"Bakar, habiskan semua, hahaha!!!"
BRUUGGG
WUUUGGG
Api membumbung tinggi hingga ke langit. Menghitam bagai mendung.
Suara tangis pilu, teriakan minta tolong yang menyanyat hati. Puluhan orang berlarian ke sana kemari, mencari perlindungan. Menggendong anak-anak kecil mereka dengan derai air mata tak tertahan.
"Ayah!"
"Ibu!"
Suara kecil yang meminta tolong. Bertahan di tengah orang-orang berlari menyelamatkan diri sendiri. Serta belasan kuda berlarian membawa para pria berpedang panjang, serta obor menyala besar.
Lalu suara kecil mencari orang tuanya itu perlahan menghilang. Tubuh kecil itu tumbang mencium tanah. Darah mengalir tak bisa ditahan.
Semakin larut, teriakan menyanyat hati lama-lama menghilang. Puluhan tubuh tumbang tak bernapas.
"Ambil semua yag bisa diambil, habiskan semua, hahaha!"
...
Jasson, anak kecil berusia 6 tahun itu berlari secepat kilat, mengabaikan kelinci yang baru diburunya terlepas.
Kepulan asap hitam itu menarik perhatiannya untuk segera kembali ke kampung halaman.
Maka dia melewati berbagai ranting yang tumbang, hingga kakinya berdarah. Ia tak peduli.
Ia terus berlari.
Di kepalaya hanya ada satu pertanyaan.
Apa yang terjadi?
Sampailah dia pada kampung yang telah membesarkan dirinya selama enam tahun itu. Dimana dua orang terkasihnya tinggal. Orang yang telah membesarkan dirinya selama ini.
Sampai pada sebuah pohon Akasia besar, dia berhenti. Peluhnya sebesar jagung membasahi dahi. Ia tak peduli.
Kedua matanya sempurna membulat ketika menyaksikan seorang pria tengah terduduk di depan seorang pria lain yang berdiri tegak dengan sebilah pedang di tangan.
Tak lama kemudian,
DAAAGG
Tubuh pria yang terduduk itu terhuyung dengan darah segar muncrat ke wajah pria yang berdiri.
"Inilah balsannya karena ku tak mau ikut denganku!" kata pria itu.
Dia begitu puas telah berhasil menghilangkan nyawa pria yang tak asing di mata Jasson.
"Kita kembali!!" titah pria itu lagi pada para anak buahnya yang menyasikan.
Kaki Jasson terasa lemas seketika. Tak berdaya, tak bertenaga.
Setelah semua pria jahat itu pergi, tinggallah kesepian yang ada. Suara percikaan api melahap kayu-kayu terdengar jelas.
Jasson melangkah mulai mendekati kampungnya yang telah hancur. Hangus.
Satu persatu ia melihat mayat dengan berbagai jenis luka yang menakutkan. Diusia 6 tahun, ini pertama kalinya bagi Jasson melihat pemandangan tak biasa itu.
Tubuhnya menggigil kedinginan. Tangannya tak berhenti bergetar.
"Ayah, ibu?" ucapnya parau.
Air matanya hedak menetes, namun tetap ia tahan.
Dia anak lelaki, tak akan menangis begitu saja.
"Ayah, kau dimana?"
Ia masih berusaha mencari rumahnya. Tapi jelas, dia tak menemukan, karena kobaran api telah melahap semua bangunan.
Jasson terus mencari, membalikkan satu persatu mayat yang sudah hilag napas. Serta kondisi yang mengerikan.
"Jass-son." Terdengar suara memanggil dirinya dengan susah.
Jasson menoleh, mencari arah suara. Dilihatnya tak ada seorang pun disekitarnya, kecuali mayat yang telah tumbang di tanah.
"A-ku di sin-ni."
Suara itu terdengar dari bawah, maka Jasson berdiri dan menghampiri satu mayat pria yang berjarak dua meter darinya.
"Paman!" teriak Jasson histeris. Air mata yang tadi ia tahan seketika mengalir sudah. Jasson berlari dan menghampiri tubuh tengkurap itu.
"Jass-son."
"Diamlah, Paman, aku akan menolongmu!"
Sekuat tenaga Jasson membalikkan tubuh berdarah itu. Dipandangnya luka diperut sang paman akibat tusukan pedang.
"Jass, ayah dan i-bumu telah tiada. Paman pun a-kan menyu-sul me-re-ka."
Jasson menggeleng sambil terus menangis.
"Jaga dirimu baik-baik, Nak."
"Tidak, Paman."
"Ayah dan i-bumu ada di balik kayu itu." Pria itu menunjuk pada sebuah kayu akasia yang telah tumbang. "Jass, kuburkan ka-mi."
Tangan pria itu seketika lunglai dan terjatuh tepat dipangkuan Jasson. Anak kecil itu semakin histeris, menangis sejadi-jadinya meratapi tubuh pamannya yang sudah tak bernyawa.
...
Hingga pagi tiba, Jasson belum selesai membuat lubang di tanah dengan alat seadanya.
Tenaga kecilnya belum seberapa untuk bisa menggali tanah sedalam itu untuk menguburkan lebih dari 3 mayat.
Meski mayat, paman, ayah serta ibunya sudah masuk pada liang lahat, namun hati nuraninya tak tega meninggalkan mayat-mayat tetangganya yang lain.
Maka bersama dengan segelintir orang yang masih hidup, dia membuat banyak lubang untuk menguburkan mereka semua.
Setelah usai, barulah Jasson menjatuhkan tubuh. Menghadap pada langit yang biru dengan cahaya matahari yang sudah mulai menyengat.
"Ujian apa ini? Bagaimana ku bisa hidup tanpa keluargaku?"
Sebagai seorang anak kecil yang belum mengerti kerasnya hidup, dia hanya bisa mengeluh, meratapi dirinya, serta putus asa melanda.
Air matanya kembali meleleh di bawah terik matahari yang menyengat.
Bibirnya memutih, kering. Bajunya lusuh penuh dengan warna hitam bekas arang.
Ia haus, juga lapar. Tapi mengingat apa yang telah dia lakukan barusan telah membuat dirinya tak selera untuk berencana mengisi perut.
...
Sore harinya, keputus asaan yang dia alami telah berubah menjadi sebuah amarah yang luar biasa.
Dilihatnya beberapa tetangga yang masih hidup hanya menangis di samping gundukan tanah basah yang baru mereka buat untuk membaringkan anggota keluarga mereka.
Ada pula yang memilih mengakhiri hidup lantaran tak bisa lagi bersanding dengan orang yang mereka cintai.
"Pak, siapa yang telah melakukan semua ini pada kampung kita?" tanya Jasson pada salah seorang pria tua yang terduduk lesu.
"Orang jahat." Jawabnya dengan sangat singkat. Sorot matanya kosong tak berdaya.
"Apa kau mengenalnya?"
"Tidak."
Bukan itu jawaban yang Jasson ingin dengar.
"Apa kau ingat apa yang mereka katakan selama mereka masuk ke dalam kampung kita?"
Pria tua itu menoleh, lalu tertawa.
Tawa yang terdengar miris dan putus asa. Di dalamnya penuh kesedihan yang melanda.
"Mereka hanya ingin merampok dan menghabiskan desa kita. Memangnya kita orang kaya sampai dirampok oleh mereka." Pria itu kembali tertawa dengan mata yang berair.
Dan Jasson mendapatkan satu kata yang sangat penting. RAMPOK
...
Anak kecil berusia 6 tahun itu memutuskan meninggalkan kampung menyedihkan itu. Ia berjalan lunglai dengan perut tanpa isi apapun sejak semalam.
Keinginannya untuk membakar kelinci yang ia tanggap bersama dengan keluarganya telah sirna.
Semua menjadi angan-angan yang tak akan pernah terwujud.
Ia terus berjalan tak tentu arah hingga tubuhnya berkali-kali terjatuh. Lututnya membentur batu, membuatnya berdarah seketika. Lagi ia terbangun dan berjalan menyusuri sungai. Entah dia akan kemana.
Sudah 1 kilometer dia meninggalkan kampungnya.
Kedua matanya mulai buram, berkunang-kunang.
Tanpa terasa, dia lunglai dan terjatuh kembali dengan kepala membentur batu.
Pandangan matanya semakin buram, tubuhnya lemas, lalu semua menjadi gelap seketika.
Jasson pingsan dibawah langit yang mulai gelap, serta gerimis yang tiba-tiba saja membasahi bumi.
Di saat gerimis yang mulai menderas, sepasang kaki berjalan menghampiri tubuh mungil Jasson, lalu mengangkatnya.
Lamat-lamat Jasson mendengar suara percikan api yang membakar kayu.
Dalam keadaan pingsan, ia mulai ketakutan. Api yang membesar dengan hawa panas seakan menghantui. Korban satu persatu jatuh tak bisa terbendung di depan matanya.
Jasson mulai berkeringat dengan mata masih terpejam erat.
"Ibu, ayah." Panggilnya.
Gambaran pemandangan itu kembali terlihat dan semakin nyata berdarah. Ia menggigil ditengah kobaran api yang melahap kampungnya.
"Ayah, Paman, ibu. Selamatkan diri kalian, hiks." Air mata mulai menetes membasahi pipi.
"Nak, kau tidak apa?"
Sebuah tepukan pelan di pipi Jasson rasa. Jasson menoleh, namun pandangannya tak melihat siapapun disekitar dirinya berdiri.
"Ayah, ibu, kalian membuatku takut?" ucapnya lagi dalam mimpinya yang seakan nyata.
"Nak, sadarlah!"
Tepukan lebih keras membuat Jasson seketika membuka mata.
"AYAAAAHHH!!" iya berteriak kencang.
"Tenanglah, kau pingsan, Nak. Itu haya sebuah mimpi."
Seorang pria brewok menatap pilu dirinya sambil memegang bahu Jasson..
"Kau siapa?" Jasson beringsut hendak beranjak, namun luka di lututnya membuat dia tak bisa leluasa.
Ia meringis kesakitan menahan perih.
"Ada banyak luka di tubuhmu. Tenanglah, aku bukan orang jahat." Ujar pria itu meyakinkan Jasson.
Raut wajah Jasson masih waspada.
"Istirahalah. Nanti saja kau ceritakan apa yang telah terjadi kepadamu. Yang penting, sembuhkan luka yang ada ditubuhmu terlebih dahulu. Ok?"
Wajahnya masih tegang dan waspada, meski pria itu telah berkata dengan lembut dan perhatian penuh.
"Aku ambilkan makanan dulu."
Kemudian pria itu berdiri dan mengambil mangkuk keramik di sebuah rak kecil serta sendoknya juga.
Dia taruh bubur yang baru ia masak pada mangkuk itu dan mendekatkannya pada Jasson.
"Aku akan menyuapimu. Tubuhmu harus terisi makanan agar kau bisa segera sembuh."
Perut Jasson memang terasa lapar. Tapi apa dia yakin jika makanan itu bebas dari racun?
Saat pria itu mengulurkan sendok berisi bubur ke arah mulut Jasson, bibir anak itu terus mengatup rapat.
Pria itupun langsung tersenyum.
"Akan kumakan bubur ini lebih dulu!" lalu dimakanlah bubur itu oleh pria tersebut dan menelannya. "Tidak ada racun. Untuk apa aku menolongmu jika untuk kuhabisi di sini dengan racun, hemm?"
Benar juga. Meski gengsi, akhirnya perlahan Jasson membuka mulutnya untuk menerima bubur tersebut hingga tandas tak bersisa.
"Minumlah!"
GLEK GLEK GLEK
Lagi, minuman yang pria itu berikan pada Jasson tandas pula.
"Semoga makanan dan minuman ini bisa memulihkan tenagamu."
Pria itu meninggalkan Jasson untuk mencuci mangkuk di luar rumah.
Kedua mata coklat Jasson mengedar memandangi rumah yang saa ini melindungi dirinya.
Rumah kayu yang sederhana dan hanya berbentuk persegi. Tak terlalu luas, dan hanya ada ruangan yang ia gunakan itu saja.
Perlahan Jasson berusaha duduk meski dia harus mati-matian menahan rasa perih disekujur tubuhnya.
Pria itu kembali masuk ke dalam lagi.
"Nak, siapa namamu?"
"Jasson."
"Jasson, lukamu belum sembuh benar, lebih baik kau berbaring saja."
Jasson tak menyahut. Dia melihat dirinya tak berpakaian dan hanya mengenakan celana pendek kedodoran.
"Itu celanaku. Maaf, aku memang tak punya anak kecil, jadi-"
"Dimana bajuku?" potong Jasson.
Pria berusia 40 tahun itu nampak terdiam sebentar ketika melihat Jasson yang berperilaku dingin padanya. Kemudian ia tersenyum lembut.
"Dijemuran. Mungkin sudah kering karena kau pingsan sejak kemarin malam. Akan kuambilkan untuk bisa kau pakai lagi."
"Pingsan semalaman?" Jasson tentu saja terkejut.
Dia merasa masih baru tadi dia jatuh dan pingsan. Tapi ternyata ia sudah sehari pingsan.
"Benar, kau sudah pingsan satu hari. Aku senang sekarang kau bisa tersadar."
Pria itu keluar, lalu kembali lagi dengan sepasang pakaian milik Jasson.
"Aku akan membantumu memakai pakaian ini."
Karena keadaan Jasson yang tak memungkinkan, maka dia menerima tawaran dari pria asing itu untuk membantunya memakai baju.
"Tubuhmu penuh hitam hangus, darah dan sangat anyir. Apa kau dari desa sebelah yang terbakar itu?"
"Paman tahu?"
"Ya. Desamu sudah hancur. Kejadian kemarin malam memang berdampk pada beberapa desa lainnya. Namun desa ini beruntung karena tak dilewati oleh sekelompok perampok berkuda itu."
Kembali memori kemarin malam melintasi kepala Jasson, membuatnya kembali menunduk dan sedih.
"Menangislah jika kau ingin!"
"Tidak!" Jasson menegakkan kepalanya seketika. "Aku tak akan menangis lagi demi ayah dan ibuku. Aku akan membalskan dendam mereka. Dan mencari keadilan untuk mereka."
Sorot mata Jasson tajam penuh amarah sekaligus ambisi yang meledak-ledak. Rahang mungilnya mengeras bagai dia sudah dewasa.
Eddy, nama pria yang telah menolong Jasson memandang lekat Jasson. Menggambarkan sedikit tentang anak kecil itu. Menyimpulkan bahwa anak itu sangatlah tegar meski dia telah menyaksikan perilaku sadis para perampok hingga kedua orang tuanya menjadi korban kebringasan mereka.
"Bukan ranahmu untuk membalas mereka. Biarlah Tuhan yang memberikan keadilan untuk orang tuamu!"
Jasson memandang Eddy seketika.
"Dan membiarkan mereka melakukan kejahatan mereka lagi di tempat lain?"
Eddy terdiam membeku.
'Pikiran anak ini sungguh jauh ke depan.' Batin Eddy.
"Istirahatlah. Kau sangat membutuhkan istirahat sekarang."
Pendar lampu minyak yang semula meneriangi mereka, kini dimatikan oleh Eddy. Ia bersiap membaringkan tubuhnya di atas dipan yang berada tak jauh dari Jasson. Jasson pun belum ingin tidur, tapi dia berusaha menenangkan dirinya sendiri yang mulai diselimuti amarah dan ambisi.
...
Paginya, Eddy membelah kayu dengan kapak di depan rumah.
Kayu itu nantinya akan dia gunakan untuk kayu bakar untuk memasak makanan.
Peluhnya banyak bercucuran. Hampir satu kubik sudah ia membelah kayu itu menjadi potongan kecil-kecil.
Sebuah tangan kecil mengulur tepat di bawah wajahnya, menghentikan dirinya yang hendak mengayunkan kapak.
"Aku akan membantumu, Paman."
Eddy tersenyum mendapati Jasson sudah berdiri tegak di atas kakinya sendiri.
"Kau yakin sudah pulih benar?"
Jasson hanya mengangguk.
"Kapak ini berat." Ujar Eddy sambil memberkan kapak itu.
Benar saja, tubuh kecil Jasson kesulitan membawa kapak tersebut. Ia sedikit terhuyung ketika mengayunkan kapak itu pada kayu yang berdiri.
Eddy masih melihat.
Dengan penuh kerja keras, akhirnya Jasson bisa membelah kayu itu meski sedikit meleset dan tak sama besarnya.
Ia mencoba lagi. Percobaan kedua cukup membuat Eddy terpukau.
Ketiga dan seterusnya membuat Eddy memandang ekspresi yang dikeluarkan oleh Jasson.
Ekspresi itu menggambarkan kemarahan yang teramat sangat besar. Juga ambisi untuk menghancurkan kayu yang saat ini berubah menjadi kecil-kecil.
Lama-lama gerakan Jasson pula terlihat berbeda. Kapak yang semula berat, kini sudah bagai mengayunkan kayu berukuran kecil. Enteng sekali.
Jasson tak berhenti mengahancurkan potongan kayu-kayu itu hingga Eddy yang sigap untuk menghentikannya.
"Cukup!"
Eddy mengambil alih kapak itu, sementara Jasson terengah-engah hampir kehabisan napas.
"Aku melihat ambisi yang menggebu dalam dirimu, Jasson. Aku juga melihat luka hati yang kau simpan karena kehilangan orang tuamu. Untuk itu, aku punya senjata untukmu dan akan melatihmu agar kau bisa mewujudkan keinginanmu!"
Pergerakan Eddy masih Jasson ikut. Hingga ia di dalam rumah, Eddy menyuruhnya untuk duduk.
"Aku akan mengambilkan sesuatu untukmu."
Eddy membuka pintu lemari kayu yang berukuran kecil. Di dalam situlah biasanya Eddy menyimpan pakaiannya yang bersih.
"Aku tidak perlu memakai bajumu!" seru Jasson.
Ia kira, Eddy akan mengambilkan baju miliknya untuk ia gunakan ditubuh Jasson yag mungil.
Tapi, yang ada ditangan Eddy ketika ia berbalik badan adalah sebuah kotak kayu berbentuk persegi panjang.
"Ini lebih penting daripada sebuah baju."
Pria 40 tahunan itu mengambil tempat duduk di sebelah Jasson. Perlahan ia membuk kotak itu dan sebuah pisau dengan ujung yang runcing mengkilat di depan mata.
"Pisau?" Jasson berucap.
"Ini bisa kau gunakan untuk berlatih lempar jarak jauh. Aku akan mengajarimu tekniknya. Selain itu, suatu saat ini juga bisa kau gunakan untuk melindungi dirimu dari bahaya, Jass."
Jasson masih belum mengerti kenapa Eddy memberikan pisaunya pada dirinya.
"Pertahanan diri dibutuhkan di jaman sekarang ini. Meski kau masih kecil, tapi aku tak bisa membendung amarahmu yang meledak ketika kau mengingat kejadian kemarin. Untuk itu, aku berikan pisau ini padamu untuk kau gunakan berlatih."
Perlahan Jasson mengambil pisau runcing yang terbalut kain lembut dalam kotak tersebut.
"Dari kemarin kau tak menanyakan siapa namaku. Aku akan perkenalkan diri. Aku Eddy, mantan tentara. Aku memilih pensiun untuk mencari kehidupan yang tenang."
Jasson hanya mengangguk.
"Aku hanya punya kau, kaupun sepertinya hanya punya aku. Untuk itu, kita akan jadi pasangan di desa ini sebagai paman dan keponakan. Bagaimana?"
"Terserah paman." Jawab Jasson.
Tanpa ragu dan penuh kepercayaan diri, Eddy melatih Jasson. Terutama fisik.
Tubuh Jasson harus ia bentuk sejak dini. Mulai dari makanan yang akan dia makan, serta olahraga yang harus Jasson lakukan setiap hari.
Eddy terus memantaunya.
"Lakukan dengan baik Jasson!"
Jasson mengumpat kesal pada Eddy karena seharian ini dia tak diizinkan untuk istirahat sama sekali.
"Apa kau ingin membunuhku perlahan, Paman?" tanyanya sambil mencabut pohon singkong.
"Bukankah kau ingin segera dewasa dan melakukan apa yang kau sebut keadilan itu?"
"Ya, kau benar. Tapi bukan begini caranya!"
Setiap hari Jasson disuruh untuk menanam singkong serta sayuran lain yang bisa mereka tanam untuk kebutuhan makan sehari-hari. Setelah yang ini ditanam, ia di suruh mencabut tanaman singkong yang sudah besar, yang jelas sudah ada singkongnya untuk menu mereka.
Selain itu juga Jasson harus menyapu seluruh halaman yang begitu luas, megumpulkan ranting untuk digunakan sebagai kayu bakar, serta berolah raga berlari keliling pekarangan di bawah terik matahari siang.
Sementara Eddy hanya memantau dan memberikan komandonya.
"Ini bukan berlatih untuk bisa hebat. Mana yang kau katakan berlatih melempar pisau jarak jauh? Setelah kemarin kau menunjukkan pisau itu, sekarang kau tak lagi meminjamkannya untukku!" sambil mengerjakan tugas dari Eddy, Jasson tak hentinya mengomel dengan latihan yang pria itu berikan.
"Kau masih sangat kecil untuk melakukan itu!"
KRAUKK
Eddy memakan buah apel yang ada di tangannya.
"Dasar pembohong!" umpat Jasson kembali.
...
Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, barulah Jasson menghentikan aktifitas melelahkan yang beberapa hari ini telah dia lakukan.
Dia mandi dan memakai pakaian baru yang dibelikan oleh Eddy.
"Ini, singkong bakar untukmu!" Eddy melempar singkong hitam panas itu begitu saja sehingga refleks Jasson menangapnya.
"Aw, panas!" segaja Jasson menjatuhkan makanan itu ke tanah, lalu memungutnya kembali dan menaruh di atas selembar daun pisang.
"Jika tubuhmu sudah terbentuk dengan baik, aku pasti akan melatihmu dengan latihan bagai seorang tentara."
"Aku sudah tak sabar melakukannya. Berikan latihan itu secepatnya!"
Eddy tersenyum.
Anak itu masih saja dingin dan kaku.
"Apa kau bisa menjanjikan sesuatu untukku?"
Dibawah langit hitam yang bertaburan bintang, serta api ungun kecil yang menghangatkan tubuh mereka, mereka mulai suatu perbincangan serius.
"Janji apa?"
"Terlepas dari dendam yang kau miliki pada perampok yang telah membunuh orang tuamu, aku ingin kau tetap bersikap baik pada orang lain, juga membantu mereka. Apa kau bisa?"
"Kau salah jika kau kira aku ini anak yang jahat."
Jawaban yang Jasson berikan kembali membuat Eddy tersenyum.
"Aku hanya berjaga-jaga saja. Aku tahu kau anak yang baik. Karena itulah aku berani menawarkan pisau itu kepadamu." Bau singkong bakar sudah menari di depan hidungnya.
Ia memilih melahap singkong itu diikuti oleh Jasson yang juga sudah membuang kulit singkongng hangus.
"Berjanjilah untuk tetap berbuat baik pada siapapun. Serta, andai kau bisa, janganlah kau membunuh para rampok itu andai kau sudah menemukan keberadaan mereka. Cukup kau beri pelajaran-"
"Tidak. Aku tidak janji." Potong Jasson. "Kau tidak melihat keadaan ayah dan ibuku serta pamanku dan warga kampung Ars. Kau hanya bisa bicara tanpa melihat kenyataan berdarah itu."
Jasson menahan sesenggukannya ketika ia mengingat wajah terakhir keluarganya.
"Kau tidak melihat literan darah mengalir di sekitar mayat-maat itu. Kau tidak melihat baaimana perampok itu tertawa ditengah puluhan orang yang meregang nyawa. Terserah, aku tak peduli dengan pisau itu, aku bisa menggunakan ranting untuk melatih kemampuanku!"
Banyak kepedihan yang terpendam di hati Jasson, Eddy bisa melihat itu. Anak sekecil itu sudah kehilangan masa bermainnya. Wajar jika Jasson berlaku demikian.
...
Esok harinya dan lima hari kemudian, Jasson tak terlalu banyak bicara pada Eddy. Dia masih marah dengan syarat yang Eddy ajukan.
Tanpa di suruh dia sudah melakukan semua yang seharusnya dia lakukan. Seperti menanam sayur, menyapu halaman, memotong pepohonan yang kering, atau mencari rumput untuk ternak Eddy.
Dia juga olahraga sendiri, seperti berlari beberapa ratus meter. Menggunakan ranting panjang sebagai pedang, ia gunakan untuk berlatih meski Eddy belum pernah mengajarkan teknik silat atau beladiri.
Eddy melihat ambisi yang begitu luar biasa pada diri Jasson, maka diapun menghampiri Jasson.
"Kuda-kudamu salah!" Eddy memukul kaki Jasson dan menunjukkan kuda-kuda yang benar.
Jasson mengikuti dan ternyata dia sangat cepat belajar.
Dalam waktu beberapa bulan saja Jasson sudah menunjukkan kemampuan yang luar biasa. Eddy hanya perlu mengasah agar lebih baik dengan teknik yang benar.
Dengan pisau dapur, Eddy melatih Jasson melempar pisau jarak jauk.
Target mereka adaah pohon isang yang sudah berdiri beberapa meter di depan mereka.
Terlebih dahulu Eddy memberikan contoh, lalu Jasson mengikuti.
Beberapa lemparan gagal. Mereka meneruskan latihan esok harinya.
Jasson sangat bersemangat. Tak pernah lagi ia mengeluh lelah atau apapun, karena dia sudah merasakan sendiri efek latihan yang Eddy berikan.
Dua belas tahun kemudian.
DAAAGG
Lemparan batu Jasson menjatuhkan burung besar yang terbang jauh di atas sana.
"Cukup untuk makan siang hari ini."