah lama banget jatuh temponya!” Aku rada kesal, karena selalu itu alasannya. Belanja online setiap saat tapi bayar utang udah kaya kiamat.
Teh Dewi, kebingungan. Mungkin lebih tepatnya kaget dengan jawabanku yang kali ini agak tegas dan sedikit memaksa.
''Ya udah deh, bentar ya, Jack, aku ambil uangnya dulu,'' katanya sambil pergi ke kamarnya.
“Nah, dari tadi gitu, gampang kan?” sergahku lagi masih berlaga marah dan kesal padahal sebuah rencana besar sudah menari-nari dalam otak kusutku.
Aku ikutin dari belakang masuk ke rumahnya karena memang sudah biasa. Aku lihat lewat celah pintu kamar dia mengambil uang dalam kotak di atas lemari agak tinggi sambil jinjit. Tapi tak berapa lama dia hilang keseimbangan terus jatuh sama kotak uang dan barang-barang di lemari ikut berjatuhan, termasuk dildo yang tadi dia pake buat masturbasi.
Melihat itu, aku buru-buru masuk kemarnya dan membantu mungutin barang-barangnya yang berjatuhan. Pas aku ngambil dildo, dia melotot melihat aku memperhatiin dildo dengan seksama sambil senyum-senyum mesum.
''Eh, ngapain kamu lihat-lihat barang orang, itu barang rahasia khusus buat wanita dewasa. Emangnya kamu bencong? Kok malah senyum-senyum lihat begituan?'' sergahnya makin sewot.
''Gak. Aku cuma penasaran aja, Teh. Kok kontol palsu sekecil gini apa bisa puasin Teteh? Gedean juga kontol aku yang asli,'' jawabku frontal sambil berdiri menunjukin kontolku ke dia, walau masih pake celana tapi sudah keliatan menggelembung, karena celanaku memang ketat lagian dari tadi, sejak melihatnya masturbasi sudah agak ngaceng walau belum maksimal.
''Emangnya kontol kamu segede dildo itu? Gak percaya aku!'' kata Teh Dewi masih sangat kesal atau lebih tepatnya malu. Tapi jujur aja aku kaget karena dia pun bicaranya cukup vulgar. Selama ini tak pernah aku dengar dia begitu, si mulut manis dan si wajah manis, masa berani bicara porno seajaib itu?
^*^
Aku senyum-senyum sendiri dalam hati, karena mata Teh Dewi terus menatap selangkanganku yang menggelembung. Tanganku pun reflek mengelus-elusnya manja.
''Kalau gak percaya, gimana kalau kita taruhan aja? Berani gak?'' tantangku kepalang tanggung, karena yakin jika dildo karet itu lebih kecil dari kontolku kalau sedang berdiri tegang.
''Boleh, siapa takut. Apa taruhannya?'' jawabnya malah balik nantang, sepertinya dia sangat yakin jika dildo miliknya lebih besar dari kontolku. Aku menduga dia sengaja membeli yang lebih panjang dan besar dari milik suaminya.
''Kalau kontol punya aku emang lebih gede dari tuh dildo, Teteh kudu bayar semua sampai lunas tidak boleh kurang walau serupiah pun. Tapi kalau aku kalah, Teteh gak usah bayar sampai lunas, jatuh tempo cicilannya aku tambah lagi jadi dua bulan, gimana?'' tantangku mulai menebar perangkap dengan janji manis.
''Ok, siapa takut. Tapi ingat, jangan bohong kamu!'' jawabnya.
“Yang sering bohong itu Teteh, bilang gak ada duit, padahal banyak. Teteh lebih rajin cari alesan daripada rajin bayar hutang!” sergahku mulai mencoba mengintimidasinya secara verbal.
“Sok tahu kamu!” jawabnya dengan wajah yang langsung bersemu merah karena ketahuan sifat aslinya yang rada pembohong dan susah bayar hutang.
Teh Dewi menghampiriku. ''Udah, ayo cepet buka celanamu!'' perintahnya tegas menirukan gaya Bang Ramzi yang memang terkenal seorang tentara sangar bin barbar kalau lagi ada di kompleksnya.
''Sabar doong, Teteh, nafsu amat sih, gak sabar ya pengen lihat kontolku, hehehe...'' godaku agar dia tidak terlalu marah-marah.
''Nafsu sama kamu? Ih, amit-amit deh, gak ada apa lelaki yang lebih ganteng dari kamu. Lagian aku sudah punya suami, Bang Ramzi yang gagah dan macho? Gak kaya kamu krempeng kaya tripleks gitu!'' bentaknya tak beradab.
‘Wah, ngehina ni cewek. Awas aja lu, tunggu aja, entar lu malah ketagih sama kontol gua, hahaha...’ batinku kesal namun merasa geli.
Aku lantas membuka jaket kulitku, lalu membuka celana jeans ketatku, plus celana dalamnya. Dan tak ayal lagi, keluarlah kontolku yang memang sudah kembali tertidur gara-gara agak kesal dihina tadi.
''Cuih! Mana? katanya besarnya ngelebihin dildo aku? Gak tahunya kecil, mana loyo lagi. Pantes aja kamu masih jomblo, mana ada cewek yang mau sama cowok punya kontol kecil peot begitu!'' ejek Teh Dewi makin tidak berperikekelaminan.
“Belum aja Teh, tenang!”
“Pret lah, kata orang, cowok krempeng itu kontolnya suka gede. Inimah boro-bor sama krempengnya, hihihih!”
‘Wah, gua kalah nih, tapi tenang,’ batinku kesal namun punya harapan karena aku terkenal si banyak akal.
''Gimana mau gede, lah gak ada yang bisa bikin merangsang,'' ujarku sambil meliriknya.
Teh Dewi diem sambil memperhatikan kontol aku yang setengah berdiri dan memang ukurannya akan semakin besar dan panjang kalau sudah berdiri tegak dengan sempurna.
''Ya, terus mau kamu gimana, Jack?'' tanyanya lagi dengan nada yang mulai merendah.
Aku yakin dia mulai terbawa perasaan dan suasana dengan penampakan kontolku walau belum menunjukan keperkasaannya secara maksimal, namun lebih berisi dibanding saat pertama dikeluarkan tadi.
''Boleh lihat toketnya atau memeknya teteh gak? Biar cepat gede kontolku,'' pancingku dengan bahasa yang lebih vulgar agar dia makin terbawa suasana.
Teh Dewi masih diem saja sambil napasnya mulai berat.
''Ya udah, toket aja. Tapi lihat aja ya, jangan pegang-pegang,'' katanya mengalah sambil melepas kaos yang menutupi toketnya yang sekel itu. Aku mendengar perubahan suaranya, sepertinya dia pun mulai sedikit naik lagi birahinya.
Gile, ternyata dia gak pake beha, dan sontak saja kontol aku pun mulai berdiri keras dan ternyata ukurannya hampir sama perisi dengan dildo yang biasa dipake masturbasi oleh dia itu.
''Nah loh, kok sama Jack ukurannya, nilainya gimana nih?'' tanya Teh Dewi bingung sambil melihat aku yang sedang mengukur kontolku dengan dildo.
Aku diem aja sambil ngeliatin toketnya sambil menelus-elus kontolku. ''Gini aja, kita uji yang rasanya paling enak, mana?'' tantangku lagi kepalang tanggung.
Teh Dewi langsung kaget mendengar itu.
''Jangan kurang ajar kamu, Jaka! Aku teriak maling nih. Biar kamu digebukin warga. Gak sadar apa aku ini istrinya tentara!'' ancamnya dengan sangat geram.
''Silakan teriak. Biar aja warga pada datang, biar pada lihat Teh Dewi yang udah ditinggal suami satu tahun, berduaan sama aku sepupunya dalam keadaan gak pake baju sama gak pake celana, biar pada nilai sendiri waganya,” tantangku makin berani.
“Kurang ajar kamu menjebak aku, Jaka!” teriaknya agak geram namun ditahan.
“Atau aku sebarin video teteh yang lagi masturbasi sama dildo ini?” tantangku lagi. Teh Dewi makin terperanjat dan wajahnya pun mendadak pucat pasi.
“Gimana, masih berani teriak?'' ancamku tak kalah akal.
Teh Dewi benar-benar diam seribu bahasa.
“Apakah aku yang harus berteriak?” ancamku lagi dan Teh Dewi sepertinya sangat takut kalau aku yang nekat berteriak apalagi menyebarkan video mesumnya.
''Udah deh, Teh. Aku tahu kok kamu kesepian selama ditinggal Bang Ramzi. Teteh jadi sering masturbasi sama tuh dildo. Tadi aku lihat dan merekamnya, hehehe,'' jawabku santai dan merasa berada di atas angin.
Teh Dewi tetap diam bagaikan melihat seekor harimau yang hendak menerkamnya, atau lebih tepatnya serigala telanjang. Aku yakin batinnya sedang perang sabil, bukan hanya takut dengan ancamanku, tapi sangat terangsang melihat kontolku yang besar dan panjangnya sama dengan dildo yang biasa dia pake masturbadi. Ya aku rasa malah lebih baik karena kontolku benda hidup dan berlendir alami sehingga rasanya pun akan lain.
Seperti kata orang, diam tanda setuju. Dengan pelan aku dekati dia, dengan pelan pula Teh Dewi mundur ke belakang hingga terjatuh di sofa dengan posisi terjengkang memperlihatkan pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku pegangi paha mulusnya, dia diam. Cuma di sela-sela matanya mengalir setetes air mata penyesalan. Entah menyesal untuk apa.
''Aduh, Teteh, jangan nangis gitu dong. Entar pasti teteh yang pengen nambah lagi. Daripada pake dildo, kalau gak higienis kan bisa jadi penyakit kelamin, hehehe...'' Aku terkekeh sambil tetap mengelus-elus pahanya yang mulus.
Teh Dewi masih terdiam namun matanya tak pernah lepas dari memandangi kontolku yang kurasakan makin kencang. Tangan kananku makin naik ke atas, berusaha untuk masuk ke celah hotpantsnya, tetapi dihalangi oleh tangannya.
Aku mengalihkan sasaranku. Lalu aku melirik daerah dadanya tak terjaga. Segera aku caplok payudaranya yang bulat menggoda dengan bibirku yang seksi agak tebal dan berkumis. Kujilati puting susunya sambil tangan kiriku meremas dengan lembut dadanya yang kiri. Teh Dewi terperanjat kaget dengan serangan mendadakku.
Diserang dua arah seperti itu membuat Teh Dewi kelabakan sehingga pertahanannya yang di bawah berhasil aku hancurkan dengan telak. Aku bisa menyusupkan tangan kananku ke dalam hotpantsnya dan menyentuh vaginanya. Teh Dewi langsung kaget hampir berteriak, untung saja aku langsung meredamnya dengan bibirku yang jago ciuman, dia pun membalasnya dengan penuh gairah.
''Uumpph... Uuuuhhh... Jack...'' lenguh Teh Dewi disela-sela ciuman kami.
Setelah beberapa saat, aku bisa menemukan clitorisnya. Langsung aku gosok dengan sekuat tenaga. Dan aku mendapatkan respon yang tak kuduga-duga, Teh Dewi memelukku dengan erat dan melingkarkan kakinya di pinggangku sambil menahan erangannya dengan bibirku. Wow, baru kali ini aku melihat wanita orgasme dalam waktu yang sangat dekat. Sepertinya tadi saat masturbasi, dia memang sudah hampir orgasme hanya keburu terganggu.
Saat Teh Dewi sudah berhasil menenangkan kembali dirinya, aku sudah melepas hotpants dan celana dalamnya. Kontolku yang sudah ngaceng berat, aku dekatkan ke mulutnya yang dihiasi kumis tipis seperti Iis Dahlia. Awalnya dia menolak, tapi setelah aku paksa, akhirnya dia mau juga. Dengan nafsu kuda aku perkosa mulut sepupuku sampai dia tersedak.
''Jack, udah dong, jangan diterusin ya!'' pintanya memelas.
‘Enak aja mau distop. Udah konak tingkat tinggi kayak gini mau gak jadi!’ keslaku dalam hati.
Dengan muka seperti terminator yang dingin, aku membuka pahanya yang menyembunyikan sejuta kenikmatan. Setelah berusaha cukup lama, akhirnya aku bisa membukanya juga. Sejenak aku terkesima saat melihat memek Teh Dewi yang ditumbuhi bulu yang lebat. Seumur-umur, baru kali ini aku melihat secara langsung memek yang begitu indah.
Memek pelacur yang pernah aku pake, nyaris tidak pernah aku perhatikan. Bahkan kadang membuka celana dalamnya pun tidak, hanya disingkirkan saja. Aku juga kadang hanya mengelurkan kontol dari sleting saja. Ya, niatnya memang hanya melampiaskan nafsu saja kalau dengan para pelacur-pelacur murahan begitu. Gak ada istrilah pemanasan dan sejenisnya.
Karena penasaran seperti apa rasanya, aku pun ingin menjilatnya. Hhm, rasanya basah rada asin. Ini pengalaman pertamaku jilmek. Sejujurnya dulu aku kadang bingung, kenapa kalau di film bokep, yang cowok doyan banget ngejilatin memek?
^*^
Karena masih penasaran, aku terus menjilati memek Teh Dewi sampai tiba-tiba dia mengejang dan mengunci kepalaku dengan paha dan selangkangannya. Yang lebih mengejutkan lagi adalah, dari memeknya keluar air, mukaku jadi seperti disiram suatu cairan asing. Setelah kurasakan, kok gurih? Seperti ketagihan, aku pun menyedotnya sampai habis.
''Aaakkhhh... Uuuunnhh... Jack... Ka-kamu... ternayta hebat!!!'' Akhirnya Teh Dewi mengakui kejantananku, sang pejantan kampungan yang tadi dia hina dina. “Baru kali in aku kalah sampai dua kosong tanpa penetrasi,” pujinya lagi terkagum-kagum.
“Kalau make kontol pasti langsung lima kosong, hehehehe,” candaku makin arogan.
Setelah memberi waktu untuk Teh Dewi beristirahat, aku pun menyuruhnya untuk menghadap ke kaca besar yang ada di ruang tamu. Kaca yang bagian luarnya gelap sehingga orang luar tidak bisa melihat ke dalam, tapi orang di dalam bisa melihat ke luar dengan jelas.
''Jack, jangan di sini. Di kamarku saja ya?'' pinta Teh Dewi.
Aku diam dan melotot padanya sehingga dia diam tak bisa protes lagi. Aku ingin mempermalukan dia gara-gara menghina mukaku yang manis dan ganteng seperti Bojone Jijah, alias Pratama Arhan ini, tapi dinilai biasa-biasa malah di bawah standard.
''Aaaaah... Eeeeeessshh... Jack... panjaaaang dan gedeeee bangeet kontolmu, sempiiit memek aku….'' desah Teh Dewi tiba-tiba saat aku melesakan kontolku dengan pelan karena aku ingin merasakan apa itu nikmatnya bersetubuh dengan penuh perasaan, beda dengan saat bersama pelacur murahan yang serba terburu-buru. Lebih cepat lebih baik pikirku kala itu, lagian kadang ada perasaan takut kena penyakit kelamin kalau berlama-lama dengan pelacur. Itu murni karena nafsu semata, yang penting crot dibanding onani terus.
''Jaaa... jaaanngaan... Ceeeppat ceeepppatt amaaat... Jack!!'' pinta Teh Dewi saat aku menggenjotnya sekuat tenaga sehingga dadanya yang montok menempel ketat ke kaca.
Karena takut ada orang yang mendengar kami, maka aku pun menurunkan tempo genjotanku. Tapi sepertinya aku terlambat karena saat menolehkan mukaku ke kaca, aku terdiam seperti patung karena di balik kaca itu ada seraut wajah yang menatapku dengan tajam. Aku terpaku bagaikan tikus yang akan dimangsa ular.
Di luar kaca ada Bu Selvi, guru honorer SMP swasta, tetangga Teh Dewi, bersuami namun seperti janda karena suaminya jarang pulang. Usinya sudah 40 tahun. Dia benar-benar melihatku walau mungkin tidak terlalu jelas.
Bu Selvi orangnya cantik, maklum masih ada keturunan Arab. Dadanya termasuk besar, 32C. Aku sebenarnya sudah merhatiin dia sejak pertama kali keliling di kompleks ini. Bahkan sering sengaja menawarkan kreditan uang, namun dia belum tertarik, mungkin honorernya sebagai guru masih lebih dari cukup.
Dengan penasaran dia melihat ke dalam rumah sambil celingukan.
''Teteh... Teh Dewi, mau beli shampo nih.'' Bu Silvi memanggil Teh Dewi, padahal orang yang dipanggil sedang di bawah kuasaku untuk mereguk kenikmatan duniawi.
Aku dan Teh Dewi diam tak bergerak, takut ketahuan. Kulihat toket Bu Selvi bergerak ke kiri ke kanan mengikuti gerakan tubuh sang pemilik. Melihat hal itu, tak terasa kontolku malah ikut tambah tegang dan tanpa sadar aku gerakkan secara perlahan.
''Uuuummh... Eeeeeessshh... Eeeehhh...'' Teh Dewi menggigit bibir bawahnya untuk meredam suara karena ulah nakalku.
Setelah hampir tiga menit melihat-lihat rumah Teh Dewi yang kosong, Bu Selvi pun beranjak pergi. Kulihat dari jauh bokongnya yang semok menggodaku untuk menjamahnya. Aku ingin membuktikan perkataan orang-orang kalau Bu Selvi sering selingkuh dengan satpam kompleks, betul apa tidak. Tapi untuk sekarang, aku ingin kosentrasi untuk menundukkan Teh Dewi dulu.
Lalu aku pegang pinggulnya yang ramping dan mulai kembali memaju mundurkan tongkat wasiatku dengan tempo sedang.
''Aaaahhh... Ja-jaacck... Eeeehhh... Uuummnh...'' Hanya suara itu yang keluar dari mulut Teh Dewi.
Setelah beberapa saat, aku mulai bosan juga dengan posisi ini. Maka dengan posisi kontol aku masih menancap di memeknya, aku pun menuntun Teh Dewi ke kamarnya.
''Jack, lepasin doong kontolnuya. Ke kamarnya jalan biasa aja ya, eeeehh... Aaaaa...!!!'' erangnya saat aku menghujamkan kontolku dengan keras lebih dalam lagi, sebagai kode kalau dia jangan banyak protes.
''Udah, teteh, nikmatin aja, jangan banyak cingcong,''tegurku dengan tegas.
Setelah sampai di kamarnya, aku membaringkan tubuh montoknya di kasur tempat dia dan suaminya biasa bercinta. Melihat dadanya yang membusung naik turun seiring hembusan napasnya yang memburu, aku pun segera menghisap dan memilinnya dengan buas sehingga membuat Teh Dewi blingsatan tak karuan.
''Gimana, Teteh, enak kan entor sama sepupumu?'' tanyaku menggoda sambil memberi waktu istirahat pada Teh Dewi.
''H-hebat, Jack. Aku sampe deg-degan saat ada Bu Selvi tadi. Tapi ingat ya, Jack, jangan sampe orang tahu soal ini, entar bisa jadi masalah kalau sampai Bang Ramzi dan keluarga kita tahu. Apa kata dunia, bisa-bisa viral di medsos!'' Teh Dewi mengiba.
''Oke deh, Teteh tenang aja. Gimana, sudah siap belum dipuasin sama kontol sepupumu ini?'' tanyaku saat aku melihat Teh Dewi mengurut-urut kontolku dengan lembut.
''Ayo sini puasin aku, Jack,'' tantangnya.
“Gede mana sama kontol Bang Ramzi?”
“Hampir sama, tapi punya kamu memang lebih keras, Jack. Jadinya lebih nikmat gimana gitu,” jawabnya sambil tersipu-sipu.
Dengan bernafsu, aku langsung menindihnya. Kucium bibirnya dengan rakus dan kukait-kaitkan lidahku dengan lidahnya, seperti mengajak berdansa dalam birahi.
''Uuuumh... Eeeeehhhhmm...'' erangnya tertahan saat aku secara tiba-tiba memasukkan kembali kontolku dengan cepat ke dalam memeknya. Kugenjot tubuh sintalnya sambil memilin putingnya yang berwarna merah kecoklatan.
''Aku mau keluar lagi, Jaaaaaaakaaaa...!'' erang Teh Dewi sambil melingkarkan kakinya yang mulus ke pinggangku.
''Sebentar, Teh, aku juga mau keluar...'' sambil kupercepat kocokanku ke memeknya.
Selang beberapa menit kemudian, ''Aaaaaah….'' Kami mengerang bersamaan dan croot crooot croot crooot… Kami berdua mencapai puncak birahi secara bersama-sama pula.
Setelah beristirahat, kulihat Teh Dewi berjalan ke arah lemari dan kembali sambil membawa uang.
''Loh kok bayar cicilan sih, Teh? Kan taruhannya batal?'' tanyaku heran.
''Gak pa-pa, sekalian sebagai ungkapan rasa terima kasih aku, karena kamu udah bener-bener bisa muasin,'' ujarnya sambil memberikan uang kepadaku. Wah, enak juga, sudah dapat uang, dapat memek gratis pula.
“Kamu mau ngopi gak, sambil nunggu aku masak mie rebus?”
“Boleh, tapi kita begini aja Teh, gak usah pake b aju, kayaknya seru, hehehe.”
“Hah serius?”
“Iya aku pernah baca cerita selingkuhan keponakan sama istri pamannya, kalau sedang di rumah, gak ada suaminya, suka pada telanjang gitu kalau beraktivitas berdua.”
“Wow, seru juga. Dimana tuh ada ceritanya,”
“Di Bakisah ada. Judulnya “TAKDIR CINTA GIGOLO KAMPUNG.”
“Hah! Aku sudah baca itu, beneran seru, agak-agak bikin baper, gak cuma sek aja isinya. Seru bikin baper, nama tokohnya Rafael Sutisna sama Vina kan?”
“Yes! Gimana teteh setuju kalau kita telanjang bulat selama dalam rumah ini?”
“Siaaaap, Jack, hahahaha., seru juga ah mau nyoba kaya Rafael sama Wenda.”
Teh Dewi pun segera meluncur ke dpaur dalam keadaan telanjang bulat lalu aku susul. Kami melakukan segala aktifitas berdua di dalam rumah dalam keadaan benar-benar telanjang bulat. Sensasinya memang benar-benar luar biasa dan sangat gila.
Tak bisa aku ceritakan secara detail, karena sebagus apapun diksi dan rangkaian kata-katanya tidak akan mampu bisa melukiskan secara detail sensasinya, kecuali dirasakan langsung. Kalau tidak percaya, coba sekali-kali lakukan dengan selingkuhan, jangan dengan pasangan resmi, sensasinya akan biasa-biasa saja.
“Teh, aku pernah denger gosip kalau Bu Silvi itu suka selingkuh dengan suami sepupunya, bener gak sih?” tanyaku hati-hati.
“Oh iya, kata orang sih begitu. Kaya berbagi gitu. Istrinya Pak Hidayat, sudah lama sakit-sakitan. Bu Silvi juga sering ngurusin sepupunya itu. Tapi isunya begitu, Bu Selvi juga jadinya sering ngurusin ranjangnya Pak Hidayat. Suami Bu Selvi kan jarang ada di rumah, kabarnya sih nikah lagi sama orang Bogor.”
Teh Dewi akhirnya banyak menceritakan kejelekan Bu Selvi yang selingkuh dengan Pak Hidayat, suami sepupunya. Tanpa disadari kalau dirinya pun jauh lebih buruk karena sekarang dia justru berselingkuh dengan aku sepupunya sendiri.
“Jack, kamu mau kan jadi pemuas aku terus?” tanya Teh Dewi saat dia nungging lagi di meja makan, minta didoggy.
“Siaaap Teteh, tapi tidak bisa tiap hari juga, kan aku kadang tugasnya ke tempat lain.”
“Iya aku ngerti, kalau bisa sih datangnya malam, kalau warung udah tutup terus Adit juga sudah tidur.”
“Siiiap, pokoknya kalau aku ada waktu, pasti datang, atau koling dulu.”
“Ya, daripada aku selingkuh dengan orang lain, riskonya kan lebih besar. Kalau sama kamu kan gak ada yang curiga. Kita sepupu, semua orang sudah tahu, sudah biasa pergi bareng-bareng. Bahkan kalau nginep di sini juga gak akan ada yang curiga. Bang Ramzi juga sudah sering nitipin aku sama Adit ke kamu.”
“Hehehe, Bang Ramzi lupa, kalau yang dititipinnya punya memek gersang yang butuh dikontolin, hahahaha.”
“Aaaaaaaah, teruuuuus Jack, yang dalaaaaaam…” lenguh Teh Dewi saat kontolku sudah kembali melesak masuk lobang memeknya lewat jalur belakang.
Aku tersenyum bahagia, langkah pertama ini benar-benar membuatku percaya diri. Sepertinya petualangaku akan semakin edan dan heboh setelah ini. Ikuti terus ya, biar makin panas.
*^*
Agar khasanahnya semakin lengkap, jangan lupa baca juga cerita hot super baper, full darama panas dan pesan moral terselubung.
‘TAKDIR CINTA GIGOLO KAMPUNG’ Dijamir baper.
Silakan cari aja di pencarian atau daftar cerita karya Fajar Merona di lapak ini.
^*^