Bab 1

Suara tawa seorang anak perempuan bersama pria membuat keadaan di rumah menjadi sangat ramai.

Selalu seperti itu disaat pagi hari Qiena menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.

"Sarapan sudah siap," kata Qiena membawa satu nampan dan menatanya di meja makan.

"Waw...terima kasih Mommy," ujar Yasmine anak perempuan dan suaminya serempak.

Meski ada pembantu Qiena sudah terbiasa melayani kebutuhan suami dan anaknya. Sehingga pembantu hanya membantu dia merapikan rumah dan menjaga Yasmine saat dia sibuk di perusahaannya.

"Sean kau jadi berangkat ke Texas nanti ?"

"Ya aku akan pergi. Tapi aku pergi setelah Yasmine selesai sekolah, aku akan membawanya kesana untuk berjalan-jalan." Senyum tipis Qiena terlihat, entah harus merasa bersyukur atau dia kecewa karena Sean tidak pernah melakukan hal yang sama untuknya.

"Qiena ada apa ? Apa kau keberatan ?" tanya Sean dan Qiena otomatis menggelengkan kepalanya.

"Tentu tidak apa-apa. Berapa lama kalian akan pergi ?"

"Lusa kami sudah kembali." Qiena lagi hanya bisa tersenyum simpul.

"Mama tidak ikut ?" tanya Yasmine lucu membuat Qiena menjadi haru, anak umur lima tahun saja bisa mengerti tapi kenapa Sean selalu acuh tak acuh dengannya.

"Mama ada pekerjaan sayang, makanya mama tidak bisa ikut," jawab Sean.

Pagi itu Qiena tidak bisa langsung berangkat ke perusahaannya. Dia harus menyiapkan koper kecil untuk Yasmine juga. Agar semua yang dibutuhkan Yasmine di Texas nanti tidak merepotkan Sean__suaminya.

Setelah siap Qiena menarik napasnya lalu menaiki tangga menuju kamar dia dan Sean. Dilihatnya foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding kamar dan Qiena tahu dia sangat nekat memilih menikah dengan Sean saat itu.

"Qiena kamu sudah sepantasnya menikah. Usiamu sudah dua puluh delapan tahun tapi kamu hanya selalu bekerja dan bekerja. Papa dan Mama tidak ingin kamu menua seorang diri tanpa ada yang menemani."

"Papa punya calon yang pas buat kamu. Dia masih singel dan anak dari teman papa. Namanya Sean, ya meski dia sudah berumur tiga puluh dua tahun, tapi dia masih sangat tampan. Kalian pasti cocok, kamu mau menemuinya ?"

Sean adalah Pria mapan dari keluarga terpandang sesuai dengan yang ayahnya katakan, meski tampan wajah Sean selalu datar, mata elangnya yang selalu disukai oleh Qiena tidak pernah menatap Qiena dengan hangat. Suaminya itu hanya akan berbicara dengannya jika ada hal yang perlu mereka bahas.

Semua ingatan itu terngiang di kepala Qiena. Dua tahun menikah dengan Sean dan akhirnya mereka mengadopsi Yasmine karena Sean yang meminta. Qienna setuju karena dia memang sangat menyukai anak-anak, dan baginya itu ide yang baik.

Selama ini mereka tidur bersama tapi Sean tidak pernah menyentuhnya lebih, Sean adalah sosok pria yang baik dan suami yang baik pula. Tapi dia tidak pernah menjadi suami yang hangat bagi Qiena.

Awal menikah mereka setuju untuk memulai pendekatan dan menjalani rumah tangga yang semestinya tapi kesibukan mereka berdua seolah menjadi jarak untuk keduanya memahami satu sama lain dan sepertinya Qiena semakin lama semakin merasa sendiri. Warna kehidupan setelah menikah tidak pernah singgah dalam hidupnya karena sikap Sean yang seolah enggan dekat dengannya terlebih memperhatikannya, namun Qiena masih menunggu Sean. Dia tidak keberatan jika Sean memiliki sikap dingin dia masih bisa bertahan meski entah sampai kapan.

Lelah dengan perihal hatinya dia memutuskan menelpon sekertarisnya dan mengatakan kalau dia tidak enak badan. Qiena memutuskan mengurung diri diruang kerjanya sehingga saat Sean pulang mengambil perlengkapan Yasmine, Sean tidak tahu kalau Qiena ada disana.

****

"Daddy," teriak Yasmine bahagia melihat sang ayah sudah berada didepan pagar sekolahnya.

"Hai sayang, ayo." Sean mengecup pipi putrinya dan penjaga wanita yang ditugaskan menunggu Yasmine disekolah berpamitan untuk kembali ke mansion mereka.

"Selama aku pergi tolong perhatikan makan dan tidur Qiena. Kau mengerti Stella ?"

"Iya tuan, saya akan memperhatikan nona Qiena."

Stella adalah orang kepercayaan Sean untuk menjaga Yasmine namun juga terkadang ditugaskan Sean untuk memperhatikan istrinya. Stella akan melaporkan pada Sean apa saja yang dia tahu jika Sean bertanya.

Dia dan Yasmine pergi ke Texas menaiki pesawat pribadi yang dia miliki dan setelah sampai disana hal yang pertama Sean lakukan adalah mengajak anaknya untuk berjalan-jalan.

Sean begitu menyayangi Yasmine, dan dia beruntung karena Qiena menyetujui permintaannya.

Mereka terlihat sebagai keluarga yang normal saat memiliki Yasmine, Qiena juga selalu pulang tepat waktu. Membuat Sean bersyukur karena itu.

****

Selama Sean dan Yasmine pergi ke Texas, Qiena menyibukkan diri dengan pekerjaannya di kantor. Banyak tawaran kerjasama yang diterima Qiena membuat jadwal pekerjaannya padat untuk dua bulan kedepan, Amber sekertarisnya bahkan tidak bisa bernapas melihat jadwal bos sekaligus sahabatnya itu.

"Miss, sudah jam pulang kantor apa saya sudah bisa pulang ?" tanya Amber dan Qiena tersenyum melemparkan pena yang tengah dia pegang.

"Kau temani aku dulu bertemu dengan Rose dan Tifany."

"WHAT ?! hey ini sudah waktunya aku pulang, aku ada kencan dengan seseorang."

"Yakin ? setahu ku kau tidak memiliki kekasih Am, ayo ikut saja. Aku akan membayar mu double hari ini." Amber yang awalnya masam langsung sumringah. Qiena hanya bisa geleng kepala melihat sahabat sekaligus sekertarisnya itu.

Pertemuan para wanita disebuah café membuat beberapa pasang mata pria melihat kearah mereka, gaya yang terlihat berkelas dengan tas-tas mahal yang mereka bawa serta pakaian yang mereka kenakan juga bukan pakaian yang harganya biasa. Kenapa mereka menjadi pusat perhatian ? semua tak luput dari Qiena yang mengajak mereka bertemu di café pinggir jalan yang biasa menjadi tongkrongan para muda-mudi di London.

Lily terus kesal karena pilihan tempat yang dilakukan Qiena, tapi bagi Qiena dia menyukai café tersebut. Pemandangan yang langsung melihat ke hamparan rumput luas memperlihatkan orang-orang yang dengan bebas duduk disana dengan pasangan atau keluarga mereka, juga pemandangan London Eye yang masih saja membuat Qiena terpesona.

"Kau tahu dari mana tempat ini ? makanannya sangat enak ternyata."

"Sean, dia pernah mengajak ku dan Yasmine kesini. Aku suka tempatnya, terlihat sangat nyaman dengan pemandangan yang indah."

"Wah.aku tidak menduga ternyata Sean tahu selera mu Qin," ujar Rose salah satu sahabat Qiena yang menjadi seorang istri aktor ternama di London.

Wajah Qiena yang tadinya baik-baik saja berubah sendu dan tentu saja sahabatnya tahu akan hal itu. Lily mengusap bahu Qiena, mereka semua tahu kehidupan rumah tangga Qiena karena tak jarang mereka saling bercerita kehidupan pribadi mereka satu sama lain. Bukankah itu untungnya memiliki sahabat. Menurut mereka Sean Gibert adalah pria sukses yang ingin dimiliki semua wanita, karena selain kaya, tampan, refutasinya juga baik. Sean tidak pernah terdengar bermain-main dengan wanita seperti sahabatnya Prime Alexander.

"Kau bisa meminta cerai jika sudah tidak tahan dengan pernikahanmu Qin, kau perlu seseorang yang mencintaimu." Rose mengatakan pendapatnya.

"Aku berpikir Sean memiliki kelainan seksual." Sebuah pukulan mendarat dikepala Lily akibat ucapannya yang membuat Amber kesal. "WHAT ! Aku berkata opini ku, apa kalian tidak merasa aneh dengannya. Mereka satu kamar selama tiga tahun, dan dia tidak tertarik meniduri sahabat kita ini yang tidak usah diragukan lagi kecantikannya." Qiena yang tadinya lesu akhirnya tertawa. Lily memang paling bisa diandalkan untuk membuatnya merasa lebih baik.

"Ku pikir Sean memiliki masa lalu yangn buruk dengan wanita, itu sebabnya dia merasa belum siap untuk mendekatimu Qin." Pendapat Amber yang mungkin bisa menjadi pertimbangan Qiena untuk menunggu Sean bersikap hangat kepadanya.

"Pria memang menyebalkan ! apa mereka pikir uang, popularitas cukup untuk membuat wanitanya merasa baik-baik saja." Rose sepertinya mulai kesal.

"Hey..hey...cukup Qiena saja yang murung hari ini, kau tidak perlu ikut-ikut." Mereka semua tertawa karena Lily lagi, dan pandangan Qiena tertuju pada sepasang suami istri yang terlihat bahagia. Tanpa dia sadari perasaan yang dia tahan selama ini tercurah begitu saja membuat sahabatnya terdiam mendengarkan semuanya.

"Keinginanku sangat simpel saat menerima Sean. Aku ingin mengenalnya lebih dekat begitupun dia, lalu kami saling jatuh cinta dan memiliki anak yang lucu. Setiap harinya kami akan terus jatuh cinta hingga ada kalanya kerikil kecil seperti cemburuku membuat sedikit bumbu di pernikahan kami, namun itu hanya akan membuat kami terus saling mencintai sampai mati."

Rose menoyor kening Qiena dan berkomentar "Bukankah itu salah satu cerita novel yang kau pinjamkan pada ku saat kita masih sekolah dulu ?" Mereka lagi-lagi tertawa, memang benar itu cerita novel favorit Qiena, tapi benar juga jika dia sangat ingin hal itu terjadi antara dia dan Sean.

Dia menginginkan hubungannya dan Sean berjalan normal, bukan seperti sebuah drama yang harus mereka mainkan demi menyenangkan hati orang tua mereka dan juga orang-orang yang mengenal mereka dari luar.

Amber yang paham betul kegundahan Qiena mengusap telapak tangan Qiena, mungkin Qiena lelah karena sudah tiga tahun dia menunggu Sean tapi nyatanya tidak ada kemajuan di hubungan keduanya selain tanggung jawab Qiena yang berubah menjadi seorang ibu.

Qiena lalu melihat ponselnya kemudian mengumpat, Amber yang juga tahu situasi ikut mengumpat dan mereka buru-buru menuju parkiran mobil.

"Hey...kalian mau kemana ?" teriak Lily dan Rose bersamaan.

*****

Qiena dan Amber terburu-buru masuk kedalam sebuah restoran, terlihat Sean sedang berdiri disamping Yasmine yang sedang murung. Tamu undangan sepertinya sudah berpulangan karena suasana restoran itu sudah sepi. Qiena berlutut di depan Yasmine yang terlihat sedih.

"Sayang, sorry. Mommy lupa karena terlalu sibuk di kantor. Kau mau memaafkan ku ?" Qiena terlihat bersungguh-sungguh dan anggukan Yasmine membuat dia lega.

"Tapi apa kau juga melupakan kado untukku." Qiena tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Aku bahkan sudah menyiapkan kado istimewa untuk putriku yang cantik ini dari jauh-juah hari."

"Thank you mom." Yasmine kembali memeluk Qienna.

Sean hanya berdiri disebelah mereka dengan amarah yang siap meledak.

"Ayo kita kembali ke rumah," ajaknya yang langsung membuat Qienna dan Yasmine mengikuti Sean dari belakangn tubuhnya.

"Amber kau bawa saja mobilku, nanti aku kabari." Amber mengangguk dan mereka berpisah di parkiran depan restoran yang terkenal mahal itu.

*****

Qienna sedang bersama Yasmine dikamar gadis kecil itu, dia memang sudah membelikan kado untuk Yasmine. Kado boneka kuda poni yang sangat besar dan juga Biola. Yasmine memang mengikuti kelas musik di sekolahnya dan dia bermain Biola. Yasmine sangat bahagia, dan Qienna bersyukur dia tidak terlalu mengecewakan anaknya itu. Qienna menidurkan Yasmine dengan membaca buku dongeng kesukaan Yasmine, lalu setelah Yasmine tidur Qienna berniat mencari Sean untuk meminta maaf.

Sean ternyata ada diruang kerjanya, Qienna berdeham membuat Sean mengalihkan pandangannya dari laptop. "Ada apa ?" tanya Sean dengan suara yang berat dan dinging.

"Sean aku ingin meminta maaf," kata Qienna terdengar sangat menyesal. Namun tanggapan Sean adalah decihan tak suka.

"Kapan kau akan berpikir kalau aku atau setidaknya Yasmine adalah hal yang penting. Kau hanya terus dan terus mengutamakan pekerjaanmu." Qienna tidak menyangka jika kalimat yang keluar dari mulut Sean akan setajam ini dan juga panjang.

"Maksudmu apa Sean ? Baru kali ini aku lupa dan kau seolah menganggap aku tidak becus."

"Tentu saja kau tidak becus ! apa kau tau bagaimana perasaan Yasmine. Dia meniup dan menyanyikan lagu ulang tahunnya tanpa ibu yang dia cintai dan dia harapkan kehadirannya. Kita mengadopsinya karena sepakat ingin membahagiakan gadis kecil itu Qienna. Apa kau tidak berpikir apa yang dipikirkan para tamu yang ada tadi." Qienna yang tersulut amarah berkata dengan nada rendah dan dinging.

"Jika masalah kebahagiaan Yasmine kau harusnya tahu apa yang selama ini ku perbuat untuknya Sean dan aku benar-benar menyayanginya. Tapi sepertinya bukan tentang bagaimana perasaan Yasmine yang kau pikirkan, melainkan para tamu yang hadir disana."

Qienna pergi dari ruangan itu, dia benar-benar sudah muak dengan pernikahannya dan Sean. Sekalinya dia berbuat salah Sean sudah mengucapkan kalimat-kalimat pedas untuknya bagaimana nanti. Sudah jelas jika memang mereka tidak bisa bersama, lalu untuk apa lagi dia bertahan ?

Qienna masuk kedalam kamar menyiapkan beberapa pakaiannya kedalam koper. Saat koper itu sudah siap, Qienna turun menuju kamar tamu. Malam ini dia memilih untuk tidur di kamar tamu dan mungkin akan berlanjut di malam berikutnya.

Mengambil ponselnya Qienna menelpon Amber. "Hei, siapkan peninjauan perusahaan cabang kita yang berada di Jerman. Kita akan kesana besok," ucap Qienna tidak perduli Amber masih terkejut dengan perintah darinya itu.

****

Sean mengamati gerak-gerik Qienna pagi setelah pertengakaran pertama mereka. Qienna terlihat biasa-biasa saja dia menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Qienna dan Yasmine juga sempat berbincang-bincang di pagi itu. Sean bersiap akan berangkat ke kantornya dan Yasmine ikut untuk diantar ke sekolah, tapi sebelum Sean pergi satu kalimat yang Qienna katakan membuat Sean kesal.

"Sean aku nanti ada pekerjaan ke Jerman. Mungkin akan lama karena ada beberapa masalah disana." Yasmine terlihat kecewa, dan Sean menggeram. Qienna tahu hal itu.

"Sayang jika kau mau, kau bisa ikut denganku." Qienna tersenyum kepada Yasmine namun mengabaikan Sean.

"Mom sorry, aku ada les Biola dan aku tidak sabar untuk memainkan kado dari mu." Yasmine menjawab dengan senyumnya.

"Ya sudah tidak apa-apa. Mommy akan menelponmu nanti ya," ucap Qienna lalu melambaikan tangan seraya tersenyum lebar.

Sean tidak bisa berbuat apa-apa, didalam mobil dia terus menggerutu akan sikapnya semalam terhadap Qienna.

****

Sean masuk kedalam kantornya membuat beberapa karyawati disana masih saja mendamba dirinya meski tahu jika dia sudah menikah. Pria kaya raya saja sudah membuat wanita tergoda apalagi jika ditambah dengan ketampanan dan fostur tubuh yang menjadi dambaan para kaum hawa. Sean benar-benar tampan namun, pria ini terkenal sangat kaku dan pendiam. Sean memang tidak pernah terdengar menjalin hubungan dengan wanita, membuat beberapa orang mengira jika dia gay. Namun sepertinya semua terpatahkan saat dia menikahi Qienna William. Wanita cantik yang juga sama suksesnya dengan dirinya. Bahkan Qienna juga sering masuk majalah-majalah fashion karena paras dan style fashion yang dia gunakan.

Hidup mereka berdua tampak sempurna, begitu juga awalnya bagi Sean. Dia menyukai Qienna sejak pertama bertemu, karena itu dia menyetujui perjodohan mereka. Disaat sedang melamunkan Qienna, Maxim sekertaris sekaligus sepupunya masuk.

"Hei kau sibuk usai jam kantor ?" tanya Maxim dan Sean menggelengkan kepalanya.

"Ku pikir kau tahu semua jadwal ku."

"Jadwal pekerjaanmu aku tahu, tapi jadwal mu dengan Qienna mana aku tahu." Maxim tertawa lepas membuat Sean kembali ingat dengan istrinya itu.

"Qienna sedang ke Jerman. Dia ada urusan pekerjaan disana."

Maxim yang tidak pernah tahu hal sebenarnya hanya mengangguk saja, "kalau begitu ikut aku saja nanti malam. Ada party yang diadakan beberapa temanku, sekalian bawa saja Prime." Sean mengangguk lalu Maxim keluar dari ruangannya.

Sean melihat jam lalu menelpon baby sitter Yasmine. "Hallo Stella, apa Yasmine sudah kembali dari les musiknya ?"

["Yes sir. Nona Qienna juga baru saja menelpon. Yasmine sedang menonton televisi. Apa anda mau berbicara dengannya ?"]

"Ya tentu !"

Sean lalu berbicara dengan anaknya itu dan mengatakan dia akan pulang larut malam. Karena besok sabtu dan Yasmine libur sekolah dia mengatakan jika lebih baik Yasmine tinggal beberapa waktu di rumah orangtua-nya. Adam___ ayahnya juga akan sangat bahagia jika cucunya menginap disana.

Yasmine setuju untuk mengunjungi kakeknya itu, sehingga Sean bisa tenang untuk pergi nanti malam. Dia juga sudah lama tidak berpesta bersama teman-temannya.

****

Party sudah tidak asing bagi mereka yang tinggal di London. Bahkan Maxim hampir diakhir pekan membuat pesta di apartementnya. Sean dan Prime___sahabatnya masuk kedalam apartement yang sudah tidak asing bagi mereka itu.

"Hei akhirnya kalian datang juga. Ayo bersenang-senanglah." Maxim menghidupkan musik sangat kuat dan banyak pria serta wanita yang sudah ada disana. Mereka minum, bermain permainan konyol menurut Sean, dan ada yang hanya bergoyang mengikuti musik. Oh jangan lupakan mereka yang bercumbu di setiap sudut ruangan. Sean sampai bingung kenapa sepupunya itu sangat gemar berpesta. Hanya menghamburkan uang saja.

Awalnya dia dan Prime duduk di sofa menikmati minuman alkohol, tak lama beberapa pria dan wanita yang mereka kenal duduk bergabung. "Kau hari ini single Mr.Gibert ?" tanya wanita yang kini sudah menyentuh lengan kokoh Sean dan menempelkan tubuhnya.

Prime tertawa melihat Sean yang hanya diam lalu kembali menenggak minuman. Prime tak lama melayani wanita yang menggodanya membuat Sean tak habis pikir.

"Sean ayo bergabung dengan mereka," kata wanita yang sudah bosan menggoda Sean.

"Kau saja, aku tidak tertarik." Sean menjawab tanpa melihat wajah wanita itu.

"Oh ayolah Sean, atau kita gunakan kamar Maxim. Aku yakin dia tidak keberatan, istrimu juga tidak akan tahu. Just one night." Hal ini memang familiar jika sudah menghadiri pesta, akan ada saja pria atau wanita yang menghabiskan satu malam bersama lalu ke esokan harinya mereka tidak lagi merasa ada beban. Tapi tidak bagi Sean, dia selama ini berhasil mengontrol kenakalannya. Dia ikut berpesta tapi tidak lebih bermain kartu atau minum sampai mabuk. Tidak untuk menghabiskan malam dengan wanita. Tentu ada alasan mengapa Sean tidak ingin melakukannya, dan hal itu bukan karena Qienna. Dia sudah melakukan hal itu sebelum mengenal Qienna.

Wanita disebelah Sean itu langsung mencium bibir Sean, begitu menggoda namun Sean menjambak kuat rambut wanita tersebut. "Jika kau melanjutkannya ku pastikan kau akan menyesal." Desis Sean dan wanita itu langsung mengumpat. Sean tersenyum sinis lalu melanjutkan minumnya.

Telponnya berdering lalu melihat nama Qienna disana.

"Hallo,"

["Sean apa kau bersama Yasmine ? aku tidak bisa menelponnya."]

"Yasmine sedang berada dirumah orang tua ku, ada apa ?" tanya Sean berharap dia bisa lama mendengar suara Qienna.

["Tidak ada apa-apa. Lanjutkan saja pesta mu !"] Sambungan telpon terputus membuat Sean menghela napas kasar.

"Qienna William," ucapnya dan tersenyum menatap langit-langit.

Bersambung...

Bab 2

Pagi yang selalu buruk bagi Sean jika dia mabuk, kepalanya berdentum hebat dan dia membutuhkan susu hangat. Sean masuk kedalam kamar mandi dengan perlahan menahan sakit akibat alkohol yang terlalu banyak dia minum semalam.

Sean melihat foto pernikahannya dengan Qiena dan dia tersenyum tipis, Qiena benar-benar cantik dan Sean tidak mampu untuk menolak rasa yang sudah sangat menguasi hatinya. Tapi hubungannya dengan Qiena tidak ada perubahan, bagaimana bisa berubah jika mereka berdua seolah memiliki kehidupan masing-masing.

Sean tidak suka Qiena terus bekerja dan semua mata pria bisa melihat istrinya itu, bahkan jika ada satu saja pria yang menyebutkan nama Qiena di depan Sean untuk mereka perbincangkan Sean bisa sangat murka. Dia tidak ingin berbagi Qiena sedikit saja, memang sangat konyol terdengar namun itulah yang sebenarnya.

Alasan Sean mengadopsi Yasmine agar Qiena berhenti bekerja atau setidaknya meluangkan waktu lebih dirumah tapi nyatanya tidak ada yang berubah dari seorang Qiena . Qiena memang mengurus semua dengan baik, bahkan membuat Sean heran wanita itu bisa menyesuaikan jadwal kerja dengan mengurus keluarga dengan baik. Hanya semalam Qiena melakukan kesalahan lalu dia malah marah seperti itu.

Sean berniat menelpon Qiena saat selesai dia mandi, namun ternyata nomor Qiena tidak bisa dihubungi.

Beberapa pikiran berkelebat di pikiran Sean, seperti bagaimana jika dia datang menemui Qiena di Jerman dengan membawa Yasmine. Meminta maaf atas apa yang sudah dia katakan kemarin, tapi sepertinya itu hanya akan mengganggu pekerjaan Qiena. Sean ingin sekali memeluk tubuh istrinya itu setiap mereka memejamkan mata, tapi setiap malam Sean melihat sebuah bantal yang membatasi jarak diantara mereka berdua dan semua itu tentu Qiena yang meletakkannya.

Sean bingung dan juga tidak tahu harus memulai darimana, dia sudah mengatakan kepada Qiena untuk memulai semua dari awal untuk mereka berdua, tapi nyatanya mereka masih di titik yang sama. Sama-sama asing, sama-sama menjaga jarak yang tanpa sengaja mereka ciptakan.

Sean mengetikkan cara mengungkapkan perasaan di ponselnya dan dia bisa melihat semua artikel yang dia butuhkan. Lucu, Sean sampai meng-google apa yang harus dia lakukan agar Qiena sadar jika dia mencintai Qiena. Disana Sean bisa membaca bahwa dia harus memberikan perhatian-perhatian kecil, lalu sedikit berpikir Sean mengirimkan pesan kepada Qiena. Namun sebelum dia kirimkan Sean kembali menghapus pesannya. Lalu lagi mengetikkan pesan.

Kapan kau kembali ?

Itulah pesan yang dikirimkan Sean, pesan itu sudah di baca oleh Qiena. Terlihat centang dua berwarna biru dan Sean berdebar menunggu balasan dari Qiena.

[Belum tahu.]

Hanya itu balasan dari Qiena membuat percakapan sepertinya akan terhenti, tapi Sean berpikir kembali.

Oke. Hati-hati disana.

Lagi Sean menunggu jawaban Qiena namun sepertinya Qiena hanya membacanya saja. Sean menarik napas, dia benar-benar bingung memulai semuanya. Dia tidak pernah berhubungan dengan wanita selama ini. Semua wanita menggilainya namun Sean tidak pernah menjalin hubungan serius sedikitpun, semua karena dia tidak ingin berpikir rumit dan jujur saja dia takut patah hati seperti ayahnya.

Sean menarik napas saat mengingat kenangan pahit masa kecil yang terus ingin dia lupakan. Sean mencintai ibunya, sangat. Namun sebagian dari dirinya juga sangat membenci wanita yang sudah melahirkannya itu.

Sean mengambil kunci mobil untuk pergi ke apartement Prime. Dia akan membuat rusuh apartment sahabatnya yang dipastikan berakhir dengan wanita pagi ini.

*****

Qiena melihat pesan yang dikirimkan oleh Sean dia mengernyit namun tidak membalas pesan itu, dia masih sangat kesal mengetahui Sean pergi berpesta saat dia tidak ada. Setelah mengatakan kata-kata kasar padanya pria itu malah berpesta. Qiena pagi-pagi kembali bad mood.

Amber masuk kedalam kamarnya menemukan Qiena yang terlihat murung. "Hei, kau belum bersiap juga ? lebih baik kita tidak usah ke Jerman. Benar-benar menyebalkan." Amber membuka Instagram lalu melihat story dari Prime.

"Qiena, hei lihat." Amber menunjukkan story itu, dimana ada wajah Sean yang disampingnya bergelayut wanita.

Tentu saja mood Qiena semakin hancur. "Amber katakan pada orang desain itu kalau aku tidak bisa menemuinya hari ini. Aku benar-benar tidak bersemangat hari ini." Amber mengangguk lalu keluar dari kamar Qiena menuju kamarnya sendiri.

Amber tahu semua hal tentang Qiena, dia sempat berpikir menyarankan Qiena untuk bercerai tetapi tidak mungkin rasanya. Entah kenapa Amber merasa Qiena dan Sean sangat cocok, mereka serasi. Tapi entah itu hanya di kamera, Amber ikut pusing memikirkannya.

Ditempat lain Qiena yang kesal memblokir semua hal apapun yang bersangkutan dengan Sean. Bahkan kontak Sean dia blokir, Qiena melepaskan cincin nikahnya dan melemparkan dengan penuh emosi.

"Sean Gibert fuck you," teriaknya kesa lalu pergi dari kamar hotelnya begitu saja.

****

Berdiam diri didalam kamar hotel bukanlah hal yang baik untuk Qiena saat ini, nyatanya pikirannya hanya tertuju pada Sean dan rumah tangga mereka. Menyesali apa yang sudah dia putuskan dahulu memang tidak ada gunanya, dia sudah memutuskan menikahi Sean jadi dia harus terima semua ini.

Mengambil mantel hangatnya Qiena keluar dari kamar berniat menuju restoran di hotel itu, dia sudah menyiapkan satu buah buku untuk dia baca disana.

Pintu restoran dia buka dan senyuman ramah petugas disana menyambutnya, Qiena melihat satu meja yang akan dia tuju namun tubuhnya menabrak seseorang yang membuatnya terhuyung ke belakang. Dia pikir dia akan menyentuh lantai dengan keras namun ternyata tubuhnya ditahan oleh sosok pria dengan mata elang yang sangat tajam.

Tatapan itu begitu membuat Qiena terpaku, oh Tuhan pria yang berada tepat di hadapannya ini sungguh memiliki tatapan mata yang tajam, Qiena suka itu.

"Are you oke ?"

Pertanyaan itu membuat Qiena tersadar dan dia langsung berdiri dengan benar. Dia memberikan senyuman seadanya kepada pria itu.

"Maaf aku tadi sedang menelpon sehingga tidak melihat mu," ujar pria itu dan Qiena mengangguk.

"Tidak masalah," jawab Qiena seadanya. Lalu Qiena memutuskan untuk menuju meja yang dia lihat kosong, Keduanya saling menatap satu sama lain secara diam-diam Qiena sudah duduk di meja.

Tanpa sadar Qiena lagi memberikan senyumannya pada pria itu, dan balasan senyuman dia dapatkan membuat pipinya panas dan merona secara bersamaan.

Qiena buru-buru membuka bukunya setelah memesan menu yang dia inginkan. Namun baru dia ingin focus, dia merasakan suasana disekitarnya berubah. Suara seseorang membuatnya menatap orang tersebut yang tak lain adalah pria tadi.

"Hai boleh bergabung disini ? aku mencari-cari meja kosong ternyata tidak ada."

"Oh ya silahkan," jawab Qiena lagi dengan senyumannya.

"Terima kasih, aku tidak akan mengganggu tenang saja." Qiena menganggukkan kepalanya lalu menu yang dia pesan datang. Qiena tidak membuka percakapan ataupun pria itu, mereka berdua sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

***

Qiena larut dalam kisah yang dia baca, hingga tepukan di bahu menyadarkan Qiena jika Amber ada disana.

"Ada apa ?" tanya Qiena dan Amber menunjukkan ponselnya, disana tertera nama Sean membuat Qiena menarik napas dan langsung beranjak dari sana meninggalkan pria yang menatapnya sambil tersenyum simpul. Mereka berdua duduk di satu meja selama kurang lebih satu jam namun Qiena dan pria itu tidak melakukan perkenalan sama sekali. Pria itu menyimpulkan jika wanita dengan binar mata menggoda itu sangat cuek pada sekitarnya.

Di tempat lain Qiena menelpon balik Sean melalui ponsel Amber, mereka sambil berjalan menuju lift untuk ke kamar Qiena.

"Ada apa ?" tanya Qiena begitu Sean mengangkat telponnya.

["Aku mencoba menghubungi mu tapi tidak bisa,"] ujar Sean di tempatnya.

"Lalu ada apa ?" tanya Qiena ketus sehingga Amber melebarkan matanya.

["Tidak ada, aku hanya ingin tahu keadaan mu saja. Aku khawatir,"] suara Sean terdengar lembut namun bukan membuat Qiena simpati, dia malah memutar bola matanya tanda dia bosan.

"Aku sangat sibuk, aku tidak apa-apa. Katakan pada Yasmine aku merindukannya." Setelah mengatakan hal tersebut tanpa menunggu Sean menjawab ucapannya Qiena sudah memutuskan sambungan telpon itu. Dia merebahkan tubuhnya di kasur dan memberikan ponsel Amber.

"Kau tidak bisa bersikap seperti itu Qiena," ucap Amber ingin membuat hubungan Qiena dan Sean membaik.

"Kenapa ! kau pikir apa yang aku lakukan selama ini salah. Please Am, kau tahu semuanya." Qiena menutup wajah dengan bantal.

"Bertahanlah jika kau memiliki perasaan untuk Sean, mungkin Sean butuh waktu untuk mendekatimu."

"Perasaan ? untuk Sean ?" Qiena menggelengkan kepalanya.

Bagaimana perasaan untuk Sean ada di hati Qiena, jika pun dulu rasa itu ada Qiena saat ini sudah meluruhkan semua rasa itu, dia muak bosan bahkan rasanya ingin berlari dari kenyataan yang ada.

Kenapa ? karena dia hanya terkurung dengan status istri Sean. Sean tidak pernah memperhatikannya, tidak bertanya pendapatnya sebagai seorang istri apapun itu. Pernah Qiena ingin tahu pekerjaan dan kegiatan apa yang dilakukan Sean, dan pria itu dengan santainya menjawab.

"Tidak ada yang penting. Jangan mencampuri urusan pekerjaan ku."

Sejak saat itu Qiena enggan bertanya apapun lagi, dia hanya diam. Tidak berbicara jika itu tidak penting, dan yang penting adalah semua seputar Yasmine anak mereka.

Menyiapkan sarapan dan makan malam, memastikan kebutuhan Yasmine dan rumah mereka. Jika tentang Sean, sepertinya pria itu bisa melakukannya sendiri. Mereka tidur di kamar yang sama, tapi hanya Qiena yang ada disana karena Sean selalu pulang larut malam dan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya atau perpustakaan rumah itu. Sepertinya laptop dan buku lebih menarik bagi Sean daripada dirinya.

"Apa mungkin Sean memiliki kekasih Qin ?" tanya Amber membuat Qiena berdecih.

"Aku tidak perduli. Bagus jika dia memiliki kekasih, setidaknya kami tidak lagi perlu lama-lama hidup bersama."

"Ck, kau ini !" Amber melemparkan bantal kepada Qiena.

"Hei pria yang duduk satu tempat dengan mu tadi siapa ?"

"Entah lah, kami tidak berkenalan." Amber cemberut mendengar jawaban Qiena itu.

"Sudah jangan pikirkan tentang ku lagi, apa pekerjaan yang aku berikan sudah kau kerjakan. Besok kita harus segera menyelesaikan semuanya, aku ingin secepatnya kembali. Kasihan Yasmine, Sean besok sudah kerja dan kau tahu dia selalu pulang larut malam, tidak ada yang akan menemani Yasmine."

"Kenapa kalian tidak keluar bersama sesekali ?"

"Kenapa kau menanyakan hal itu padaku Amber ? kenapa tidak bertanya saja pada suami ku tercinta, kau lupa dia sangat sibuk hem !" Qiena menampilkan raut wajah yang sangat murka sepertinya dan ingin menyantap Amber membuat sahabatnya itu langsung berdiri meninggalkan kamar Qiena.

****

Ku pikir ini bukan hanya tentang angan ku dimasa lalu

Tapi juga tentang dimana hati mu kau tuju

Jika itu bukan aku

Maka pantaskah kau untuk terus ku tunggu

Bab 3

Qiena benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan secepat mungkin, dia memang sangat khawatir dengan Yasmine. Dia juga sangat merindukan Yasmine, tidak seharusnya dia meninggalkan Yasmine hanya karena marah kepada Sean.

Dia dan Amber sudah berada di Bandara, tiga puluh menit lagi pesawat akan lepas landas. Amber tahu Qiena sangat lelah setelah tadi berdiskusi dan memimpin rapat, dulu Amber berpikir hidup sahabatnya itu akan sangat sempurna. Bagaimana tidak, sedari mereka kuliah Qiena sudah sangat dikagumi kaum adam ataupun hawa. Qiena pintar, cantik, ramah dan juga anak dari pegusaha ternama. Hidup wanita itu sungguh sempurna, dan kini apa yang terjadi dalam hidup Qiena membuat Amber dan sahabat mereka lainnya sungguh sedih dan menyesali keputusan Qiena untuk menerima lamaran Sean dulu.

Tak lama mereka mendengar jika mereka sudah harus masuk ke dalam pesawat, Qiena dan Amber duduk di first class dan posisi tempat duduk Qiena berada di depan Amber. Baru saja akan duduk di tempatnya sapaan dari seorang pria didengar oleh Qiena.

"Hai, kita kembali bertemu. Kita sharing meja di restoran hotel, kau ingat ?" Qiena tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu pria itu mengulurkan tangan kepada Qiena.

"Aku Jack. Jack Pitter."

"Oh ya, aku Qiena Gi____," baru akan menyebutkan nama keluarga Sean Qiena langsung diam dan menyebutkan nama keluarganya sendiri. "Qiena William," ucapnya dan Jack tersenyum lebar. Mereka duduk di tempat duduk masing-masing yang ternyata bersebelahan, Amber di tempatnya memperhatikan Qiena yang sepertinya bahagia berbicara dengan Jack yang menarik perhatian Qiena.

"Oh ya Qiena, bisa aku minta nomor ponsel mu ?'

"Oh ya sure," jawab Qiena. Mereka pun bertukar nomor ponsel.

Dari obrolan panjang di dalam pesawat Qiena dan Jack ternyata sama-sama bisa memainkan piano, Jack adalah seorang seniman yang memiliki sekolah music terkenal di London. Jack juga berjanji akan mengajak Qiena untuk melihat-lihat suasana di gedung musiknya.

Jack bertanya apa yang Qiena lakukan kemarin di Jerman, dan banyak hal lainnya yang ditanya Jack untuk terus mengobrol dengan Qiena. Bahkan ada saja lelucon yang dia ucapkan membuat Qiena merasa sangat konyol hingga perutnya terasa keram karena menahan tawa.

"Sepertinya kau sudah lama tidak tertawa ?" tanya Jack membuat Qiena terdiam dia menyembunyikan keterkejutan atas pertanyaan Jack itu.

"Tidak banyak orang yang bisa membuat ku tertwa," jawab Qiena.

"Oh itu artinya aku pria yang beruntung." Qiena tersenyum lagi dan mengangguk, sementara Jack terus menatap Qiena dalam diam. Mengamati setiap ekspresi manis dan lucu dari Qiena.

*****

Qiena dan Amber sedang menunggu koper mereka, dan tak lama tepukan di bahu Qiena membuatnya terkejut.

"Ya Tuhan Jack," katanya mengusap dadanya.

"Sorry," ucap Jack dengan senyuman lalu memberikan sebuah boneka kecil. "Ini aku lupa membelikan kado untuk keponakan ku, lalu ternyata beli satu mendapatkan gratis satu, jadi aku berikan satu untukmu."

"Maksudmu aku keponakan mu hem," ujar Qiena mengambil boneka teddy bear lucu itu.

Amber hanya diam mengamati, dia akan memberikan komentar nanti jika mereka sudah sampai di dalam mobil yang menjemput mereka. Qiena juga tidak memperkenalkannya kepada Jack, jadi lebih baik dia tidak bersuara.

"Jack aku pergi dulu, senang bertemu denganmu." Qiena menepuk pundak Jack lalu pria itu melambaikan tangannya.

Bagi Jack Qiena adalah wanita yang menyenangkan dan juga cantik tentunya, jika ada kesempatan dia ingin kembali bertemu dengan Qiena. Itupun jika wanita itu mau bertemu dengannya.

*****

Di dalam mobil Amber sibuk dengan Ipad-nya, dia membaca semua email yang harus dia urus. Semua itu tentang urutan jadwal kerja Qiena.

"Kau ingin libur dulu besok ?" tanya Amber yang melihat Qiena sedang menatap pemandangan di sepanjangn jalan.

"Tidak ! jika kau Lelah, kau boleh ambil cuti dulu Am." Qiena sungguh pengertian, tapi Amber tidak akan membiarkan sahabatnya bekerja seorang diri.

"Nanti saja aku ambil cuti jika ada urusan mendadak." Qiena tersenyum bersama dengan Amber.

"Jangan bermain terlalu jauh Qiena, ingat kau punya tanggung jawab." Qiena tertegun, dia tahu apa arti dari ucapan Amber.

Jack memang pria yang menyenangkan dan juga hangat, sifat konyol dan lelucon yang dilontarkan pria itu mampu membuat Qiena terus tertawa dan tersenyum. Ini pertama kali dalam hidup Qiena bertemu dengan sosok pria menyenangkan seperti Jack. Pria yang tanpa diminta datang dan menghibur kegelisahan hatinya.

Qiena berpikir, akan sangat menyenangkan jika memiliki seseorang yang dijadikan sandaran saat merasa lelah dengan keseharian yang sudah dijalani. Tapi sepertinya pertemuannya dengan Jack hanyalah pertemuan biasa, mereka adalah orang asing yang tidak sengaja mengukir satu paragraph cerita bersama. Tidak akan menjadi satu kisah yang panjang dan berakhir bahagia.

Tiba-tiba Qiena teringat dengan cincin nikahnya yang dia buang di lantai kamar hotel. Bagaimana bisa dia melupakan cincin itu.

"Ada apa ?" tanya Amber yang melihat Qiena panik.

"Cincin nikah ku, aku melemparkannya ke lantai kamar hotel." Amber menggelengkan kepalanya lalu memberikan kepada Qiena.

"Ini, semalam saat check out resepsionist memberikan cincin ini." Qiena bernapas lega lalu memasukkan cincin tersebut ke dalam tasnya.

****

"Mommy....," teriak Yasmine saat melihat kehadiran Yasmine di dalam rumah. Gadis kecil itu memeluk tubuh Qiena dengan semangat. Qiena menggendong tubuh Yasmine dan menciumnya dengan gemas, sementara koper yang dia bawa dibawa kedalam kamar oleh pembantu dirumah itu.

"Yasmine sendiri di rumah ?" tanya Qiena dan anggukan dari Yasmine adalah jawabannya. "Bagaimana jika kita makan malam diluar nanti ?" Yasmine mengangguk dengan semangat membuat Qiena bahagia.

Keputusan Qiena membawa Yasmine pergi makan diluar sepertinya sangat tepat, gadis kecilnya itu sangat bahagia. Setelah makan mereka berdua pergi ke toko mainan dan toko buku. Tak lupa Qiena menyempatkan diri untuk pergi ke butik untuk membeli baju-baju baru bagi Yasmine.

"Mom, bukankah itu daddy ?" tanya Yasmine saat mereka keluar dari butik. Qiena melihat arah tunjuk Yasmine dan memang benar di sebuah restoran di dalam mall tersebut Sean sedang duduk makan bersama Prime, Maxim dan juga tiga wanita lainnya.

"Daddy," panggil Yasmine tanpa Qiena duga lalu Yasmine berlari kearah dimana Sean kini menatap mereka berdua.

Sean berdiri lalu menggendong tubuh Yasmine, mengecup pipi gembul Yasmine dengan sayang. Langkah berat Qiena mendekat ke arah mereka.

"Kau sudah kembali ? ku pikir akan lama." Qiena tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan mengambil Yasmine dari gendongan Sean.

"Yasmine ayo kita pulang, nanti daddy akan menyusul." Hanya itu yang di katakan Qiena dan dia sempat menyapa dua pria yang dia kenal sebagai sahabat Sean itu dengan senyuman. Qiena tidak ingin terlihat seperti istri yang sedang mendapati suaminya keluyuran di luar rumah, karena memang dia tidak cemburu.

Dia tidak habis pikir saja kenapa Sean bisa meninggalkan Yasmine dirumah sendirian sementara pria itu makan bersama teman-temannya diluar. Apa yang ada didalam kepala Sean, Qiena benar-benar kesal.

Apakah itu yang selalu Sean lakukan sehingga pulang larut malam ?

*****

Hari-hari melelahkan dilewati Qiena, jika berpikir Sean akan menjelaskan saat mereka bertemu di mall. Nyatanya pria itu hanya pulang dengan tanpa beban, hati Qiena rasanya sudah kebal dengan sikap acuh Sean. Tidak ingin lagi mengurusi apa yang Sean lakukan Qiena saat ini sudah menganggap pria itu tidak ada, dia hanya mengurus Yasmine dengan baik juga sekarang Qiena sering tidur di kamar Yasmine. Rasanya sangat malas untuk melihat wajah Sean.

Musim semi sudah hadir dan Yasmine sangat bersemangat karena dia libur sekolah. Yasmine memang sudah menceritakan kepada Qiena jika dia ingin pergi berlibur, dan Qiena mengatakan jika lebih baik jika Yasmine bertanya kepada Sean.

Pagi biasanya dilalui Qiena dengan sarapan bersarapan bersama. Disaat lagi hening ponsel Qiena bergetar, sebuah pesan yang tidak terduga dia terima pagi itu.

[Hei apa kabar ?]

Saat ingin membalas pesan tersebut tiba-tiba Sean bersuara. "Qiena, maafkan aku." Qiena langgsung melihat kearah Sean dengan tatapan bertanya.

"Aku tahu selama ini aku salah, apa kau mau kita memperbaikinya ?" Qiena terdiam, ternyata bukan hanya pesan dari Jack yang membuat dia terkejut pagi ini melainkan apa yang Sean ucapkan. Tapi bukankah Sean sudah pernah mengatakan hal ini sebelumnya.

"Tidak masalah Sean," jawab Qiena akhirnya dengan sebuah senyuman tipis. Sean pun hanya bisa mengangguk, sudah lama sebenarnya dia ingin mengatakan hal ini. Namun baru sekarang dia mendapatkan keberanian itu.

Sementara Qiena, dia hanya acuh tak acuh menanggapi semua ucapan Sean. Hatinya sudah terlalu lama sepi, dan yang berputar dalam ingatannya hanyalah pertemuannya dengan Jack. Dia bahkan sepanjang perjalanan menuju kantor terus berbalas-balasan pesan dengan Jack. Senyuman yang diam-diam terus terlihat di wajah Qiena itu membuat Amber heran melihatnya.

Hal itu terus terjadi di hari-hari selanjutnya, bahkan dirumah Qiena terlihat berbeda. Dia terus menampilkan wajah yang bahagia, Sean mengira hal itu karena ucapan permintaan maaf yang dia katakan. Dia tidak tahu jika apa yang dia katakan kepada Qiena pagi itu sudah sangat terlambat, hati Qiena sudah mendamba kisah dengan yang lain.

Qiena semakin bahagia karena Jack mengirimkan bunga-bunga indah untuknya setiap hari ke kantor terkadang juga dengan coklat. Qiena merasa dia benar-benar sedang kasmaran. Jack tidak pernah absen mengirimkannya pesan, dan juga satu hal yang membuat Qiena terpaku dengan pria itu adalah Jack mengirimkannya video saat dia memainkan piano lalu mengirimkannya kepada Qiena.

Pria itu berkata tidak sabar ingin memainkan irama itu berdua dengan Qiena. Pria itu sedang berada di Perancis untuk menghadiri undangan acara musik disana dan mereka akan bertemu di akhir pekan ini. Qiena tidak membicarakan apapun tentang Jack kepada Amber dan sahabatnya yang lain, namun sebabagi sahabat mereka tahu Qiena terlihat sangat bahagia.

"Bukankah jatuh cinta itu indah ?" tanya Lily tiba-tiba saat mereka sedang makan siang bersama.

Qiena berdecak lalu masih fokus pada ponselnya, apalagi jika bukan membalas pesan dari Jack. "Jangan katakan apapun pada orang yang sedang jatuh cinta, dia tidak akan mendengarkan apapun," cibir Rose. Mereka semua tertawa begitu pun Qiena.

"Seperti apa wajahnya ? apakah Sean kalah tampan ?" tanya Lily penasaran.

"Tampan, tidak jauh beda dengan Sean. Tapi sepertinya lebih menyenangkan daripada Sean yang kaku dan hanya bisa mengatakan terima kasih setiap kita bertemu dengannya," kata Amber dan Qiena langsung menyikutnya.

"Kau sudah siap dengan konsekuensi jika Sean tahu ?" tanya Rose kepada Qiena.

"Konsekuensi apa ? aku tidak melakukan apapun. Jack hanya teman yang sangat menyenangkan, kami tidak memiliki hubungan lebih dari itu."

"Begitukah ? lalu bunga-bunga yang setiap hari datang ke kantor untukmu itu apa ? aku bersyukur security dan office boy mengira itu dari Sean."

"Berisik !" kata Qiena membuat semua sahabatnya itu berdecak.

"Tapi jika pun Sean mengetahui hubungan kalian tidak masalah, diri kita sendiri yang tahu dengan siapa kita bahagia. Untuk apa bertahan dengan pria yang hanya bisa membawa kesedihan, Sean itu sangat pengecut." Lily berkomentar, Lily memang tipe wanita yang tidak suka di tipu oleh pria, semua pengalaman dimasa lalu mengajarkannya semua itu.

"Jack mengajak ku untuk bertemu dengannya di akhir pekan," ujar Qiena dan teman-temannya langsung membulatkan mata.

"Apa dia tinggal di London ?"

"Ya ! tapi saat ini dia sedang berada di Paris."

"Lalu kau menjawab apa ?" tanya Rose.

"Tentu saja aku jawab iya." Qiena tersenyum lebar lalu Lily memeluknya, tidak dengan Rose dan Amber. Mereka takut akan jadi petaka. Tapi melihat bagaimana Qiena bahagia setelah dekat dengan Jack mereka tidak bisa melarangnya, Sean juga tidak memperlakukan sahabat mereka dengan layak selama ini. Untuk apa Qiena bertahan lebih lama dengan kesedihan.

*****

Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan luas rumah berwarna cream itu, seorang pria dan wanita yang sudah berumur turun dari mobil dengan sangat gagah dan anggun meski sudah berusia lebih dari lima puluh tahun.

"Ma, Pa." Qiena yang baru juga tiba di rumahnya terkejut mendapati kedua orangtua-nya datang tanpa memberitahu lebih dulu.

"Kenapa terkejut begitu Qiena ? mama dan papa sangat merindukan kamu dan cucu mama, mana Sean ?" Qiena tidak tahu harus menjawab apa dia langsung mengalihkan pembicaraan untuk menyuruh Mark dan Tessa William itu masuk. Didalam rumah ternyata Yasmine dan Sean sedang bermain di ruang keluarga.

"Mommy, woah ada grand ma dan grand pa juga." Yasmine langsung memeluk Mark dan Tessa bergantian. Sean menyusul dari belakang Yasmine, dan tanpa di duga Qiena pria itu juga mengecup keningnya membuat bulu kuduk Qiena naik dan matanya melebar.

"Ah Qiena tidak perlu malu begitu di depan mama dan papa," ujar Mark membuat Qiena hanya mampu menampilkan senyuman palsu.

Keluarga itu berkumpul untuk makan malam bersama, Mark dan William mengatakan jika mereka akan pergi berlibur dan mengajak Sean dan Qiena untuk ikut bersama namun Qiena menolaknya dengan alasan banyak sekali urusan di perusahaan dan ajakan ini terlalu mendadak. Sean juga mengatakan hal yang sama, namun dia berjanji akan mengajak Qiena dan Yasmine berlibur dalam waktu dekat dan tentunya dia mengajak Mark dan Tessa untuk pergi bersama mereka.

Disaat obrolan keluarga di meja makan itu ponsel Qiena bergetar menampilkan panggilan dari Jack, Qiena meminum air mineralnya sambil ragu untuk mengangkat telpon itu.

"Siapa ?" tanya Sean karena Qiena belum juga mengangkat panggilan tersebut. Qiena tidak menjawabnya dan langsung bangkit dari duduknya. Dia menjauh dari sana untuk mengangkat telpon tersebut.

"Hallo," sapanya dan Jack terdengar menarik napas.

"Aku tidak sabar untuk bertemu dengan mu." Pipi Qiena sudah merona hanya karena ungkapan yang di katakan oleh Jack.

"Kau benar-benar lihai menggoda hem ?"

"Aku ? benarkah ! apakah kau tergoda dengan ku ?" Qiena menggelengkan kepalanya lalu dia tersadar dia sedang ditunggu di meja makan.

"Ehm Jack aku sedang ada acara bersama keluarga ku, kita lanjutkan nanti saja oke ?"

"Oh begitu, baiklah. Bye," ujar Jack terdengar sangat menyesal atau mungkin tidak enak karena sudah mengganggu waktu Qiena.

"Bye," jawab Qiena lalu memutuskan sambungan telpon.

Jantung Qiena ingin lepas rasanya karena saat dia berbalik dia menemukan Sean sudah ada di belakangnya. "Astaga Sean kau mengejutkan ku."

Bersambung....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED