Di sela rehat, Vee membicarakan rencana perjalanan dinasnya ke luar kota. Dia berharap Damar akan melarangnya pergi supaya mereka bisa menghabiskan waktu berdua seperti dulu. Akan tetapi, harapan Vee tidak menjadi kenyataan. Justru, suaminya itu terlihat senang ketika dia mengabarkan rencana kepergiannya.
"Mas, besok aku ke Palembang selama satu minggu. Kau tidak apa kan aku tinggal?" tanyaku malam itu.
"Mendadak sekali, Sayang," ucapnya menatapku.
"Ada masalah di kantor cabang, dan pimpinan memintaku untuk menyelesaikannya. Tapi, kalau mas tidak mengijinkan, aku akan minta orang untuk menggantikan," kataku lagi.
"Jangan, jangan lakukan itu. Aku mengijinkanmu pergi," ucapnya lagi.
"Sepertinya, mas senang ya aku pergi. Biasanya mas selalu melarangku," ucapku curiga.
"Bukan begitu, nanti apa kata pimpinan jika kau selalu menolak perintahnya, bisa-bisa kau dipecat. Lagi pula ada Sumi di sini yang mengurusku," ucap Mas Damar tak sengaja menyebut nama itu.
"Owh, jadi posisiku sudah digantikan oleh Sumi--pembantu itu. Kenapa nggak sekalian saja dia gantikan aku sebagai istrimu, Mas!" kataku marah.
"Sayang, bukan begitu maksudku ..." jawab Mas Damar merasa bersalah.
"Sudahlah, aku mau istirahat. Selamat malam, Mas!" kataku menyela ucapannya dan langsung memejamkan mata.
"Vee, aku tidak bermaksud ..." ucapannya tertahan karena aku memotong perkataannya.
"Tidurlah mas, besok kau pun harus ke kantor," sahutku sambil memiringkan badanku memunggunginya.
Kecurigaanku semakin besar karena ucapan suamiku. Entahlah, terlalu banyak hal tidak aku ketahui belakangan ini. Terlebih. semenjak kehadiran asisten rumah tangga kami--Sumi, yang dibawa olehnya ke rumah ini. Vee merasa suaminya sudah banyak berubah. Padahal dulu, Damar tidak pernah ingin jauh darinya, dan ingin selalu ingin bersama.
"Aku tidak akan tinggal diam, Mas. Akan ku cari tahu perubahan dirimu ini. Perasaan seorang istri tidak akan pernah salah. Kau menyembunyikan sesuatu dariku," kataku dalam hati.
Vee mencoba memejamkan mata dan tidak ingin memikirkan hal yang membuat dirinya resah. Namun, semakin dia ingin tidur, matanya tidak bisa lagi terpejam. Dia juga menyadari, Damar--suaminya tidak ada di kamar.
"Kemana mas Damar? Tidak biasanya dia keluar selarut ini. Apa dia ..."
Vee bergegas turun dari ranjang dan membuka pintu pelan-pelan supaya tidak terdengar oleh siapapun. Namun, dia tidak juga menemukan suaminya di manapun juga.
"Sejak kapan mas Damar sering keluar malam? Kemana dia, mengapa dia tidak membangunkan aku?" tanya Vee bingung.
===
Keesokan paginya, aku berangkat tanpa pamit pada Mas Damar yang masih tertidur. Hati ini masih tidak terima dengan perkataannya semalam. Bergegas aku keluar kamar dan memanggil Sumi yang sedang membersihkan meja di ruang tamu rumahku.
"Sumi, kalau bapak bangun dan mencari, katakan padanya ibu sudah berangkat pagi-pagi sekali," ucap ku padanya. "Jangan sampai lupa pesanku ini," lanjutku lagi.
"Baik, bu, hati-hati di jalan," jawabnya sambil membawakan koperku ke dalam taxi.
Sebelum memasuki taxi yang akan membawaku ke bandara, kembali ku sampaikan pesan dan juga peringatan padanya untuk sadar diri tentang siapa dirinya di rumah kami.
"Selama aku pergi pastikan kebutuhan bapak kau layani dengan baik. Satu hal lagi, ingat posisimu di sini hanya seorang pembantu, mengerti!" kataku menegaskan.
"Mengerti, bu ..." jawabnya seperti menahan amarah atas ucapanku.
Aku bergegas masuk ke dalam taxi dengan perasaan yang tidak menentu. Perintah pimpinan tidak bisa kutolak demi karier di masa depan. Sedangkan di sisi lain, seperti berat meninggalkan Mas Damar hanya berdua dengan Sumi--asisten rumah tanggaku di rumah.
"Apa aku batalkan saja kepergianku dan mengatakan pada Kevin tentang masalah yang tengah kuhadapi saat ini? Tapi, nanti dia akan menertawakan dan menganggapku tidak profesional," kataku dilema.
Akhirnya, Vee menghubungi bos sekaligus sahabatnya. Dia tidak menceritakan secara gamblang kejadian yang menimpa keluarganya. Namun, tanpa diberitahu, bos nya mengerti.
"Selesaikan pekerjaan di Palembang dulu, setelah itu, biar aku yang eksekusi. Kau bisa pulang terlebih dahulu dan menyelesaikan permasalahan keluarga mu," ucap sang bos.
"Terima kasih atas pengertiannya, Bos," ucap Vee.
Vee pun berusaha menyelesaikan permasalahan yang terjadi di kantor cabang milik Kevin--bos sekaligus sahabatnya. Sebenarnya, bisa saja dia meminta Kevin mengirim orang lain untuk menggantikannya sementara waktu. Namun, Vee tidak ingin dianggap tidak profesional. Dia pun tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan apa yang sudah diperintahkan.
"Akhirnya, selesai juga pekerjaanku di sini. Saatnya memberi kejutan pada suamiku dan juga Sumi--asisten rumah tangga yang berlagak seperti seorang majikan."
Vee pun bersiap pulang. Tetapi, dia tidak akan langsung pulang ke rumah, melainkan memilih tinggal di sebuah hotel untuk menyelidiki tentang perubahan sikap Damar padanya.
***
"Ingat posisimu di rumah ini,Sumi!"
Ucapan Vee padaku saat membantunya memasukan koper yang berisi pakaian ke dalam bagasi taxi yang akan membawanya pergi membuat hatiku kesal dan rasanya ingin sekali menampar wajahnya. Akan tetapi, aku menyadari, belum saatnya dia mendapatkan kekerasan dariku yang statusnya masih asisten rumah tangga, belum menjadi nyonya Damar.
"Sombong sekali perempuan itu. Lihat saja, jika aku sudah berhasil mendapatkan Damar, kau akan ku tendang dari sini. Aku juga akan meminta Damar mengusir dan tidak memberinya nafkah lagi," ucap Sumi kesal. "Aku harus mengatakan hal ini pada Damar. Sebaiknya aku membangunkan dia saja.
Sumi bermaksud memasuki kamar majikannya untuk membangunkan majikan laki-laki sekaligus kekasihnya. Akan tetapi, teriakan tukang sayur menggagalkan semuanya, dan dia memilih keluar untuk menghindari kecurigaan para asisten rumah tangga komplek perumahan itu.
"Pagi, Sumi ... Makin glowing saja kau semenjak tinggal di rumah Bu Vee dan Pak Damar," sapa Inem--pembantu sebelah rumah majikannya.
"Ah, bisa saja kau, Nem," jawab Sumi tersipu malu.
"Serius, kamu makin cantik. Apa sih rahasianya? Biar pacar makin lengket," tanya Inem penasaran.
"Aku hanya pakai pembersih wajah biasa saja. Ngapain pake perawatan, mahal ..." jawab Sumi.
"Wah, gak percaya aku tuh. Mana mungkin hanya pakai pembersih wajah bisa glowing gitu. Kasih tau rahasianya lah, jangan pelit gitu, Sumi," ujar salah satu dari mereka terlihat iri.
Pagi itu memang diawali dengan kekesalan Sumi pada Vee--majikannya. Akan tetapi. mendengar pujian Inem, membuat mood nya naik kembali. Dia pun membagikan tips dan menceritakan tentang salah satu produk yang membuat kulitnya semakin bersih.
"Pantas sekarang Pak Damar jarang keluar dan berkumpul dengan majikan kita di komplek ini. Rupanya ada yang glowing hingga dia enggan berkumpul, hahaha," sindir Inem tanpa disadari oleh Sumi.
Sumi bertekad akan memikat majikannya dan membuat Damar bertekuk lutut di kakinya. Membuat Vee kehilangan suaminya dan dia yang akan menggantikan posisinya.
"Kau akan kehilangan suamimu, Nyonya Vee …"
"Bram, aku bisa minta bantuan?" tanyaku pada Bram melalui sambungan telepon.
"Tentu saja. Apa yang bisa dibantu, Vee?" tanya Bram padaku. "Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" ucapnya padaku.
"Bukan itu. Pekerjaanku baik-baik saja. Aku justru sedang di luar kota mengurus masalah di kantor cabang," jawabku padanya. "Aku hanya minta, tolong kau awasi Mas Damar selama aku pergi?" ucapku dengan nada serius.
Nada bicara Bram langsung berubah serius ketika aku mengatakan untuk mengawasi suamiku padanya. Tidak biasanya aku mengucapkan permintaan aneh padanya. Terlebih mengawasi suamiku sendiri.
"Ada apa sebenarnya? Apa kalian ada masalah hingga kau memutuskan untuk pergi dari rumah?" tanya Bram.
"Tidak, kami baik-baik saja. Aku pergi ke Palembang dalam rangka tugas kantor. Mas Damar cuma berdua saja dengan Sumi--asisten rumah tangga kami," jawabku padanya. "Aku hanya merasa ada sesuatu yang terjadi, namun belum menemukan bukti," lanjutku.
"Baiklah, aku akan membantumu. Kau selesaikan saja tugasmu di sana. Jangan khawatir, aku pasti akan melaporkan jika terjadi hal yang mencurigakan," ucapnya menenangkan.
"Terima kasih, Bram. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, sudah ada panggilan untuk masuk ke dalam pesawat,"kataku menutup telepon.
"Kau hati-hati selama di sana. Jaga kesehatan dan pola makan. Terus kabari aku," kata Bram mengingatkanku.
"Ah, seharusnya suamiku--Dana yang mengucapkan hal itu. Tapi, justru Bram--sahabatku yang begitu perhatian mengingatkanku.
Baru saja aku menutup telepon, satu pesan masuk. Rupanya Mas Damar. Aku membaca pesan yang berisi kekesalannya karena pergi tanpa pamit.
["Rupanya kau sudah tak menghargai aku sebagai suamimu, hingga pergi tanpa pamit. Baiklah, semoga sukses."]
Aku hanya membaca tanpa berniat membalasnya. Malas berdebat, terlebih masih teringat ucapannya semalam yang mengatakan Sumi yang akan melayaninya.
"Aku tidak akan tinggal diam jika terbukti ada sesuatu yang terjadi di antara kalian," ucapku lirih sambil terus berjalan memasuki badan pesawat.
===
Mas Damar terus menghubungi selama aku di Palembang. Dia meminta maaf atas perkataannya malam itu. Sementara aku, hanya menanggapinya dengan sikap dingin.
"Sayang, maafkan. Mas salah karena perkataan malam itu. Mas tidak bermaksud membandingkan dirimu dengan Sumi--asisten rumah tangga kita," ucapnya melalui sambungan telepon.
"Sudahlah mas, lupakan saja. Jaga dirimu selama aku tidak ada di rumah. Aku harus tidur, besok ada pertemuan penting dengan kepala cabang," kataku lalu menutup telepon.
Aku merasa tak ada ketulusan ketika mas Dana mengucapkan hal itu. Perasaan seorang istri tak pernah salah, perubahan sikap Mas Damar selama beberapa bulan belakangan ini menjadi bukti untukku mencurigainya.
"Kepercayaan diriku padamu mulai luntur, Mas. Apa aku bisa mempercayai setelah apa yang kau ucapkan malam itu? Membandingkan istri yang menemanimu dari bukan siapa-siapa menjadi orang yang diperhitungkan? Tidak semudah itu aku akan percaya jika sampai terbukti kecurigaanku," kataku mencoba untuk tenang.
***
"Sudah melepas rindu dengan istrimu, Mas?" tanya Sumi masih tergolek di ranjang.
"Kau cemburu, Sumi?" tanya Damar tersenyum.
"Ngapain harus cemburu kalau nantinya dia tetap akan kau tinggalkan, Mas? Aku kan hanya tinggal menunggu saat itu tiba," jawab Sumi dengan sombongnya.
"Sudahlah, jangan bicarakan istriku di saat seperti ini. Sekarang aku hanya ingin berduaan saja denganmu mumpung Vee masih di luar kota," ucap Damar. "Senyum dong, masa cemberut gitu," lanjutnya.
"Aah, Mas gitu ..." sahut Sumi manja.
***
Entah, setan apa yang telah membuat Damar memutuskan menjalin hubungan terlarang dengan Sumi yang notabene adalah pembantu baru di rumah kediamannya.
Dia tidak ragu lagi memperlihatkan kemesraan dan perhatian pada Sumi demi mendapatkan kepuasan batin yang selama ini sudah jarang dia dapatkan dari Vee--istrinya yang sangat sibuk bekerja beberapa bulan belakangan.
Damar sudah lupa akan semua janji pernikahan yanv diucapkan di hadapan Tuhan untuk tetap setia pada istrinya. Kehadiran Sumi yang terlihat begitu menggoda sejak pertama dia melihatnya di rumah kediaman sang kakak. Damar yang terkenal setia di kalangan teman-temannya, kini tidak ubahnya singa kelaparan yang haus akan kasih sayang.
Terlebih, selama pernikahannya dengan Vee yang sudah menginjak tahun ketiga, mereka belum dikaruniai momongan. Hal itu membuat dirinya frustrasi karena mendapatkan berbagai pertanyaan dari keluarga besarnya.
Dirinya sudah mendambakan kehadiran seorang anak yang bisa menjadi perekat hubungan suami istri antara dirinya dan Vee. Namun, hingga detik ini, istrinya tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dia tahu dirinya bersalah karena melakukan perselingkuhan. Terlebih, dia melakukannya dengan pembantunya sendiri. Sumi yang selalu saja menggoda dengan sikap manja dan segala perhatian yang diberikan, membuat Damar lupa diri.
"Mas, bagaimana jika nanti Sumi hamil? Apa mas akan bertanggung jawab? Sumi takut, Mas akan meninggalkanku begitu saja," ucapnya merajuk.
"Kau kan tahu, aku sangat mendambakan kehadiran seorang anak selama beberapa tahun ini. Jika dirimu hamil, tentu saja aku akan bertanggung jawab dan menikahimu, Sumi. Untuk masalah Vee, kau jangan khawatir. Itu urusanku," jawabnya menenangkan Sumi.
"Terima kasih, Mas. Sumi bahagia sekali karena Mas sangat perhatian dan membuatku bahagia. Sumi berharap mas tidak akan berubah dan tetap seperti ini jika satu saat hubungan kita akan diketahui oleh istrimu," ungkap Sumi pada Damar yang memeluknya.
"Lebih baik kita tidak usah membahas soal Vee. Seharusnya, kau memberiku kebahagiaan dan kepuasan. Terlebih, tidak setiap hari kita bisa sebebas ini," ucap Damar pada Sumi.
Mereka kembali larut dalam kemesraan dan berharap tidak akan pernah berakhir. Akan tetapi, itu tidak mungkin terjadi. Sebab, setelah Vee kembali dari Palembang, Sumi akan kembali menempati posisinya sebagai seorang pembantu dalam rumah itu. Dan dia juga harus kuat melihat kemesraan Damar dengan Vee.
"Bagaimana caraku menyingkirkan Vee dari kehidupan Mas Damar untuk selamanya? Aku tidak mau dia menjadi penghalang kebahagiaan kami nantinya," ucap Sumi dalam hati.
Pagi menjelang. Sumi pun bersiap untuk memulai aktivitas dengan membersihkan seluruh rumah. Setelah itu, dirinya menunggu tukang sayur yang biasa lewat di dalam komplek perumahan itu.
Dia memakai baju dan perhiasan terbaik ketika melihat beberapa pembantu di lingkungan komplek itu sudah mengerumuni tukang sayur. Sumi berjalan mendekati mereka yang langsung menatap penuh rasa kagum atas perubahan yang terjadi padanya.
"Sumi, apa Bu Vee masih membutuhkan seorang pembantu lagi untuk membantu meringankan pekerjaanmu di sana?" tanya Inem yang iri dengan apa yang dipunya oleh Sumi.
"Kelihatannya belum. Lagipula, mereka kan hanya hidup berdua tanpa ada anak. Jadi, belum banyak pekerjaan, dan aku masih bisa menanganinya sendiri," ucap Sumi sedikit menyombongkan diri.
"Apa kamu tidak takut hanya tinggal berdua dengan majikan laki-laki di rumah itu? Sementara, majikan perempuan tidak ada dirumah?" tanya Inem kepo.
"Untuk apa takut? Lagipula, Pak Damar tidak melakukan apa pun padaku. Dia sangat baik dan perhatian," jawab Sumi lugas.
"Awas, hati-hati, nanti kau bisa jatuh cinta dengan majikan laki-lakimu yang tampan itu," sambung Odah tertawa.
"Hahaha, itu tidak akan mungkin terjadi. Aku ini hanya seorang pembantu, jadi tahu diri akan posisi diriku sekarang. Sudah ah, nanti Pak Damar mencari. Dia bisa marah jika ketahuan aku suka bergosip di luaran. Bye semua," ucap Sumi sombong.
Semua pembantu komplek hanya menatap Sumi tidak percaya. Mereka meragukan ucapannya yang tidak mengakui kedekatan antara majikan dan pembantu. Karena, pernah tanpa sengaja, Inem memergoki saat majikan laki-laki mencium Sumi di satu pagi.
"Sepertinya, sebentar lagi kita semua akan mendapatkan tontonan menarik di komplek ini, " ucapnya tersenyum jahat.
"Tontonan? Apa disini akan ada layar tancap seperti dikampungku dulu?" sahut Odah.
"Kita tinggal tunggi waktunya saja," ucap Inem.