"Cinta tanpa nafsu itu omong kosong! Jangan dekat-dekat sama gue. Gue sang*an," katanya terus terang dan frontal. Baru kali ini aku bertemu dengan laki-laki yang begitu terus terang. Sedikit kaget, tapi sudut bibirku terangkat sedikit.
"Lo balik deh, otak gue traveling," katanya mengambil kotak makanan dari tanganku dan menutup pintu rumahnya. Aku sama sekali tidak diberi basa-basi untuk dipersilahkan masuk dan ditawari minum.
Aku kembali ke rumahku yang berada tepat di sebelah rumahnya. Sebelum meninggal rumahnya. Dari sudut mataku aku bisa melihat dia mengintip dibalik pintu.
Sungguh tidak disangka laki-laki yang sering dibanggakan dan dibandingkan mama denganku. Punya sisi yang unik seperti ini.
Keterus terangannya sungguh membuatku terkejut. Apalagi aku tidak terlalu mengenalnya secara pribadi. Hanya mendengar mama yang menggambarkan begitu sempurna.
"Gimana udah diantar?" tanya mama saat aku baru saja masuk dan menutup pintu rumah.
"Udah. Cuman Serafin aja yang ada di rumah kayaknya," kataku menjelaskan sebelum ditanya macam-macam.
"Gimana? Kamu lihat sendiri kan. Anak tetangga kita, udah ganteng, pinter, baik dan sopan lagi," kata mama bersemangat.
"Minusnya sang*an Ma," kataku dalam hati. Kalau ku utarakan bisa diceramahi habis-habisan.
"Iya terserah Mama aja lah," kataku lalu pergi ke kamar dilantai atas. Aku duduk di balkon kamarku dan pemandangannya menuju balkon kamar Serafin. Jendela kamarnya terbuka dan dia duduk di atas jendela. Sambil menikmati makanan yang kuberikan tadi.
Dia melambaikan padaku tanpa malu-malu. Melempar senyum manis dengan sudut bibir terdapat sisa pasta yang kuberikan.
Sungguh aneh kalau jauh seperti ini dia sering menggodaku. Kalau berhadapan dia sangat menjaga jarak. Tidak jarang dia langsung pergi kalau melihatku mendekat.
"Enak," katanya menunjukan tempat pasta yang sudah habis. Sungguh kejutan badan atletis itu menghabiskan satu tupperware berukuran besar sendirian.
"Sering-seringlah masakin gue ya," katanya lagi. Aku menunjukan jari tengah ku padanya. Kalau jauh dia bisa seperti ini. Kalau dekat dia menganggapku seperti kuman, harus dihindari.
Makan malam kali ini terasa lebih serius dari sebelumnya. Papa tiriku sedari tadi melirik ku terus menerus. Seakan ada hal penting yang dibicarakannya, tapi menahan diri.
"Kenapa?" tanyaku saat melihat mama gelisah. Aku memang tidak dekat dengan mama, aku tinggal dengan almarhum papa sejak kecil.
"Anu, Mama mau bilang. Papa aja lah, Mama takut salah," kata mama menyenggol lengan papa tiriku.
"Papa juga gak tau harus ngomong apa," kata papa tiriku melihat kearah mama dan saling saling menyenggol.
"Ngomong aja," kataku santai sambil terus menyuap nasi ke mulut.
"Itu, sebelumnya Om minta maaf. Om tau, om tidak berhak untuk hal ini. Serafin, melamar kamu pada Om," kata papa tiriku sambil mengambil segelas air dan meminumnya dengan susah payah. Seakan-akan di dalam air itu ada kandungan sianida.
"Mau gimana lagi, mau gak mau, Om yang jadi wali aku sekarang. Papa udah gak ada," kataku pelan. Papa anak tunggal tidak punya saudara kandung. Papa cuman punya satu satu saudara yang merupakan anak angkat. Masih hitungan saudara, karena dia adalah anak dari adik nenek yang perempuan.
Tetap saja tidak bisa menjadi waliku. Sekarang aku tinggal dengan mama dan om Rendi. Mau tidak mau om Rendilah yang menjadi waliku.
Hubungan kami masih terbilang canggung. Aku yang tiba-tiba masuk kedalam keluarga mereka. Tinggal dan menetap disini. Sebenarnya aku punya alasan, kenapa aku tinggal disini. Tanteku sedang memperebutkan harta peninggalan papa denganku.
Om Rendi menyarankan aku untuk tinggal disini. Sementara dia mengurus semuanya. Dia bilang harta peninggalan papa, adalah hakku. Tidak ada yang boleh menggusiknya, karena itu om Rendi menyiapkan pengacara terbaik di firma hukumnya untuk mempertahankan harta warisanku.
"Jadi, Om jawab apa pada Serafin?"
"Om belum jawab. Om serahkan keputusan ditangan kamu."
"Menurut Om dia laki-laki yang seperti apa. Seperti kata Om, aku butuh laki-laki yang bisa melindungi aku."
Om Rendi menatapku serius, dia menggeser gelas yang tepat di depannya ke sampingnya. Mama hanya diam sambil memandang kami bergantian.
"Om tidak ingin kamu menikah karena ini. Om akan berusaha mempertahankan apa yang menjadi hak kamu. Kamu tidak perlu mengorbankan kebahagiaan kamu untuk ini."
"Lunar tau, Om akan berusaha, tapi papa menulis surat wasiat yang akan menyulitkan kita semua. Sebelum Lunar menikah Tante Wendalah yang menjaga dan mengatur harta warisan papa. Walaupun kita menang di pengadilan mereka masih punya kartu as untuk mengambil dan menikmati harta papa," kataku serius. Om Rendi mengusap wajahnya frustasi.
Papa sepertinya kurang hati-hati pada tante Wenda. Dia bukan orang yang baik. Buktinya dia menuntut ke pengadilan atas pembagian harta warisan papa. Padahal sudah jelas kalau dia tidak punya hak untuk itu.
"Tante Wenda sangat licik dan kejam. Aku harus berlindung disini agar terhindar dari rencana liciknya"
"Apa tidak sebaiknya berikan saja sebagian harta peninggalan Haris untuk mereka," kata mama.
"Memberikan harta warisan bukan hal yang benar. Hal itu bisa membuat mereka menjadi lebih serakah dan membuat mereka punya kemampuan untuk menyakiti Lunar," kata om Rendi menolak usul mama.
"Jadi menurut om, bagaimana Serafin?"
"Seperti yang kamu lihat dia punya semua hal yang kita butuhkan. Cerdas dan punya dukungan keluarga. Hanya saja Om tidak yakin dengan karakter aslinya."
Pekerjaan Om Rendi yang sebagai pengacara membuatnya lebih waspada. Dia melihat orang dari berbagai sisi. Tidak hanya dari yang ditunjukkan oleh orang itu saja.
"Om tidak bisa menebak karakter aslinya. Walaupun dengan pengalaman yang sudah Om dapatkan selama ini."
Aku juga kesulitan menebak karakter Serafin. Dia begitu lihai memainkan peran. Aku juga tidak tahu apakah pernyataan cinta yang diungkapkannya adalah kesungguhan atau ada udang dibalik batu.
Disaat seperti ini kami memang harus lebih berhati-hati. Apalagi Tante Wenda menjadi lebih agresif akhir-akhir ini. Aku sampai tidak bisa keluar dengan bebas lagi.
"Om akan memikirkan langkah kedepannya. Kamu jangan terlalu khawatir dan mengambil keputusan secara buru-buru. Apalagi kamu dan Serafin juga baru saling mengenal," kata om Rendi.
Setelah selesai makan malam aku kembali ke kamarku. Makan malam dengan keluarga hal yang baru untukku. Dulu almarhum papa lebih sering meninggalkan aku untuk pekerjaan. Sementara om Rendi selalu mewajibkan untuk makan malam bersama kalau dia tidak berada di luar kota.
Keluarga ini jauh lebih hangat. Hanya saja kurang kehadiran seorang anak. Aku tau dari binar mata om Rendi saat melihatku di meja makan. Dia selalu bahagia dan tersenyum hanya saja masih canggung.
Nanti sebagai hadiah aku akan memanggilnya papa. Panggilan itu cocok untuknya yang memiliki perilaku hangat dan peduli keluarga. Hanya saja tuhan tidak menakdirkannya untuk memiliki seorang anak.
Dari jendela kamarku muncul pesawat kertas yang secara perlahan mendekat dan mendarat di ranjangku. Aku melihat ke arah datangnya pesawat kertas. Rumah sebelah, tepatnya kamar Serafin. Lampu kamarnya masih menyala dan dia duduk di balkon dengan memegang gitar.
Seperti dia hanya berniat memegang saja, tanpa berniat memainkan. Aku berdiri didepan pintu yang menguntungkan ke balkon dan tersenyum mengejek padanya. Dia menaikan sebelah alisnya dan melirik ke arah dadaku lalu menyeringai.
Aku lalu kembali dan menutup pintu balkon. Saat kulihat pesawat kertas yang dilemparkan Serafin padaku. Ternyata didalamnya ada tulisan.
Aku membuka lipatan pesawat kertas yang dibuatnya dengan hati-hati. Lalu membaca tulisan indah disana.
Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku ini sebenarnya laki-laki baik, pengertian dan bisa menerima kamu apa adanya. Minusnya hanya sang*an doang. Jadi terimalah lamaranku 😊
Inilah tetangga yang selalu dibanggakan oleh mama. Haruskah aku memperlihatkan ini pada mama. Agar dia berhenti membanggakan laki-laki itu?
Walau bagaimanapun dia mencurigakan kan?
Suara benturan pelan di jendela kamarku dan pintu yang menghubungkan balkon kamar membuatku terganggu. Suara-suara itu terus saja terdengar sejak pagi buta. Siapa lagi pelakunya kalau bukan tetangga sebelah yang unik bin ajaib.
Dia pasti sedang melakukan hal aneh lagi untuk menarik perhatianku. Dia benar-benar sangat aneh. Baru kenal saja sudah mengajak menikah. Tentu saja aku menolak. Tidak ingin salah pilih suami tentunya.
Saat aku membuka pintu balkon kamarku. Puluhan, atau mungkin ribuan pesawat kertas warna-warni sudah bertebaran di sana. Bahkan masih ada pesawat yang melayang, mendekat padaku.
Pelakunya tersenyum senang padaku. Sambil terus melempar pesawat-pesawat kertasnya kearahku. Kali ini pesawat berwarna pink tepat mendarat di bahu sebelah kiriku. Aku mengambilnya dan melemparnya balik padanya.
Dia tersenyum senang sambil menangkap pesawat kertas itu dan mengarahkan pada dadanya. Paling membuatku heran adalah, dia hanya mengenakan handuk saja. Menutupi pinggangnya hingga ke atas lulut. Dia dengan santainya melambaikan tangan padaku. Seakan-akan dia sedang berpenampilan normal.
Rambutnya masih basah dan menetes ke dada bidangnya yang nampak mempesona. Senyumnya kadang tulus, kadang juga menyeringai. Perutnya yang kotak-kotak membah keindahan yang ada pada dirinya. Anak sekarang mengatakan jika itu roti sobek.
Anak yang dibanggakan mama ternyata tidak hanya mesum, sangean, tapi juga tukang pamer. Pagi-pagi sekali sudah pamer roti sobeknya pada anak perawan sepertiku. Benar-benar tetangga yang unik. untung saja orangnya tampan. Kalau tidak aku sudah beriak dan memanggil polisi untuk menangkapnya.
"Ayo terima lamaran gue Lunar. Jadilah istri gue," katanya berteriak dari seberang sana, tepatnya di balkon kamarnya yang terdapat banyak pesawat kertas warna-warni.
"Berisik! Bisa gak lo gak ganggu gue lagi. Kepala gue rasanya mau pecah menghadapi tingkah aneh lo yang luar biasa," kataku kesal. Serafin dengan cepat menggeleng kuat. Rambutnya mengikuti gerakan kepalanya sehingga air menetes lebih deras dari rambut basahnya.
"Gak bisa lah. Kecuali lo nerima lamaran gue. Gue punya gak bakal ganggu lo lagi deh. Gue janji, tapi ya lo harus nikah sama gue," katanya sambil tersenyum manis, tapi bagiku itu senyum mesum. Dasar tetangga mesum!
Serafin terus melempar pesawat-pesawat kertas padaku dengan tempo semakin cepat. Sehingga di depanku dipenuhi pesawat kertas yang melayang mendekat kearahku.
Sebenarnya beberapa hari yang lalu Serafin semapat ngambek padaku. Dia mendiamkan aku, karena tidak kunjung mendapat jawaban dari lamarannya. Hanya saja strategi ngambeknye tidak berpengaruh padaku. Sehingga dia menganti strategi yaitu terus menganggu aku dengan segalam macam cara.
Setelah dia ngambek karena lamarannya tidak mendapatkan jawaban pasti. Dia Menganti strategi untuk mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Serafin udah. Nanti repot buat bersihin ini semua," kataku. Sebenarnya aku takut juga tergoda dengan usahanya yang unik dan bisa dibilang romantis. Hanya saja penampilan sedikit aneh, tapi bisa membuat debaran di dada. Bertelanjang dada dengan bentuk tubuh yang seperti artis korea, wajah tampan dan senyum jahil yang ceria. Sungguh pemandangan indah di pagi hari. Seandainya sifatnya tidak aneh mungkin aku juga bisa langsung suka padanya.
Sayangnya saat pertama kali bertemu saja. Serafin sudah memperlihatkan keanehannya. Sehingga wajah tampannya yang mempesona gugur dengan keanehan sifatnya.
"Gitu doang lo ngeluh. Gue buat ini semalam, sampek gak tidur. Tangan gue juga kegores kertas," katanya sambil menunjukan tangannya yang terdapat plester. Jari-jari tidak hanya dibalut oleh satu plester saja, tapi beberapa. Bahkan satu jarinya terdapat tiga buah plester.
"Gue kan gak minta. Itu kemauan lo sendiri," kataku cuek.
"Gak minta sih, tapi gue inisiatif. Siapa tau lo terharu dan nerima lamaran gue. Mau buat catatan juga sih, tapi isi sama kayak kemarin."
Aku menepuk keningku. Serafin ini memang unik sekali. Selalu punya hal yang membuatku bingung. Kemarin ngambek, sekarang malah melempar pesawat kertas. Besok apa lagi yang akan dia lakukan untuk menarik perhatianku.
"Lagian orang gila mana yang langsung mau menerima lamaran laki-laki aneh seperti lo."
"Gue gak aneh! Itu kejujuran dari gue. Memulai hubungan dari kejujuran dan kejujuran gue itu. Ah, tapi malah gak dihargai.
"Lo terlalu frontal," kataku kesal.
"Masa iya gue harus pura-pura sok manis kayak kucing padahal singa. Gue jujur, biar lo juga gak dalam bahaya. Gue kan gak mau sesuatu yang gue mau terjadi," katanya sambil nyengir. Bibir tipisnya terbuka dan memperlihatkan gigi putih yang berbaris rapi. Gigi taringnya yang tampak lebih runcing dan tajam dari gigi lain terlihat sangat jelas.
Saat tersenyum matanya juga menyipit. Alis tebal juga ikut bergerak menurun sedikit. Satu yang paling mempesona iris matanya yang besar dengan warna hijau terlihat sangat berbinar. Jarang sekali laki-laki yang memiliki iris hijau yang besar. Iris hijau itu sangat mendominasi bola matanya. Ditambah bulu mata panjang dan lentik.
Bisa dikatakan Serafin adalah laki-laki tertampan yang pernah aku lihat. Apalagi hidungnya juga mancung dan memiliki kulit putih yang sehat. Hanya satu minusnya, dia sangean. Serafin yang mengutarakan padaku.
"Intinya gue harus harus mikir-mikir dulu."
"Mikirnya gak usah lama-lama. Gue kan udah jujur," protesnya.
"Gue gak mau dapat buaya panuan!"
"Gua manusia. Lo lihat sendiri gak ada, ciri-ciri buayanya. Gak panuan juga," katanya sambil memutar badannya memperlihatkan tubuh mulusnya.
"Atau lo mau lihat yang ini," katanya sambil memegang handuk dan melepaskannya. Aku langsung refleksi mengambil majalah di atas meja dan melempar pada Serafin.
Majalah yang kulempar langsung mengenali wajahnya. Hidungnya sampai memerah. Majalah itu tepat jatuh ke lantai serentak dengan handuk yang dia pakai. Ternyata Serafin menggunakan boxer di balik handuknya.
Aku menatapnya dengan rasa bersalah. Apalagi saat darah mulai menetes dari hidung mancungnya. Matanya berkedip beberapa kali dan menatapku lurus.
"Lo harus tanggung jawab. Lo harus nikahin gue sekarang," katanya lantang. Aku langsung berlari ke dalam kamarku dan menutup pintu balkon. Aku benar-benar tidak menyangka kalau lembaranku mengenai wajahnya dan membuat dia mimisan. Apakah lemparanku sekuat itu?
"Maaf, gak sengaja," katu sambil mengintip dari balik pintu kaca. Semoga dia baik-baik saja dan tidak terluka sama sekali. Setidaknya walaupun dia terluka tidak parah.
"Lihat aja gue bakal tuntut lo. Sudah melakukan kekerasan, lo harus nikahin gue," katanya membuatku langsung menutup gorden dan tidak berani lagi melihat ke arah Serafin.
"Mama bagaimana ini."
Aku semakin panik saat Serafin terus berteriak. Jangan sampai mama tau kalau aku melukai tentang sebelah yang sesang pamer roti sobek. Mama sangat menyayangi Serafin. Bisa habis aku kalau mama tau aku menyakiti Serafin. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan.
Suara benturan pelan di jendela kamarku dan pintu yang menghubungkan balkon kamar membuatku terganggu. Suara-suara itu terus saja terdengar sejak pagi buta. Siapa lagi pelakunya kalau bukan tetangga sebelah yang unik bin ajaib.
Dia pasti sedang melakukan hal aneh lagi untuk menarik perhatianku. Dia benar-benar sangat aneh. Baru kenal saja sudah mengajak menikah. Tentu saja aku menolak. Tidak ingin salah pilih suami tentunya.
Saat aku membuka pintu balkon kamarku. Puluhan, atau mungkin ribuan pesawat kertas warna-warni sudah bertebaran di sana. Bahkan masih ada pesawat yang melayang, mendekat padaku.
Pelakunya tersenyum senang padaku. Sambil terus melempar pesawat-pesawat kertasnya kearahku. Kali ini pesawat berwarna pink tepat mendarat di bahu sebelah kiriku. Aku mengambilnya dan melemparnya balik padanya.
Dia tersenyum senang sambil menangkap pesawat kertas itu dan mengarahkan pada dadanya. Paling membuatku heran adalah, dia hanya mengenakan handuk saja. Menutupi pinggangnya hingga ke atas lulut. Dia dengan santainya melambaikan tangan padaku. Seakan-akan dia sedang berpenampilan normal.
Rambutnya masih basah dan menetes ke dada bidangnya yang nampak mempesona. Senyumnya kadang tulus, kadang juga menyeringai. Perutnya yang kotak-kotak membah keindahan yang ada pada dirinya. Anak sekarang mengatakan jika itu roti sobek.
Anak yang dibanggakan mama ternyata tidak hanya mesum, sangean, tapi juga tukang pamer. Pagi-pagi sekali sudah pamer roti sobeknya pada anak perawan sepertiku. Benar-benar tetangga yang unik. untung saja orangnya tampan. Kalau tidak aku sudah beriak dan memanggil polisi untuk menangkapnya.
"Ayo terima lamaran gue Lunar. Jadilah istri gue," katanya berteriak dari seberang sana, tepatnya di balkon kamarnya yang terdapat banyak pesawat kertas warna-warni.
"Berisik! Bisa gak lo gak ganggu gue lagi. Kepala gue rasanya mau pecah menghadapi tingkah aneh lo yang luar biasa," kataku kesal. Serafin dengan cepat menggeleng kuat. Rambutnya mengikuti gerakan kepalanya sehingga air menetes lebih deras dari rambut basahnya.
"Gak bisa lah. Kecuali lo nerima lamaran gue. Gue punya gak bakal ganggu lo lagi deh. Gue janji, tapi ya lo harus nikah sama gue," katanya sambil tersenyum manis, tapi bagiku itu senyum mesum. Dasar tetangga mesum!
Serafin terus melempar pesawat-pesawat kertas padaku dengan tempo semakin cepat. Sehingga di depanku dipenuhi pesawat kertas yang melayang mendekat kearahku.
Sebenarnya beberapa hari yang lalu Serafin semapat ngambek padaku. Dia mendiamkan aku, karena tidak kunjung mendapat jawaban dari lamarannya. Hanya saja strategi ngambeknye tidak berpengaruh padaku. Sehingga dia menganti strategi yaitu terus menganggu aku dengan segalam macam cara.
Setelah dia ngambek karena lamarannya tidak mendapatkan jawaban pasti. Dia Menganti strategi untuk mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Serafin udah. Nanti repot buat bersihin ini semua," kataku. Sebenarnya aku takut juga tergoda dengan usahanya yang unik dan bisa dibilang romantis. Hanya saja penampilan sedikit aneh, tapi bisa membuat debaran di dada. Bertelanjang dada dengan bentuk tubuh yang seperti artis korea, wajah tampan dan senyum jahil yang ceria. Sungguh pemandangan indah di pagi hari. Seandainya sifatnya tidak aneh mungkin aku juga bisa langsung suka padanya.
Sayangnya saat pertama kali bertemu saja. Serafin sudah memperlihatkan keanehannya. Sehingga wajah tampannya yang mempesona gugur dengan keanehan sifatnya.
"Gitu doang lo ngeluh. Gue buat ini semalam, sampek gak tidur. Tangan gue juga kegores kertas," katanya sambil menunjukan tangannya yang terdapat plester. Jari-jari tidak hanya dibalut oleh satu plester saja, tapi beberapa. Bahkan satu jarinya terdapat tiga buah plester.
"Gue kan gak minta. Itu kemauan lo sendiri," kataku cuek.
"Gak minta sih, tapi gue inisiatif. Siapa tau lo terharu dan nerima lamaran gue. Mau buat catatan juga sih, tapi isi sama kayak kemarin."
Aku menepuk keningku. Serafin ini memang unik sekali. Selalu punya hal yang membuatku bingung. Kemarin ngambek, sekarang malah melempar pesawat kertas. Besok apa lagi yang akan dia lakukan untuk menarik perhatianku.
"Lagian orang gila mana yang langsung mau menerima lamaran laki-laki aneh seperti lo."
"Gue gak aneh! Itu kejujuran dari gue. Memulai hubungan dari kejujuran dan kejujuran gue itu. Ah, tapi malah gak dihargai.
"Lo terlalu frontal," kataku kesal.
"Masa iya gue harus pura-pura sok manis kayak kucing padahal singa. Gue jujur, biar lo juga gak dalam bahaya. Gue kan gak mau sesuatu yang gue mau terjadi," katanya sambil nyengir. Bibir tipisnya terbuka dan memperlihatkan gigi putih yang berbaris rapi. Gigi taringnya yang tampak lebih runcing dan tajam dari gigi lain terlihat sangat jelas.
Saat tersenyum matanya juga menyipit. Alis tebal juga ikut bergerak menurun sedikit. Satu yang paling mempesona iris matanya yang besar dengan warna hijau terlihat sangat berbinar. Jarang sekali laki-laki yang memiliki iris hijau yang besar. Iris hijau itu sangat mendominasi bola matanya. Ditambah bulu mata panjang dan lentik.
Bisa dikatakan Serafin adalah laki-laki tertampan yang pernah aku lihat. Apalagi hidungnya juga mancung dan memiliki kulit putih yang sehat. Hanya satu minusnya, dia sangean. Serafin yang mengutarakan padaku.
"Intinya gue harus harus mikir-mikir dulu."
"Mikirnya gak usah lama-lama. Gue kan udah jujur," protesnya.
"Gue gak mau dapat buaya panuan!"
"Gua manusia. Lo lihat sendiri gak ada, ciri-ciri buayanya. Gak panuan juga," katanya sambil memutar badannya memperlihatkan tubuh mulusnya.
"Atau lo mau lihat yang ini," katanya sambil memegang handuk dan melepaskannya. Aku langsung refleksi mengambil majalah di atas meja dan melempar pada Serafin.
Majalah yang kulempar langsung mengenali wajahnya. Hidungnya sampai memerah. Majalah itu tepat jatuh ke lantai serentak dengan handuk yang dia pakai. Ternyata Serafin menggunakan boxer di balik handuknya.
Aku menatapnya dengan rasa bersalah. Apalagi saat darah mulai menetes dari hidung mancungnya. Matanya berkedip beberapa kali dan menatapku lurus.
"Lo harus tanggung jawab. Lo harus nikahin gue sekarang," katanya lantang. Aku langsung berlari ke dalam kamarku dan menutup pintu balkon. Aku benar-benar tidak menyangka kalau lembaranku mengenai wajahnya dan membuat dia mimisan. Apakah lemparanku sekuat itu?
"Maaf, gak sengaja," katu sambil mengintip dari balik pintu kaca. Semoga dia baik-baik saja dan tidak terluka sama sekali. Setidaknya walaupun dia terluka tidak parah.
"Lihat aja gue bakal tuntut lo. Sudah melakukan kekerasan, lo harus nikahin gue," katanya membuatku langsung menutup gorden dan tidak berani lagi melihat ke arah Serafin.
"Mama bagaimana ini."
Aku semakin panik saat Serafin terus berteriak. Jangan sampai mama tau kalau aku melukai tentang sebelah yang sesang pamer roti sobek. Mama sangat menyayangi Serafin. Bisa habis aku kalau mama tau aku menyakiti Serafin. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan.