Setelah kepergian Yoga dan Tasya, Laila yang sejak tadi berdiri tegak langsung terduduk di lantai. Air mata yang sejak tadi dia tahan langsung jatuh dengan deras. Mimpi akan rumah tangga harmonis dan bahagia seakan sirna dalam pikirannya. “Tega sekali kamu, Mas. Apa kamu tidak berpikir tentang perasaanku saat ini,” ucap Laila sambil terus menangis. Tidak ada yang bisa dia katakan saat ini. Hanya air mata yang mampu menjadi bukti bagaimana hancur hatinya saat ini. Laila yang sejak tadi duduk di lantai kini sudah duduk di sofa sambil terus menangis dan mengingat kejadian 1 tahun yang lalu. Kejadian dimana Laila baru saja tiba di rumah keluarga Ajeng. “Permisi, Nyonya.” Aminah yang baru saja datang langsung duduk di lantai bersama Laila. “Iya, Aminah. Apa ini Laila putri kesayangan yang selalu kamu ceritakan kepadaku?” tanya Ajeng yang saat itu sedang duduk di kursi roda. Hampir satu tahun ini Ajeng menderita Stroke oleh sebab itu dia terpaksa harus menghabiskan waktunya di atas kursi roda. Semua itu karena tekanan darah yang terlalu tinggi. Kehadiran Laila ke rumah itu memang atas permintaan Ajeng yang menginginkan satu orang untuk merawatnya. “Manis. Putrimu benar-benar gadis yang manis, Aminah.” Ajeng memuji Laila sambil tersenyum. “Terima kasih, Nyonya.” “Anak manis, siapa namamu?” tanya Ajeng dengan ramah. “Laila Wulandari, Nyonya,” jawab Laila sambil sedikit menunduk. “Kamu yakin mau merawat Nenek-nenek lumpuh sepertiku? Bukannya aku tidak yakin kepadamu, tapi yang aku lihat selama ini banyak anak muda yang lebih memilih menghabiskan waktunya dengan berkumpul bersama teman-temannya.” “Insya Allah saya yakin, Nyonya. Karena saya ingin membantu Ibu mencari tambahan uang,” jawab Laila sambil terus menunduk. Sejak saat itu, Laila pun akhirnya menjadi perawat Ajeng. Semua keperluan Ajeng mulai dari mandi, buang air besar dan lain-lain menjadi tanggung jawab Laila. Waktu berlalu dengan begitu cepat, hingga suatu hari Ajeng yang mulai merasa nyaman dengan sikap Laila mengajaknya ke taman yang ada di depan rumahnya. "Laila. Apa kamu sudah punya kekasih atau calon suami?" tanya Ajeng sambil memegang tangan Laila yang saat itu sedang mengambil nasi dengan sendok. "Belum, Nyonya. Lagi pula laki-laki mana yang mau sama wanita miskin dan jelek seperti saya," jawab Laila sambil memasukan nasi ke dalam mulut sang majikan. Ajeng yang saat itu sedang mengunyah makanan hanya bisa tersenyum. Sesaat dia memandang wajah manis gadis yang saat ini ada di hadapannya. Ada rasa nyaman dan tenang saat melihat Laila tersenyum. "Siapa bilang kalau kamu itu jelek. Laila, kalau misalkan saya melamarmu untuk menjadi menantu apa kamu bersedia?" tanya Ajeng hingga membuat Laila terkejut. "Maaf, Nyonya bukannya saya menolak. Tetapi apa pantas pembantu miskin seperti saya bersanding dengan putra Nyonya yang kaya dan tampan," ucap Laila yang terlihat malu. Sambil terlihat berpikir. “Kalau aku rasa, kamu sangat cocok untuk Yoga putra ku.” Mendengar jawaban Ajeng, Laila hanya bisa tertawa. Dia terlihat tidak menanggapi ucapan sang majikan dengan serius. Dia hanya menganggap apa yang dikatakan Ajeng hanyalah sebuah gurauan belaka. *** Hingga suatu malam, Ajeng yang belum bisa memejamkan mata memutuskan untuk ke ruang kerja Yoga. Dengan perlahan dia mulai menjalankan kursi rodanya ke arah ruang kerja sang putra. Yoga yang saat itu sedang sibuk di depan laptopnya terlihat terkejut saat melihat sang ibu sudah ada di hadapannya. “Mama! Kenapa Mama belum tidur?” tanya Yoga sambil menutup layar laptopnya dan berjalan ke arah Ajeng. “Mama tidak bisa tidur, sepertinya Mama sedang merindukanmu. maka dari itu Mama putuskan untuk kemari,” jawab Ajeng sambil tersenyum. “Tapi kenapa Mama kesini sendirian? Bukankah sudah ada Laila yang seharusnya menemani Mama. Tapi Mama tidak perlu khawatir besok aku akan beritahu Laila agar tidak meninggalkan Mama sendirian lagi,” ucap Yoga sambil mengecup kening sang ibu. Yoga memang sangat menyayangi sang ibu. Bahkan saat sang ayah meninggal Yoga begitu sangat memperhatikan Ajeng. Hal itu dilakukan agar Ajeng bisa melupakan rasa rindunya kepada almarhum suaminya. “Jangan, Nak. Jangan kamu marahi Laila, Mama memang sengaja kemari tanpa menekan tombol bel. Karena ada hal penting yang ingin Mama katakan kepadamu,” jawab Ajeng sambil menggenggam tangan Yoga. “Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita bicara di sofa.” Yoga mulai mendorong kursi Roda Ajeng menuju sofa. Sesaat Ajeng terlihat tersenyum melihat wajah Yoga yang ada di hadapannya saat ini. Dia tidak menyangka jika putra kecilnya yang dulu begitu manja kini telah tumbuh menjadi laki-laki yang tampan. Dengan lembut Ajeng mulai mengusap pipi Yoga “Kamu ternyata sudah dewasa, rasanya waktu begitu cepat hingga mampu membuatmu terlihat begitu tampan.” Ajeng terus mengusap pipi sang putra. “Memang apa yang Mama ingin bicarakan denganku?” tanya Yoga sambil mencium tangan Ajeng. “Nak, usiamu sudah 29 tahun. Apa kamu belum ada pikiran untuk menikah?” tanya Ajeng sambil tersenyum. “Mungkin untuk saat ini belum. Lagipula aku juga belum mendapatkan wanita yang sesuai dengan kriteriaku,” jawab Yoga. “Bagaimana jika Mama mencarikan calon untukmu, apa kamu setuju?” tanya Ajeng dengan sangat antusias. Yoga tidak menjawab pertanyaan sang ibu. Dia hanya tersenyum lalu mencium kening Ajeng dengan lembut. Lalu dengan perlahan Yoga mulai mendorong kursi roda sang ibu. “Yoga, bagaimana. Nak?” tanya Ajeng. “Kita bicarakan hal ini lain waktu ya, Ma.” Cukup lama Laila mengingat masa-masa saat sang majikan masih hidup. Bahkan masih terlihat jelas saat Yoga mengucapkan ijab kabul di hadapan Ajeng yang saat itu sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit. Kata sah yang terucap dari bibir wali nikah dan penghulu sempat membuat Ajeng tersenyum bahagia walaupun akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya. Ruangan yang tadinya terlihat tenang dan sunyi kini ramai dengan tangisan. Laila yang hampir satu tahun ini merawat Ajeng langsung memeluk wanita yang baru saja menjadi mertuanya. Yoga laki-laki yang terkenal dingin dan cuek juga terlihat meneteskan air mata. “Laila. Kamu harus berjanji satu hal kepadaku, tolong terus dampingi Yoga apapun yang terjadi. Karena Mama yakin kamu adalah wanita yang tepat untuk Yoga," ucap Ajeng sebelum meninggal. Kata-kata itulah yang terus diingat Laila sampai saat ini. Bahkan disaat dia memutuskan untuk bercerai dari Yoga suara Ajeng seolah terdengar di telinganya. Harapan sang mertua agar dia mau mendampingi Yoga selamanya menjadi kekuatan untuk Laila. "Mama. Apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus bertahan dengan hati yang luka?" ucap Laila sambil terus menangis.
Keesokan harinya Laila yang baru saja selesai membersihkan diri segera berangkat menuju hotel Yoga. Setelah hampir satu jam Laila pun akhirnya tiba di hotel yang dipimpin oleh sang suami. Terlihat beberapa pasang mata sedang memperhatikan Laila yang baru saja datang. "Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu. Bu?" tanya seorang resepsionis. "Pagi, saya mau bertemu dengan Pak Yoga. Apa Pak Yoga ada di tempat? " jawab Laila. Mendengar ucapan Laila dua orang resepsionis terlihat saling berpandangan. Dua wajah itu terlihat kebingungan saat mendengar ucapan Laila. Laila yang berdiri di hadapannya sempat mendengar jika mereka menganggap Laila adalah pembantu baru Yoga. "Maaf, kalau boleh tahu Ibu siapa?" tanya resepsionis tersebut. "Bilang saja jika Laila ada di sini!" perintah Laila. Tiba-tiba salah satu resepsionis berteriak. "Pak Yoga!" "Ada apa?" tanya Yoga yang belum sadar dengan kedatangan Laila. "Ada tamu, Pak. " Resepsionis tersebut menunjuk ke arah Laila. “Laila!” ucap Yoga yang langsung mempercepat langkahnya ke arah Laila. “Sini kamu ikut aku!” ucap Yoga yang langsung menarik tangan Laila. Yoga yang takut jika semua orang tahu tentang status Laila langsung menarik tangan sang istri ke arah ruangannya. Laila yang terkejut dengan perlakuan sang suami hanya bisa mengikuti langkah kaki Yoga. Sambil melepaskan tangannya. "Apa yang kamu lakukan disini. " "Maaf, Mas. Aku hanya menemuimu untuk membicarakan Tasya, " jawab Laila yang terlihat ketakutan. "Tapi tidak perlu kamu datang kemari, kamu bisa menungguku di rumah!" bentak Yoga yang terlihat marah. "Memang kenapa kalau aku kemari?" tanya Laila. "Apa kamu tidak sadar jika penampilan ini seperti gembel, dan aku tidak mau jika semua orang tahu kalau aku menikah dengan gadis Desa yang menjijikkan," jawab Yoga dengan tatapan menghina. Air mata yang sudah mulai mengering kini kembali jatuh saat mendengar hinaan dari Yoga. Laila yang tidak ingin mendapat hinaan yang lebih menyakitkan akhirnya memutuskan untuk pergi. Namun, dia sempat mengatakan jika dia akan menerima kehadiran Tasya di rumah mereka. "Bagus, akhirnya wanita miskin itu mau menerima Tasya. Dengan begitu aku tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang untuk apartemen," ucap Yoga dengan bahagia *** Malam hari saat Laila sedang menyiapkan makan malam untuk sang suami. Tiba-tiba Yoga dan Tasya sudah berdiri di hadapannya. Tasya yang saat itu berdiri di samping Yoga langsung memeluk sang suami dengan mesra. "Halo, Mbak. Terima kasih ya sudah mau mengizinkan aku tinggal di sini," ucap Tasya sambil terus memeluk lengan sang suami. "Iya, kalau begitu mari kita makan dulu!" ajak Laila sambil duduk di kursi. "Ih, nggak mau ah!" ucap Tasya seolah jijik hingga membuat Yoga dan Laila menoleh ke arahnya. "Kamu kenapa, Sayang. Apa kamu tidak suka dengan makanan ini?" tanya Yoga penasaran. "Suka sih, tapi …." "Tapi apa Tasya? Katakan saja, siapa tahu aku bisa membuatkan makanan yang lain untukmu," jawab Laila sambil berdiri dari tempat duduknya. "Aku jijik sama Mbak Laila, maaf ya Mbak. Mbak Laila 'kan baru selesai masak jadi pasti tubuh Mbak kena asap dan bumbu dapur, aku hanya takut tubuh Mbak Laila bau dan itu pasti akan membuat selera makan orang lain hilang, " jawab Tasya dengan wajah menghina. "Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak seperti yang kamu katakan." Laila terlihat kesal dengan ucapan Tasya. "Siapa sih Mbak yang berani menjamin tubuh orang yang kena asap dapur tidak bau, sekarang saja aku sudah mulai mencium bau asam dari tubuh Mbak Laila." Tasya mendekat ke arah Laila seolah ingin mencium aroma yang ada di tubuh Laila. Sambil menyendok nasi. "Ya sudah, jika kamu tidak mau silahkan pergi dari sini. Dan kamu tidak perlu makan masakan ku." "Mas, lihat istri tuamu itu. Aku 'kan bicara fakta, tapi dia justru mengusirku!" teriak Tasya dengan manja. "Laila cepat ambil makananmu dan bawa masuk ke dapur! Tasya benar aroma tubuhmu membuat ku mual," perintah Yoga. "Jadi sekarang kamu melarangku untuk duduk di sini hanya karena kamu lebih percaya dengan ucapan wanita ini, Mas?" tanya Laila yang terlihat kecewa dengan sikap Yoga. "Ini bukan karena ucapan Tasya, tapi aku memang mencium bau asam dari tubuhmu. Makanya setelah masak itu mandi dulu baru makan," jawab Yoga yang membela Tasya. "Ya Allah, apalagi yang dilakukan maduku setelah ini? Kuatkan aku ya Allah," batin Laila sambil mengusap butir air mata yang mulai jatuh. "Bagus, akhirnya aku bisa menguasai Mas Yoga sepenuhnya," batin Tasya sambil tersenyum. Setelah menikmati makan malam, Tasya yang merasa lelah langsung meminta Yoga untuk mengantarnya ke kamar. Hal itu ternyata dilihat Laila yang baru saja keluar dari dalam dapur. Laila yang melihat Yoga dan Tasya masuk ke dalam kamarnya segera menghampiri mereka. "Mas, kenapa kamu bawa dia ke kamar kita?" tanya Laila yang baru saja masuk. "Kenapa? Ini kamar utama sekaligus kamar ku, jadi aku berhak membawa siapapun masuk ke kamar ini." "Lagi pula aku suka kamar ini. Kamarnya luas, harum dan nyaman," ucap Tasya sambil tersenyum. "Dirumah ini banyak kamar yang luas, wangi dan nyaman. Jadi kamu bisa menempati kamar manapun yang kamu mau, tapi tidak dengan kamar ini," jawab Laila yang langsung membawa tas Tasya keluar. Sambil merebut tasnya. "Tidak aku tidak mau pindah ke kamar yang lain, lebih baik Mbak Laila yang pindah dari kamar ini." "Dasar perempuan tidak tahu malu. Kamu sudah merebut suamiku, merebut kursi yang harusnya aku gunakan di meja makan, dan sekarang kamu merebut kamarku. Setelah ini apalagi yang akan kamu rebut dariku?" ucap Laila dengan tatapan datar. "Plak!" sebuah tamparan keras di berikan Yoga. "Sekarang aku tahu. Bahwa pelacur tidak hanya akan merebut suami orang, tapi dia juga akan merebut semua yang di miliki orang lain," jawab Laila sambil memegang pipinya yang sakit. "Laila, tutup mulutmu! Atau aku akan …." "Akan apa, Mas! Apa yang akan kamu lakukan kepada ku, kamu akan mengusirku? Tidak semudah itu kalian bisa mengusirku dari sini," ucap Laila yang akhirnya membuat Yoga gelap mata. Yoga yang sudah tidak dapat menahan amarahnya langsung menjambak rambut Laila dan menyeretnya ke kamar mandi. Sesampainya kamar mandi Yoga langsung mencambuk tubuh Laila dengan menggunakan ikat pinggang yang ada di tangannya. Laila yang merasakan sakit hanya bisa menangis dan memohon ampun. "Ini pelajaran bagi istri pembangkang sepertimu!" bentak Yoga sambil terus mencambuk tubuh Laila. "Ampun, Mas! Aku mohon ampuni aku," teriak Laila sambil terus menangis. Tasya yang saat itu berdiri di kamar terlihat tersenyum saat mendengar teriakan Laila. Dia merasa jika apa yang direncanakannya sedikit demi sedikit tercapai. Termasuk memiliki Yoga seutuhnya. "Ini belum seberapa, Laila. Aku pastikan jika hidupmu akan lebih menderita daripada ini," ucap Tasya dengan suara pelan.