Malam itu, hujan turun deras membasahi kaca jendela apartemen Kirana. Tangannya gemetar saat menatap layar ponselnya, foto yang baru saja dikirim seorang teman menusuk hatinya dalam-dalam.
Tunangannya, Malvin, sedang berciuman mesra dengan sahabatnya sendiri, Ayunda.
Jantung Kirana berdetak kencang. Napasnya memburu, dan air mata mulai mengalir tanpa bisa ia hentikan. Ia segera menghubungi Malvin, berharap ada penjelasan, tapi dering panjang itu berakhir dengan suara operator.
Kirana menghempaskan ponselnya ke sofa. Dadanya sesak, kepalanya terasa penuh. Perasaan dikhianati membuatnya muak, dan satu-satunya hal yang terpikir olehnya saat itu hanyalah keluar dari tempat ini.
Tanpa berpikir panjang, ia meraih jaket dan tas, lalu melangkah keluar dari apartemen tanpa peduli hujan yang masih mengguyur jalanan kota.
---
Bar kecil di sudut kota tampak remang-remang dengan alunan musik jazz lembut. Kirana duduk di kursi tinggi dekat meja bartender, jemarinya membelai gelas cocktail yang baru saja disajikan.
"Minuman pertama?" suara berat seorang pria terdengar di sebelahnya.
Kirana menoleh. Seorang pria duduk di kursi sampingnya, mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku. Wajahnya tegas, dengan rahang kokoh dan tatapan tajam yang entah mengapa terasa menenangkan.
Ia mengangkat bahu. "Pertama, kedua... siapa yang menghitung?" jawabnya, berusaha terdengar santai.
Pria itu tersenyum tipis. "Sepertinya kau butuh lebih dari sekadar satu gelas."
Kirana menatap minumannya, lalu menyesapnya perlahan. "Aku hanya ingin melupakan sesuatu."
"Hm." Pria itu mengaduk minumannya dengan es batu. "Melupakan atau kabur?"
Kirana tertawa kecil, tapi suaranya pahit. "Mungkin keduanya."
Pria itu tak bertanya lebih lanjut, tapi tatapannya seolah mengatakan bahwa ia mengerti. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Kirana merasa aman, meskipun mereka baru bertemu.
Seiring percakapan mengalir, Kirana merasa bebannya sedikit berkurang. Ia tidak tahu apakah itu efek alkohol atau hanya karena pria di sampingnya ini terlalu nyaman untuk diajak bicara. Yang jelas, malam itu, ia tidak ingin pulang sendirian.
---
Musik semakin pelan. Bar mulai sepi. Kirana menatap pria di sampingnya dengan napas yang sedikit berat.
"Aku tak ingin pulang malam ini," ucapnya, hampir seperti bisikan.
Pria itu menatapnya dalam. Sejenak, ada keheningan di antara mereka sebelum akhirnya pria itu mengulurkan tangan.
"Adrian," katanya, mengenalkan diri.
Kirana menatap tangan itu sesaat, lalu menggenggamnya. "Kirana."
Adrian tersenyum tipis. "Ayo."
Tanpa banyak kata, mereka meninggalkan bar bersama.
---
Sinar matahari menembus tirai jendela, menusuk kelopak mata Kirana yang masih berat. Ia menggeliat pelan, merasakan kehangatan yang asing.
Begitu matanya terbuka, ia tertegun.
Ia berada di sebuah kamar hotel, selimut tebal melingkupinya. Jantungnya langsung berdegup kencang saat menyadari seseorang ada di sampingnya.
Adrian.
Lelaki itu masih tertidur, napasnya teratur. Wajahnya terlihat lebih tenang dibandingkan tadi malam, membuat Kirana semakin panik.
"Astaga..." Kirana menutup wajahnya. Ingatan samar tentang malam itu mulai kembali, dan ia sadar betapa impulsifnya keputusannya semalam.
Tidak ingin membangunkan Adrian, Kirana segera bangkit, mencari-cari bajunya yang berserakan di kursi. Dengan gerakan cepat, ia mengenakan pakaiannya, lalu melangkah menuju pintu.
Namun, sebelum ia berhasil keluar, suara berat yang familiar menghentikannya.
"Kemana?"
Kirana membeku. Ia menoleh pelan dan menemukan Adrian menatapnya dengan sorot mata tajam, separuh mengantuk.
"Aku..." Kirana menelan ludah. "Aku harus pergi."
Adrian menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk pelan. "Baiklah."
Tanpa menunggu lebih lama, Kirana segera melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya dengan perasaan yang campur aduk.
Ia tidak tahu apakah akan bertemu pria itu lagi atau tidak. Tapi satu hal yang pasti, malam itu akan menjadi kenangan yang sulit ia lupakan.
Kirana berjalan cepat di koridor hotel, jantungnya masih berdetak kencang. Ia menggigit bibirnya, merasa panik sekaligus menyesali keputusannya tadi malam.
Apa yang kupikirkan? Bagaimana bisa aku melakukan ini?
Begitu mencapai lobi, ia langsung merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan menarik napas dalam. Ia berharap tidak ada yang memperhatikannya saat ia melangkah keluar dari hotel menuju trotoar yang masih basah sisa hujan semalam.
Pagi kota Jakarta sudah ramai, tetapi Kirana merasa seolah berada dalam dunianya sendiri, penuh kekacauan. Ia merogoh tasnya, mencari ponsel, lalu memeriksa pesan-pesan yang belum terbaca.
Satu dari ibunya, menanyakan apakah ia baik-baik saja.
Satu dari sahabatnya, Lita, yang bertanya apakah Kirana ingin curhat setelah kejadian kemarin.
Dan satu lagi... dari Malvin.
Kirana mendadak merasa mual. Ia tidak ingin melihat isinya. Ia sudah cukup terluka, dan sekarang, ia tidak ingin memberikan ruang bagi lelaki itu lagi.
Ia segera menghentikan taksi dan masuk ke dalamnya, memberikan alamat apartemennya kepada sopir dengan suara lelah.
Saat mobil mulai melaju, Kirana menyandarkan kepalanya ke jendela. Pikirannya melayang ke malam tadi, senyuman samar Adrian, tatapan tajamnya, dan bagaimana ia membuatnya melupakan rasa sakitnya, walau hanya sementara.
Ia menggelengkan kepala.
"Sudah cukup," gumamnya pada dirinya sendiri.
Malam itu hanya sebuah pelarian. Tidak lebih.
---
Begitu sampai di apartemennya, Kirana langsung mandi, berharap air hangat bisa menghapus kebingungan yang masih menggelayutinya. Ia menatap bayangannya di cermin, mata sembab karena kurang tidur dan mungkin sisa tangisan semalam.
Ia menarik napas panjang.
Mulai hari ini, aku harus benar-benar move on.
Ia keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian kasual, lalu mengambil laptopnya. Ini adalah hari pertama di tempat kerja barunya, sebuah perusahaan konsultan bisnis ternama. Ia sudah terlalu lama terjebak dalam drama masa lalu, sekarang saatnya fokus pada karier.
Ia tersenyum kecil, mencoba membangun kepercayaan diri.
"Aku bisa melupakan semua ini," bisiknya.
Kirana meraih tasnya dan melangkah keluar. Ia tak tahu bahwa dunia kecil ini akan mempermainkannya lagi.
Ia tak tahu bahwa pria yang ingin ia lupakan... akan kembali hadir di hadapannya dengan cara yang tak terduga.
Setelah perjalanan yang cukup lama, Kirana akhirnya tiba di gedung megah tempatnya akan bekerja. Ia berdiri sejenak di depan lobi, menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
"Ini awal baru," bisiknya.
Dengan langkah mantap, ia memasuki gedung dan berjalan menuju resepsionis. Setelah memperkenalkan diri sebagai karyawan baru, seorang staf HRD datang menghampirinya dan mengantar ke ruang meeting untuk perkenalan awal dengan tim.
Kirana tersenyum ramah saat bertemu beberapa rekan kerja barunya. Mereka tampak profesional dan menyambutnya dengan baik. Sedikit demi sedikit, kecemasannya berkurang.
"Sebentar lagi, direktur kita akan datang," ujar seorang senior dengan nada hormat.
Kirana mengangguk. Ia sudah membaca sekilas tentang bos barunya, seorang pemimpin muda yang cerdas dan berpengaruh di dunia bisnis. Namun, ia tidak terlalu memperhatikan detailnya karena fokusnya adalah bekerja, bukan siapa pemimpinnya.
Pintu ruang rapat terbuka.
Semua mata langsung tertuju pada pria yang melangkah masuk dengan aura dominannya.
Kirana, yang tadinya sibuk mencatat sesuatu di bukunya, perlahan mengangkat wajahnya.
Dan saat itu juga, dunianya seakan berhenti berputar.
Sosok itu. Tatapan itu.
Adrian.
Pria yang semalam bersamanya, yang seharusnya ia lupakan... kini berdiri di hadapannya sebagai bos barunya.
Kirana membeku. Napasnya tercekat.
Di sisi lain, Adrian hanya menatapnya sekilas tanpa ekspresi, tanpa reaksi berlebihan.
Seolah-olah malam itu tidak pernah terjadi.
Namun, ada sesuatu di matanya... sesuatu yang membuat Kirana yakin, ia tidak akan bisa lari dari kenyataan ini.
Ruangan meeting terasa lebih dingin dari seharusnya. Atau mungkin hanya perasaan Kirana yang membeku begitu melihat pria yang baru saja melangkah masuk.
Adrian.
Pria yang semalam bersamanya.
Pria yang seharusnya tidak akan ia temui lagi.
Kini berdiri di depan ruangan, mengenakan kemeja putih rapi yang dilapisi jas abu-abu. Sorot matanya tajam, penuh wibawa. Tidak ada jejak dari pria yang semalam duduk santai di bar, mengajaknya bicara dengan nada hangat.
Kirana menelan ludah, berusaha menenangkan diri. Ini pasti mimpi buruk.
Sementara itu, Adrian berdiri tegak, memasukkan satu tangannya ke saku celana, sementara tangan lainnya bertumpu di meja panjang.
"Selamat pagi," suaranya tenang, dalam, dan tegas. "Saya Adrian Rahardian, direktur utama di sini."
Telinga Kirana berdenging. Direktur utama?
"Ada beberapa wajah baru di ruangan ini. Sebelum kita mulai, saya ingin mengenal kalian lebih dulu," lanjut Adrian dengan nada profesional. "Mulai dari... Anda."
Kirana terlonjak sedikit ketika sadar bahwa jari Adrian mengarah padanya.
Sial.
Ia berdiri dengan sedikit kaku, merasakan tatapan semua orang tertuju padanya. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena perkenalan ini, tapi karena pria di depannya yang seharusnya asing, tapi justru terasa terlalu dekat.
Kirana berdeham, mencoba mengontrol suaranya. "Kirana Putri, saya baru bergabung sebagai analis bisnis di tim strategi."
Adrian mengangguk kecil. "Punya pengalaman di bidang ini sebelumnya?"
"Ya, saya pernah bekerja di perusahaan konsultan selama dua tahun."
Adrian menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis, senyuman profesional yang membuat Kirana tidak bisa menebak isi pikirannya. "Bagus. Selamat bergabung, Kirana."
Ia segera duduk kembali, berusaha menjaga ekspresinya tetap netral. Tapi yang terjadi di dalam dirinya? Kacau.
Adrian kembali memperkenalkan dirinya secara umum, menjelaskan visi dan harapan bagi timnya. Sepanjang waktu, Kirana berusaha tidak menatapnya terlalu lama, meskipun ia merasa tatapan pria itu sesekali mengarah padanya.
Apakah ini kebetulan? Atau... sesuatu yang lebih dari itu?
----
Rapat selesai setelah satu jam. Kirana buru-buru membereskan catatannya, berharap bisa segera keluar dari ruangan tanpa insiden apa pun.
Namun, saat ia hampir mencapai pintu, suara bariton itu menahannya.
"Kirana."
Ia berhenti di tempat.
Perlahan, ia berbalik. Adrian berdiri di belakangnya, tangan terselip di saku, ekspresinya tetap tenang.
"Bisa ke ruangan saya sebentar?"
Beberapa rekan kerja yang masih di ruangan saling bertukar pandang. Kirana bisa merasakan mereka mulai berspekulasi.
Dengan hati-hati, ia mengangguk. "Tentu, Pak."
Adrian tidak berkata apa-apa lagi dan langsung berjalan keluar. Kirana menghela napas, lalu mengikuti langkahnya.
---
Begitu masuk ke dalam ruangan Adrian, Kirana langsung merasa tertekan oleh atmosfer di dalamnya. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota.
Adrian berdiri di depan mejanya, menyilangkan tangan di dada.
Kirana berdiri kaku di dekat pintu. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Adrian mengangkat alis, lalu menghela napas kecil. "Jangan terlalu kaku, Kirana."
Kirana meneguk ludah. "Saya hanya mencoba profesional."
Adrian menatapnya lama, seolah menilai sesuatu. "Begitu juga saya."
Hening.
Kirana tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana seharusnya ia bersikap? Semalam, mereka adalah dua orang asing yang berbagi satu malam yang seharusnya tidak memiliki konsekuensi. Tapi sekarang, pria itu adalah bosnya.
"Jadi..." Adrian akhirnya bicara lagi. "Bagaimana menurutmu tentang hari pertamamu?"
Kirana berusaha fokus. "Sejauh ini baik, Pak. Timnya sangat suportif."
Adrian mengangguk, lalu menyandarkan diri pada meja. "Bagus. Saya ingin kita tetap profesional."
Kirana menegang. "Tentu."
Adrian menatapnya lagi, tatapan yang sulit diartikan. "Apa yang terjadi semalam... tidak akan memengaruhi pekerjaanmu di sini."
Jantung Kirana berdebar lebih cepat.
Ia tahu maksud Adrian. Laki-laki itu ingin memastikan bahwa mereka bisa bekerja tanpa ada perasaan canggung atau masalah pribadi.
Tapi... bisakah Kirana benar-benar mengabaikan fakta bahwa mereka pernah berbagi sesuatu yang seharusnya hanya menjadi rahasia malam itu?
Ia mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak."
Adrian tersenyum tipis, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Kirana tahu, pria ini sedang mengujinya.
"Baik," ujar Adrian akhirnya. "Kalau begitu, kembali bekerja."
Kirana segera berbalik, tetapi sebelum ia mencapai pintu, suara Adrian kembali terdengar.
"Oh, dan satu lagi, Kirana."
Ia berhenti.
Adrian menatapnya dari balik meja, matanya penuh arti. "Jangan terlalu gugup setiap kali menatap saya. Orang lain bisa salah paham."
Darah Kirana berdesir.
Ia buru-buru keluar, menutup pintu di belakangnya, dan bersandar di sana dengan napas tertahan.
Astaga.
Hari pertama kerja, dan ia sudah hampir kehilangan kendali.
Kirana berjalan cepat di koridor setelah keluar dari ruangan Adrian, mencoba menenangkan diri. Nafasnya masih belum stabil, dan kepalanya penuh dengan suara Adrian yang terdengar terlalu santai dan menyebalkan.
"Jangan terlalu gugup setiap kali menatap saya. Orang lain bisa salah paham."
Astaga. Kirana ingin sekali berbalik dan mengatakan sesuatu yang tajam, tapi ia masih sadar diri. Ini bukan tempatnya untuk bersikap impulsif.
Ia menutup matanya sejenak dan menarik napas panjang. "Tenang, Kirana. Jangan sampai dia tahu kalau kamu kesal."
Baru saja ia melangkah menuju meja kerjanya, seorang rekan kerja, Dinda, mendekatinya dengan tatapan penasaran.
"Kirana, kok bisa-bisanya baru hari pertama udah dipanggil bos ke ruangan?" tanyanya dengan nada menggoda.
Kirana memaksakan senyum. "Kayaknya cuma prosedur biasa. Perkenalan gitu."
Dinda mengangguk, meski masih terlihat curiga. "Hmm, biasanya kalau perkenalan mah di depan banyak orang, bukan privat di ruangannya. Bos Adrian itu tipe yang nggak terlalu dekat sama karyawan baru, lho."
Kirana menelan ludah. Oh, jadi dia memang jarang melakukan ini? Lalu kenapa justru aku yang dipanggil?
Ia hanya mengangkat bahu. "Mungkin aku spesial." Ia terkekeh, mencoba mengalihkan perhatian Dinda, lalu buru-buru duduk di mejanya.
Tapi fokusnya sudah berantakan. Setiap kali ia menunduk menatap layar komputer, bayangan Adrian muncul di kepalanya. Tatapan dinginnya. Cara bicaranya yang datar tapi menusuk.
Dan yang paling membuatnya kesal?
Laki-laki itu tahu dia gugup.
Kirana mendengus pelan, mengetik cepat di laptopnya untuk mengalihkan pikiran. Tapi baru beberapa detik, notifikasi email muncul di layarnya.
"[Kirana, siapkan laporan singkat tentang proyek baru sebelum meeting jam satu siang. Saya ingin melihat sejauh mana pemahamanmu. Jangan buat saya kecewa.]"
Kirana mengerjapkan mata.
Apa-apaan ini? Dia baru mulai kerja beberapa jam, dan sudah diberi tugas seperti ini?
Tapi yang lebih mengesalkan adalah kalimat terakhirnya.
'Jangan buat saya kecewa.'
Ugh! Kirana nyaris mengumpat. Pria itu benar-benar suka menguji kesabarannya.
Ia mengetik balasan cepat dengan nada sesopan mungkin, meskipun tangannya gatal ingin menambahkan komentar sarkastik.
"[Baik, Pak. Saya akan menyiapkannya.]"
Setelah mengirim email, Kirana bersandar di kursinya, menghela napas panjang.
"Hari pertama kerja, dan aku sudah ingin membanting laptop," gumamnya.
Tapi satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan Adrian menang. Jika pria itu mengujinya, maka ia akan membuktikan bahwa ia bisa bersikap profesional.
Walaupun dalam hati... ia ingin sekali berteriak karena gemas.
Kirana mengetik di laptopnya dengan kecepatan penuh, berusaha fokus pada laporan proyek yang diminta Adrian. Sudah dua hari sejak ia mulai bekerja di perusahaan ini, dan sejauh ini, ia berhasil menahan diri untuk tidak bereaksi setiap kali Adrian berada di dekatnya.
Tapi tetap saja... pria itu bukan tipe bos yang mudah diabaikan.
Setiap kali Adrian masuk ke ruangan atau berbicara dalam rapat, Kirana merasakan tatapan itu, tatapan yang seakan menyelidiki dan mengujinya. Seakan pria itu sengaja mengingatkan Kirana tentang apa yang pernah terjadi di antara mereka.
Dan itu sangat mengganggunya.
"Kirana, ada yang mau kutanyakan."
Suara Adrian yang dalam dan tegas membuatnya tersentak. Kirana mengangkat wajah dan mendapati pria itu berdiri di samping mejanya, tangan terselip di saku celana, ekspresinya tenang tapi matanya tajam.
Ia meneguk ludah, berusaha agar suaranya terdengar normal. "Iya, Pak?"
Adrian melirik laptopnya sekilas, lalu kembali menatapnya. "Ikut saya ke ruangan."
Kirana merasakan beberapa rekan kerja di sekitarnya mulai melirik mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu itu terasa seperti bel alarm di kepalanya.
"Tapi saya masih menyelesaikan laporan..."
"Saya hanya butuh lima menit," potong Adrian, suaranya tak terbantahkan.
Kirana tahu ia tidak punya pilihan selain mengikutinya.
---
Begitu mereka masuk ke ruangan Adrian, pria itu menutup pintu dan berjalan ke belakang meja, tapi tidak segera duduk.
Kirana tetap berdiri, kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Adrian menatapnya lama, lalu menyandarkan diri ke meja. "Kenapa menghindar?"
Jantung Kirana mencelos. "Saya tidak mengerti maksud Anda."
Adrian mendengus, lalu melipat tangan di dada. "Jangan pura-pura, Kirana. Sejak hari pertama, kamu selalu menjaga jarak, menghindari kontak mata, dan berusaha seolah-olah kita tidak pernah bertemu sebelumnya."
Kirana menegakkan bahunya. "Saya hanya ingin bersikap profesional."
Adrian melangkah mendekat. "Profesional?" Nada suaranya rendah, hampir seperti ejekan. "Atau takut?"
Kirana mengatupkan bibir, menolak terpancing. "Saya tidak takut."
Adrian berhenti di depannya, begitu dekat hingga Kirana bisa mencium wangi maskulin dari parfum mahalnya. "Benarkah?"
Tatapannya intens, menusuk, dan membuat Kirana semakin sulit bernapas.
"Pak Adrian," ucapnya akhirnya, mencoba mengatur jarak. "Apa tujuan Anda memanggil saya ke sini?"
Adrian tidak langsung menjawab. Ia justru mengamati Kirana, seolah mencari sesuatu dalam ekspresinya.
"Aku ingin kita bicara."
Kirana mengerutkan kening. "Tentang?"
Adrian menatapnya tajam. "Tentang malam itu."
Napas Kirana tertahan.
Matanya melebar sedikit, tapi ia segera mengendalikan ekspresinya. "Saya pikir kita sudah sepakat untuk melupakan kejadian itu."
Adrian mengangkat sebelah alis. "Kamu sepakat, bukan kita."
Kirana meneguk ludah. "Pak, saya benar-benar ingin bekerja di sini tanpa masalah."
Adrian menyeringai kecil, ekspresinya penuh arti. "Dan aku tidak pernah bilang akan membuat masalah untukmu."
"Tapi..."
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu," potongnya.
Kirana mengerutkan kening. "Apa?"
Adrian mencondongkan tubuh sedikit, suaranya lebih rendah. "Bahwa kamu tidak berpikir aku pria yang bisa dengan mudah kamu lupakan."
Darah Kirana berdesir, dan ia hampir saja membalas dengan sesuatu yang tajam, tapi ia menggigit bibir untuk menahan dirinya.
Adrian tersenyum tipis melihat reaksinya. "Itu saja."
Ia melangkah mundur dan kembali ke kursinya, seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
"Kamu bisa kembali bekerja."
Kirana masih berdiri di tempatnya, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Adrian mengangkat dagu sedikit. "Atau kamu ingin tetap di sini?"
Kirana menghela napas pelan, lalu berbalik dan segera keluar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia menempelkan tangan di dada, merasakan detak jantungnya yang kacau.
Adrian Rahardian bukan hanya bos yang mendominasi.
Tapi juga berbahaya.
Dan ia tidak boleh terjebak lebih dalam.
Sejak pertemuan di ruangannya tadi, Kirana berusaha lebih keras untuk bersikap biasa. Ia menanamkan dalam pikirannya bahwa Adrian hanyalah bos, tidak lebih, tidak kurang.
Namun, teori itu gagal total begitu mereka bertemu di ruang meeting.
Adrian duduk di kursi pimpinan, mengenakan setelan abu-abu yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Ia tampak serius, membolak-balik dokumen di tangannya sambil mendengarkan presentasi dari tim pemasaran.
Kirana mencoba fokus pada materinya sendiri, tapi matanya beberapa kali tanpa sadar melirik ke arah Adrian.
Dan setiap kali ia melakukannya, pria itu sudah lebih dulu menatapnya.
Bukan tatapan biasa.
Ada sesuatu di matanya yang membuat Kirana merasa seperti tengah diuji. Seolah Adrian ingin melihat berapa lama Kirana bisa berpura-pura tidak terpengaruh.
Sial.
Kirana meremas pulpen di tangannya dan memalingkan wajah, berpura-pura mencatat sesuatu di buku.
Namun, tidak lama kemudian, ia mendengar suara Adrian memecah keheningan.
"Kirana," panggilnya.
Ia tersentak dan menoleh. "Ya, Pak?"
Adrian menyandarkan punggung ke kursi, ekspresinya masih setenang sebelumnya. "Pendapatmu tentang proyek ini?"
Kirana berkedip beberapa kali, berusaha mengingat kembali inti dari presentasi yang baru saja disampaikan. Ia menarik napas dalam dan menjelaskan pemikirannya dengan cukup lancar, meskipun jantungnya masih berdetak kencang.
Setelah selesai, Adrian mengangguk kecil. "Bagus. Teruskan seperti itu."
Kirana mengangguk sopan, tapi di dalam hati ia merasa ini seperti jebakan.
Seolah Adrian sedang mencari celah untuk mengacaukannya.
---
Saat meeting berakhir, semua orang mulai membereskan dokumen dan bersiap keluar. Kirana pun melakukan hal yang sama, berharap bisa segera kembali ke mejanya tanpa insiden apa pun.
Namun, saat ia melewati Adrian, pria itu tiba-tiba berbicara pelan.
"Berhenti menghindariku, Kirana."
Langkah Kirana terhenti.
Ia menoleh dengan waspada, tapi Adrian hanya tersenyum samar sebelum kembali fokus pada dokumennya.
Tenggorokan Kirana terasa kering. Ia buru-buru keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
Namun, baru saja ia tiba di meja kerjanya, Dinda sudah berdiri di sana dengan tatapan penuh selidik.
"Kirana," gumamnya, menyilangkan tangan di dada. "Kamu dan Pak Adrian... ada apa, sih?"
Jantung Kirana hampir melompat ke tenggorokannya. "Hah? Apa maksudmu?"
Dinda menyipitkan mata. "Aku mungkin nggak sepintar kamu, tapi aku nggak buta. Selama meeting Pak Adrian sering banget ngelihatin kami."
Kirana berusaha tertawa santai. "Ah, mungkin karena aku masih baru. Dia kan bos, wajar kalau memperhatikan kinerja pegawainya."
Dinda tidak terlihat puas dengan jawaban itu, tapi akhirnya mengangkat bahu. "Ya, semoga aja kamu bener."
Begitu Dinda pergi, Kirana menyandarkan diri ke kursinya dan menghela napas berat.
Baru beberapa hari di kantor ini, tapi rahasia di antara mereka sudah terasa sulit disembunyikan.
Dan yang lebih parah, Adrian tidak berusaha menyembunyikannya.
Sebaliknya, pria itu justru seperti sengaja mengundangnya untuk menghadapi sesuatu yang Kirana sendiri belum siap.