Emily terlihat duduk di kursi kerjanya yang berada di salah satu sudut perkantoran yang berlokasi di salah satu distrik bisnis, New York. Dari jendela kaca yang besar di sisi ruangannya, terlihat pemandangan kota New York yang megah, dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
Matanya sesekali melirik ke arah ponselnya, menunggu balasan dari kekasihnya yang sudah dua minggu terakhir ini menghilang tanpa kabar. Emily, dengan rambutnya yang selalu terikat rapi dalam satu kuncir, dan kacamata yang selalu setia menghiasi kedua bola matanya membuat penampilannya terlihat cupu. Meskipun berpenampilan seperti itu, dia sudah memiliki seorang kekasih dan memiliki rencana untuk menikah.
"Dia bahkan tidak ada kabar lagi hari ini. Apa dia juga melupakan hari ulangtahunku?" gumam Emily sambil menghela nafas panjang. Bahkan, ayahnya juga tidak lupa untuk mengucapkan 'selamat ulang tahun' padanya sebelum dia pergi ke kantor. Bagaimana mungkin kekasihnya bisa melupakan hari ulangtahunnya.
Emily berusaha mengabaikan perasaannya dengan terus berkutat mengetik di komputernya ketika tiba-tiba ponselnya berdering dan dia melihat tulisan 'pacarku' di layar.
"Ethan? Selama dua minggu ini, kamu ke mana saja?" tanya Emily dengan rasa kesal.
"Maafkan aku, Emily. Aku berlibur dengan temanku ke luar negeri jadi aku mengambil cuti," ucap Ethan dengan nada sedikit bersalah.
"Berlibur? Seharusnya kamu bisa memberikan kabar padaku. Aku khawatir sekali padamu," ucap Emily dengan rasa kekecewaan.
"Aku lupa mengabarimu karena belakangan aku sangat sibuk dengan pekerjaanku sebelum berlibur bersama mereka. Oh ya, aku ingin mengatakan padamu bahwa malam ini aku memiliki rencana reuni bersama teman sekolahku, jadi kita tidak bisa bertemu," ucap Ethan, yang membuat Emily semakin kesal.
"Lupa mengabariku?" Emily menjeda pertanyaannya dengan mata yang mulai berkaca sebelum melanjutkan. "Apa kamu juga lupa hari apa ini?" tanya Emily dengan nada yang mulai meninggi.
"Tentu saja, ini hari rabu. Ada apa, Emily?" jawab Ethan dengan kebingungan.
Wajah Emily mulai memerah, menahan emosi yang ada di dalam hatinya. Rasa kecewa dan kesal yang dia rasakan semakin membesar. Dia merasa diabaikan dan tidak dihargai oleh Ethan, terutama pada hari ulang tahunnya yang seharusnya menjadi momen istimewa.
"Hari ini adalah hari ulang tahunku. Kenapa kamu bisa sampai melupakannya?" tanya Emily dengan nada sedih.
Ethan terkejut, dia segera memastikan tanggal di hadapannya dan menepuk jidatnya perlahan karena telah melupakan hari istimewa pacarnya.
"Maafkan aku, Emily. Aku sampai melupakan hari ulang tahunmu. Sungguh, aku tidak bermaksud menyakitimu," ucap Ethan dengan suara yang penuh penyesalan.
"Kenapa kamu berubah? Kamu semakin tidak ada waktu untukku. Padahal kita sudah mau menikah" ucap Emily dengan rasa kekecewaan.
Ethan mulai merasa kesal dengan sikap Emily. Dia merasa bahwa dia telah memberikan penjelasan dan berharap Emily bisa memahaminya.
"Apa yang berubah dariku? Sudahlah, aku tidak ingin bertengkar denganmu," ucap Ethan dengan nada sedikit frustasi.
"Tentu saja kamu berubah, kamu bahkan tidak mengabari aku saat kamu pergi berlibur. Aku merasa kamu tidak pernah menganggap aku ada padahal aku sudah berusaha mengerti kamu selama ini. Aku merasa bahwa hubungan kita tidak lagi penuh dengan cinta dan kehangatan seperti dulu. Aku merasa kamu semakin jauh dariku," ucap Emily dengan suara yang penuh kehampaan.
"Em, aku tidak memiliki waktu untuk bertengkar denganmu sekarang. Aku sangat sibuk, aku akan menghubungimu lagi nanti," ucap Ethan dengan tergesa-gesa sebelum memutuskan sambungan telepon.
Emily merasa kecewa dan terluka dengan sikap Ethan yang terkesan acuh tak acuh. Air matanya jatuh membasahi pipi. Dia mengambil nafas dalam-dalam dan mencoba memfokuskan diri pada tugas-tugasnya. Tetapi, pikirannya sangat sulit untuk fokus sekarang.
Namun, dalam keheningan lamunan itu, suara langkah kaki tegas mendekat. Emily berdiri, menyambut kedatangan lelaki yang tak lain adalah CEO-nya, sosok yang selalu menyiratkan dinginnya es. Perawakan tegapnya sungguh menakjubkan, membuatnya dihormati oleh seluruh karyawan dan rekan bisnis.
Walaupun usianya masih muda, ia mampu mengguncang persepsi orang tentang arti usia. Kepemimpinannya membawa perusahaan ini berkembang pesat, membuktikan bahwa usia hanyalah angka.
Dia adalah Daniel Winston, seorang CEO muda berusia 32 tahun. Pekerjaan adalah segalanya baginya. Banyak yang menyebutnya 'ice prince' karena sifatnya yang dingin, namun kehadirannya memancarkan pesona seorang pangeran.
Di usianya yang sudah berkepala tiga, ia tetap hidup sendiri tanpa keinginan untuk mencari pasangan atau menikah.
"Selamat pagi, Pak," sapa Emily dengan suara lembut, menahan nafas ketika melihat atasannya yang telah tiba, ditemani oleh asisten pribadinya yang setia di sampingnya. Daniel bahkan tidak menggubris sapaan basa-basi Emily dan memilih untuk segera masuk ke dalam ruangannya. Sementara asisten pribadi Daniel tersenyum kepada Emily sekilas sebelum mengikuti Daniel masuk ke dalam.
Dingin.. itulah yang dirasakan Emily saat ini. Seperti angin musim dingin yang menusuk tulang, suasana di sekitarnya terasa beku. Emily segera bergegas ke dapur, meracik secangkir kopi tanpa gula dengan hati-hati. Setetes demi setetes, aroma kopi yang harum memenuhi ruangan, mencoba menghangatkan suasana yang terasa tegang.
Emily menghampiri ruangan Daniel dengan hati-hati, membawa secangkir kopi yang masih mengeluarkan uap hangat. Dengan langkah pelan, ia mengetuk pintu dan memasuki ruangan dengan penuh rasa hormat.
"Maaf mengganggu, Pak," ucap Emily dengan suara yang lembut. Dia meletakkan secangkir kopi itu dengan hati-hati di atas meja. Matanya fokus pada cangkir yang ia pegang, memastikan agar tidak ada tetesan yang jatuh atau cangkir yang tergelincir dari tangannya.
Setelah meletakkannya, Emily pamit undur diri dari ruangan itu. Namun, suara dingin dari Daniel menghentikan langkah kakinya untuk pergi lebih jauh. "Emily," panggilnya.
"Ya, ada apa pak?" tanya Emily dengan hati-hati.
"Apakah kamu sudah menyelesaikan dokumen itu?" tanya Daniel dengan tegas.
"Su-sudah pak.. Sa-saya akan mengambilnya, tunggu sebentar, Pak," ucap Emily terbata-bata. Dia selalu merasa gugup ketika berada di dekat atasannya, karena Daniel selalu bersikap tegas dan tidak mentoleransi kesalahan sedikit pun.
Emily meninggalkan ruangan dengan sopan, memastikan untuk menutup pintu dengan lembut. Setelah menemukan dokumen yang diminta di mejanya, dia kembali mengetuk pintu dan mendengar Daniel yang sedang berbicara dengan asisten pribadinya perihal pekerjaan. Setelah pembicaraan mereka selesai, asisten pribadi Daniel pun undur diri untuk keluar dari ruangan itu.
"Mana?" tanya Daniel ketika melihat Emily yang sudah berada di hadapannya sekarang.
"I-ini pak," jawab Emily gugup sambil meletakkan dokumen itu di hadapan Daniel.
Daniel memeriksa setiap kata dalam dokumen itu dengan cermat sebelum menutup dan sedikit membanting dokumen itu di atas meja. Terdengar helaan nafas dari atasannya itu membuat Emily semakin gugup. Apa lagi kesalahannya kali ini? Itulah yang dipikirkan olehnya sekarang.
"Ulang!" hanya satu kata itu yang terucap dari mulut Daniel, memenuhi ruangan dengan kekuatan dan ketegasan yang tak terbantahkan. Suara itu seakan menggema di telinga Emily, menusuk hatinya dengan kekecewaan yang mendalam.
"Maaf pak, apakah ada yang salah dari dokumen yang saya buat?" tanya Emily mencoba memastikan kesalahan apa yang sudah diperbuat olehnya.
"Begitu banyak kesalahan pengetikan di dalamnya! Apakah kamu serius dengan pekerjaanmu?"
Emily kembali mencoba memastikan dokumen yang sudah dibuatnya itu dan akhirnya menyadari kesalahannya.
"Maafkan saya, Pak. Saya tidak menyadari adanya kesalahan tersebut. Saya akan segera memperbaikinya." ucap Emily sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Kesalahan pengetikan seperti ini dapat merusak reputasi perusahaan dan mengirimkan informasi yang salah kepada klien kita. Sebagai seorang sekretaris, kamu harus paham tentang hal ini."
"Maaf Pak."
"Pergilah, ulangi semua dokumen itu dan selesaikan hari ini juga!" titah Daniel.
Setelah kembali ke meja kerjanya, dia menyadari bahwa dia harus fokus pada pekerjaannya saat ini dan menyelesaikan tugas dengan baik. Dia mengambil nafas dalam-dalam, menghapus air mata yang hampir jatuh, dan memulai ulang pekerjaannya dengan tekad yang kuat.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Emily kembali mengetuk pintu dan menunjukkan bahwa dia telah menyelesaikan tugasnya. Daniel melihat Emily yang memegang dokumen tadi, dan menyimpulkan bahwa dia telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Baiklah, berikan dokumen itu pada saya," kata Daniel dengan suara yang lebih tenang kali ini.
Emily menyerahkan dokumen itu kepada Daniel, berharap bahwa hasil perbaikannya akan memenuhi harapannya. Dia merasa lega karena telah menyelesaikan tugas dengan baik, meskipun masih ada rasa tegang dalam hatinya.
Daniel memeriksa dokumen tersebut dengan seksama, kali ini tanpa menunjukkan ekspresi yang jelas. Setelah beberapa saat, dia menarik nafas dalam-dalam. Tangan Emily semakin dingin seiring menunggu jawaban dari Daniel.
"Apa ada yang salah lagi, Pak?" Emily memberanikan diri untuk bertanya.
"Baiklah, sudah benar," ucap Daniel singkat dengan nada yang lebih lunak.
Emily merasa lega mendengar kata-kata tersebut. Meskipun dia masih merasakan sedikit kegugupan, dia merasa bangga karena berhasil mengatasi tantangan tersebut.
"Apa saja jadwal saya hari ini?" tanya Daniel.
"Pada pagi ini pukul 10.30, Anda memiliki panggilan konferensi dengan klien besar dari luar negeri. Selanjutnya, pada pukul 12.00 Bapak memiliki jadwal makan siang dengan mitra potensial di restoran XYZ. Setelah itu, pukul 14.00, Bapak memiliki pertemuan dengan tim penjualan untuk membahas strategi peningkatan promosi produk dan layanan di ruang konferensi A.." ucap Emily sambil terus menjelaskan semua detail jadwal Daniel.
"Baik, pastikan semua materi presentasi sudah siap dan tersedia. Juga, pastikan bahwa ruang pertemuan juga sudah disiapkan dengan baik untuk setiap acara yang dijadwalkan"
"Baik, Pak. Saya akan memastikan bahwa semua materi presentasi siap dan ruang pertemuan sudah disiapkan dengan baik sesuai kebutuhan."
"Saya juga butuh semua informasi yang diperlukan sebelum panggilan konferensi dengan klien besar dari luar negeri," ujar Daniel dengan ketegasan.
"Baik, Pak. Saya akan segera menyiapkan semua informasi yang diperlukan untuk panggilan konferensi tersebut." jawab Emily sambil menundukkan kepalanya dengan hormat sebelum melangkah pergi untuk menyelesaikan tugas yang diperintahkan oleh atasannya.
Namun, tiba-tiba Daniel memanggilnya kembali, membuat jantung Emily berdetak kencang. "Tunggu, Emily."
"Saya ingin kamu menemani saya dalam perjalanan menemui mitra bisnis besok di Thailand," perintah Daniel dengan tegas.
"Apa, Pak?" tanya Emily, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Biasanya, Daniel selalu melakukan perjalanan bisnis dengan asisten pribadinya.
"Apa perkataan saya kurang jelas bagimu?" tanya Daniel sambil menghela nafas, terlihat agak malas untuk mengulanginya.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud begitu. Maksud saya.. Itu.." ucap Emily terbata-bata saat mencoba menjelaskan.
"Kamu harus menemani saya besok dalam perjalanan untuk menemui mitra bisnis di Thailand. Apa ini sudah jelas?" ucap Daniel perlahan-lahan, berusaha agar tidak perlu mengulang perkataannya kembali.
"B-baik, Pak," jawab Emily tetapi raut ragu sangat terlihat jelas dari wajahnya.
"Kenapa? Apa kamu takut melakukan perjalanan bisnis dengan saya? Apa saya terlihat seperti seseorang yang akan melakukan sesuatu kepadamu?" tanya Daniel.
"Tentu saja tidak, Pak. Saya hanya bingung karena biasa Pak Richard yang menemani Bapak," ucap Emily sedikit gugup.
"Richard tidak bisa menemani saya dalam perjalanan kali ini karena dia harus cuti besok," jelas Daniel.
"Baik, Pak. Saya akan menemani Bapak," ucap Emily sambil masih tetap berdiri di hadapan Daniel karena takut atasannya akan mengatakan sesuatu lagi. Tetapi setelah cukup lama menunggu, nyatanya Daniel malah tidak mengatakan apapun lagi kepadanya.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Daniel, melihat Emily yang masih berdiri di hadapannya.
"Eh? Ma-maaf Pak," ucap Emily, hendak keluar dari ruangan Daniel, namun karena kurang hati-hati, dia tersandung dan terjatuh. Suara Emily yang terjatuh membuat Daniel langsung menoleh ke arahnya.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Daniel dengan wajah kesal.
"Ti-tidak apa-apa, Pak. Maafkan saya," ucap Emily sambil berdiri dan bergegas keluar dari ruangan Daniel.
Daniel menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sekretarisnya dan menghembuskan nafasnya kasar. Setelah itu, ia kembali fokus pada dokumen-dokumen di atas mejanya.
"Auhhh, lutut ku sakit," desis Emily sambil meringis kesakitan dan mengelus lututnya yang terantuk tadi.
"Apa aku harus benar-benar pergi dengannya dalam perjalanan bisnis kali ini? Dia begitu dingin dan menakutkan," gumam Emily.
"Belum lagi dengan sikapnya yang begitu arogan, kenapa aku harus berakhir menjadi sekretarisnya?" gumam Emily pelan, merutuki nasib sialnya.
Emily mengeluarkan ponselnya, kemudian mengetikkan pesan untuk dikirim kepada Ethan.
Setelah kamu selesai dengan acara reunimu, temui aku. Tidak ada alasan.
Jam berlalu dengan cepat, dan akhirnya tiba saatnya bagi Emily untuk pulang ke rumah setelah menyelesaikan semua tugas harian sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Dia menutup komputernya dan bergerak menuju lift. Di sepanjang koridor, Emily melihat bahwa Daniel Winston belum kembali ke ruangannya, mungkin karena jadwal yang padat. Emily kembali melihat ponselnya dan ada notifikasi pesan yang masuk.
Nanti aku akan menemuimu tetapi agak malam, setelah acara reuniku berakhir.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Emily segera memulai mesin dan melaju ke jalanan. Tepat pada saat Emily pergi, Daniel tiba di perusahaan dengan asisten pribadinya. Dia bergegas menuju lift dan menekan nomor lantai di mana kantornya berada.
"Pak, tadi ada pesan bahwa Ketua mengundang Anda untuk makan malam di kediamannya malam ini," ucap asisten pribadi Daniel sambil menyampaikan pesan tersebut.
"Baiklah, aku akan ke sana nanti," ucap Daniel sambil menghela nafasnya.
"Baik, Pak," jawab asisten pribadinya.
Daniel berjalan menuju ruang kantornya setelah lift berhenti tepat di lantai yang ingin dituju.
***
Setelah Emily sampai di rumah, dia melihat ayahnya sudah pulang dari kantor.
"Bagaimana harimu, Em?" tanya ayahnya.
"Buruk, Dad," jawab Emily.
"Siapa yang telah memperlakukan putriku dengan buruk hari ini? Aku akan melawannya untukmu," ucap Fred.
"Apakah kamu akan melawan bosku juga untukku?" tanya Emily sambil tersenyum.
"Tentu saja aku akan melakukannya dengan senang hati untukmu," ucap Fred, membuat Emily tertawa.
"Dad, apakah Dad tidak ingin menikah lagi?" tanya Emily, berharap ayahnya bisa mencari pengganti ibunya.
"Apakah kamu ingin mengusirku dari rumah ini?" tanya Fred kepada putrinya dengan nada bercanda.
"Benar. Aku hendak mengusir Dad dari rumah ini," ucap Emily sambil tertawa.
"Aku tidak akan menikah sebelum mengantarmu di altar menuju calon suamimu di pernikahan nanti. Aku harus melihat putriku bahagia terlebih dahulu," ucap Fred dengan tulus.
Mendengar ucapan Fred, membuat Emily terdiam. Dia merasa terharu dengan kebaikan hati ayahnya yang begitu mencintainya. Sejenak, dia merenung tentang hubungannya dengan Ethan dan merasa bahwa segala rasa cinta yang diberikan Ethan padanya sudah terasa sangat berbeda.
"Em, ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat sedih seperti itu? Bukankah seharusnya kamu bahagia karena hari ini adalah hari ulang tahunmu?" tanya Fred dengan kekhawatiran.
"Entahlah, Dad," jawab Emily dengan suara lemah.
"Apakah kamu tidak memiliki acara apa pun dengan Ethan hari ini?" tanya Fred dengan rasa ingin tahu.
"Mungkin agak malam," jawab Emily.
Akhirnya, sesuai dengan janji Ethan, dia pun datang menemui Emily agak malam setelah acara reuni dengan teman-temannya berakhir.
"Halo, Ethan. Apa kabar?" tanya Fred.
"Baik, Uncle. Saya mau menjemput Emily" ucap Ethan meminta izin kepada Fred.
Setelah meminta izin, mereka pun langsung pergi dari rumah.
"Aku pergi dulu ya, Dad." ucap Emily.
"Hati-hati di jalan ya?"
"Kalau begitu, kami permisi dulu ya, Uncle," ucap Ethan yang hanya dijawab senyuman oleh Fred.
Ketika masuk ke dalam mobil Ethan, Emily tampak lebih banyak terdiam. Dia masih sangat kesal dengan Ethan.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba di sebuah restoran. Emily dan Ethan duduk di restoran, suasana tegang terasa di antara mereka.
"Apa kamu masih marah padaku?" tanya Ethan dengan hati-hati memulai percakapan.
"Tentu saja," jawab Emily dengan nada ketus. Rasa sakit dan kekecewaan terlihat jelas di matanya.
Ethan menghela nafas, mencoba mencari cara untuk menjelaskan dirinya. "Em.." ucapnya pelan, membuat Emily menoleh padanya.
"Aku kecewa padamu karena kamu seperti tidak menganggapku sebagai kekasihmu. Selama dua minggu ini, aku menunggu kabar darimu. Aku khawatir sekali karena kamu menghilang begitu saja. Bahkan di hari ulang tahunku hari ini, kamu juga melupakannya," ucap Emily dengan ekspresi kesal.
Ethan terdiam, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya. "Apa kita harus bertengkar hanya karena hal kecil seperti ini?" tanyanya.
"Hal kecil? Kamu menghilang tanpa kabar selama dua minggu dan itu merupakan hal kecil untukmu? Sementara aku sudah sangat khawatir padamu," Emily menatap Ethan dengan ekspresi tidak percaya.
"Tolong jujur padaku, apakah kamu pernah mencintaiku? Mengapa aku merasa seperti aku adalah satu-satunya yang berharap kehadiranmu, sedangkan kamu tidak," ucap Emily dengan suara yang tercekat. Air matanya mulai mengalir di pipinya. Dia merasa marah dan kesal dengan sikap acuh Ethan terhadapnya selama ini.
Ethan terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia melihat ke meja mereka, di mana seorang pelayan baru saja menghidangkan minuman mereka. Suasana menjadi hening, tidak ada sepatah kata pun yang terucap.
"Kenapa kamu diam? Apakah kamu pernah mencintaiku?" tanya Emily mengulang pertanyaannya.
"Aku tahu aku yang mencintaimu untuk pertama kalinya. Aku yang memberanikan diri menyatakan perasaan padamu. Tapi selama ini, aku pikir perasaanku dibalas olehmu karena kamu terlihat seperti mulai mencintaiku. Tapi, apakah aku salah dalam penafsiran itu? Apakah kamu tidak pernah mencintaiku?" tanya Emily.
"Sudahlah, kamu terlalu banyak memikirkan yang tidak-tidak," ucap Ethan terlihat masa bodoh dan mulai menyeruput minuman di hadapannya.
Emily menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mengungkapkan perasaannya dengan tegas, "Aku terlalu lelah dengan hubungan ini. Bisakah kamu memberikan aku kejelasan tentang hubungan kita? Aku tidak ingin menikah dengan seseorang yang hatinya tidak pernah berdebar untukku," ucapnya dengan suara yang bergetar.
"Kejelasan apa lagi yang kamu inginkan, Em? Kamu tahu aku bukan orang yang pandai merangkai kata indah. Hanya dengan kebersamaan kita selama beberapa tahun, seharusnya sudah cukup menjelaskan keseriusanku padamu," ucap Ethan dengan nada yang tegas.
Emily merasakan kekecewaan yang semakin dalam di hatinya. Dia ingin mendengar kata-kata cinta dari Ethan, bukan hanya penjelasan yang datar. "Aku menginginkan jawaban atas pertanyaanku tadi, Et! Apakah kamu mencintaiku?" tanya Emily bersikeras ingin mendengar jawaban yang tulus dari Ethan.
"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan, aku mencintaimu. Apakah sudah puas?" ujar Ethan.
Kata-kata cinta yang tidak tulus dari Ethan membuat Emily semakin marah dan hancur. "Kamu memang bajingan! Bahkan hanya dengan mengatakan kata cinta pun sangat sulit bagimu. Sepertinya kita sudah tidak bisa mempertahankan hubungan kita lagi," ucap Emily dengan suara yang penuh kesedihan dan keputusasaan. Dia merasa bahwa hubungan mereka sudah tidak memiliki harapan lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Ethan bingung, mencoba memahami keputusan Emily.
"Kita putus saja," ucap Emily dengan mata yang penuh dengan air mata, menatap tajam ke arah Ethan.
"Putus? Apakah kamu yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Ethan kembali, mencoba mempertanyakan keseriusan Emily dalam mengambil keputusan ini.
"Iya, aku tidak bisa bersama dengan seseorang yang tidak menghargai dan mencintaiku," ucap Emily dengan suara yang penuh keputusan. Dia berdiri, hendak meninggalkan Ethan dan restoran itu.
"Em, kamu mau ke mana?" teriak Ethan tetapi Emily tidak lagi menghiraukan panggilan itu, dia berjalan cepat agar bisa meninggalkan tempat itu.
"Emily! Kamu akan segera menyesali keputusanmu," ucap Ethan.
***
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Daniel bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Bagi Daniel, tiada ada hari tanpa kata lelah. Tetapi, dia sangat menikmatinya. Baginya, sibuk adalah hal yang biasa. Dia masuk ke dalam mobil dengan seorang sopir yang dengan sopan membukakan pintu untuknya.
Daniel melihat arloji mahal yang terhias di pergelangan tangannya. Dia tidak ingin terlambat untuk pergi ke kediaman kakeknya.
"Agak cepat sedikit, ya," pintanya kepada sang sopir.
"Baik, Pak," jawab sang sopir dengan ramah.
Perjalanan menuju kediaman kakeknya memakan waktu hampir satu jam. Salah satu petugas keamanan dengan ramah membuka pintu pagar rumah yang menjulang tinggi, mempersilahkan mobil Daniel untuk masuk ke dalam kediaman tersebut.
Mobil melaju perlahan masuk ke dalam halaman rumah yang luas. Setelah mobil berhenti di depan pintu utama, Daniel turun dengan elegan. Dia disambut oleh seorang pelayan yang mengenali kehadirannya.
"Selamat datang, Pak Daniel. Kakek Anda sudah menunggu di dalam," ucap pelayan dengan sopan.
Daniel mengucapkan terima kasih kepada pelayan dan berjalan menuju pintu masuk rumah.
Daniel memasuki rumah kakeknya yang megah bak istana. Bangunan itu begitu memukau, dengan arsitektur klasik yang dipadukan dengan sentuhan modern yang mencolok. Saat Daniel melangkah masuk, lantai marmer yang mengkilap memantulkan cahaya dengan indah, menciptakan efek kilauan yang mempesona. Ia mengikuti jejaknya ke dalam ruangan yang megah, dihiasi dengan tangga spiral yang elegan. Cahaya hangat dari lampu gantung kristal yang indah memancar ke seluruh ruangan, menciptakan atmosfer yang mewah dan memikat.
Ia melanjutkan perjalanannya menuju ruang makan utama yang dirancang dengan penuh keanggunan. Meja makan besar yang terbuat dari kayu mewah dan kursi-kursi empuk yang dilapisi dengan kain sutra memberikan kesan kemewahan yang tak terhingga.
Daniel merasakan aroma harum makanan lezat yang menggoda indera penciumannya saat ia mendekati meja makan. Semua hidangan telah disiapkan dengan penuh keahlian oleh para koki pribadi kakeknya. Di meja makan sudah duduk kedua paman beserta istrinya dan satu bibinya beserta sang suami. Daniel dengan percaya diri mengambil salah satu tempat dan mendudukinya.
"CEO perusahaan kita terlambat datang hari ini rupanya. Apakah kamu sangat sibuk?" tanya Bibi Daniel, Sophia Winston dengan nada sindiran.
"Maafkan saya, Bibi. Tapi ya, banyak sekali tugas di kantor yang harus saya selesaikan," ucap Daniel dengan santai.
"Kerja terus, kapan lagi kamu akan menikah? Jangan bilang, kamu juga belum memiliki kekasih?" goda Sophia dengan nada sinis.
Tetapi Daniel hanya tersenyum. "Saya masih tidak memiliki niat untuk menikah. Saya masih menikmati masa muda saya," jawab Daniel sambil tersenyum, menunjukkan keyakinan dalam pilihan hidupnya.
Tiba-tiba, suasana seketika terasa dingin ketika kakek Daniel memasuki ruangan, dan semua orang berdiri dengan hormat sampai kakek Daniel duduk. Meskipun usianya yang sudah tua, kehadiran kakek Daniel tetap memancarkan aura kekuasaan yang membuatnya dihormati oleh semua orang, termasuk anak-anak dan cucunya.
Kakek Daniel, yang bernama Jake Winston, adalah seorang pria yang penuh dedikasi dan memiliki visi yang kuat dalam membangun W Company. Sebagai pendiri dan pemilik perusahaan, peran Jake dalam menjadikan perusahaan ini salah satu perusahaan distribusi global terbesar tidak bisa dipandang remeh.
Jake langsung memulai pembicaraan dengan memberikan teguran kepada kedua anaknya yang dianggapnya tidak kompeten dalam bekerja.
"Apa yang terjadi dengan kalian berdua? Aku sangat kecewa dengan kinerja kalian yang tidak kompeten! Aku selalu mendapat laporan bahwa cabang-cabang selalu menghadapi masalah. Kalian bertanggung jawab untuk menyelesaikan semua masalah ini!" suara Jake mulai meninggi.
"Maafkan kami, Dad. Kami sedang memperbaiki situasi ini," jawab salah satu paman Daniel bernama Robert Winston, mencoba membela diri.
"Memperbaiki situasi? Itu tidak cukup! Kalian sebagai manajer harus bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan operasional cabang-cabang ini. Aku tidak akan mentolerir kinerja yang buruk!" ucap Jake dengan tegas, menunjukkan ketidakpuasannya terhadap pembelaan anaknya.
"Lihat Daniel, dia masih muda tetapi dia sangat kompeten, tidak seperti kalian berdua,"ucap Jake kesal dengan anaknya.
Daniel melihat kedua pamannya, Robert Winston dan Michael Winston. Ekspresi kedua pamannya terlihat jelas tidak senang ketika Jake memuji kemampuan Daniel lebih dari mereka.
"Sudahlah, Dad.Sebaiknya kita makan dulu. Tidak baik membahas bisnis di atas meja makan," sela Sophia, mencoba meredakan ketegangan.
"Sebaiknya kamu diam dan jangan ikut campur dalam pembicaraan kami," ucap Jake dengan tegas, membuat Sophia terdiam.
"Daniel, kakek ingin kamu bisa segera menikah," ujar Jake dengan suara tegas, tatapannya penuh harap.
"Maaf, Grandpa. Tapi, aku masih belum memikirkan jauh tentang pernikahan. Aku masih menikmati masa mudaku," jawab Daniel dengan suara lembut, namun tetap teguh pada pendiriannya.
Wajah Jake mengekspresikan kekecewaan yang mendalam, namun dia tidak menyerah begitu saja. "Mulai sekarang, coba pikirkan itu. Kakek akan memberikanmu kesempatan dalam waktu satu bulan ini, apabila kamu masih belum mendapatkan calon istri, biar kakek yang mencari calon istrinya untukmu," ucapnya dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Akhirnya, kakek Daniel mulai menikmati makanan di atas meja, dan semua orang di sekitarnya mulai makan juga. Suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Tatapan sinis dari paman dan bibi Daniel yang ditujukan untuk Daniel seolah tidak mempengaruhinya sama sekali karena dia sudah terbiasa mendapat tatapan itu sejak kecil.
Setelah pulang dari kediaman kakeknya, Daniel merasakan kelelahan yang melanda tubuhnya. Tekanan yang besar dari kakeknya membuatnya merasa terbebani. Dalam hatinya, dia masih belum memikirkan untuk menikah karena dia masih sangat menikmati kesibukannya dan ingin fokus pada karirnya.
"Tolong berhenti di mini market itu," pinta Daniel kepada sopirnya. Dia merasa perlu untuk membeli minuman segar yang bisa menghilangkan rasa haus yang tiba-tiba menyerangnya.
"Baik, Pak," jawab sopir dengan sopan.
***
Di sisi lain, Emily menangis sambil berjalan menyusuri sepanjang jalan, hatinya hancur dan penuh dengan rasa sakit. Dia merasa sangat kesepian dan terluka, tanpa kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.
"Bajingan! Dia bahkan tidak punya perasaan, dia tidak mengejarku sama sekali dan membiarkan aku berjalan kaki seperti ini," gumam Emily sambil menahan rasa sakit di hatinya.
Emily terus berjalan dengan mata yang berkabut oleh air mata, tidak menyadari bahwa ada seseorang di hadapannya. Dalam keadaan yang tidak terduga, Emily menabrak orang itu. Minuman yang ada di tangan orang itu terlepas dari genggamannya, dan dengan cepat tumpah di atas aspal jalan, menciptakan coretan basah yang mencolok.
Sementara tubuh Emily terhuyung ke belakang, hampir terjatuh namun sebuah tangan yang kuat menahan pinggangnya agar tidak terjatuh. Keduanya saling bertatapan dalam jarak yang begitu dekat, saat kejutan dan kebingungan terpancar dari wajah mereka.
Belum sempat pikiran Emily mencerna apa yang terjadi padanya saat ini, sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakang mereka, memecah keheningan yang tercipta.
"Jadi karena pria ini, kamu memutuskan untuk putus dariku?" desah suara tersebut dengan nada yang penuh emosi.