“Iya, pak,” Kinan meletakan sumpit dan sendoknya di mangkok, ini merupakan panggilan mendadak yang sering terjadi pada dirinya.
“Itu yang tadi saya kasih ke kamu, email sekarang ya,” ucap seorang pria dibalik speaker ponselnya.
Kinan menutup mulutnya dengan tangan, ia tidak menyangka bahwa atasnya meminta revisi pekerjaanya saat ini juga, padahal ini masih jam istirahatnya. Kinan memandang beberapa rekan kerjanya sedang asyik ngobrol dan bercengkrama, karena salah satu staff di office ada yang ulang tahun, jadilah mereka terdampar di Marugame Udon dekat kantor.
“Saya lagi di luar pak,” ucap Kinan memberi alasan, agar pak Erlan memberinya waktu setengah jam lagi untuk menyelesaikan makanannya.
“Saya aja masih di kantor loh, Kinan. Belum istirahat.”
“Tadi, bukannya bapak ijinin saya keluar.”
“Saya perlu berkasnya sekarang, Kinan.”
Kinan menghela nafas, ia tahu, bahwa ia tidak bisa membantah ucapan pak Erlan, “Baik pak, sebentar lagi saya balik ke kantor,” ucap Kinan pada akhirnya, ia tidak ingin berdebat dengan atasannya satu ini terlalu lama. Apapun perintahnya, seperti ada alarm yang membangkitkannya untuk segera bekerja.
“Saya tunggu sekarang.”
“Baik pak.”
Kinan menarik nafas beberapa detik, ia memandang mba Lisa selaku HR yang berada di sampingnya. Ada juga Rinto dari pihak finance, Winda anak marketing dan beberapa orang lainnya, juga turut memperhatikannya. Kinan meletakan ponselnya di meja.
“Siapa? Pak Erlan?” Tanya mba Lisa.
Kinan mengangguk, “Iya, siapa lagi, disuruh revisi sekarang,” Kinan meraih minuman Ocha dinginnya dan meneguknya secara perlahan.
“Enggak usah terlalu ambisius lah kerja, santai aja. Lo mati kecapean juga cuma dapat tunjangan kematian 250 ribu loh Kinan,” ucap Rinto sambil terkekeh, menyantap udon curry.
“Tau tuh Kinan. Sekali-kali pak Erlan jangan diturutin lah,” sahut Winda lagi.
“Enggak bisa liat lo seneng aja. Lagian cuma makan siang doang, udah dicariin.”
“Tau tuh, bos siapa, sih.”
“Bos, lo lah.”
Semua tertawa, “Yah, nggak mungkin bisa lah nolak. Mau minta pecat?” Sahut Rinto lagi tertawa geli.
“Udah sana pergi, nanti di pecat lagi si Kinan punya kasta,” ucap mba Lisa ikut tertawa.
Kinana menghela nafas, “Yah, mau gimana. Mau nya sih gitu. Padahal pak Erlan itu ngasih kerjaan tadi barusan. Eh, di tagih sekarang, belum juga gue kerjain kerjaanya,” ucap Kinan.
“Pak Erlan, emang sering ngasih kerjaan mendadak gitu, ya?” Tanya mba Lisa.
“Biasanya sih gitu mba, dia ngasih kerjaan suka mepet-mepet, kalau nggak jam istirahat ya jam pulang, ujung-ujungnya lembur.”
“Ribet, banget,” dengus Rinto.
“Super ribet,” sahut Winda lagi.
Kinan menatap mba Lisa, “Kalau izin sakit, kecapean, boleh nggak sih, mba?” Tanya Kinan.
“Kalau selama kamu bisa mengetik di leptop, terus ngetik di handphone, jawab telfon, berpikir secara jernih, itu di anggap nggak sakit, Kinan,” ucap mba Lisa sambil terkekeh.
“Ah, udah lah. Gue balik duluan aja ya, udah dicariin gue,” Kinan beranjak dari kursinya. Ia memberikan paperbag hampers di bodyshop kepada Winda.
Kinan memberikan kadonya kepada Winda, “Makasih ya Win, traktirannya. Semoga semakin rajin kerjanya,” ucap Kinan, ia menyerahkan paperbag itu kepada Winda.
“Aduh, apaan nih Kin,” Winda menatap hampers dari tangan Kinan.
“Buat lo, dari gue, special.”
“Thank’s banget ya, Kin,” ucap Winda, mengambil hampers pemberian dari Kinan.
“Iya, sama-sama,” ucap Kinan.
Kinan memeluk tubuh Winda, yang sebagai pemilik acara makan-makan ini, karena Winda lah yang berulang tahun saat ini. Winda hanya mengundang orang-orang terdekat saja termasuk dirinya.
“Udah, dulu ya mba, Rinto,” ucap Kinan melambaikan tangan ke arah teman-temannya di sana.
“Salam buat, pak Erlan, Kin.”
“Salam, apaan?” Sahut Kinan.
“Salam kecup manjah.”
Kinan hanya tertawa geli, ia lalu memesan gojek agar bisa ke tower officenya lebih cepat. Tidak butuh waktu lama gojekpun datang. Kinan duduk menyamping, karena ia menggunakan rok sepan. Tadi ia ke outlet Marugame Udon menggunakan grab-car bersama teman-temannya, dan kini terpaksa ia menggunakan gojek sendiri.
***
Kerja, kerja, kerja. Itulah yang ada di dalam pikiran Kinan saat ini. Menjadi corporate seperti in, ia harus dengan pola pikir tidak ada batasan kerja. Ia harus melakukan semua perintah atasan, meskipun diluar tugasnya. Ia tahu bahwa semua orang yang berada di office itu adalah competitor, walau seakrab apapun mereka. Tidak akan ada orang yang membantu mencapai target, jika demi kepentingan sendiri.
Ia tahu betul sebuah kondisi normal jika korporasi jika senior atau pimpinan akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia juga harus tahu kapan untuk mengutarakan pendapat dan menunjukan ketidak setujuan terhadap senior, karena itu akan menghancurkan karirnya sendiri. Istilahnya seperti ini jika ia pasif maka ia akan dianggap remeh oleh atasan, kalau proaktif, maka ia akan dibenci oleh rekan kerja.
Budaya kerja seperti ini terkadang tidak adil dan cenderung memihak kepada salah satu gender. Ini sering terjadi di seluruh perusahaan manapun termasuk tempat kerjanya saat ini. Untung saja ia sebagai sekretaris, yang posisinya hanya untuk atasannya saja.
Beberapa menit kemudian, ia sudah tiba di tower office. Kinan melangkahkan kakinya menuju lobby, ia menatap security yang berjaga menyapanya. Kinan melangkahkan kakinya menuju lift, ia melirik jam melingkar di tangannya menunjukan pukul 12.30 menit. Kinan meletakan kartu akses dan lift membawanya menuju lantai 25.
Kinan menungggu dengan sabar, semenit kemudian pintu lift terbuka. Kinan melangkahkan kakinya menuju koridor, ia memandang kubikel-kubikel karyawan yang tampak sepi, hanya beberapa orang yang memilih makan di meja kerjanya dengan bekal yang dibawa dari rumah.
***
Kinan menarik nafas, ia membuka hendel pintu ruangannya. Ia menelan ludah menatap seorang pria mengenakan kemeja berwarna putih dan celana slim fit berwarna hitam. Pria itu menatapnya dan ia menatap balik. Dia adalah Erlan atasannya, selaku presiden direktur di Accor Group.
“Maaf, pak, saya baru nyampe,” ucap Kinan, ia lalu menutup pintu officenya.
“Iya, nggak apa-apa. Saya tunggu, pekerjaan kamu.”
“Baik pak,” ucap Erlan, memandang sekretarisnya. Wanita cantik itu adalah sekretarisnya yang sudah bekerja dengannya dua bulan belakangan ini. Ia akui bahwa kinerja Kinan sangat baik. Wanita itu memiliki tubuh ideal sebagai wanita, rambutnya lurus, berpenampilan menarik, tubuhnya tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk.
Kinan lalu segera melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, ia menatap lagi pria yang berada tidak jauhnya. Ia akui bahwa atasnya itu dianugrahi wajah sangat tampan, memiliki alis tebal, hidung mancung dan matanya yang tajam. Tidak hanya itu dia juga sangat kaya, ia tidak tahu berapa banyak uang nominal uang yang ada di ATM pria itu. Kinan lalu duduk di kursi kerjanya.
Kinan menatap ke arah computer, ia mulai mengetik proposal yang sudah jadi dan merevisinya sesuai dengan keinginan Erlan. Kinan tenggelam dengan pekerjaanya, ia hanya perlu mengganti budget, dan PT yang akan diajak kerja sama. Ia juga menambah beberapa keterangan sesuai dengan perintah Erlan. Sebagai wanita kantoran, ia memang butuh stamina exstra buat ngadepin tumpukan kerjaan ini.
Beberapa menit berlalu, Kinan masih menatap ke arah layar computer, namun ia sadar bahwa pak Erlan memperhatikannya. Jujur sebenarnya ia tidak suka jika pria itu berada di ruangannya. Ia merasa kurang bebas jika di awasi seperti ini.
“Tadi siapa yang ulang tahun?” Tanya Erlan penasaran, karena tadi jam dua belas sekretarisnya ini meminta ijin untuk keluar sebentar, karena merayakan ulang tahun di salah satu restoran cepat saji.
“Anak marketing pak, Winda,” ucap Kinan, ia menatap Erlan mendekatinya.
Kinan menelan ludah, ia bingung akan berbuat apa, selain bergeming memandang layar komputernya. Kini Erlan sudah berada di belakangnya. Kinan menatap bayangan Erlan dari belakang tubuhnya. Kinan menarik nafas beberapa detik, ia memejamkan matanya.
“Coba saya lihat pekerjaan kamu,” ucap Erlan dari belakang.
Kinan lalu menscroll proposal itu dari atas, dan Erlan menatap hasil pekerjaan Kinan. Erlan menundukan wajahnya tepat sejajar dengan kepala Kinan. Erlan dapat mencium aroma yang manis dari tubuh Kinan, jujur ia suka berlama-lama di samping Kinan. Erlan memperhatikan pekerjaan Kinan dari atas.
“Scroll sampe bawah,” ucap Erlan.
Kinan otomatis menscroll mouse hingga ke bawah. Ia merasakan aroma parfum Erlan yang khas seperti aroma vanilla yang lebih eksotis yang dipadukan dengan bau woody yang maskulin namun ada kesan wangi apel yang manis. Entahlah ia tidak yakin dengan parfume itu, tapi sangat khas. Ia yakin parfume yang digunakan Erlan dari parfume yang terbaik di kelasnya. Kinan juga merasakan hembusan nafas Erlan berada di lehernya, jujur itu membuatnya merinding sekaligus penasaran, seperti apa rasanya berada dikehangatan yang sama.
“Oke, nanti print dua rangkap, antar ke ruangan saya,” ucap Erlan pada akhirnya, ia menjauhi diri dari tubuh Kinan.
“Baik, pak.”
Kinan bersyukur akhirnya Erlan menjauh darinya, setidaknya jantungnya tidak berdegup kencang seperti tadi. Kinan menarik nafas panjang, ia mengeprint proposal itu dengan dua rangkap. Kinan masukan hasil proposal itu ke dalam map plastik. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju ruangan Erlan.
***
Kinan masuk ke dalam ruangan Erlan, ia menatap pria itu sedang duduk memandang pekerjaanya. Sedetik kemudian Erlan menyadari kehadiran Kinan. Erlan memperhatikan Kinan berada di depan daun pintu, dia sangat cantik mengenakan rok sepan pendek di atas lutut berwarna coklat muda, dan blouse putih tanpa lengan, hingga kulit putihnya terlihat jelas.
“Sudah selesai?” Tanya Erlan.
“Sudah pak,” ucap Kinan, ia lalu duduk di kursi tepat di hadapan Erlan.
Kinan menyerahkan hasil pekerjaanya kepada Erlan dan Erlan tidak lupa menandatanganinya. Selama Kinan bekerja selama dua bulan ini, wanita itu sudah bekerja dengan cukup baik, ia akui bahwa Kinan sangat cekatan dan teliti. Ia merasa terbantu dengan kehadiran Kinan di sini.
“Oiya, Minggu depan kita ke New York.”
Alis Kinan terangkat mendengar kata New York, “Saya ikut pak?”
“Iya, kamu ikut damping saya.”
Kinan tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya bersama Erlan bedua di sana. Ia juga bingung mengatakan kepada Febian kekasihnya, bahwa ia ada perjalanan dinas ke luar negri.
“Kamu ada visa dan paspor kan?”
“Ada, pak.”
“Oke, bagus. Kamu pesan dua tiket kelas bisnis, nanti saya serahin ke saya.”
“Baik pak.”
Erlan menatap jam melingkar di tangannya menunjukan pukul 13.20 menit. Ia perlu istirahat karena sejak pagi ia belum makan.
“Kamu temani saya lunch.”
“Baik pak.”
Erlan menyimpan proposalnya di laci, ia mengambil kunci mobilnya dan lalu beranjak dari duduknyaa. Ia menatap Kinan juga ikut berdiri di sampingnya, menyeimbangi langkahnya. Kinan ke ruangannya mengambil tas nya lagi. Mereka makan siang seperti ini, sepertinya sudah menjadi kegiatan rutin, hanya sekedar makan siang, tidak lebih.
Kinan tidak lupa mengunci pintu ruangannya, lalu mereka melewati koridor. Kinan menatap karyawan sudah berada di kubikel. Ia melihat Winda melambaikan tangan ke arahnya. Kinan melambaikan tangan balik dan tersenyum kepada sahabatnya itu.
Kinan masuk ke dalam lift bersama Erlan menuju lantai dasar. Kinan melihat tangan kiri Erlan berada di saku celananya. Pintu lift terbuka, Kinan menyeimbangi langkah Erlan menuju basement.
“Kamu ada rekomendasi mau makan di mana?” Tanya Erlan menatap Kinan.
“Di Bistecca aja pak, deket dari sini,” ucap Kinan, ia tahu bahwa selera Erlan memang restoran western, jadi ia selalu merekomendasikan bistro-bistro yang enak untuk Erlan. Ia juga bukan wanita yang selalu mengatakan terserah, ia harus bisa mengemukakan pendapat, kenapa di sana enak, apa menu terbaik.
“Kamu pernah makan di sana?” Tanya Erlan, memandang Kinan.
“Pernah, pak.”
“Sama siapa?”
Kinan menatap Erlan dan Erlan menatapnya balik, ia bingung akan menjawab apa, karena ia makan di sana dulu bersama Febian pacarnya.
“Sama pacar saya.”
Bibir Erlan terangkat, namun tanpa senyum. Ia tahu bahwa Kinan memiliki pacar, pria itu sering menjemput dan mengantar Kinan ke kantor. Ia tidak mempermasalahkan jika Kinan memiliki pacar, dan itu urusan hati Kinan, ia tidak ikut campur.
“Apa makanan di sana enak?” Tanya Erlan lagi.
“Lumayan.”
Mereka menatap pintu lift terbuka, Erlan dan Kinan meneruskan langkahnya menuju mobil Mercedes-Benz milik Erlan. Kinan menyelipkan rambutnya di telinga, ia menatap Erlan masuk ke dalam mobil begitu juga dengan dirinya.
“Letaknya di mana?” Tanya Erlan, ia menstater mobilnya lalu tidak lupa memasang seat belt.
“Tower C, lantai ground di 18 Parc SCBD. Tinggal lurus aja dan langsung belok kiri, gedungnya itu kelihatan,” ucap Kinan.
Erlan memanuver mobilnya, ia mengikuti intruksi Kinan menuju restoran Bistecca pilihan wanita itu. Erlan memperhatikan jarak mobil dan motor di hadapannya. Ia melirik Kinan bersandar di kursi dengan tenang.
“Kamu sudah lama pacaran?” Tanya Erlan penasaran.
Kinan lalu menoleh memandang Erlan, ia tidak menyangka bahwa boss nya ini menanyakan hal pribadi kepadanya. Sebenarnya ia tidak terlalu suka jika Erlan sudah menanyakan hal pribadi seperti ini. Dan ia juga tidak bisa, kalau tidak menjawab pertanyaan itu.
“Sudah setahun, pak.”
“Sudah lama juga,” ucap Erlan, ia masih fokus dengan kemudi setir, ia hanya reflek menanyakan itu kepada Kinan, namun sebenarnya ia ingin tahu juga berapa lama wanita itu berpacaran.
“Kerja di mana pacar kamu?”
“Kerja di bank Central, sekarang posisinya sebagai manager finance.”
“Udah ngapain aja sama pacar kamu?” Tanya Erlan lagi.
Kinan mengerutkan dahi, sepertinya pertanyaan Erlan terlalu berlebihan jika menanyakan tentang apa yang ia lakukan dengan kekasihnya.
“Apa saya harus menjawab pertaanyaan itu, ke bapak?”
Erlan menarik nafas, ia melirik Kinan, “Kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa Kinan. Saya enggak memaksa.”
“Sepertinya pertanyaan itu terlalu pribadi untuk bapak tanyakan kepada saya.”
“Oke, skip saja pertanyaan itu.”
“Oke.”
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Erlan juga tidak bertanya lagi hubungan Kinan dan kekasihnya. Erlan akui bahwa ia sudah lancang menanyakan hal yang kurang pantas ia pertanyakan. Tidak butuh waktu lama mereka sudah tiba di Bistecca.
***
Erlan dan Kinan masuk ke dalam restoran, ia akui bahwa selera Kinan dalam memilih restoran selalu baik. Restoran ini bergaya classic dan mewah. Mereka duduk di salah satu kursi kosong di dekat jendela. Tempat ini lebih cocok untuk dinner romantic dari pada makan siang seperti ini.
Erlan menatap server menyambutnya dengan hangat, dan memberi mereka buku menu berbahan kulit itu. Erlan memesan Florentine butter chicken, bistecca burger, dan signature baked Alaska.
“Kamu bisa minum kan?” Tanya Erlan kepada Kinan.
“Apa nggak terlalu siang untuk minum?” Tanya Kinan.
“Saya ingin minum.”
“Oke, asal jangan mabuk,” sahut Kinan.
Erlan lalu tertawa, “Apa yang terjadi jika saya mabuk.”
“Saya sudah membayangkan bagaimana merepotkan kamu jika mabuk, harus membopong kamu.”
“Kamu pernah mabuk?” Tanya Erlan, menatap Kinan.
Kinan tersenyum, “Pernah, hasilnya saya nggak bisa berdiri muntah sambil memeluk closet, rasanya mau mati. Saya juga pernah muntah di tepi jalan.”
Erlan lalu tertawa, “Di mana kamu mabuk?”
“Di Lounge, Kemang. Sama teman-teman saya dulu.”
Untuk minumanya Erlan memesan satu botol Martini Bianco, tidak lengkap rasanya jika makan steak tidak minum. Setelah server mencatat pesanan mereka, serverpun meninggalkan table. Erlan menatap Kinan, wanita itu bergerak secara natural. Erlan melihat Kinan merogoh ponsel di dalam tasnya.
Kinan menatap ke arah layar ponsel, “Febian Calling.” Kinan memasukan lagi ponsel itu ke dalam tasnya.
“Kenapa nggak di angkat, Kin?” Tanya Erlan memandang Kinan.
“Biarin aja …,” ucap Kinan ragu, karena yang menelfonnya adalah Febian kekasihnya.
“Angkat aja, enggak apa-apa kok, siapa tau penting,” ucap Erlan menatap Kinan.
Kinan menarik nafas, ia mengambil ponselnya lagi, ia menggeser tombol hijau pada layar, ia letakan di telinganya. Ia melirik Erlan yang menatapnya intens.
“Iya, Bian,” ucap Kinan pelan.
“Kamu lagi apa, sayang?” Tanya Bian.
“Aku lagi lunch.”
“Di mana?” Tanya Bian lagi.
“Di Bistecca.”
“Sama siapa?”
Kinan menatap Erlan, ia menelan ludah, ia tahu jika ia mengatakan makan dengan boss nya, pasti Bian akan ngambek dan mendiaminya hingga beberapa hari.
“Sama temen-temen kantor, karena Winda ulang tahun hari ini. Kamu lagi apa?” Tanya Kinan, memelankan volume suaranya.
“Aku lagi di kantor, kerjaan aku banyak banget, kemukinan aku lembur malam ini,” ucap Bian.
“Kamu nanti pulang naik taxi aja ya. Aku beneran sibuk malam ini.”
“Iya, enggak apa-apa kok.”
“Yaudah kalau gitu. Aku lanjut kerja lagi.”
“Iya.”
Kinan mematikan sambungan telfonnya, ia melirik Erlan yang tengah menatapnya intens. Kinan menarik nafas, ia memasukan lagi ponselnya ke dalam tas.
“Kenapa kamu nggak jujur, kalau kamu sama saya,” ucap Erlan.
Kinan menatap Erlan, sebenarnya ia bingung akan menjawab apa, namun ia tetap berpikir, “Kalau saya jawab sama kamu, pacar saya akan marah kepada saya dan mendiami saya berhari-hari.”
“Bukannya dia tahu kamu seorang sekretaris, yang kerjaanya selalu sama saya.”
“I know, saya tidak suka jika pacar saya tahu, jika saya terus-terusan sama kamu. Saya tidak akan mengambil resiko lebih jika saya ketahuan.”
“Jadi kamu sering berbohong dengannya.”
“Demi kebaikan, hubungan saya dan dia.”
Erlan melipat tangannya di dada, ia memandang Kinan cukup serius, memperhatikan wajah cantik itu.
“Jika seperti ini, berarti saya bisa jadi selingkuh dengan kamu.”
Kinan otomatis menatap Erlan, pria itu mengatakan ingin berselingkuh dengannya, “What?”
***
“What?”
“Berselingkuh?” Tanya Kinan lagi, ia tidak menyangka bahwa Erlan mengatakan berselingkuh. Apa yang dipikiran Erlan sehingga di otaknya ada kata selingkuh. Apapun alasannya, selingkuh tidak dibenarkan.
Erlan menyungging senyum, “Lupakan saja,” gumam Erlan lagi.
Erlan menatap server membawa pesanan mereka, kini hidangan tersaji di meja, di sana ada makanan florentine butter chicken yaitu ayam yang disajikan ada empat potong dan ditaro diatas hotplate panas, ayamnya sangat juicy dan moist di dalam. Ada juga bistecca burger yaitu daging nya menggunakan daging premium dengan toping foie grass dan truffle and sunny side up. Terakhir signature baked alasaka, merupakan dessert andalan di sini, modelnya seperti landak dalamnya eskrim coklat yang super lezat. Ia mencicipi makanan di sini, so far semuanya terlihat enak.
Kinan dan Erlan makan dengan tenang. Kinan menatap Erlan menuang martini bianco ke dalam gelas. Erlan memasukan daging ke dalam mulutnya. Pilihan Kinan memang tidak pernah salah. Erlan menatap Kinan memakan burger dengan tenang.
“Kenapa kamu bisa berpikiran tentang selingkuh?” Tanya Kinan penasaran, ia menatap iris mata tajam Erlan dengan berani.
“Apa kita mau membahasnya?” Erlan meraih gelas martininya membalas tatapan Kinan.
“Aku hanya tanya alasannya saja, kenapa dengan selingkuh?”
Erlan meletakan cangkir martininya di meja, ia melihat Kinan, “Mungkin selingkuh itu, awalnya nggak ada niat untuk selingkuh, berkali-kali kamu meyakinkan diri sendiri dan pasangan. Tanpa kamu sadari, kamu sudah menutup dan menyembunyikan sesuatu di belakangnya, tidak menceritakan apa yang terjadi, menghapus chat log, panggilan dari saya. Kamu sudah menjadi pemain baru yang tersembunyi yang menegangkan?”
“Kamu mungkin saat ini menyangkalnya, namun itu sudah terjadi,” Erlan menyungging senyum.
Kinan tahu arah pembicaraan Erlan seperti apa, seketika rasa laparnya hilang dengan komentar Erlan untuk dirinya. Kinan hanya diam, ia tidak ingin berkomentar apa-apa, kata-kata Erlan seolah menohok hatinya. Oh Tuhan, kenapa Erlan sangat cerdas dalam membaca situasi, intuisinya sangat kuat dan tajam.
“Saya hanya menjaga hubungan saya dengan pasangan saya,” ucap Kinan memakan burgernya dengan tenang.
“Oke, itu menurut kamu,” ucap Erlan.
Erlan tidak berkomentar lagi masalah perselingkuhan. Bagi mereka topik perselingkuhan begitu emosional. Mereka memilih makan dengan tenang begitu juga dengan Kinan, menikmati music yang dari restoran.
“Kamu tinggal di mana?” Tanya Erlan menatap Kinan, ini pertanyaan yang sudah tercongkol di kepalanya, sudah dua bulan belakangan ini ia tidak tahu di mana sekretarisnya tinggal.
“Saya tinggal sendiri di apartemen Kalibata.”
Alis Erlan terangkat. Ia tahu betul di mana letak Kalibata City, dan imej nya kurang baik untuk wanita seperti Kinan sebagai sekretarisnya. Banyak stigma perempuan yang tinggal di sana semua sama.
“Sewa atau punya sendiri?” Tanya Erlan.
“Kemarin awalnya mau ngekost, namun harga kost dan harga apartemen hampir sama, akhirnya aku memutuskan untuk sewa apartemen aja yang murah.”
“Orang tua kamu tahu kalau kamu tinggal di sana?”
“Tahu kok. Kenapa?”
Erlan menarik nafas, “Enggak, hanya imej nya jelek aja kalau kamu tinggal di sana.”
“Tapi enak kok tinggal di sana, tempatnya strategis dan cari makan juga enak, naik kereta deket. Saya nggak peduli sih, orang nganggapnya apa, yang pasti saya nggak pernah melakukan di luar dari pekerjaan saya. Saya sudah dewasa dan aku harus hidup sendiri terpisah dari orang tua.”
“Iya benar. Kamu udah lama tinggal di Kalibata?” Tanya Erlan penasaran.
“Baru dua bulanan. Semenjak jadi sekretaris kamu, jadi saya putuskan untuk tinggal sendiri, dan orang tua saya mendukungnya.”
Erlan mengangguk paham, ia melihat Kinan meneguk martini, begitu juga dengan dirinya. Mereka tahu batasannya jika minum seperti ini, jangan ada yang mabuk diantara mereka berdua. Erlan tahu betul dibanding dengan pria seperti dirinya, wanita cenderung lebih mudah mabuk.
“Untuk meeting opening hotel baru di Bandung, udah kamu konfirmasi sama seluruh manager?” Tanya Erlan, membuka topik pembicaraan yang berbeda.
“Sudah, pak. Besok jam sepuluh.”
Erlan menatap ke arah layar ponselnya, ia melihat nama “Brian Calling.” Erlan menggeser tombol hijau pada layar, dan ia letakan di telinga. Brian adalah sahabatnya, mereka memiliki usaha yang sama dibidang perhotelan. Namun mereka tetap bersaing secara sehat, tanpa ada sedikitpun untuk menjatuhkan. Karena dibidang yang sama inilah mereka saling memberi masukan agar berkembang dengan baik.
“Iya, Brian,” ucap Erlan.
“Lo di mana?” Tanya seorang pria dibalik speakernya.
“Gue lagi lunch. Ada apa?”
“Gue mau tunangan,” ucap Brian pada akhirnya.
Alis Erlan terangkat, “Really?”
“Yes.”
“Sama siapa?” Erlan semakin panasaran, ia tidak menyangka bahwa sahabatnya ini ingin bertunangan. Padahal selama ini ia tahu bahwa Brian tidak dekat dengan siapa-siapa.
“Sama Krystal.”
“Siapa Krystal?”
Brian menarik nafas, ia bersandar di kursi kerjanya, “Anaknya pemilik stasiun TV swasta. Gue dijodohkan sama orang tua, dan gue nggak ada pilihan lain, oke.”
“Wow. Udah yakin?”
“Jalanin aja lah.”
“Kapan acaranya?” Tanya Erlan penasaran.
“Besok malam, di The Hermitage, gue udah kirim undangannya di rumah lo.”
“Oke. Selamat ya, Brian.”
“Iya, sama-sama.”
Erlan mematikan sambungan telfonnya, ia meletakan lagi ponselnya di meja, ia menatap Kinan yang memandangnya.
“Besok kamu temani saya ke acara Brian, ya,” ucap Erlan, ia tidak ingin datang hanya seorang diri di sana.
“Acara apa pak?”
“Acara tunangan Brian. Kamu tau kan Brian, sahabat saya, yang punya hotel Royal itu.”
Kinan mengangguk, ia pernah bertemu dengan Brian beberapa Minggu yang lalu, “Iya tau pak. Tunangan dengan siapa pak?” Tanya Kinan penasaran.
“Katanya tunangannya Krystal, anak pemilik stasiun TV. Dia di jodohkan, sama orang tuanya.”
Alis Kinan terangkat, “Hari gini masih di jodohkan, pak?”
Erlan menyungging senyum, “Masih banyak kok, yang seperti itu, apalagi kelasnya seperti Brian dan saya.”
“Apa kemungkinan besar kamu juga akan di jodohkan?” Tanya Kinan penasaran.
Erlan menggelengkan kepala, “Enggak, saya nggak akan pernah mau dijodohkan, apapun itu alasannya. Saya bisa cari jodoh sendiri. Ini saya dan saya bukan Brian.”
“Mana yang lebih baik, dijodohkan orang tua atau hidup sendiri?”
Erlan menyungging senyum, “Saya lebih suka hidup sendiri, lebih bebas. Karena kita sendiri lah yang menentukan apa yang terjadi dengan diri kita. Hidup ini kita yang mengatur. Orang tua saya memang sering menjodohkan saya dengan anak-anak temannya. Saya tahu, beliau punya keinginan tersendiri apapun itu. Yah, pilihan beliau belum tentu sesuai dengan diri kita.”
“Singkatnya begini, saya bukan boneka orang tua. Saya perlu kebijakan agar bisa selektif dalam hal mematuhi. Mana yang bisa saya patuhi dan tidak. Menikah itu bukan perkara mainan yang bisa nggak cocok lalu ditinggal. Pernikahan itu bicara tentang seumur hidup. Apa kamu akan menjalani hidup dengan seorang yang membuatmu jengkel setiap hari?”
“Saya lebih memilih memilih hidup sendiri, walau keluarga menghina karena tidak menikah, yang penting saya bahagia dengan kesendirian saya.”
“Analoginya, lebih baik hidup jomblo, bahagia hingga ajal menjemput, daripada menikah tapi tidak bahagia hingga sang pencipta memanggil kita berpulang ke pangkuannya.”
“Menurut kamu bagaimana?” Tanya Erlan kepada Kinan.
Kinan lalu tertawa, ia tahu bahwa Erlan cerdas, dia menjawab secara lugas, “Iya, saya setuju dengan pendapat kamu.”
“You deserve your own happiness. Saya juga adalah orang yang percaya setiap manusia dewasa, baik itu pria dan wanita, memiliki kebebasan untuk memilih dalam hidupnya selama tidak bertentangan dengan hukum dan perundang-undangan. Cari kerja sendiri, berdiri dengan kaki sendiri dan jadilah diri sendiri. Buktikan kepada keluarga anda kalau anda bisa bahagia dengan pilihan anda sendiri.
Erlan setuju dengan ucapan Kinan, ia tidak menyangka bahwa mereka sangat nyambung dalam berdiskusi tentang ini, mereka memiliki pola pikir yang sama.
“Saya suka dengan pemikiran kamu.”
“Thank you, saya juga suka dengan steatment kamu.”
Erlan melirik jam melingkar ditangannya menunjukan pukul 14.20 menit, “Kita pulang sekarang.”
“Iya,” mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke office.
***