Kesunyian menyelimuti lantai teratas Menara Arkana. Lampu-lampu koridor telah dipadamkan, hanya menyisakan sorotan tajam dari lampu meja Rinka di sudut kantor megah itu. Pukul sebelas malam, Rinka masih terpepet di balik tumpukan dokumen merger terbaru, bau kertas dan kopi dingin adalah aroma yang tak terhindarkan dari profesi sekretaris bagi CEO sekelas Rendi, sosok yang terkenal tak mengenal kata istirahat.
Rinka mengusap keningnya yang sedikit berkeringat. Rambut hitamnya sudah mulai terlepas dari cepol rapinya. Meskipun lelah, ia menyukai pekerjaannya, dan ia bangga akan dedikasinya, sebuah kualitas yang sering disalahgunakan oleh atasannya.
Tiba-tiba, interkom di mejanya menyala, memecah keheningan.
"Rinka, masuk."
Suara bariton Rendi terdengar dingin dan tak terbantahkan, memicu lonjakan adrenalin kecil di perut Rinka. Tanpa basa-basi atau sapaan malam, hanya sebuah perintah. Rinka segera merapikan sedikit penampilannya dan berjalan menuju pintu kayu mahoni di ujung ruangan, pintu menuju takhta Rendi.
Di dalam, Rendi duduk tegak di balik meja marmer gelapnya. Pria itu tampak sempurna dalam balutan jas yang bahkan di malam hari pun masih terasa elegan. Dia tidak membaca dokumen, melainkan menatap kosong ke pemandangan lampu kota dari balik jendela. Kesempurnaan wajahnya selalu dibarengi dengan aura bahaya dan misteri yang membuat siapa pun enggan berlama-lama di dekatnya.
"Kau butuh sesuatu, Tuan Rendi?" tanya Rinka, berusaha mempertahankan profesionalisme meskipun kakinya terasa pegal.
Rendi tidak langsung menjawab. Ia mengambil waktu sejenak untuk menyesap wiski di tangannya, seolah mengukur kesabaran Rinka.
"Duduklah, Rinka. Kita tidak sedang membicarakan laporan keuangan."
Rinka merasa tegang. Nada suara itu... terlalu pribadi untuk urusan kantor. Ia menurut, duduk di sofa kulit di hadapan Rendi, menjaga jarak sewajarnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Rendi? Mengenai pertemuan besok atau mungkin urusan pribadi?"
Rendi meletakkan gelasnya dengan denting keras di atas meja. Mata tajamnya menembus Rinka. Di matanya, tidak ada kebaikan, hanya kalkulasi murni.
"Aku punya masalah. Masalah yang harus diselesaikan segera. Dan kau adalah satu-satunya solusi," ujar Rendi lugas.
Rinka mengerutkan kening. "Saya tidak mengerti."
"Jangan pura-pura bodoh, Rinka. Kau tahu aku bisa mengendalikan apa pun yang aku inginkan, kapan pun aku mau. Termasuk kau."
Rinka menggenggam tangannya. "Tuan Rendi, jika ini menyangkut pekerjaan, tolong jelaskan dengan rinci. Jika tidak, saya harus kembali menyelesaikan draf merger."
"Draf merger itu sudah selesai. Tugasmu yang berikutnya jauh lebih penting, menjadi istriku."
Ruangan terasa membeku. Rinka merasa oksigen menghilang dari paru-parunya. Apakah ia salah dengar?
"Tuan Rendi, Anda pasti sedang bercanda," katanya, tawa hambar keluar dari tenggorokannya.
"Aku tidak pernah bercanda tentang masalah sebesar ini, Rinka." Rendi berdiri, melangkah mendekati sofa, memaksanya mendongak. "Aku perlu istri sekarang. Untuk menghadapi dewan direksi, untuk meredam kecurigaan musuh, dan yang terpenting, untuk mengamankan beberapa aset pribadi. Kau tahu posisiku. Menikah dengan figur sosialita hanya akan menarik lebih banyak mata."
"Lalu kenapa harus saya?" Rinka memprotes, suaranya sedikit bergetar. "Ada ratusan wanita yang siap menjadi istri Anda tanpa paksaan. Saya hanyalah sekretaris Anda!"
Rendi membungkuk sedikit, senyum sinis tersungging di bibirnya. Senyum yang biasanya memikat kini terasa menakutkan.
"Justru itu kuncinya. Kau tidak menarik perhatian. Kau tidak punya koneksi yang bisa mengancamku. Kau patuh, jujur, dan mudah dikendalikan. Tapi yang paling penting..." Rendi berhenti, matanya menelusuri Rinka dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau adalah rahasia sempurna."
Rinka tersentak. Dia menyadari Rendi tidak meminta. Ini adalah pernyataan.
"Tidak! Saya tidak mau, Tuan Rendi. Saya punya hidup saya sendiri, impian saya sendiri. Saya tidak akan menikah hanya karena Anda butuh alibi bisnis!" Rinka berdiri, berniat segera pergi dari ruangan itu.
Namun, sebelum ia sempat bergerak, Rendi telah memegang pergelangan tangannya dengan cekatan. Cengkeramannya kuat, tapi tidak menyakitkan.
"Kau pikir kau bisa menolakku?" Rendi menariknya kembali ke sofa, kali ini duduk di sampingnya, membuat Rinka merasakan panas tubuhnya.
"Dengar baik-baik, Rinka. Ini bukan pernikahan yang didasari cinta, ini kontrak. Kau hanya perlu menjalani peranmu selama dua tahun, dan setelah itu, kau bebas. Aku akan memastikan kau mendapatkan kekayaan yang cukup untuk menghidupi tujuh turunan."
"Saya tidak butuh uang Anda!"
"Oh, kau butuh, Sayang. Semua orang butuh uangku," desis Rendi, menggunakan kata sapaan intim yang membuatnya merinding. "Tapi, ini bukan tentang uang saja."
Rendi tiba-tiba menjauhkan diri dan meraih sebuah tablet dari meja kopi. Ia mengetuk layarnya dan memutarnya menghadap Rinka.
Di layar itu, tampak sebuah gambar, ibunya, yang selama ini sakit-sakitan, baru saja dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sangat mahal. Di gambar lain, terlihat laporan bank tentang pinjaman besar yang telah melilit keluarganya sejak lama, pinjaman yang sebentar lagi jatuh tempo.
"Pilihanmu mudah. Kau setuju menjadi istri rahasia, dan semua biaya perawatan ibumu, serta hutang-hutang keluargamu, lunas pagi ini juga. Kau dan keluargamu aman, bahkan mapan," Rendi menyandarkan punggungnya, kembali tampak santai. "Atau, kau menolak. Dan besok pagi, ibumu kembali ke ruang perawatan kelas tiga, rumah sakit menuntut pembayaran segera, dan pinjaman itu jatuh tempo."
Dunia Rinka terasa runtuh. Matanya mulai berembun. Dia tahu Rendi adalah pria berkuasa, tetapi ia tidak pernah menduga Rendi telah menggali sedalam ini, menyerang tepat di titik kelemahannya, keluarganya.
"Kau... kau tidak punya hati," lirih Rinka.
Rendi tersenyum, kali ini bukan senyum sinis, melainkan senyum puas seorang predator.
"Mungkin tidak. Jadi, bagaimana, Rinka? Kontrak ini menawarkanmu kemewahan dan keselamatan, tetapi dengan satu syarat, menjadi sekretaris di siang hari, dan istri rahasia yang sepenuhnya patuh di malam hari. Aku ingin jawabanmu sekarang juga."
Rinka menatap tablet yang memperlihatkan nasib keluarganya di ujung tanduk. Dia terjebak. Antara martabat pribadinya dan keselamatan orang-orang yang dicintainya.
Udara terasa mencekik. Rendi menunggu, diam, seperti singa yang menanti mangsanya. Kehidupan normalnya, karier idealisnya, semua lenyap dalam sekejap karena ulah pria yang kini menjadi atasannya, dan sebentar lagi, paksaan tak terhindarkan, akan menjadi suaminya.
Rinka menarik napas panjang, kepalanya tertunduk. Ia tidak punya pilihan.
"Baik, Tuan Rendi. Saya setuju," katanya, suaranya hampir tidak terdengar, seolah ia baru saja menjual jiwanya kepada iblis.
"Pilihan yang cerdas," Rendi membalas, meraih tangannya dan mencium punggungnya, gerakan yang seharusnya romantis tetapi terasa seperti stempel kepemilikan. "Selamat datang di hidupku, Nyonya Rahasiaku. Tapi ingat, di luar ruangan ini, kau tetaplah Sekretaris Rinka yang bekerja keras."
Saat Rinka mengangkat kepalanya, air matanya jatuh. Namun, sebelum ia sempat memprotes takdirnya, Rendi kembali menatap layar tablet dan tersenyum misterius. Ia tidak menunjukkan senyum kemenangan, melainkan senyum kecemasan. Seolah-olah pernikahan ini, yang dipaksakan Rendi sendiri, adalah sebuah ancaman yang lebih besar daripada sekadar kontrak.
"Dan satu hal lagi, Rinka. Jika kau mencoba kabur, ingatlah bahwa bukan hanya keluargamu yang terancam. Tapi kau sendiri akan tahu betapa gelapnya masa lalu yang sedang aku lindungi darimu," bisik Rendi, suaranya mengandung ancaman nyata, menjanjikan bahwa ikatan rahasia ini baru saja dimulai, dan bahaya sesungguhnya belum terlihat.
Hampir satu jam berlalu, tetapi kata 'setuju' masih menggantung mencekik di ruangan itu. Rinka merasakan panasnya pipi yang basah oleh air mata dan dinginnya kepemilikan yang dipaksakan. Dia baru saja menandatangani sebuah kontrak hidup, sebuah pernikahan, hanya dengan taruhan nyawa ibunya dan masa depan keluarganya.
Rendi tidak lagi tersenyum sinis. Ekspresinya kini berubah menjadi fokus yang intens, seolah semua kegelisahannya telah mereda begitu Rinka menyerah. Dia meraih telepon tanpa kabel di mejanya.
"Selesaikan semua tagihan Rumah Sakit Angsana atas nama Maria Dewi pagi ini juga. Transfer penuh dana ke rekening BNI yang tercatat atas nama Hendra Wirawan. Saya ingin semua dokumen hutang dibatalkan sebelum matahari terbit," perintah Rendi dengan suara pelan dan cepat kepada seseorang di ujung telepon, memverifikasi janjinya dalam hitungan detik.
Rinka hanya bisa menyaksikan efisiensi brutal ini. Pria itu, dalam satu malam, menghancurkan martabatnya sekaligus menyelamatkan keluarganya.
Setelah meletakkan telepon, Rendi menoleh kepada Rinka, yang masih duduk kaku di sofa. "Sudah beres. Keluarga dan ibumu aman, seperti yang kujanjikan."
"Itu tidak membuat apa yang Anda lakukan jadi benar," ujar Rinka, suaranya parau. Ia kini telah mengambil kembali sedikit kekuatannya, menyadari bahwa kebencian adalah satu-satunya benteng yang tersisa baginya.
"Kebenaran itu relatif, Rinka. Yang absolut di dunia ini adalah kekuasaan. Dan sekarang, kau berada di bawah kekuasaanku," Rendi bangkit, mengambil jasnya. "Waktunya kita meresmikan status ini."
"Meremehkan?" Rinka mengerutkan dahi. "Ini jam dua pagi, Tuan Rendi."
"Tepat sekali. Aku tidak mau pernikahan kita diketahui oleh media atau publik. Itu akan menghilangkan semua keuntungan strategisnya. Kau ingat? Sekretaris Rahasiaku." Rendi berjalan cepat menuju pintu keluar. "Kau ikut sekarang. Pengacaraku dan seorang pejabat catatan sipil sudah menunggumu."
Rinka tidak diberi waktu untuk protes, bahkan untuk mengganti pakaian kerjanya yang lelah. Rendi dengan cekatan menariknya, memaksa kakinya bergerak cepat. Di lantai bawah, sebuah mobil sedan mewah hitam sudah menunggu dengan mesin menyala, siap membelah kota di tengah keheningan malam.
Proses peresmian pernikahan itu terasa sureal. Itu bukan pernikahan. Itu adalah upacara pengalihan kepemilikan. Dalam ruangan yang remang-remang di sebuah gedung perkantoran milik firma hukum Rendi, tanpa bunga, tanpa saksi dari pihak Rinka, tanpa cincin, hanya selembar dokumen tebal dan pena tajam. Hanya formalitas yang diperlukan untuk melindungi Rendi secara hukum.
Ketika pejabat catatan sipil mengucapkan kalimat terakhir, Rinka merasakan rasa pahit. Dia adalah istri dari Rendi Mahesa. Kenyataan ini terasa begitu jauh dan asing.
Setelah upacara singkat yang mencekik itu selesai, Rendi tidak mengembalikan Rinka ke apartemen kecilnya. Mobil mewah itu melaju terus, meninggalkan hiruk pikuk kota menuju kawasan perumahan eksklusif di perbukitan.
Mereka tiba di sebuah mansion modern minimalis, dikelilingi pagar tinggi dan penjagaan ketat. Pintu lift khusus terbuka langsung ke sebuah kamar utama yang ukurannya tiga kali lipat dari apartemen Rinka.
"Ini adalah rumahmu yang baru, Nyonya Rendi. Lebih tepatnya, penjara emasmu," ucap Rendi datar sambil melemparkan tas koper yang entah kapan diambilnya dari mobil. Itu adalah tas berisi beberapa barang pribadinya yang sempat ia tinggalkan di kantor. Tanda bahwa Rendi sudah merencanakan ini dengan matang.
Rinka membiarkan koper itu jatuh ke lantai marmer dingin. Dia menoleh, menatap suaminya yang berdiri di ambang pintu, melepas jam tangan mahalnya.
"Kupikir ini hanya untuk tujuan bisnis. Mengapa harus pindah ke sini? Dan kenapa saya tidak boleh kembali ke apartemen saya?" tuntut Rinka, merasa sesak napas karena lingkungan yang terlalu besar dan steril ini.
Rendi bersandar di kusen pintu, memasang tatapan merendahkan yang sering ia tunjukkan saat rapat dewan. "Kau adalah istriku, Rinka. Meskipun rahasia, statusmu memberiku hak untuk memastikan keselamatanmu, dan memastikan kepatuhanmu."
"Maksud Anda, memantau saya?"
"Pilih kata mana pun yang membuatmu nyaman. Kau akan tinggal di sini. Seluruh staff sudah diperingatkan. Kau tidak perlu berinteraksi dengan mereka, dan kau dilarang meninggalkan rumah ini tanpa pengawalan, kecuali untuk pergi bekerja bersamaku," tegas Rendi.
Rinka tertawa hambar. "Jadi saya sekarang adalah sekretaris pribadi di kantor dan tawanan pribadi di rumah?"
Rendi tidak peduli dengan ironinya. "Tepat sekali. Mari kita bicarakan aturan. Ada dua bab penting yang harus kau hafal. Bab pertama, pekerjaan. Kau harus tetap bersikap profesional. Tidak ada tatapan manja, tidak ada kedekatan fisik di kantor. Jika kau merusak citra profesionalisme, maka aku tidak akan ragu untuk membuatmu menderita secara sosial dan finansial. Jelas?"
Rinka mengangguk kaku. "Jelas."
"Bab kedua, pernikahan kita. Ini lebih penting." Rendi melangkah maju, menjepit Rinka di antara dirinya dan dinding kamar mandi. Kehadirannya begitu mendominasi, bau wiski dan maskulin memenuhi udara.
"Kau harus siap menjalankan peran istri saat aku membutuhkan. Baik di hadapan rekan bisnis tepercaya yang kupilih, atau saat kita berdua di sini. Jangan pernah menolak sentuhanku, Rinka. Jangan pernah. Penolakan akan dianggap sebagai pelanggaran kontrak serius. Dan pelanggaran kontrak ini, bukan hanya keluarga atau hutang, tapi masa depan karir dan kehidupanmu sendiri yang akan ku hancurkan," bisiknya tajam, menekan setiap kata. "Apakah itu juga jelas?"
Rinka merasakan ancaman fisik yang terselubung di balik tatapan Rendi. Pria ini serius. Dia adalah monster yang dibalut kesempurnaan.
"Sangat jelas," jawab Rinka, giginya bergemeretak.
"Bagus." Rendi tersenyum dingin dan melepaskannya seolah ia hanya objek. "Kau punya lima jam sebelum alarm berbunyi dan kita harus ke kantor. Sekarang, beristirahatlah. Besok, hidup ganda kita dimulai."
Rendi berbalik menuju sebuah pintu tersembunyi, yang Rinka asumsikan menuju ruang kerjanya yang terpisah.
Saat pintu itu tertutup dengan bunyi 'klik' yang lembut namun final, Rinka merasa sendiri di dalam istana mewah itu. Ia berjalan ke jendela setinggi langit-langit, memandangi lampu-lampu kota yang tampak seperti berlian bertebaran. Dia kaya, dia aman, tetapi dia sepenuhnya tidak bebas.
Malam itu terasa panjang. Rinka tidak bisa tidur. Dia memutuskan untuk membuka koper yang dibawa Rendi, memeriksa barang-barang yang berhasil diselamatkan dari apartemennya.
Di bawah tumpukan pakaian, Rinka menemukan sebuah benda asing, sebuah buku bersampul kulit tebal, tampak usang, dan tidak dikenalnya. Itu pasti terambil secara tidak sengaja oleh staf Rendi saat mengemas barangnya di kantor, atau, yang lebih mungkin, barang itu memang diselubungkan di antara barang-barangnya untuk memastikan ia membawanya ke sini.
Rinka mengambil buku itu. Itu bukan buku harian atau novel. Itu tampak seperti buku kas atau buku besar kuno. Penasaran, Rinka membuka halaman pertamanya. Isinya adalah tulisan tangan yang sangat rapi, berisi daftar nama, tanggal, dan jumlah uang yang sangat besar, disertai kode-kode aneh.
Namun, yang membuat darah Rinka mengalir dingin adalah sebuah nama yang ditulis paling atas, diberi garis bawah tebal. KESYA. Di sebelahnya tertulis, Status: Hilang. Penyelesaian: Ditunda.
Rinka teringat pada karakterisasi yang diberikan Rendi padanya: 'Mudah dikendalikan' dan 'tidak menarik perhatian'. Kenapa nama Kesya, yang ia kenal sebagai mantan rekan kerja di divisi marketing, tercatat di sini? Kesya yang terkenal polos dan mudah percaya, yang baru saja menghilang beberapa minggu lalu tanpa jejak, dikira Rinka pindah kerja mendadak. Tapi di buku Rendi, status Kesya adalah 'Hilang'.
Tiba-tiba, buku itu direbut paksa dari tangannya. Jantung Rinka hampir copot. Rendi berdiri di belakangnya, entah sejak kapan, dengan tatapan gelap yang belum pernah Rinka lihat.
"Apa yang kau lakukan? Aku bilang istirahat," desis Rendi, suaranya lebih rendah dan lebih berbahaya dari sebelumnya.
Rinka mundur, wajahnya pucat. "B-buku apa ini? Kenapa ada nama Kesya di dalamnya?"
Rendi menatap buku itu sejenak, lalu matanya kembali menusuk Rinka, dingin dan mematikan.
"Kau terlalu penasaran, Rinka. Ingat apa yang kubilang? Jangan pernah mencari tahu masa laluku yang kelam." Rendi meremas buku itu hingga sampul kulitnya berderit, lalu melemparkannya ke perapian yang kebetulan sedang menyala. Dalam hitungan detik, api melahap kertas dan tulisan tangan itu, menghilangkan semua bukti.
Rendi melangkah mendekat, auranya memancarkan amarah yang terpendam. "Kau melanggar peraturan. Pelanggaran pertama."
Dia mengangkat tangannya, dan Rinka refleks memejamkan mata, menunggu hukuman yang ia yakini akan datang. Namun, Rendi tidak memukulnya.
Rendi justru mencengkeram dagunya dengan ibu jari dan telunjuk, memaksanya menatap api yang melahap rahasia Kesya.
"Kau bukan Kesya, Rinka. Kau sekretarisku. Kau istri rahasiaku," Rendi membungkuk, bibirnya menyentuh telinga Rinka, suaranya penuh janji menakutkan. "Dan jika kau berani mempertanyakan siapa pun atau apa pun yang berhubungan dengan masa laluku, kau akan menyusul status Kesya, bahkan mungkin lebih buruk."
Rinka merasa gemetar di sekujur tubuh. Kata-kata itu, di tengah malam yang sunyi, di rumah baru yang mewah namun asing, memastikan satu hal, pernikahan paksaan ini bukan hanya kontrak kepemilikan. Ini adalah keterlibatan dalam sebuah permainan berbahaya yang berlumuran darah dan rahasia yang jauh lebih gelap daripada yang pernah ia bayangkan.
Siapakah Kesya, dan apa yang Rendi lakukan padanya? Rinka kini tidak hanya terikat pada Rendi karena hutang keluarga, tetapi juga terikat oleh sebuah misteri mematikan yang mungkin melibatkan nyawanya sendiri.
Keesokan paginya tiba terlalu cepat. Jam alarm mewah di samping tempat tidur berdentang tepat pukul tujuh pagi. Namun, bagi Rinka, pagi itu sudah terasa sejak api melahap buku kuno bersampul kulit itu, membawa serta rahasia tentang Kesya dan ancaman Rendi.
Rendi tidak tidur di kamar itu. Ia menghilang ke ruangan tersembunyi setelah mengancamnya, meninggalkan Rinka dalam isolasi dan ketakutan. Saat alarm berbunyi, Rinka sudah selesai mandi, mencoba membersihkan trauma dan ketakutan malam sebelumnya, meskipun ia tahu ketakutan itu telah merasuk ke dalam jiwanya.
Pagi ini, ia harus kembali mengenakan persona 'Sekretaris Rinka', efisien, tenang, dan tanpa cacat. Kontras antara Rinka sang sekretaris dan Rinka sang istri rahasia, seorang sandera di rumahnya sendiri adalah pekerjaan akting terberat dalam hidupnya.
Pintu menuju ruang kerjanya terbuka, dan Rendi muncul. Dia sudah rapi, mengenakan setelan jas abu-abu mahal, memancarkan aura seorang CEO yang dingin dan berkuasa. Tak ada lagi sisa-sisa kegelapan posesif semalam. Rendi seolah kembali ke mode 'bos' sempurna.
Rendi melirik penampilan Rinka, yang telah memilih kemeja putih profesional dan rok pensil hitam yang sesuai. Sempurna, tapi di matanya, Rinka terlihat seperti burung yang baru saja lolos dari badai.
"Sudah siap, Sekretaris Rinka?" tanya Rendi, nadanya formal, seolah-olah semalam mereka hanya membahas laporan triwulan.
Rinka menelan ludah. "Ya, Tuan Rendi."
"Bagus. Sebelum kita meninggalkan 'penjara emas' ini," Rendi menekan istilah itu dengan ironi kejam, "Aku ingin mengulas kembali Bab Pertama Kontrak."
Rendi berjalan mendekat, kini jarak mereka hanya beberapa inci. Rinka bisa merasakan napas mintnya yang sejuk, kontras dengan hawa panas dari amarah semalam.
"Di kantor, kau adalah bawahanku yang berharga, yang sangat profesional. Kita tidak berbagi kontak mata terlalu lama, tidak ada bisikan, dan sama sekali tidak ada interaksi fisik. Jaga jarakmu. Apakah itu jelas?" tuntut Rendi, tatapannya mencari kepatuhan total.
"Sangat jelas. Saya mengerti etika kantor," jawab Rinka cepat.
"Etika saja tidak cukup. Kau harus menjual kebohongan itu, Rinka. Jika ada yang tahu status kita, maka keuntungan strategisku hilang. Dan kau tahu apa konsekuensi kehilangan keuntungan strategis itu, bukan?"
Rinka tahu. Konsekuensinya adalah kehancuran dirinya dan keluarganya, bahkan mungkin nasib Kesya. Ia merasakan kebencian murni mendidih di dadanya, tetapi ia mengendalikan ekspresinya.
"Saya akan melakukannya. Saya adalah sekretaris Anda, bukan yang lain," kata Rinka dengan gigi terkatup.
Rendi menyeringai tipis. Itu bukan senyum meyakinkan, melainkan senyum puas dari seorang pemenang. "Itu dia. Selamat datang di kehidupan barumu, istri rahasia. Jangan merusak ilusi yang kubuat."
Perjalanan dari mansion ke gedung kantor pusat perusahaan terasa seperti melintasi dua dunia. Di dalam mobil mewah, mereka duduk bersebelahan, namun jurang yang memisahkan mereka jauh lebih besar dari jok kulit di antara keduanya. Rendi fokus pada laptopnya, memberikan Rinka beberapa perintah dan jadwal hari itu, semua berlandaskan bisnis.
"Hari ini kita ada pertemuan dengan Tuan Dirga dari perusahaan pesaing sore nanti," ujar Rendi, tanpa menoleh. "Tolong pastikan semua dokumen perjanjian lama dan baru sudah tersusun di mejaku. Aku tidak suka ada kesalahan kecil, Rinka."
"Baik, Tuan Rendi. Sudah saya siapkan sejak kemarin," sahut Rinka, menjaga nadanya tetap hormat dan lugas.
"Luar biasa. Itu mengapa kau di sini. Kau tidak akan mengecewakanku, bukan?" Suara Rendi mendadak berubah sedikit lebih lembut, terdengar seperti rayuan sekaligus ancaman.
Rinka menoleh. "Saya akan selalu melaksanakan tugas sesuai deskripsi pekerjaan."
Rendi akhirnya memalingkan wajah dari layar, menatap Rinka lurus. Matanya, yang semalam tampak seperti dua kawah api, kini kembali jernih dan tajam.
"Tugasmu bukan hanya mengetik laporan. Tugasmu, Rinka, sekarang jauh lebih dalam. Tapi, mari kita batasi peran itu di tempat ini. Pintu lift terbuka, senyum sekretaris terbaik harus muncul di wajahmu. Jelas?"
Rinka mengangguk. Dia memaksakan seulas senyum di bibirnya, senyum yang dirasa hambar dan palsu.
Ketika mereka memasuki lobi perusahaan yang ramai, Rendi berjalan tiga langkah di depan Rinka. Rinka segera menyesuaikan diri, langkahnya gesit dan profesional. Saat orang-orang menyapa Rendi dengan hormat, Rinka menjaga matanya lurus ke depan, fokus pada lift VIP.
Saat menunggu lift, suara riang memanggil namanya. "Rinka!"
Rinka menoleh. Di sana berdiri Icha, rekan kerja yang dikenalnya ramah dan baik, setidaknya di permukaan, yang juga diindikasikan di daftar karakter sebagai seseorang yang 'menusuk dari belakang'.
"Pagi, Icha," balas Rinka, senyum profesionalnya terasa tegang di wajahnya.
Icha mendekat, sedikit mengabaikan kehadiran Rendi yang kini menunggu di dekat pintu lift. "Ya ampun, kau pucat sekali. Apa kau tidak tidur? Seharian kemarin kau sibuk sekali, Tuan Rendi menyiksaku untuk urusan laporan, tapi aku tidak lihat kau lembur."
Icha berusaha mencondongkan badan, mencoba berbisik di telinga Rinka, yang memaksa Rinka untuk mundur satu langkah. Rinka panik jika Icha terlalu dekat, Icha mungkin merasakan ketegangan yang ia rasakan.
"Saya lembur di tempat lain. Hanya sedikit kurang tidur," jawab Rinka datar. Dia harus menjaga batas.
Rendi berbalik, tatapannya dingin, melayangkan teguran tak terlihat kepada kedua wanita itu. Icha yang merasa tertegur, buru-buru memundurkan diri, wajahnya agak merona karena malu.
"Maaf, Tuan Rendi," kata Icha sopan. "Saya hanya menyapa Rinka. Selamat pagi."
Rendi tidak menjawab, hanya memberikan anggukan kecil yang nyaris tidak terlihat. Ketika pintu lift VIP terbuka, Rendi masuk tanpa menunggu. Rinka segera mengikuti, merasa tatapan Icha masih menempel di punggungnya. Untungnya, tidak ada lagi orang yang berani masuk lift pribadi CEO.
Begitu lift bergerak naik, Rendi langsung angkat bicara.
"Itu adalah pelanggaran, Rinka," desis Rendi, nadanya rendah, menusuk. "Kau membiarkan Icha melanggengkan kedekatan pribadi di lobi."
Rinka tersentak. "Itu tidak adil! Dia teman saya. Dan dia yang mendekat!"
"Tidak adil? Kau sudah tahu aturan mainnya. Teman adalah risiko, Rinka. Temanmu akan mulai bertanya mengapa kau tiba-tiba menjadi lebih tertutup, mengapa kau dijemput di lift VIP, mengapa auramu berubah," Rendi mencondongkan tubuh. "Kendalikan emosimu dan jaga jarakmu. Apakah kau ingin melihat Icha menanggung akibatnya karena terlalu ingin tahu?"
Ancaman itu berhasil. Rinka ingat Kesya. Rinka tidak bisa membiarkan siapa pun, apalagi Icha, terseret dalam rahasia gelap Rendi.
"Saya mengerti. Saya tidak akan membiarkannya terulang," janji Rinka, suaranya kini kembali pada kepatuhan dingin yang dipaksakan.
"Bagus. Karena mulai hari ini, Icha akan bekerja sangat dekat dengan kita. Divisi marketing baru-baru ini meluncurkan produk gagal. Dan Icha adalah bagian dari tim itu. Aku memindahkannya sementara waktu sebagai staf proyek khusus, langsung di lantai ini," jelas Rendi. "Dia akan menjadi pengalih perhatian yang sempurna, Rinka. Sebuah ujian kepatuhanmu."
Jantung Rinka berdebar lebih kencang. Rendi sengaja membawa Icha, teman dekatnya, ke dalam lingkaran bahaya hanya untuk melihat apakah Rinka patuh? Ini bukan hanya pekerjaan; ini adalah labirin manipulasi yang menakutkan.
Lift berhenti. Rendi keluar. Rinka menghela napas panjang dan melangkah keluar ke kantor yang elegan, kembali menjadi Sekretaris Rinka yang sempurna. Meja kerjanya, yang kini tampak asing setelah apa yang ia lalui, menantinya.
Jam-jam kerja berjalan dengan ritme brutal. Rinka benar-benar memisahkan diri dari kehidupan rumahnya. Dia menjawab telepon, mengatur rapat, dan memastikan Rendi selalu memiliki informasi yang dibutuhkan. Ia melakukannya dengan mekanis, menjaga wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Sore hari, saat Rendi sibuk di telepon, Rinka duduk di mejanya, membaca sekilas daftar rapat untuk minggu depan. Jari-jarinya tanpa sadar menyentuh sudut laci, tempat dulu ia sering menyimpan dokumen penting, dan ya di tempat Kesya biasanya meletakkan kotak bekalnya.
Rinka harus tahu apa yang terjadi pada Kesya. Kebenarannya, status 'Hilang' dalam buku besar Rendi, terus menghantui pikirannya. Ini bukan sekadar rasa penasaran; ini adalah kebutuhan untuk bertahan hidup.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan pop-up muncul di komputer Rendi. Karena Rinka adalah sekretaris, ia terbiasa memantau semua komunikasi masuk untuk menyaring prioritas. Rinka segera meraih tetikus untuk mematikannya, khawatir notifikasi itu mengganggu panggilan Rendi.
Namun, sekilas Rinka membaca baris pertama pesan tersebut. Itu adalah email dari Ardi karakter cerdas, potensi sekutu Rinka, menurut garis besar.
Judul email itu singkat dan mengancam:
SUBJEK: Kehilangan. Berhenti mencarinya. Dia adalah masalah kita, Rendi.
Isi pesannya bahkan lebih mengganggu, meskipun hanya terlihat sebagian...Kesya sudah dikirim. Kau tidak perlu khawatir. Namun, dokumen yang dia simpan sebelum 'pindah' itu bisa menjadi bumerang besar. Jika Lusi menemukannya, semuanya hancur.
Jari Rinka membeku di atas tetikus. Ardi tahu tentang Kesya. Dan Rendi sengaja membuatnya seolah-olah Kesya menghilang, padahal ia "dikirim". Apa maksudnya dikirim? Lebih buruk lagi, Lusi, wanita yang mempesona dan perayu, disebut-sebut terkait dengan dokumen yang bisa menghancurkan Rendi.
Rendi tiba-tiba menyelesaikan panggilan teleponnya dan berdiri. Ia melihat Rinka yang kaku menatap layar komputernya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rendi, suaranya tajam.
Rinka segera menyingkirkan tangannya dari tetikus, wajahnya pucat. "M-maaf, Tuan Rendi. Saya melihat notifikasi email yang muncul tiba-tiba. Saya ingin menutupnya."
Rendi berjalan menuju kursinya, mata tajamnya menyapu layar. Dia melihat sekilas judul email Ardi yang masih terpampang.
Alih-alih marah karena Rinka mengintip, Rendi tertawa, tawa pendek dan sinis. Dia menutup laptopnya tanpa membaca sisa pesan itu, seolah-olah ancaman yang terkandung di dalamnya tidak berarti.
"Kau terlalu peduli dengan kotak masuk orang lain, Rinka. Ingat aturanku," Rendi mengambil kunci mobilnya. "Pertemuan sore dibatalkan. Ada urusan pribadi mendesak di luar kota. Kau harus ikut."
Rinka kebingungan. "Urusan pribadi? Apakah itu bagian dari perjanjian rahasia kita?"
Rendi menoleh, raut wajahnya kembali gelap dan dominan. "Itu bagian dari Bab Kedua Kontrak, Rinka. Aku perlu pengalihan yang cantik dan patuh untuk menemui seseorang yang penting."
Dia berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Rinka merinding.
"Persiapan ini sama mendesaknya dengan saat aku mengirim Kesya. Jika kau bersikap seperti malam tadi, mungkin aku akan 'mengirim' kau ke tempat Kesya berada." Rendi menatap lurus ke mata Rinka. "Kau tahu apa yang harus kau kenakan. Sesuatu yang akan membuatku bangga, Nyonya Rendi."
Rinka tahu dia baru saja dipaksa masuk ke dalam konflik Rendi dan Ardi, konflik yang melibatkan hilangnya Kesya. Mereka tidak akan kembali ke 'penjara emas' malam ini. Mereka pergi untuk menemui 'seseorang yang penting' dengan dalih tugas rahasia.
Saat Rendi meninggalkannya untuk membereskan berkas, Rinka segera meraih ponselnya. Dia tidak tahan lagi dengan rasa ingin tahu dan ketakutan ini. Rinka buru-buru mencari kontak Ardi di sistem database perusahaan. Dia harus mengirim pesan sebelum Rendi kembali.
Dia membuka jendela pesan dan mulai mengetik dengan tangan gemetar. Belum selesai Rinka mengetik satu kalimat pun, Rendi kembali, lebih cepat dari dugaannya. Pria itu berdiri di ambang pintu.
"Sudah siap, Sekretaris?" tanya Rendi, menyadari tatapan Rinka yang tertuju pada ponsel. "Atau kau sedang mencoba mengirimkan pesan rahasia kepada Ardi?"
Jantung Rinka mencelos. Apakah Rendi melihat emailnya? Atau ini hanya tebakan jitu dari seorang pria yang selalu memantau mangsanya? Rinka menutup ponselnya dengan tergesa-gesa, terlalu lambat untuk menyembunyikan rasa bersalahnya.
Rendi tersenyum, kali ini tanpa kehangatan, murni intimidasi. "Ponselmu adalah milikku selama kita bepergian. Kita harus menghindari gangguan, bukan? Khususnya dari teman-teman yang cerewet."
Rendi mengambil ponsel Rinka, lalu memasukkan tangan Rinka ke dalam lipatan lengannya, memaksanya mengikuti. Mereka berjalan keluar, meninggalkan kantor yang sibuk, menuju kegelapan rahasia di luar kota. Rinka menyadari, setiap kali ia berusaha mencari celah untuk bebas, belenggu emas itu justru semakin mengikatnya erat.