“Dasar anak tidak berguna!” Sebuah cambukkan mengenai punggung Kamila.
“Cari uang yang banyak, bukannya main!”
Lagi-lagi cambukkan itu Kamila rasakan dari tangan seorang lelaki berstatus Ayah Kandung.
“Maaf, Yah,” ujar Kamila dengan wajah tertunduk dan duduk lesu di atas lantai.
Pak Angga –Ayah Kandung Nina—mengangkat wajah anaknya. Mencekik dengan kencang, sehingga sang Anak sulit mengambil napas. “Lo, itu dilahirkan buat cari uang! Bukan buat main-main nggak jelas!”
Bu Lesti menangis di atas kursi roda. Tak bisa berbuat apa-apa saat anak semata wayangnya disiksa sang Suami.
“I-iya, Ayah.” Kamila hampir kehilangan napas. Cekikan ini terasa kuat untuknya. Untung saja sang Ayah hanya melakukan penyiksaan itu sebentar. Begitu terlepas, ia langsung menghirup udara dengan rakus.
Telunjuk kanan Pak Angga menuding. "Awas, kalau gue lihat lo lagi main! Jangan harap gue lepasin, lo!"
Kamila mengangguk pelan. "Baik, Ayah."
"Mana duit? Gue butuh buat minum malam ini."
"Aku nggak ada uang, Yah."
"Halah, bohong!" Pak Angga merogoh saku baju anaknya. Menemukan selembar uang pecahan lima puluh ribu. "Katanya nggak ada uang! Ini apa? Daun!"
Kamila tersentak. Berusaha merebut uang sisa yang dimilikinya. "Jangan, Yah. Itu buat beli obat Ibu hari ini." Tangannya berusaha menggapai. Akan tetapi, karena tenaganya tak bagus. Ia kalah.
Pak Angga kembali mencambuk punggung Kamila, lalu pergi dengan membawa uang yang didapatkannya.
Tangis Kamila pecah disaksikan sang Ibu Kandung yang duduk di kursi roda karena lumpuh. Ia berusaha kuat. Menahan semua tekanan batin ini asalkan ayahnya tidak menyiksa sang Ibu.
"Sayang, maafin Ayahmu," kata Bu Lesti. Setetes air mata yang keluar dari netra Bu Lesti berubah menjadi deras. Setiap hari penyiksaan ini berlangsung dan sudah hampir setahun. "Kamu yang kuat, Nak."
Dada Kamila sesak. Rasa sakit di punggung sudah bukan hal luar biasa. Bahkan seluruh badannya pun dipenuhi luka.
Bu Lesti mendorong kursi rodanya. Menghampiri Kamila dan menyentuh pucuk kepala sang Anak. "Nak, kalau kamu nggak kuat. Tinggalkan Ibu aja. Ibu, in syaa Allah bisa bertahan."
Kamila menggelengkan kepala. Ia tak boleh menyerah. Gadis itu mengangkat kepala, menatap netra ibunya yang basah karena air mata. "Aku nggak mungkin tinggalin, Ibu. Sampai kapan pun, aku bakal ada di sisi Ibu. Maaf, belum bisa bawa Ibu pergi dari sini. Kerja sampinganku cuma cukup untuk bayar kuliah dan biaya obat."
Hati Ibu mana yang tak teriris tipis menyaksikan anaknya sendiri terluka dan berjuang sendiri. Lelahnya bekerja dan belajar tidak dapat sambutan baik di rumah. Kamila justru disuguhkan penyiksaan yang luar biasa.
Bu Lesti memegang kedua tangan anaknya. Menyatukannya dengan lembut. "Ibu, berdoa semoga hidupmu kelak bahagia. Bisa bertemu laki-laki baik yang menjagamu. Jaga diri baik-baik, Sayang. Kamu wanita berharga."
Kamila mengangguk pelan. Ia menyembunyikan wajah sendunya di pangkuan sang Ibu. Melepas jerit tangis dan meluapkan sakit di sekujur tubuhnya.
Hari-hari berlalu dilewati Kamila seperti biasa. Kuliah, bekerja di minimarket sampai jam delapan malam, dan pulang dengan perasaan was-was.
Tak jarang ia pun harus sarapan dengan pukulan dari sang Ayah yang baru saja pulang minum dengan teman-temannya.
"Mana makanannya?" Pak Angga melempar tudung saji yang berada di meja. Pasalnya, ia tidak melihat satu butir nasi pun di meja itu. "Kamila!"
Teriakan itu membuat Kamila yang sedang mengganti pakaian Bu Lesti terpaksa harus berhenti. Ia keluar kamar, mengayunkan langkah ke arah dapur dan melihat sang Ayah yang tak bisa mengendalikan emos
"Ayah," kata Kamila.
Gadis itu hendak mengambil tudung saji, tetapi ayahnya lebih dahulu menangkap tangan kanannya. Mencengkram kencang.
"Di mana makanannya? Lo, ngapain aja di rumah?" tanya Si Ayah. Sorot matanya tajam dan penuh kemarahan. "Dasar, Anak Nggak Becus!" Pak Angga menghempaskan tubuh Kamila ke tembok.
"Aw, sakit!" Kamila merasakan kepalanya membentur tembok. Rasa pusing pun mulai terasa.
Dengan berjalan sempoyongan Pak Angga mendekati Kamila. Menarik kembali lengan kiri anak gadisnya itu, dan berkata, "Kerjaan Lo apa di rumah ini?"
Kamila ketakutan. Rasanya sulit sekali mengambil napas.
"Ma-maaf, Yah," jawab Kamila.
Pak Angga kali ini membenturkan kening Kamila ke tembok. Mengamuk tak jelas. Pergi keluar dengan keadaan mabuk.
Setiap hari fase ini yang selalu dilewati. Dinikmati Kamila sebagai sarapan maupun makan malam. Menyedihkan bukan?
Kamila menguatkan diri. Balik ke kamar untuk menyelesaikan kegiatannya sebelum pergi bekerja ke minimarket.
Semua selesai. Kamila mendudukan ibunya di kursi roda. Memandangi wajah Beliau dengan sangat lekat. "Bu, Kamila berangkat kerja dulu, ya. Ibu, jaga diri. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan, Nak."
Dengan restu sang Ibu, Kamila pun berangkat bekerja. Upahnya memang tidak seberapa. Hanya saja saat ini pekerjaan tersebut yang bisa ia lakukan. Terkadang ia pun membawa gosokan tetangga ke rumah. Lumayan.
Kamila berjalan kaki dari rumah yang kecil itu. Menapaki jalanan kampung. Ya, dia hanya gadis kampung yang tidak jauh dari hiruk pikuk kota.
Untuk menuju jalan raya, ia perlu berjalan kaki sekitar delapan menit saja. Dari sanalah ia akan menaiki angkutan umum agar bisa sampai ke toko tempatnya bekerja.
Cuaca pagi hari ini terbilang cukup cerah. Kamila berjalan dengan tenang ke arah jalan raya. Hanya tinggal setengah kilo meter lagi. Sebentar. Tidak akan terasa.
Begitu sampai di dekat jalan raya. Kamila juga perlu menunggu kembali dengan sabar. Angkutan umum biasanya sangat penuh di pagi hari. Wajar saja.
"Semoga aja nggak telat," gumam Kamila.
Tiba-tiba sebuah motor hilang kendali menuju ke arah Kamila. Beruntung netra Kamila melihat, ia mundur cepat ke belakang untuk menghindari tabrakan. Lalu, pengendara motor itu terjatuh bersamaan dengan kendaraannya.
Kamila terkejut sekaligus histeris. Ia berlarian menghampiri. Melihat keadaan si Pengendara yang tergeletak.
"Mas, mas, bangun!" ujar Kamila mencoba menyadarkan. Tak ada reaksi. Kamila melihar sekitar. "Tolong! Ada kecelakaan, Tolong!"
Tidak berapa lama ada sebuah angkutan umum yang lewat. Supirnya berhenti dan keluar.
"Tolong, Pak. Mas-nya nggak sadar," kata Nina dengan khawatir.
"Bawa ke rumah sakit aja, Mbak. Saya yang antar," ujar si Supir.
Kamila setuju. Mereka menggotong tubuh lelaki muda itu ke dalam angkutan umum yang ternyata ada dua orang.
Singkat cerita, Kamila ikut ke rumah sakit. Ia tak mengenal siapa lelaki ini. Namun, rasa kemanusiaannya tentu berfungsi dengan baik.
Lima belas menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit terdekat. Supir tadi pamit. Kamila tak mungkin meninggalkannya begitu saja. Sebab, pihak rumah sakit belum mengetahui keluarga korban. Terpaksalah ia menunggu. Sebelum itu, ia mengirimkan pesan pada rekan kerjanya.
Si lelaki mendapatkan perawatan di ruangan Unit Gawat Darurat. Sudah sadar juga dan bisa diajak komunikasi. Kamila lega.
"Kamu yang antar aku ke sini? Terima kasih," kata si Lelaki.
Kamila mengangguk pelan. "Iya, Mas. Sama-sama."
Pandangan si Lelaki tidak beranjak satu detik pun dari Kamila. Wajah Kamila memikatnya pada pandangan pertama. "Apa boleh minta nomor ponselnya? Kalau boleh."
Kamila ingin menolak. Akan tetapi, ada desakan kuat dari hatinya. Sinar mata Dirga memberikan kelembutan yang ia idamkan dari sosok laki-laki.
"Boleh," jawab Kamila.
Dirga senang. Ia memberikan nomor ponselnya, lalu dengan cepat Kamila menyimpan juga menghubungi. Mereka bertukar pesan.
"Aku Dirga, kamu?" tanya Dirga.
"Kamila, Mas."
"Jangan panggil Mas. Dirga aja."
"Iya."
Pertemuan singkat itu membuahkan hasil. Dirga dan Kamila saling mengenal, lalu gadis berambut panjang itu pamit untuk bekerja. Mereka pun berjanji akan bertemu lagi di lain waktu.
Kamila keluar ruangan unit gawat darurat dengan sebuah senyum. Barangkali ini yang dinamakan cinta pandangan pertama. Hatinya bergetar hebat. Merasakan sebuah degukan jantung yang tak biasa. Ini gila memang!
***
Sebulan sudah Kamila mengenal Dirga. Hubungan mereka bergerak ke arah pacaran. Keduanya memutuskan saling mengikat satu sama lain karena rasa cinta itu tidak bisa dipendam.
Pagi ini Kamila berjanji akan berkencan dengan Dirga. Tentu hal ini tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Sebab, ia hanya ingin mendapatkan cinta dari yang lain.
"Nak, kamu tumben dandan rapi. Mau ke mana?" tanya Bu Lesti.
Kamila baru saja mengganti pakaian ibunya dengan yang baru. Mendudukan kembali di kursi roda, walaupun kesusahan.
"Kamila mau main sama Cika, Bu. Boleh, kan?" Terpaksa Kamila berbohong. Entah mengapa bibirnya lihai dengan hal itu sekarang. "Sebentar, kok."
Bu Lesti percaya. "Ya, Nak."
Semua sudah selesai. Kamila mengambil tas selempang kecil. Mencium pipi ibunya dengan lembut seraya berkata, "Aku pamit dulu, Bu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan."
Kamila tersenyum, lalu keluar rumah. Langkah kakinya terasa ringan dengan penuh kebahagian. Bahkan bekas cambukan semalam dari sang Ayah pun tidak terasa sama sekali. Mungkin memang benar jika cinta bisa merubah segalanya.
Kamila terus berjalan sambil membalas pesan Cika, temannya. Hanya pada Cikalah, ia bisa bercerita tentang Dirga. Bagaimana perlakuan lelaki itu yang sangat lembut dan memabukkan.
Dirga menunggu di dekat jalan raya. Belum berani ke dekat rumah karena Pak Angga bisa saja marah. Kamila pun tentu belum siap. Ia memilih menyembunyikan hubungan ini untuk sementara.
Sesampainya ke pinggir jalan raya, ujung netra Kamila mendapat Dirga yang duduk di atas motornya. Sang Pacar menggunakan kemeja hitam dengan celana panjang berwarna hitam juga. Rambutnya tertata rapi.
"Sayang!" teriak Dirga menyambut kehadiran Kamila.
Kamila tersenyum. Menyimpan ponsel di tas kecil dan berjalan cepat menghampiri. "Maaf, lama, ya?"
Dirga menggeleng cepat. "Nggak. Selama apa pun, bakal aku tunggu."
"Kamu pintar gombal sekarang."
"Sama pacar sendiri. Nggak boleh memang?"
"Nggak juga, sih." Kamila tertawa kecil.
Dirga memberikan satu helm pada Kamila. Hari ini mereka akan pergi bermain mengelilingi kota dan menikmati masa-masa indah seperti pasangan muda lainnya.
Ini bukan kota besar. Tentu, tidak banyak fasilitas publik yang ada. Hanya ada satu bioskop. Dan, itu pun buka terbatas.
"Kamu mau nonton?" tanya Dirga. Mengingat baru saja ada film baru yang sedang ramai diperbincangkan. "Film yang lagi ramai itu?"
Kamila memakai helm. Menimbang sebentar, lalu berkata, "Boleh, Yang."
Dirga tersenyum. "Ya udah, ayo, naik."
Kamila menurut. Tak lupa ia memeluk Dirga dari belakang. Menempelkan tubuhnya ke punggung lelaki itu dan merasakan kehangatan. Jangan cepat berakhir. Mungkin itulah yang ada di benak Kamila saat ini.
"Udah siap?" tanya Dirga.
"Ya."
"Berangkat!" Motor itu meluncur membawa mereka ke jalan raya. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur ketika Kamila bersama Dirga. Rasanya, damai sekali. Rumah yang seperti neraka itu, ia tinggalkan sejenak. Mencari setitik cahaya cinta yang disuguhkan lelaki lain di luar.
Dirga dan Kamila berbicara di sela-sela perjalanan. Mereka sesekali tertawa ketika ada yang menyenangkan.
"Sayang, aku mau bilang sesuatu," ujar Dirga.
"Apa, Yang?"
"Ibu, katanya mau ketemu."
Kamila tersentak.
"Tadi nanyain kamu. Katanya, pengen ketemu aja," sambung Dirga..
Selama ini Kamila hanya tahu lewat sambungan telepon. Tentu, ia belum siap sepenuhnya untuk bertemu keluarga Dirga. Hanya saja, suatu saat fase ini pasti terjadi.
"Kamu mau nggak?" Dirga harap-harap cemas. Ragu juga. "Kalau nggak mau, nggak masalah."
Kamila menimbang permintaan Dirga. Melihat wajah kekasihnya yang berubah lesu dari kaca spion. Tak enak hati. "Ya udah, aku mau."
Dirga mengembangkan senyuman. "Serius, Sayang?"
Kamila mengangguk cepat. Merekatkan pelukannya di pinggang sang Kekasih. "Ya"
"Makasih." Dirga mengelus kedua tangan Kamila. Senang rasanya.
Dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu berkeliling kota sebentar, lalu menonton film, dan membeli kuliner.
Dirga adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan makanan siap saji. Lelaki itu bekerja di bagian keuangan. Tentu, untuk gajinya terbilang lumayan. Hampir semua kebutuhan Kamila dipenuhi, walaupun gadis itu sering menolak.
"Aku sayang sama kamu. Jadi, jangan nolak, ya!"
Kalimat itulah yang meluluhkan hati Kamila. Membuat sang Gadis semakin terlena dan merasa nyaman. Seakan ia punya tempat untuk bermanja dan berkeluh kesah. Hidupnya pun berubah lebih berwarna. Indah sekali.
Sesuai kesepakatan. Keduanya pergi ke rumah Dirga. Ketika di perjalanan dan berhenti di lampu merah. Awan gelap datang menghiasi langit. Sudah diperkirakan hujan akan turun dalam waktu dekat.
Benar saja. Begitu motor melaju, hujan pun turun begitu deras. Dirga hendak menepi, tetapi dirasa percuma. Sebab, mereka sudah basah kuyup dan rumahnya tidak jauh dari sana.
Kamila tak protes. Ia menikmati guyuran air hujan sambil memeluk Dirga. Menerobos curah hujan bersama, hingga akhirnya sampai ke sebuah gerbang perumahan yang biasa.
Dari sana hanya berbelok tiga kali, mereka akhrinya sampai ke tempat tujuan. Rumah Dirga diapit oleh dua rumah kosong yang tampak menyeramkan.
"Basah semua," kata Kamila sambil tertawa. Ini pertama kalinya dalam hidup, ia merasa teramat senang. Tertawa lepas tanpa ketakutan.
Dirga memarkirkan motor di dekat teras. Mendekati Kamila dan berkata, "Maaf, ya, Sayang."
"Nggak pa-pa."
Dirga membuka pintu. Mengajak Kamila masuk. Rumah ini terasa sepi. Tak ada orang sepertinya.
Dirga pergi ke dapur untuk membawa handuk, sedangkan Kamila mengamati isi rumah. Semuanya tertara rapi, walaupun kecil.
"Sayang, ibumu mana?" tanya Kamila.
Dirga kembali dengan handuk di tangannya. "Sepertinya keluar. Soalnya, aku lupa ngabarin tadi. Kita tunggu aja, ya."
Kamila mengerti. Dirga membalut badan Kamila dengan handuk. Posisi mereka saling berhadapan. Menatap satu sama lain.
Rambut panjang Kamila basah. Tetesan air itu menambah kesan cantik dan manis. Sebagai lelaki dewasa, tentu ada hasrat yang keluar dari Dirga. Terlebih, suasana hujan deras yang cukup mendukung.
Dirga memeluk Kamila erat. Membawa tubuh gadis itu pada dekapannya. Kamila tersentak. Ingin mendorong, tetapi kalah dengan sentuhan lembut kedua tangan Dirga di punggungnya.
"Kamu mau, Sayang?" bisik Dirga.
Kamila diam. Ia tak berdaya. Suara serak itu menipu dirinya. Menghipnotis, sehingga sulit berpikir jernih.
"Aku sayang kamu. Kamu juga sayang aku. Jangan takut. Aku nggak mungkin ninggalin kamu gitu aja." Dirga meyakinkan Kamila. Mengeluarkan kalimat romantis yang ia bisa.
"Aku takut," kata Kamila.
"Tenang. Aku ikuti alurmu."
Semenit berlalu, Kamila akhirnya luluh. Rayuan Dirga menyentuh sanubarinya. Mengantarkan ia pada sebuah keputusan. Melepaskan kehormatan yang dijaga selama ini untuk dipersembahkan pada Dirga hanya karena berlandaskan cinta.
"Jangan takut," ujar Dirga.
Diiringi irama hujan yang lebat dan indah. Dua sejoli menyatu. Melupakan sejenak apa yang ada di kepala. Dan, berharap kebahagian akan langgeng selamanya.
Hubungan Dirga dan Kamila berjalan seperti biasanya. Hubungan badan itu dilakukan hanya sekali saja. Tidak lebih.
Penyiksaan dari sang Ayah belum berakhir. Ada fase di mana Kamila merasa jenuh, tetapi kembali semangat karena ada seorang Ibu yang harus ia rawat.
Siang itu Kamila bekerja seperti biasa. Ia masuk pukul dua belas siang dan pulang pukul sepuluh malam. Sebagai pegawai sebuah minimarket. Tentu ramah dan cekatan harus dimiliki Kamila.
Suasana minimarket begitu ramai dari pertama Kamila masuk. Ia bekerja dengan sangat keras tanpa mengenal lelah.
"Terima kasih. Selamat datang kembali." Kamila mengatupkan kedua lengannya sambil tersenyum. Kalimat itulah yang keluar dari mulut Kamila setiap selesai melayani pelanggan.
Kamila menghela napas. Sudah dua hari badannya meriang. Mungkin karena efek lelah yang tiada kunjung ada ujungnya.
"La, kamu pucat banget. Sakit, ya?" tanya teman seprofesinya.
Kamila menoleh. Tersenyum tipis. "Aku agak meriang, Kei."
Kekei ini adalah teman satu pekerjaan. Seorang gadis biasa yang harus bekerja setelah putus sekolah.
"Kenapa nggak istirahat aja? Bibir kamu juga pucet." Kekei khawatir.
"Nggak lah, Kei. Kalau aku nggak kerja, Ayah pasti marah."
Kekei tahu segalanya. Mereka satu kampung, tentu semua warga tahu. "Yang sabar, ya, La."
Kamila mengangguk. Ia pamit ke kamar mandi. Rasanya ingin muntah. Mungkin masuk angin. Gadis itu berlari ke arah toilet. Memuntahkan cairan bening. Rasa pusing semakin menyerang.
"Aku pesen teh manis anget aja. Perut nggak enak juga," ujar Kamila.
Keluar dari kamar mandi. Suara banyak orang terdengar dari depan. Barangkali pelanggan kembali menyerbu. Tidak peduli selelah apa pun, ia harus tetap bekerja.
Kamila balik ke kasir. Memasang wajah ramah. Menyembunyikan rasa sakit di bagian kepala dan perut.
Ada sepuluh orang pelanggan mengantri di kasir. Kamila mulai kehilangan penglihatan. Kepalanya berkunang, lalu ketika meng-scan barcode salah satu barang pun tubuhnya tumbang ke bawah.
Kekei terkejut, begitu pun pelanggan. Mereka memberi pertolongan pada Kamila. Kekei mencoba mendekatkan minyak angin ke hidung Kamila. Tak ada respon.
"Kita bawa ke puskesmas aja," kata Kekei.
Langkah cepat diambil. Kamila dibawa Kekei dan seorang karyawan lelaki ke puskesmas terdekat. Barangkali perempuan yang sering dipukuli orang tuanya itu mulai merasakan dampaknya.
Singkat cerita mereka sampai di puskesmas. Kamila diperiksa langsung oleh Dokter. Beruntungnya, gadis itu sadar ketika sampai di puskesmas, sehingga Kekei dan satu karyawan lelaki bisa pulang. Tak mungkin merengek meminta ditemani. Sebab, orang lain pun memiliki kesibukan masing-masing.
Dokter wanita memeriksa keadaan Kamila. Melihat matanya yang pucat, lalu bertanya, "Mbak, sudah dapat haid bulan ini?"
Kening Kamila berkerut. Ia ingat. "Belum, Dok. Bulan kemarin pun, sepertinya belum."
Kejadian ini bukan hal luar biasa bagi Kamila, karena menstruasi sering datang terlambat. Terkadang dua bulan baru datang. Tentu banyak faktor yang mempengaruhi.
"Terakhir kali berhubungan badan kapan?"
Pertanyaan itu mengejutkan Kamila. Hatinya mulai resah. Tidak mungkin!
"Coba kita testpack dulu, ya. Saya nggak bisa kasih obat sembarangan kalau Mbak sedang isi," sambung si Dokter yang kian membuat Kamila takut.
Dokter menjelaskan cara pakai tespack. Kamila menurut, meskipun batinnya tetap menolak. Begitu alat itu dicelupkan dan beberapa saat hasilnya pun bisa dilihat.
Dua bola mata Kamila membulat sempurna. Dua garis itu nyata. Jelas tanpa sama-samar. Ini gila!
"Kapan terkahir Mbak haid?" Dokter berusaha menentukan usia kandungan Kamila.
"Dua bulan lalu, Dok," jawab Kamila bergetar tak percaya.
Setelah melalui perhitungan yang matang, didapatlah usia kandungan Kamila yang baru beranjak delapan minggu.
Dokter meresepkan vitamin dan obat yang harus dikonsumsi. Tak lupa menyarankan Kamila untuk banyak beristirahat. "Selamat atas kehamilannya, Mbak. Tolong, periksa kandungan secara rutin. Ajak juga suaminya agar tau kondisi Ibu dan bayinya."
Kamila keluar puskesmas dengan hati menjerit. Jiwanya sulit menerima kehadiran anak ini. Namun, ada hal penting yang perlu dilakukan. Menemui Dirga dan membicarakan ini.
Kamila bergegas menghubungi Dirga. Meminta lelaki itu menemuinya di sebuah taman dekat area kampus. Dirga menyetujuinya.
Kamila kembali ke toko untuk mengambil tas. Ia mengatakan jika Dokter menyuruhnya istirahat tanpa memberitahu apa yang terjadi.
Seperti rencana awal, Kamila segera meluncur ke tempat selanjutnya. Hatinya cemas selama berada di angkutan umum. Ingin menangis. Menolak. Namun, itu tak mungkin. Bayi ini tak bersalah. Semua karena dirinya yang terbuai bujuk rayu setan.
Lima menit selanjutnya Kamila sampai di tempat yang dituju. Dirga pun sudah di sana. Lelaki itu tersenyum menyambut kekasih hatinya. Membawa tubuh Kamila ke pelukan.
"Aku kangen tau," kata Dirga.
Kamila terdiam, lalu menangis.
Dirga kaget. Melepaskan pelukan, lalu berkata, "Ada apa?"
Kamila tertunduk. Mulutnya sulit mengeluarkan kalimat apa pun.
"Kenapa, Sayang?" Dirga cemas.
Dengan wajah menunduk, Kamila menjawab. "A-aku hamil."
Dirga tersentak. Ia melepaskan tangannya dari tubuh Kamila. Reaksi ini membuat Kamila mengangkat kepala. Menatap Dirga lekat. "Aku hamil anakmu. Kamu harus tanggung jawab."
Dirga memutar kedua bola matanya. Tak tahu harus apa.
"Tunggu, Sayang. Kamu hamil?" Dirga mengulang kembali.
Kamila mengangguk pelan sambil memegang perut. "Ya, Yang. Aku hamil anakmu."
Dirga terdiam, lalu meremas rambutnya kencang. "Nggak mungkin, Sayang! Kita itu tuh cuman lakuinnya sekali. Mana bisa!"
Kamila bergeming. Reaksi Dirga di luar ekspetasinya.
"Aku, aku belum siap nikah! Aku belum siap punya anak! Kamu tau itu, kan?" tanya Dirga.
Kamila menggelengkan kepala. "Tapi, ini anakmu, Sayang! Ini darah daging kamu!"
"Nggak! Aku nggak mungkin punya anak sekarang! Gugurin kandungan kamu sekarang juga!" Dirga menarik tangan kanan Kamila. "Kita cari orang yang bisa."
Kamila memberontak. Menghempaskan tangan Dirga darinya. "Aku nggak mau, Ga! Anak ini nggak bersalah!"
Dirga murka. Ia prustasi. "Gugurin kandungan ini sekarang juga!" Kalimatnya diberi penekanan sekeras mungkin.
"Nggak!" Kamila tetap pada pendiriannya.
Mereka terlibat pertemgkaran, hingga Dirga memilih pergi meninggalkan Kamila sendirian. Lelaki itu belum siap menikah apalagi harus punya anak.
Kamila menangis tersedu di dekat taman. Menyesali perbuatannya yang sudah tak bisa dirubah lagi.
***
Seminggu berlalu, Kamila terus menghubungi Dirga. Mengejar lelaki itu agar bertanggung jawab. Namun, Dirga hilang tanpa kabar. Kamila bimbang. Tak tahu harus bagaimana.
Mengingat ibunya yang masih perlu obat, ia tetap bekerja, walalupun sering mual dan muntah. Teman seprofesinya mulai curiga, tetapi tidak ada yang bertanya.
Pukul sepuluh malam toko tutup. Kamila berjalan lusuh ke arah trotoar. Pikirannya kacau. Mungkin saat ini kandungannya belum terlihat. Seiring berjalannya waktu semua akan tahu.
Kamila memukul perut kencang. "Kenapa kamu hadir? Kenapa?" Ia menangis sepanjang berjalan. Sudah jauh dari deretan toko dan berada di dekat jembatan.
Mata Kamila menoleh ke bawah. Ketenangan air itu menghipnotis. Menarik tubuhnya mendekat, lalu berdiri memegangi tiang jembatan.
"Air itu tenang. Sepertinya menyenangkan di bawah sana," kata Kamila.
Otaknya tak lagi berpikir jernih. Terlebih bisikan halus terus merayu di telinga. Menyemangati diri Kamila agar melanjutkan aksinya.
Perlahan Kamila melepas sandal. Berdiri di tiang jembatan sambil meregangkan kedua tangan ke samping. Matanya terpejam. Anak ini memang bukan beban, tetapi hidupnya akan menderita karena lahir dari rahim seorang Ibu tanpa suami. Menyedihkan.
Tekadnya bulat. Kamila mencondongkan badannya ke bawah dan siap terjun. Tiba-tiba seseorang menariknya kencang. Membawa ia ke bawah, lalu berkata, "Jangan lakukan!"
Suara orang tersebut tegas.
"Bunuh diri nggak bisa nyelesain masalah. Orang mati saja ingin hidup lagi. Tapi, kamu yang dikasih kesempatan hidup justru nggak bersyukur!" tegas orang itu.
Kamila terduduk di dekat trotoar jembatan. Menangis histeris meminta pertolongan. Batinnya menjerit tak karuan.
Kamila mengangkat kepala. Menatap sosok tinggi yang berdiri tegap di depannya. Bola mata lelaki itu begitu indah. "Aku nggak bisa hidup. Anak ini, anak ini kasian."
Lelaki tersebut berjongkok di depan Kamila. Menatap balik lekat. "Kamu hamil? Suamimu mana?"
Kamila bukan menjawab, ia justru menangis tak karuan.
"Kamu hamil di luar nikah?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut si lelaki. Ia paham.
"Pulanglah. Jaga diri dan kandunganmu. Anak ini nggak bersalah. Dia berhak hidup. Jangan karena kesalahanmu dulu sampai tega membunuh darah daging sendiri."
Malam itu sebuah nasihat masuk ke telinga Kamila. Mengantarkan gadis itu ke rumah dan disambut oleh sang Ayah yang murka.