Bab 1

Namanya juga mendung. Tak selamanya ia mampu mengundang hujan. Hadirnya hanya memberi isyarat kepada makhluk bumi agar lebih siap ketika hujan turun kembali membasahi. Sedia payung sebelum hujan, mungkin suatu selogan yang tidak asing lagi terdengar pada sepasang telinga kita. Perihal mendung dan hubungan, seakan menjadi sebuah kalimat yang berbeda, namun hampir mirip dalam pemberian makna. Bagaimana tidak? Ketika mendung mampu hadir tanpa memberi hujan, begitupula sebuah hubungan. Ia mampu hadir memberi kenyamanan, datang dengan sebongkah kata kepalsuan. I love you, I Miss You, dan lain sebagainya. Namun tanpa berdasarkan sebuah rasa sayang yang timbul dari perasaan.

Aku menamainya sebagai sebuah tabir dari kepalsuan. Dan hal demikian adalah salah satu hal yang paling aku takutkan dalam sebuah hubungan. Bagaimana tidak? Ketika kita sudah merasa nyaman dengan suatu hubungan, kita hanyut dalam asmara perasaan, terlebih kita mendengar kata I Love You, ataupun berupa tulisan dari dirinya yang ditunjukkan untuk kita. Kita bahagia, tentu saja. Karena dia yang mengatakan atau menuliskan adalah orang yang kita anggap istimewa dalam hidup, dan ternyata dia datang dan mengatakan hal demikian tanpa didasari dengan sebuah rasa sayang. Sakit, tapi tak berdarah kawan.

Panggil saja aku Fuad, seorang laki laki yang sedang merasakan sakit karena seorang wanita. Wanita yang aku anggap istimewa, wanita yang aku anggap mampu menjadi alasanku bahagia. Dan ternyata seperti yang aku takutkan sebelumnya, dia datang dengan sebongkah cinta, lalu pergi meninggalkan sebuah luka.

Tepat hari ini, hari dimana memasuki tahun ke 2 hubungan asmara yang telah dirajut bersama. Dan kandas dengan begitu indahnya. Ada laki-laki lain yang datang, dan berhasil merebut hatinya. Pedih, tragis, mengenaskan jika boleh aku katakan. Rencana hubungan melangkah sampai jenjang pernikahan, namun kenyataan harus kandas ditengah jalan.

"Beb, ada waktu libur Minggu ini?" Aku teringat dia memberi pesan singkat, dan begitu indah terlihat pada layar gadget-ku.

"Ada, Beb, besok malam Minggu." Balasku singkat.

"Kita jalan ya, ada sesuatu hal serius yang harus aku katakan." Chelsi kembali membalas tak berselang lama.

Chelsi, itulah nama perempuan yang pernah menjadi kekasihku kala itu. Perempuan dengan paras yang sangat luar biasa. Dari ujung rambut dikepalanya, sampai ujung kaki jarinya. Rasa-rasanya dia adalah bidadari dari surga yang sudah Tuhan ciptakan dan hadirkan didunia. Sempurna, aku menilai dirinya. Dari fisik yang dimiliki olehnya, adalah salah satu alasanku mengagumi dirinya. Terlebih sifat yang dimiliki, ketika dia melontarkan sebuah kalimat dari mulutnya, seakan itu adalah musik simponi yang begitu indah aku dengar. Menentramkan, seakan duka seketika sirna ketika mendengar suara darinya. Jika suaranya saja mampu memberi efek demikian, apalagi senyum yang terpancar. Luar biasa, salah satu alasan aku menyempatkan namanya disetiap doa yang aku pinta.

Malam Minggu, malam yang sebelumnya tak pernah aku pikirkan akan menjadi seperti ini jadinya. Malam yang aku anggap menjadi sebuah kebahagiaan seperti malam-malam sebelumnya, nyatanya berbalik dengan ekspektasi yang ada dalam pikiran serta hati.

"Hay Beb, bagaimana kuliahmu?" Aku membuka percakapan diantara kami.

"Baik Beb, ya.. beginilah. Sibuk terus ngejar skripsi." Tutur Chelsi sembari menyerutup teh tarik kurma kesukaan yang pasti dia pesan ketika kami bersama.

Dari sini aku sudah merasa aneh, tidak sepertu biasanya. Sikap Chelsi, sungguh tidak seperti biasanya yang periang.

"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanyaku.

Dia hanya diam, sembari sesekali menatapku dengan wajah penuh kesedihan.

Pikirku semakin penasaran saja dibuat olehnya. Ada apa? Batinku. Padahal rasanya tidak ada masalah antara hubungan kita. Ditengah-tengah kalimat tanya yang aku rasakan, Chelsi akhirnya membuka percakapan.

"Kamu cinta beneran sama aku?" tanya Chelsi, sebuah pertanyaan yang seakan tidak pantas diucapkan.

"Kau benar-benar menanyakan hal itu?" balik aku bertanya.

Chelsi hanya menghela napas panjang. Dia menengok kekanan kekiri mengisyaratkan sebuah kegelisahan.

Aku seakan dibuat bingung atas sikapnya seketika.

"Beb, tak pantas rasanya kau menanyakan hal demikian. Padahal sedang aku usahakan untuk segera menjalankan pernikahan denganmu setelah kelulusan." Ucapku.

Chelsi hanya diam, tak berucap.

"Aku sisihkan uang dari sedikit untuk biaya pernikahan seperti yang pernah kita janjikan. Bagaimana pantas kau menanyakan hal demikian?" kembali aku berucap dengan pertanyaan memojokkan.

Chelsi kembali menyerutup teh tanpa menikmatinya.

Segera dia mengeluarkan sesuatu dari tas miliknya. Ia menyodorkan pelas diatas meja, sembari berkata lirih.

"M-mmaf" itulah kata lirih yang terlontar dari bibir manisnya.

"Apa ini?" Segera aku raih sesuatu itu, aku buka dengan penuh rasa.

Happy Wedding

Ali & Chlesi

Aku tidak melanjutkan membukanya.

"Beb, apa ini?" tanyaku masih tak percaya, dan tidak tahu maksutnya.

Chelsi hanya memalingkan wajah, dan kulihat pipinya basah oleh air mata.

"Beb!" Dia sama sekali tak mengubris panggilanku. Dia hanya tersedu sedu menahan tangis, tanpa berucap sepatah kata.

Aku lanjutkan saja membuka sesuatu itu. Dan boom, rasa seperti tersayat seribu pedang tumpul, bagai tersambar petir yang menggelegar menyambar. Aku terdiam, gemetar tak karuan. Demikian pula dengan Chelsi, sesekali tatapan matanya kepadaku menambah duka yang tak terencana itu.

"Ali? Kau mau menikah dengan Ali? Yang kau katakan laki-laki yang pernah datang dengan janji, dan pergi menancapkan duri?" aku masih dibuat tidak percaya dengan kenyataan yang ada.

Seperti awal perkenalanku dengan Chelsi di cafe yang sedang kami tempati. Aku mengenal dia dari saling tatap, dan aku beranikan diri untuk berkenalan, hingga sampai saat ini sukses menjalin sebuah hubungan.

Ali adalah laki-laki yang pernah menjadi alasan Chelsi menjadi patah hati. Dan meninggalkan Chelsi 2 tahun lalu tanpa alasan. Begitulah yang aku ketahui sedikit cerita dari mereka. Aku tak pernah mengungkit masa lalu milik mereka, hingga aku tersadar bahwa Chelsi, perempuan yang sudah aku jadikan komitmen sampai pernikahan, ternyata masih memendam perasaan terhadap mantannya.

"Tolong jelaskan ini Beb," Aku meminta penjelasan kepada Chelsi dengan nada lirih.

Chelsi sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata kecuali maaf tadi. Ia hanya menangis, meneteskan air mata. Lalu bergegas pergi meninggalkanku sendiri dengan undangan pernikahan miliknya.

Aku terdiam, mengeluarkan bungkus rokok dalam saku jaket. Menghisapnya perlahan, meremas undangan yang telah diberikan. Aku masih tetap terdiam dengan seribu satu tanda tanya yang belum aku temukan jawabannya.

Dia tidak mencintaimu, dia hanya kesepian dan kebetulan ada kamu.

Satu quotes dari Wira Nagara yang begitu pas jika aku rasa.

Tidak menutup sebuah kemungkinan, bahwa hadirku dalam hatinya, hanyalah suatu pelampiasan semata. Pelarian atau apalah istilahnya. Sungguh, hal demikian begitu sakit sesak jika dirasakan.

Untuk sesaat, dengan kopi aku mampu melupakanmu, kekasih. Kini tinggal mencari cara untuk berhenti merindukanmu.

Ujar temanku yang pernah mengatakan hal itu.

Bab 2

Terlepas dari kisah asmara yang berhenti ditengah jalan dengan sia-sia. Setidaknya, masalah demikian menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga dalam hidup. Tidak mudah terlena atas sikap nyaman yang diberikan, tak selamanya hal demikian merupakan wujud sebuah cinta, bisa jadi hal itu hanyalah pelarian semata.

Pagi-pagi sekali, aku kembali menyiapkan diri untuk mencari rezeki. Jika sebelumnya, ada satu motivasi besar untuk menyiapkan masa depan perihal mahar pernikahan. Untuk kali ini, rasa-rasanya begitu hambar jika boleh aku katakan. 1 tahun telah berlalu dengan semangat pernikahan, kini untuk apa? batinku kala itu.

"Berangkat kerja Ad?" Tanya Wak Edwin melintas didepan teras rumahku.

"Iya Wak, lari pagi Wak?" Aku berbalik tanya kepada Wak Edwin yang terlihat sedang melakukan rutinitas setiap hari, lari pagi.

"Hehehe, iya Ad. Biar sehat, dalam rangka mengolah raga serta rasa, agar saat sedih kembali menghampiri, tidak lagi takut patah untuk beberapa kali!" ujar Wak Edwin sembari mengacungkan dua jari telunjuk dari sepasang tangannya. Dengan tawa lebar dari mulutnya, membuat seketika itu juga aku ikut tertawa.

"Wkwkwk, gak ada obat emang Wak Edwin." Ujarku.

"Usia boleh tua, pikiran raga tetap harus lebih muda. Ya udah Ad, Wak lanjut lari dulu. Sambil nyari inspirasi lihat ibu-ibu komplek sebelah. Hehehe." Wak Edwin berlalu sembari melambaikan tangan kepadaku.

Aku hanya tersenyum mengiyakan saja.

"Etdah, udah tua masih aja nih orang" Batinku kala itu.

Setelah memakai sepatu, dan segalanya siap. Aku berangkat. Menstater sepeda motor matic hasil keringatku sendiri. Dengan sedikit tak bersemangat, aku paksakan raga untuk tetap berjuang menggapai segala impian. Mengingat keluarga dari kampung yang semua kebutuhan bisa dikatakan pas-pasan. Aku harus berjuang, dan aku harus berjuang. Itulah yang harus aku tanamkan.

Kurang lebih pukul 7 lebih 15 menit, aku sampai ditempat kerja. Dalam pandangan mata, terlihat masih seperti pagi-pagi sebelumnya. Hingar bingar suasana kendaraan melintas mengisyratkan segala kesibukan pagi disuatu kota. Salah satu pemandangan yang tak asing. Lekas aku bergegas masuk ke kantor.

"Pagi, Ad!" Della menyapaku dengan nada yang agak kurang enak didengar. Malah berkesan seperti membentak.

"Eh, pagi juga Del," aku yang sebenarnya juga sedang tidak baik-baik saja, mencoba tidak menampakan apa yang sebenarnya aku rasakan.

"Pupus, pupus, pu..pus." Ujar kembali Della.

"Hey, what happened?" Aku bertanya berlagak memakai bahasa Inggris.

Della hanya melirikku dengan tatapan sinis.

"Heelllehh, sok-sokan Inggris Lu Ad!" Ujar Della.

"Wkwkwk, biar gaul ah, katanya Bahasa Inggris adalah bahasa Internasional, tidak salahkan jika anak penggembala sapi dari kampung menggunakannya?" Ujarku.

"Mulai lagi kan, mendeskripkan segala sesuatu yang dikatakan." Della berujar.

"Eh, ya gimana ya.. soalnya.. " belum sempat aku menyelesaikan perkataan. Della sudah meninggalkanku, sepanjang jalan menuju ruang kantornya, dia memaki siapa saja yang ditemui. Seperti orang yang sedang frustasi dalam suatu keadaan.

"Aneh emang ni orang" ucapku lirih.

Aku kembali melanjutkan melangkahkan kaki menuju ruang kerjaku. Satu persatu berpapasan dengan teman kerja, dan tidak lupa saling bertegur sapa dengan suasana hati yang berbeda.

"Yok bisa yok!" aku berkata kepada diriku sendiri didepan layar komputer yang sudah mulai aku hidupkan.

Deadline pekerjaan mulai aku kerjakan, dengan suasan hati yang sedang tidak baik-baik saja. Menjadi salah satu hal yang berat untuk memfokuskan pikiran. Untuk hari ini, serasa sangat sulit, sangat berat. Tanpa inspirasi, tanpa semangat, dan tidak ada lagi dia yang selalu menghubungi diwaktu aku meminta sebuah masukan atas permasalahan yang ada dalam pikiran.

Aku sandarkan pundak pada kursi, menatap atap yang seakan hanya berwarna putih tanpa ada warna lainnya. Aku menghela nafas panjang mencoba menenangkan. Sembari kembali menutup mata berharap ada sesuatu menyenangkan yang bisa kuingat, namun malang sekali suasana pikiranku kala itu. Hanya mengingat kenangan-kenangan manis tentang Chelsi, kenangan manis yang begitu indah, layaknya sekuntum bunga dihinggapi oleh kupu-kupu yang sudah dinanti setiap pagi. Sungguh indah kawan, tapi pahit sekali jika dirasakan. Semuanya hanyalah kenangan yang akan terus terkenang, tidak ada lagi harapan. Dia sudah memilih jalan yang terbaik menurutnya. Bukankah awal tujuanku bersamanya adalah membuatnya bahagia? Lalu kenapa aku harus bersedih ketika dia lebih memilih jalan lain untuk meraih sebuah kebahagiaan?

Tok.. tok.. tok..

"Ya, silahkan masuk!" ujarku mendengar suara ketokan pintu ruang kerja.

Kulihat Della mengendap-endap masuk keruang kerjaku, sembari menoleh kekanan kekiri memastikan tidak ada yang melihat dia masuk ketempat ruang kerjaku.

"Eh, tumben lu kesini." Ujarku.

"Ssttt, diem lu!" Della mengisyaratkan jari telunjuk dimulutnya agar aku tidak terlalu keras bersuara.

"Nanti malam ada waktu kosong nggak?" Tanya Della.

"Iya ada, gimana?" Jawabku.

"Temenin gue keluar ya, nanti gue hubungi, jemput didepan rumah." Belum saja aku menyanggupi ajakannya, Della sudah bergegas keluar.

Della, adalah salah satu perempuan ditempat kerja yang memiliki paras cantik. Terkenal sebagai Playgirl, gonta ganti pasangan seenak jidatnya. Wajar saja, kecantikan serta kepintarannya membuat setiap kaum Adam yang mengenalnya, pasti akan jatuh hati padanya. Termasuk aku, jika boleh jujur.

Sebelumnya, suatu keistimewaan tersendiri bila bisa jalan bareng Della, tidak setiap laki-laki mampu melakukannya. Boleh jadi punya banyak harta, memiliki wajah tampan, tapi jika Della tidak merasa nyaman, sia-sia sudah apa yang dimiliki oleh sang laki-laki.

Seistimewa-istimewa seorang Della, walau aku juga diam-diam menaruh rasa. Rasanya tetap hambar saja. Mengingat aku sedang dalam posisi berat yang sedang aku perankan.

Tak terasa saja, jam ditangan menunjukkan pukul 4 lebih 30, menandakan jam kerja sudah selesai. Meski tidak bisa semaksimal hari-hari sebelumnya, tapi aku tetap harus berterima kasih kepada diriku sendiri yang sudah mau menemani sampai selelah ini.

Aku bergegas dari tempat kerja, kembali berpapas dengan teman kerja dengan suasana raut wajah yang berbeda, ada yang masih terlihat semangat, atau malah ada yang terlihat lebih lelah daripada aku. Aku belajar dari hal demikian, mereka semua mempunyai masalah dalam hidup yang dijalani. Tapi ada yang pandai untuk melalui, dan ada pula yang malah menjadi pembunuh semangat diri.

"Oiy Ad, cepet jemput gue!" notif pesanku dari Della.

"Eh, maaf Del, lelah banget gue hari ini, besok malam aja ya? Lagi gak enak nih suasana hatinya. Hehehe, maaf ya." balasku meminta maaf kepada Della.

Belum semenit saja dia lekas buru-buru menelfon.

"Oiy Ad!"

"Oiy juga." Balasku dengan suara lemas.

"Suasana hati apaan coba! Bilang aja malas jemput!" Della mengomel.

"Ya nggak gitu"

"Gue jemput lu sekarang, pokoknya harus jalan malam ini! Temaenin gue!"

Belum sempat aku kembali menjawab, Della juga langsung menutup telvonnya.

"Etdah nih orang kalau punya mau mesti harus terlaksana dalam satu waktu. Tapi, kapan lagi sih bisa jalan sama Della, mana dijemput lagi. Wkwkwk" batinku seakan lelah hilang seketika.

Aku yang tahu ketika Della mempunyai suatu keinginan tidak bisa tidak, cepat-cepat saja bergegas menyiapkan diri sembari menunggu didepan rumah. Benar saja, tak berselang lama dia sudah sampai. Dengan vespa matic putih miliknya, menambah karisma tersendiri bagi seorang perempuan. Baju flanel layaknya anak muda sangat pantas sekali dikenakan oleh badannya.

"Welleh welleh cantiknya" ujarku sembari menghampirinya.

"Emang dari dulu gue cantikkan!" masih dengan nada seolah membentak, raut wajahnya sedang tidak menggambarkan suasana yang baik.

"Wkwkwk, asli kalau ini mah, kayak ada sesuatu berat dalam hidup." Ujarku.

"Heh, buruan naik! Lu yang depan" Della kemudian turun dari sepeda motor dan beralih duduk dijok bagian belakang. Bergegas aku naik dan memacu sepeda motor dengan penuh perasaan.

Sepanjang perjalanan rasa kaku begitu dirasakan, hingga aku memberanikan diri membuka kembali pembicaraan.

"Mau kemana Del?"

"Terserah lu aja!" masih sama seperti sebelum-sebelumnya dengan nada yang tak enak jika didengar. Untung saja aku masih sabar, bayangkan saja, aku yang tidak tahu menahu duduk permasalahan, dan aku sendiri pula yang dijadikan pelampiasan. Disisi lain, aku sendiri sedang dirundung duka karena sebuah janji yang berkahir dikhianati.

Tanpa berpikir panjang, aku belokkan saja diangkringan.

"Eh Ad, gile lu ya?" Della kaget ketika aku membelokkan sepeda motornya disebuah angkringan pinggir jalan.

"Tadi katanya terserah, udah turun aja!" Perintahku padanya.

"Ya terserah sih terserah, tapi kan masih ada tempat lain, starbuck atau apalah!" Della yang masih angkuh tidak mau turun dari sepeda.

"Belum pernah nyoba makanan angkringankan?" tanyaku.

Della hanya menggelengkan kepala, aku tinggal saja dia.

"Bang, susu jahe satu!" Pesan aku kepada Abang yang jualan.

"Oh ya mas, minum sini atau bungkus?" Tanya abang penjual.

"Sini aja bang"

Sembari menyiapkan susu jahe, aku santap saja sate usus beserta saudara-saudaranya, sesekali aku tatap Della dari kejauhan. Dia sibuk memainkan ponsel miliknya, dan sesekali pula menatapku dengan penuh wajah kesal. Aku cuek saja bersama menikmati sate dengan penuh nikmatnya. Setelah beberapa saat, akhirnya Della luluh, dan datang menghampiriku.

"Emang gile lu ya!" Della dengan nada kesal, "minuman apa ini?" Della melanjutkan.

"Coba saja dulu, belum aku minum itu, nanti kalau suka langsung pesan aja." Aku menyuruh Della.

Tanpa banyak kata lagi, dia mencicipi minuman susu jahe yang aku pesan. Dari raut wajahnya, awalnya seperti biasa saja. Namun selanjutnya langsung saja Della memesan.

"Bang saya juga pesan satu!" Della ikut memesan minuman susu jahe.

"Wkwkwk, lucu ya lihat kamu. Hehehe" ujarku meledek.

"Diem lu!"

Beberapa saat kami diam, Della sendiri yang tak tahan.

"Ad ... " dengan nada memelas.

"Apa?" aku memandangnya, yang kulihat dari raut wajahnya penuh penyesalan.

"Gimana ini?" sembari kulihat air matanya menetes satu persatu.

Kali ini aku tidak bisa menganggap sebagai sebuah pencitraan, seorang Della sosok periang meneteskan air mata. Pasti sedang berjalan hal yang tidak baik-baik saja.

"Eh, ngapain lu?" aku yang malah berbalik tanya kepada dirinya.

"Soni Ad!" Della menyebut nama kekasihnya.

"Iya kenapa Soni? Sehat kan?" Aku yang malah dibuat bingung melihat keadaan demikian.

Della tidak menjawab hanya sibuk menscroll kembali ponsel miliknya.

"Hei Del !! Ada apa coba?" Aku kembali bertanya serius.

Tetap saja Della hanya diam tidak menjawab. Untuk beberapa kali, dia kemudian meneteskan air mata kembali. Tanpa banyak kata, dia memperlihatkan undangan yang sudah tersimpan diponsel miliknya.

Kurang lebih pula seperti kisahku, sebuah undangan pernikahan dari orang yang tersayang.

Wedding

Soni & Lutvia

Sungguh aku paham apa yang dirasakan Della kala itu. Bagaimana tidak? Aku juga sedang dalam keadaan demikian. Tapi rasanya tidak pantas jika aku juga ikut menceritakan, bukankah Della mengajakku agar dia bisa lebih sedikit tenang? Bukan juga untuk mendengar apa yang aku rasakan? Aku coba menenangkan Della dengan merangkulkan tangan kepundaknya. Della semakin keras saja suara isak tangisnya. Dalam keadaan sama-sama meratap meski aku tidak menampakkan, suara Abang Angkringan mengubah keheningan.

"Ini mbak susu jahenya." Sembari menyodorkan susu jahe yang sudah siap untuk diminum.

"Gak jadi Bang!" Della menolak pesanan, dan kembali melanjutkan tangisnya dengan memelukku. Abang angkringan hanya cengingisan.

Aku menahan tawa dan mengisyaratkan kepada Abang angkringan untuk tetap tenang. Untung saja abangnya juga memaklumi. Emang gila nih orang, semua seakan harus tahu keadaan suasana milik dirinya.

Setelah reda tangisnya, aku coba menenangkan dengan sedikit kata.

"Gimana? Udah enakan?" Tanyaku.

Della yang ternyata dari tadi tidak sadar memelukku saking emosionalnya, sontak kaget dan melepaskan pelukan.

"Eh, ma.. maaf Ad." Ujar Della merasa bersalah.

"Iya iya gak papa, santai saja." Ujarku, padahal dalam hati kecil berkata.

"Duh Tuhan, begitu hangatnya dalam dekap peluknya, itupun dalam keadaan duka, bagaimana kalau sebaliknya?" Batin hati kecilku.

"Diminum Del!" Ucapku.

Dia kembali tidak menjawab, dan langsung meminum menikmati susu jahe yang tadi dia batalkan.

Abang angkringan tidak tinggal diam,

"Katanya tadi tidak jadi?" sembari mengelap gelas yang habis dicuci.

Della hanya menatap abang angkringan dengan tatapan tajam.

"Del, udah lah. Lekas dihabisin minumannya, udah malam juga" ajakku.

Untuk kali ini Della mengiyakan dan lekas menghabiskan. Setelah Della selesai. Bergegas aku membayar.

"Ini aja Ad uangnya" sembari menyodorkan uang 100ribu.

"Kebanyakan ini Del, udah pakai uangku aja." Ucapku.

Langsung saja Della memberikan uang kepada abang angkringan.

"Nih bang, kurang nggak?"

"Waduh, gak ada uang kembalinya Mbak." Tutur abang angkringan.

"Udah ambil kembaliannya!" Sembari Della bergegas meninggalkan angkringan.

"Ya udah bang, makasih ya." Ucapku.

"Ya ya mas, bilangin ke mbknya. Makasih banyak gitu ya Mas." Tutur abang angkringan dengan senyum lebar.

Aku hanya membalas senyum, dan bergegas menyusul Della menuju sepeda motor.

Bukan karena apa aku tidak memberi masukkan kepada Della. Pertama, aku juga dalam keadaan demikian, takutnya nanti malah keblabasan ikut bercerita. Kedua, ketika dalam keadaan demikian pula, sebenarnya seseorang hanya butuh ketenangan. Menenangkan pikiran perasaan, terlebih peluk penuh kasih sayang.

"Langsung pulang Del?" Tanyaku.

"Iya Ad, makasih aja udah mau nememin keluar. Maaf ya Ad, gak bermanfaat banget ini keluarnya." Ujar Della sembari memakai helm bogo miliknya.

"Kata siapa gak bermanfaat? Ini buktinya perutku kenyang Del. Hehehehe" ucapku dengan sedikit tawa.

Della ikut tawa,

"Bisa aja kamu ya." Kudengar nadanya kini sudah tidak seperti tadi, kini lebih halus dan nampak raut wajah lebih lega setelah melampiaskan kekecewaan dirinya dengan air mata.

Belum sempat aku memacu sepeda motor, ponselku bergetar. Dan buru-buru aku melepaskan helm dan mengambil ponsel dari saku celanaku.

Ibuk..

Terpampang nama kontak Ibu menelvonku.

"Malam Ad" Ibu membuka pembicaraan.

"Malam juga Bu, tumben jam segini nelvon. Ibu dan Bapak dirumah semua sehat kan?" Ucapku.

"Alhamdulillah sehat Ad, kamu besok bisa pulang?"

Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba saja terdengar.

"Eh ya nggak bisa Bu, soalnya ini hari kerja. Hari Sabtu sore mungkin bisa. Emang ada apa Bu?" Balik aku bertanya.

"Kakek rawat inap di rumah sakit Ad, udah 3 hari ini. Dari kemarin nanyain kamu mulu kapan pulang."

"Kakek rawat inap Bu? Llah, ya ya, besok Fuad usahakan pulang."

"Iya Ad, pulang ya. Gak tega Ibu lihat kakekmu, dari kemarin nanyain kamu mulu."

"Ya Bu, besok Fuad minta ijin dulu kekantor."

"Ya udah gitu aja Ad, hati hati besok dijalan. Assalamualaikum" Ibu menutup televon.

"Iya Bu, Fuad usahakan. Waalaikumsalam"

"Dari siapa Ad?" Tanya Della.

"Ini dari Ibu, ngabarin kalau kakek rawat inap di rumah sakit."

"Terus lu mau pulang kampung gitu?" Della dengan penuh simpati kembali bertanya.

"Lhah iya mungkin, soalnya kakek nyari aku terus gitu kata Ibu. Semoga aja besok bisa ijin kerja satu minggu kedepan." Ucapku.

"Eh Ad, aku boleh ikut?" Pinta Della.

Aku hanya menatapnya, ingin menolak rasanya tidak enak. Kalau mengiyakan takut dikampung nanti jadi bahan omongan.

"Ya boleh sih, tapi aku kagak enak sama Ayah Bunda lu, Del" aku mencari alasan.

"Udah masalah itu nanti bisa aku bicarakan. Hitung-hitung juga kan nyari ketenangan disuasana kampung. Belum pernah aku soalnya." Della menjelaskan.

"Ya bolehlah kalau gitu." Ucapku menyerah takut mengecewakan.

Bergegas aku memacu sepeda motor pelan-pelan. Disepanjang jalan rasa pikiran kembali melayang tak karuan, problematika pertama yang belum sirna, tiba-tiba muncul kembali problematika kedua.

"Arrrghh, semoga aku kuat Tuhan." Ucapku lirih.

"Maaf ya, Ad." Della mulai kembali memelukku dengan penuh kasih sayang.

Aku tak menjawab, hanya saja semakin merasa deg-degan tidak karuan.

"Ah nih orang, emang tidak tahu keadaan,"

batinku kembali.

Bab 3

Seperti yang telah direncanakan sebelummlnya. Aku segera mungkin mencari bos di tempat kerjanya. Meminta izin cuti kerja, karena Aku tahu, aku masih membutuhkan pekerjaan itu. Malamnya, aku mengemas pakaian serta keperluan yang memang dia perlukan untuk dibawa pulang ke kampung halaman.

"Banyak juga ternyata," ujarku setelah selesai memasukkan segala keperluan yang dibutuhkan.

Aku masih ragu malam itu. Apakah benar-benar akan mengajak Della atau tidak, mungkin jika posisi Della adalah laki-laki akan berbeda cerita. Dia perempuan, dan Aku tahu batas antara laki-laki dan perempuan. Wajar saja, aku memanglah terkenal sebagai laki-laki pendiam, dan awam dalam hal pergaulan.

Bergegas aju mengambil gadget milikku,

"Malam, Del," tulisku mengirim pesan via whattsapp.

Lama sekali Della menjawab, sesekali aku menghidup matikan gadget canggih milikku. Mengharap balasan dari Della. 30 menit telah berlalu, namun tidak ada jawaban dari Della. Malah notifikasi grup semasa SMP saja yang meramaikan gadget miliknya.

"Gini amat ya nasib bujang, gadget boleh canggih, tapi notifikasi kok sepi kaya kuburan," gerutuku meratapi kesepian notifikasi pesan yang tersaji pada layar gadget milikku.

Memang, gadget yang selalu aku idamkan dari masa sekolah kini sudah menjadi kenyataan. Tapi anehnya, aku tidak merasa puas. Bagaimana tidak? Jika dulu gadget jadul milikku sering lemot karena tidak bisa menerima pesan banyak masuk. Kini setelah mendapat gadget impian, malah berbalik realita. Gadget canggih, tapi pesan notifikasi nihil.

"Kampret emang!" batinku menggurutu sembari melemparkan badan diatas kasur.

Aku membuka aplikasi You Tube Music, dan mencari lagu yang kusukai.

Imagine Dragons,

Kata kunci yang selalu dicari dalam platform aplikasi tersebut. Aku rasa, musik yang selalu aku putar, dapat menggugah mood yang sedang berantakan.

Dengan begitu nikmatnya, aku mendengarkan lagu dengan earphone, meski aslinya juga tidak tahu artinya. Ditengah lagu yang sedang aku putar, ada notifikasi pesan masuk. Aku tidak langsung membukanya, pikirku saat itu, mungkin dari grup masa SMP. Setelah menyelesaikan tiga lagu, lekas menggapai gadget yang aku letakkan di samping kepala, bermaksut mengganti track playlist lagu yang didengar, malah terdapat notifikasi pesan dari Della. Sedikit kaget dibuat olehnya.

"Malam juga, Ad. Maaf baru bales, tadi habis minta izin sama ayah bunda kalau besok mau ikut kamu pulang kampung." Della membalas.

Dag dig dug aku membaca pesan tersebut. Sebelumnya aku sudah mempersiapkan alasan agar Della tidak ikut, tapi malah tambah dibuat bingung dengan keadaan demikian.

"Aduh ... emang gila ya ini anak!" gumamku.

"Lantas bagaimana? Boleh?" segera aku membalas pesan Della.

"Ya boleh dong," tak berselang lama Della juga langsung menjawab.

"Duh, bagaimana ini? Masak mau bilang jangan ikut. Padahal Della juga sudah minta izin nyokap bokapnya. Mana dibolehin lagi!" Aku hanya menggaruk-garuk kepala padahal tidak ada rasa gatal sebenarnya.

"Weh, lu beneran mau ikut?" tanyaku.

"Lhah iya, dari kecil pengen banget aku jalan-jalan ke kampung, tapi Ayah Bunda nggak pernah ada waktu. Lha ini juga sekalian jadi kesempatan'kan?" Della lekas kembali menjawab.

Dalam fikiranku kala itu semakin tidak karuan. Tidak enak rasanya ketika harus melarang Della untuk ikut pulang ke kampung halaman. Mengingat itu menjadi salah satu keinginan Della, juga barangkali mampu menjadi pelipur lara kemarin diputus hubungannya, setelah menaruh percaya untuk kedua kalinya.

Kembali aku melemparkan badan diatas kasur. Menghela napas panjang, kemudian bangun mengambil bungkus rokok diatas meja, membakar satu batang dengan menghisap begitu dalam. Aku rasakan kenikmatan dan mampu sedikit menenangkan, sesekali aku memejamkan mata dengan cecar pertanyaan yang ada dalam angan. Calon istrinya Ad? Siapa itu Ad? Cantik banget deh. Widih belum genap 1 tahun udah bawa pulang calon istri!

Pertanyaan-pertanyaan yang timbul sendiri dari angan jika aku benar pulang ke kampung halaman bersama Della.

Tidak terasa pula, aku telah membiarkan pesan dari Della 10 menit lamanya. Sampai Della kembali menghubunginya.

"Oiy Ad! Udah tidur lu ya? Gimana? Jadi'kan besok?" Della kembali mengirim pesan.

Aku kembali dibuat gugup, bagaimana harus menjawab. Padahal aku sedang perang dengan pertanyaan yang aku bayangkan dalam khayal.

"Eh maaf, tadi kebelet ke kamar mandi lupa balas. Jadi Del, tapi pekerjaanmu gimana? Masak juga mau ngambil cuti?" Aku masih saja dipenuhi rasa keraguan untuk mengajak Della pulang ke kampung halaman.

"Helleh, itu mah gampang. Tau kan lu? Gua kerja karena apa? Karena gabut kalau siang dirumah sendirian, kerja juga buat have fun aja." Della membalas dengan begitu cepat.

"Busyeeett emang nih anak, anak Sultan emang. Dia bekerja dalam profit perusahaan dengan gaji besar menurutku, hanya dianggap mengisi kegabutan. Lha aku? Untuk mengejar impian." batinku.

"Ya ya anak sultan. Jadi ... besok, berangkat sekitar jam 8 setelah gue ambil izin di kantor." balasku akhirnya mengalah.

"Oke sip, gue mau packing dulu. Sebulan'kan ngambil cutinya?" Della kembali membalas dengan pertanyaan.

"Etdah, udah gile lu ya? Paling lama mungkin juga cuma 7 hari. Lama-lama bisa dipecat gue dari kerjaan," kembali aku membalas.

"Hahaha, ya mungkin aja ya kan?" Della menertawai pesan yang Della terima.

"Emang kagak waras lu ya, dah lah! Lekas tidur. Biar gak bangun kesiangan besok." Aku mengakhiri pesan dengan memerintahkan Della untuk tidur.

"Siaaapp Fuad, happy a nice dream. Jangan lupa baca doa ya. Biar beneran mimpi indah." Della juga mengakhiri pesan.

Jujur saja, dibalik kegilaan yang diperlihatkan Della, aku sempat terbawa perasaan. Melihat emoticon senyum dengan pipi merah dan juga emoticon peluk yang dia pandang. Aku belum pernah merasakan hal demikian, dikirim dari perempuan yang notabenya juga dia menyembunyikan perasaan. Sesederhana demikian pun, tidak pernah aku dapat semasa dia mempunyai hubungan khusus dengan Chelsi.

Dari kejadian ini pula aku dapat menyimpulkan, mungkin saja kala itu Chelsi datang, maksut hati mencari tempat singgah bukan sungguh. Akan tetapi Fuad juga salah mengartikan. Dan pada ujung-ujungnya berimbas perasaan yang merasa dilukai karena hanya dijadikan sebagai pelarian.

Sungguh ironis sekali untukku dan semua yang telah merasakan, mungkin saja hal demikian terjadi hanya untuk menambah kedekatan sebuah hubungan pertemanan, tidak kurang atau tidak lebih. Tapi aku salah mengartikan, mengartikan serta mengaitkan semua hal dengan perasaan.

Sebenarnya juga sih, sah-sah saja. Tidak ada yang salah, tapi bagaimana pula jika hal demikian menjadikan penyebab sakit berkepanjangan? Kau kira itu sayang? Ternyata pelarian? Atau bahkan hanya dianggap tidak lebih sekadar hubungan pertemanan? Padahal kau sudah terlanjur larut dalam samudera perasaan?

Pesanku untukku juga untukmu,

Belajarlah untuk berteman tanpa melibatkan sebuah perasaan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED