"Awh!" Riana memekik kencang begitu rambut panjangnya ditarik dengan kasarnya oleh suaminya sendiri. Wanita yang masih sibuk menyusui anaknya itu pun tersungkur ke lantai setelah ditarik dari kasur oleh Indra, yang tidak lain adalah suaminya.
"Sakit, Mas!" pekik Riana pada suaminya sembari memeluk putranya dengan erat.
"Aku nggak akan seret kamu kayak gini kalau kamu nurut dari tadi!" sentak Indra pada Riana.
Pria itu tidak memiliki belas kasihan sedikit pun pada istrinya yang masih menyusui anaknya. Hanya karena Riana lebih memilih menidurkan anaknya daripada mendengarkan ajakan suaminya, Indra tak segan-segan berlaku kasar pada istrinya tanpa menghiraukan putra mereka yang masih berusia satu tahun.
Faaz terus menyusu. Dia tampak sangat kehausan hingga masih menyedot ASI ibunya. Riana mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang. Meskipun hatinya sedang sedih karena perlakuan suaminya, tapi Riana harus terlihat baik-baik saja di depan anaknya.
Indra yang tidak sabaran, langsung menarik rambut istrinya lagi dan menyeret wanita itu hingga ke ruang televisi. Indra tak peduli sama sekali pada istrinya yang sampai terbentur tiang pintu. Tidak hanya istrinya saja yang terluka, bahkan putra mereka yang masih kecil pun juga ikut menjadi korban benturan tiang pintu.
"Awh! Sakit, Mas!" pekik Riana yang merasa sakit di bagian kepala dan badannya. Tapi Indra sama sekali tak menggubris ucapan istrinya dan terus menyeretnya ke ruang televisi.
"Mas, kamu apa-apaan sih! Lihat ini Faaz jadi kena tiang pintu!" bentak Riana pada sang suami yang lebih mengedepankan emosi, daripada memperhatikan anak mereka yang masih ada dalam dekapan Riana.
"Aku nggak peduli! Makanya kalau gak mau diomelin harusnya kamu nurut dari tadi! Buruan siap-siap! Lihat tuh udah jam berapa!" omel Indra memarahi Riana di depan putra mereka.
Hanya karena masalah sepele, Indra tidak segan-segan menyakiti fisik Riana, bahkan juga ikut melukai putra mereka yang tidak tahu apa-apa. Riana menangis sembari mengusap-usap luka putranya. Tidak hanya fisik Riana saja yang terluka karena perlakuan Indra, tapi hatinya juga ikut tersakiti dengan sikap suaminya.
"Sabar bentar bisa gak sih, Mas? Faaz belum selesai minum. Faaz masih haus! Aku juga capek, Mas! Pengen istirahat meskipun hanya sebentar!" sahut Riana menahan tangis.
Bukan pertama kalinya Indra bersikap seperti ini pada Riana. Pria itu memang sering sekali mengamuk tidak jelas pada istri dan juga anaknya hanya karena masalah kecil yang sebenarnya tidak perlu diributkan.
"Cuma di rumah aja ngeluh capek. Capek mana sama aku yang tiap hari kerja?" omel Indra tak mau tahu dan tidak mau mengerti keadaan istrinya yang sudah kelelahan mengurus rumah dan anak seharian penuh.
Faaz terus menangis karena bocah itu terluka. Riana benar-benar tidak tega melihat putranya yang kesakitan karena ulah ayahnya sendiri.
Meski mendengar putranya menangis, hati Indra tak juga tergerak. Pria itu justru menyeret kembali istri dan juga anaknya hingga ke ruang televisi dan mengomeli Riana habis-habisan di depan Faaz.
"Cup-cup, Sayang. Mana yang sakit?" tanya Riana sembari mengusap-usap kening putranya yang terbentur pintu. Riana sendiri juga kesakitan. Kepala dan juga badannya ikut terluka karena terantuk pintu.
"Suruh diam tuh! Dari tadi nangis terus bikin pusing!" sungut Indra pada Riana. Bukannya membantu menenangkan anak mereka yang menangis, Indra justru masih terus mengomel pada Riana.
"Kamu nggak lihat Faaz lagi kesakitan kayak gini? Ini juga gara-gara kamu, Mas!" sahut Riana yang tak tahan dengan sifat egois suaminya.
"Gara-gara aku gimana? Semua tuh jelas karena kamu yang nggak becus jadi ibu! Kalau kamu nggak enak-enakan rebahan di kasur sambil nyusuin Faaz, Faaz nggak bakal ikut keseret!" sentak Indra tak ingin disalahkan oleh istrinya.
Keributan pun tak dapat terelakkan lagi. Pasangan suami istri itu mulai cekcok dan beradu mulut tanpa henti di ruang televisi, diiringi dengan suara tangisan Faaz yang semakin kencang.
"Faaz haus, Mas! Ngasih susu Faaz lebih penting daripada pergi ke acara temanmu. Lagian ini juga sudah malam. Aku dan faaz ingin istirahat," sahut Riana meradang.
Mendengar perkataan Riana, amarah Indra pun makin memuncak. "Makin berani kamu ya sama suami?"
Pria itu pun kembali menjambak rambut istrinya dengan geram. "Coba ngomong lagi sekarang! Lebih penting mana? Lebih penting kamu enak-enakan rebahan, gitu kan maksud kamu?"
"Aku lagi nyusuin anak kita! Aku juga capek Mas, pengen tidur. Emangnya salah kalau aku pengen istirahat setelah ngerjain pekerjaan rumah seharian? Belum lagi momong Faaz. Capek aku tuh, Mas!"
"Kamu cuma di rumah aja bilang capek. Coba kamu kerja di ladang sana! Tiap hari panas-panasan. Apa ada aku ngeluh capek? Enggak kan!" Indra semakin murka mendengar Riana yang berani melawan ucapannya.
"Kamu kerja cuma berapa jam, Mas! Pagi berangkat siang sudah sampai rumah. Lah aku? Aku kerja seharian! Dari bangun tidur jam empat pagi sampai Maghrib tanpa henti. Istirahat cuma kalo lagi nyusuin Faaz doang. Lebih capek siapa aku sama kamu!" Riana yang juga sudah terpancing emosi pun berani menyanggah ucapan suaminya.
"Kamu bener-bener istri nggak tahu di untung, ya? Dari tadi ngejawab terus! Kamu berani ngelawan sekarang, ha!" tidak hanya menjambak Riana, Indra juga mencengkram bahu Riana hingga membuat wanita itu kesakitan.
Riana makin tak tahan dengan sikap suaminya yang semena-mena pada dirinya, dan selalu saja membahayakan putranya. "Aku cuma mengungkapkan apa yang ada di pikiran aku, Mas. Aku pengen kamu ngertiin aku! Sedikit aja, Mas. Apa susah bersikap baik sama anak istrimu?" mulut Riana sampai bergetar saat berbicara. Dia merasa tidak kuat untuk menahan rasa sakit dan sedihnya. Tapi meskipun begitu sebisa mungkin Riana tetap menahan air matanya agar tak terjatuh di hadapan suaminya.
"Kurang ngertiin kamu gimana aku, ha! Udah untung nikah langsung punya rumah lengkap seisinya. Coba tuh lihat orang-orang yang masih numpang sama mertuanya! Yang gak punya kerjaan, luntang-lantung pengangguran. Masih mending kamu nikah sama aku udah punya apa-apa. Dasar perempuan gak tau diuntung! Gak pernah bersyukur!" Indra menghempaskan rambut Riana dengan kencang dari tangannya.
"Yang aku maksud bukan itu, Mas. Tapi perhatian kamu, kasih sayang kamu! Terserah kalau kamu mau nyakitin aku, tapi tolong jangan sakiti Faaz! Faaz masih anak-anak. Dia gak tahu apa-apa! Faaz nggak punya kesalahan apa pun, jadi tolong jangan sakiti Faaz lagi!"
"Siapa yang nyakitin Faaz? Salah siapa kamu peluk-peluk dia waktu aku seret? Suruh siapa kamu masih nyusuin dia waktu aku minta buat siap-siap? Faaz luka itu gara-gara kamu sendiri!" timpal Indra tanpa rasa bersalah. "Kamu jangan coba-coba pakai anak buat membantah sama suami!"
Riana pun bangkit dari lantai sembari menggendong anaknya yang masih menangis. Dengan langkah cepat, wanita itu berusaha menyingkir dari hadapan Indra dan menghentikan pertikaiannya dengan sang suami.
"Mau ke mana kamu!" Indra menarik baju bagian belakang Riana.
"Faaz masih nangis, Mas. Mau aku kasih susu lagi. Faaz pasti juga udah ngantuk," ujar Riana dengan suara lemah.
"Kamu ini benar-benar susah dikasih tahu, ya!" hardik Indra sembari mendorong Riana hingga Riana terjatuh dengan posisi memeluk anaknya. "Susah banget sih disuruh nurut sama suami? Siapa yang suruh kamu kasih susu dia lagi! Aku bilang buruan siap-siap! Kamu ini beneran pengen dihajar terus, ya?"
"Udah malam, Mas. Faaz juga udah ngantuk. Sekarang udah jam delapan malam. Faaz juga haus. Aku pun capek," sahut Riana mencoba menolak halus ajakan dari suaminya untuk pergi ke acara teman.
"Aku bilang siap-siap ya cepetan dandan yang rapi sana! Masih nggak mau nurut juga?" Indra menginjak kaki Riana dengan kencang. "Mendingan kamu pergi aja dari sini kalau kamu nggak mau nurut! Pergi sana!" ancam Indra mengusir Riana.
"Awwh sshh sakit, Mas," rengek Riana yang merasakan sakit di kakinya akibat di injak oleh suaminya sendiri.
"Siap-siap sekarang, atau pergi dari rumah ini!" ancam Indra.
Riana menyerah. Wanita itu tak mampu lagi menahan rasa sakit akibat siksaan dari suaminya yang kasar. Akhirnya Riana pun memilih mengalah. Untuk kesekian kalinya, wanita itu selalu saja mengalah pada suaminya yang tak pernah mengerti dirinya.
"Aku tunggu sepuluh menit! Kalau kamu nggak keluar juga dari kamar, bakal aku lempar semua baju-baju kamu ke luar rumah!"
Riana terisak sembari memeluk erat putranya. Setelah bertikai dengan suaminya, Riana masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap. Wanita itu masih harus menemani Indra untuk pergi ke acara teman suaminya.
"Diam ya, Nak? Kita ikut sama ayah ya? Kita jalan-jalan yuk sama ayah!" ucap Riana mencoba menenangkan putranya, di saat wanita itu sendiri juga menangis.
Begitulah kehidupan rumah tangga Riana dan juga Indra. Riana hidup bersama dengan pria yang benar-benar tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik. Dia hidup bersama suami yang hanya bisa membuatnya menderita.
Riana segera keluar dengan pakaian rapi dan wajah yang telah dia poles untuk menutupi mata sembabnya. Mereka naik kendaraan roda dua itu dan pergi menuju ke acara teman kerja Indra.
Angin malam menerpa wajah Faaz yang tengah di gendong ibunya. Riana segera memasangkan topi selimut bayi di kepala Faaz agar aman dari hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Setelah melalui pertengkaran hebat bersama suaminya, Riana masih harus tersenyum saat dirinya menampakkan wajah di depan banyak orang. Riana selalu menunjukkan ekspresi bahagia, seolah-olah tak terjadi apapun kepadanya.
Tepat pukul sepuluh malam, akhirnya acara pun selesai dan Riana bisa pulang. Faaz sampai tertidur dalam gendongan Riana. Begitu mereka tiba di rumah, wanita itu segera masuk ke kamar dan menemani putranya beristirahat. Sedangkan Indra memilih tidur di ruang tv.
***
Tepat pukul empat pagi, Riana bangkit dari ranjangnya dan hendak memulai aktivitas. Namun, langkah Riana terhenti begitu ia melihat putranya yang terbangun. "Eh, Sayang? Kok udah bangun?" sapa Riana pada putranya yang baru saja membuka mata.
Melihat putranya yang terjaga, Riana pun kembali berbaring di samping putranya sembari menyusui Faaz. "Tidur lagi ya, Sayang!" ucap Riana sembari mengusap lembut rambut putranya.
Sampai azan subuh pun akhirnya berkumandang, Indra terbangun dari tidurnya karena suara azan dari mushola yang berada di samping rumahnya. Indra merasa aneh karena tak mendengar suara apa pun dari dapur. Seharusnya istrinya sudah bangun dan mulai beraktifitas sebelum azan subuh.
"Kok dapur masih sepi?" gumam Indra bergegas menuju ke kamar untuk mencari sang istri. Pria itu pun berdiri di ambang pintu sembari melihat istrinya yang ternyata saat ini masih berbaring di ranjang untuk menemani Faaz tidur.
"Riana!" Rasa kesal menggerogoti hati Indra tatkala istrinya itu masih asik berbaring di ranjangnya.
Riana langsung menoleh ke arah pintu, "Iya, Mas." Jantung Riana berdegup kencang antara kaget dan rasa takut.
"Apa sih, Mas? Gak usah teriak-teriak bisa gak sih?" ucap Riana lembut.
"Udah jam berapa ini? Bukannya cepetan ke dapur malah enak-enakan di kasur! Buruan masak sana!" omel Indra pada Riana.
"Iya, Mas. Bentar lagi ya?" pinta Riana memohon.
"Aku bilang sekarang ya sekarang!" bentak Indra.
"Nggak bisa, Mas. Faaz kebangun gara-gara keberisikan kamu. Mas kan tahu, aku harus nyusuin selama satu jam baru faaz bisa tidur lagi."
"Tinggal di geletakin aja apa susahnya sih! Udah bangun ya biarin melek, gak usah di tidurin lagi!" sungut Indra.
"Tapi Mas, Faaz nya kan masih ngantuk. Kasian kalo gak di tidurin lagi," sahut Riana meminta pengertian suaminya.
"Udah buruan sana! Faaz biar aku yang jaga." Indra yang sedari tadi berdiri di tengah-tengah pintu pun langsung melangkah masuk untuk naik keatas ranjang.
"Tapi nanti kalau Faaz nangis gimana?" tanya Riana merasa bimbang.
"Enggak! Udah sana, gak usah bawel! Kamu mau rambut kamu aku jambak lagi?"
Riana yang tak ingin mencari masalah dengan suaminya pun langsung beranjak dan melangkah menuju dapur. Riana menghembuskan nafas panjang dan meregangkan otot-otot jarinya sebelum memulai beraktivitas.
"Astagfirullah. Aku lupa kalau belum sholat, lebih baik aku sholat dulu deh," ucap Riana seraya menepuk dahinya. Riana yang sudah berada di dapur, langsung bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajibannya.
Setelah selesai sholat, hal yang pertama Riana lakukan adalah memasak beras, sambil menunggu nasi matang, Riana mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. Dia mulai tidak tenang karena mendengar suara tangisan Faaz.
"Aduh … Faaz kenapa nangis terus ya? Kan ada mas Indra di sana." Riana menggigit bibir atasnya, mencoba untuk fokus dan segera menyelesaikan tugasnya.
Dengan grasak-grusuk Riana langsung segera memasak. Meski pun memasak adalah hal yang biasa dia lakukan, tapi tetap saja dia harus tetap berhati-hati.
"Apa Faaz haus ya? Atau karena masih ngantuk?" Riana bertanya-tanya pada dirinya sendiri seraya memasukkan penyedap ke dalam masakannya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Riana untuk memasak. Riana juga bisa mengerjakan pekerjaannya secara bersamaan. Ketika dia memasak, sambil menunggu masakannya matang Riana menyapu dapur lantai dapur dan mencicil mencuci piring-piring kotor. Bahkan terkadang Riana pun akan membawa Faaz saat melakukan pekerjaan rumah.
"Huh, akhirnya masakannya selesai." Rasa lega menyergap diri Riana, tapi hal itu tak bertahan lama karena saat Riana hendak mencuci piring, tangisan Faaz semakin memekakkan telinganya.
"Itu Faaz kenapa nangis terus ya? Mas Indra kemana sih sebenarnya." Riana benar-benar tidak bisa fokus pada aktivitasnya.
"Lebih baik aku lihat keadaan Faaz dulu deh. Gak enak rasanya kalau denger Faaz nangis kayak gitu," gumam Riana.
Saat sampai di kamar, Riana dibuat kesal oleh sikap Indra. Bagaimana tidak? Indra sedang sibuk memainkan ponselnya dan membiarkan Faaz yang terus-menerus menangis. Bahkan tidak ada raut wajah perduli saat tangan kecil Faaz menarik-narik baju Indra.
"Ya ampun, Mas. Dari tadi Faaz nangis tapi kamu malah ngebiarin dia gitu aja?"
Indra yang mendengar suara Riana hanya mengedikkan bahu tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel. Riana yang kesal pun langsung menggendong Faaz.
"Sayang, cup-cup. Kenapa anak ibu nangis terus, hmm? Sabar ya, Nak. Faaz haus ya? Ikut ke dapur dulu yuk, liat ibu cuci piring."
Faaz mulai tenang saat di dekap oleh tubuh Riana, dan hal itu membuat kedua sudut bibir Riana tertarik keatas begitu saja. Riana senang karena anaknya sudah mulai anteng lagi.
Riana yang ingat akan tugasnya, langsung bergegas melangkah kembali ke dapur untuk melanjutkan mencuci piring. Posisinya yang masih menggendong Faaz, sama sekali tak membuatnya merasa kesulitan. Justru hatinya terasa tenang karena Faaz tidak rewel lagi.
Tak terasa akhirnya Riana telah menyelesaikan mencuci semua piring dan perkakas yang kotor. Riana segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar dan akan meletakkan Faaz di atas ranjang. Akan tetapi ternyata Indra, yang berada di ruang televisi pun menoleh saat menyadari kehadiran Riana. "Udah selesai?" tanya Indra.
"Belum. Aku mau nyusuin Faaz dulu, kasihan Faaz nya kehausan," jawab Riana dengan hati yang mulai berdegup kencang, lalu Riana meletakkan Faaz di ranjang.
Indra yang mendengar jawaban Riana pun langsung naik pitam dan bangkit menghampiri Riana dengan tatapan tajamnya. "Kenapa gak di selesaikan dulu! Faaz biar disini, daripada ganggu kinerja kamu. Lagian dia juga gak bakalan ke mana-mana. Gak usah khawatir!"
"Gimana aku gak khawatir. Faaz nangis tapi kamu biarin gitu aja, Mas! Aku ini seorang ibu. Aku gak bisa kalau dengar anakku nangis terus menerus. Kamu yang ada di sampingnya justru cuekin Faaz dan pilih mainin hp daripada nenangin anaknya. Padahal Faaz lagi nangis loh, Mas? Apa susahnya sih handphone nya di taruh dulu." Riana mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya.
"Lah tapi kan aku ada di sampingnya, ngapain kamu khawatir?" Indra merasa tak terima dan langsung berdiri untuk mendekati istrinya. "Faaz itu masih kecil, gak bakalan ke mana-mana. Gak ada yang perlu kamu khawatirin dari dia."
"Tapi kan tadi Faaz lagi nangis, Mas. Apa susahnya sih kamu perhatiin dia dulu? Aku tuh yang kerja sampe gak bisa konsentrasi loh, dengar tangisan Faaz terus. Dia juga anak kamu, Mas!"
Plak! Indra menampar Riana hingga tertoleh ke arah samping. "Jangan ngejawab terus bisa gak! Kamu ini semakin lama makin berani dengan suami, ya!"
Riana yang merasakan panas di pipinya pun langsung membalikkan sedikit badannya. Sebuah air mata luruh dan Riana langsung mengusapnya, tidak dia biarkan air mata itu jatuh hingga pipinya.
Cekcok yang selalu dimenangkan oleh Indra pun tak pernah bisa terelakkan. Sudah banyak sekali Riana mengalah, dan kali ini dia harus mengalah kembali.
"Ya udah kalau gitu aku lanjut ke dapur lagi buat nyelesein tugasku dulu. Tolong jagain Faaz."
Tidak ada sahutan dari Indra, dia hanya melirik dari ekor matanya saat Riana melangkahkan kakinya kembali menuju dapur. Riana mengelap kompor. Dia juga tak lupa membilas pakaian yang telah di giling mesin cuci, lalu memasukkannya ke mesin pengering.
Saat Riana baru saja memutar mesin bagian pengering pakaian, kembali dia mendengar suara Faaz menangis. Hal itu membuat Riana semakin tergesa, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Riana mengambilkan sarapan untuk Indra ketika dia telah selesai mandi.
"Ini, Mas, sarapan kamu." Riana menyodorkan piring dan segelas air putih ke meja di depan Indra duduk.
Indra menaruh ponselnya saat jatah sarapannya sudah datang. Riana mengambil Faaz dari sofa, dan langsung menggendongnya kembali.
Melihat Indra yang memakan makanannya dengan lahap sejenak, sebelum akhirnya kembali melangkah pergi menjauh. Faaz pun tidak serewel tadi, hanya saja Riana tak tega dengan putranya yang selalu dicueki oleh ayahnya.
Riana mengambil baju dari mesin pengering sambil menggendong Faaz, lalu dia menjemurnya di luar rumah.
"Maaf ya, Nak. Kamu jadi kurang nyaman gini di gendongnya. Sebentar lagi ya, jemuran ibu tinggal dikit kok." Riana mengelus kepala Faaz.
"Mah, Pah, Riana kangen." Riana melakukan pekerjaannya dengan berderai air mata, rasa sesak menghampiri dadanya. Ia benar-benar sudah tidak tahan menghadapi sikap suaminya yang selalu semena-mena terhadap dirinya dan Faaz.
"Apa lebih baik aku pergi dari rumah ini ya? Terlalu sakit kalau aku terus bertahan dengan suami yang sama sekali tidak menyayangi putranya sendiri."
"Mau ke mana kamu, Riana?"
Bak seorang kancil yang tertangkap basah sedang mencuri, Riana langsung menghentikan aktivitas memasukkan baju dirinya dan Faaz.
Indra jelas bingung dengan sikap Riana yang memasukkan baju-bajunya ke dalam tas. Dia baru saja selesai mandi dan malah mendapati istrinya seperti itu.
"Sampai kapan kamu akan diam? Jawab pertanyaanku," ucap Indra dengan penuh penekanan, seolah memaksa Riana untuk mengungkapkan hal yang jujur.
"Kamu bisa lihat kan Mas, aku lagi ngapain?" Riana kembali melanjutkan memasukkan bajunya ke dalam tas.
"Ya. Aku bisa lihat dengan jelas kok. Tapi, apa alasan kamu sampe masukin baju ke tas segala? Mau liburan?" tanya Indra
"Aku mau pergi dari rumah ini." Bibir Riana bergetar saat mengucapkan kata tersebut, tapi tak ada pilihan lain menurutnya, selain pergi dari rumah. Dia tak ingin jika kesehatan mentalnya dan anaknya akan terganggu karena sikap Indra yang tak pernah bisa sabar dalam menghadapi keduanya.
"Gila kamu ya! Emang udah ada tujuan apa kalau pergi dari rumah ini?"
"Ada lah, aku mau pulang ke rumah orang tua ku."
"Kamu sengaja bikin aku terkesan jelek di mata kedua orang tua mu?"
'Bukannya emang bener ya? Kan memang faktanya sikap kamu itu gak baik terhadap aku dan Faaz. Orang kok gak pernah mau ngakuin kesalahannya,' cibir Riana di dalam hati. Dia masih cukup waras untuk tidak mengeluarkan cibirannya, kecuali jika dia ingin tangan atau wajahnya membiru karena amukan Indra.
Saat Riana baru saja duduk di ranjangnya sambil menata baju ke dalam tas, tiba-tiba dia merasakan kasur di sebelahnya bergerak. Riana refleks langsung melihat ke arah samping, ternyata Indra lah yang duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu lihat-lihat?"
"Gak apa-apa. Aneh aja, Mas ngapain duduk di sini." Riana kembali melanjutkan aktivitas memasukkan baju miliknya dan Faaz.
Indra yang sama sekali tidak pernah mengalah pun, kali ini harus menurunkan sedikit egonya untuk membujuk Riana. Indra meneguk ludahnya dengan susah payah, hanya dengan membujuk saja Indra harus berusaha keras.
"Kenapa kamu mau pulang?"
Riana yang mendengar pertanyaan konyol dari bibir suaminya itupun seketika langsung naik darah. Dia tak habis pikir dengan pola pikir Indra yang selalu tak pernah merasa salah kepada siapapun. "Kamu masih nanya kenapa aku mau pulang? Aku capek, Mas! Aku udah gak kuat lagi menghadapi sifat kamu."
"Sifat aku yang gimana? Udah, kamu disini aja. Jangan pulang, aku akan usahakan biar kamu betah tinggal sama aku."