Bab 1

Semenjak mamanya menikah lagi, Safa benar- benar marah sekali.

mamanya benar- benar tidak memedulikannya. Bahkan biaya sekolahnya pun, Safa harus mencari sendiri.

Kini mamanya Safa sibuk dengan suaminya baru itu hingga lupa dan tidak memperhatikan Safa dengan baik.

Bahkan Safa harus rela lebih keras dalam bekerja untuk bisa membiayai sekolahnya sendiri.

Dia hanyalah seorang penulis novel online di platform asia. Namanya belum terkenal namun dari menulis itu ia bisa membiayai sekolahnya sendiri juga membeli apapun yang ia inginkan dengan uang hasil kerja payahnya sendiri.

"Kenapa sikap mama seperti itu? Aku sungguh tidak mengira jika mama akan secepat itu berpaling dari papa," gumam Safa seraya memandangi naskah novelnya yang sudah 3 jam lamanya masih berjumlah beberapa kata itu.

Pikiran Safa sungguh berkecamuk saat ini, ia bingung dengan pikirannya sendiri.

Kini menulis novel begitu sulit sekali untuk menembus kontrak, jika hanya menulis dan mendapatkan bagi hasil, itu terlalu lama untuk Safa bisa menghasilkan uang.

Sedangkan minggu depan ia harus membayar uang iuran bulanan untuk bisa mengikuti ujian. Tidak mungkin Safa meminta mamanya.

Pasalnya mamanya sudah sesumbar jika ia tidak akan membiayai Safa selagi dia tidak bisa bersikap baik dan mengakui ayah tirinya.

Safa tidak bisa menerima secepat itu, tanah makam ayahnya masih basah, bagaimana bisa mamanya bersikap seperti itu. Bukankah itu terlihat keterlaluan.

"Bagaimana caranya bisa mendapatkan banyak uang? Kenapa semua platform menetapkan kebijakan yang sama sulitnya? Apa aku harus kerja part time?" gumam Safa yang kini dibuat hampir gila karena memikirkan bagaimana cara menghasilkan banyak uang demi bisa ikut ujian minggu depan.

Safa membuang napas gusar, memaksa dirinya untuk menulis demi mendapatkan sepeser uang dari hasilnya menulis demi bisa mengikuti ujian minggu depan.

***

Malam harinya, sekitar pukul 7 malam, Safa baru menyelesaikan tulisannya. Ya selama itu ia untuk bisa menyelesaikan satu bab.

Tapi yang sangat diacungi jempol adalah pilihan Safa ketika ia bosan menulis, yakni membaca buku bukan melakukan hal yang membuang waktu sia-sia.

Safa mengusap perutnya, terasa amat sangat lapar, pasalnya sejak pulang sekolah tadi, Safa langsung menulis hingga malam tiba ini dan belum makan apapun sejak siang tadi.

Dengan malas Safa beranjak dari kursinya, meregangkan otot-ototnya sebelum ia keluar dari kamar.

Safa memicingkan mata kebenciannya kala ia melihat mamanya sedang makan bersama dengan suami barunya.

"Lihatlah, dia jatuh cinta hingga lupa putrinya," dumel Safa seraya berjalan mendekati mereka di meja makan.

"Safa, ayo makan sayang," ajak Hunter begitu melihat Safa keluar dari kamarnya.

Leni menoleh, terlihat datar dan malas dalam kunyahannya kala melihat putri pembangkangnya keluar dari persembunyiannya.

Safa langsung duduk, sedikit berjarak dua kursi dari ayah tiri serta mamanya.

Leni yang melihat sikap Safa kurang sopan sontak langsung meletakkan sendok dan garpunya, menatap putrinya, "Bisa tolong jaga sikapmu? Bersikap baiklah. Jangan menunjukkan kebencianmu tepat di depan orangnya. Hargai dia, kelak dan selamanya, dia akan menjadi ayahmu." Safa hanya diam dan asyik dengan makanannya. Mengunyah dengan nikmat seraya mengamati ponselnya.

Leni membuang napasnya masih berusaha sabar kala ia diabaikan oleh Safa.

"Berhenti menulis, kerjalah hal lain. Itu hanya membuang waktu, dari bulan lalu sampai sekarang, mana gajimu? Kamu benar- benar menulis atau sedang bermain-main? Jangan bilang jika menulis novel hanya kedokmu untuk bermalas-malasan di dalam kamar demi bisa menonton film kesukaanmu," tuduh Leni membuat Safa mengangkat kepalanya dengan tatapan datar menatap mamanya dengan amat sangat malas.

Kunyahan Safa memelan, terlihat amat sangat malas.

"Kedok untuk bermalas-malasan? Selama Safa kelas 3 mama pernah enggak keluar biaya untuk sekolahku?" Leni langsung melengos dengan kesal.

Safa menyandarkan punggungnya dan mulai mengutarakan semuanya, "Selama ayah sakit, siapa yang menyumbang biaya administrasi? Kemana mama selama ayah sakit? Siapa yang mengurus semua biaya kematian ayah? Selama ayah sakit, siapa yang bertanggung jawab atas biaya listrik dan air di rumah? Semua aku bu yang nanggung. Mama sibuk bermain dengan suami muda mama ini." Leni langsung menatap tajam dan marah Safa.

Hunter langsung beranjak dari kursi dan menarik tangan Leni untuk pergi dari meja makan demi menjaga ketentraman rumah agar tidak ada pertengkaran di antara mereka.

Safa berdecih, melengos dengan kesal kala mamanya langsung pergi begitu saja.

"Bagaimana bisa dia begitu patuh sekali dengan suami mudanya?" dumel Safa dengan heran dan kembali melanjutkan makannya.

Tak lama ponsel Safa berdering, terlihat nama Yona di sana.

"Halo Yon," jawab Safa seraya mengunyah makanannya.

"Safa aku punya berita hot banget, ini tentang platform baru yang sungguh-sungguh menguntungkan," kata Yona membuat Safa menghentikan kunyahannya di mana ia amat sangat tertarik dengan topik kali ini.

"Platform apa?" tanya Safa membuat Yona dengan antusiasnya berkata, "Aku akan mengirim linknya padamu, baca baik-baik dan cermati tentang keuntungannya. Ini sungguh menguntungkan bagi kita para penulis." Telepon itu langsung mati begitu saja membuat Safa langsung membuka link yang Yona kirimkan.

Safa mencermati dengan baik ketentuannya, hingga membaca tentang keuntungan yang diperoleh kala menulis di platform baru itu.

"Apa? 1000$ perbulan? Gila, ini seriusan?" pekik Safa terkejut kala membaca tentang keuntungannya.

Safa melanjutkan membacanya, mencermati genre yang mereka cari.

"Gila? Ini seriusan genre new adult yang dicari? Aku mana bisa nulis genre dewasa? Selama ini yang kutulis hanyalah romansa kantor mafia dan remaja, dan aku juga tidak memiliki pengalaman tentang hal ini," gumam Safa kala ia mendapatkan hambatan untuk menulis di sana.

Tak lama pesan dari Yona masuk.

-Ini tentang romansa dewasa, bukankah sangat mudah untuk kita bisa mendapatkan banyak uang? Kita tinggal menonton saja film dewasa. Dan menulis kembali sesuai imajinasi kita.

Safa langsung menelan ludahnya, melihat kanan kiri dengan gugup kala membaca pesan Yona yang menurutnya amat gila.

"Tidak, aku tidak bisa," kata Safa yang langsung beranjak dari kursinya untuk kembali ke kamar.

"Akhhh enghhh sakit sayang, lebih cepat akhhh baby," langkah Safa terhenti kala mendengar suara meresahkan dari samping kamarnya.

Kaki yang tadinya hendak melangkah masuk ke dalam kamar, kini berjalan menghampiri suara tersebut.

Safa tercengang kala melihat adegan dewasa yang sungguh menggairahkan baginya.

Di mana mama dan suami mudanya tengah berhubungan intim saat ini.

"Apa mereka sengaja untuk tidak menutup pintunya dengan rapat?" dumel Safa hendak berbalik namun entah kenapa kakinya begitu berat sekali untuk beranjak dari sana.

Safa menelan ludahnya kala melihat ibunya begitu gelinjangan di bawah kungkungan suami mudanya itu.

Terlihat amat sangat puas sekali ekspresi mamanya.

Safa merapatkan kakinya, kenapa miliknya berdenyut dan terasa amat basah di bawah sana?

Jantung Safa begitu berdebar kala suami muda mamanya itu menarik miliknya dari dalam lembah mamanya.

Sangat besar sekali dan begitu panjang.

"Bagaimana rasanya?" gumam Safa tanpa sadar.

Bab 2

Safa langsung masuk ke dalam kamarnya dengan jantung yang begitu berdebar sekali.

Mendadak ia sangat takut dan gugup bukan main.

"Astaga, apa yang barusan kulihat? Aku pasti sudah gila," gumam Safa dengan gugup seraya memegangi dadanya.

Tak lama ponsel Safa berdering, nama Yona terlintas di layar.

"Halo," jawab Safa begitu teleponnya tersambung.

"Bagaimana, kau akan ikut kan dalam platform itu? Bonusnya benar-benar gila dan menggiurkan, bayangkan saja hanya menulis romansa adult kita bisa dapat 1000$, kapan lagi kita bisa mendapatkan bonus segila itu," kata Yona yang berusaha merayu dan menghasut agar Safa mau ikut bergabung bersama menulis di platform baru tersebut.

Safa masih diam, menggigiti jemarinya dengan cemas dan gugup, bingung harus berkata apa.

"Kenapa? Kau tidak bisa menulis adegan dewasa itu? Tenang saja, aku punya banyak stok film dewasa, aku akan mengirimnya padamu," belum sempat Safa menjawab, Yona sudah mematikan teleponnya.

"Ada apa dengan anak ini? Kenapa ia begitu antusias sekali?" tak lama ponsel Safa berdenting secara terus menerus.

Safa langsung melempar ponselnya kala begitu banyak sekali film yang Yona kirimkan padanya.

Dengan gugup dan takut Safa meraih ponselnya, ada sekitar 10 film yang Yona kirimkan.

"Dia sungguh gila," Safa langsung berbaring menarik selimutnya dan berusaha mengabaikan akan film yang Yona kirimkan.

Safa berniat untuk tidur saja dan melupakan semua yang Yona bicarakan.

Sekitar pukul 1 malam Safa terbangun karena rasa gerahnya. Dengan mata yang terpejam, Safa meraba nakas guna untuk menemukan remote ACnya.

"Akhhh baby terus," mata Safa spontan terbuka kala suara itu kembali terdengar.

Safa menyipitkan tatapannya dengan kesal kala mamanya benar- benar tidak bisa mengendalikan suaranya.

"Itu dari tadi beneran enggak berhenti? Enggak capek apa?" dumelnya dengan kesal seraya menutupi telinganya dengan bantal.

Tatapan Safa malah menangkap ponselnya, 10 film yang Yona kirimkan tadi langsung terngiang dalam ingatannya.

Perlahan tangannya meraih ponselnya, membukanya dan langsung melihat nama Yona di daftar pesannya.

Tangan itu langsung beraksi dengan menekan salah satu film.

Safa dengan panik langsung menurunkan volume dari ponselnya.

Safa dengan gugup dan panik menarik selimutnya, menonton film biru itu tanpa suara. Entah kenapa jantung Safa berdebar lebih cepat saat ini.

Namun yang lebih meresahkan ialah yang di bawah sana, berdenyut dan amat basah.

Ada apa dengannya? Kenapa rasanya seperti ini?

"Bagaimana mungkin sebesar dan sepanjang ini bisa masuk? Ini sungguh sepanjang dan sebesar ini?" gumam Safa begitu ia melihat milik pria yang ada di film itu sungguh berukuran fantastis, 11 12 dengan milik suami muda ibunya.

"Kamu nonton film biru?" Safa terperanjat bukan main kala suara bass itu berada di belakang tubuhnya hingga ponsel Safa terlempar begitu saja saking terkejutnya.

Safa langsung duduk dengan napas yang tercekat dan jantung yang berdebar hebat.

Hunter berdiri di samping ranjang dengan senyum tipisnya.

Hunter dengan santainya duduk di tepi ranjang Safa.

"Kenapa tidak mengetuk pintu?" marah Safa kala ia benar- benar tidak mendengar tanda apapun saat Hunter masuk ke dalam kamarnya.

Hunter tersenyum dan menjawab, "Sudah, kamunya terlalu fokus menonton hingga tidak mendengar." Safa menelan salivanya, malu dan panik kini benar- benar menggerogoti dirinya.

Bagaimana jika Hunter mengadukan dirinya pada mamanya nanti? Dia bisa habis dimakan emosi oleh mamanya. Atau mungkin ditendang dari rumah ini.

"Kau akan mengadukannya pada mamaku?" Hunter tersenyum dan menggeleng dengan santai.

"Apa untungnya untukku?" tanya balik Hunter membuat Safa bisa sedikit bernapas meski ia tidak yakin dengan ucapan Hunter.

Safa meremas kuat selimutnya dan dengan keberanian dia bertanya, "Apa yang bisa kamu yakinkan jika kamu tidak akan mengadukannya pada mamaku?" tanya Safa dengan begitu gugupnya.

Hunter menimpakan tangannya tepat di atas paha Safa, "Kamu sendiri bagaimana, apa yang bisa kulakukan untuk membuktikannya?" tanyanya seraya meremas lembut paha Safa.

Jantung Safa benar- benar berdebar begitu hebat sekali kala merasakan remasan itu. Tatapan Hunter tertuju pada film tanpa suara yang masih berjalan itu.

"Ingin mencobanya?" tanya Hunter dengan tatapan yang fokus pada ponsel Safa yang masih menyala.

Safa langsung meraih ponselnya dan mematikannya dengan cepat, ia amat malu dan takut.

Tangan Hunter beralih menyelusup masuk ke dalam selimut, meraba kaki Safa yang mana Safa mengenakan celana pendek, alhasil Hunter bisa merasakan kulit mulus paha Safa.

"Kudengar kamu menulis novel, genre apa yang kamu tulis? Apa kamu pernah menulis genre adult?" Safa menelan salivanya kala pertanyaan Hunter sungguh tepat sekali dengan apa yang ia alami.

Tangan Hunter mulai naik ke atas, meremas-remas lembut paha Safa, Safa dengan cepat langsung menahan tangan Hunter.

"Jangan pedulikan aku, cepat keluar sebelum mama memenggalmu," usir Safa yang langsung menyibak selimutnya hendak turun dari ranjang, di mana ia ingin sekali pergi ke kamar mandi untuk membersihkan miliknya yang begitu basah dan membuatnya amat gelisah dan tidak nyaman.

"Mamamu sudah tidur pulas, sepertinya dia kelelahan. Bukankah kamu juga melihatnya tadi, betapa puasnya mamamu dengan permainanku," Safa langsung memicingkan matanya pada Hunter.

"Kau sengaja tidak menutup pintunya saat sedang berhubungan dengan mamaku?" Hunter tersenyum jemarinya bermain di paha mulus Safa.

"Aku tidak berniat begitu, mamamu tadi yang menutup pintunya, ternyata dia sengaja tidak menutupnya rapat, maaf jika kamu melihat permainan kami dan mungkin mendengar suara desahan mamamu," Safa mengepalkan tangannya dengan kuat dan picingan mata yang penuh kebencian.

Jemari Hunter mulai naik ke atas, meremas sekilas paha Safa hingga naik ke atas mengusap perut rata Safa. Safa dengan gilanya malah memejamkan mata dan mendongakkan kepalanya, ada apa dengannya.

Hunter semakin mempersempit jarak di antara mereka, ia lebih mendekat pada Safa, jemarinya bermain di lingkaran benda kenyal yang terbalut kacamata kuda itu.

Safa menggigit bibir bawahnya membuat Hunter tersenyum kala Safa terbuai dengan permainan jemarinya.

Hunter menyelusupkan tangannya ke dalam kaos Safa, mengusap lembut perut rata itu dengan penuh sensasi yang mana mampu membuat Safa hampir lupa segalanya.

Di bawah sana benar- benar sudah becek sekali, dan Safa sungguh tidak tahan dengan denyutan di bawah sana yang semakin cepat.

"Jika ingin mencobanya, kamu bisa memberitahuku," mata Safa langsung terbuka, terlihat Hunter berjalan melenggang pergi keluar dari kamarnya.

Safa mengumpat dengan kesal kala ia dipermainkan oleh suami muda ibunya.

Hingga Safa tersadar dengan apa yang barusan ia lakukan.

"Kenapa aku terbuai dengan sentuhannya?" gumam Safa yang merutuki akan kebodohannya namun juga mengakui jika dirinya amat sangat menikmati remasan dan sentuhan jemari Hunter.

Itu sungguh meresahkan dan membuaikan.

"Kenapa aku ingin mencobanya?" gumam Safa dengan gilanya.

Bab 3

Keesokan paginya

Safa benar- benar amat sangat takut untuk keluar dari kamar. Selain takut, ia juga malu dengan Hunter atas apa yang terjadi semalam.

"Bagaimana ini? Pria itu bisa dipercaya atau tidak? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia mengadukannya pada mama, mama pasti akan sangat marah padaku," gumam Safa yang mondar-mandir tidak jelas di dalam kamarnya.

Safa langsung berhenti mondar-mandir dan seolah ia menemukan akan senjata yang bisa ia jadikan bumerang untuk Hunter, "Jika ia mengadukanku pada mama, aku bisa membela diri dengan mengatakan pada mama jika ia kemarin malam diam-diam masuk ke dalam kamarku." Safa mengangguk dengan penuh keyakinan akan hal itu.

Safa langsung menyambar tasnya dan bergegas pergi keluar untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah.

Tatapan Safa langsung bertemu dengan Hunter.

Safa langsung duduk di meja makan, kini ia berhadapan dengan Hunter, demi menjaga damainya pagi ini dari ocehan mamanya untuk bersikap baik pada Hunter.

"Kamu ingin telur atau sosis?" tanya Leni begitu menoleh melihat Safa bergabung di meja makan.

"Sosis," jawab Safa singkat dan asyik dengan ponselnya untuk bertukar pesan dengan Yona.

Hunter yang tengah menikmati rotinya, tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Safa saat ini. Safa yang merasa dan tahu jika dirinya sedang diperhatikan kini berusaha untuk tidak tahu apa-apa dan terlihat biasa saja.

Namun tiba-tiba ia merasakan sesuatu di bawah sana.

Kaki Hunter.

Safa mengangkat kepalanya, tatapannya bertemu dengan Hunter yang tengah mengunyah roti dengan santai.

Kaki Hunter mengusap-usap lembut kaki Safa di bawah sana, hanya usapan kaki, namun bisa menggetarkan jantung dan bulu kuduk Safa berdiri semua.

Safa menelan salivanya berusaha merapatkan kakinya dan mengabaikan akan hal itu.

"Nanti mama tidak bisa pulang lebih awal, kamu bisa kan masak untuk ayahmu?" tanya Leni seraya menyajikan semua masakannya.

Safa yang sudah terlalu gugup dan ketakutan saat ini juga merasakan basah pada miliknya tidak bisa menjawab apa-apa selain anggukan kepala.

Leni duduk berdampingan dengan Hunter, mengambilkan nasi untuk Hunter dan Safa.

Kaki Hunter membelah berusaha membuka kedua kaki Safa saat ini. Safa menatap Hunter dengan geraman, bagaimana bisa ia melakukan itu disaat ada mamanya di sampingnya.

"Kamu lembur lagi sayang?" tanya Hunter dengan kaki di bawah sana yang sibuk membelah paha Safa.

Safa yang sudah hampir gila karena ulah Hunter, dengan gila malah memajukan kursinya, membuat Hunter menoleh sekilas menahan senyumnya.

"Ya sayang, aku ada lembur nanti malam, kemungkinan pukul 10 malam aku baru pulang, karena minggu depan perusahaan kita akan mulai menggarap tender besar yang telah didapatkan," Hunter hanya manggut-manggut seraya menyuapkan nasinya.

Safa yang masih berkecamuk dengan pikiran dan hasratnya sendiri kini menurunkan tangan kirinya, membuka lebar kakinya dan memajukan dirinya hingga kaki Hunter menyentuh miliknya.

Hunter mengulum bibirnya dalam kunyahannya, menggerakkan kakinya untuk merangsang Safa.

Safa mengunyah makanannya seraya meremas kuat sendoknya, itu tidak luput dari tatapan Hunter saat ini.

"Kapan kamu akan ujian?" Safa mengangkat kepalanya, mengetatkan giginya untuk tidak mengeluarkan suara lain saat ini karena dibawah sana sedang mengoyak miliknya meski dengan kaki itu mampu membangkitkan gairah Safa.

"Minggu depan," Leni mengangguk.

"Berhenti menulis dan fokus dengan ujianmu," Safa menelan salivanya, sedikit kecewa kala Hunter menurunkan kakinya, tatapan mereka bertemu sekilas sebelum Hunter berbicara pada Leni.

"Kemungkinan aku minggu depan akan ada dinas keluar kota, apa kamu bisa ikut sayang?" Leni memajukan bibirnya dan berkata.

"Sepertinya tidak bisa sayang, maaf ya," kata Leni yang diangguki oleh Hunter.

Safa yang melihat keromantisan mereka langsung merapatkan kakinya dan merasa jika dirinya paling menjijikkan saat ini mengingat apa yang ia lakukan beberapa menit yang lalu pada Hunter.

***

Di sekolah

Safa termenung di bangkunya, tak lama Yona masuk ke dalam kelas dan menghampirinya.

"Ngelamun apaan sih?" tanya Yona mengejutkan Safa.

Safa menggeleng seraya menyomot roti Yona.

"Bagaimana dengan film yang kukirim semalam?" Safa langsung membungkam mulut Yona seraya melihat kanan kiri dengan panik.

"Jaga ucapanmu, ini di sekolah, bagaimana jika ada yang mendengar?" geram Safa kala Yona benar- benar tidak bisa melihat kondisi dan situasi.

Yona sedikit memajukan tubuhnya dan berbicara, "Aku ikut menulis dalam platform itu dengan nama samaran, saking gilanya aku membuat tiga akun untuk meraup banyak keuntungan. Bagiku ini adalah ladang emas yang harus segera kupanen. Aku benar- benar sangat antusias saat ini. Dan aku sangat menyukainya karena aku menikmati saat menulis adegan adult seperti ini." Safa langsung membungkam mulut Yona saking gemasnya.

"Bisa tidak kecilkan suaramu, ini di sekolah, mereka akan membakarmu ramai-ramai jika mereka dengar," kata Safa dengan kesal pada sahabatnya ini.

Yona hanya bisa menyengir dan memajukan tubuhnya untuk bertanya, "Bagaimana denganmu? Kau setuju kan untuk ikut menulis di platform ini? Bonusnya sungguh menggiurkan, minggu depan kita sudah ujian, jika kau tidak ikut menulis di dalam platform ini, kemungkinan kau tidak akan bisa mengikuti ujian. Apa perlu aku membantumu mengajarkan bagaimana caranya menulis adegan eksplisit? Bukankah dengan melihat film sembari menulis bisa kau praktikkan? Ini sangat mudah Saf." Safa diam mendengarkan ucapan Yona, pikirannya malah tertuju pada Hunter.

Ini sungguh gila bukan? Kenapa pikirannya malah berfantasi pada Hunter coba.

"Ngomong-ngomong bagaimana dengan suami muda ibumu? Apa dia tampan? Apa dia sangat muda? Bagaimana lekuk tubuhnya?" tanya Yona dengan keponya membuat Safa langsung salah tingkah dan memakan roti Yona.

"Kenapa menanyakan orang itu, tidak penting sekali," ketus Safa membuat Yona memukul tangan Safa.

"Kau sungguh bodoh, kau tidak pernah pacaran atau berciuman, aku tahu kau tidak berpengalaman, dan kau kesulitan dalam menulis novel dengan genre adult ini tapi jika kau mau," Yona sedikit memajukan kursinya untuk berbisik pada Safa.

"Kau bisa jadikan fantasi liar suami muda ibumu itu, jika ia tampan, dengan melihat tubuhnya saja, kau bisa berimajinasi jauh dengan sangat baik, coba saja jika tidak percaya, aku melakukannya pada kakak tiriku," ungkap Yona dengan jujurnya tanpa ada yang ia tutupi membuat Safa merasa jika dirinya dan Yona sama gilanya saat ini.

Safa berusaha mengabaikan ucapan Yona namun itu terus terngiang di otaknya.

***

Malam harinya, sejak pulang sekolah hingga malam ini, Safa belum beranjak dari depan laptopnya. Ia berada di dalam kamar sejak siang tadi untuk menulis novel.

"Sialan, kenapa ucapan Yona sungguh mengganggu pikiranku," gumam Safa yang mana ia malah beranjak dari depan laptopnya dan berjalan ke meja rias.

Safa menatap pantulan dirinya di cermin. Tubuhnya memang oke, body goals banget untuk anak seusianya.

Bahkan bisa dibilang amat sangat seksi sekali.

"Bukankah ibu pulang terlambat?" gumam Safa kala ia teringat ucapan mamanya tadi pagi.

Safa mengumpat kala ia harus menyiapkan makan malam untuk Hunter.

"Apa aku mencobanya malam ini berhubung mama tidak ada?" gumam Safa dengan gilanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED