Bab 1

"Tolong Papa jangan pergi demi Tisa, anak kita satu-satunya Pa" rengek Mama sambil bersimpuh di kaki Papa.

Tak sengaja Tisa mendengar percakapan Mama dan Papa di ruang keluarga. Tisa hanya menduga, mungkinkah mereka akan bercerai? Tisa tak sanggup membayangkan jika perceraian itu benar-benar terjadi. Dipejamkannya mata berusaha menahan gejolak jiwa.

Praaang!

Mendengar suara ribut di luar kamar, membuatnya terpaksa memicingkan matanya kembali. Membuka handel pintu dan melongokkan kepala ke arah datangnya suara.

"Pa jangan pergi! "

Itu suara Mama.

"Minggir!" teriak Papa.

"Pa, Mama mohon jangan pergi" kedua tangannya mencengkeram eart kaki Papa.

Papa dengan kasar menyingkirkannya hingga terjungkal ke belakang. Papa pun melenggang keluar rumah diikuti seorang perempuan yang selama ini Tisa kenal dengan nama tante Indira, sekretaris Papa di kantor. Sekilas perempuan itu melirik ke arah Mama dengan senyum kemenangan. Ciiiih... Tisa jijik melihatnya. Setengah berlari Tisa menuruni anak tangga menghambur memeluk Mama yang masih menangis dengan tubuh dibiarkannya terbaring di lantai. Tisa berusaha membantu berdiri dan memapahnya ke sofa di sudut ruangan.

"Ma, biarkan Papa pergi dengan perempuan itu. Tisa janji tidak akan membiarkan Papa menyakiti Mama lagi. "

Dipeluknya wanita yang selama ini kuat dan tegar di mata Tisa, tiba-tiba rapuh.

"Papa kejam! tega melakukan ini ke Mama dan Tisa" rutuknya dalam hati. Sebulir cairan bening pun mengalir membentuk anak sungai di pipinya tanpa bisa dicegah. Ini adalah yang terakhir kalinya, tak akan kubiarkan Mama bersedih lagi.

Beranjak ke dapur mengambil segelas air putih dan disodorkannya ke mama.

"Minum dulu Ma, tenangkan hati dan pikiran Mama".

" Tisa maafkan Mama ya? " Setelah agak tenang Mama mulai berbicara.

"Jangan minta maaf sama Tisa, Mama gak salah. Perempuan itu yang keterlaluan. Dia yang membuat Papa pergi dan ninggalin kita Ma.Tisa tidak akan memaafkannya, " jawab Tisa menahan amarah.

"Mama istirahatlah, Tisa bantu ke kamar ya? " Di papahnya ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang. Setelah memastikan Mama berbaribg di ranjang Tisa perlahan berdiri dan melangkah keluar.

"Tisa," panggil Mama lirih.

Tisa menghentikan langkahnya dan membalikkan badan sembari tersenyum ke arah Mama.

"Terima kasih sudah menjadi anak yang baik, meski Mama belum bisa menjadi Mama yang baik buat kamu. " Dikecupnya kening Tisa, anak semata wayangnya.

"Ma, Tisa akan selalu menjadi anak baik buat Mama. Jangan berpikiran yang macam-macam. Istirahatlah biar besok segar kembali." diciumnya kening dan pipi Mama berkali-kali.

Melepaskan pelukan Mama dan beranjak meninggalkan kamar. Melewati ruang keluarga tak sengaja matanya menatap deretan foto dirinya. Tisa kecil menggenggam erat tangan Papa saat belajar berjalan. Senyum ceria saat digendong Papa di ulang tahunnya yang pertama. Mama dan Papa yang tersenyum bahagia saat kelulusan Sekolah Dasar. Semua foto yang berderet rapi di dinding seolah mewakili keharmonisan keluarganya. Mama yang begitu sabar menghadapi Papa. Dan papa yang selalu ada buat Tisa meski sesibuk apa pun. Semuanya kini tinggal kenangan. Sejak kehadiran tante Indira, sekretaris genit, Papa jadi berubah. Dan tega ninggalin aku sama Mama. Amarah kembali meledak jika ingat kelakuan perempuan jijik itu.Tak tau malu! rutuknya dalam hati. Mempercepat langkah kakinya menapaki tangga demi tangga menuju kamar. Hanya satu yang diinginkannya saat ini, menangis.

Dibukanya pintu dengan kasar dan membantingnya dengan keras hingga menimbulkan suara blum! Dilemparnya foto Papa bersama dirinya di meja belajar. Pyaaaar... pecahan kaca menyebar ke mana-mana.

Tisa benci Papa! Papa jahat! Papa tega menyakiti Mama! Dibuangnya semua benda pemberian Papa yang ada di kamarnya. Sebentar saja kamar sudah berubah. Barang berserakan di mana-mana. Terduduk lemas di pojok ranjang menyesal gak bisa berbuat apa-apa untuk Mama. Beranjak ke kamar mandi membasuh muka yang sembab. Tak kan kubiarkan air mata ini mengalir sia-sia hanya untuk perempuan b****sek seperti tante Indira. Cukup sekali ini saja. Meletakkan tubuh rapuhnya ke atas ranjang berusaha memejamkan mata berharap kejadian ini hanyalah mimpi.

**

Hari ini sebenarnya Tisa malas pergi ke Kampus. Teringat janji dengan Clara dengan malas dan hati yang kurang mood dipaksanya berangkat.

"Pagi Tisa? Kok wajah lo sembab, semalam habis nangis ? What happen honey? Maybe i can help you? " sapa Clara sesampainya di Kampus. "I'am ok. Temenin gue ke kantin yuk! Belum sarapan nii" kutarik tangannya.

"Lo pilih menunya gue ke toilet bentar. "

Samar-samar terdengar suara berbisik dari luar kamar mandi. "Dion, lu masih sayang kan sama Tisa? " Suara manja seorang perempuan terdengar akrab di telinganya. Seperti suara Saras, kenapa sama Dion? Apa yang mereka lakukan di toilet wanita ini? Penasaran Tisa urung mengeluarkan hasrat yang sedari tadi ditahannya.

"Sayang, tapi aku lebih mencintaimu, " jawab Dion sambil mengusap kepala Saras

"Dion, please beri aku kepastian. Kamu pilih aku atau Tisa. Jangan menggantung perasaanku seperti ini. Aku tak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian. Dia sahabat baikku. "

"Aku mencintaimu Saras," Membekap mulut Saras dengan bibirnya.

Mata Tisa memanas, tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Menghambur keluar dengan derai air mata tak terbendung. Berlari sekuatnya menjauh dari tempat ini. Laki-laki sama saja, Dion, Papa semuanya b****sek! makinya dalam hati.

Jatuh tersungkur menabrak cowok di depannya. Buru-buru bangun sambil mengusap air matanya. Kembali berlari menuju gerbang Kampus.

"Hei, tunggu!" teriakan cowok yang ditabraknya tadi tak dihiraukannya. Pikirannya benar-benar kacau hari ini. Dua peristiwa berturut-turut ia alami.

Tisa tak percaya Dion melakukan ini padanya. Yang ia tahu Dion orangnya setia, sabar dan penyayang. Kenapa harus Saras? sahabat Tisa sejak SMA.

Melangkah gontai ke coffeeshop langganannya. Duduk dekat jendela tempat favoritnya.

"Mbak Tisa mau minum apa? " sapa pelayan dengan ramah. Tisa sering ke sini, semua karyawan tahu namanya.

"Seperti biasa"

"Ok, tunggu sebentar ya"

Membuka galeri HP dan menghapus semua foto Dion. Tak menyadari ada seorang pria yang menguntitnya dari Kampus dan duduk di belakangnya. Memperhatikan setiap gerak geriknya.

Bab 2

Tisa mengaduk-aduk kopinya yang hampir habis. Pikirannya benar-benar tidak bisa fokus. Masih terbayang bagaimana Papa meninggalkan dirinya dan sekarang Dion juga meninggalkannya. Kehangatan cinta yang dulu ia rasakan sekarang entah kemana berganti dengan kekecewaan dan kehampaan. Hatinya kosong, tak percaya lagi kata Pujangga yang mengatakan bahwa cinta itu indah, baginya cinta itu kelam.

"Tisa! Rupanya elu di sini? Ada apa sih, kemarin pergi begitu saja sampai gue bingung nyariin lu, " kata Clara sambil duduk di sebelahnya.

"Sory, kemarin gue buru-buru sampai lupa ninggalin elu sendirian di kantin, " jelas Tisa dengan lirih.

"Udah gue maafin dari kemarin. Lu lagi ada masalah apa? Ceritain dong ke gue siapa tahu gue bisa kasih jalan keluarnya." Dipeluknya Tisa penuh kehangatan. Tisa memandang Clara ragu, akankah ia ceritakan masalah ini ke Clara? Atau biarlah ia simpan dalam hati saja? Lama Tisa memandang sahabatnya sebelum akhirnya memutuskan bercerita.

"Kemarin pas gue ke toilet tak sengaja mendengar percakapan Dion dan Saras. Mereka berbicara layaknya sepasang kekasih. Ternyata selama ini Dion bermain dibelakangku. Awalnya gue juga gak percaya, gue penasaran dan nguping pembicaraan mereka. Bikin telinga gue panas terus gue cabut pergi menjauh dari tempat maksiat itu. " Disandarkan kepalanya ke bahu Clara, menahan air mata yang sudah menggantung di sudut mata.

"B******k! Kurang ajar sekali tu anak berani main-main di belakang lu!" Tak sadar tangannya menggebrak meja, emosi dan marah atas kelakuan Dion ke sahabatnya.

" Clara please, jangan marah-marah di sini. Banyak yang liatin kita. " Tisa berusaha meredam emosi Clara.

"Sory, gue cuman gak terima aja sahabat gue yang baik hati ini dikhianati cowok b******k macam Dion. Gue marah Sa! "

"Iya gue tahu, terimakasih atas perhatian elu. Tapi gak kayak gini juga caranya. " Mencoba membujuk Clara agar tidak marah-marah lagi.

"Terus rencana lu apa? " desak Clara.

"Entahlah, gue males mikirin cinta dan cowok lagi. Bahagia yang berujung kekecewaan. " Dengan nada keputusasaan Tisa ungkapkan isi hatinya saat ini. Bagaimana dulu hatinya sakit dan kecewa saat Papa pergi sekarang Dion kekasihnya melakukan hal yang sama pada dirinya. Luka yang belum kering menganga lagi. Untuk kedua kalinya Tisa dikecewakan oleh 2 cowok yang ia cintai dan sayangi. Clara kasihan juga mendengar cerita Tisa barusan. Direngkuhnya bahu Tisa memberinya kekuatan, " lu pasti bisa melewati semua ini. Lu gadis kuat yang gue kenal, kalau lu butuh bantuan, gue siap kapan saja lu mau. "

"Terimakasih Clara, lu emang sahabat gue yang paling baik. " Dikecupnya kening Clara berkali-kali.

***

"Leo, lu kenal Gadis ini? " Ditunjukkannya sebuah foto seorang gadis.

"Lu dapat foto ini dari mana?" tanya Leo keheranan. Tak biasanya Langga menyimpan foto seorang Gadis.

"Gue tanya bukannya dijawab malah balik nanya! Lu kenal kagak?! " tanya Langga sewot.

" Kayaknya anak kampus sini juga, pernah liat sebelumnya, " jawab Leo serius sambil mengingat-ingat wajah Gadis yang ada di foto.

" Memang sekampus sama kita. Kemaren gue liat dia di kantin, fakultas apa ya? Gue nemu foto ini jatuh dari tasnya waktu gak sengaja gue tabrak. Pas gue panggil dia langsung pergi begitu saja. Gue buntutin sampai ke Cafe Coffee seberang kampus. Kayaknya lagi ada masalah ni Gadis, gue urung deketin dia, " jelas Langga tentang asal usul foto gadis yang ia temukan kemarin.

Leo tampak berpikir siapa kira-kira Gadis ini?

" Tolong bantu gue cari tahu siapa dia ". Menangkupkan kedua tangannya memohon kepada Leo.

"Baiklah, kalau bukan elu yang minta tolong gue ogah repot-repot cari info Gadis ini" jawab Leo sambil menganggukan kepalanya.

“Kabar Aluna bagaimana?“ tanya Leo pada cowok ganteng ala Eropa yang duduk di depannya yang sedang memainkan sendok di cangkir kopinya yang sudah kosong.

“Kita sudah putus seminggu yang lalu. Lu mau?“ jawab Langga dengan santai.

“Apa? Gue gak salah dengar kan?” Jawaban Langga membuatnya terkejut. Secepat itukah hubungan mereka?

“Ngacau lu! Lu bener-bener gila ya! Baru jalan 3 bulan udah main putus saja,“ teriak Leo melotot ke arah Langga.

“EGP, yang penting happy. Dia juga gak nolak waktu gue putusin. Ada masalah dengan lu?” Senyum lebar menghiasi wajah tampannya seolah baru saja dapat undian berhadiah.

“Dasar Playboy!" Hanya kata-kata itu yang bisa Leo lontarkan kepada sahabatnya sejak SMP itu. Sudah tak terhitung berapa cewek yang jadi korban. Aluna mungkin adalah cewek ke 7.

“Tapi banyak yang antri kan? Gak kayak elu jombloman abadi". Tersenyum mengejek ke arah Leo.

Bagai kena skakmat Leo tak berkutik. Meski tampangnya di atas Langga, entah kenapa cewek yang mendekatinya pada akhirnya memilih Langga daripada dirinya.

“Langga, pernahkah kamu berpikir dengan apa yang kamu lakukan membuat mereka patah hati?” tanya Leo hati-hati agar tidak menyinggung perasaan sahabatnya.

“Ha.. ha.. ha..!” Langga tertawa seolah-olah pertanyaan Leo barusan adalah sebuah lelucon.

“Kenapa tertawa? Aku serius nanya!” Leo mendengus kesal.

“Asal kamu tahu ya Leo sahabatku yang paling ngertiin gue. Mereka tidak ada yang patah hati. Sejak awal gue sudah tahu. Mereka mau sama gue bukan karena benar-benar cinta. Hanya menginginkan kemewahan dari gue. It's ok, gue gak keberatan. Apa yang mereka mau gue turutin, mau tas branded gue belikan. Fashion ala Blackpink juga gue turutin. Easy going gak masalah yang penting gue happy dan mereka juga senang. Salah gue dimana?” jelas Langga panjang lebar agar sahabatnya ini tidak salah menilai lagi tentang dirinya. Julukan playboy bukan dia yang mau. Sejujurnya sudah lama hatinya kering mendambakan seorang gadis yang benar-benar mencintainya.

Dalam hati, Leo membenarkan ucapan sahabatnya itu. Tak ingin berdebat Leo memilih diam, menyeruput kopi latte yang tinggal sepertiga cangkir.

Sebagai sahabat Leo ingin Langga serius dalam menjalani sebuah hubungan. Bukan hanya main-main seperti yang dia lakukan selama ini. Takut kedepannya mendapat karma atas apa yang ia lakukan saat ini. Tapi Leo bisa apa? Menjadi sahabat Langga saja sudah merupakan keberuntungan baginya. Seorang yang dermawan dan baik hati seperti Langga sudah jarang ditemukan di era sekarang ini. Hanya bisa mendoakan agar sahabatnya kelak menemukan gadis yang benar-benar tulus mencintainya bukan karena harta.

Bab 3

Bab 3 Langga

"Hei ngelamun aja, pulang kuliah hangout yuk. Gue perhatiin sejak lu putus sama Dion muka lu gak ada seger-segernya bikin jengah gue lihatnya." Pagi-pagi dah nyerocos aja ni anak, batin Tisa.

"Lu jalan sendiri aja ya, gue lagi males," jawab Tisa malas-malasan.

"Ya... Gak seru dong." Memasang wajah cemberut membuat pipi tembemnya jadi semakin tembem bikin gemes.

"Tar gue kenalin sama cowok temen kakak gue, kalau lu sedih gue yang susah. Mau ya?" buruknya lagi.

"Gak ah, gue lagi gak mau berurusan sama cowok," jawabnya dengan muka jutek.

"Belum bisa move on sama Dion? " tanya Clara ingin tahu.

"Rasa sakit itu masih membekas dan meninggalkan luka dalam. Dikhianati oleh orang-orang yang gue cintai, Papa dan Dion." Menatap kosong ke langit-langit kelas. Sebulir cairan bening jatuh di pipinya, segara Tisa mengusapnya.

"Maaf, gue cuma gak ingin sahabat baik gue sedih berlarut-larut." Dielusnya punggung Tisa lembut memberikan rasa nyaman.

"Gue udah move on dari Dion, saat ini gue ingin sendiri dulu. Lu sahabat gue pasti lu ngerti yang gue rasakan saat ini. Cowok di mata gue sekarang hanya akan membawa petaka dalam hidup gue. Jadi gue harap lu gak usah repot-repot nyariin gue cowok pengganti." Perkataan Tisa disambut anggukan Clara dan janji pada dirinya sendiri untuk selalu menemani Tisa menjadi sahabat yang baik untuknya.

"Iya gue ngerti, gue akan selalu ada untuk lu. Kalau butuh gue, kapanpun gue siap. Jangan sedih lagi ya? Yuk bisa yuk! " Mengangkat kedua tangan Tisa ke atas memberinya semangat.

"Your life must go on!" lanjutnya.

Tisa tersenyum, tingkah sahabatnya sejenak membuatnya terhibur.

"Nah gitu dong!" Ikut senang melihat Tisa tersenyum.

"Kantin yuk, laper gue," ajak Clara.

Tisa mengangguk mengiyakan ajakan Clara, tadi di rumah belum sarapan. Tanpa sengaja netranya melihat Dion di sudut kantin sendirian. Ke mana Cintya? Kenapa Dion tidak bersamanya? Tisa menghentikan langkahnya menarik tangan Clara. Reflek Clara berhenti dan mengikuti ke mana arah mata Tisa. Rupanya si b******k ada di sini. Dialihkan pandangan ke Tisa yang masih menatap Dion. Sepertinya masih sulit baginya melupakan laki-laki itu. Menepuk bahu Tisa pelan, "cabut yuk, cari tempat lain! " Menarik paksa tangan Tisa melangkah keluar dari kantin. Terlambat, Dion sudah melihatnya.

"Tisa, tunggu! " teriak Dion melambaikan tangan ke arah Tisa.

"Jangan hiraukan Dion, ayuk pergi dari sini! " ajak Clara menarik paksa tangan Tisa. Tisa diam tak bergeming, menunggu apa yang akan Dion lakukan kepada dirinya. Clara mengendurkan tangannya mengikuti kemauan Tisa. Awas kalau macam-macam, ancam Clara dalam hati.

"Tisa, sudah tak adalah kesempatan bagiku untuk menjelaskan semuanya? Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Cintya... " menggantung kalimatnya menunggu reaksi Tisa. Clara yang melihat Tisa diam saja mengambil alih suasana.

"Sudahlah Dion, jangan menambah luka lagi. Lebih baik pergi dan jangan sekali-kali menganggu Tisa lagi. Ayuk Tisa kita pergi, tak baik berlama-lama di depan laki-laki b******k ini." Dengan tangan mengepal matanya menatap tajam ke arah Dion yang masih berdiri di depan Tisa.

"Clara, please jangan ikut campur urusan aku sama Tisa. Biar aku bicara sama Tisa." Melotot ke arah Clara.

Dion menarik tangan Tisa secara bersamaan Clara melakukan hal yang sama. Tarik menarik tak bisa dihindari, Tisa meringis kesakitan.

"Dion, cukup! Lepaskan tanganku. Mulai saat ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jangan muncul di depanku lagi." Tisa ikut bersuara. Membalikkan badan melangkah pergi meninggalkan Dion. Baru beberapa langkah, tangannya ditarik Dion dari belakang, "Tisa, please beri aku kesempatan sekali lagi," rengek Dion. Ditepisnya tangan Dion, dengan langkah mantap ditinggalkannya Dion yang masih terpaku di tempatnya. Tisa sudah berubah, batin Dion.

Berjalan tergesa-gesa, amarah dan kebencian masih menguasai dirinya. Tak sengaja menubruk seorang cowok yang berjalan berlawanan arah dengannya. Jatuh tersungkur, "auw," rintihnya lirih.

Sebuah tangan terulur di depannya, dengan ragu Tisa menerima uluran tangannya dan mencoba berdiri.

"Makasih," ucapnya ke si pemilik tangan.

"Langga"

"Tisa"

Buru-buru Tisa menarik tangan Clara menjauh pergi dari laki-laki tampan di depannya.

***

"Bukankah tadi gadis yang di dalam foto tempo hari ya? " tanya Leo setelah mereka duduk di kantin.

"Benar. Tisa, cantik namanya seperti sang pemiliknya, " gumam Langga lirih.

"Gue gak salah dengar? Jangan-jangan lu suka ya sama tu cewek? " tanya Leo menebak isi hati sahabatnya. Tidak ada dalam kamusnya melihat Langga begitu mengagumi seorang gadis seperti ini.

"Menurut lu gimana?" tanya Langga meminta pendapat Leo.

"Sepertinya dia bukan gadis biasa, jangan bermain-main dengannya seperti yang sering kamu lakukan ke mantan-mantanmu," ucap Leo memberi peringatan.

"Sepertinya aku telah jatuh cinta sama dia," gumam Langga hampir tak terdengar di telinga Leo.

"Gue harap ini yang terakhir, jadilah pria dewasa mengerti akan makna cinta. Gue selalu dukung lu selama lu mau berubah." Kali ini Leo benar-benar berharap Langga menanggalkan cap playboy dan menjadi pria dewasa yang bertanggung-jawab.

"Tugas lu bantu gue buat ngedapetin tu cewek." Menatap Leo penuh harap.

"Ok, tenang saja. Gue pasti bantuin elu," jawab Leo penuh semangat. Dia ikut senang sahabatnya mau berubah.

" Ah, sial, kenapa tadi gak minta nomor kontaknya ya? " gerutu Langga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Iya juga ya, biasanya lu gerak cepat," timpal Leo.

"Saking senengnya gue bisa ketemu dia sampai lupa bertukar kontak," jawab Langga menyalahkan diri sendiri.

"Kalau dia di Fakultas yang sama tak sulit mencari keberadaannya." Jawaban Leo sedikit menenangkan hatinya yang gusar.

"Semoga lu beruntung," lanjutnya.

"Kamu memang sahabat gue yang paling baik," puji Langga.

"Gue makan dulu ya, dah laper ni dari tadi mana belum sarapan juga gara-gara lu jemput gue kepagian, " gerutu Leo.

"Punya gue tu sekalian dimakan, gue lagi tak berselera." Disodorkannya sepiring nasi goreng ke depan Leo.

"Thanks bro, tau aja gue masih laper. " Pantang nolak rejeki dilahapnya juga sepiring nasi goreng Langga. Tersenyum Langga melihat tingkah sahabatnya, dari dulu gak ada yang berubah. Beruntung gue punya sahabat seperti dia. Yang diperhatikan jadi salah tingkah.

"Uhuk... Uhuk... "

"Pelan-pelan aja makannya, santai saja. Gue masih di sini kok. Nih minum dulu!" Diberikannya sebotol air mineral dingin kepada Leo yang masih terbatuk-batuk.

"Makasih," jawab Leo sambil membuka tutup botol dan meminumnya segera sampai habis tak bersisa.

"Cabut yuk, keduluan dosen alamat kita gak bisa masuk kelas." Ajak Langga mengingatkan dosen yang ini sangat disiplin, telat semenit pun tetap tidak diijinkan masuk kelas.

Leo buru-buru merapikan kemejanya, menarik kursi ke belakang berjalan mensejajari langkah Langga yang tergesa-gesa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED