Bab 1

Kring!!! Suara alarm pagi di atas nakas terdengar berdering keras. Uluran tangan keluar dari balik selimut, mer aba nakas untuk mencari sumber bunyi tersebut.

Terserang kantuk yang hebat, tangan itu sulit mencari tombol non-aktif untuk weker.

Brak!!! Deringan weker itu akhirnya terhenti saat membentur dinding.

Seorang wanita cantik mendecak heran melihat tingkah kekanakan suaminya yang tetap sama dari tahun ke tahun meskipun sudah hampir menginjak kepala empat.

"Arka!"

Gundukan selimut tersibak hingga menampakkan si pemalas yang sedari tadi tergulung dalam balutan selimut.

"Pagi, Sayang!"

Masih senyum manis yang sama. Arkana Kenjiro Wijaya. Pria itu masih terlihat tampan di usianya yang ke-39 tahun.

Mata sipitnya memandang nakal pada istri yang berdiri tak jauh dari kasur. Lizzya Pinkan, wanita yang masih setia bersamanya sampai menginjak tahun ke sepuluh pernikahan.

"Pulang kerja nanti, jangan lupa beli weker baru!" kesal Lisa.

Arka tertawa, lalu duduk setelah menyingsingkan selimut. Istrinya itu bahkan lupa meletakkan spatula karena buru-buru menghampiri kamar.

"Kamu pengen bangunin aku dengan cara getok pakai spatula, ya?" gerutu Arka.

"Alarm kamu itu kedengaran sampai dapur, tau! Uh, ini udah jam berapa?"

"Kamu tau aku lembur, harusnya jangan pasang alarm. Ke sini sebentar!"

Kalau dipanggil Arka ke kasur di saat seperti ini, pasti suaminya itu ingin bermanja sedikit. Lisa meletakkan spatula di meja sudut dan berjalan mendekat.

"Cepetan. Takut digigit? Udah biasa ini!"

Arka menarik lengan Lisa dan memutar pinggang istrinya itu, lalu menyelipkan dagunya di antara bahunya yang mungil.

Dengan rambut yang tergulung ke atas, Arka bisa menghirup bebas aroma parfum yang menguar dari tengkuk Lisa.

"Ini udah tanggal 1."

"Kenapa, Ka? Kamu gajian? Belum setoran, 'kan?"

"Bini taunya duit mulu, bukan itu. Ini udah lewat dua minggu, 'kan?"

"Apanya? Gak jelas banget ngomongnya, Sayang."

Arka menarik pengait laci agar bisa membukanya. Dia mengambil benda persegi panjang ringan di atas tumpukan buku. Lisa menghela napas saat benda itu dihadapkan padanya. Test pack.

"Kalau negatif, gimana?" lirih Lisa, pasrah.

Arka tersenyum tipis. Dia lebih mendekatkan bibirnya ke sisi telinga Lisa.

"Ya kalau gitu, akunya yang enak."

Lisa tertawa kecil. Begitulah cara Arka agar bisa membujuk Lisa untuk tak takut menghadapi garis apa pun yang muncul dari benda itu.

Saat hendak menyambut kecupan manis Arka, suara berisik terdengar mendekati. Lebih tepatnya, derap langkah kaki yang terdengar memburu.

"Mama! Papa!"

Arka mendengkus kesal. Dia meninggalkan kecupan manjanya dan telungkup di kasur. Lisa tertawa kecil, justru menenggelamkan kepala suaminya itu dalam balutan selimut biru tua.

"Jangan macem-macem, ya! Gak enak diliat Farrel."

Lisa tersenyum sambil menepuk punggung Arka.

"Auk, ah!"

Seorang bocah tampan muncul dari balik pintu. Dia sudah sangat rapi dengan seragam sekolah bernuansa biru. Warna kuning langsat kulitnya sedikit kontras dengan warna seragam.

Rambut sehitam eboni itu sangat rapi dengan sisiran khas anak muda. Dia sangat tampan meski masih berusia 9 tahun.

"Ma, kenapa bekalnya belum siap? Aku bisa telat," rengek Farrel.

Lisa bangkit dan meraih spatula di atas meja. Tangannya menggandeng bocah bernama Farrel tersebut.

"Maaf, Farrel, mamamu ini harus bangunin adik kamu yang kebo satu itu."

"Papa belum bangun?"

"Biarin aja. Ayo, kita turun! Kamu sarapan duluan aja, ya! Mama masih bikin bekal spesial buat kamu."

Setelah Lisa dan Farrel keluar dari kamar, Arka keluar dari persembunyiannya. Dia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh.

"Masih ada waktu sampai jadwal operasi siang nanti. Ngantuk!"

Arka kembali menarik selimut untuk mengurung tubuhnya. Sepuluh tahun telah berlalu, inilah hari-hari yang dijalani. Semua berubah begitu cepat, dilalui dengan cinta dan kesabaran.

*

Terhidang banyak menu sarapan, yang menikmatinya justru hanya dua orang saja. Tanpa Lisa, Farrel sudah bisa mandiri dan ditemani nenek tersayangnya.

"Opa udah sarapan, Oma?" tanya Farrel.

Omanya --Mama Wendi-- berusaha tersenyum untuk memudarkan ekspresi sedih cucu tampannya itu. Meski sempat mengekor arah pandangan Farrel, beliau kembali menoleh pada cucunya itu.

"Nanti opa bakalan sarapan, kok. Opa lagi baca koran, sarapannya nanti aja. Farrel makan sama oma aja. Udah jam segini, buruan gih!"

Farrel mengucek matanya. Pipi chubby-nya yang menggembung mulai tirus saat berhasil melumat roti itu lebih halus.

"Opa marah sama aku."

Mama Wendi tertegun. Wajahnya yang polos terlihat sangat sedih. Sesuatu yang buruk terjadi dan takdir mengendalikan semuanya.

"Itu perasaan kamu aja. Ya udah, lanjutin makannya, gih! Kalau mamamu nyariin oma, suruh aja ke kamar! Nanti kalau udah selesai sarapan, minta antar sama Mang Didit."

Mama Wendi menghindari pembicaraan. Beliau juga tak tega melihat wajah sedih Farrel. Hanya tertinggal Farrel di meja makan sendirian. Setelah selesai makan, Farrel bangkit dari kursi dan menuangkan teh pada cangkir di atas meja.

"Pasti opa ga akan marah lagi."

Kaki kecilnya melangkah perlahan untuk menjaga keseimbangan cangkir berisi teh yang dibawanya. Akhirnya bisa juga membawa cangkir hingga tepat berdiri di sisi sofa, tempat opanya --Papa Frans-- sedang membaca koran.

"Opa, ini Farrel ambilin teh. Opa minum teh, 'kan? Oma bilang, Opa ga boleh minum kopi lagi."

"Letak di meja," seru Papa Frans, dingin.

"Jangan lupa diminum, Opa!"

Farrel menurunkan cangkir dengan perlahan. Karena terkejut dengan gemercik air panas yang mengenai tangannya, Farrel tak sengaja meletakkan cangkir dengan posisi tak seimbang hingga tumpah di atas meja.

Sontak saja, Papa Frans shock saat aliran teh panas itu mengenai sisi pahanya.

"Farrel!"

Farrel takut melihat kemarahan kakeknya. Semakin hari, amarah itu tak bisa disembunyikan lagi. Bocah polos itu hanya bisa menunduk saat dijadikan lampiasan amarah sang Kakek.

"Kamu ga lihat ini, hah? Memangnya ada saya suruh kamu untuk ambilkan saya teh?! Keterlaluan!"

Arka tertegun di anak tangga kedua saat melihat wajah putranya itu tertunduk sedih karena dimarahi. Farrel tak sanggup mengangkat tangan gemetarnya untuk sekadar menghapus air mata.

"Pa! Hentikan!"

Arka memekik dengan nada tinggi. Lisa mendengar dan menyusul keributan yang tercipta di ruang tengah.

"Papa ...," isak Farrel.

Arka bersiap menentang keegoisan papanya. Lisa pun berusaha menarik lengan Arka setelah Farrel beringsut dalam pelukannya.

"Kenapa harus Farrel, Pa? Aku yang salah. Papa bisa marah sama aku sejak kejadian itu. Kenapa Papa harus limpahin semuanya ke Farrel?" kesal Arka.

"Apa yang kamu bicarakan? Papa marah sama dia karena dia melakukan kesalahan. Apa ga boleh papa menegurnya?"

"Gak! Papa menegurnya karena marah, bukan karena sayang. Aku udah perhatikan sejak hari itu. Papa bisa benci aku seperti dulu, tapi jangan sakiti putraku!"

"Dia bukan putramu!"

Lisa tak bisa menahan tangisnya, berharap pelukannya itu bisa memudarkan suara pekikan Papa Frans yang mungkin menelusup ke telinga Farrel.

Pria tua itu enggan peduli, pergi meninggalkan ruang tengah. Terdengar isak tangis di tengah suasana hening.

Saat Lisa menyentuh pipi Arka, suaminya itu tersadar dengan adanya Farrel bersama mereka. Dia segera memeluk Farrel dan menciumi puncak kepala putra kesayangannya itu.

"Opa selalu bilang kalau aku bukan anak papa," kata Farrel.

Arka menaikkan dagunya untuk menahan air mata untuk jatuh. Lisa pun ikut mengusap kepala Farrel agar putra mereka berhenti menangis.

"Hei, ini jam berapa? Nanti kamu telat, Sayang."

Lisa menoleh ke belakang dan memberi perintah isyarat pada bibi pengasuh rumah untuk mendekat dengan tas sekolah Farrel.

"Anterin Farrel ke mobil, Bi!" pinta Lisa.

"Yuk, Den Farrel."

Farrel menurut saja digandeng oleh Bi Siti. Lambaian tangan diberikan Farrel, tetapi Arka lebih memilih untuk berbalik karena belum bisa meredakan kesedihannya. Setelah yakin Farrel keluar dari rumah, Arka bisa bernapas lega.

"Sial!"

Arka kembali ke kamar. Lisa menyusul untuk menenangkan Arka saat ini. Sesampainya di kamar, Arka duduk terpekur dengan tangan yang mengepal.

"Kenapa papa harus lakuin itu lagi, Lis? Papa marah sama kita, kenapa malah nyakitin Farrel? Sebelumnya papa sayang banget sama Farrel, kenapa semuanya jadi gini?"

Lisa mendekati Arka, menarik tengkuk suaminya itu untuk tenggelam dalam pelukannya. Usapan lembut di bahu Arka seakan tak mampu memudarkan kesedihan itu begitu cepat.

"Selama ini papa udah anggap Farrel seperti cucunya sendiri. Tapi setelah mengetahui semuanya, kenapa dia membenci Farrel? Dia bisa benci aku kayak dulu, Lis, kenapa harus benci putraku? Dia Farrel-ku, aku yang membesarkannya sampai detik ini."

"Iya, Sayang. Kamu harus sabar. Jangan sampai terbawa emosi, ya. Papa punya alasan untuk itu. Kita yang salah udah sembunyikan kondisiku dari mereka."

Arka melepaskan pelukannya, menengadahkan wajah untuk bisa leluasa menatap binar mata berair Lisa.

"Tenangkan diri kamu, Sayang."

Sementara itu, Farrel belum berhenti menangis. Meskipun mesin mobil sudah dinyalakan, dia enggan masuk ke mobilnya.

"Den Farrel gak boleh gitu. Jangan nangis, ih, udah gede gini. Masa udah kelas empat, tapi masih nangis? Anak jagoan, 'kan?" hibur seorang pelayan muda bernama Siti.

Farrel terlihat kesal. Dia melepaskan lengannya dari Bi Siti saat wanita itu memintanya masuk ke mobil.

"Aku gak mau sekolah!"

Farrel berlari dari kejaran Bi Siti dan cepat menaiki lantai dua. Dari balik pintu yang terbuka, dia melihat kedua orangtuanya sedang bersedih. Terlebih lagi papanya.

"Opa marah karena aku. Papa juga nangis karena aku."

Farrel membolos hari ini. Pintu dikuncinya dari dalam agar tak diganggu. Kemarahan kakeknya itu begitu mengejutkannya, belum lagi dengan ucapan-ucapan kasar beliau tentang dirinya.

"Dia bukan putramu!"

"Jadi ini yang kalian sembunyikan? Kalian ingin agar aku menyayangi anak ini? Aku bukan kakeknya!"

Pernah Farrel mendengar kecam itu hingga dirinya menyadari bahwa dia hanyalah putra angkat sang ayah.

Bab 2

Siang harinya, Lisa membawa bekal ke rumah sakit untuk memastikan suaminya itu mengisi perut saat jam makan siang. Sejak tiba di ruang kerja sang suami, Lisa diminta menunggu.

Arka tak ingin konsentrasinya terganggu untuk menganalisis laporan medis seorang pasien.

"Jadi aku beneran disuruh nunggu aja, nih?" keluh Lisa.

"Bentar, ini juga udah kelar."

Setelah melepas kacamata, Arka bangkit dari duduknya dengan membawa beberapa berkas. Lisa kesal karena suaminya itu sungguh tak bisa lepas dari pekerjaan.

"Makan dulu! Aku gak mau kamu kerja terus!"

Arka tak ingin membantah, hanya mengangguk setuju agar Lisa mulai menyiapkan bekal yang harus disantap di siang hari ini.

"Kerjaanku banyak."

Tangannya malas sekali bekerja. Lisa harus memberikan makan suaminya itu langsung dari tangannya. Lisa pun tak merasa keberatan.

Sangat bahagia bisa melayani suami yang masih setia di sampingnya dengan segala kekurangan yang ada.

"Nanti lagi."

Hanya beberapa suapan saja yang diberikan.

Lisa menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Sepanjang itu, dia hanya melihat Arka kembali sibuk dengan berkas di tangannya.

Senyum nakal pun terbit di bibir Lisa. Jari-jarinya memberi cubitan kecil di leher Arka.

"Sayang!"

Arka menaikkan sedikit bahunya, isyarat geli. Tak bisa diganggu. Lisa ingin menarik perhatian Arka dengan mengambil berkas di tangan suaminya itu.

"Aku lebih penting daripada berkas itu?"

Arka memasang wajah serius. Dia sedikit membungkuk agar bisa menjangkau berkas yang berada di sofa samping Lisa.

"Tentu aja berkas itu lebih penting."

Lisa terkejut mendengar jawaban serius Arka. Suaminya itu kembali membuka berkas sambil melirik Lisa.

"Karena ini akan membantu kita untuk ngasih adek ke Farrel."

Lisa tak mengerti. Arka membuka berkas dan meletakkannya di atas meja. Tubuh mungil itu dia raih ke dalam pelukannya. Matanya berisyarat ke tiap laporan medis di hadapannya.

"Besok pagi habis bangun tidur, langsung test, ya! Atau mau tes sekarang aja ke Dr. Grace?" tanya Arka.

"Pasti bakalan negatif lagi. Sekalipun aku gak sakit, aku udah makin tua. Aku bahkan gak berharap bisa jadi ibu lagi, Ka."

Arka berusaha tersenyum meskipun hatinya sangat miris. Setelah menyapu pipi basah Lisa, bibirnya mengecup lembut dahi sempit itu. Dia ingin meyakinkan Lisa kalau semuanya akan baik-baik saja.

"Maaf karena aku gak bisa jadi suami yang baik. Papaku udah bikin kamu terbebani, ya?"

"Gak, papamu benar. Jangan salahkan dia. Dia cuma seorang ayah yang kesepian di usia tuanya. Dia pengen gendong cucu. Tapi aku ..."

"Kalau hasilnya negatif juga, kita harus beneran program bayi tabung lagi, atau mungkin surogasi," ujar Arka.

Arka mengambil berkas itu dan menunjukkan pada Lisa. Wanita itu membaca sekilas dan tak memahami sepenuhnya.

"Proses bayi tabung bisa dilakukan lagi. Tapi sekarang kendalanya di rahim kamu. Kalau nyatanya kamu bisa hamil nanti, kamu pasti bakalan direpotin untuk semua obat dan segala perawatan. Kamu bersedia?"

"Aku akan lakukan apa pun, Ka. Aku akan jaga baik-baik kehamilanku nanti. Lakukan secepatnya, Sayang."

"Ya udah, baca-baca dulu berkas ini. Aku mau ke toilet bentar."

Sementara Arka di toilet, Lisa masih mempelajari berkas dan tahapan proses bayi tabung itu. Dia bersyukur Arka masih sabar dan setia sampai detik ini.

Bruk! Lisa terkejut saat mendengar suara berisik dari toilet. Dia pun bergegas dan menggedor pintu.

"Sayang, kenapa?" cemas Lisa.

"Gak, kepeleset doang!!!"

Tak lama, Arka muncul sambil mengusap dahinya yang sedikit merah karena membentur sesuatu.

"Aih, makanya hati-hati. Matanya ke mana, sih, sampai bisa terpeleset gitu?" keluh Lisa.

"Udah jatuh pun masih juga diomelin. Jahat!"

Lisa tersenyum dan menarik lengan Arka agar bisa cepat mengobatinya. Arka duduk di sofa saat Lisa mengambil es untuk kompres.

"Makanya, hati-hati!"

"Cerewet, ih! Sakit, nih."

Lisa sedikit terkekeh. Dia mengobati memar di dahi Arka dengan penuh senyuman. Setelah selesai, dia pun keluar ruangan untuk pergi ke kantin.

*

"Jadi kapan, kamu akan memberikanku cucu kandung?"

Siang itu, keributan selalu terjadi saat Papa Frans bicara dengan Arka terkait tuntutan untuk memiliki anak.

"Pa, please."

"Sebelum aku mendapat kabar baik, jangan harap aku akan bersikap baik dan terima bocah yang nggak jelas itu!"

Arka pun mendekat dan memegang tangan papanya. Betapa dia menyayangi Papa Frans, tetapi tak bisa mengabaikan air mata Farrel yang jatuh karena ulah papanya.

"Pa, aku minta maaf. Aku cuma gak bisa ngeliat Papa ngelakuin itu ke Farrel. Dia puteraku, Pa. Aku yang besarin dia. Aku minta maaf kalau semua ini udah nyakitin Papa. Sekarang Papa maunya gimana? Tolong pahami juga posisiku, Pa. Aku ini seorang ayah," pinta Arka.

Papa Frans kembali duduk di sofa saat bisa mengendalikan kemarahan Arka. Putranya itu memohon penuh harap.

"Apa yang Papa inginkan?" tanya Arka.

"Ini tahun terakhir dari tempo yang pernah kuberikan, 'kan? Kali ini aku takkan berbaik hati lagi. Arka, kamu ini dokter. Tentu kamu bisa melakukan apa saja untuk istrimu. Dalam setahun ini, aku menerima kabar kehamilan dari Lisa. Kalau tidak, silakan angkat kaki dari rumah ini. Bahkan aku takkan menganggapmu sebagai anak lagi. Mengerti?"

Arka terkejut mendengar kecam papanya.

Membisu. Papa Frans pergi diikuti oleh Mama Wendi. Lisa pun bingung dihadapkan pada situasi ini. Mendapatkan keturunan, selain karena usaha, tetapi Tuhan-lah yang berkehendak. Bisa apa mereka?

"Sayang, ini gimana jadinya?" lirih Lisa.

Arka tak menyahut, berjalan gontaj meninggalkan Lisa untuk masuk ke kamarnya.

*

Arka sengaja pulang cepat untuk lebih menenangkan Lisa. Beberapa hari sejak ultimatum yang diberikan Papa Frans, istrinya itu terlihat murung. Arka bahkan belum berani menyinggung perihal program bayi tabung itu karena takut mengecewakan Lisa.

"Ehm!"

Suara Arka menyadarkan Lisa. Saat Arka berjalan masuk ke kamar, wanita itu pun bangkit sambil membawa timpukan lipatan yang akan dia masukkan ke lemari.

"Udah balik? Masih juga jam sebelas," kata Lisa tanpa berbalik.

"Gak ada tugas lagi. Rencananya mau makan siang sama kamu."

Arka duduk di kasur dan belum memaksa Lisa untuk duduk di sampingnya. Istrinya itu terlihat sibuk dengan tugasnya, lalu mengambil segelas air untuk dia berikan pada sang suami.

"Bisa bicara sebentar?" tanya Arka.

Lisa mengangguk dan duduk di samping Arka.

"Kamu masih belum mau periksa ke dokter, pakai test pack juga gak mau," kata Arka.

Lisa menunduk. Tangannya mengerat dan menggesekkan dua ujung kukunya untuk membunuh rasa gugup.

"Kita harus lakukan sesuatu. Semua ini demi Farrel juga. Kalau kita berhasil, pasti papa akan bisa terima Farrel seutuhnya," tegur Arka, serius.

Lisa mendekat dan bersandar di lengan hangat suaminya itu. Ketakutan terbesar Lisa saat ini adalah ketika orang-orang yang di sampingnya mungkin akan lelah suatu hari nanti.

"Aku belum siap. Maaf, aku takut dengan semua itu."

"Takut apanya? Proses bayi tabung masih bisa, 'kan? Tingkat keberhasilannya juga tinggi dan ini bukan hal yang diragukan lagi. Kita akan coba sekali lagi."

"Gimana kalau rahimku belum kuat untuk mengandung setelah waktu itu, Ka?"

Lisa melepaskan pelukannya dan menatap Arka. Wajah suaminya itu begitu tegas.

"Terlalu banyak yang kamu takutkan. Bahkan dicoba aja belum, udah mikir ini-itu. Ini bukan yang pertama kalinya kamu ngomong gitu ke aku. Aku juga capek, Lis, kayak berjuang sendirian doang. Kenapa pesimis gitu?"

Lisa tertegun mendengar ketegasan Arka. Suaminya itu meninggalkan kamar dan masuk ke toilet. Yang dikatakan Arka memang benar. Sudah sepuluh tahun terlewati dan Lisa mulai takut kehilangan segalanya sementara dia tak bisa memberi apa pun. Dia meraih figura kecil di atas nakas dan memandang foto keluarga kecilnya. Senyuman Farrel begitu manis. Air matanya jatuh menatap kebahagiaan yang tersemat di sana.

"Papa yang bawa kamu ke sini, dan mama yang merawat kamu sejak bayi, Farrel. Tapi ternyata, kehadiran kamu juga gak cukup untuk papa dan kakekmu. Mereka ingin darah Wijaya yang sebenarnya, dan mama gak bisa mewujudkan itu. Maaf kalau kamu jadi susah juga, Farrel."

Lisa berbaring di kasur dan memejamkan matanya. Rasa sakit itu membawa kenangan masa lalu saat Farrel pertama kali hadir di antara mereka.

Bab 3

Sembilan tahun yang lalu ...

Suara mesin mobil terdengar jelas dari arah luar. Perhatian para penghuni meja makan pun beralih ketika mendengar suara itu. Papa Frans, Mama Wendi, dan Lisa menghentikan makan siangnya begitu saja.

"Itu kayak suara mobil Arka. Apa tadi Ujang keluar bawa mobil Arka, ya?" seru Mama Wendi.

"Iya, Ma. Tadi Ujang izin mau bawa mobil Arka. Ada yang mau di-service, katanya. Lagian ntar malam, kan, Arka balik dari Taipei," sambung Papa Frans.

"Akhirnya pulang juga, kangen udah dua bulan gak ketemu. Nanti sore aku mau jemput Arka ke bandara. Mama sama Papa ikut, gak?" seru Lisa.

"Kalau kamu mau jemput, ya pergi aja. Kamu istrinya, 'kan? Arka lebih senang kalau kamu yang jemput daripada papanya," ucap Papa Frans, cuek.

Suasana ruang makan mendadak dingin hingga suara ketukan sepatu pun terdengar jelas di telinga. Arka sedang berdiri di sana dengan tas koper hitam di sisinya. Mama Wendi, Papa Frans, dan Lisa bangkit bersamaan.

Mereka tak bisa langsung berlari untuk menyambut kedatangan putra mereka yang pergi dinas dua bulan ini. Mereka meninggalkan meja makan dan berdiri beberapa meter dari Arka yang datang tak seorang diri. Di sisinya ada seorang wanita yang menggendong bayi dan menjinjing tas berisi perlengkapan dan baju bayi.

"Arka?"

Mama Wendi yang lebih dulu mendekat. Dia memperhatikan bayi mungil berkulit kuning langsat itu. Entah dia harus bertanya sekarang, tetapi matanya tak lepas dari Papa Frans.

"Ini ... anak temenku. Dia mengalami kecelakaan dan meninggal. Jadi, kuputuskan untuk merawat anaknya," ungkap Arka.

Papa Frans belum bicara. Melangkah lebih dekat dan meninggalkan Lisa yang berdiri mematung.

"Bahkan sudah setahun dan kamu belum memberiku cucu. Kenapa kamu malah bawa bayi lain ke rumah ini?"

Lisa tak sanggup menahan tuding sinis Papa Frans. Arka pun berjalan mendekati dan menarik lengan sang istri. Dia kembali pada Papa Frans sambil menggenggam jemari Lisa, memaksa Lisa untuk menaikkan pandangannya untuk lebih berani.

"Aku sama Lisa lagi ikhtiar, Pa. Kita gak tau takdir, mungkin setahun atau dua tahun lagi, Tuhan yang mengatur semuanya, Pa. Dan juga, mitosnya, kalau kita ngerawat bayi lain, anggap aja sebagai pancingan. Kita bakalan merawat bayi ini sampai besar. Papa jangan putus asa, ya," pinta Arka.

"Tapi kalian janji bakalan kasih cucu ke papa, 'kan? Papa mau ada Arka kecil yang berlarian di rumah ini. Papa dan mama udah makin tua," ujar Papa Frans.

Senyum pria tua itu mulai terbit ketika mendengar suara tangisan bayi mungil yang berada di gendongan perawat. Arka tersenyum melihat papanya mulai luluh. Dia menatap Lisa dan memberi anggukan agar lebih tenang.

"Kita janji, Pa. Maaf kalau ngecewain Papa. Tapi aku dan Lisa pasti ngasih cucu buat Papa. Kita sehat-sehat aja, kok, tunggu jawaban Tuhan aja," seru Arka.

Matanya tak lepas dan binar kristal Lisa, mengatakan bahwa dia percaya takdir akan berbaik hati pada mereka.

Pria tua itu mendekat pada perawat, diiringi sang istri. Tangannya menyentuh pipi bayi mungil itu dan mengusapnya.

"Cup-cup, jangan nangis, Cantik," kata Papa Frans.

"Itu anak cowok, Pa," sela Arka sambil tersenyum.

Papa Frans keki. Dia meminta bayi itu dari tangan perawat untuk digendong sendiri. Mama Wendi pun merasa gemas dengan pipi chubby malaikat kecil itu.

"Ah, imutnya, kirain tadi cewek. Pas banget, deh, kamu bakalan opa rawat supaya jadi penjaga adek kamu nanti. Harus jadi kayak opa, ya!" kata Papa Frans.

"Jangan, Pa! Nanti dia galak kayak kamu, mama gak mau," imbuh Mama Wendi.

Tawa kecil mengiringi mereka. Ajaibnya, tangisan malaikat kecil itu justru berganti senyum kecil di bibirnya. Tawa tanpa suara yang membuat Papa Frans luluh.

"Kasih nama siapa, ya?" seru Mama Wendi.

"Namanya Farrel, Ma!" sahut Arka.

Arka mengajak Lisa untuk lebih dekat pada kedua orangtuanya. Dia ingin meyakinkan Lisa bahwa wanita akan menjadi ibu bagi si kecil Farrel.

"Nama yang bagus, 'kan?" seru Arka.

Setelah keluarga itu puas dengan candaan dan lampiasan rasa gemas mereka pada si kecil Farrel, Arka menggendong Farrel bersama Lisa di sisinya. Wanita itu masih mematung di pintu saat Arka membaringkan Farrel di kasur. Dia tersenyum sangat indah sambil mencubit pipi Farrel.

"Ini papa, Sayang. Itu mama kamu," ujar Arka sambil mengarahkan pandangan pada Lisa.

Ditatap seperti itu, Lisa mulai mendekat dan duduk di kasur. Tak bisa dia abaikan kebahagiaan suaminya. Betapa Arka sangat menyukai anak kecil, bahkan selalu menghabiskan waktu kosong di bangsal anak di rumah sakit. Ada bayi kecil yang hadir di rumah mereka sekarang. Lisa tak menolak, hanya merasa semakin sedih jika suatu saat hanya Farrel yang berada di antara mereka.

"Jaga Farrel dan besarkan dia seperti anak kita sendiri, Lis. Suatu saat kita juga punya anak. Mungkin Tuhan akan mengabulkan doa kita kalau kita merawat anak ini."

Lisa mengangguk tanpa bicara. Bayi mungil itu tidak cengeng saat Arka terus mengusap kepalanya. Dia mulai beradaptasi dengan tangan ayahnya.

"Matanya bulat banget, cantik. Dia ... mirip ibunya, mirip banget," kata Arka.

Lisa menatap Arka tanpa mengajukan pertanyaan apa pun. Dia hanya butuh penjelasan dan Arka bisa menjawab tanpa harus bertanya.

"Janji sama aku, jaga dan sayangi Farrel. Dia akan jadi malaikat di rumah ini sebelum datang malaikat kecil kita, ya!" pinta Lisa.

Tawa kecil Farrel mampu menerbitkan senyum di bibir Lisa. Arka meninggalkan Lisa berdua saja dengan Farrel. Tangan wanita itu mulai menyentuh lembut kulit halus sang bayi. Dia pun berbaring di sisi Farrel dengan jari telunjuknya yang ada di genggaman si kecil.

"Farrel anak mama, 'kan? Farrel di sini aja mulai sekarang," kata Lisa.

Air mata Lisa jatuh saat memejamkan mata. Mungkin bukan sekarang, Tuhan akan memberikannya bayi mungil yang lain dan itu akan terlahir dari rahimnya sendiri.

*

Lisa membuka mata saat sebuah kecupan membangunkan dirinya dari ingatan akan masa lalu sembilan tahun lalu. Arka sudah duduk di kasur, tepat di sampingnya.

"Aku minta maaf karena tadi ngomong kasar sama kamu. Kita harus tetap sama-sama. Jangan takut, aku gak akan ninggalin kamu," kata Arka.

Lisa segera memeluk pinggang Arka. Kepalanya tenggelam dalam bidang dada sang suami, menikmati irama detak jantung yang berdegup berirama. Sangat hangat.

"Aku akan berusaha, Ka. Tapi berjanjilah, kalau suatu saat kenyataan buruk itu memang terjadi, jangan lepaskan Farrel demi aku. Jaga Farrel dan tinggalin aku. Biarkan Farrel tetap di sini dan cari seseorang yang bisa wujudkan keinginan papamu."

Arka melepaskan pelukannya dan menatap mata sedih sang istri. Wanita itu menangis terisak, menyayat hati.

"Kalau memang itu terjadi, aku gak akan ninggalin kamu!" kata Arka sambil menghapus air mata Lisa.

Arka tersenyum. Raut tak peduli terbias dan bangkit dari duduknya. Dia meraih sebotol air dingin dari dalam kulkas dan menenggaknya.

Setelahnya, didekatinya meja berkas dan meraih beberapa lembaran penting di sana. Meneliti berkas itu dan masih serius bicara pada istrinya.

"Kamu harus semangat dan kita ke dokter besok. Aku mau ke sekolahan Farrel dulu."

Arka memperbaiki posisi dasinya agar terlihat lebih rapi. Lisa pun turun dari kasur dan membantu sang suami untuk bersiap.

"Farrel masih pulang dua jam lagi," ujar Lisa.

"Gak apa-apa. Aku mau main aja ke sekolahnya, lihat dia belajar."

Arka tak bicara lagi dan meninggalkan kamar. Masih ada dua jam lagi menunggu Farrel pulang dari aktifitas rutinnya di sekolah.

*

Sudah hampir jam dua belas ketika Arka menatap arlojinya. Dia duduk di kantin sekolah dan sudah menghabiskan segelas teh manis hangat. Betapa dia selalu tersenyum melihat anak-anak kecil yang berlarian saat jam istirahat tadi. Tak lama, ponsel-nya berdering karena ada panggilan dari rekannya.

"Ya, dr. Grace?" sahut Arka.

"Dok, kenapa belum juga periksa ke sini? Nyonya Lisa sudah pernah melakukan terapi, saya rasa kondisi rahimnya sudah lebih baik."

"Saya sudah bujuk dia. Besok kami akan ke sana."

"Saya tunggu!"

Arka meletakkan kembali ponsel-nya. Dia tenggelam dalam lamunan sebelum dikejutkan oleh tepukan seseorang yang menghantam kepalanya.

"Pak Dokter!" seru pria itu.

Arka berwajah kesal ketika menatap pria yang duduk di depannya. Senyum yang sangat manis dengan kumis tipisnya. Sebuah pluit tergantung di leher dan seragam training miliknya. Reza, sahabatnya. Pria itu mengusap kepala Arka.

"Jangan lakuin itu! Gak sopan! Kita udah tua," omel Arka.

Reza tertawa. Dia pun mencomot stick kentang Arka dari piringnya.

"Kita? Lo itu yang udah tua, udah jadi suami orang, udah bapak-bapak juga. Gue masih si single tampan dan berjaya di usia matang gue," angkuh Reza.

Arka tertawa kekeh. "Hm, iya-iya. Bilang aja 'lajang tua yang lapuk,' Za!"

"Lo ngapain di sini? Gak kerja?"

"Gue mau jemput Farrel."

Raut Reza berubah jadi serius saat menyadari kesedihan Arka. Temannya itu menatap ke arah kelas Farrel.

"Iya, seminggu ini gue juga liat Farrel gak semangat waktu jam gue ngajar olahraga. Ada masalah sama dia, Bro?"

Arka mengangguk. Satu helaan napas terhela beriring senyum miris.

"Bokap gue terus aja bilang ke Farrel kalau gue bukan ayahnya. Farrel pasti bingung."

"Suatu saat Farrel memang harus tau kalau dia bukan putera lo."

"Tapi, Za, gue gak mau kehilangan Farrel."

Bel usai pelajaran pun berdering keras. Jarak kelas dan kantin tak begitu jauh. Tawa ceria anak-anak polos itu mulai terdengar dan mereka berhamburan keluar. Arka melambaikan tangan pada Farrel yang celingak-celinguk menunggu jemputan.

"Papa!"

Wajahnya sangat bahagia saat papa tersayangnya itu menjemput.

Farrel berlari untuk bisa berhambur dalam pelukan Arka. Bidang bahu lebar papanya itu menenggelamkan rasa rindunya.

"Papa jemput aku? Gak kerja?" tanya Farrel.

"Hari ini pulang cepat. Kangen sama papa, gak?"

"Kangen!"

Setelahnya, Arka memanggil Farrel setelah tiba di samping mobilnya. Perjalanan menjadi lebih panjang ketika suara canda terdengar mengiringi.

*

Papa Frans dan Mama Wendi sudah menghadapi hidangan siang hari, tetapi Lisa gelisah menunggu Arka dan Farrel yang tak kunjung datang.

"Mereka masih lama pulangnya?" risau Papa Frans.

"Mungkin macet, Pa. Mama sama Papa makan duluan aja. Nanti Arka sama Farrel makan bareng aku."

Lisa beranjak dan duduk santai di beranda. Ponsel di saku menjadi alternatif saat ini. Ada pesan masuk dari Arka.

[Aku lagi bawa dia jalan-jalan makan ice cream. Jangan cemburu, ya! Makan duluan aja. Kalau aku pulang kamu belum makan, aku yang akan makan kamu!]

Lisa tersenyum membaca pesan suaminya itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED