Bab 1

"Apa kamu sudah dewasa?"

Di bawah pengaruh obat, Melita Parasian menjawab dengan akal sehat terakhir yang dimilikinya, "Tentu saja! Aku sudah berusia delapan belas tahun hari ini!"

"Lalu kamu memutuskan untuk menjual tubuhmu begitu kamu dewasa, ya? Apa kamu sebegitu kekurangan uang? Atau kamu hanya tidak sabar untuk bisa tidur dengan pria?"

Pria itu menyentuh dagu Melita dengan jari-jarinya yang panjang dan mengangkatnya seolah memeriksa kondisi sebuah barang yang baru diperoleh.

Jari-jarinya yang kasar membelai wajah Melita dengan lembut sampai dia tiba-tiba mencubit dagunya dengan keras dan memaksanya untuk menatap matanya. Pipinya sedikit memerah karena efek obat, yang menjadi undangan tanpa suara untuk sang pria. Wangi tubuhnya yang samar memasuki hidung pria itu, membuat bagian bawah tubuhnya mengeras dan berdenyut di antara kedua kakinya.

Namun, predator tingkat tinggi dikenal lebih sabar daripada bertindak terburu-buru. Itu sebabnya, jari-jari pria itu justru bergerak menembus gaun selipnya untuk menemui kewanitaannya yang sudah basah.

Melita berseru karena ada sesuatu yang memasuki tubuhnya dengan tiba-tiba. Sebelum dia bisa bergerak mundur, bibir pria itu sudah turun ke bibirnya, membuatnya tanpa sadar menjepit kedua pahanya.

"Santai saja." Pria itu melepaskannya sejenak.

"Cepat ...," desak Melita yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Air liur pria itu masih berkilau di sudut mulutnya.

Sang pria membungkuk dan menyeringai.

"Kamu hanya seorang gadis muda ...."

Dia berhenti sejenak sambil menatap Melita untuk sementara waktu. Tiba-tiba, dia melonggarkan cengkeramannya dan melangkah mundur dengan dingin.

"Kamu tidak memiliki apa yang kuinginkan dari seorang wanita. Keluar dari sini." Perkataan itu membuat pria itu terlihat kejam dan menjaga jarak.

Sekujur tubuh Melita gemetar. Akan tetapi, dia sudah datang ke tempat ini dan rela mempertaruhkan segalanya, jadi dia tidak akan menerima jawaban tidak. Sambil mencondongkan tubuh ke depan, dia menggodanya lagi.

"Bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu bahkan belum mencobanya?" Melita mulai melepas gaun terusan merahnya, lalu bra rendanya, memperlihatkan tubuh indahnya di bawah cahaya yang redup. Dia meraih segelas anggur merah di sampingnya dan menuangkan cairan itu ke tubuhnya. Rasa dingin membuatnya gemetar tak terkendali. Meskipun saat ini dia merasa sangat malu, tindakannya menunjukkan kesungguhannya.

"Aku basah kuyup sekarang. Aku tidak bisa pergi dalam keadaan seperti ini." Anggur merah itu mengalir dari leher ke tulang selangkanya, kemudian turun ke dadanya. Tubuh gadis muda itu terlihat sangat memikat saat ini dan membuat saraf kewarasan sang pria putus.

"Hmm ... dingin ...." Melita mendekatkan diri dengan erat padanya seperti seekor kucing jinak sambil sedikit memutar pinggangnya.

"Kamu yang meminta ini."

Pria itu tertegun selama beberapa detik, tetapi begitu akal sehatnya kembali, dia menarik Melita lagi.

Dia meraih gaun terusan berwarna merah yang masih menutupi paha Melita dan menariknya sampai kain tipisnya menutupi wajah wanita itu.

Dari awal, Melita sudah tidak bisa melihat wajah sang pria dengan jelas karena kamar itu hanya diterangi oleh lampu dinding. Sekarang, dia hanya bisa melihat garis samar sosok pria itu di atas tubuhnya.

Namun, sebaliknya, tubuh Melita benar-benar terlihat jelas bagi pria itu. Ketegangan di tubuhnya menunjukkan betapa gugupnya Melita ketika tangan besar sang pria perlahan meluncur ke tulang selangkanya, berhenti tepat di ujung dadanya yang berwarna merah muda.

Pada saat ini, karena efek obat dan gerakan tangan pria itu yang selang-seling, tubuh Melita pun mulai bergetar tak terkendali. Gairah yang muncul membuatnya menginginkan pria itu untuk masuk ke dalam tubuhnya sekarang juga.

Ketika pria itu menyaksikan betapa kuat reaksi Melita terhadap sentuhannya, tatapannya berubah dingin. Semua kelembutan yang hadir sebelumnya menghilang. Bagaimana dia bisa bersimpati dengan seorang wanita yang menggunakan obat sebelum menawarkan dirinya padanya?

Akhirnya, dia membentangkan kedua kaki Melita tanpa ragu dan segera menenggelamkan dirinya ke dalam wanita itu.

"Aduh ... sakit!"

Tangan lembut Melita menekan dada sang pria, berusaha mendorongnya menjauh, tetapi dia tidak memiliki cukup kekuatan untuk membuatnya bergerak.

Rasa sakit membuat tubuhnya menjadi sangat tegang, yang semakin menggairahkan pria itu.

Setiap kali sang pria mendorong dengan agresif ke dalam dirinya, dia mencapai tempat yang lebih dalam. Tubuh Melita pun mengikuti irama gerakan tubuhnya. Alisnya yang berkerut dengan erat tidak mampu membangkitkan belas kasihan pria itu.

Melita tidak tahu apakah dia akhirnya bisa beradaptasi dengan keganasannya atau apakah efek obat itu sudah sepenuhnya bekerja, tetapi begitu dia mengerang, wajahnya memerah seperti apel matang. Dia buru-buru menggigit lidahnya dengan keras, berusaha menahan erangan lain yang hendak keluar dari bibirnya.

Ekspresi wajahnya ini hanya semakin merangsang sang pria. Ketika gerakannya menjadi lebih cepat, dia mencium bibir halus Melita dengan kasar.

Suara bagian tubuhnya yang masuk dan keluar dari tubuh Melita serta benturan antar kulit membuat suhu seluruh kamar naik.

Keesokan paginya, Melita bangun dan mendapati dirinya sendirian di kamar itu. Pakaian dan tisu-tisu berserakan di lantai, menunjukkan betapa liarnya aksi tadi malam.

Setiap kali Melita bergerak, dia merasa tubuhnya seolah-olah terkoyak. Setelah berjuang dengan susah payah untuk bangun dari tempat tidur, dia mengambil pakaiannya dan mengenakannya.

Saat dia melihat sebuah notifikasi transfer uang di ponselnya, dia bergegas menuju rumah sakit kota dan bahkan tidak berpikir untuk mencari keberadaan pria itu.

Selama dia punya uang, ibunya bisa mendapatkan perawatan.

Tidak ada hal lain yang lebih penting baginya, bahkan kesuciannya sendiri.

Setelah membayar biaya pengobatan, Melita memegang tangan ibunya untuk terakhir kali sebelum para perawat membawanya ke ruang operasi.

Melita menunggu selama empat jam sampai dokter keluar dan mengabarkan bahwa kondisi ibunya stabil untuk saat ini. Ketika mendengar ini, dia bersandar ke dinding dan menghela napas lega.

Hanya saja, dia tidak pernah membayangkan bahwa akibat dari tindakannya tadi malam tidak berakhir begitu saja.

Setelah beberapa minggu, Melita menemukan bahwa dirinya hamil.

Meskipun dia hanya tidur dengan pria itu malam itu, dia sudah mengandung bayinya.

Untungnya, yang harus dia lakukan selama beberapa bulan ke depan hanyalah mengurus dirinya sendiri.

Orang yang mempekerjakannya sangat baik. Dia akan menerima uang setiap bulan, yang cukup untuk menutupi biaya pemulihan ibunya.

Seiring berjalannya waktu, perutnya mulai membesar dan kondisi ibunya terus stabil.

Tepat ketika Melita berpikir bahwa dia akhirnya bisa menjalani kehidupan yang damai, dia mendapat kabar dari rumah sakit bahwa kondisi ibunya memburuk.

Saat ini, kehamilannya sudah mencapai usia delapan bulan. Meskipun dia sudah bergegas sekuat tenaga ke rumah sakit, dia tidak bisa melihat ibunya untuk yang terakhir kali sebelum beliau meninggal.

Efek syok dari kematian ibunya memengaruhi kondisi fisiknya sehingga dia melahirkan secara prematur.

"Apa yang kalian lakukan? Tunggu sebentar! Biarkan aku melihat bayiku!"

Belum sempat Melita bangkit dari kesedihan karena kehilangan ibunya, sekelompok orang mendobrak masuk dan membawa pergi anaknya.

Dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menyentuh bayi itu.

"Oh! Masih ada satu lagi!"

Dalam keadaan linglung, Melita mendengar kata-kata perawat itu.

Dengan kekuatan terakhir yang dimilikinya, Melita memaksakan diri untuk membuka mata dan menyaksikan sang perawat menggendong bayi lain yang berlumuran darah.

"Kumohon ...."

Dia mengulurkan tangannya yang gemetar ke perawat itu, menghentikannya pergi dengan bayinya yang baru lahir.

"Biarkan aku melihatnya."

Hati perawat itu melunak ketika melihat air mata mengalir di wajah lelah Melita. Setelah membungkus bayi itu dengan selimut, dia menyerahkannya pada ibu yang malang itu.

Ketika perawat keluar, Melita turun dari tempat tidur dengan susah payah dan terhuyung-huyung keluar dari rumah sakit membawa anaknya dalam pelukannya. Dia tidak peduli dengan kondisinya yang masih terlalu lelah karena baru melahirkan sang kembar.

Bayi ini adalah keluarga terakhir yang dimilikinya.

Dia tidak bisa membiarkan orang-orang itu mengambil anak ini darinya juga.

Mereka tidak akan bisa menyentuhnya. Tidak akan!

Satu jam kemudian, ketika orang-orang itu mendapat kabar bahwa ada bayi kedua, mereka kembali ke rumah sakit. Seprai di ranjang rumah sakit masih berantakan, tetapi sudah tidak ada tanda-tanda keberadaan Melita.

Bab 2

Lima tahun telah berlalu.

Saat Melita sedang bekerja di depan komputer, seorang bocah laki-laki berusia lima tahun tiba-tiba menerobos pintu sambil membawa tumpukan mainan balok berwarna-warni, lalu menarik ujung celana jinsnya dan menyela pekerjaannya.

"Bu, apa Ibu ingin bermain denganku?"

Melita membungkuk dan menepuk kepalanya dengan lembut. "Sayang, maafkan Ibu. Ibu masih bekerja. Kamu bisa bermain sendiri, kan?"

Benny Parasian menundukkan kepalanya dan mengerutkan alisnya tidak senang. Dia berbalik dengan sedih sambil memegang balok bangunan, dan bergumam, "Tidak apa-apa. Aku tidak akan mengganggu Ibu lagi."

Hati Melita tenggelam melihat ekspresi sedih di wajah bocah laki-laki itu, hatinya melunak dan dia mencoba menghentikannya pergi dengan gerakan tangannya yang lembut.

Tiba-tiba, sebuah pesan muncul di layar komputer.

"Meli! Sebuah pesanan besar telah masuk!" Pesan itu datang dari agennya.

Dia menggunakan nama "Meli" untuk pekerjaan online-nya.

Setelah mempertimbangkannya untuk beberapa saat, Melita akhirnya menulis, "Pesanan seperti apa? Aku perlu tahu lebih banyak tentang ini."

"Aku akan mengirimkan informasi kontak klien. Kamu bisa mengirim pesan secara langsung pada klien untuk meminta informasi lebih lanjut."

"Oke," tulis Melita sambil tersenyum.

Tak lama setelah berteman dengan klien tersebut di aplikasi WhatsApp, Melita membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk menanyakan rincian pekerjaan itu.

Klien tersebut mempekerjakannya untuk mencoreng nama Jordan Gunardi, CEO dari Grup Gunardi, yang memiliki latar belakang yang hebat dan terkemuka.

Menurut publik, pria ini terkenal dingin dan licik, tidak tertarik pada wanita, dan bebas dari kecanduan judi ataupun narkoba.

Singkatnya, dia adalah pria yang sempurna, tetapi hampir mustahil untuk mendekatinya.

Namun, kliennya mengatakan bahwa pria itu sangat berbeda dari apa yang dipercayai oleh dunia luar. Itu semua hanyalah kamuflase.

Dia berbohong dan menipu adik perempuan klien. Yang terburuk, rasa cintanya pada pria itu membuatnya mencoba melakukan bunuh diri berkali-kali.

Klien juga mengirimkan beberapa foto lengan adik perempuannya, memperlihatkan beberapa luka besar dan kecil.

Dalam keadaan normal, agen akan memeriksa sebagian besar dokumen yang diberikan oleh klien sebelumnya dan memastikan kebenarannya.

Klien menuntut agar kedok Jordan yang bersikap seolah 'tidak tertarik pada wanita' diungkap ke publik.

Setelah mendalami lebih banyak tentang masalah ini, Melita, sang ratu opini publik yang berkuasa di Internet, akhirnya setuju.

Keesokan harinya, karena misi barunya yang cukup sulit, dia memutuskan untuk berdandan sebelum pergi meninggalkan rumah.

Di ujung tempat tidur, Benny sedang duduk sambil mengayunkan kakinya yang pendek dan memiringkan kepalanya ketika melihat ibunya bergerak bolak balik untuk berganti pakaian.

"Apa Ibu mau keluar?"

Saat Melita mendengar itu, tangannya berhenti mengancingkan bajunya. Dia berbalik untuk menghadap Benny dan menjawab, "Ya, Ibu harus pergi bekerja hari ini. Benny baik-baik di rumah, ya?"

"Aku tidak mau! Ibu, ajak aku bersamamu!" Bocah laki-laki itu mengerutkan keningnya, lalu melompat dari tempat tidur dengan ekspresi cemberut dan memeluk kaki Melita.

Melita menundukkan kepalanya dan menatapnya, menyadari bahwa akan sulit untuk meyakinkannya kali ini.

Bocah yang lengket ini bisa mencegahnya keluar hari ini.

Melita berjongkok dan mencoba membujuknya sambil menekan pelipisnya, merasa sedikit pusing. "Sayang, Ibu akan menyelamatkan dunia dengan mengalahkan orang jahat di luar sana. Kamu masih terlalu kecil untuk menemani Ibu melakukan sesuatu yang seserius ini."

Benny melepaskan genggamannya dengan cepat, dia mengangkat kepalanya, dan menatapnya dengan mata yang berbinar. "Apa Ibu seorang wanita super? Apa Ibu akan keluar untuk menghadapi orang jahat?"

Melita mengangguk, berusaha keras untuk tidak tertawa, dan menambahkan, "Ya, benar."

Benny memandangnya dengan tatapan penuh kekaguman. Dia berubah pikiran dan memberi isyarat agar ibunya pergi.

Melita dengan cepat mengambil tasnya. Sebelum pergi, dia mengatakan berulang kali pada Benny untuk tidak membukakan pintu saat seseorang mengetuk, dan tidak menyentuh bagian tertentu di rumah. Nantinya, pengasuh akan menggunakan kuncinya untuk masuk ke dalam rumah.

Benny berjalan ke pintu depan, melambaikan tangannya dan berkata, "Aku mengerti! Ibu terlalu bertele-tele. Sudah waktunya bagimu untuk pergi! Selamat tinggal!"

Setelah itu, dia menutup pintu.

Melita hanya berdiri diam di luar pintu selama beberapa saat sebelum menyadari apa yang sedang terjadi. Dia merasa geli dengan tindakan bocah itu.

Setengah jam kemudian, Melita muncul di depan gedung Grup Gunardi, dengan penampilan yang cantik.

Dia telah mengirimkan resumenya ke situs web resmi Grup Gunardi tadi malam, dan melamar posisi asisten sementara sang CEO. Pada akhirnya, dia dipekerjakan untuk posisi itu.

Meskipun dia hanya bekerja selama tiga hari, itu sudah cukup untuknya.

Setelah menggesekkan kartunya dan memasuki gedung, Melita naik lift ke lantai atas, bertindak seolah-olah dia pernah ke sana sebelumnya.

Tak lama, lift berhenti dengan sebuah suara gemerincing yang lembut. Orang-orang bergegas keluar dari lift, dan mereka bahkan mendorong Melita ke samping. Dia tersandung dan tidak bisa berjalan lurus dengan sepatu hak tingginya. Dia hampir terjatuh setelah beberapa kali gagal menjaga keseimbangan.

"Ada apa dengan semua orang, mengapa berlarian dan saling mendorong? Kalian benar-benar ...."

Melita memelototi semua orang sambil menepuk kain roknya.

Entah bagaimana, kerumunan tiba-tiba menjadi sangat bersemangat.

Dia mengikuti tatapan semua orang dan melihat sosok tinggi dan tegak mendekat dari kejauhan.

"Ya Tuhan! Aku tidak percaya ini. Apa itu CEO perusahaan ini? Hari ini sungguh hari yang beruntung! Kita bisa bertemu dengannya! Dia luar biasa tampan!"

Mata Melita membesar saat mendengar kata kuncinya. Saat dia melihat orang itu mendekat, dia pun menelan ludahnya.

Foto-foto yang ada di dalam file yang diperolehnya tidak mirip dengan orang yang dilihatnya.

Pria ini tampak seratus kali lebih menawan secara langsung daripada di foto!

Tak heran adik perempuan kliennya mencoba bunuh diri berulang kali demi pria ini.

Melita menghela napas berat di dalam hatinya saat dia teringat bahwa pria ini adalah sampah, yang telah menipu seorang gadis dan memiliki karakter yang buruk.

Selama seorang pria tampan terkait dengan kata 'sampah', setampan apa pun dia, tidak akan ada gunanya.

Setelah pria itu pergi, semua orang berpencar ke segala arah.

Melita menundukkan kepalanya sambil mengikutinya dari dekat, dia juga menarik roknya ke atas sedikit dan mencengkeram tas di tangannya.

"Apa kamu asisten baruku?"

Karena dia tidak mengantisipasi pria itu tiba-tiba berhenti dan berbalik, Melita gagal berhenti tepat waktu dan menabrak pundak pria itu.

"Aduh ... ya, saya telah dipekerjakan sebagai asisten baru Anda. Hari ini adalah hari pertama saya bekerja."

Setelah melangkah mundur dan mengusap hidungnya dengan telapak tangannya, Melita tersenyum ke arahnya.

Setelah mendengarnya, Jordan mengerutkan keningnya dan menatapnya dengan cuek. Tatapannya akhirnya tertuju pada rok selututnya.

"Apa kamu yakin tidak datang ke tempat yang salah?"

Bab 3

Melita merasa sedikit linglung dalam sekejap. Tidak yakin apakah dia salah mengerti perkataannya, dia mengeluarkan kartu pegawai dari dalam tasnya, tersenyum dan berkata, "Saya tidak datang ke tempat yang salah. Seperti yang Anda lihat, saya bekerja di sini."

"Oh, benarkah?" Jordan mengerutkan alisnya dan mengambil kartu karyawan dari tangannya untuk memeriksanya. Dia mengerutkan bibirnya dan berkata, "Sayangnya, sekarang kamu dipecat. Tolong segera tinggalkan tempat ini."

Melita menganga kaget. Hari ini, dia sengaja merias wajahnya dengan riasan terbaiknya, sehingga meskipun dia tidak terlihat begitu cantik dan memesona, secara logis wajahnya tidak akan sampai membuat pria ini merasa jijik atau ingin memecatnya, kan?

Bukankah dia tertarik pada wanita yang modis dan berpenampilan rapi?

"Tunggu sebentar!"

Dia mendapatkan kembali akal sehatnya, berlari beberapa langkah ke depan Jordan dan mengangkat tangan untuk menghentikannya.

"Bisakah Anda setidaknya mengatakan alasan mengapa Anda memecat saya barusan? Saya sangat yakin bahwa memberhentikan seorang karyawan karena penampilannya sulit diterima. Anda tidak dapat mengabaikan kemampuan bekerja saya yang luar biasa!"

Jordan menghentikan langkahnya dan menggelengkan kepalanya. Setelah meliriknya dengan ekspresi malas, dia berbalik dan berkata, "Kamu di sini untuk bekerja. Lihatlah dirimu di cermin. Mengapa kamu berdandan seperti ini? Kehadiranmu hanya akan mengganggu efisiensi dan fokus para karyawan pria kami."

"Hah? Mengapa Anda berbicara seperti itu?" Dengan wajah terkejut, Melita menundukkan kepalanya dan menyesuaikan garis leher gaunnya. Dia tidak menyadari bahwa jika dia berusaha sedikit lebih keras untuk menariknya, dada bulatnya yang tersembunyi di bawah pakaiannya akan terlihat.

"Yah, lihat ke sekelilingmu dan katakan padaku apa yang kamu pikirkan." Jordan memalingkan wajahnya setelah memberinya tatapan penuh arti.

Melita mengikuti tatapannya dan tiba-tiba menyadari bahwa semua karyawan pria di kantor ini sedang melirik lekuk tubuhnya.

Wajahnya langsung memerah karena perhatian dari para pria di sekitarnya. Namun, kemudian sebuah ide cemerlang muncul di benaknya. Dia menatap masing-masing pria itu dan meninggikan suaranya. "Jika Anda mempertahankan pekerjaan saya, saya yakin, di atas kemampuan bekerja saya yang luar biasa di kantor, saya juga bisa meningkatkan efisiensi kerja mereka secara langsung.

Jordan mengangkat alisnya sedikit. Perkataan wanita ini jelas menggelitik minatnya. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengangguk padanya, dan memberi isyarat padanya untuk melanjutkan.

Merasa puas dengan reaksinya, Melita menoleh ke para karyawan pria dan dengan perlahan berkata. "Aku akan berkencan dengan siapa pun yang menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu hari ini."

Pernyataannya yang berani bekerja seperti sulap.

Dalam hitungan detik, para karyawan pria itu mulai mengetik dengan penuh semangat di depan komputer mereka, membenamkan diri mereka dalam pekerjaan dengan sangat antusias.

Jordan berdiri diam di sampingnya sebelum berbalik untuk pergi, dan melirik Melita dengan senyum tipis di wajahnya.

Melita tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja. Dia bergegas untuk menyusulnya dan bertanya sambil tersenyum resah, "Jadi bisakah saya mendapatkan kembali pekerjaan saya? Bagaimana menurut Anda, Pak Jordan?"

Jordan tidak menghentikan langkahnya, dan melemparkan kartu pegawai padanya.

Dia adalah seorang pengusaha yang cerdas. Tidak ada alasan untuk menolak apa pun yang baik untuk perusahaan.

Melita menangkap kartu pegawai dan berdiri dengan linglung. Dia melihat Jordan memasuki kantornya dan terdiam sejenak untuk memproses semua yang baru saja terjadi. Dia mengepalkan tinjunya dengan penuh kemenangan sambil menyeringai lebar, dan diam-diam bersorak untuk dirinya sendiri.

Dia yakin hanya tinggal menunggu waktu sebelum Jordan mengubah sikap tidak pedulinya terhadapnya.

Hampir satu jam kemudian, bosnya yang tampan keluar dari kantornya dengan tas kerja di tangannya. Melita memperhatikannya dan langsung terkesiap takjub.

Dia menatap Jordan dengan ekspresi tidak percaya, dia tidak menyangka hasilnya akan keluar secepat ini.

Dalam waktu kurang dari satu jam, pria itu sudah menyelesaikan pekerjaannya. Jordan memasang ekspresi acuh tak acuh sambil berjalan menuju lift.

Perkembangan tak terduga ini merupakan kejutan yang menyenangkan bagi Melita.

Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan! Dalam hal ini, dia bahkan tidak perlu memikirkan bagaimana menghadapi para pria kaku berkacamata itu!

Setelah memeriksa wajahnya di cermin, dia mengambil tasnya, berlari ke lift dan mengikutinya ke dalam.

"Ehem! Pak Jordan, saya adalah orang yang memegang janji saya. Saya senang memberi tahu Anda bahwa Anda adalah orang pertama yang menyelesaikan pekerjaan hari ini. Katakan pada saya, ke mana kita harus pergi untuk kencan kita hari ini?" Dia menatapnya sambil tersenyum cerah.

Jordan meliriknya dengan tatapan dingin dan mendengus jijik. "Berkencan denganku?"

Melita tersenyum dan berseru, "Ya! Akan menyenangkan untuk berkencan dengan Anda."

Jordan memalingkan wajahnya dengan acuh tak acuh dan melirik arloji di tangannya. "Maaf, tapi aku tidak tertarik padamu. Selain itu, aku memiliki urusan yang lebih penting untuk dilakukan."

Begitu dia selesai berbicara, lift akhirnya tiba di lantai pertama. Melihatnya berjalan keluar dari lift, Melita tertegun. Dia yakin ada percikan di antara mereka meskipun pria itu langsung menolaknya.

Bagaimanapun juga, selama bertahun-tahun dia telah bertemu dengan beberapa pria munafik.

Penolakannya bukanlah pukulan besar bagi Melita. Setelah mendapatkan kembali ketenangannya, dia kembali mengejarnya.

"Pak Jordan, mengapa Anda tidak mempertimbangkan kembali ajakan saya? Saya adalah seorang wanita penurut yang akan mengikuti setiap perintah Anda. Anda tidak perlu khawatir tentang saya. Jika Anda ingin mengakhiri kencan ini, saya akan langsung pergi meninggalkan Anda. Tidak ada salahnya mengajak saya keluar untuk menikmati hidangan sederhana. Mari kita lihat apa yang akan terjadi. Mungkin Anda akan menikmati kebersamaan dengan saya!"

Jordan berhenti berjalan dengan tiba-tiba. Dia menatapnya dengan ekspresi yang tajam dan berkata, "Sampai jumpa di gerbang perusahaan pukul enam besok malam. Jangan membuatku menunggu."

Apa yang baru saja terjadi? Apa pria ini akhirnya setuju?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED