Bab 1

Laisa melangkahkan kaki ke sekolah dengan ekspresi sedih. Dia berjalan sendiri tanpa ditemani siapapun. Biasanya di hari pertama sekolah, anak-anak yang lain ditemani orang tuanya. Namun tidak untuk Laisa. Ibunya sedang sibuk di pasar untuk jualan. Sementara, usia 8 tahun ia sudah ditinggal oleh Ayahnya sehingga hanya hidup berdua dengan ibunya.

Setiap hendak berangkat sekolah, Laisa selalu berjalan kaki. Dahulu ketika masih duudk di bangku SMP, dia berjalan kaki sejauh 1 km, sekarang ia harus berjalan kaki sejauh 2 km. Di jalan menuju sekolah, banyak mobil dan kendaraan yang lewat menabrak genangan air hingga membasahi baju dan sepatu kusamnya.

"Huft, hari pertama kenapa begitu melelahkan"

Gerutunya di dalam hati. Ia harus segera sampai ke sekolah dan membersihkan bajunya yang kotor, karena sebentar lagi bel tanda masuk berbunyi.

SMA Semesta merupakan sekolah elit yang berdiri megah di pusat kota. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk Laisa menuju sekolah. Ia tidak punya kendaraan atau sepeda yang mengantarkannya ke sekolah. Sesekali mungkin bersama teman atau sopir truk yang lewat di sekitar rumahnya. Tetapi itu tidak menentu, sehingga ia harus jalan kaki jika tidak ingin terlambat.

Butuh perjuangan yang keras untuk Laisa diterima di sekolah ini. Ia harus belajar siang dan malam agar lolos tes masuk dan mendapatkan beasiswa. Laisa bisa di bilang gadis yang pintar. Ia banyak mendapat juara ketika dulu sekolah SD dan SMP. Ia bersyukur jika sekarang mendapat sekolah dan pembiayaan gratis selama 3 tahun. Oleh karena itu juga, Laisa harus belajar lebih keras agar prestasinya tidak turun ketika kenaikan kelas nanti. Dari latar belakang keluarganya sendiri, Laisa merupakan gadis sederhana dari kalangan menengah kebawah. Baginya, diterima di SMA Semesta menjadi anugerah sekaligus musibah. Ia banyak memperoleh informasi jika di sekolah ini siswa banyak yang memilih keluar karena terpelanting adanya sistem kasta. Kasta orang elit atau orang kaya lah yang mendominasi, sehingga banyak siswa dari kalangan menengah ke bawah tereliminasi satu persatu.

***

Sampai gerbang sekolah, Laisa bertemu dengan satpam sekolah. Ia mengucap salam pertamanya dan langsung masuk. Ketika masuk gerbang, tidak sengaja seorang pria bertubuh tinggi putih bernama Dema menabraknya.

BUKK!

Laisa terjatuh. Ia tersungkur ke sisi lantai sekolah hingga membuat lututnya berdarah. Pria itu diam saja. Tidak membantu tetapi malah memaki Laisa.

"He lo, kalau jalan lihat-lihat dong! Dipakai kaki dan matanya!"

Pria itu tanpa perasaan bersalah meninggalkan Laisa yang masih berada di bawah sembari memegang lututnya yang berdarah.

Laisa hanya bisa diam melihat pria arogan yang menabraknya. Karakternya membuat ia serba salah. Antara ingin membela diri namun takut jika ia sendiri yang sebetulnya salah, karena ia benar-benar menjaga diri dari orang asing apalagi belum ia kenal sama sekali. Walhasil dengan kaki yang lecet dan baju kotor, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan bajunya. Lantas menuju UKS untuk mengobati luka itu.

***

Sudah pukul 07.30 WIB. Laisa terlambat masuk kelas. Luka kakinya cukup lebar sehingga butuh penanganan lebih. Wali kelasnya langsung meminta Laisa masuk dan duduk disamping pria menyebalkan yang arogan itu.

"Ibu, saya duduk dengan pria ini?"

"Iya Nak, karena tinggal tempat duduk itu yang tersisa"

"Saya boleh minta izin di tukar dengan yang lain bu?"

Ucap Laisa memohon dan tidak ingin duduk di samping pria arogan itu. Laisa tidak ingin mengambil resiko jika nanti akan muncul kesialan yang lain apabila berdekatan dengan pria itu.

"Baiklah Laisa. Anak anak, apakah ada yang ingin bertukar tempat duduk dengan Laisa?"

"Saya bu! Saya Bu, Ssayaa Buu!

Teriak beberapa siswa meramaikan kelas.

Terhitung sekitar 15 siswa putri yang ingin duduk di samping Dema, si pria arogan. Maklum, dia tajir dan tampan serta memiliki postur tubuh yang tinggi. Banyak gadis yang mengidamkan duduk di samping pria keturunan konglomerat ini. Namun pria itu malah tidak ingin duduk di samping para gadis kecuali Laisa. Menyebalkan memang. Laisa hanya bisa menerima hal tersebut tanpa berkata apa apa. Ia tidak ingin menimbulkan masalah di kelas barunya itu.

Melihat Laisa berjalan menuju bangku, si pria arogan tetap bersikap sombong. Dia masih tidak merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Laisa.

Selama kelas berlangsung, Laisa diam. Tidak bicara apapun dengan pria di sampingnya. Ia kesal dan marah.

Dema juga diam. Sampai akhirnya ketika kelas berakhir, ia memberi Laisa secarik kertas permohonan maafnya.

"Gue minta maaf atas kejadian tadi. Kaga ada maksud buat nabrak lo. Sebagai gantinya, nanti mau ga ke kantin sekolah? Gue tunggu di kantin yaa. Maafin gue"

Seperti itu cuplikan isi surat dari Dema untuk Laisa.

Laisa tidak lantas membalas atau meng-iyakan ajakan Dema. Ia memutuskan pulang ke rumah. Seperti biasa dengan jalan kaki. Karena kakinya pincang sebelah, ia harus ekstra keras untuk berjalan sejauh 2 km.

Dema yang menunggunya di kantin sudah tidak sabar. Setengah jam lamanya ia menunggu. Tetapi yang ditunggu tak kunjung datang. Si tuan muda tajir ini menuju ke kelas, tetapi Laisa tidak ada. Putar ke ruang UKS, tetap tidak ada. Akhirnya ia memutuskan pergi ke area parkir untuk menemui sopirnya. Mau tidak mau ia harus pulang karena hari kian sore.

"Tuan darimana saja. Saya menunggu Tuan dari tadi. Anak - anak yang lain sudah pada pulang setengah jam yang lalu"

Tanya Komang, sopir pribadinya Dema.

"Sudah ya pak, jangan ditanya dulu. Saya masih capek seharian di kasih tugas sekolah"

Dema menggerutu, padahal bukan itu masalah utamanya. Dia hanya kecewa dengan penolakan Laisa. Padahal niatnya baik dan tidak aneh -aneh.

Sudah hampir sejam Laisa berjalan, tetapi tak kunjung sampai ke rumah. Ia sesekali istirahat di tepian jalan, berharap ada truk lewat yang memberinya tumpangan. Tetapi nihil. Laisa, gadis 16 tahun ini harus tetap berjalan supaya bisa segera istirahat. Dema yang baru sekitar 15 menit perjalanan seperti melihat gadis angkuh yang tidak datang menemuinya.

"Bapak, coba berhenti dulu pak. Sepertinya itu teman saya"

Sopir menepi. Dema yang melihat Laisa lantas turun dari mobil. Ia merasa iba dengan keadaan kaki Laisa yang pincang sebelah.

"Hey, gadis aneh. Ayo aku antar pulang. Kasihan kakimu nanti"

Laisa hanya diam seperti tidak mendengar apapun. Ia lanjut berjalan.

"Hey, lo dengerin gue ngga sih!"

Dema berteriak lebih keras. Dia mengalah turun dari mobil. Mendekati dan berniat menggendong Laisa yang sangat keras kepala.

"Ada apa dengan kamu sebenarnya?"

Balas Laisa singkat dan berhenti berjalan.

Dema mendekatinya, memegang pundak agar Laisa berbalik.

"Gue minta maaf atas kejadian tadi pagi. Gue sudah ingin minta maaf sama lo, tapi...”

Laisa menunduk. Dia meneteskan air mata dan duduk ditepian jalan. Dema dibuat bingung dengan apa yang dilakukan Laisa.

"Lo kenapa, maafin gue ya. Gue merasa bersalah sama lo. Jadi jangan marah sama gue"

Dema akhirnya mengakui kesalahannya dan mengajak Laisa untuk pulang bersama.

Kali ini Laisa menurut. Dia pucat sekali dan sudah tidak bisa menahan diri.

"Pak, tolong gendong temenku ke mobil pak. Kakinya berdarah"

"Baik Tuan"

Ia masuk ke dalam mobil dengan keadaan masih menangis. Kali ini dia merasa sangat kedinginan karena kehujanan dan tidak memakai jaket.

"Lo pakai jaket gue dulu ya. Kali ini lo harus nurut. Jangan nolak".

Ucap Dema spontan saat Laisa menggeleng ketika Dema ingin mengenakkan jaketnya. Laisa lantas tertidur di mobil itu. Cukup lama. Dema berada di sampingnya.

“Anak ini kalau lagi tidur aja kelihatan kalem, kalau udah bangun baru kayak singa.”

Ucap Dema sambil tersenyum kepada Laisa.

***

"Saya dimana ini? Sudah jam berapa? "

Laisa terbangun. Ia masih berada di mobil bersama Dema dan Sopirnya. Mereka berhenti di warung tepi sawah. Sebetulnya Dema ingin bertanya rumah Laisa, tetapi dia tidak tega melihatnya masih tertidur pulas. Akhirnya mereka menunggu hingga Laisa terbangun.

"Lo tidur lama banget. Sudah dua jam gue nungguin lo bangun. Masih mau tetep di dalem situ? "

Dema bicara dari arah luar. Di depannya terlihat secangkir kopi dan snack yang ia pesan beberapa menit lalu. Laisa masih sayup-sayup mendengar suara Dema sambil mengernyitkan dahi.

"Kenapa saya ada di mobil ini?" Tanya Laisa memastikan.

Dema tersenyum simpul agak miring. Seperti mengejek sikap Laisa yang pelupa.

"Katanya lo pinter, tapi kok pelupa banget ya?" (tertawa)

"Maksud kamu?"

Tanya Laisa dengan polosnya.

“Makanya, jangan banyak makan buntut ayam. Bisa cepat tua nanti lo!”

“Bisanya kamu masih bersikap nggak jelas gini, hmm..”

"Udah udah. Sekarang dimana rumah lo. Gue anterin. Tadi gue nanya warga, katanya daerah deket sini. Tapi gue ga hapal jalanan sini"

"Saya turun saja. Terimakasih sudah mengantarkan"

"Eh eh, sini gue bantu"

Dema ingin membantu Laisa berjalan. Namun dihalangi olehnya.

"Saya bisa berjalan sendiri. Silahkan anda pulang saja jika ingin pulang"

Laisa segera berjalan menuju rumahnya. Pasti sudah ditunggu oleh ibu untuk membantu jualan kue keliling.

Sementara itu, Dema menggerutu.

"Belagu banget ni anak. Udah dibantuin, tapi malah ngusir. Tidurnya lama juga. Bikin gue ngga cepet balik ke rumah dah. Tugas sekolah juga ada deadline besok lagi, hmm.."

Dema kesal, namun juga nampak tersenyum simpul melihat punggung Laisa yang makin menghilang dari pandangan. Hari ini hari pertamanya di sekolah. Awal yang cukup menyebalkan. Dia bertemu dengan gadis itu untuk pertamanya. Tapi dia melupakan sesuatu.

"Pak Sopir, siapa nama gadis itu tadi? Kok gue mendadak amnesia.”

Bab 2

Laisa pulang dengan tertatih-tatih. Lututnya masih nampak di perban. Ia membuka pintu dengan hati-hati, takut jika ibunya mendengar. Pasti akan kena marah apabila ibu tahu ia terluka.

Krekk..

Suara pintu yang engselnya berkarat mengagetkan ibu yang di dapur. Ia lantas berjalan menuju keluar.

"Lay, darimana saja kamu? Kenapa baru pulang?"

"Maaf bu, tadi ada kerja kelompok, jadi Lais pulang agak telat."

"Ya sudah, cepat bantuin ibu di dapur. Sebentar lagi harus antar pesanan ke bu RW. Tidak enak menunggu lama."

"Baik bu."

Laisa menuju dapur dengan sangat pelan. Khawatir jika ibunya tahu bahwa ada luka di bagian lututnya.

"Kenapa kaki kamu Lais? Kok bisa sampai di perban seperti itu?"

Laisa terkejut. Antara bingung ketika ibunya tahu dan bagaimana caranya menjawab pertanyaannya.

"Tidak bu, tadi hanya terjatuh sewaktu olahraga. Maaf Lais ceroboh dan tidak hati hati."

Laisa diam sambil menggigit bagian bibir bawahnya. Baru pertama kali ini ia berbohong kepada sang ibu.

"Benar kan? Kamu sedang tidak bohong dengan ibu?”

“Iya Ibu.” Laisa menjawab dengan ragu.

“Lain kali hati hati ya. Di luar sana memang harus bisa menjaga diri Lais."

"Iya Bu, maaf kurang hati-hati. Laisa bantu menata kuenya ya Bu”

“Tidak usah Nak, kan kamu sedang sakit. Nanti biar ibu yang jualan saja.”

“Tidaak bu, tetap harus Lais yang menjual kue. Takut jika terjadi apa-apa. Lais baik-baik saja. Sure!”

“Baiklah Nak. Hati-hati yaa”.

Selang beberapa lama, Laisa mengantar pesanan kue ke rumah Bu RW. Setelah itu ia menjual kue yang masih tersisa sambil berteriak ke beberapa rumah warga. Ada sejumlah ibu-ibu yang membeli, lainnya hanya tanya harga saja. Mereka bilang harga kuenya terlalu mahal, padahal ibu Laisa sudah mematok harga yang paling murah sekaligus memperkirakan untung ruginya.

Di jalan, Laisa bertemu dengan Anan. Anak Kepala Desa yang baru saja usai bermain bola voli di lapangan RW. Ia mengenakan kaos Jersey dan celana pendek warna merah bergaris hitam.

"Hai Lais, bagaimana jualannya. Apakah sudah terjual semua kuenya?"

"Sudah nih. Masih sisa 5 biji. Kamu mau Nan?"

Anan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia agak sungkan karena cukup lama tidak bertemu Laisa pasca wisuda SMP dulu.

"Bolehlah, aku coba ya Lay."

Anan yang terlihat lapar akhirnya menerima tawaran dari Laisa. Dari ekspresinya, ia sangat senang bertemu Laisa. Bahkan tak jarang Anan mencuri pandang kepada Laisa. Maklum, mereka sudah berkawan sedari kecil, mulai SD hingga sekarang. Ia juga memanggil Laisa dengan 'Lay' atau 'Lais'- sebutan khas dan hanya orang terdekat lah yang tahu.

Setelah lulus SMP, Anan pun masuk ke SMA Semesta, tetapi berbeda kelas dengan Laisa. Anan juga siswa yang cerdas. Ia sering menjuarai beberapa cabang olahraga non akademik dan tak tertinggal pula prestasi akademiknya. Orang tuanya selalu mendukung Anan dalam mengejar prestasi, termasuk memberikannya fasilitas sekolah yang lengkap.

Anan dengan lahap memakan kue dari Laisa.

"Eh belum ku bayar tapi sudah ku makan aja. Mmm...Berapa harga semuanya Laisa? Aku beli semuanya yaa. Sekalian nanti buat Mama Papa. Hehe.."

"Tidak usah Anan. Dimakan aja."

"Loh, tidak boleh begitu Lais. Itu kan yang jualan ibumu. Nanti pasti ditanyakan kemana uangnya. Aku beli saja ya. Ayo harganya berapa?"

Laisa diam dan akhirnya mengalah. Betul yang dikatakan Anan. Laisa dan Ibunya sangat membutuhkan uang.

"Semuanya 10 ribu, Nan."

"Okee.. Nih uangnya. Kapan kapan aku boleh main gak ke rumahmu, hehe. Aku pengen main catur sama kamu. Kan dulu Lais sempat dapat juara kompetensi catur se-provinsi."

Ucap Anan bersemangat sekali.

"Ealah. Iya boleh. Kamu ingat aja sih Nan."

“Haha... Kan aku juga sudah lamaa tidak pernah ke rumahmu Lay. Terakhir kelas satu SMP kali ya.”

“Hmmm... Anan, coba berhenti dulu makannya.”

Laisa tiba-tiba memotong pembicaraan dan memintanya berhenti makan.

“Ada apa Lay?”

“Itu di sebelah mulut”.

“Apa? Ada apa Lay, apa ada hewan tertentu yang aku takuti?”

“Keep silent, please!”

Laisa lantas mengambil kue yang belum masuk ke mulut Anan.

“Thank you Laisa.”

Keduanya saling malu -malu. Laisa sesekali menatap Anan, namun berusaha agar si doi tidak mengetahuinya.

Meskipun Anan bisa dibilang anak orang kaya, tetapi ia tidak malu berteman dengan Laisa yang serba kekurangan. Ia bahkan bersikap sangat ramah. Laisa juga merasa senang bertemu Anan. Ia masih saja mengagumi lelaki berkulit sawo matang itu sedari duduk di bangku SMP. Namun Lais tetap tidak berani menyatakan perasaan itu. Ia memilih diam dan menunggu saja sampai Anan sendiri yang mengungkapkan. Hubungan mereka saat ini masihlah teman. Teman sekolah dan teman sedesa.

***

Laisa pulang dengan hasil jualan yang cukup menggembirakan sang ibu. Ia duduk di ruang tamu, dekat televisi yang sudah banyak debunya.

"Ibuu, ini hasil jualannya."

Laisa langsung masuk dari pintu belakang.

"Heee anakku, sini duduk. Kamu mesti capek ya, apalagi habis terluka kakinya."

Laisa mengangguk, membenarkan perkataan ibunya.

"Lais istirahat dulu. Ibu mau coba hitung dulu keuntungan hari ini ya, nanti ibu susul ke kamar."

"Iya bu."

Selama ini, yang berjualan kue memang Laisa. Ibu tidak tahan jika harus berjalan lama berkat penyakit yang menimpa tulangnya. Ia hanya bisa berjalan pelan, bahkan sesekali merintih di dapur ketika mendapati penyakitnya yang kambuh. Ibu Laisa berusia sekitar 60 tahun. Laisa sendiri adalah anak tunggal, sedang ayahnya sudah lama meninggal sedari usianya 8 tahun.

Laisa lantas merenggangkan seluruh tubuhnya di kursi kecil. Ia ingin sekali tidur, namun ibunya tidak memperbolehkan anak gadis tidur di sore hari. Seluruh kaki Laisa bengkak dan lebam di bagian betis. Terkadang ia merintih kesakitan ketika berniat mengurut kakinya sendiri.

Saat itu, Laisa tiba-tiba terpikirkan dengan sosok pria yang tadi siang sempat memberinya tumpangan mobil. Ia berusaha mengingat nama laki-laki itu dan berniat membawakan sekotak kue sebagai ucapan terimakasih.

"Lais! Hey... Lais!"

Laisa tidak menjawab. Ia melamunkan sesuatu yang tidak diketahui oleh ibu.

"Laisa!"

"Iya bu, maaf... Ada apa bu?"

Laisa baru tersadar dengan panggilan ibunya.

"Kamu ke kamar ya, lukanya diganti perbannya. Ada obat luka di kamar ibu. Takutnya nanti infeksi."

"Iya ibu, Lais ke kamar dulu."

Laisa menurut dengan pikiran kemana-mana. Pria itu cukup menyita waktu Laisa.

Ia masih berjalan dengan tertatih-tatih. Bersyukur tadi Anan tidak melihat kakinya yang pincang karena tertutup rok panjang.

***

Malam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Laisa usai mengobati lukanya. Ia sedang membaca buku untuk pelajaran esok hari. Tiba-tiba teringat pria tadi pagi lagi.

"Namanya siapa ya, aku sungguh lupa. Atau besok coba aku tanya namanya sama ngasih kue ya."

Ungkapnya dalam hati.

"Tetapi lelaki itu sangat menyebalkan, dia melihatku terjatuh tetapi sama sekali tidak menolongku."

Laisa berpikir lagi. Ia teringat ibunya yang selalu mengajarkan agar membalas kebaikan orang lain. Bukan menyimpan rasa dendam. Seburuk apapun anak itu, ia tetap melakukan untuk Laisa, walau bisa dibilang terlambat.

"Meski bagaimanapun dia tetap menolongku dengan tumpangan mobil. Tetapi siapa ya namanya. Ahhh"

Laisa gemas dengan sikap lupanya. Betul kata pria itu, dia dianggap pintar tetapi masih sering pelupa. Akhirnya Laisa memilih tidur dan merehatkan badan. Hari ini begitu lelah baginya. Ia harus mengisi daya kembali untuk esok. Ia yakin besok akan lebih banyak kejutan yang tak terkira. Terutama tentang pria menyebalkan yang hanya mau duduk dengannya.

***

Sementara itu, di dalam kamar berukuran 5x5 meter, seorang pria sedang duduk bersandar di ranjang tidurnya. Ia mengenakan headset di telinga sembari mendengar lagu berjudul 'it's you' yang kini ramai di dunia musik.

Tak terasa sudah hampir tengah malam. Ia masih asik dengan ditemani secangkir kopi dan dua potong roti bakar buatan asisten rumah tangganya. Sesekali membaca buku pelajaran yang esok akan diajarkan.

"Gue masih penasaran, siapa sebenarnya gadis itu tadi. Padahal bu guru dan temen-temen sempet nyebut namanya. Tapi kenapa gue mendadak amnesia yaa. Ah pusing gue dari tadi mikirin dia."

Ucap tuan muda yang bernama Dema itu.

Pria berpostur tinggi itu menyerah. Dia mulai merebahkan badan dengan serius.

Akhirnya Dema memutuskan untuk tidur karena besok ia harus sekolah dan berangkat pagi untuk mempersiapkan lomba basket antar sekolah.

"Besok gue harus cari tahu siapa sebenernya gadis itu. Enak aja dia menyita perhatian gue dari tadi. Aahh.. And noo. Gue ngga boleh suka sama dia. Hanya gadis biasa yang ga jelas. Masa bisa semudah itu mengambil hati gue."

Batinnya berkata. Dema selalu bersikap dan berkata se-idealis itu, padahal dalam lubuk hatinya menyimpan sesuatu yang berbeda. Disadari atau tidak ia mempunyai rasa dengan gadis yang ia benar-benar lupa siapa namanya itu. Namun ia berusaha keras menutupinya. Alasan pertama, orang tuanya konglomerat dan sangat memperhatikan siapapun yang menjadi teman atau orang terdekat Dema. Hal itu sudah terdoktrin sedari Dema kecil sehingga tidak sembarang orang dapat menjadi teman atau sahabat apalagi kekasihnya.

02.00 WIB, Dema masih tidak bisa tidur.

Bab 3

Laisa sudah bersiap pergi ke sekolah. Ia tampil beda dengan ikat rambut di kepala belakang bagian tengah. Biasanya rambut pirangnya digerai. Lurus menutupi bahu. Hari ini cuaca terlihat lebih cerah dari biasanya. Kemungkinan matahari akan terik sehingga gadis ini memutuskan menguncir rambut.

Ibu sudah sibuk bermain alat dapur dari ayam berkokok. Tak seperti biasanya, sedari subuh tadi ibu membuat adonan kue untuk laki-laki yang kemarin memberi bantuan kepada putrinya. Ibu memang terkadang berjualan kue di pasar, namun hanya untuk hari Minggu. Sedang hari ini tidak ada jadwal ke pasar. Bahan belanjaan untuk nanti sore juga biasanya diantar oleh pedagang keliling.

Tampaknya Laisa memberi tahu perihal laki-laki itu, sekali lagi tanpa menyebutkan nama. Ibu meminta Laisa mencari tahu namanya, bahkan mengundang untuk makan malam ke rumah. Selain itu, ibunya menitip pesan ucapan terimakasih sudah menolong putrinya yang terluka.

"Ibu, Laisa berangkat sekolah dulu."

"Iya Nak, hati-hati. Jangan lupa titipkan pesan Ibu kepada anak laki-laki itu."

Laisa tidak menjawab. Malas sekali pagi-pagi sudah membahas pria tidak jelas itu.

"Laisss!"

"Iya Ibu, akan Lais sampaikan ke dia."

“Ibu tahu, di usiamu yang masih remaja ini mungkin berpikir ibu sudah mengarahkan putrinya untuk mengenal laki-laki, begitu kan? Tidak Nak, itu sebagai pembelajaran saja biar kamu lebih menghargai pertolongan orang lain. Entah itu dari kaum laki-laki atau kaum perempuan. Selama dia baik juga tidak ada salahnya dijadikan teman. Kamu harus mulai membuka diri dengan semua orang Nak. Ibu juga tahu 16 tahun itu masa meraih cita-cita, bukan cinta. Jadi anggap saja laki-laki itu sebagai temanmu yaa.”

Ibu Laisa selalu mewanti-wanti karakter anaknya yang masih kurang bersosialisasi dengan orang di sekitarnya. Ia khawatir jika anaknya itu benar-benar tidak memiliki teman. Selama bersekolah SD dan SMP dulu tidak ada satupun teman yang dekat dengannya. Hal itu membuat ibu semakin cemas, karena Laisa juga jarang menceritakan masalah pribadinya kepada sang ibu.

“Hufftt... Baik Bu, Laisa ikut perkataan ibu.”

Hari ini Laisa tidak jalan kaki lagi. Ia sudah ditunggu oleh sopir truk yang terkadang memberinya tumpangan. Sopir itu ternyata diminta berhenti oleh Ibu pasca kekhawatiran atas kejadian kemarin. Laisa tetap harus ada yang mengantar. Namun lantaran ia tidak memiliki kendaraaan dan terbatasnya uang, maka truk menjadi alternatif solusi akan hal tersebut.

Sampai di depan gerbang sekolah, truk berhenti lantas melaju dengan cepat. Laisa tak lupa mengucapkan terimakasih kepada sopir yang sudah memberinya bantuan. Di gerbang, seperti biasa. ia bertemu dengan satpam sekolah.

"Good morning Sir! How are you today?"

Ucap Laisa dengan bahasa asing. Setelah hari pertama itu, guru-guru memberikan peraturan bahwa di lingkungan SMA Semesta hanya memperbolehkan siswanya berbahasa Inggris, Arab atau Mandarin. Intinya menggunakan bahasa asing untuk mengasah kemampuan verbalnya. Apalagi sekarang bahasa sudah menjadi bagian yang urgen dalam kehidupan sehari-hari.

" I am fine Laisa. You look so pretty today. Have a nice day Laisa!"

“Thank you, Sir. Oh, I am sorry sir, almost forget. My mother gives it to you for having breakfast."

Laisa nampak memberikan sekotak kue kepada satpam sekolah. Ia lantas mengucapkan terimakasih atas kebaikan Laisa dan Ibunya.

Laisa masuk sekolah tanpa terlambat. Masih ada waktu sekitar 5 menit untuk melewati lorong dan mencari kelasnya. Ini merupakan hari kedua bagi Laisa. Ia masih lupa-lupa ingat dimana ruang kelasnya sendiri. SMA Semesta sungguh luas bangunannya.

"Heh, lo ngapain jalan kaya orang bingung gitu?"

Ucap seorang pria yang tiba-tiba membuatnya terkejut. Laisa agak salah tingkah dengan kelakukannya.

"Kamu laki-laki yang kemarin ya?"

"Kemarin mana emangnya? Kita pernah ketemu kapan?"

Dema memang jago di bagian berbohong dan memberi pelajaran kepada orang lain. Apalagi mendapati Laisa yang tampak begitu polos. Ia malah semakin liar dengan gaya humorisnya itu. Laisa semakin bingung dibuatnya.

"Saya ingat, kamu lelaki kemarin yang mengantar saya pulang kan. Meskipun saya pelupa - katamu tetapi saya tidak akan salah di bagian ini."

"Are you sure that I am a man that you think?"

Dema berusaha meyakinkan dengan gaya bahasanya yang cepat dan lugas.

"Yeah, certainly".

"What do you want?"

Dema mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah Laisa bak mengancamnya, tetapi sekali lagi itu hanya gertakan biasa. Tidak ada keinginan untuk memarahi atau bermain fisik.

"Kamu bisa tidak lebih halus kepada perempuan?'"

Laisa agak naik pitam. Laki-laki itu merusak mood paginya yang tersusun rapi dan elok. Dalam beberapa waktu sudah berubah sedemikian rupa.

"I just want to give some cakes to you. This is from my mother who gets difficult to make it."

"Ha? What do you mean?"

"I think enough for describing, I'd like to go to class. This is for your, a special cake!”

Laisa memberikan kue itu kepada Dema dan memberi penekanan kata di bagian ‘a special cake’. Ia langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun, malas berhadapan dengan pria sombong sepertinya. Bahkan Laisa belum bertanya tentang namanya. Ibu pasti akan menanyakan hal tersebut.

"So arrogant!"

Teriak Dema sembari melototkan matanya. Ia kesal dengan sikap dingin Laisa kepadanya.

Laisa yang berjalan di depan sempat mendengar kata yang keluar dari mulut pria itu.

"Dasar laki-laki aneh!"

Ucap Laisa berusaha bodo amat kepada pria itu.

***

Di kelas, dua orang ini tetap duduk bersebelahan. Namun tetap saja keduanya saling diam. Antara saling 'jaim' dan malas memulai percakapan terlebih dahulu. pada akhirnya, perang dingin mereka berakhir ketika guru menyampaikan perihal Olimpiade Nasional yang sebentar lagi akan digelar. SMA Semesta menargetkan ada satu tim yang mewakili sekolah dalam event tersebut. Diutamakan siswa yang berasal dari kelas X agar memiliki pengalaman dalam berbagai ajang lain kedepannya.

ketika diberi penawaran, Laisa dan Dema langsung tunjuk tangan, disusul oleh gadis-gadis lain yang merasa senang ketika Dema mengikuti event ini.

"Karena yang mendaftar cukup banyak dan yang terpilih hanya tiga siswa, maka akan dilaksanakan seleksi terlebih dahulu. Seleksi dilaksanakan tiga hari lagi setelah pulang sekolah. Silahkan bisa dipersiapkan dengan baik. Buktikan kalian bisa lolos dan mampu bersaing dengan sekolah lain yaa."

Ucap guru kelas menutup pembelajaran hari itu.

Sebetulnya Laisa sudah mengetahui event ini sejak lama. Ia juga sudah mempunyai target untuk menjadi bagian tim. Gadis pintar ini sebelumnya sudah terbiasa mengikuti event olimpiade di sekolah sebelumnya dan sering pula mendapat predikat juara. Maka awal masuk di sekolah ini, ia ingin membuktikan kalau siswa dari kalangan bawah tetap bisa menunjukkan prestasinya. Ia yakin akan bisa mendapatkan kursi itu.

"Laisaa!"

Tiba-tiba Dema memegang tangan Laisa, menahannya untuk jangan pergi terlebih dahulu. Laisa tanpa basa-basi langsung melepas pegangannya.

"Kenapa?"

Ucapnya begitu singkat. Dema imenunjukkan sikap gemasnya melihat Laisa yang hanya merespon seuntai kata, namun ia tahan.

"Thank you for giving me this cake. Its taste is so sweet. I like it so much."

"Ya. You are welcome. Let me go right now, yah."

"Wait!"

"Anything else?"

"May I know about your full name?"

"Hmm. You can call me Laisa Ayki."

"Oke, a great name."

“Ha? Saya tidak salah mendengar kan, Tuan Muda yang terhormat?”

“Hmmm.. Sorry, gue tadi keceplosan bialng gitu.”

Dema mendadak dibungkam dengan kata-kata yang keluar dari mulut Laisa. Ia smalu dan seperti terkena sihir, terkagum -kagum dengan Laisa. Bukan perihal fisik atau wajahnya yang juga manis, namun dengan kemampuan yang ia miliki. Sebelumnya Dema sudah mencari tahu tentang Laisa di situs internet. Banyak sumber yang menampilkan jika perempuan ini memiliki jejak prestasi yang cukup banyak. Sama ambisiusnya dengan Dema.

"Oh ya, siapa nama kamu tadi?"

Laisa akhirnya bertanya. Dema padahal sudah menunggu pertanyaan itu sedari tadi.

"Dema Sudira Husada."

"Kamu dari kelurga Husada?"

"Iya, Laisa. Why do you ask me about them?"

Laisa diam. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Dema. Laisa berlari ke sudut skolah, ke sebuah taman yang jauh dari keramaian. Ia menangis disana, sesenggukkan dan semakin kencang. Beberapa siswa terheran dengan tangisannya, berusaha menenangkan tetapi juga sama bingungnya. Antara takut mengganggu dan dimarahi olehnya.

Dema yang sedari tadi mengamati Laisa juga dibuat bingung olehnya. Sikapnya absurd, tidak jelas dan semakin dipikirkan semakin membuat dia gila. Dema ingin menyusul Laisa ke tempat dia berlari, namun ia berpikir panjang dan memutuskan untuk membiarkan gadis itu menjelaskan semua itu esok. Iya, besok perempuan itu harus menjelaskan, ada apa dengan keluarga Husada baginya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED